Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Mekanisme Penyebaran Cacar Monyet dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya I Ketut Suarayasa; Zulkifli; Ofel mazmur Kristoper
SEHATMAS: Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sehatmas.v2i1.980

Abstract

Introduction: On May 29, 2022, the World Health Organization (WHO) described the global public health risk from multi-country monkeypox outbreaks in non-endemic countries as "moderate." WHO pointed out that "this is the first time that cases and groups of monkeypox have been reported simultaneously in very different geographic areas and with no known epidemiological link to endemic countries". On 7 May 2022, England confirmed a case of monkeypox. Their report marks the start of the detection of the rapid and unprecedented global spread of the virus, featuring human-to-human and community transmission. Approximately one month later, confirmed cases of monkeypox rose to 3,453 in at least 55 non-endemic countries, covering every continent other than Antarctica. Objective: To know the mechanism of the spread of monkeypox and the factors that influence it. Results: Based on several kinds of literature, shows the spread of the monkeypox virus starts from travelers to endemic areas so currently there are many cases of monkeypox found in non-endemic areas. Factors that influence the spread of the disease with the highest presentation are associated with a history of sexual contact where the highest proportion occurs in MSM (men who have sex with men), followed by droplet exposure and direct contact with lesions on the patient's skin.
Factors Associated with the Preparedness for Birth of Primigravida Pregnant Women at the Kamonji Health Center, Palu City Ketut Suarayasa; I Putu Fery Immanuel White; Junjun Fitriani; Bertin Ayu Wandira
International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) Vol. 4 No. 4: October 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/ijhess.v4i4.3548

Abstract

Background: For a mother-to-be, the first pregnancy is a new journey marked by significant physical and psychological changes, causing anxiety in itself. This anxiety can arise because of the long period of waiting for birth and images of scary things during the birth process, even though they may not necessarily happen. Objective: The objective of this research is to find out factors related to the readiness for delivery of primigravida women at the Kamonji Public Health Centre, Palu City Methods: This research used a descriptive-analytical design using a Cross Sectional approach. The population of this research was 142 primigravida women in the working area of the Kamonji Public Health Centre, Palu City, and then used as the research sample a total of 59 respondents who were selected using Non-Probability Sampling by purposive sampling. Data were collected using questionnaires. Results: The results of the bivariate analysis show that there is a relationship between the age and the childbirth readiness of primigravida women with a value of p = 0.042. There is a relationship between the education level and the readiness of primigravida women with a value of p = 0.033. There is a relationship between the husband's support and the childbirth readiness of primigravida women with a value of p = 0.036. There is a relationship between emotional maturity and the childbirth readiness of primigravida women with a value of p = 0.036. Conclusion: Based on the results above, the research concludes that there is a relationship between age, education level, husband support, emotional maturity factors and the childbirth readiness for primigravida women at the Singgani Public Health Clinic.
Hubungan Sarana Sanitasi Dasar dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 6-59 Bulan di Kota Palu Sulawesi Tengah: Relationship between Basic Sanitation Facilities and Stunting Incidence in Toddlers Aged 6-59 Months in Palu City, Central Sulawesi Ketut Suarayasa; Bertin Ayu Wandira; Ahmad Yani
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 5 No. 12: DESEMBER 2022 - Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v5i12.3547

Abstract

Latar Belakang: Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Balita pendek (stunted) dan sangat pendek (severely stunted) adalah balita dengan panjang badan (PB/U) atau tinggi badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan dengan standar baku WHO- 2010. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan antara sarana sanitasi dasar dengan kejadian stunting pada balita usia 6-59 bulan di Kota Palu Tahun 2022. Metode: Penelitian menggunakan desain kasus kontrol dengan populasi adalah seluruh anak usia 6 sampai 59 bulan di 2 (dua) Puskesmas Kota Palu. Kasus 100 balita stunting diambil dari 2 Puskesmas, kontrol adalah 100 balita status normal yang berada satu lokasi posyandu dengan kasus. Pengumpulan data dengan wawancara, pengukuran dan observasi. Analisis data univariat, bivariat (uji kai kuadrat), dan multivariat (uji regresi logistik ganda). Hasil: Dari analisis bivariat menemukan delapan variabel yang berhubungn dengan kejadian stunting. Hasil analisis multivatiat didapatkan dua variabel yang berhubungan dengan kejadian stunting yaitu akses ke jamban sehat OR=5,99 (95% CI: 2,98-9,23), akses ke sumber air bersih OR=5,99 (95% CI: 3,31-10,83), setelah dikontrol dengan variabel riwayat penyakit infeksi, riwayat pemberian MPASI dan riwayat pemantauan pertumbuhan. Akses ke jamban sehat dan akses ke sumber air bersih yang memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor risiko stunting. Kesimpulan: Terdapat dua faktor lingkungan yang secara bersama-sama berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia enam sampai 59 bulan, yaitu akses ke jamban sehat dan akses ke sarana air bersih.
Peran Faktor Determinan Sosial terhadap Kejadian Kematian Ibu di Kota Palu – Sulawesi Tengah: The Role of Social Determinant Factors on the Incidence of Maternal Mortality in Palu City – Central Sulawesi Ketut Suarayasa; Bertin Ayu Wandira
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 4 No. 4: NOVEMBER 2021 - Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v4i4.3560

