Claim Missing Document
Check
Articles

PERAN GENERASI MILENIAL DALAM PENGEMBANGAN DESA WISATA DI DANAU TOBA Rajagukguk, Tri Putra; Sofianto, Kunto
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 4, No 3 (2020): Juli 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v4i3.3158

Abstract

The Millennials are terms that include human phenomena and are often talked about in cultural themes of society. This study aims to analyse the role of millennials in the development of tourism villages in Lake Toba and its implications for the preservation of cultural identities (case studies in the village of Simangulampe). The interview form is an open, semi-structured interview. Participants selected in the collection of data through interviews are the administrators of a youth organization (millennials) and indigenous people gathered in Simangulampe tourism village so that they can provide precise information about Potential, constraints, and strategies for the development of tourism attraction in the village. This research has led to the findings that the role of millennials in Lake Toba consists of: (1) The establishment of the GEMASAKTI organization against the potential development of tourism villages. (2) Tourism village socialization by generation of millennials on the development of Tourism Village (3) Problems and constraints of millennials related to the cultures and customs affected by modernity, mindset, human resources, Infrastructure availability, and promotional activities. (4) Form of millennial innovation related to the development efforts of Simangulampe tourism village is done by training and works. The implications are that millennials can familiarize themselves with socio-cultural traditions so that the cultural identity can be preserved and tourism creations in Lake Toba are progressing.
Discourse Of Islamization In Indonesia: Hoesein Djajadiningrat’s Vision In The Colonial And Postcolonial Periods Mohammad Refi Omar Ar Razy; Kunto Sofianto; Gani Ahmad Jaelani
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 12 No. 1 (2023)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v12i1.134

Abstract

Discourses on Islamization in Indonesia are quite varied, including giving birth to the opinion that Islam originated in Gujarat, Mecca, Persia and China. The problem is, the discourse about the opinion of the coming of Islam to Indonesia which later became a unified historical story is rarely found. The discourse on Islamization became a long discourse in the colonial and postcolonial periods. This paper aims to elaborate on the vision of Islamization according to Hoesein Djajadiningrat. Hoesein argues that Islam in Indonesia originates from Persia. The argument in this paper is that Hoesein as an intellectual can be aligned with scholars who give opinions on Islamization such as Snouck Hurgronje, Pijnappel, JP Moquette, Hamka, and Abu Bakar Aceh. This paper uses historical methods consisting of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The results in this paper find that the Islamization discourse originating from Persia is a strengthening of the Islamization of Gujarat and a counter discourse of Arab Islamization. Therefore, this paper will analyze, first, the Islamization Debate in Western discourse. Second, the postcolonial Islamization Debate, and Third, the Arab vs Persian Islamization debate.
RAHMATAN LIL 'ALAMIN SEBAGAI LANDASAN KONSEPSI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT: KONTEKSTUALISASI QS. AL-ANBIYA AYAT 107 DALAM PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Kosasih, Ade; Sofianto, Kunto; Syabana, Muntazhar Nur
Midang Vol 4 No 2 (2026): Midang, Juni 2026
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v4i2.64087

Abstract

Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu bentuk implementasi tridarma perguruan tinggi yang bertujuan meningkatkan kapasitas individu maupun kelompok agar mampu menyelesaikan berbagai persoalan sosial secara mandiri dan berkelanjutan. Dalam perspektif Islam, pemberdayaan masyarakat tidak hanya berorientasi pada peningkatan kesejahteraan material, tetapi juga diarahkan pada pembentukan kehidupan yang berkeadilan, bermartabat, dan membawa kemaslahatan bagi seluruh makhluk. Artikel ini bertujuan mengkontekstualisasikan makna rahmatan lil 'alamin dalam QS. Al-Anbiya ayat 107 sebagai landasan konseptual pemberdayaan masyarakat pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif-kualitatif melalui studi kepustakaan yang dipadukan dengan pendekatan partisipasi dalam pelaksanaan program pengabdian. Analisis dilakukan terhadap ayat Al-Quran, kitab tafsir klasik dan kontemporer, serta literatur mengenai pemberdayaan masyarakat. Hasil kajian menunjukkan bahwa konsep rahmatan lil 'alamin mengandung nilai kasih sayang, keadilan, inklusivitas, penghormatan terhadap martabat manusia, serta keberlanjutan yang sangat relevan dijadikan paradigma dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi program pemberdayaan masyarakat. Nilai-nilai tersebut mendorong transformasi masyarakat secara holistik melalui peningkatan kapasitas, penguatan kelembagaan, partisipasi aktif, dan kemandirian sosial. Dengan demikian, QS. Al-Anbiya ayat 107 memiliki relevansi yang kuat sebagai dasar konseptual dalam membangun model pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada kemaslahatan universal.
SENI KETANGKASAN ADU DOMBA DI GARUT SEBAGAI SARANA PENINGKATAN PARIWISATA: SENI KETANGKASAN ADU DOMBA DI GARUT SEBAGAI SARANA PENINGKATAN PARIWISATA Agus Nero Sofyan; Kunto Sofianto
KABUYUTAN Vol 3 No 1 (2024): Kabuyutan, Maret 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i1.222

