Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Perbandingan Tingkat Keparahan Pasien Covid-19 Pada Gelombang Kedua Dan Ketiga Di Rsud Undata Provinsi Sulawesi Tengah Annisa Annisa Nurul Fadilla; Muh. Nur Ikhsan Liwang; Ketut Suarayasa; Muhammad Zainul Ramadhan
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran Vol. 8 No. 1 (2023): Maret
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/mtj.v8i1.810

Abstract

Latar belakang Coronavirus Disease 19 (COVID-19) adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARSCoV2) dengan gejala yang bervariasi. Beberapa faktor telah terbukti yang paling sering dikaitkan dengan tingkat keparahan infeksi COVID-19: usia pasien, penyakit penyerta, kekurangan vitamin D, dan obesitas. Indonesia sendiri sudah mengalami tiga gelombang dimana untuk gelombang pertama COVID-19 pada Januari 2021, disusul gelombang kedua yang terjadi pada Juni 2021 dan gelombang ketiga ditandai dengan kasus harian yang mulai meningkat pada tanggal 2 Februari 2022.Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan tingkat keparahan pasien COVID-19 pada gelombang kedua dan ketiga di RSUD Undata Provinsi Sulawesi TengahMetode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen penelitian menggunakan rekam medis pasien. Analisis data dilakukan dengan uji statistik non parametrik, yaitu uji Mann Whitney.Hasil: Pada penelitian ini tingkat keparahan pasien COVID-19 pada gelombang kedua sebagian besar memiliki tingkat keparahan yang berat (44,6%). Tingkat keparahan pasien COVID-19 pada gelombang ketiga sebagian besar memiliki tingkat keparahan yang ringan (74,2%) . Hasil analisis didata terdapat perbedaan tingkat keparahan pasien COVID-19 pada gelombang kedua dan ketiga (p=0,000).Kesimpulan: Terdapat perbedaan tingkat keparahan pasien COVID-19 pada gelombang kedua dan ketiga.Kata Kunci: COVID-19, Gelombang Kedua, Gelombang Ketiga, Tingkat Keparahan
Pengaruh Rumah Sehat dan Sanitasi Lingkungan Terhadap Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Pantoloan Kota Palu Fauzan Fauzan; Ketut Suarayasa; Sumarni Sumarni; Elli Yane Bangkele; Ratih Pratiwi
Jurnal Gizi Kerja dan Produktivitas Vol 6, No 1 (2025): May
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jgkp.v6i1.32568

Abstract

Stunting adalah salah satu masalah gizi di masyarakat terutama terjadi pada balita. Kondisi sanitasi yang buruk merupakan tempat berkembangnya penyakit menular yang dapat menyebabkan morbiditas pada masyarakat terutama pada balita. Karena rentan terhadap penyakit. Anak balita yang tidak sehat dan terpapar penyakit akan cenderung meningkatkan risiko stunting dibandingkan dengan anak balita yang tumbuh sehat. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh sanitasi lingkungan dan rumah sehat terhadap kejadian stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Pantoloan Kota Palu. Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif menggunakan desain Case Control. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Pantoloan sebanyak 947 balita. Jumlah sampel yaitu 72 pada setiap kelompok sampel dengan total sampel sebanyak 144 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan Teknik purposive sampling dengan Teknik analisis menggunakan Uji Chi Square dan Odds Ratio (OR). Hasil penelitan menunjukkan bahwa rumah sehat (p value = 0,291; OR = 1.545) dan sanitasi lingkungan (p value = 0,855; OR = 0,874). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu rumah sehat dan sanitasi lingkungan tidak mempengaruhi kejadian stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Pantoloan
The Influence of Parenting Patterns on Stunting Incidence Among Toddlers at Puskesmas Pantoloan, Palu City Suarayasa, Ketut; Bangkele, Elliyane; Sumarni, Sumarni; Miranti, Miranti; Nurjannah, Sitti; Tobanta, Bertha Anastacia
Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako) Vol. 11 No. 2 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/htj.v11i2.1462

