Claim Missing Document
Check
Articles

Penyuluhan Terkait Masalah Muskuloskeletal pada Calon Jemaah Haji Santoso, Totok Budi; Sudaryanto, Wahyu Tri; Zahra, Salma; Nurma, Hanifah Dwi; Ardiyanto, Irfan
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 2 No. 8 (2024): Oktober
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v2i8.1425

Abstract

Kegiatan ibadah haji memerlukan aktivitas fisik yang lebih berat dari aktivitas yang biasa dilakukan sehari-hari, karenanya sangat diperlukan kemampuan fisik dan rohani. Permasalahan yang banyak dikeluhkan oleh jemaah haji seperti nyeri pada leher, bahu, lutut, pinggang, dan anggota tubuh lainnya. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan fisioterapi kepada khalayak masyarakat agar semakin dikenal dan dimanfaatkan untuk menunjang kesehatan yang optimal di masyarakat atau komunitas, serta membantu meningkatkan kesadaran tentang pentingnya memperhatikan kesehatan dan kebugaran fisik sebelum menunaikan ibadah haji. Metode yang dilakukan adalah penyuluhan kepada 30 calon jemaah haji pada tanggal 14 November 2023 di Lapangan Baturan, Surakarta. Kesimpulan setelah pemberian penyuluhan terkait masalah muskuloskeletal pada calon jemaah haji, terbukti mampu menjadi salah satu cara dalam peningkatan pengetahuan terkait pentingnya memperhatikan kesehatan fisik terutama saat hendak melakukan ibadah haji.
Penatalaksanaan Fisioterapi dalam Upaya Meningkatkan Kekuatan Otot dan Fungsional pada Kasus Bell's Palsy: A Case Report Faaiza, Firya Zalfaazza; Santoso, Totok Budi; Fauzan, Muhammad
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Bell's Palsy didefinisikan sebagai kelumpuhan saraf fasialis atau nervus VII yang terjadi secara unilateral atau satu sisi, dengan penyebab yang tidak diketahui secara spesifik, kondisi ini dikenal sebagai Bell's palsy akibat pembengkakan dan tekanan saraf pada foramen styomastoid dan menyebabkan penghambatan atau kerusakan saraf. Bell's Palsy dapat menyerang individu di segala usia dan jenis kelamin, kejadian tahunan berkisar antara 11,5 hingga 53,3 per 100.000 orang disegala populasi. Prevalensi Bell's Palsy di Indonesia didapatkan 19,55% kasus Bell's Palsy, sering dijumpai pada usia 20-50 tahun dan kejadian meningkat saat bertambah usia diatas 60 tahun. Presentasi kasus: Pasien Ny. F dengan usia 40 tahun jenis kelamin perempuan bekerja sebagai ibu rumah tangga. Pasien mengeluhkan rasa tebal pada wajah, dan pasien merasa berat saat menggerakan wajah bagian kanan. Pada diagnosa medis pasien terdiagnosa Bell's Palsy Dextra. Managemen dan Hasil: Pasien diperiksa sebelum dan sesudah intervensi, dilakukan pemeriksaan vital sign, palpasi, nyeri (NRS), sensibilitas, kekuatan otot (MMT), dan fungsional (Ugo Fisch Scale). Pasien diberikan intervensi berupa infra red, face massage, dan mirror exercise. Kemudian dilakukan evaluasi pemeriksaan dan diberi edukasi serta home program. Diskusi: Hasil evaluasi pasien Ny. F pada kekuatan otot dengan Manual Muscle Testing (MMT) belum terdapat peningkatan dari T0-T2. Hasil evaluasi gerak dan fungsional dengan Ugo Fisch Scale terdapat peningkatan dari T0-T2, pada T0 dan T1 hasil 75% sedangkan pada T2 hasil meningkat menjadi 78%, peningkatan terrsebut ada pada gerakan mengerutkan dahi dari 70% menjadi 100%. Kesimpulan: Pemberian intervensi Infra red, Face massage, dan Mirror exercise selama 2 kali dalam 2 minggu kurang menunjukan peningkatan kekuatan otot, gerak dan fungsional wajah pada kasus Bell's Palsy, maka dari itu diperlukan tambahan waktu dalam melakukan treatment fisioterapi agar hasil evaluasi kekuatan otot, gerak dan fungsional wajah pada kasus Bell's Palsy dapat mengalami peningkatan yang signifikan.
