Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

The Effect of Power on Drying Rate of Sugarcane Bagasse Drying by Using Microwave Melvin Emil Simanjuntak
FLYWHEEL : Jurnal Teknik Mesin Untirta Volume VI, Nomor 1, April 2020
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/fwl.v2i1.7396

Abstract

The sugarcane is a food plant that is widely used in daily life as a sweetener This plant is processed in a factory to produce sugar. In sugar processing, it needed a large amount of energy where its source is bagasse. As a fuel, sugarcane bagasse still has a moisture content of around 50% so the calorific value is quite low. The drying process is needed to increase this calorific value. There are many drying processes that can be used where one of them is microwave drying. The microwave drying is faster if compared to hot air. In this study, the sample of sugarcane bagasse used was chopped to a size of about 3 cm. The mass of samples used weight of 100, 125 and 150 gr and placed in an aluminum foil. The measurement of sample mass is done every minute. The electrical power used varies by 50%, 60%, 70%, 80%, 90% and 100% of the maximum power of the microwave oven. The result of the study shows a proportional reduction in moisture ratio for each power percentage difference used. The heavier sample mass will result in a smaller drying rate. The regression shows that the normal logarithmic equation is more suitable for the drying rate equation.
UPAYA PENINGKATAN KESADARAN MASYARAKAT DALAM PENANGGULANGAN PENYAKIT DIABETES MELLITUS MELALUI PENGENALAN KONSUMSI TEH BELUNTAS DAN PEMERIKSAAN KESEHATAN RUTIN Paini Sri Widyawati; Melvin Emil Simanjuntak
LOGISTA - Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : Department of Agricultural Product Technology, Faculty of Agricultural Technology, Universitas Andalas Kampus Limau Manis - Padang, Sumatera Barat Indonesia-25163