Abstract

Latar Belakang: Masalah kesehatan ibu dan anak masih menjadi prioritas utama dalam pembangunan nasional bidang kesehatan. WHO berupaya menekan angka kematian ibu dengan melihat faktor determinan sosial seperti kultur/budaya, tingkat pendidikan, kemiskinan dan kesetaraan gender menjadi kajian penting dalam upaya mengungkap kegagalan berbagai program yang selama ini dijalankan. Komplikasi obstetri terjadi lebih disebabkan oleh kompleksitas sosial budaya dan kemiskinan masyarakat sehingga ibu hamil tidak berdaya mengakses pelayanan kesehatan yang berkualitas dan berdampak terhadap 3 (tiga) terlambat. Ketiga keterlambatan ini berhubungan erat dengan kehidupan sosial di masyarakat termasuk peranan anggota keluarga dalam pengambilan keputusan. Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh faktor determinan sosial terhadap kejadian kematian ibu di Kota Palu, khususnya peran faktor pendidikan, pekerjaan, dukungan suami serta peran dari faktor 3 (tiga) terlambat. Metode: Penelitian ini menggunakan desain case control study untuk menjawab besarnya faktor risiko yang berkaitan dengan kematian ibu. Penelitian ini dilakukan di 14 Puskesmas kota Palu. Sampel kasus di ambil dari data kematian ibu 3 (tiga) tahun terakhir (2018 – 2020) dan sampel kontrol diambil dari lokasi Puskesmas yang sama dengan sampel kasus, dengan perbandingan 1 : 2. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa determinan sosial berisiko 2,534 kali meningkatkan kematian ibu (OR=2,534). Sedangkan factor 3 (tiga) terlambat memberikan kontribusi risiko sebesar 1,680 (terlambat 1), 2,038 kali (terlambat 2) dan 6,500 kali (terlambat 3). Kesimpulan: Determinan sosial dan keterlambatan ibu mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan (terlambat 3) merupakan faktor yang signifikan berpengaruh terhadap kejadian kematian ibu di Kota Palu.
Pengaruh Pemeriksaan Antenatal Care (ANC) terhadap Kejadian Stunting pada Anak Balita : Literature Review: Effect of Antenatal Care Examination (ANC) on Stunting Incidents in Toddlers : Literature Review Ketut Suarayasa
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 4 No. 3: SEPTEMBER 2021 - Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v4i3.3561

Abstract

Latar Belakang: Masih tingginya kejadian stunting yang terjadi merupakan sebuah masalah yang harus diperhatikan terutama terkait pelayanan Antenatal Care. Antenatal care dilakukan oleh tenaga kesehatan yang terlatih dan profesional dapat mencegah dan mendeteksi komplikasi pada janin dan ibu hamil lebih awal sehingga tidak terjadi. Pelayanan antenatal merupakan pelayanan terhadap individu yang bersifat preventif care untuk mencegah terjadinya masalah yang kurang baik bagi ibu maupun janin. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemeriksaan ANC terhadap kejadian stunting pada anak balita. Jenis: Penelitian ini menggunakan literatur review. Informasi Literature Review berasal dari beberapa macam sumber seperti jurnal nasional maupun internasional. Hasil: Literatur review menunjukkan: 1) Ibu hamil dengan frekwensi ANC kurang berisiko 1,2 kali (OR = 1,22) memiliki balita stunting; 2) Ibu hamil yang tidak melakukan ANC sesuai standar berisiko 3,8 kali (OR = 3,756) memiliki balita stunting; 3) Ibu dengan kunjungan dan kualitas ANC yang kurang, memiliki risiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR). Sementara bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) berisiko 5 kali (OR = 5,3) menjadi balita stunting; 4) Ibu Hamil dengan Kekurangan Energi Kronik (KEK) memiliki risiko 8,3 kali (OR= 8,383) memiliki balita stunting dibanding ibu hamil yang tidak KEK; Kesimpulan: Pemeriksaan antenatal care (ANC) berpengaruh terhadap kejadian stunting pada anak balita
Hubungan Pendidikan dan Pengetahuan dengan Penggunaan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) pada Ibu Hamil di Kota Palu: Relationship between Education and Knowledge and Use Book on Maternal and Child Health (MCH) for Pregnant Women in Palu City Ketut Suarayasa; Bertin Ayu Wandira; Parmin; Anti
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 5 No. 11: NOVEMBER 2022 -Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v5i11.3562

