Claim Missing Document
Check
Articles

MUSLIM PADA MASA AWAL KESULTANAN ISLAM CIREBON DALAM BERITA CHINA KLENTENG TALANG VERSI KOLONIAL Widyo Nugrahanto; Kunto Sofianto; Ade Kosasih; Dade Mahzuni
Metahumaniora Vol 12, No 3 (2022): METAHUMANIORA, DESEMBER 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v12i3.41029

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan para pemeluk Agama Islam atau muslim yang pertama berada di Cirebon Jawa Barat. Dalam hal ini, penelitian ini menjawab pertanyaan siapakah para muslim pertama yang berada di Cirebon Jawa Barat. Metode yang digunakan adalah Metode Sejarah yang terdiri dari Heuristik, Kritik, Interpretasi dan Historiografi. Selain itu juga menganalisis teks dalam Berita China Klenteng Talang Versi Kolonial dengan metode interteks pada teks-teks Berita China Klenteng Talang Versi Kolonial ini. Hasil penelitian ini adalah bahwa muslim yang pertama kali berada di Cirebon atau Jawa Barat adalah orang-orang Tionghoa Muslim. Mereka ini berada di Cirebon setelah pelayaran Cheng Ho ke Nusantara. Setelah pelayaran Cheng Ho berdiri tiga kampung pemukiman orang Tionghoa yaitu Talang, Sarindil dan Sembung. Tionghoa Muslim itu pula yang ikut membantu Sunan Gunung Jati mendirikan Kesultanan Islam Cirebon dan menyebarkan Agama Islam ke daerah Galuh di pedalaman Jawa Barat. Tokoh-tokoh utama Tionghoa Muslim yang hidup ketika itu adalah Tan Eng Hoat, Koeng Woe Ping, Tan Sam Tjai dan Koeng Sem Pak.
Visi Orientalisme Hoesein Djajadiningrat Dalam Ilmu Pengetahuan Dan Pemajuan Identitas Kebudayaan (1911-1960) Mohammad Refi Omar Ar Razy; Kunto Sofianto; Gani Ahmad Jaelani
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 5, No 2 (2022): Pengembangan Materi dalam Pembelajaran Sejarah
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/historia.v5i2.50830

Abstract

This paper aims to elaborate on the thoughts carried out by Hoesein Djajadiningrat during the colonial and post-colonial periods in the period 1911-1960. Hoesein Djajadiningrat studied in the Netherlands. His studies include oriental literature. He studied the east a lot from a western perspective, therefore Hoesein can be said to be an orientalist. So the approach in this paper uses the framework of orientalism. In simple terms, orientalism is a point of view in studying various aspects of the east from a western perspective. Usually, the orientalists are identical to westerners studying the east, but Hoesein, an easterner who received a western education, then studied the east from western perspective. Hoesein studied a lot about history (science) and cultural identity. He puts the west in terms of historical sources or cultural ideas as an explanation of local sources or ideas. The argues in this paper is that Hoesein Djajadiningrat's thinking is a prototype of thought that is commonly found in Indonesia in the early twentieth century. The method in this writing uses the historical method which consists of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. This paper attempts to analyse, first, the pioneers of critical historiography in Indonesia. Second, the promotion of knowledge about cultural identity. Third, the change in post-colonial thinking. The findings in this paper are that Hoesein greatly contributed to science and the promotion of cultural identity during the colonial and post-colonial periods
Representasi Sipil-Militer dan Konstruksi Maskulinitas pada Film Jenderal Soedirman (2015) Budiman, Hary Ganjar; Sofianto, Kunto
Paradigma: Jurnal Kajian Budaya Vol. 8, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jenderal Soedirman (2015) is a historical film that reveals the story of General Soedirman during the guerrilla war to maintain the Indonesia’s independence. The film was sponsored directly by the army (Kartika Eka Paksi Foundation and TNI) and involved the army in its making process. Therefore, the historical representation of this film is a history from the army’s point of view. Referring to Gramsci, a film can be seen as a hegemonic apparatus that contributes to the process of negotiating the interests of dominant groups. This study attempted to elaborate such representations of civil-military relationships and masculinity construction contained in Jenderal Soedirman. It used a qualitative approach and employed the encoding/decoding paradigm proposed by Stuart Hall. The results showed that the civil-military relationships in this film were mostly dominated by military roles. Masculinity in this film was formed by combining the concept of “Kiai” (Muslim clerics) and military patriotism wrapped in Islamic expressions.
EDUKASI PELESTARIAN WARISAN BUDAYA BAGI MASYARAKAT KAMPUNG DUKUH DESA CIROYOM KECAMATAN CIKELET KABUPATEN GARUT Kunto Sofianto; Dade Mahzuni; Ade Kosasih; Widyo Nugrahanto; Etty Saringendyanti; Eko Wahyu Koeshandoyo; Ayu Septiani; Budi Gustaman
Midang Vol 1, No 1 (2023): Midang: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Februari 2023
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v1i1.44448