Pengaruh Intervensi Stretching dan Scar Massage terhadap Kasus Post Surgical Wound e.c post Debridement, External Fixation, STSG: A Case Report Putri, Leony Dewinta; Santoso, Totok Budi; Hamidah, Nilam Nur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Fraktur terbuka merupakan cedera dimana tulang yang patah terkena lingkungan luar akibat traumatis pada jaringan lunak dan kulit. Fraktur terbuka memiliki kejadian tahunan sebesar 30,7 per 10.000 di Inggis serta fraktur tibialis memiliki insiden tertinggi sebesar 3,4 per 100.000. Fraktur terbuka biasanya melibatkan debridement untuk menghilangkan jaringan mati agar memungkinkan penyembuhan jaringan lunak. Selain itu pemberian autograft juga membantu pengobatan kecacatan kulit yang besar. Setelah dilakukan autograft biasanya akan mengakibatkan keterbatasan pada ROM terutama jika cedera terjadi disekitar sendi. Fisioterapi berperan penting dalam membantu permasalahan yang terjadi dengan latihan dan scar massage yang bertujuan untuk meningkatkan ROM dan meningkatkan aktivitas fungsional sehari-hari. Presentasi Kasus: Seorang wanita berusia 22 tahun, dengan diagnosa medis post surgical wound e.c post debridement, screw revision (22/12/2023), e.c implant expose, e.c wound dehiscence post remove External Fixation change to Intramedullary Nailing (ETN) (28/7/2023) e.c post debridement, external fixation, STSG (10/3/2023). Dimana mengalami kecelakaan lalu lintas pada 9 Maret 2023, dan pasien datang dengan kondisi multiple fracture: CF Right Clavicle Middle Third Allman Group 1, CF Right Shaft Proximal Phalanx Index Finger, OF Right Tibia Distal Third Gustillo Anderson Grade 3B, OF Right Base Metatarsal 5th Toe. Permasalahan fisioterapi yang terdapat pada pasien, yaitu keterbatasan gerak aktif Range of Motion (ROM) penurunan kekuatan otot pergelangan kaki, serta terdapat perbedaan antropometri lingkar segmen di area pergelangan kaki dan penurunan aktivitas fungsional. Metode dan Hasil: Subjek diberikan latihan AROM dan PNF (contract-relax) serta scar massage selama 2 minggu yang dilakukan 2 kali seminggu. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan instrument pengukuran Range of Motion (ROM), Manual Muscle Testing (MMT), Antropometri, dan Aktivitas Fungsional Lower Extremity Functional Scale (LEFS). Diskusi: Dari beberapa penelitian pemberian intervensi stretching dengan metode PNF (contract-relax stretching) terbukti mampu meningkatkan ROM dan untuk mencapai perubahan ROM yang lebih, stretching PNF perlu dilakukan sekali atau dua kali seminggu. Serta pemberian scar massage pada area skin graft dengan teknik efflurage, kneeding serta friction terbukti mampu meningkatkan lingkup gerak sendi didalam jaringan yang dipijat. Kesimpulan: Terdapat peningkatan pada ROM, antropometri, aktivitas fungsional setelah diberikan latihan (AROM dan PNF contract-relax stretching) dan scar massage selama 2 minggu.
Management Fisioterapi pada Kasus Split Thickness Skin Graft: Studi Kasus Hendra, Zulnanda; Santoso, Totok Budi; Hamidah, Nilam Nur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Luka bakar merupakan cedera yang terjadi pada jaringan kulit atau jaringan lain yang disebabkan karena gesekan, benda panas atau radiasi, listrik,. Pada pasien dengan luka bakar Sebagian atau seluruh ketebalan, split-thickness skin graft (STSG) dianggap sebagai pengobatan utama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil dari manajemen fisioterapi pada kasus STSG dengan pemberian intervensi berupa TENS, Ultrasound (US), Scar Massage, Active exercise, Passive Exercise, Isometric Exercise, Strengthening Exercise. Presentasi Kasus: Seorang pasien laki-laki berusia 42 tahun datang mengeluhkan rasa sakit ketika menekuk lutut dan pergelangan kaki sisi sinistra setelah dilakukan operasi STSG. Dilakukan tindakan fisioterapi dan di evaluasi dengan beberapa poin yaitu nyeri menggunakan NRS, kekuatan otot menggunakan MMT, lingkup gerak sendi menggunakan goniometer, lingkar segmen menggunakan metline, skala gatal menggunakan itching scale, dan kemampuan fungsional menggunakan Lower Extremity Fungsional Scale (LEFS) Manajement dan Hasil: Pada penelitian ini pasien mendapatkan terapi yang terdiri dari TENS, Ultrasound (US), Scar massage dan stretching exercise. Latihan tambahan yaitu diberikan stretching exercise berupa active, passive, isometric dan strengthening exercise yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan otot pada area genu dan sekitarnya. Pelaksanaan terapi dilakukan sebanyak tiga kali dan setelahnya dilakukan evaluasi terapi. Diskusi: Tujuan rehabilitasi fisioterapi adalah untuk mengurangi nyeri, mencegah komplikasi sekunder, dan menjadikan pasien mandiri secara fungsional sedini mungkin, serta membatasi pergerakan dan meningkatkan risiko dekondisi. Terapi fisik membantu meminimalkan kemungkinan jaringan parut mengganggu jalan pasien. Kesimpulan: Berdasarkan hasil pemberian 3 kali terapi yaitu dengan pemberian intervensi fisioterapi berupa TENS, Ultrasound (US), Scar Massage, Active Exercise, Passive Exercise, Isometric Excercise, Strengthening Exercise, yang diberikan pada pasien berusia 42 tahun terdapat pengurangan nyeri gerak, peningkatan kekuatan otot, peningkatan LGS, penurunan selisih lingkar segmen yang, penurunan skala gatal, dan peningkatan kemampuan aktifitas fungsional.
Management Fisioterapi pada Kasus Post Orif Fraktur Humerus 1/3 Distal Dextra: Case Report Ramadhani, Nanda Ayu; Santoso, Totok Budi; Pradana, Nur Widya
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Fraktur adalah hilangnya kontinunitas tulang yang disebabkan karena oleh tekanan yang tiba-tiba dan berlebihan, cedera langsung maupun cedera tidak langsung. Fraktur humerus dapat diklasifikasikan menjadi proksimal, shaft dan distal. Open Reduction Internal Fixation (ORIF) dengan Plate and Screw merupakan suatu pembedahan dengan pemasangan internal fiksasi pada tulang yang mengalami fraktur berfungsi untuk mempertahankan posisi fragmen tulang saat proses penyambungan. Pemasangan plate and screw pada tindakan ORIF menimbulkan masalah seperti nyeri, spasme otot, keterbatasan gerak dan penurunan kekuatan otot. Penatalaksanaan fisioterapi yang dapat dilakukan pada kondisi tersebut adalah dengan intervensi Infrared dan terapi latihan seperti forced passive movement, free active exercise dan hold relax. Presentasi Kasus: Pasien Ny. J usia 46 tahun dengan diagnosa Post ORIF Fraktur Humerus 1/3 Distal Dextra. Keluhan pasien yaitu nyeri pada lengan atas sampai pergelangan tangan kanan serta kaku dan keterbatasan gerak pada bahu dan siku saat digunakan untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti menyisir rambut, memakai pakaian dan mengambil benda yang terletak diatas. Setelah dilakukan pemeriksaan dengan inspeksi didapatkan adanya luka bekas incisi pada lengan atas kanan dan adanya keterbatasan gerak pada bidang gerak shoulder gerakan fleksi-ekstensi, abduksi-adduksi dan internal rotasi-eksternal rotasi, sedangkan pada bidang gerak elbow terdapat keterbatasan gerak pada gerakan fleksi dan supinasi-pronasi. Manajemen Fisioterapi: Program fisioterapi yang diberikan adalah infrared dan terapi latihan berupa forced passive movement, free active exercise dan hold relax. Program fisioterapi tersebut diberikan selama lima kali pertemuan. Hasil dan Pembahasan: Setelah dilakukan terapi selama 5 kali didapatkan hasil adanya penurunan nyeri tekan pada T1:5 menjadi T5:2, nyeri gerak T1:7 menjadi T5: 4. Peningkatan kekuatan otot fleksor shoulder T1:3 menjadi T5:4, otot abduktor, adduktor, internal dan eksternal rotatator shoulder T1:4 menjadi T:5. Peningkatan kekuatan otot fleksi dan ekstensi elbow pada T1:4 menjadi T5:5. Penurunan skor SPADI pada T1:39% menjadi T5:26%. Kesimpulan: Penatalaksanaan fisioterapi dengan modalitas infrared dan terapi latihan berupa forced active exercise, free active movement dan hold relax selama lima kali pertemuan pada pasien Ny. J usia 46 tahun di RSUD Pandan Arang Boyolali didapatkan adanya penurunan nyeri, peningkatan kekuatan otot, peningkatan lingkup gerak sendi dan peningkatan kemampuan fungsional.
Pengaruh penggunaan TENS dan ir secara bersamaan dan terpisah terhadap fleksibilittas otot Putri, Yuanita Aisyah; Santoso, Totok Budi
Jurnal Sporta Saintika Vol 9 No 2 (2024): Jurnal Sporta Saintika Edisi September 2024
Publisher : Departemen Kesehatan Dan Rekreasi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/sporta.v9i2.392

