Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

NASKAH MIFTAH AL-GHUYUB KARANGAN SYEKH MUHAMMAD IBNU FADLILAH (Suntingan Teks dan Analisis Isi) Ani Sumiati; Dedi Supriadi; Akmaliyah Akmaliyah
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 7 No 1 (2024): Hijai - Journal on Arabic Language and Literature
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v7i1.12778

Abstract

ABSTRAK Naskah Miftahul Ghuyub merupakan salah satu warisan hasil peninggalan Ulama terdahulu yang tentu harus kita jaga, kita rawat dan kita lestarikan. Dengan begitu, hasil karya cipta yang sangat jarang ditemui pada era modern ini tidak tergerus oleh jaman dan bisa dikenali oleh khalayak. Mengingat dalam naskah itu sendiri banyak mengandung ilmu - ilmu yang bisa kita gali dengan melalui berbagai tinjauan. Seperti halnya dalam naskah ini berisikan ilmu mengenai tasawuf yang didalamnya menyampaikan tentang tauhid, Marifatullah, Wahdatul Wujud, dan Martabat tujuh.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Filologi dengan menggunakan metode standar, yaitu metode yang biasa digunakan dalam penyuntingan teks naskah tunggal. Metode standar ini meliputi tahapan penelitian diantaranya : inventarisasi naskah; pengolahan data; suntingan teks; mentransliterasikan teks; terjemahkan teks; dan analisis isi naskah.Hasil dari penelitian ini adalah : 1) Naskah Miftahul Ghuyub adalah naskah yang merupakan koleksi dari Khazanah Perpustakaan Nasional 2) Terdapat beberapa kesalahan tulis dalam naskah, yang diantaranya yaitu substitusi, adisi, lakuna, transposisi, dan omisi, yang mana kesalahan tulis tersebut didominasi oleh substitusi; 3) Teks naskah ini berisikan tentang ilmu tasawuf yang mana Syeikh Muhammad Ibnu Fadillah mengungkapkan tentang Tauhid, Marifatullah, Wahdatul Wujud, dan Martabat tujuh.Kata Kunci : Naskah, Miftahul Ghuyub, Tasawuf
SUNTINGAN TEKS NASKAH KITAB AL-FUTUHATU AL-MANTIQIYYAH Saskia Ainiyah Qotrunnada; Dedi Supriadi; Muhammad Nurhasan
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 5 No 1 (2022): Hijai - Journal on Arabic Language and Literature
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v5i1.15404

Abstract

Naskah Al Futuhatu Al-Mantiqiyyah ditulis oleh Musa bin Ibrahim, naskah ini termasuk dalam satu dari sekian banyaknya warisan penulis-penulis terdahulu yang mesti kita jaga dan lestarikan. Dengan hal tersebut maka hasil karya cipta mereka dapat dikenali oleh masyarakat saat ini dan tidak akan hilang tergusur oleh jaman. Sebuah naskah kuno tidak luput dari kekurangan dan kesalahan tulisan, begitupun naskah Al Futuhat Al-Mantiqiyyah ini. Didalamnya terdapat beberapa kekurangan dan kesalahan yang ditemukan diantaranya yaitu tidak ada penomoran pada halaman, tidak ada tanda baca ataupun paragraf, serta ditemukan beberapa kesalahan-kesalahan tulis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode filologi dengan menggunakan Edisi standar. Hasil dari penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut: 1) Naskah Al Futuhat Al-Mantiqiyyah merupakan koleksi naskah dari Perpustakaan Nasional bernomor katalog 609392, terdiri atas 40 pembahasan dalam 36 halaman, ukuran naskah yaitu 20 x 15 cm, berbahasa arab, dengan jenis tulisan berupa khat naskhi, kondisi naskah cukup baik meski banyak teks yang sudah pudar, naskah selesai ditulis pada bulan Jumadil Awal, pada malam Senin, tepatnya di waktu sepertiga malam di tahun 1075 H/ 1664 M. 2) Terdapat beberapa kesalahan tulis dalam naskah, yang diantaranya yaitu terdapat 49 penggantian, 11 penambahan, 21 perubahan, 4 pengurangan, dan 1 penghilangan. Yang mana kesalahan tulis tersebut didominasi oleh penggantian (Substitution). 3) Teks naskah ini berisikan ilmu mantiq yang mana Syekh Ibrahim Musa menjelaskan secara singkat tentang pengantar ilmu mantiq yang ia tulis dalam 40 pembahasan.
JENIS FRASA DAN MODUS DALAM NADZAM AL-MANDZUMAH AN-NAWAWIYYAH WA AL-KHASAIS AN-NAHDLIYAH KARYA K.H. ZULFA MUSTOFA Rino Rino; Dedi Supriadi
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 6 No 2 (2023): Hijai - Journal on Arabic Language and Literature
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v6i2.26107