Abstract

Kegiatan PPM yang dilakukan berjudul “Edukasi Pelestarian Warisan Budaya bagi Masyarakat Kampung Dukuh Desa Ciroyom Kecamatan Cikelet Kabupaten Garut”. Kegiatan PPM yang dilaksanakan merupakan bagian integral dari riset berjudul Kehidupan Religi (Agama) Masyarakat Sunda di Jawa Barat. Kegiatan PPM ini memiliki tujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat Adat Kampung Dukuh. Salah satu hal yang melatarbelakangi kegiatan PPM ini ialah generasi muda di sekitar Kampung Dukuh belum memahami dengan baik berbagai regulasi yang terkait dengan pelestarian budaya. Di samping itu, selama ini tidak ada upaya terstruktur yang mengisi kekosongan nilai-nilai di dalam pengembangan masyarakat ini karena tampaknya tidak terjangkau oleh pihak otoritas yang memiliki kewenangan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat tradisi. Setelah kegiatan ini dilakukan diharapkan generasi muda di Kampung Adat Dukuh mengetahui dan memahami regulasi yang berkaitan dengan pelestarian budaya. Selain itu diharapkan pihak otoritas yang memiliki kewenangan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat tradisi dapat menjangkau Masyarakat Adat Kampung Dukuh sebagai bagian dari pelestari warisan budaya di Jawa Barat khususnya dan Indonesia umumnya. 
Seni Pertunjukan Sintren di Kabupaten Indramayu dalam Perspektif Historis Dini Nurlelasari; Nina H Herlina; Kunto Sofianto
PANGGUNG Vol 27 No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i1.229

Abstract

ABSTRACT This paper is a description of sintren performing arts in Indramayu. The purpose this study was to determine how the deployment sintren performing arts and how the function changes from historical perspective. The method used is historical method. The results showed that sintren developed in North Coast of Java and Central Java, West Java, including Indramayu. Sintren functions from time to time is change. It is influenced by several factors, religious (culture), political, and economic. First sintren is sacred ritual. When Islam came turned into an entertainment that contains a moral message as media propaganda. In the colonial period sintren remain as an entertainment that serves as a medium of political resistance against the colonial government. Until now sintren as entertainment but be affected by economic factors in order to keep the public preferred. Therefore, at this time shows sintren modified with modern songs.Key Words: Sintren, Indramayu, dissemination, historicalABSTRAK Tulisan ini deskripsi tentang seni pertunjukan sintren di Indramayu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penyebaran seni pertunjukan sintren dan bagaimana perubahan fungsinya dalam perspektif historis. Metode yang digunakan adalah metode sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintren berkembang di Pesisir Utara Jawa serta Jawa Tengah sebelah barat dan Jawa Barat sebelah timur, termasuk daerah Indramayu. Fungsi sintren dari masa ke masa terus berubah. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor agama (budaya), politik, dan ekonomi. Pada awalnya sintren merupakan sarana ritual yang sakral. Ketika Islam datang berubah menjadi sarana hiburan yang mengandung pesan moral sebagai media dakwah. Pada masa kolonial sintren tetap sebagai sarana hiburan yang berfungsi sebagai media politik perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Hingga saat ini sintren sebagai hiburan namun terpengaruh oleh faktor ekonomi agar tetap disukai masyarakat. Oleh karena itu, saat ini pertunjukan sintren dimodifikasi dengan lagu-lagu modern.Kata Kunci: Sintren, Indramayu, penyebaran, historis
Kerajinan Payung Geulis sebagai Kearifan Lokal Tasikmalaya Agus Nero Sofyan; Kunto Sofianto; Maman Sutirman; Dadang Suganda
PANGGUNG Vol 28 No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v28i4.708