Abstract

Kemampuan otot untuk meregang, yang membantu mencegah nyeri dan cedera, dan memungkinkan pergerakan sendi yang efektif dan efisien dikenal sebagai fleksibilitas otot (Oktafianti, Sundari, et al., 2020). Kerusakan pada otot hamstring tidak hanya dapat menyebabkan kehilangan keseimbangan dan kekuatan, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan pada tulang belakang lumbal (Oktafianti, Sundari, et al., 2020). Untuk meredakan nyeri nosiseptif, neuropati, dan muskuloskeletal, teknik non-invasif yang dikenal sebagai transdermal electrical nerve stimulation (TENS) digunakan, sedangkan Infrared (IR) adalah modalitas elektroterapi yang memancarkan energi elektromagnetik dengan penetrasi dangkal pada tubuh. Penelitian ini bertujuan mengukur pengaruh TENS dan IR terhadap fleksibilitas otot hamstring, baik secara bersamaan maupun terpisah. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain quasi-eksperimental (pre-test dan post-test). Penelitian berlangsung di Universitas Muhammadiyah Surakarta selama dua minggu, diikuti 60 mahasiswa berusia 19-24 tahun. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing 20 orang. Perlakuan yang diberikan meliputi TENS dengan frekuensi 100 Hz selama 20 menit, infrared selama 15 menit, dan Passive stretching 3 set (10 detik per set). Hasil menunjukkan bahwa kombinasi TENS+IR menghasilkan peningkatan fleksibilitas tertinggi dengan selisih rata-rata 1.16250, diikuti IR+TENS sebesar 1.07875, dan Passive stretching sebesar 0.99250. Kesimpulannya, TENS+IR memberikan hasil terbaik untuk meningkatkan fleksibilitas hamstring.
The Effect Of Manual Therapy On Myofascial Trigger Point Syndrome Upper Trapezius Wiyono Putra, Yosa Endrika; Santoso, Totok Budi
Kinestetik : Jurnal Ilmiah Pendidikan Jasmani Vol 8 No 4 (2024): December
Publisher : UNIB Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jk.v8i4.38166

Abstract

MTP's in the Upper Trapezius muscle is a condition where there is a pain point along the trapezius muscle which contains a collection of symptoms and complaints due to spasm or shortening of the trapezius muscle which is often felt as a stiff neck or nape, various manual therapy modalities are expected to be able to overcome this complaint. This study uses a quantitative approach with non-parametric test statistics. This study is a quasi-experimental case study with a treatment group without a control group with 10 research subjects who experienced MTP's in the Upper Trapezius muscle given manual therapy actions consisting of C0-C1; C2-C6; C7-T1 traction and stretching the upper Trapezius muscle, Friction sub occipitalis muscle. The parameters observed were pain in motion and joint range of motion. The action was given 3 times for two weeks, respondents will be examined before and after the 3rd therapy. There was a decrease in pain and LGS after manual therapy intervention was given with a significance value (p 0.001) in the influence test using the Willcoxon Test. From the results of this study, it was found that there is an influence of manual therapy on the MTP's Upper Trapezius muscle which can reduce patient symptoms and complaints.
Penyuluhan Postur Tubuh pada Anak Sekolah Dasar di SDN 03 Plosokerep Sragen Musyafa, Zafaf; Az-zahra, Fadhilah; Wijayanti, Wahyu Kusuma; Putri, Adelia Kurnia; Silaen, Nevada Bulandari; Arianti, Bella; Nurma, Hanifah Dwi; Aquariza, Eliska Elok; Perdana, Suryo Saputra; Komalasari, Dwi Rosella; Santoso, Totok Budi; Dewangga, Mahendra Wahyu
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 2 No. 11 (2025): Januari
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v2i11.1906