Abstract

The purpose of this study  is to know the types of phrases contained in material objects  , namely nadzam Al-Manẓumah An-Nawawiyyah Wa Al-Khasā'is An-Nahḍiyyah and to know the type of mode contained in these objects. In his discussion, researchers borrowed the theory proposed by Abdul Chaer, namely the categorization of phrases into four types, including exocentric, endocentric, coordinative and apositive phrases. In addition, Abdul Chaer also divided the mode into seven types, including indicative (declarative), optative, imperative, interrogative, obligative, desiderative and conditional modes.  The method used is a descriptive qualitative method.  The results of this study describe a number of phrases and modes found in material objects, including: (1) The phrases contained in this material object are 187 with 64 endocentric types, 98 exocentric types, 22 coordinate types and 3 apositive types. (2) The modes contained in this material object are 50 with 42 declarative types, one optative type, six imperative types and one conditional type. Tujuan dari penelitian ini yang antara lain mengetahui jenis frasa yang terdapat dalam objek material yaitu nadzam Al-Manẓumah An-Nawawiyyah Wa Al-Khasā’is An-Nahḍiyyah serta mengetahui jenis modus yang terdapat dalam objek tersebut. Dalam pembahasannya peneliti meminjam teori yang dikemukakan oleh Abdul Chaer yaitu pengkategorian frasa menjadi empat jenis, antara lain frasa eksosentrik, endosentrik, koordinatif dan apositif. Selain itu Abdul Chaer juga membagi modus ke dalam tujuh jenis antara lain modus indikatif (deklaratif), optatif, imperatif, interogatif, obligatif, desideratif dan kondisional. Adapun metode yag digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Hasil dari penelitian ini memaparkan sejumlah frasa dan modus yang tedapat pada objek material antara lain: (1) Frasa yang terdapat dalam objek material ini berjumlah 187 dengan 64 jenis endosentrik, 98 jenis eksosentrik, 22 jenis koordinatif dan 3 jenis apositif. (2) Modus yang terdapat dalam objek material ini berjumlah 50 dengan 42 jenis deklaratif, satu jenis optatif, enam jenis imperatif dan satu jenis kondisional.
Formulasi Fitur Visual Manuskrip Arab Pegon Sunda untuk Pengembangan Sistem Handwritten Text Recognition (HTR) Berbasis Artificial Intelligence (AI) Indra Sopian; Muhammad Sigit Pramudya; Asep Achmad Hidayat; Dedi Supriadi; Zulmi Ramdani
Manuskripta Vol 16 No 1 (2026): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v16i1.194