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/logista.5.2.51-62.2021

Abstract

Diabetes mellitus (DM), terutama tipe-2 merupakan penyakit degeneratif akibat perubahan pola hidup, ditandai dengan peningkatan gula darah (hiperglikemia) dan perubahan progresif terhadap struktur histopatologi sel beta langerhaens pankreas karena akumulasi radikal bebas dalam tubuh. Pengelolaan DM yang tidak tepat menyebabkan munculnya penyakit menahun lainnya, seperti jantung koroner dan gangguan mata. DM tipe-2 lebih mudah penanganannya, diantaranya diet pangan kaya polifenol, yang mempunyai aktivitas antioksidan serta antidiabetik, salah satunya teh beluntas (Pluchea indica Less). Konsumsi teh beluntas diharapkan menurunkan gula darah dan resiko lanjut. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan sebagai upaya penyadaran masyarakat dalam menanggulangi penyakit DM dengan memperkenalkan potensi teh beluntas, menyelenggarakan senam diabetes mellitus serta pemeriksaan kesehatan rutin, meliputi tekanan darah, berat badan, gula darah, total kolesterol serta hemoglobin A1c (HbA1c) khusus bagi peserta DM di komunitas RS Gotong Royong, Surabaya. Kegiatan ini diikuti oleh 75 orang selama 3 bulan (Maret-Mei 2017) setiap hari Minggu mulai pukul 06.00-10.00 WIB (11 pertemuan). Hasil evaluasi diperoleh sejumlah 46% peserta hadir > 8 kali mengikuti senam diabetes mellitus dan pemeriksaan kesehatan, 24% peserta menderita pre hipertensi, 34% menderita DM, 39% memiliki kadar total kolesterol pada kategori perbatasan dan 37% berada pada katerogi berbahaya. Pemeriksaan HbA1c pada pasien DM dengan kadar gula darah >140 mg/dl menunjukkan bahwa 19% pasien beresiko DM dan 81% pasien benar menderita DM. Konsumsi teh beluntas 2 cangkir per hari pagi dan sore (2g/100mL) selama 2 bulan menurunkan gula darah dan total kolesterol, menurunkan keluhan seperti hilangnya rasa kesemutan dan berkurangnya rasa lelah yang berimbas peningkatan semangat beraktivitas. Kata kunci : penanggulangan, diabetes mellitus tipe-2, teh beluntas, pemeriksaan kesehatan ABSTRACT Diabetes mellitus (DM), especially type 2 is a degenerative disease due to changes in lifestyle, characterized by increased blood sugar (hyperglycemia) and progressive changes in the histopathological structure of pancreatic beta langerhaens cells due to accumulation of free radicals in the body. Improper management of DM causes the emergence of other chronic diseases, such as coronary heart disease and eye disorders. Type 2 diabetes is easier to handle, including a diet rich in polyphenols, which have antioxidant and antidiabetic activity, one of which is beluntas tea (Pluchea indica Less). Consumption of beluntas tea is expected to reduce blood sugar and further risk. This community service was conducted as an effort to raise public awareness in tackling DM disease by introducing the potential of beluntas tea, organizing diabetes mellitus exercises and routine health checks, including blood pressure, weight, blood sugar, total cholesterol and hemoglobin A1c (HbA1c) specifically for DM participants. in the Community Hospital Gotong Royong, Surabaya. This activity was attended by 75 people for 3 months (March-May 2017) every Sunday starting at 06.00-10.00 WIB (11 meetings). The results of the evaluation showed that 46% of participants attended > 8 times diabetes mellitus exercise and health checks, 24% of participants suffered from pre-hypertension, 34% suffered from diabetes, 39% had total cholesterol levels in the border category and 37% were in dangerous categories. Examination of HbA1c in DM patients with blood sugar levels >140 mg/dl showed that 19% of patients were at risk of DM and 81% of patients had diabetes. Consumption of 2 cups of pluchea tea per day in the morning and evening (2g/100mL) for 2 months reduced blood sugar and total cholesterol, reduced complaints such as loss of tingling sensation and reduced fatigue which results in increased enthusiasm for activities. Keywords: management, type-2 diabetes mellitus, pluchea tea, health examination
STUDI NUMERIK 2D PEMBAKARAN CANGKANG KELAPA SAWIT PADA TUNGKU BOILER Melvin Emil Simanjuntak
INOVTEK POLBENG Vol 8, No 2 (2018): INOVTEK VOL.8 NO 2 - 2018
Publisher : POLITEKNIK NEGERI BENGKALIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.016 KB) | DOI: 10.35314/ip.v8i2.754

Abstract

Cangkang kelapa sawit dengan nilai kalor 2770 kkal/kg mempunyai potensi sebagai bahan bakar boiler. Komposisi cangkang kelapa sawit meliputi kadar air 9,7%; gas volatil 67%; karbon tetap 21,2%; abu 2,1%; karbon 47,62 %; hidrogen 6,2%; oksigen 43,38%; nitrogen 0,7% dan sulfur 0,00% dalam kondisi air dry base. Penelitian ini adalah simulasi numerik 2 dimensi menggunakan software Flic yang digunakan untuk pembakaran partikel yang besar pada grate berjalan dan dipadukan dengan software Fluent untuk melihat karakteristik pembakaran pada ruang bakar boiler. Penelitian ini menggunakan kelebihan udara 30%, udara primer 70% dan udara sekunder 30%. Diameter cangkang diasumsikan 15 mm. Konsumsi cangkang pada pembakaran sebanyak 6395 kg/jam. Kecepatan bed bervariasi sebesar 5 – 8 m/jam.  Hasil yang diperoleh menunjukkan temperatur gas panas di daerah superheater sekitar 1093 – 1464 K, diperoleh juga kontur spesies gas hasil pembakaran.
OPTIMASI PARAMETER PROSES PEMBUATAN BIOETANOL SORGUM DAN PENGARUH TERHADAP UNJUK KERJA MOTOR BENSIN Teng Sutrisno; Willyanto Anggono; Kurniawaan Lay; Melvin Emil Simanjuntak
Otopro Vol 16 No 2 Mei 2021
Publisher : Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/otopro.v16n2.p39-43

