Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Hubungan Pola Tidur dan Screen Time dengan Risiko Prediabetes Remaja SMK Al-Ma’rif di Era Digital Yunita Yunita; Evi Gustia Kesuma
Jurnal Kesehatan Qamarul Huda Vol. 14 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Qamarul Huda Badaruddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37824/jkqh.v14i1.2026.1169

Abstract

Perubahan gaya hidup di era digital, khususnya meningkatnya penggunaan perangkat elektronik dan gangguan pola tidur, berpotensi memengaruhi kesehatan metabolik remaja. Screen time yang tinggi dan pola tidur yang tidak optimal dapat mengganggu regulasi glukosa darah dan meningkatkan risiko prediabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola tidur dan screen time dengan risiko prediabetes pada remaja SMK Al-Ma’rif. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 101 responden yang dipilih dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner pola tidur dan screen time serta pemeriksaan kadar glukosa darah puasa (GDP). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pola tidur dengan risiko prediabetes (p-value <0,001; OR = 8,7) serta hubungan yang signifikan antara screen time dengan risiko prediabetes (p-value = 0,007; OR = 4,45). Remaja dengan pola tidur buruk dan screen time tinggi memiliki risiko lebih besar mengalami prediabetes. Temuan ini menunjukkan pentingnya pengendalian pola tidur dan pembatasan screen time sebagai upaya pencegahan prediabetes pada remaja. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji faktor lain seperti pola makan dan aktivitas fisik untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif.
Analisis Faktor Perilaku Pencegahan Diabetes Melitus Gestasional Ibu Hamil Di Labuhan Sumbawa Evi Gustia Kesuma; Yunita; Rafiah
Jurnal Kesehatan Qamarul Huda Vol. 14 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Qamarul Huda Badaruddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37824/jkqh.v14i1.2026.1171

Abstract

Diabetes Melitus Gestasional (DMG) merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang dapat berdampak buruk bagi ibu dan janin. Upaya pencegahan DMG sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari individu maupun lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pencegahan Diabetes Melitus Gestasional pada ibu hamil trimester II dan III di Desa Labuhan Sumbawa Kecamatan Labuhan Badas. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 109 responden yang diambil dengan teknik purposive sampling. Variabel independen meliputi pengetahuan, sikap, dukungan keluarga, aktivitas fisik, indeks massa tubuh (IMT), dan paritas, sedangkan variabel dependen adalah perilaku pencegahan DMG. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis dengan uji Chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki perilaku pencegahan yang kurang (57,8%). Hasil uji bivariat menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan (p=0,000), sikap (p=0,002), dukungan keluarga (p=0,010), aktivitas fisik (p=0,001), dan IMT (p=0,003) dengan perilaku pencegahan DMG. Sedangkan paritas tidak memiliki hubungan yang signifikan (p=0,245). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan mempengaruhi perilaku pencegahan adalah pengetahuan (OR=6,1). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat pengaruh signifikan antara pengetahuan, sikap, dukungan keluarga, aktivitas fisik, dan IMT terhadap perilaku pencegahan DMG, dengan pengetahuan sebagai faktor dominan. Disarankan kepada tenaga kesehatan untuk meningkatkan edukasi dan promosi kesehatan guna meningkatkan perilaku pencegahan pada ibu hamil.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemanfaatan Layanan BPJS Kesehatan pada Masyarakat: Factors Influencing the Utilization of BPJS Health Services in the Community Rusmayadi; David Haryanto; Evi Gustia Kesuma
Journal of Nursing Education and Practice Vol. 5 No. 2 (2026): Journal of Nursing Education and Practice
Publisher : MPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53801/jnep.v5i2.521

