Articles
COMMODIFICATION AND FRAMING OF NEWS IN THE ISSUE OF RATIFICATION OF THE RUU TPKS
Lusianawati, Hayu;
Syafuddin, Khairul;
Qorib, Fathul
ASPIRATION Journal Vol. 5 No. 2 (2024): November Edition of ASPIRATION Journal
Publisher : ASPIKOM Jabodetabek Region
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56353/aspiration.v5i2.49
The Sexual Violence Crime Bill (RUU TPKS) was ratified by Indonesia's Parliament (DPR RI) on April 12, 2022, generating significant public interest that peaked between April 10-16, 2022. Online media outlets capitalized on this momentum. This study examines news framing by three media outlets using framing theory and ekspression concepts through qualitative framing analysis. Results show that during April 10-16, 2022, Suaramerdeka.com published 3 articles on RUU TPKS, while Kompas.com published 35 and CNNIndonesia.com published 18. Kompas.com's extensive coverage reflects its business-oriented approach, engaging in commodification practices for political-economic interests. Nevertheless, Kompas.com maintained balanced reporting with sufficient moral content to educate the public about protection for sexual crime victims, unlike CNNIndonesia.com and Suaramerdeka.com, whose coverage lacked moral framing.
Analysis of Public Conversation Networks on Prabowo's Program and the Future of Jakarta Through Najwa Shihab Podcast
Syafuddin, Khairul
Mediator: Jurnal Komunikasi Vol. 18 No. 1 (2025): Mediator: Jurnal Komunikasi (Sinta 2)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah UNISBA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/mediator.v18i1.4466
Discussions on national politics often attract public participation. This happened in Najwa Shihab's podcast content on YouTube by inviting Ahok. This study aims to identify viewers' conversation patterns on Mata Najwa's uploaded content. Through this analysis, it can be seen that there are expectations from the public that strengthen public opinion that arises from the community. This research approach uses qualitative and quantitative data from the network statistics formed. This research analysis technique uses social network analysis. The results of this study show that the social interaction network formed in this conversation and public opinion is dispersed. The clusters and components of the formed social interaction network tend to be weak. The weak components in this network make the modularity very strong while showing that the public tends to be independent. However, the interaction and arguments of each actor can influence the strength of public opinion.
Komodifikasi Nasionalisme Dalam Iklan Sirup
Syafuddin, Khairul;
Andreas, Rino
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 7th University Research Colloquium 2018: Mahasiswa (student paper presentation)
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Iklan digunakan perusahaan atau instansi untuk menawarkan produkkepada konsumen. Iklan cenderung mengangkat tema dengan ideologitertentu dalam penyajiannya. Penelitian ini menganalisis pemaknaaniklan Sirup Kurnia sebagai produk komoditas nasionalisme diIndonesia. Tujuan dari penelitian ini untuk membongkar konstruksimakna nasionalisme dalam iklan Sirup Kurnia. Terdapat tiga iklanyang menjadi objek kajian dalam penelitian ini. Peneliti melihatbagaimana komodifikasi nasionalisme diwujudkan dalam visualisasiiklan Sirup Kurnia. Metode yang digunakan dalam penelitian iniadalah metode semiotika dengan pendekatan Roland Barthes. Penelitimenganalisis scene-scene yang ada dalam ketiga iklan. Scene-scenetersebut dikaji berdasarkan aspek visual dan narasi. Kedua aspektersebut dianalisis dengan pendekatan Barthes yang kemudiandihubungkan dengan konsep nasion, nasionalisme, dan komodifikasi.Peneliti melihat bahwa ketiga iklan sirup tersebut berusaha untukmembentuk pemaknaan nasionalisme yang dikaitkan dengan produkkomoditas sirup. Tanda-tanda (signs) yang muncul dalam ketiga iklan,dimaknai sebagai komodifikasi nasionalisme yang mendukung kaitanproduk dengan konsep pemaknaan mengenai nasion. Berdasarkanketiga iklan tersebut, selanjutnya dibagi menjadi tiga kategorisasinasionalisme, yaitu nasionalisme budaya, ekonomi, dan teritorial.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nasionalisme masih dijadikanmakna yang penting untuk mewujudkan tujuan iklan yaitu memasarkanproduk.
