Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

SIMBOL BUDAYA MUARA ENIM Sardin Sardin; Ayo Sunaryo; Nike Kamarubiani; Uyu Wahyudin; Arvian Triantoro
Jurnal Integritas Serasan Sekundang Vol 3 No 1 (2021): Jurnal Integritas Serasan Sekundang
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah KabupatenMuara Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelestarian terhadap budaya merupakan salah satu upaya untuk mempelajari perkembangan budaya yang berkembang pada masyarakat tertentu. Budaya juga menggambarkan perkembangan masyarakat dari masa ke masa.  Melalui penelusuran budaya   oleh generasi berikutnya diharapkan memberikan kontribusi dalam mempelajari dan memaknai hakekat, filosofis, dan nilai-nilai yang terkandung di dalam budaya tersebut. Sebagai bagian dari ras Melayu, Muara  Enim merupakan daerah yang kaya akan peninggalan budaya baik dalam bentuk budaya benda maupun budaya tak benda. Kajian ini ini merupakan salah satu bagian dari upaya untuk  mengkaji budaya benda dan tak benda di Kabupaten Muara Enim dilihat dari posisi/letak, kondisi, makna atau hakikat serta perkembangan yang terjadi pada saat ini di masyarakat. Penelitian dilakukan dengan cara cara mengumpulkan literatur dan dokumen yang relevan yang dimiliki oleh pemerintah masyarakat ataupun perorangan. Selanjutnya untuk mendalami hakikat dari benda dan tak benda tersebut dilakukan wawancara dan FGD terhadap tokoh masyarakat dan pihak-pihak yang memahami nilai budaya tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah budaya benda dan tak benda yang terpetakan berdasarkan kecamatan dan jenis budaya yang ada berjumlah 1450 jenis budaya. Jumlah tersebut tersebar di 23 kecamatan di Kabupaten Muara Enim. Pada jenis budaya benda, daerah atau kawasan dengan budaya benda terbanyak berada di Kecamatan Tanjung Agung, Lawing Kidul, dan Semende Darat Ulu. Pada keseluruhan kecamatan terdapat adat/budaya yang sama, meskipun terdapat pula pada beberapa kecamatan memiliki adat istiadat yang khas yang tidak ada di kecamatan lainnya. Budaya tak benda berupa; adat istiadat, bahasa, manuskrip, permainan rakyat, teknologi tradisional, dan budaya lisan lainnya. Hasil penelitian ini meyimpulkan bahwa; 1) Kabupaten Muara Enim merupakan salah satu kabupaten yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan masyarakatnya yang ditandai dengan banyaknya simbol-simbol budaya baik tak benda maupun benda yang ditemukan di seluruh kecamatan. 2) Konservasi budaya masih banyak dilakukan melalui budaya tutur sehingga tidak seluruh masyarakat memahami esensi budaya tersebut dan akses terhadap informasi  tentang budaya yang masih terbatas. 3) pemaknaan metafisik produk budaya (simbolis) yang dipahami oleh “kelompok tua” hanya melahirkan budaya tanpa makna pada generasi berikutnya, dna 4) masyarakat saat ini sudah menjadi “penikmat” budaya dan bukan pelaku budaya sebagai akibat dari kesadaran dan ruang pembudayaan yang terbatas.
PENGEMBANGAN DESA KOMPETEN DAN PRODUKTIF DI DESA PENANGGIRAN KECAMATAN GUNUNG MEGANG KABUPATEN MUARA ENIM Purnomo, Purnomo; Kamarubiani, Nike; Sulistiono, Eko; Sukmana, Cucu; Mutamam, Mohamad Hadi Ali; Kartini, Apriani Dwi; Fitriani, Yulia
Comm-Edu (Community Education Journal) Vol. 8 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : IKIP Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22460/commedu.v8i1.26241

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Desa Penanggiran di Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muara Enim, menjadi desa yang kompeten dan produktif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara, Focus Group Discussion (FGD), dokumentasi, observasi, dan angket. Proses penelitian dilakukan dalam tiga fase: mobilisasi dan inventarisasi data pada bulan Agustus hingga September 2024, pengumpulan data primer dan FGD pada Oktober 2024, dan finalisasi pada November 2024. Melalui analisis SWOT, penelitian ini mengidentifikasi berbagai potensi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang dimiliki Desa Penanggiran, termasuk pertanian, perikanan, dan industri menjahit yang menjadi ciri khas desa tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Penanggiran memiliki peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui optimalisasi potensi lokal, seperti agroindustri dan edukasi berbasis pertanian. Program pengembangan yang disarankan meliputi pembuatan pusat pelatihan menjahit, Edu Farm sebagai sarana edukasi pertanian, dan pengembangan pasar desa untuk meningkatkan akses pasar bagi produk lokal. Dampak dari program-program ini diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru, mengurangi ketergantungan pada satu profesi, serta mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
Efforts To Improve Learning Interest In Local Hero Woman Septia Landa, Klara; Kamarubiani, Nike; Hasanah, Viena Rusmiati
Bisma The Journal of Counseling Vol. 6 No. 1 (2022): Bisma The Journal of Counseling
Publisher : Department of Guidance and Counseling, FIP, Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/bisma.v6i1.48403