Abstract

ABSTRACTThis study entitled " The Payung Geulis Craft as a Local Wisdom of Tasikmalaya" aims to obtain data on a local wisdom as ancestral culture of Tasikmalaya. The method employed is a descriptive-analytical approach, which is used to describe phenomena taking place in the present or the past. Data collection techniques in this study are interviews, direct observations, and written sources from the community and a local government. The problems addressed in this study are to find the historical, economic, and aesthetic values existed at the Tasikmalaya craft; and how does the umbrella craft pass down from the older generation to the younger generation. The outcome of this research are, first, a Geulis umbrella  is a product based on local knowledge that characterisize a Tasikmalaya society; the Geulis umbrella crafthas cultural, economic, and aestheticsignificances; and the existence of Geulis umbrella today isnearly extinct.Keywords: local wisdom, indigenous crafts, geulis umbrellas, Tasikmalaya. ABSTRAKPenelitian berjudul “Kerajinan Payung Geulissebagai Kearifan Lokal Tasikmalaya”ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi tentang kearifan lokal Payung Geulis sebagai budaya leluhur Tasikmalaya.Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif-analitik, yaitu metode yang digunakan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung saat ini atau saat yang lampau.Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, pengamatan secara langsung, dan pengambilan sumber-sumber tertulis dari masyarakat dan pemerintah setempat. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana nilai historis, ekonomis, dan estetis yang ada pada kerajinan Payung Geulis Tasikmalaya; dan bagimana regenerasi kerajinan Payung Geulis itu dari generasi tua kepada generasi muda. Hasil yang dicapai dari penelitian ini adalah kerajinan Payung GeulisTasikmalaya merupakan kearifan lokal yang menjadi ciri dari masyarakat Tasikmalaya; kerajinan Payung Geulismemiliki nilai kultural, ekonomis, dan estetis yang cukup tinggi; eksistensi dan keberadaan Payung Geulis dewasa ini sudah semakin sulit ditemukan.Kata Kunci: kearifan lokal, kerajinan lokal, Payung Geulis, budaya, Tasikmalaya.
Pemertahanan Bahasa sebagai Konstruksi Identitas pada Masyarakat Adat Jalawastu di Brebes Jawa Tengah Koeshandoyo, Eko Wahyu; Sofianto , Kunto; Sunarya, Budi Gustaman; Septiani , Ayu
ETNOSIA : Jurnal Etnografi Indonesia Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Anthropology, Faculty of Social and Political Sciences, Hasanuddin University.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31947/etnosia.v9i1.34668

Abstract

Studies on indigenous communities have been conducted with various results on cultural elements as their research focus. Language, as one of those elements, is an essential factor in the survival of the traditions and beliefs. This article discusses how the Jalawastu community maintains their indigenous language of Brebes Sundanese dialect in Javanese-speaking culture in Central Java. The novelty of this study was to discover how the traditional community perceived their language, why they needed to maintain it, and what obstacles they had in the process.  This ethnographic research was conducted in Jalawastu Cultural Village in Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes between October 2022 and May 2023. Data was collected using in-depth interviews and observation. Those who participated in this study were kuncen, (cultural council chief), pemangku adat (traditional ruler), kepala dusun (the village chief), and  Jalawastu community member. The study revealed that the community attempted to maintain their dialect because they viewed the importance of their language in their daily verbal interaction, both in social activities and rituals, and the need to hold their social identity as Jalawastu village members. The attempt to preserve the use of the language was based on the social belief, that is, to respect their ancestors in order to avoid misfortunes. These efforts were once hindered when the provincial government imposed the language policy to teach only Javanese in elementary schools instead of Sundanese. With Brebes Bupati's regional decrees, they could eventually teach back the language in formal elementary schools.
The Connection of Klenteng Talang with Tan Eng Hoat and Tan Sam Tjai and Its Role in the History of the Cirebon Kingdom in Chinese Records Nugrahanto, Widyo; Sofianto, Kunto; Koeshandoyo, Eko Wahyu; Septiani, Ayu
ETNOSIA : Jurnal Etnografi Indonesia Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Department of Anthropology, Faculty of Social and Political Sciences, Hasanuddin University.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31947/etnosia.v9i2.40423

Abstract

Many people's ignore two Chinese Muslim figures (Tan Eng Hoat and Tan Sam Tjai) and their relationship with the Klenteng Talang is because there are not many local ancient texts that contain them or tell about them. The only text that contains the existence of these two figures and their relationship with the Klenteng Talang is the Klenteng Talang China News. To be able to reveal again the two figures mentioned above and the Klenteng Talang, we need to look again at the Chinese news about the Klenteng Talang, Cirebon. This research aims to re-reveal the role of Tan Eng Hoat and Tan Sam Tjai in the history of the Cirebon Kingdom based on the Chinese news of Klenteng Talang and its current relationship with the Chinese temple in Cirebon. Using intertextual approach with historical method was used in four stages of work, namely heuristic, criticism, interpretation, and historiography to the writings of the Chinese News text of Klenteng Talang. Our informants consists of care takers of Klenteng Talang and official of Harbourmaster and Port Authority Office in Muara Jati. The findings indicate that there is an influence of Chinese Muslims in the history of Cirebon, one of the archaeological remains of which is the Klenteng Talang building in Cirebon.   Klenteng Talang, Tan Eng Hoat, and Tan Sam Tjai had a very close relationship in the history of the Cirebon Kingdom in the Chinese news about the Chinese Temple. Although Tan Eng Hoat and Tan Sam Tjai were Muslims who converted to Confucianism, their relationship with Klenteng Talang cannot be ignored. Tan Eng Hoat played a significant role in the early establishment of the Cirebon Kingdom. Even the idea of establishing the Cirebon Kingdom came from Tan Eng Hoat, who conveyed it to Sunan Gunung Jati. Tan Sam Tjai, who was younger than Tan Eng Hoat, also played a significant role in helping to finance the Islamic kingdom of Cirebon until the end of his life, in spite of the fact he left Islam.
PEMBERDAYAAN SEBAGAI ALTERNATIF PENDEKATAN DALAM PELAKSANAAN PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Kosasih, Ade; Sofianto, Kunto; Nugrahanto, Widyo; Septiani, Ayu
Midang Vol 3, No 1 (2025): Midang: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Februari 2025
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v3i1.61446