Abstract

Penelitian ini berjudul “Seni Ketangkasan Adu Domba di Garut sebagai Sarana Peningkatan Pariwisata.” Kesenian tradisional ketangkasan adu domba Garut adalah kecepatan seekor domba dalam menyerang lawannya, menghindar, dan bertahan dari serangan lawannya di arena pertandingan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, yaitu metode yang digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang populasi yang besar dengan menggunakan sampel yang relatif kecil. Sampel yang digunakan dalam penyelidikan ini adalah domba adu yang ada di wilayah Kabupaten Garut. Sumber data yang digunakan adalah Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara wawancara dan studi kajian pustaka. Implikasi dari penyelidikan adalah meningkatkan jumlah wisatawan, baik dalam maupun luar negara. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah menilai kecepatan berlarinya domba dalam menyerang lawan secara berhadapan, kekuatan bertahan, dan menilai penampilan fisik (estetik). Fokus kajian dalam penelitian ini adalah kecepatan gerak dan keindahan fisik domba adu. Selain itu, dikaji pula bagaimana meningkatkan pendapatan Pemerintahan Daerah Kabupaten Garut melalui wisata seni ketangkasan adu domba. Dari hasil penelitian ini ditunjukkan bahwa seni ketangkasan adu domba merupakan kesenian ikonik Garut, memiliki daya tarik wisata, yaitu dari segi keunikan dan keindahan. Upaya Usaha pemerintah daerah untuk mengembangkan dan melestariakan kesenian tradisional ketangkasan adu domba Garut ini dilakukan dengan menyelengarakan turnamen dan pasanggiri.
SEJARAH PERKEMBANGAN DAN STRATEGI ADAPTASI SANGGAR SUPUKABA SEBAGAI LEMBAGA SENI NONFORMAL DI BANDUNG (2008-2025) Nasywa Aurelia Mazenda; Kunto Sofianto
JURNAL PAKARENA Vol 11, No 1 (2026): Juli
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/p.v11i1.87621

Abstract

Penelitian ini menganalisis perkembangan historis dan strategi adaptasi Sanggar Supukaba di Bandung dari tahun 2008 hingga 2025. Permasalahan penelitian utama berfokus pada tantangan eksistensi sanggar di tengah persaingan lembaga seni dan dampak pandemi COVID-19 terhadap pendaftaran siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi strategi bertahan hidup Sanggar Supukaba sebagai lembaga pembelajaran seni non-formal dalam melestarikan tari Jaipongan dan untuk memahami metode pembelajaran dalam lembaga non-formal seperti sanggar tari. Metode yang digunakan adalah metode historis, yang meliputi heuristik (studi literatur dan wawancara mendalam), verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi bertahan hidup Sanggar Supukaba terletak pada penguatan identitas kolektif berbasis daerah (Subang, Sumedang, Purwakarta, Karawang, Bandung) dan menjaga konsistensi dalam karakter gerakan feminin yang mendefinisikan koreografinya. Kontribusi penelitian ini terhadap bidang ilmu seni terlihat jelas dalam penerapan nilai-nilai teladan dan sistem kekerabatan yang mempertahankan ekosistem pembelajaran yang nyaman. Lebih jauh lagi, prestasi internasional, seperti memenangkan medali emas di Malaysia dan Singapura (2015), membuktikan bahwa metode inovatif melalui regenerasi instruktur muda efektif dalam menjaga kualitas studio. Temuan ini menekankan bahwa integritas karakter gerakan dan adaptasi kurikulum yang dinamis merupakan kunci untuk mempertahankan relevansi seni tradisional bagi generasi muda di era global.
PEMBERDAYAAN SEBAGAI ALTERNATIF PENDEKATAN DALAM PELAKSANAAN PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Kosasih, Ade; Sofianto, Kunto; Nugrahanto, Widyo; Septiani, Ayu
Midang Vol 3 No 1 (2025): Midang, Februari 2025
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v3i1.61446