Abstract

This study aims to determine the efforts to increase interest in learning in local hero of women at PKBM An-nur Ibun, Bandung. The method used in this research is descriptive qualitative. The   data was collected using direct interview, observation, and documentation techniques. The data obtained were then analyzed by data collection procedures, data reduction, data presentation, data interpretation, and data inference. The results of this study are to develop ideas, stimulate citizens to learn, meet great people, positive attitude. This can be seen from the enthusiasm in conveying ideas, the experience increases and develops, changes in opinion, behavior, mindset, ethics, good manners in the family and the community, benefits themselves and others, and adds insight.  
Penerapan CHSE melalui Pendekatan Community-Based Tourism Desa Wisata Pagerwangi Shania Nurul Fazri; Sudiapermana, Elih; Kamarubiani, Nike; Sulistiono, Eko
Diklus: Jurnal Pendidikan Luar Sekolah Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/diklus.v9i1.89059

Abstract

Keterbatasan sumber daya manusia yang yang terlatih dalam penerapan protokol CHSE, infrastruktur yang masih belum memadai, serta rendahnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan desa wisata menjadi masalah utama yang ada di desa wisata Pagerwangi Kabupaten Bandung Barat. Selain itu, penurunan jumlah pengunjung dapat mengurangi pendapatan masyarakat yang bergantung pada sektor wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengembangan objek wisata desa melalui integrasi program CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability) dan pendekatan Community-Based Tourism (CBT). Studi kasus dilakukan di Desa Pager Wangi, Kabupaten Bandung Barat, dengan melibatkan pemuda penggerak pariwisata lokal sebagai subjek utama pelatihan dan implementasi teknologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan mix-method dengan data kualitatif dari observasi dan wawancara serta data kuantitatif dari survei kepuasan dan partisipasi masyarakat.  Dalam penelitian ini yang menjadi atau termasuk ke dalam populasi sebagai subjek dari penelitian yaitu peserta kegiatan pelatihan berjumlah 15 orang yang merupakan pengurus Karang Taruna Desa Pager Wangi, serta masyarakat lokal yang menjadi wisatawan berjumlah 25 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) pelatihan berhasil meningkatkan pemahaman peserta terhadap konsep CHSE dan CBT, yang ditunjukkan oleh peningkatan nilai post-test secara signifikan yaitu skor rata-rata naik dari 14,4 menjadi 17,2. Peningkatan nilai pos-test yang siginifikan menunjukkan bahwa metode pengajaran yang diterapkan dalam intervensi ini berhasil 2) selain itu sebanyak 88% wisatawan menilai positif penerapan CHSE terutama dalam aspek kebersihan mencapai angka 92% dan akses infromasi digital mencapai angka 81%. Hal ini mengindikasikan bahwa penerapan CHSE memberikan rasa aman dan kenyamanan yang tinggi, didukung oleh akses informasi digital yang baik 3) keterlibatan masyarakat masih menjadi hambatan dalam pelaksanaan strategi berkelanjutan ini. Integrasi antara CHSE dan CBT terbukti dapat menjadi pendekatan strategis dalam pengelolaan destinasi wisata berbasis komunitas di era pasca pandemi. Kata Kunci: CHSE, community-based tourism, pariwisata desa
PERENCANAAN PROGRAM PENDIDIKAN MASYARAKAT SEKITAR RUMAH PINTAR AL-BAROKAH, SUMEDANG (PENGAYAAN PUSAT KEGIATAN BELAJAR MASYARAKAT & PROGRAM PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN) Kamarubiani, Nike; Ismawati, Ismawati; Putri, Aliefvia Azzahra; Vionika, Vika
Jendela PLS Vol 9, No 1 (2024): JENDELA PLS
Publisher : Jurusan Pendidikan Masyarakat Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/jpls.v9i1.9609