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat adalah tanggung jawab para akademisi. Dalam pelaksanaannya, pengabdian yang ideal adalah berupa  pemberdayaan (empowering), sehingga masyarakat akan memiliki kekuatan setelah tidak didampingi lagi oleh akademisi. Dalam pemberdayaan, upaya yang harus dibangkitkan adalah partisipasi, masyarakat menjadi pusat kegiatan, serta menciptakan kemandirian. Artikel ini bertujuan mengungkapkan pandangan konseptual tentang pemberdayaan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat agar tidak terjadi pelaksanaan pengabdian yang tidak tepat konsep dan pelaksanaannya.  Pengungkapan  maksud tersebut dilakukan dengan cara memaparkan konsep dasar dalam pemberdayaan yang bercirikan tiga hal tersebut, yaitu partisipasi, berbasis masyarakat, dan mewujudkan kemandirian. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan cara menggali secara cermat berbagai pandangan tentang pemberdayaan dalam berbagai publikasi ilmiah. Untuk mewujudkan masyarakat yang harmonis, pemberdayaanlah yang tepat karena masyarakat itu sendiri banyak terlibat dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi. Pelaksana pengabdian hanya berperan sebagai fasilitator yang menghindari kecenderungan melakukan intervensi. Partisipasi merupakan bentuk peran serta khalayak secara sukarela tanpa mobilisasi dan tekanan. Berbasis masyarakat berarti seluruh tindakan harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi karena setiap masyarakat mempunyai potensi dan masalah yang berbeda-beda. Kemandirian merupakan wujud bahwa masyarakat memiliki kemampuan untuk melaksanakan harapan dan cita-citanya tanpa terus didampingi oleh fasilitator.
SENI KETANGKASAN ADU DOMBA DI GARUT SEBAGAI SARANA PENINGKATAN PARIWISATA: SENI KETANGKASAN ADU DOMBA DI GARUT SEBAGAI SARANA PENINGKATAN PARIWISATA Sofyan, Agus Nero; Sofianto, Kunto
KABUYUTAN Vol 3 No 1 (2024): Kabuyutan, Maret 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i1.222

Abstract

Penelitian ini berjudul “Seni Ketangkasan Adu Domba di Garut sebagai Sarana Peningkatan Pariwisata.” Kesenian tradisional ketangkasan adu domba Garut adalah kecepatan seekor domba dalam menyerang lawannya, menghindar, dan bertahan dari serangan lawannya di arena pertandingan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, yaitu metode yang digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang populasi yang besar dengan menggunakan sampel yang relatif kecil. Sampel yang digunakan dalam penyelidikan ini adalah domba adu yang ada di wilayah Kabupaten Garut. Sumber data yang digunakan adalah Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara wawancara dan studi kajian pustaka. Implikasi dari penyelidikan adalah meningkatkan jumlah wisatawan, baik dalam maupun luar negara. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah menilai kecepatan berlarinya domba dalam menyerang lawan secara berhadapan, kekuatan bertahan, dan menilai penampilan fisik (estetik). Fokus kajian dalam penelitian ini adalah kecepatan gerak dan keindahan fisik domba adu. Selain itu, dikaji pula bagaimana meningkatkan pendapatan Pemerintahan Daerah Kabupaten Garut melalui wisata seni ketangkasan adu domba. Dari hasil penelitian ini ditunjukkan bahwa seni ketangkasan adu domba merupakan kesenian ikonik Garut, memiliki daya tarik wisata, yaitu dari segi keunikan dan keindahan. Upaya Usaha pemerintah daerah untuk mengembangkan dan melestariakan kesenian tradisional ketangkasan adu domba Garut ini dilakukan dengan menyelengarakan turnamen dan pasanggiri.