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat adalah tanggung jawab para akademisi. Dalam pelaksanaannya, pengabdian yang ideal adalah berupa  pemberdayaan (empowering), sehingga masyarakat akan memiliki kekuatan setelah tidak didampingi lagi oleh akademisi. Dalam pemberdayaan, upaya yang harus dibangkitkan adalah partisipasi, masyarakat menjadi pusat kegiatan, serta menciptakan kemandirian. Artikel ini bertujuan mengungkapkan pandangan konseptual tentang pemberdayaan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat agar tidak terjadi pelaksanaan pengabdian yang tidak tepat konsep dan pelaksanaannya.  Pengungkapan  maksud tersebut dilakukan dengan cara memaparkan konsep dasar dalam pemberdayaan yang bercirikan tiga hal tersebut, yaitu partisipasi, berbasis masyarakat, dan mewujudkan kemandirian. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan cara menggali secara cermat berbagai pandangan tentang pemberdayaan dalam berbagai publikasi ilmiah. Untuk mewujudkan masyarakat yang harmonis, pemberdayaanlah yang tepat karena masyarakat itu sendiri banyak terlibat dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi. Pelaksana pengabdian hanya berperan sebagai fasilitator yang menghindari kecenderungan melakukan intervensi. Partisipasi merupakan bentuk peran serta khalayak secara sukarela tanpa mobilisasi dan tekanan. Berbasis masyarakat berarti seluruh tindakan harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi karena setiap masyarakat mempunyai potensi dan masalah yang berbeda-beda. Kemandirian merupakan wujud bahwa masyarakat memiliki kemampuan untuk melaksanakan harapan dan cita-citanya tanpa terus didampingi oleh fasilitator.
MENGANTISIPASI POTENSI BANJIR: PARTISIPASI TIM PPM FIB UNPAD DALAM NORMALlSASI SUNGAI CIKERUH DI DESA CIKERUH KECAMATAN JATINANGOR KABUPATEN SUMEDANG Sofianto, Kunto; Mahzuni, Dade; Koeshandoyo, Eko W.; Gustaman, Budi; Falah, Miftahul
Midang Vol 4 No 1 (2026): Midang, Februari 2026
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v4i1.63973

Abstract

The problem underlying this Community Service Program (Pengabdian pada Masyarakat/PPM) is the disaster vulnerability of Cikeruh Village, Jatinangor Subdistrict, Sumedang Regency, which is prone to flooding during every rainy season due to sedimentation and pollution of the Cikeruh River. For this reason, community participation is needed to support the normalization process. The methods applied in this PPM activity include community education and mediation, integrated into a series of stages consisting of education, observation, mediation, and action. In the 2025 PPM implementation, three main efforts were undertaken. First, education and observation were conducted at flood-prone locations to identify the root causes of the problem. Second, mediation was carried out with relevant stakeholders, including village authorities and the community of Cikeruh Village, the Citarum River Basin Authority (Balai Besar Wilayah Sungai/BBWS Citarum), and the Public Works and Housing Agency (Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat/PUPR) of Sumedang Regency. Third, active participation was provided in the implementation of river dredging actions carried out by the Public Works and Housing Agency of Sumedang Regency. Overall, this PPM activity is aligned with the vision of the West Java Provincial Government and its affiliated institutions in declaring a commitment to environmental conservation, particularly river preservation, as an effort to strengthen community disaster resilience.