Efektivitas Komunikasi Pendidikan dalam Doing Project
Rohim, Muhammad;
Syafuddin, Khairul
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 8th University Research Colloquium 2018: Bidang Pendidikan, Humaniora dan Agama
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Doing Project merupakan kegiatan workshop tentang dongeng serta belajar bersama anak-anak melalui metode mendongeng sehingga mudah dipahami oleh mereka. Proyek tersebut dilakukan secara berkeliling di panti asuhan wilayah Surakarta. Tujuan penelitian ini untuk melihat efektivitas komunikasi pendidikan dalam Doing Project. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan bentuk penelitian studi kasus. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Peneliti menganalisis proses komunikasi yang dilakukan oleh pendongeng melalui observasi yang selanjutnya diperkuat dengan hasil wawancara dan dokumentasi. Selanjutnya, peneliti membagi efektifitas komunikasi yang dilakukan Doing Project menjadi lima bagian, yaitu efektifitas istilah, kespesifikkan, penyusunan, keakuratan, dan keefisienan. Peneliti melihat bahwa Doing Project sangat efektif dilakukan dalam proses komunikasi pendidikan kepada anak. Hal ini dilihat berdasarkan kelima bagian efektifitas komunikasi tersebut yang dapat terpenuhi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa melalui Doing Project pesan moral dan pendidikan yang ingin disampaikan kepada anak-anak lebih mudah dipahami.
Diskursus Modal Awal Calon Presiden dalam Talkshow
Syafuddin, Khairul
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 8th University Research Colloquium 2018: Bidang Sosial Ekonomi dan Psikologi
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Televisi adalah salah satu media yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat propaganda. Salah satu program televisi dengan muatan politik yang kuat adalah Mata Najwa. Mendekati pemilu capres periode 2019 – 2024, Mata Najwa menayangkan episode Siapa Berani Jadi Presiden. Episode ini mengundang tiga calon kandidat, yaitu Rizal Ramli, Muhaimin Iskandar, dan Gatot Nurmantyo. Tujuan dari penelitian ini adalah membongkar wacana yang dibentuk para calon kandidat dalam menanggapi modal awal menjadi capres. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis wacana kritis dengan pendekatan Teun A. van Dijk. Peneliti menganalisis setiap segmen yang ada dalam satu episode tersebut. Segmen-segmen tersebut dikaji berdasarkan kognisi dalam memproduksi wacana melalui komunikasi verbal. Peneliti melihat bahwa para calon kandidat berusaha untuk membentuk wacana baru yang berkaitan dengan modal awal menjadi capres atau cawapres. Wacana baru yang mereka bentuk berbeda dengan wacana yang dibentuk oleh media, yaitu kekayaan dan RUU. Berdasarkan program acara tersebut ada beberapa wacana yang dibentuk, yaitu wacana modal media sosial, elektabilitas di masyarakat, dan modal politik identitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa modal awal menjadi presiden diwacanakan tidak hanya berasal dari kekayaan pribadi maupun RUU saja, namun juga dibentuk melalui suara masyarakat yang menjadi poin penting dari elektabilitas calon kandidat.
Komodifikasi Nilai Islam dalam Fashion Muslim di Instagram
Syafuddin, Khairul;
Mahfiroh, Ni’amatul
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 11th University Research Colloquium 2020: Bidang Sains dan Teknologi
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Perkembangan teknologi di era industri 4.0 di tandai dengan kemunculan internet. Salah satu efek dari munculnya teknologi internet adalah lahirnya media sosial. Instagram menjadi media sosial yang hingga saat ini digunakan oleh lebih dari 61 juta orang di Indonesia. Angka tersebut menunjukkan bahwa pengguna Instagram sangatlah banyak. Sehingga media sosial menjadi alat yang efektif bagi sebuah industri dalam rangka praktik ekonomi politik, salah satunya dalam industri fashion muslim. Salah satu industri fashion muslim yang bergerak di dunia digital adalah santun.inv. Akun tersebut telah membranding dirinya sebagai produsen dari kaos hijrah. Berdasarkan brandingnya serta produk yang dijual melalui akun instagramnya, dapat dilihat bahwa akun tersebut telah melakukan komodifikasi nilai islam melalui alat komoditi fashion. Dengan begitu dapat dilihat, kini nilai islam tidak hanya beroperasi di tataran kajian keilmuan dan dakwah. Namun telah bergeser fungsi menjadi alat ekonomi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana nilai-nilai islam dikomodifikasi melalui media sosial Instagram. Tidak hanya komodifikasi dalam bentuk komoditi pakaian, akan tetapi peneliti juga ingin melihat bagaimana komodifikasi nilai islam ini membuat akun santun.inv yang berorientasi pada ekonomi juga berusaha mensyiarkan nilai agama islam. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah komodifikasi dari Vincent Mosco. Selanjutnya, teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah semiotika visual model Roland Barthes serta semiotika teks model Ferdinand de Saussure melalui langue dan parole. Hasil dari penelitian ini melihat bahwa akun santun.inv berusaha melakukan komodifikasi nilai islam untuk memperoleh keuntungan. Komodifikasi tersebut dilakukan dengan menempelkan makna dari nilai positif keislaman melalui produk kaos, miki hat, dan tumblernya. Selain itu, akun tersebut juga berusaha mensyiarkan nilai keislaman dengan menggunakan teks di setiap postingannya. Sehingga praktik yang dilakukan oleh pemilik akun santun.inv selain mencari keuntungan berupa ekonomi, dia juga memanfaatkan akunnya untuk mensyiarkan nilai keislama, baik melalui teks yang terdapat dalam postingan maupun captionnya
The Integration of Bugis Cultural Values and Islamic Teachings in Digital Media
Mahanani, Prima Ayu Rizqi;
Syafuddin, Khairul
Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15575/rjsalb.v8i1.33664
This study aims to explore how Ustaz Das'ad Latif utilises YouTube to integrate Bugis cultural values with Islamic teachings, focusing on marriage. The research employs a multimodal discourse analysis framework to examine the ideational, interpersonal, and textual functions in Ustaz Das'ad Latif's YouTube lectures. The study reveals that Siri’ culture, central to Bugis identity, is intertwined with Islamic values, particularly regarding gender roles, honour, and family dynamics. Digital media serves as an effective tool for both preserving and reshaping these cultural values. The findings suggest that digital platforms like YouTube can serve as vital spaces for the global dissemination and transformation of local traditions, offering new interpretations that resonate across cultural boundaries. This research provides novel insights into the role of digital media in preserving local religious traditions while adapting them for broader audiences, contributing to the growing literature on religion, culture, and technology.