Abstract

Pendidikan sangat berperan penting bagi kehidupan manusia. Maka tidak heran, jika semua orang berhak bahkan wajib untuk menempuh pendidikan, baik itu pendidikan formal, informal ataupun non formal. Rumah Pintar Al-Barokah merupakan salah satu lembaga pendidikan non formal yang memafasilitasi masyarakat sekitar Cibeureum Wetan, Sumedang khususnya anak-anak untuk belajar bersama misalnya membantu anak-anak menyelesaikan tugas dari sekolahnya. Namun, tentu saja alangkah lebih baiknya jika Rumah Pintar Al-Barokah ini tidak hanya fokus pada anak-anak saja. Melainkan juga difokuskan pada orang dewasa. Berdasarkan hasil identifikasi yang kami lakukan kepada masyarakat sekitar Rumah Pintar Al-Barokah, ternyata masih banyak masyarakat sekitar yang pendidikannya tidak sampai pada jenjang SMA, namun dibalik itu masyarakat sekitar Rumah Pintar Al-Barokah memiliki rata-rata mata pencaharian di bidang pertanian keterampilan mengolah kekayaan alam yang ada di daerah tersebut, misalnya mengolah abon dan dendeng dari ikan mujair. Maka dari itu, melihat dari masalah serta potensi yang dimiliki oleh masyarakat sekitar Rumah Pintar Al-Barokah, pengayaan pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang didalamnya terdapat juga program pelatihan kewirausahaan untuk hasil keterampilan olahannya menjadi solusi yang tepat untuk masyarakat sekitar Rumah Pintar Al-Barokah. 
Perencanaan Program Pemberdayaan Perempuan Dalam Aspek UMKM Di PKBM An-Nur Ibun Kabupaten Bandung Marino Fransiscus Herprasetyo; Ayu Aida Zahra; Nike Kamarubiani
JAPPA: Jurnal Andragogi Pedagogi dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 2, No 1 (2024): Jurnal JAPPA
Publisher : UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jappa.v2i1.58010

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perencanaan program pemberdayaan perempuan dalam konteks Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Annur Ibun, Kabupaten Bandung. Fokus utama penelitian adalah mengidentifikasi langkah-langkah perencanaan yang telah diimplementasikan dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan program tersebut. Metode penelitian melibatkan survei, wawancara, dan analisis dokumentasi guna mendapatkan data yang komprehensif. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran tentang strategi perencanaan program pemberdayaan perempuan yang efektif dalam mendukung UMKM di lingkungan PKBM Annur Ibun. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengembangan model perencanaan program pemberdayaan perempuan dalam aspek UMKM, dengan mempertimbangkan konteks lokal di Kabupaten Bandung. Kesimpulan dan rekomendasi dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi kebijakan pemberdayaan perempuan dan pengembangan UMKM di tingkat lokal dan nasional.
Community Empowerment through Sustainable Green Waste Bank Bandung City Naufal Fajri; Nike Kamarubiani
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 1 No. 2 (2022): September 2022
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v1i2.145

Abstract

The waste bank is a local institution that was formed with public concern to create a clean environment and avoid various kinds of infectious diseases. Waste banks play an important role in providing education for the community to manage their waste from their respective homes so that it will form a new habit in overcoming waste problems. In addition, the waste bank has the value of developing the people’s economy which has a significant impact on the welfare of the community. With the existence of a waste bank, people can save their waste and then exchange it for a predetermined amount of money so that it can be useful for their daily needs. In this study, the method applied is a qualitative descriptive method. The results of this study indicate that community empowerment through the Hijau Lestari Waste Bank in Cicaheum Village, Kiaracondong District, Bandung City can be realized through two stages of activities including socialization of managing waste from home and other supporting programs to create public awareness of the environment such as gardening programs, waste recycling programs, and a program for processing waste into organic fertilizer.
Bridging the gap: Unveiling assessment literacy among non-formal education tutors Elih Sudiapermana; Yanti Shantini; Nike Kamarubiani; Witri Dian Rafani
Jurnal Cakrawala Pendidikan Vol. 45 No. 1 (2026): Cakrawala Pendidikan (February 2026)
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/cp.v45i1.89075

Abstract

Although assessment literacy is increasingly recognized as a critical component of effective teaching, empirical research addressing this competency in non-formal education contexts remains limited. This study addresses this gap by examining the level and distribution of assessment literacy among non-formal education (NFE) tutors in Indonesia and by exploring the structural validity of an assessment literacy framework adapted to non-formal learning environments. Using survey data collected from 322 NFE tutors, the study investigates variations in assessment literacy across demographic and professional characteristics and analyzes the contribution of seven conceptual dimensions to overall assessment literacy. The findings indicate that tutors’ assessment literacy levels are generally modest. No significant differences are observed in relation to gender, length of teaching experience, or type of educational work experience, whereas age and educational attainment are associated with statistically significant variation. All seven dimensions demonstrate meaningful relationships with assessment literacy, with contextual responsiveness and reflective practice emerging as particularly influential, while several indicators require further refinement. By providing empirical evidence on assessment literacy in non-formal education settings, this study contributes to the refinement of existing conceptual frameworks and underscores the importance of context-sensitive professional development and institutional support in enhancing assessment practices and learning quality in non-formal education.