Abstract

Bioethanol is a renewable fuel that resembles gasoline, bioethanol is produced from fermentation and distillation processes. One of the raw materials that produce bioethanol is Sorghum. Sorghum was chosen because it is superior to other plants. This study aims to analyze fermentation longtime and enzyme composition for the best composition to produce bioethanol from sorghum, and determine the quality of sorghum bioethanol. This research Sorghum  bioethanol produced with an alcohol content of 94%. The test and analysis variables used were 31 samples. The results of this study are as follows : The best fermentation time is 4 days, the enzyme and yeast variable for the most volume of alcohol is 7% yeast 5% enzyme, the enzyme and yeast variable for the highest alcohol content is 7% yeast 7% enzyme. Laboratory test results when compared with PERTAMINA's standard regulations, especially Pertalite RON 90, Several parameters have rejected the regulations. Therefore sorghum bioethanol is used as an additive for Gasoline. Sorghum bioethanol is made addictive to gasoline RON 90, namely B10 (bioethanol sorghum 10%) and B20 (bioethanol sorghum 20%). It would cause an increase in the performance of gasoline engines.
PENGERINGAN AMPAS TEBU PADA MICROWAVE: KINETIKA PENGERINGAN, DIFFUSI EFEKTIF DAN ASPEK ENERGI Melvin Emil Simanjuntak; Paini Sri Widyawati
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 15, No 1 (2022): Februari
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1010.824 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v15i1.51495

Abstract

Pengeringan merupakan pengurangan kadar air dalam suatu bahan untuk meningkatkan kualitas bahan tersebut. Pada suatu pabrik gula ampas tebu merupakan hasil samping yang digunakan sebagai bahan bakar di boiler. Ampas tebu ini memiliki kadar air yang masih tinggi sehingga masih perlu dikeringkan. Pada penelitian ini pengeringan dilakukan menggunakan microwave dimana ampas tebu dicacah sekitar 3 cm dan sampel setiap percobaan adalah seberat sebesar 150 g. Daya yang digunakan adalah 50, 60, 70, 80, 90 dan 100% dari daya maksimal 900 W. Berat sampel diukur setiap menit dan pengeringan dianggap selesai ketika massanya sudah tidak berubah. Hasil penelitian menunjukkan model matematika kinetika pengeringan yang paling sesuai adalah model rasional dengan bentuk umum . Persamaan ini memiliki nilai R2 paling kecil sebesar 0,99926 dan nilai RMSE terbesar adalah 0,008874. Diffusi efektif pada kisaran 1,044 x 10-7 (m2/s) hingga 2,009 x 10-7 (m2/s) dan nilai energi aktivasi Ea adalah sebesar 4,789 W/g. SMER terkecil pada kisaran 0,3229 - 0,4756 kg/kWh. Nilai SEC adah sebesar 3,10 hingga 2,10 kWh/kg. Semakin besar daya yang digunakan maka  Deff, SMER, MER semakin besar sedangkan SEC akan semakin kecil.
Pengeringan Jamur Tiram Menggunakan 2 Kolektor Surya: Rancang Bangun dan Kinetika Pengeringan Melvin Emil Simanjuntak
Jurnal Pendidik Indonesia (JPIn) Vol 5, No 2: Oktober 2022
Publisher : Yayasan Pendidikan Intan Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47165/jpin.v5i2.377