Abstract

This study examines the Sundanese Arab Pegon manuscript Wawacan Abdul Muluk through a philological approach to formulate a conceptual visual feature taxonomy framework as a foundational step for developing Artificial Intelligence (AI)-based Handwritten Text Recognition (HTR). The philological approach is employed to identify the manuscript’s condition, structural content, linguistic characteristics, and script, which are then transformed into digital parameters. The study successfully formulates six categories of conceptual visual features: paleography, text layout, script form, grapheme variation, ornamentation, and physical degradation (such as faded ink and damaged binding) that create visual noise affecting text legibility. These characteristics are analyzed as a baseline to enable AI models to accurately recognize, process, and represent Sundanese manuscripts. This synergy between philology and computational approaches contributes to the digital humanities by providing a visual feature taxonomy for future HTR application development. === Penelitian ini mengkaji manuskrip Arab Pegon Sunda Wawacan Abdul Muluk melalui pendekatan filologi untuk merumuskan kerangka kerja (framework) taksonomi fitur visual konseptual sebagai dasar awal pengembangan model Handwritten Text Recognition (HTR) berbasis Artificial Intelligence (AI). Pendekatan filologi digunakan untuk mengidentifikasi kondisi naskah, struktur isi, karakteristik kebahasaan, dan aksara, yang kemudian ditransformasikan menjadi parameter digital. Hasil penelitian berhasil merumuskan enam kategori fitur visual konseptual: paleografi, tata letak teks, bentuk aksara, variasi grafem, ornamen, serta degradasi fisik naskah (seperti tinta pudar dan jilid rusak) yang menjadi noise visual bagi keterbacaan teks. Karakteristik ini dianalisis sebagai landasan agar model AI mampu mengenali, memproses, dan merepresentasikan manuskrip Sunda secara akurat. Sinergi antara filologi dan pendekatan komputasional ini berkontribusi pada bidang humaniora digital dalam menyediakan taksonomi fitur visual untuk pengembangan aplikasi HTR di masa depan.
Internalisasi Nilai-Nilai Budi Pekerti dalam Hikayat Nakhoda Asyik Dedi Supriadi
Manuskripta Vol 12 No 2 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i2.155

Abstract

This article discusses the problems of internalizing moral values ​​in the Malay literary work entitled Hikayat Nakhoda Asyik. As an old literary work, the text written in the Jawi script using the Betawi Malay language and became a guide for the development of character in the past, became the uniqueness and novelty of this literary work. The aim of this research is to portray the internalization of cultural values ​​and moral values in Hikayat Nakhoda Asyik. This study employed a perspective-based philological discourse analysis approach to obtaining a complete description of the texts written in Jawi script using Betawi Malay. The findings show that Hikayat Nakhoda Asyik contains moral values ​which are categorized into three parts, namely characters towards God who is the creator of the universe; second, manners to human beings; and third, manners to the environment. Hence, the duty of human being as a khalīfah fī al-ard (leader on earth) becomes harmonious and mercy to the universe. === Artikel ini membahas masalah internalisasi nilai-nilai budi pekerti dalam karya sastra melayu Hikayat Nakhoda Asyik. Sebagai karya sastra lama, teks manuskrip ini yang ditulis dengan aksara jawi dengan pemakaian bahasa Melayu Betawi ini menjadi pedoman pengembangan budi pekerti di masa lampau, ini kemudian yang menjadi keunikan tersendiri terhadap karya sastra ini. Adapun tujuan penelitian ini yaitu, mendeskripsikan internalisasi nilai budaya dalam Hikayat Nakhoda Asyik dan mendeskripsikan internalisasi nilai-nilai budi pekerti dalam teks. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis teks menggunakan perspektif filologi untuk mendapatkan gambaran secara utuh terhadap isi teks yang ditulis dengan aksara jawi dengan pemakaian bahasa Melayu Betawi. Hasil analisis menunjukkan bahwasanya Hikayat Nakhoda Asyik mengandung nilai-nilai budi pekerti yang dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu budi pekerti kepada Tuhan yang maha pencipta sekalian alam; kedua, budi pekerti kepada sesama manusia; dan ketiga, budi pekerti kepada alam sekitar. Dengan demikian trias panca kehidupan manusia sebagai khalīfah fī al-ard (pemipin di muka bumi) menjadi harmonis dan menjadi rahmat bagi semesta.