Ethics of Artificial Intelligence: Dialectics of Artificial Intelligence Policy for Humanity
Syafuddin, Khairul
The Eastasouth Journal of Information System and Computer Science Vol. 1 No. 03 (2024): The Eastasouth Journal of Information System and Computer Science (ESISCS)
Publisher : Eastasouth Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.58812/esiscs.v1i03.178
Artificial Intelligence is now widely used by humans. The use of this technology is based on the view that Artificial Intelligence can make their lives easier. Many sectors have utilized this technology, including government, private, social, health, to education. Even though Artificial Intelligence is felt to have many benefits, there are perceived threats so that appropriate policies are needed. Thus, the aim of this research is to find out policies that can be recommended for the use of Artificial Intelligence that focus on humanitarian aspects. This research uses a qualitative approach to deepen the literature review that has been carried out. The results of this research show that the presence of Artificial Intelligence provides quite large benefits, especially as a technology for predicting the future. However, to regulate the use of this technology, appropriate policies are needed to avoid increasingly widespread digital crimes. In formulating Artificial Intelligence policies, humanitarian aspects need to be considered to provide appropriate protection. Especially for vulnerable groups who have low access to the use of Artificial Intelligence.
AMAZONE INDONESIA: UNDERSTANDING HYPERREALITY IN A FAMILY ENTERTAINMENT ARENA
Wibowo, Tangguh Okta;
Syafuddin, Khairul
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 09 (2023): Cerdika : Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.59141/cerdika.v3i09.676
Amazone Indonesia (Amazone) is the largest family entertainment destination in Indonesia, with a large area and a complete selection of games. This article explores how myths about the Amazon forest in Brazil are managed in the form of a modern family playground in a mall, Aeon. This paper examines how Amazone exploits the myth that the Amazon forest was constructed with technology as a family playground with the intended purpose. This study uses Roland Barthes' semiotic method to look at myths that are built through technology and presented in various forms of entertainment vehicles and games in Amazone. By using Baudrillard's theory of hyperreality, this paper tries to critically examine how Amazone uses the myth of the forest to "normalize" nature in the jungle to become an image of an amusement park that is fun, exciting, and entertaining for children. Overall, the results of this study reflect a simulation site that is built from the use of technology in games in amusement parks that can promote colonial ways of knowing that strengthen the distance between humans as subjects and nature as objects that are "excavated" as a playground
Mixue are Everywhere: Prosumerism on Users Content Production in Tiktok
Tangguh Okta Wibowo;
Khairul Syafuddin
Jurnal Multidisiplin Madani Vol. 3 No. 5 (2023): May, 2023
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55927/mudima.v3i5.3546
Mixue is a franchise that is well-known for selling beverages and ice cream. Mixue's viral material on social media, like Tiktok, makes it easy to recognize the popularity of the Mixue’s products. This research intends to examine prosumers involved in audio-visual content development who contribute to the marketing of Mixue brand. This research uses interpretative content analysis to examine audio-visual contents created by Tiktok users. The results of the study indicate that videos created by Tiktok users acting as prosumers have a role in the reproduction of diverse values on their experience with Mixue items. The circulation of their videos on Tiktok increases the exposure of the Mixue brand. These scattered videos show various types of performances with different video production techniques and stories. These findings illustrate the intensification of information produced and communication that has been built through the role of Tiktok, which spreads very quickly. This shows that prosumers reproduce videos based on their respective consumer behavior through the creative side of the actors as consumers