Abstract

Masa kanak - kanak adalah masa yang paling penting saat masa pertumbuhan sistem muskuloskeletal. Gangguan postural disebabkan oleh beberapa faktor contohnya penggunaan tas yang salah, cara duduk yang salah serta posisi bermain handphone yg salah. Tujuan dari pengabdian ini adalah sebagai bentuk koreksi dan edukasi sejak dini kepada anak-anak yang diperlukan untuk mencegah terjadinya penyakit gangguan postural karena sangat berpengaruh pada pertumbuhan anak-anak dimasa yang akan datang. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di SDN 03 Plosokerep oleh tim mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Surakarta. Kegiatan diawali dengan ice breaking dilanjutkan dengan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal siswa, lalu diakhiri dengan post-test. Hasil penyuluhan koreksi postur tubuh siswa dan siswi SDN 03 Desa Plosokerep menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan.
MANAGEMENT OF PHYSIOTHERAPY TO INCREASE GAIT SPEED IN PATIENTS WITH KNEE OSTEOARTHRITIS: SINGLE CASE STUDY Anggraini, Nadya; Perdana, Suryo Saputra; Santoso, Totok Budi; Putri, Thesa Arsita
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2021: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (753.039 KB)

Abstract

Introduction: Osteoarthritis(OA) is a musculoskeletal disorder that causes changes in the joints progressively slowly and intermittently. Usually, in the field, muscle strengthening exercises are often found that only focus on the agonist's muscle. Whereas antagonistic muscles also play a role and are even more dominant. The most recommended intervention to be able to activate the two muscles is in the form of taskspecific exercises. The basic concept of task-specific exercise itself is muscle coactivation. To be able to see muscle activity being activated, task-specific exercises are combined with visual surface electromyography (SEMG) biofeedback. Case Presentation: the patient is 57-years old woman and works as a housewife. Patient from Solo, Central Java. Examination of the patient was found to have 3 types of causes such as age more than 45 years or more, morning stiffness for less than 30 minutes, and pain when doing activities. Management and Outcomes: Given treatment in the form of task-specific training combined with visual surface electromyography (SEMG) biofeedback to increase the walking speed and functional activity of the patient. Furthermore, the measuring instrument used for walking speed is the 10-meter walking test and WOMAC Discussion: A study revealed that the addition of a visual surface EMG biofeedback component in task-specific functional training had a positive effect on increasing muscle function and strength. The authors assume that the addition of visual biofeedback can have a positive impact on the rehabilitation process. Conclusion: Giving this intervention can provide a statistically significant improvement and can be implemented clinically to increase walking speed in individual patients and this can provide a significant improvement in functional ability in patients with osteoarthritis of the knee.
THE EFFECT OF MANUAL THERAPY INTERVENTIONS ON SUBJECTIVE COMPLAINTS OF VERTIGO PATIENTS Santoso, Totok Budi; Irfan, Naufal
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2021: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.489 KB)