Abstract

Introduction: The National Health Insurance program (JKN), administered through BPJS Kesehatan, plays a crucial role in improving access to equitable and quality health services. However, the utilization of BPJS services remains uneven, particularly in rural areas such as Labuhan Sumbawa, where various structural and individual barriers still exist.Objectives: This study aims to identify the factors influencing the utilization of BPJS Kesehatan services and to analyze the relationship between these factors and service utilization among the community in Labuhan Sumbawa.Method: This study employed a quantitative approach with an analytical cross-sectional design. Data were collected from randomly selected respondents using a structured questionnaire that measured socio-demographic characteristics, financial status, knowledge, membership status, and perceived service complexity. Data analysis included univariate and bivariate tests using the Chi-square method to assess relationships between variables.Result: The findings indicate that financial status is the most dominant factor influencing the utilization of BPJS Kesehatan services. Other contributing factors include limited understanding of BPJS procedures, inactive membership status, and perceptions of complex administrative processes. Statistical analysis demonstrates a significant relationship between these factors and the utilization of BPJS services, indicating that both economic and non-economic aspects play an important role in shaping health service utilization behavior.Conclusion: The utilization of BPJS Kesehatan services is influenced by an interplay of financial capacity, knowledge, and perceived service accessibility. Strengthening health literacy, improving administrative simplicity, and ensuring economic affordability are essential strategies to enhance service utilization. These findings highlight the need for integrated policy interventions to optimize the effectiveness of the national health insurance program.
Edukasi Penggunaan Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) di Desa Labuhan Sumbawa Rusmayadi Rusmayadi; David Haryanto; Evi Gustia Kesuma
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan Vol 5, No 6 (2025): JPM: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpm.v5i6.2709

Abstract

The health sector is a key factor supporting health in rural areas, including Sumbawa. Healthcare service are a top priority fot providers because they are a fundamental human right and the goverment is obligated to provide them. The method used is socialization with a personal approach to the community in the Labuhan Sumbawa area. The population of Labuhan Sumbawa is 14,723 people. During community service, education was provided to 56 heads of families at random. The results showed that 19 heads of families were still inactive in using BPJS Kesehatan, citing inability to afford the monthly payments, their BPJS Kesehatan accounts had long been blocked and they had not yet been re-registered. They also refused to use BPJS Kesehatan because they felt it was not yet necessary.ABSTRAKSektor kesehatan merupakan sektor utama yang mendukung kesehatan di daerah pedesaan, termasuk di Sumbawa. Pelayanan kesehatan menjadi prioritas utama penyelenggara karena merupakan salah satu hak mendasar masyarakat serta penyediaannya wajib diselenggarakan oleh pemerintah. Metode yang digunakan yaitu sosialisasi dengan pendekatan secara personal kepada masyarakat di wilayah Labuhan Sumbawa. Jumlah penduduk di labuhan sumbawa 14.723 jiwa. Pada pengabdian masyarakat dilakukan edukasi 56 kepala keluarga secara acak. Hasil didapatkan masih ada 19 kepala keluarga yang tidak aktif menggunakan BPJS kesehatan dengan alasan tidak mampu membayar tiap bulannya, BPJS yang digunakan sudah lama di blokir dan tidak melakukan pengurusan kembali, dan tidak mau menggunakan BPJS kesehatan karena merasa BPJS belum perlu di buat.
Faktor yang Berhubungan dengan Fatigue Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di RS H.L. Manambai Abdulkadir Sumbawa Andri Juwita Pranado; Evi Gustia Kesuma; Lina Dewi Anggraeni
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.27691