Abstract

Jamur tiram merupakan tanaman penghasil protein yang paling baik. Tanaman ini sudah banyak dikonsumsi oleh masyarakat dan memiliki kandungan protein, mineral dan vitaminl yang sangat baik untuk tubuh. Kadar air yang tinggi merupakan kelemahan jamur sehingga tidak dapat disimpan dalam bentuk segar untuk jangka waktu yang lama. Untuk memperpanjang masa simpan maka jamur perlu dikeringkan hingga kadar air tertentu. Pengeringan dengan energi matahari merupakan yang paling baik di daerah pedesaan karena biaya yang murah dan tersedia sepanjang tahun. Penelitian ini berhasil membuat pengering surya dengan dua buah kolektor. Ukuran panjang dan lebar kolektor adalah 1000 mm dan 500 mm dan memiliki jumlah rak sebanyak 4 buah. Dimensi lebar, panjang dan tinggi ruang pengering adalah 500 mm, 500 mm dan 1254 mm. Pengeringan menggunakan sampel sebanyak 450 gr untuk tiap rak. Hasil percobaan menunjukkan model Pages merupakan model kinetika pengeringan yang terbaik. Nilai nilai R2, RMSE dan Chi Square diperoleh masing masing  sebesar 0,9993; 0,0083; 0,0001. Setelah 375 menit pengeringan, kadar air rata menjadi turun menjadi 10,26% dari kondisi awal sebesar 92,47%
Kinerja Pengeringan Jamur Tiram Menggunakan Alat Pengering Tipe Rak Dengan Energi Surya Menggunakan Tiga Buah Kolektor Melvin B.H Sitorus; Syariful Hikmah Sormin; Melvin Emil Simanjuntak
Jurnal Pendidik Indonesia (JPIn) Vol 5, No 2: Oktober 2022
Publisher : Yayasan Pendidikan Intan Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47165/jpin.v5i2.410

Abstract

Budidaya jamur tiram merupakan usaha yang tidak membutuhkan lahan yang luas, proses perawatannya relatif mudah, serta bahan bakunya mudah didapat dan murah. Meskipun jamur tiram tidak tergolong sebagai kebutuhan pangan pokok, namun banyak diminati oleh masyarakat karena kandungan gizinya yang tinggi dan non kolesterol. Pengolahan pascapanen untuk jamur tiram antara lain pengawetan dengan menggunakan teknik penjemuran dibawah sinar matahari karena kandungan airnya yang tinggi untuk menjamin agar kandungan nutrisinya tetap terjaga.  Metode pengeringan akan tidak efektif apabila cuaca yang tidak menentu ditambah lagi kemungkinan kontaminasi produk, masalah higienitas, dan berbagai hal yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas dan kuantitasnya . Pada penelitian ini digunakan tiga buah kolektor surya untuk mengatasi kelemahan pada pengeringan konvensional dimana udara dilewatkan melalui kolektor surya pada suhu tinggi, kemudian udara panas dialirkan melalui bahan yang akan dikeringkan dengan bantuan fan. Setelah pengujian didapati penurunan kadar air pada rak 4 lebih cepat terjadi dengan kadar air berkurang dari 92.47% menjadi 7.15%. Laju pengeringan rata-rata untuk keempat rak sebesar 0,578481 gr/mnt.
PPTG Mesin Pencacah Serbaguna Untuk Peternak Kambing Dan Lembu Di Kelurahan Pujidadi Binjai Sumatera Utara Melvin Emil Simanjuntak; Nelson Manurung; Melvin B.H. Sitorus; Dohar Sinabutar
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 3 No 1 (2023): JPMI - Februari 2023
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpmi.928

