Claim Missing Document
Check
Articles

DAPATKAH AKU BERHENTI BERJUDI? Paula Widyaratna Wandita; Hastaning Sakti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 (Januari 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.867 KB) | DOI: 10.14710/empati.2014.7489

Abstract

Perjudian bola memiliki banyak resiko dan menimbulkan banyak permasalahan. Keterbatasan serta tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa awal juga menambah permasalahan dalam hidup. Permasalahan-permasalahan tersebut dapat membuat para dewasa awal yang melakukan perjudian bola menjadi tertekan. Berhenti berjudi bola dapat menjadi cara dalam menyelesaikan permasalahan yang dialami, namun berhenti berjudi tidaklah mudah bagi para penjudi. Banyak diantara mereka yang kemudian kembali lagi berjudi. Kembali berjudi tersebut dapat digambarkan dalam gambaran psikologis, neurologis, serta social ekomomi.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Subjek berjumlah tiga orang dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berjudi menimbulkan banyak permasalahan dan tekanan pada penjudi bola yang memasuki masa dewasa awal. Permasalahan dan tekanan tersebut sempat membuat mereka berhenti melakukan aktivitas perjudian namun hal tersebut tidaklah bertahan lama sampai pada kembalinya mereka dalam perjudian.
HARDINESS IBU YANG MEMILIKI ANAK DENGAN THALASSEMIA Meylia Hamsyah; Hastaning Sakti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 (Oktober 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.768 KB) | DOI: 10.14710/empati.2015.14322

Abstract

Thalassemia adalah penyakit kronis yang berdampak pada berbagai organ karena penyakitnya sendiri maupun pengobatan yang diberikan. Ibu merupakan perawat utama bagi anak dengan thalassemia. Perasaan sedih, shock, terpukul, hidup tidak tenang dan merasakan beban berat dirasakan oleh ibu ketika mendengar diagnosa thalassemia pada anak. Tujuan penelitian ini adalah menemukan gambaran hardiness pada pengalaman ibu yang  merawat anak thalassemia. Penelitian ini menggunakan metoda kualitatif fenomenologis, dengan wawancara mendalam pada tiga orang ibu yang memiliki dan merawat sendiri anak thalassemia. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan metode deskripsi fenomena individual. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa partisipan menjadikan anak sebagai sumber motivasi dalam menjalani hidup. Perasaan negatif yang muncul sesekali membuat ibu kembali dalam kondisi engulfed dan mendekat pada Tuhan merupakan strategi coping yang digunakan untuk meminimalkan munculnya perasaan negatif. Berpikir positif dan sikap pasrah juga dapat memberikan peranan pada ibu dalam menjalani rutinitas kehidupan bersama anak thalassemia, menjadi lebih terlibat pada apa saja yang dilakukannya, serta yakin dapat membuat suatu perubahan ke arah lebih baik.
STUDI FENOMENOLOGIS TENTANG OUT OF BODY EXPERIENCE Adhi Dhalu; Hastaning Sakti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 (Januari 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.945 KB) | DOI: 10.14710/empati.2015.13030

Abstract

Out of body experience (OBE) adalah sebuah pengalaman seseorang yang dapat merasakan dirinya keluar dari tubuh fisiknya dan dapat melihat tubuhnya, serta melihat keadaan sekeliling tubuh individu, bahkan sampai mendapati dirinya berada di tempat yang berbeda dari tubuh fisiknya dan mengalami peristiwa di tempat tersebut. Pengalaman tersebut bersifat subjektif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami out of body experience dari perspektif subjek. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis karena terkait dengan subjektivitas pemaknaan OBE yang dialami. Subjek penelitian berjumlah tiga orang yang mengalami OBE minimal dua kali dan dipilih secara purposive sampling. Analisis yang digunakan mengacu pada analisis model interaktif dari Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun masing-masing subjek mengalami OBE, tetapi pemaknaan terhadap OBE berbeda-beda. Perbedaan pemaknaan tersebut dipengaruhi oleh perbedaan latar belakang terjadinya OBE. Makna yang muncul dari subjek yang bisa OBE karena anugerah dari Tuhan adalah misi dari Tuhan yang harus disampaikan kepada orang lain. Selanjutnya subjek yang bisa OBE karena ingin menangan (selalu ingin menang) melalui induksi meditasi kejawen memaknai OBE sebagai rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan. Sedangkan subjek yang OBE karena koma memaknainya sebagai terlahir menjadi pribadi yang baru dan lebih baik. Terlihat bahwa ketiga subjek memaknai OBE secara berbeda-beda, tetapi tetap mengarah pada manunggaling kawula Gusti (bersatunya diri dan Tuhan). Secara fisik efek OBE yang dirasakan subjek adalah lelah dan lemas. 
HUBUNGAN ANTARA PEER ATTACHMENT DENGAN PENERIMAAN DIRI PADA SISWA-SISWI AKSELERASI Siti Noviana; Hastaning Sakti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 (April 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.826 KB) | DOI: 10.14710/empati.2015.14901