Abstract

Centrral vertigo is a symptom caused by diseases originating from the central nervous system, both at the center of integration (cerebellum and brain stem). The dangers of central vertigo include increasing the risk of accidents while driving, causing falls due to loss of balance, disturbing hearing, interfering with daily activities, becoming a stroke or other problems in the brain. This physiotherapy treatment for the treatment of central vertigo uses manual therapy techniques, with the aim of freeing up the vertebral artery intratment. This study aims to determine whether there is an influence of manual therapeutic intervention techniques on subjective complaints of central vertigo. Observational research type, research design in this study is A-B-A design which has 3 phases. Research Samples amounted to 13 respondents. The sampling technique used was purposive sampling. central vertigo measuring instrument using Vertigo Symptsom Scale- Short Form (VSS-SF). Analysis of the data in this study is a description of the picture obtained from graph analysis and the ratting scale observation process based on measurement of behavior. Based on the results of interventions with myofascial release, traction and oscillation in 13 respondents, the average VSS-FS score before being given an intervention was 21.23 and after being given an intervention the average VSS-FS score was 2.08, so this therapy was effective in reducing entrapment neck due to vertigo with the results of the VSS-FS score decreased significantly by 19.15. The conclusion of this study is that there is an effect of manual therapy with the Myofascial release, traction and oscillation techniques which are very effective in healing central vertigo.
Co-Authors Abdurrasyid Abdurrasyid Adlina, Adlina Adnan Faris Naufal Afifatuzzahra, Sabina Afita Aulia Isnaen Nur Riansyah Alfida, Nur Anas Pradana Andika Yulian Marros Anggraini, Nadya Aquariza, Eliska Elok Aquariza, Eliska Elok Ardiyanto, Irfan Arianti, Bella Arieputra, Achmad Briliansyah Arif Pristianto Arzhuma Arza Lazuardy Asmarasikha, Aldila Lutfi Atik Hidayati Aulia Ayu Kusuma Wardani Aulia Rahmi Aulia Rahmi, Aulia Ayu Sulistiani Dianingtyas Az-Zahra, Fadhilah Chandra Arum Pramitha Cikiesa Ilham Faiz Desvita Savitri Kusuma Wardhani Dewangga, Mahendra Wahyu Dianingtyas, Ayu Sulistiani DWI YULIANTI Edy Waspada Elif Nur Efendi Elif Nur Efendi Ervianta, Widya Faaiza, Firya Zalfaazza Fahrizal, Dani Faisal Isra Maulana Farid Rahman Fazira, Elfa Risma Firdaus, Muhammad Yusuf Fitriani, Dessy Gemilang Gemilang Hakny Kusuma Maulana Arkan Hakny Maulana Hakny Maulana Hamidah, Nilam Nur Handayani, Dwi Putri Puspita Hanifah Dwi Nurma Hendra, Zulnanda Hilda Bramila Ratimaya Ilmi, Dhiki Fadhilah Irfan, Naufal Kamilia Malihah Nur Salsabila Khairullah, Fakhri Khairunnisa, Fatimah As-Syifa Kingkinnarti Kingkinnarti Kingkinnarti Kingkinnarti Kingkinnarti, Kingkinnarti Kingkinnarti, Kingkinnarti Komalasari, Dwi Rosella KS, Putri Sakinah Larasati, Prihantoro lestari, sulis Marcelia, Riza Maulana, Jais Rizki Meir, Ruth Golda Melur Belinda Muhammad fauzan Muhammad Iqbal Ramadan Muhammad, Imam Fadli Musrifah, Indriyani Musyafa, Zafaf Nadeputri, Anindya Evan Salma Majiid Naim, Karimatun Niken Hertiana Wulandari Novita Sri Wulandari Nur Alfida Nurma, Hanifah Dwi Nurwahidah, Kamila Perdana, Suryo Saputra Pradana, Nur Widya Pradana, Nurwidya Prayitno, P Prihantoro Larasati Putra, Bima Lesmana Putri Sakinah KS Putri, Adelia Kurnia Putri, Leony Dewinta Putri, Thesa Arsita Putri, Yuanita Aisyah Ramadhani, Nanda Ayu Ramadhani, Raden Shafira Saniyyah Ramona, Dela Romadhona, Anggri Salma Muazzaroh Salsabila, Kamilia Malihah Nur Silaen, Nevada Bulandari Sugijanto - Syamsul Ari Wicaksono Tasya Ghea Amanda Taufik Anwar Taufik Eko Susilo Tiara Fairuz Firdausi Tri Asih Wulandari Vina Rosida Viola Widyanita Mahardhika Vira Silviana Ali Vitamara, Yohanna Vivian Jennie Diva Carissa Wahyu Rizki Fajar Rabbani Wahyu Tri Sudaryanto wahyuni wahyuni Wardani, Aulia Ayu Kusuma Waspada , Edy Widi Rumpaka Wati Widya Ervianta Widya Rustikarini Wijayanti, Wahyu Kusuma Wina Rohmadhani Wiyono Putra, Yosa Endrika Wulan, Ayundya Putri Antoko Wulandari, Tri Asih Yanuar, Reza Arshad Yngvie Salma Kirani Yulia Dewi Yulia Vionita Yuliza , Rosi Marcelia Zahra Mahendra Umar Zahra, Salma