Abstract

Pakan memegang peranan penting dalam peternakan kambing dan sapi. Apabila tercukupi, peningkatan berat badan akan berlangsung secara signifikan. Di Kelurahan Pujidadi yang terletak di Kecamatan Binjai Selatan Kota Binjai banyak ditemui peternak kambing dan lembu dengan jumlah ternak lebih dari 10 ekor per rumah tangga. Rumput diambil dari yang tumbuh di sekitar tempat tinggal penduduk. Mitra secara rutin mengumpulkan rumput dengan menggunakan becak sebagai alat pengangkut. Pengambilan rumput dilakukan 2 kali dalam sehari. Kendala yang dihadapi adalah kurangnya pakan ternak dan tidak semua bagian rumput dimakan karena ukuran yang masih besar. Selama ini, untuk memperkecil ukuran rumput masih dilakukan secara manual dengan alat potong. Hal ini terasa cukup menyita waktu dan tenaga. Ada potensi hijauan lain yang dapat menjadi tambahan pakan untuk kambing maupun lembu yang banyak tumbuh di sekitar lokasi yaitu tanaman pisang dan jagung. Jika dicaacah dengan baik akan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
RANCANG BANGUN DAN PENGUJIAN MESIN PENYANGRAI KACANG TANAH KAPASITAS 10 KG/PROSES Melvin Emil Simanjuntak; Melvin Bismark H. Sitorus; Mhd. Daud Pinem; Syariful Hikmah Sormin; Penteris Rumisar P Nabaho; Henry Hasian Lumbantoruan
Injection: Indonesian Journal of Vocational Mechanical Engineering Vol 3 No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Politeknik Negeri Ketapang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58466/injection.v3i1.771

Abstract

Currently, the process of roasting peanuts in the North Tapanuli Regency area is still done manually. This will result in fatigue for the operator. To improve this condition, a roasting machine is needed to facilitate the roasting process. The peanut roaster machine that was designed in this study has a roasting tube as the main component with an electric motor as the prime mover. In addition there is a shaft, gearbox stirrer and clutch. The results of this design obtained power of prime mover and tube rotation of 1/2 hp and 28 rpm. The machine use a ceramic gas stove as heater. The experimental results show the machine can operate properly. The time needed to roast 10 kg of peanuts is 1 hour. BEP units obtained as much as 810 kg. The maintenance is carried out by cleaning and providing lubricant especially on the gearbox.
Rancang Bangun dan Pengujian Mesin Pengering Rotari dengan Pemanas dan Penggerak Tenaga Surya pada Pengeringan Jamur Tiram Melvin Emil Simanjuntak; Nelson Manurung; Melvin B. H. Sitorus; Jeremi Gideon Turnip; Hendry H. Lumbantoruan; Teng Sutrisno; Ian Hardianto Siahaan; Janter P. Simanjuntak
Jurnal Teknik Mesin (Sinta 3) Vol. 20 No. 2 (2023): OCTOBER 2023
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/jtm.20.2.31-38

Abstract

Jamur tiram sudah cukup banyak dikonsumsi masyarakat pada saat ini. Untuk dapat disimpan lebih lama kadar air jamur perlu diturunkan hingga kurang dari 10%. Pengeringan yang banyak digunakan untuk jamur adalah pengeringan surya. Penggunaan pengering rotary dapat mempersingkat waktu pengeringan. Penelitian ini meliputi rancang bangun dan pengujian pengeringan dari mesin pengering rotari yang menggunakan energi surya sebagai pemanas dan penggerak. Hasil rancang bangun memperoleh alat pengering yang dapat beroperasi dengan baik. Ukuran panjang, lebar dan tinggi ruang pengering masing masing 500 mm x 500 mm x 1250 mm dan memiliki 3 drum pemutar. Sel surya untuk menyerap energi matahari untuk memutar drum. Untuk menaikkan temperatur udara pengering digunakan dua buah kolektor surya Sampel jamur dicacah dengan ukuran sekitar 1 cm yang diletakkan dalam drum yang berputar 30 rpm. Setiap drum berisi 400 gr sampel. Kolektor surya yang diletakkan pada arah utara dan selatan. Pengukuran massa dilakukan setiap 30 menit. Hasil pengujian menunjukkan kadar air jamur pada drum 1, 2 dan 3 berkurang masing masing dari sebesar 96,8%, 92,2%, dan 96,7% menjadi masing masing sebesar 7,8%, 1,2% dan 4,7% pada pukul 16,25 di hari II. Kadar air mencapai 10% setelah pengeringan selama 5,5; 4,5 dan 6,5 jam.