Abstract

Peer attachment pada siswa akselerasi memberikan kesempatan kepada remaja untuk belajar melakukan perilaku sosial dan akan berpengaruh terhadap terbentuknya penerimaan diri siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris hubungan antara peer attachment dengan penerimaan diri pada siswa-siswi akselerasi. Teknik pengambilan sampel menggunakan nonprobability sampling yaitu sampling jenuh. Jumlah populasi dan sampel pada penelitian ini sebesar 40. Variabel terikat adalah penerimaan diri dan variable bebas adalah peer attachment. Alat pengumpulan data berupa skala psikologis dengan model skala Likert, yaitu skala penerimaan diri dan skala peer attachment. Skala penerimaan diri dengan 28 aitem valid (α = 0,928) dan skala peer attachment dengan 15 aitem valid (α = 0,870). Analisis data menggunakan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi rxy = 0,363 dengan p = 0,011 (p<0,05) yang berarti ada hubungan positif antara peer attachment dengan penerimaan diri, semakin tinggi peer attachment maka semakin tinggi penerimaan diri siswa akselerasi, demikian pula sebaliknya semakin rendah peer attachment maka semakin rendah penerimaan diri siswa akselerasi. Sumbangan efektif peer attachment terhadap penerimaan diri siswa akselerasi sebesar 13,2% dan sisanya sebesar 86,8% dijelaskan oleh faktor-faktor lain
EFIKASI DIRI MANTAN PEROKOK Sangga Jati WIkanto; Hastaning Sakti; Nailul Fauziah
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 (April 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.72 KB) | DOI: 10.14710/empati.2014.7527

Abstract

Kecenderungan merokok sebagai perilaku makin memprihatinkan pegiat kesehatan termasuk pemerintah dan badan dunia WHO mengingat dampak negatifnya bagi masyarakat. Penelitian ini dimaksudkan mengetahui alasan mantan perokok: saat dirinya merokok, saat berhenti dari kebiasaan merokok, dan bagaimanakah efikasi diri mantan perokok setelah berhenti merokok.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik purposive, dengan menerapkan kombinasi wawancara informal, dan wawancara dengan pedoman umum, dilengkapi dokumen audio, serta catatan lapangan. Subjek penelitian terdiri dari tiga mantan perokok, yaitu dua orang pria dewasa, masing-masing berumur 21 tahun, dan satu orang pria dewasa berumur 52 tahun, ketiganya tinggal di Semarang.Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa alasan ketiga subjek saat masih merokok mengaku karena berada di lingkungan perokok ketika remaja, sedangkan alasan berhenti merokok karena dampak negatif rokok, yaitu: pemborosan, terkena sakit parah, dilarang dan dijauhi orang terdekat. Efikasi diri ketiga subjek setelah berhenti merokok, tetap menjadi mantan perokok karena mereka merasakan manfaat berhenti merokok.
HARDINESS RELATIONSHIP BETWEEN STRESS WITH SORT OF STUDENTS IN THESIS Awida Tri Sekariansah; Hastaning Sakti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 2, Nomor 4 Tahun 2013 (Oktober 2013)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.122 KB) | DOI: 10.14710/empati.2013.7393