Abstract

Latar belakang: Buku KIA merupakan buku catatan dan informasi tentang kesehatan ibu dan anak yang terdiri dari beberapa kartu kesehatan dan kumpulan berbagai materi penyuluhan KIA. Buku KIA sangat bermanfaat bagi ibu dan keluarga karena bisa memberikan informasi lengkap tentang kesehatan ibu dan anak, mengetahui adanya resiko tinggi kehamilan, mendeteksi secara dini adanya gangguan dan masalah kesehatan ibu dan anak serta mengetahui kapan dan jenis pelayanan apa saja yang dapat diperoleh ditempat pelayanan kesehatan. Buku KIA sudah beberapa kali mengalami revisi. Revisi terakhir adalah tahun 2020. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pendidikan dan pengetahuan ibu hamil dengan penggunaan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) edisi tahun 2020 pada ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas Kota Palu. Metode: Jenis penelitian adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional study. Populasi berjumlah 321 ibu hamil yang datang memeriksakan kehamilan di 14 Puskesmas kota Palu. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner dan checklist. Analisis data menggunakan uji Rank Spearman dengan nilai kemaknaan (α) = 0,05. Hasil: 1) Sebagian besar ibu hamil sudah menggunakan buku KIA edisi tahun 2020; 2) Ada hubungan pendidikan dan penggunaan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (p value = 0,013); 3) Ada hubungan pengetahuan dan penggunaan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (p value = 0,000) Kesimpulan: Ada hubungan pendidikan dan pengetahuan ibu hamil dengan penggunaan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) pada ibu hamil di Kota Palu
Gambaran Karakteristik dan Asupan Gizi Mikro Ibu Balita di Puskesmas Labuan Miranti Miranti; Ketut Suarayasa; Diah Mutiarasari; Gabriella Bamba Ratih Lintin
Jurnal Gizi Kerja dan Produktivitas Vol 4, No 2 (2023): November
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jgkp.v4i2.24988

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran karakteristik dan asupan gizi mikro ibu dengan anak stunting dan tidak stunting. Penelitian ini dilakukan khusus untuk Ibu dengan anak yang stunting dan ibu dengan anak yang tidak stunting yang berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Labuan Kabupaten Donggala tahun 2023. Adapun jumlah sampel disetiap kelompok yaitu masing-maisng 50 orang. Variabel yang dikumpulkan adalah karakteristik responden yang meliputi umur, data tinggi badan ibu, berat badan ibu, dan asupan zat gizi mikro (vitamin A, Asam Folat, Fe, Yodium, dan Zink). Hasil yaitu Ada perbedaan karakteristik ibu dengan anak stunting dan tidak stunting. Ibu dengan anak stunting secara rata-rata lebih muda dan memiliki tinggi badan yang lebih tinggi dibandingkan ibu dengan anak tidak stunting. Namun, ibu dengan anak tidak stunting memiliki berat badan yang lebih berat. Ada perbedaan asupan gizi mikro ibu dengan anak stunting dan tidak stunting. Ibu dengan anak stunting memiliki asupan gizi mikro yang lebih rendah dibandingkan ibu dengan anak tidak stunting. Hal ini terlihat dari nilai rerata asupan gizi mikro yang lebih rendah pada ibu dengan anak stunting untuk semua indikator gizi mikro. Kesimpulan yaitu asupan gizi mikro ibu merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kejadian stunting pada anak. Ibu dengan asupan gizi mikro yang lebih rendah memiliki risiko lebih tinggi untuk memiliki anak stunting.
Community Legal Compliance With Regulations For The Prevention And Handling of COVID-19 Kasim, Aminuddin; Suarayasa, Ketut; Syamsuddin, Adiesty Septhiany
Widya Yuridika Vol 6, No 3 (2023): Widya Yuridika: Jurnal Hukum
Publisher : Universitas Widya Gama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/wy.v6i3.4467