Abstract

ABSTRACT Fatigue affects 60 to 80 percent of patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis. A local preliminary survey showed that 60 percent of patients experienced severe fatigue. However, studies integrating physiological, psychological, clinical, and healthcare access factors within a single analytical model remain limited. Factors associated with fatigue and the most dominant factor among patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis were identified in this study. This quantitative observational analytic study employed a cross sectional approach. From a population of 69 patients, 59 respondents were selected using the Slovin formula and purposive sampling. Data were collected between 4 and 18 June 2026 using the FACIT-F, the HARS, and a medical record observation form. Data were analyzed using the Chi Square test and binary logistic regression with SPSS. The largest proportion of respondents experienced severe fatigue (35.6 percent). Bivariate analysis showed that hemoglobin level (p = 0.003; OR = 5.556), comorbidities (p = 0.001; OR = 6.111), anxiety (p = 0.028; OR = 3.429), and duration of hemodialysis (p = 0.046; OR = 2.923) were significantly associated with fatigue. Hemodialysis frequency (p = 0.250) and distance to the facility (p = 0.902) were not significantly associated. Multivariate analysis showed that hemoglobin level was the most dominant factor (AOR = 13.534; p = 0.002), followed by comorbidities (AOR = 11.759; p = 0.002) and anxiety (AOR = 5.183; p = 0.034). Duration of hemodialysis was no longer significant after adjustment (p = 0.078). Fatigue assessment in hemodialysis units should be integrated with hematological monitoring, comorbidity identification, and psychological screening, with anemia control as the primary priority. Keywords: Anxiety, Chronic Kidney Disease, Fatigue, Hemodialysis, Hemoglobin Level.  ABSTRAK Fatigue dialami 60 sampai 80 persen pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Survei awal setempat menunjukkan 60 persen pasien mengalami fatigue berat. Namun, kajian yang mengintegrasikan faktor fisiologis, psikologis, klinis, dan akses layanan dalam satu model analisis masih terbatas. Diketahuinya faktor yang berhubungan dengan fatigue serta faktor paling dominan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis diidentifikasi melalui penelitian ini. Penelitian kuantitatif analitik observasional ini menggunakan pendekatan potong lintang. Dari populasi 69 pasien, sebanyak 59 responden dipilih menggunakan rumus Slovin dan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan pada 4 sampai 18 Juni 2026 menggunakan FACIT-F, HARS, dan lembar observasi rekam medis. Analisis dilakukan menggunakan uji Chi Square dan regresi logistik biner dengan SPSS. Proporsi terbesar responden mengalami fatigue berat sebesar 35,6 persen. Analisis bivariat menunjukkan kadar hemoglobin (p = 0,003; OR = 5,556), penyakit penyerta (p = 0,001; OR = 6,111), kecemasan (p = 0,028; OR = 3,429), dan lama hemodialisis (p = 0,046; OR = 2,923) berhubungan signifikan dengan fatigue. Frekuensi hemodialisis (p = 0,250) dan jarak ke fasilitas (p = 0,902) tidak berhubungan signifikan. Analisis multivariat menunjukkan kadar hemoglobin merupakan faktor paling dominan (AOR = 13,534; p = 0,002), diikuti penyakit penyerta (AOR = 11,759; p = 0,002) dan kecemasan (AOR = 5,183; p = 0,034). Lama hemodialisis tidak lagi signifikan setelah dikontrol (p = 0,078). Pengkajian fatigue di unit hemodialisis perlu diintegrasikan dengan pemantauan status hematologis, identifikasi komorbiditas, dan skrining psikologis, dengan pengendalian anemia sebagai prioritas utama. Kata Kunci: Fatigue, Gagal Ginjal Kronik, Hemodialisis, Kadar Hemoglobin, Kecemasan.
Langkah Sehat Si Kecil: Edukasi Interaktif melalui Media Ular Tangga sebagai Strategi Pencegahan Diabetes Mellitus pada Siswa SDN 16 Sumbawa Yunita; Evi Gustia Kesuma; Wiwik Handayani
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesosi Vol. 9 No. 2 (2026): Juli: Jurnal Abdimas KESOSI
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kesetiakawanan Sosial Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/abdimas.v9i2.562

Abstract

Diabetes mellitus is a growing non-communicable disease that increasingly affects children due to unhealthy dietary habits, inadequate physical activity, and sedentary lifestyles. Early preventive efforts should begin in elementary schools through interactive and age-appropriate health education. This community service program aimed to improve elementary school students' knowledge of diabetes mellitus prevention using an educational snake-and-ladder game. The activity involved 30 students (10 boys and 20 girls) from SDN 16 Sumbawa. The intervention consisted of interactive health education on diabetes mellitus, its risk factors, healthy eating habits, physical activity, and healthy lifestyles, followed by an educational snake-and-ladder game, group discussions, and reflection sessions. Program effectiveness was evaluated using a pre-test and post-test design to assess changes in students' knowledge. The results demonstrated a substantial improvement in knowledge, with the mean score increasing from 58.67 (SD = 12.45) before the intervention to 84.33 (SD = 10.21) after the intervention. The game-based learning approach promoted active participation, encouraged discussion, and reinforced key health messages in an enjoyable learning environment. These findings indicate that the educational snake-and-ladder game is an effective and engaging medium for improving elementary school students' knowledge of diabetes mellitus prevention. Integrating this approach into school health promotion programs may help establish healthy behaviors from an early age.