Abstract

Thesis is defined as a scientific essay that must be written by students as part of the final terms of academic education (in KBBI, 2011, h.1325). Based on the observations made by Gunawati, et. all (2006) found that the daily behavior of students who are preparing theses indicate the presence of symptoms of stress. Stress is a condition of the physical and psychological stress due to the demands of the self and the environment. This study aimed to test empirically the relationship between Stress Hardiness In Preparing Students in the Faculty of Engineering Thesis Department of Mechanical Engineering, University of Diponegoro in Semarang.Total population in the study of 60 people, due to the limited number of population, the study will use the study population. The sampling technique used accidental sampling. Retrieval of data using the Student Stress Scale with 24 items Thesis Preparation (α = 0.867), and the Hardiness Scale with 24 items (α = 0.837). Data analysis using simple regression analysis.The results showed a correlation coefficient rxy = - 0.553 with p = 0.000 (p <0.01), which means showed no significant negative relationship between hardiness to stress on students in the thesis. That is, the higher the lower the stress Hardiness students in the thesis, and vice versa. The hardiness contribute to stress by 30.6% of students in the thesis, and the remaining 69.4% are other factors suspected to influence the stress mahasciswa thesis.
HUBUNGAN ANTARA KETAKUTAN AKAN KEGAGALAN DENGAN INTENSI BERWIRAUSAHA PADA MAHASISWA UKM RESEARCH AND BUSINESS (R’nB) UNIVERSITAS DIPONEGORO Hilaman Fadhlillah; Hastaning Sakti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 (April 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.45 KB) | DOI: 10.14710/empati.2015.14913

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara ketakutan akan kegagalan dengan intensi berwirausaha pada mahasiswa UKM R’nB Undip. Ketakutan akan kegagalan adalah sebuah bentuk dorongan untuk menghindari kegagalan terutama konsekuensi negatif kegagalan berupa rasa malu, menurunnya konsep diri individu dan hilangnya pengaruh sosial. Intensi berwirausaha adalah keinginan atau niat dalam diri seseorang untuk melakukan suatu tindakan wirausaha, dan menciptakan peluang usaha baru. Subjek penelitian adalah mahasiswa yg tergabung dalam UKM R’nB Undip sejumlah 60 orang dengan metode teknik sampling jenuh. Metode pengumpulan data dengan skala ketakutan akan kegagalan yang terdiri dari 21 aitem (α = 0,89) dan skala intensi berwirausaha yang terdiri dari 41 aitem (α = 0,94). Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ialah analisis regresi sederhana (rxy). Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi rxy = -0,444 dengan p = 0,000 (p < 0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan peneliti diterima, yaitu terdapat hubungan negatif dan signifikan antara ketakutan akan kegagalan dengan intensi berwirausaha. Semakin tinggi ketakutan akan kegagalan, maka semakin rendah intensi berwirausaha, demikian pula sebaliknya semakin rendah ketakutan akan kegagalan, maka semakin tinggi intensi berwirausaha.
MOTIVASI BERAFILIASI DENGAN LAWAN JENIS DITINJAU DARI PERSEPSI REMAJA TERHADAP PERCERAIAN ORANG TUA DI KECAMATAN MIJEN Nur Hamidah Purnama Sari; Hastaning Sakti; Nailul Fauziah
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 2, Nomor 4 Tahun 2013 (Oktober 2013)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.079 KB) | DOI: 10.14710/empati.2013.7420

