Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Cultural Values of Rapo-Rappang Pre-Marriage Bugis Community in Watang Sawitto District, Pinrang Regency, Perspective of Islamic Law Iin Mutmainnah; Syahrullah Tahir; Rusdaya; Sunuwati, Sunuwati
Jurnal Marital: Kajian Hukum Keluarga Islam Vol 3 No 2 (2025): MARITAL: Kajian Hukum Keluarga Islam
Publisher : IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.957 KB) | DOI: 10.35905/marital_hki.v1i1.3240

Abstract

Rapo-rapoang merupakan dasar kata dari rapuh, rapuh itu sendiri dapat diartikan sebagai masa dimana calon pengantin mudah terkena musibah yang dapat mencederai fisik ataupun dapat merenggut nyawa calon pengantin maka dari itu calon pengantin tidak dianjurkan keluar rumah untuk hal yang sia-sia karena tujuan dari rapo-rapoang itu sendiri merupakan larangan agar pengantin terhindar dari bala’. Penelitian ini bertujuan mengetahui budaya adat Rapo-rapoang dan menghindarkan calon mempelai dari bahaya dan memberikan edukasi kepada calon mempelai. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah Teknik Library Reserarch dan Teknik Field Research (Observasi, Wawancara, Dokumentasi). Penelitian ini menggunakan sumber data primer dan data sekunder. Hasil penelitian menujukkan bahwa Pemahaman masyarakat bugis khususnya di kecamatan Watang Sawitto kabupatan Pinrang meyakini bahwa rapo-rapoang merupakan sebuah adat yang dilaksanakan masyarakat setelah terjadinya mapettuada (putus perkataan) dalam adat bugis rapo-rapoang yaitu sebuah larangan yang ditujukan kepada calon mempelai laki-laki dan wanita untuk tidak beraktivitas diluar rumah adapun nilai-nilai rapo-rapoang adalah untuk menghindari bala’, mempersiapkan diri, dan merawat diri.
Lineage Compatibility (Kafa’ah Nasab) in the Marriage of Sayyid and Syarifah: Between Tradition and Modernity (A Study on the Polewali Mandar Branch of Rabithah Alawiyyah) Istiqamah, Intan; Budiman, Budiman; Aris, Aris; Mutmainnah, Iin; Abd. Karim Faiz; Makmur, Makmur
INTERNATIONAL JOURNAL OF CONTEMPORARY ISLAMIC LAW AND SOCIETY Vol 7 No 1 (2025)
Publisher : State Islamic University Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/ijcils.Vol7.Iss1.120

Abstract

Kafa'ah means being equal, balanced, and compatible. This abstract discusses the importance of the principle of Kafa'ah in marriage, particularly in the context of choosing a spouse who is compatible in social, moral, and economic aspects. Kafa'ah is recognized by scholars from the four Islamic schools of thought, each with different views on its application. The Hanafi, Maliki, Shafi'i, and Hanbali schools emphasize different aspects of religion, lineage, social status, and economics. The author also highlights the practice of Kafa'ah among the Habaib (Ahlul Bayt), especially in preserving the lineage of the Prophet Muhammad, where a Syarifah is expected to marry a Sayyid to maintain the family lineage. Although Kafa'ah in marriage aims to preserve household harmony, marriages are still considered valid even if the couple is not equal in lineage. In Indonesia, organizations like Rabithah Alawiyyah play an important role in preserving the traditions and welfare of the Alawiyyin community, including in matters of Kafa'ah lineage. This research examines the views of the Habaib on Kafa'ah lineage as a primary condition for the marriage of Sayyid and Syarifah.
Analisis Falsafah Tasyri’ Terhadap Makkalu Dapureng Wekka Pitu: Integrasi Adat Bugis dan Fiqh munakahat Tentang Kesiapan Menikah Mutmainnah, Iin; Hasim, Hasanuddin; Musyahid, Achmad; Sultan, Lomba
El-Izdiwaj: Indonesian Journal of Civil and Islamic Family Law Vol. 6 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/patj6z03

Abstract

Penelitian ini mambahas tentang tradisi masyarakat bugis dalam nilai-nilai makkalu dapureng wekka pitu yang diintegrasikan dengan fiqh munakahat tentang kesiapan menikah. Analisis falsafah tasyri’ digunakan untuk menggali nilai-nilai yang terkadung dalam hukum perkawinan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan normatif empiris untuk memecahkan masalah tentang makkalu dapureng wekka pitu yang menjadi tradisi dari masyarakat bugis. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu observasi, wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai dalam makkalu dapureng wekka pitu  sejalan dengan konsep fiqh munakahat dalam konsep tanggung jawab seorang suami kepada istri. Hal inilah yang perlu dikuatkan bagi setiap laki-laki yang akan menikah agar tidak mudah dalam mengambil keputusan pernikahan tanpa ada persiapan dalam kesanggupan pemenuhan tanggung jawab kepada perempuan.
Korupsi, Hibah dan Hadiah dalam Persfektif Hukum Islam (Klarifikasi dan Pencegahan Korupsi) Sabir, Muhammad; Mutmainnah, Iin
Alhurriyah Vol 5 No 2 (2020): Juli - Desember 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/alhurriyah.v5i2.2690