Abstract

Legal compliance in the community is always an interesting issue to discuss. The research question in this study is how the compliance of the members of the Tadulako University academic community in response to the Decree of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number: HK.01.07/MENKES/413/2020 concerning Guidelines for the Prevention and Control of COVID-19 through the implementation of Tracing, Testing, and Treatment (3T Program)? To answer the research objectives, empirical legal research (socio-legal research) was conducted to support the depth of analysis. The analysis materials include data on the conditions and levels of health risks experienced by the academic community based on the available COVID-19 link records, data on the number and distribution of academic community members who have been infected with COVID-19, and data on the implementation of the 3T program sourced from Tadulako Hospital. Starting from the interpretation of the research data analysis, the findings revealed: (a) there are some members of the academic community who do not respond to filling in data regarding the condition and level of health risk on the available COVID-19 link; (b) members of the academic community who have had a history of contact with COVID-19 sufferers have not all complied with the rules for preventing and handling COVID-19 through the implementation of 3T; (c) members of the academic community who are declared positive for COVID-19 infection have relatively high legal compliance in supporting the implementation of treatment. Their legal compliance is categorized as identification according to Herbert C. Kelman’s theory.
The Relationship Between Children's Health Status and Stunting in Toddlers at Mamboro Health Center, Palu Suarayasa, Ketut; Miranti, Miranti; Ayu Wandira, Bertin
Journal of Public Health and Pharmacy Vol. 4 No. 2: JULY 2024
Publisher : Pusat Pengembangan Teknologi Informasi dan Jurnal Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jphp.v4i2.5123

Abstract

Introduction: Taipa Sub-District in Palu City has a high prevalence of stunting, with 24.7% or 108 cases out of 437 toddlers measured. This makes Taipa, located in the Mamboro Health Center area, the sub-district with the highest stunting cases in Palu City. This research aims to analyze the relationship between children's health status (exclusive breastfeeding, colostrum feeding, frequency of breastfeeding, and history of infectious diseases) and the incidence of stunting in the Mamboro Health Center working area. Methods: This quantitative study uses a case-control design to determine the magnitude of risk factors related to children's health status and the incidence of stunting in toddlers within the Mamboro Health Center working area. The total sample comprised 204 toddlers, including 102 stunted toddlers (cases) and 102 normal toddlers (controls). Results: There is a significant relationship between exclusive breastfeeding and a history of infectious diseases with the incidence of stunting in toddlers (p<0.05). Mothers who do not provide exclusive breastfeeding have a 2.2 times higher risk of their children being stunted (OR = 2.225). Children who have experienced infectious diseases have a 1.9 times higher risk of becoming stunted (OR = 1.944). However, the frequency of breastfeeding and colostrum feeding did not show a significant relationship with stunting among toddlers in the Mamboro Health Center working area. Conclusion: The child's health status factors that are significantly related to the incidence of stunting include exclusive breastfeeding and a history of infectious diseases. These findings highlight the need for interventions promoting exclusive breastfeeding and effective management of infectious diseases to reduce stunting rates in this area.
The Influence of Environmental Sanitation Factors and Healthy Homes on Incident Stunting in the Mamboro Health Center Working Area, Palu City Suarayasa, Ketut; Miranti, Miranti
Journal La Medihealtico Vol. 4 No. 5 (2023): Journal La Medihealtico
Publisher : Newinera Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37899/journallamedihealtico.v4i5.849

Abstract

The stunting rate in Palu City according to the results of the 2022 Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI) is 24.7% or an increase of 0.7 digits compared to the 2021 figure of 23.9%. One of the sub-districts in the city of Palu which has a high prevalence of stunting is Taipa Sub-District in the Mamboro Health Center area with 24.7% or 108 cases out of 437 toddlers measured. The aim of the research is to analyze the relationship between healthy house factors and environmental sanitation with the incidence of stunting in the Mamboro Health Center working area. The type of research used is quantitative research with a case control research design. The sample size was 102 stunted toddlers in the case group and 102 normal toddlers in the control group. The results of the study showed that the healthy house factor had a significant relationship with the incidence of stunting with a value of p=0.002 (p<0.05). Respondents who own a house that does not meet the healthy requirements have a 2.82 times greater risk of having a stunted child (OR=2.82). Meanwhile, clean water facilities, latrine facilities, waste disposal facilities and waste disposal facilities have no relationship with the incidence of stunting (p<0.05). There is a relationship between healthy homes and the incidence of stunting in the Mamboro Community Health Center area (p=0.002), where respondents who have unhealthy homes are 2.82 times more likely to have stunted children (OR = 2.82).