Abstract

Remaja merupakan masa transisi dari anak menuju dewasa. Pada masa ini remaja memiliki tugas perkembangan untuk mampu membentuk hubungan yang lebih hangat dengan lawan jenisnya. Remaja yang memiliki orang tua bercerai cenderung tidak percaya diri dalam bergaul. Dorongan untuk berteman dengan lawan jenis atau biasa dikenal dengan istilah motivasi afiliasi ini dapat dilihat dengan cara mengetahui persepsi remaja terhadap perceraian orang tuanya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui motivasi afiliasi dengan lawan jenis ditinjau dari persepsi remaja terhadap perceraian orang tua di Kecamatan Mijen.Populasi dalam penelitian ini adalah 216 remaja dengan sampel penelitian 142 remaja. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan Cluster Random Sampling. Pengumpulan data menggunakan skala motivasi afiliasi yang terdiri dari 28 aitem (α=0,899) dan skala persepsi terhadap perceraian orang tua yang terdiri dari 24 aitem (α=0,888).Analisis regresi sederhana menunjukkan rxy=0,028 pada p=0,369 (p>0,05), artinya terdapat hubungan tetapi tidak signifikan antara persepsi terhadap perceraian orang tua dan motivasi afiliasi remaja dengan lawan jenis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi afiliasi remaja terhadap lawan jenis di Kecamatan Mijen berada pada kategori tinggi serta memiliki persepsi yang positif terhadap perceraian orang tua. Persepsi terhadap perceraian orang tua memberikan sumbangan efektif sebesar 0,1% sedangkan 99,9% berasal dari faktor-faktor lain yang tidak diungkap dalam penelitian ini.
PENEMUAN MAKNA HIDUP PADA RESIDIVIS DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS 1 SEMARANG Herdy Eka Setiawan; Hastaning Sakti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 8, Nomor 1, Tahun 2019 (Januari 2019)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.91 KB) | DOI: 10.14710/empati.2019.23572

Abstract

Residivis atau pengulangan kembali tindak pidana merupakan fenomena yang sering terjadi di Indonesia. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang diharapkan mampu mengurangi residivis, nyatanya masih belum mampu memenuhi ekspektasi tersebut. Penemuan makna hidup memungkinkan warga binaan pemasyarakatan (WBP) berubah menjadi lebih baik, sehingga terjadinya residivis dapat dihindari. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana penemuan makna hidup para residivis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenologis, dan menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) sebagai metode analisisnya. Subjek penelitian adalah tiga orang residivis yang dipilih dengan teknik purposive. Hasil penelitian menunjukan bahwa ketiga subjek telah menemukan makna hidupnya. Tema Induk yang ditemukan adalah proses menjadi seorang kriminal, kehidupan di Lapas, dan makna hidup, sedangkan untuk subjek dua ditemukan tema individual yaitu pengalaman menjadi buron. Kehidupan di Lapas, keluarga, agama, nasionalisme, sikap terhadap kematian, sikap terhadap bunuh diri, pengalaman menjadi buron, pengalaman selamat dari kematian, dan keinginan yang kuat untuk membuktikan suatu hal menjadi faktor yang membuat ketiga subjek menemukan makna hidup mereka. Adanya makna hidup membuat para subjek ingin menjadi orang yang lebih baik, yang tidak ingin mengulang kembali tindak pidana, dan mencapai tujuan hidup yang mereka inginkan. 
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP GAYA KEPEMIMPINAN PELATIH DENGAN EFIKASI DIRI PADA ATLET TAEKWONDO KOTA SEMARANG Ritania Hapsari; Hastaning Sakti
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 (April 2016)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.66 KB) | DOI: 10.14710/empati.2016.15225

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi terhadap gaya kepemimpinan pelatih dengan efikasi diri pada atlet taekwondo Kota Semarang. Karakteristik populasi dalam penelitian ini adalah atlet yang masih aktif latihan dan mengikuti kejuaraan serta minimal usia remaja awal sampai dengan dewasa awal. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 245 atlet dengan sampel 184 atlet (65 atlet untuk sampel uji coba dan 119 atlet untuk sampel penelitian) di 19 dojang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian adalah teknik cluster random sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Persepsi terhadap Gaya Kepemimpinan Pelatih (26 aitem valid, α = 0,907 dan Skala Efikasi Diri (29 aitem valid, α = 0,904) dan). Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara persepsi terhadap gaya kepemimpinan pelatih dengan efikasi diri pada atlet taekwondo Kota Semarang dengan koefisien korelasi sebesar 0,550 dengan p= 0,000 (p< 0,001). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin positif persepsi terhadap gaya kepemimpinan pelatih maka semakin tinggi efikasi diri. Persepsi terhadap gaya kepemimpinan pelatih memberi sumbangan efektif sebesar 30,2% terhadap efikasi diri.