Abstract

This study attends to analyze the ulama perspective regarding the corruption, gift and grants, as well as the actions taken to prevent corruption. Qualitative descriptive is type of this research and uses a juridical sociology approach in analyzing corruption. Prizes and grants that are assumed to be gratuities are basically commendable acts but can lead to criminal acts of corruption when related to officials government. while the ulama agree that corruption is an illegal act. And the preventing and overcoming corruption is to carry out strict supervision and to give strict sanctions to the perpetrators.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pandangan ulama menyangkut korupsi, hadiah dan hibah, serta tindakan  yang dilakukan dalam mencegah tindak pidana korupsi. Deskriptif kualitatif merupakan jenis penelitian ini dan menggunakan pendekatan sosiologi yuridis dalam menganalisis tindak pidana korupsi. Hadiah dan hibah yang diasumsikan sebagai gratifikasi pada dasarnya merupakan perbuatan terpuji namun bisa berujung pada tindak pidana korupsi apabila berkaitan dengan pejabat. Sementara ulama bersepakat bahwa korupsi adalah perbuatan haram. Hal yang dilakukan dalam pencegahan dan penanggulangan tindak pidana korupsi ialah melakukan pengawasan ketat dan memberikan sanksi yang tegas kepada para pelaku.
Juridical Review of the Rejection of the Marriage of Isbat Convert Women from Towani Tolotang at the Sidrap Religious Court Mutmainnah, Iin; Aris; Amir, Nurjanah
Nizham Jurnal Studi Keislaman Vol 13 No 02 (2025): Nizham: Jurnal Studi Keislaman
Publisher : Pascasarjana IAIN Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/nizham.v13i02.11719

Abstract

This study examines the rejection of Marriage Isbat for converts from the Towani Tolotang community in Sidenreng Rappang Regency (Sidrap) in the context of the relationship between customary law, Islam, and state law. Through a normative-empirical approach, this study combines regulatory studies, Islamic law, and field data in the form of interviews with judges and affected communities. The results of the study show that the rejection of Marriage Isbat is based on incompleteness of documents, incompatibility with the pillars of marriage according to Sharia, and the status of customary marriage that has not been legally administered. The Towani Tolotang case illustrates the challenge of harmonizing the implementation of customary law, Islamic law principles, and state regulations. The Sidrap Religious Court rejected the application not because it ignored customs, but for the sake of legal certainty and the validity of sharia. The harmonization of customary and state law is an important step in ensuring legal protection for women converts and strengthening the sustainability of local cultural values in the national legal system.
Trilogi Kecerdasan Perspektif Wahyu dalam Islam: Sinergi Ilmu, Akal, dan Spiritual Mutmainnah, Iin Mutmainnah
SOSIOLOGIA : Jurnal Agama dan Masyarakat Vol 4 No 1 (2025): Sosiologia : Jurnal Agama dan Masyarakat
Publisher : IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/sosiologia.v4i1.14830

Abstract

Konsep kecerdasan dalam Islam tidak hanya merujuk pada kemampuan intelektual, tetapi mencakup integrasi harmonis antara ilmu, akal, dan spiritualitas yang berlandaskan wahyu. Wahyu berfungsi sebagai sumber pengetahuan tertinggi yang memberikan arah dan batasan etis bagi penggunaan akal, sekaligus memperkuat dimensi spiritual yang menuntun manusia pada kesadaran ketuhanan. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana trilogi kecerdasan tersebut bekerja secara sinergis dalam membentuk manusia yang utuh, seimbang, dan berkarakter. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui studi kepustakaan terhadap Al-Qur’an, hadis, serta literatur keilmuan klasik dan kontemporer, penelitian ini menemukan bahwa pemisahan antara ilmu, akal, dan spiritualitas menjadi penyebab utama munculnya krisis moral, spiritual, serta ketidakseimbangan pribadi di era modern. Integrasi ketiga unsur tersebut dalam kerangka wahyu memberikan landasan epistemologis yang komprehensif untuk mengembangkan kecerdasan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada kualitas moral dan kedalaman spiritual. Temuan ini menegaskan relevansi paradigma trilogi kecerdasan dalam pengembangan pendidikan Islam dan pembinaan karakter, sehingga mampu menghasilkan generasi yang cerdas secara intelektual, matang secara emosional, serta kuat secara spiritual.