Abstract

Background: Poor parenting in the family is one of the causes of inadequate nutritional intake, contributing to stunting. Stunting is a chronic malnutrition condition occurring in the first 1000 days of life, leading to delays in brain and physical development. According to the Ministry of Health, stunting is defined as a z-score less than -2SD and severe stunting as less than -3SD. Objectives: To determine the influence of parental parenting on the incidence of stunting in toddlers at the Pantoloan Community Health Center, Palu City. Methods: This case-control study involved 144 toddlers (72 stunting cases and 72 non-stunting controls) selected through purposive sampling. The total population was 947 toddlers. Data were analyzed using the Chi-square test. Results: There was no significant relationship between the type of parenting style and stunting incidence (P = 0.335, OR = 1.600). Similarly, no significant relationship was found between parenting methods and stunting incidence (P = 0.085, OR = 1.183). Conclusions: Parental parenting style and methods were not significantly associated with stunting incidence among toddlers at the Pantoloan Community Health Center, suggesting the need to explore other contributing factors.
Pemeriksaan Kesehatan dan Edukasi pada Ibu Hamil di Kelurahan Taipa Wilayah Kerja Puskesmas Mamboro Kota Palu Suarayasa, Ketut; Miranti, Miranti
Jurnal Pengabdian Masyarakat Ilmu Kesehatan Vol 5, No 1 (2024): Edisi Januari
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/.v5i1.5887

Abstract

Berita yang dimuat koran Radar Sulawesi Tengah pada tanggal 15 Februari 2023 menyebutkan bahwa kasus stunting tertinggi di kota Palu berada di Kelurahan Taipa (24,17%), dan sebagian besar berada di RW 04. Terdapat beberapa penyebab stunting, salah satunya adalah status kesehatan ibu saat hamil. Beberapa kondisi ibu hamil yang berisiko melahirkan anak stunting antara lain: anemia kehamilan dan kurang energi kronik (KEK). Hipertensi dan Diabetes Mellitus pada ibu hamil juga berisiko terhadap kesehatan janin yang dikandung. Oleh karena itu perlu adanya deteksi dini status kesehatan ibu hamil serta edukasi mengenai faktor risiko kehamilan dan  pentingnya asupan nutrisi yang adekuat selama hamil. Kegiatan pengabdian masyarakat meliputi pemeriksaan kesehatan dan edukasi kepada ibu hamil. Tujuannya untuk mengetahui status kesehatan ibu hamil dan meningkatkan pengetahuan ibu tentang faktor risiko kehamilan dan upaya pencegahannya. Metode pengabdian dalam bentuk pemeriksaan kesehatan dan edukasi pada Ibu hamil. Bahan yang digunakan saat pemeriksaan kesehatan antara lain: tensi meter, alat tes gula darah dan hemoglobin, pita pengukur lingkar lengan atas dan timbangan. Sedangkan untuk media edukasi dipergunakan lembar timbal balik (flipchart) dan banner. Hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan terdapat beberapa ibu hamil yang memiliki faktor risiko tinggi kehamilan, antara lain: Anemia (33,3%), Hipertensi (20,0%), Kurang Energi Kronis (13,3%) dan Diabetes (0,67%). Sedangkan hasil edukasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu hamil dari nilai 80,6 (baik) menjadi rata-rata 99,3 (sangat baik). Kesimpulan: masih adanya ibu hamil yang memiliki risiko tinggi kehamilan dan pentingnya edukasi untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil
Empowering Posyandu Cadres in Stunting Prevention Ketut Suarayasa; Andi Nur Tiara AE; Afifah Kalebbi
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 7 No. 5 (2024): May 2024
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v7i5.5346

Abstract

Introduction : Stunting is a condition of nutritional status based on length or height according to age with a Z-score value of less than -2 SD. Indonesia has set a target for achieving stunting incidence by 2024 at 14%. Meanwhile, the prevalence of stunting in 2022 is 21.6%, this figure is still very high from the target set by the government. Therefore, accelerated efforts to reduce stunting are urgently needed. There are various ways that can be done, one of which is utilizing the active role of posyandu cadres to work together to reduce the incidence of stunting. Objective : This research aims to determine the role of posyandu cadres in overcoming stunting incidents Method : This research was conducted in April 2024 by collecting academic journals obtained from Google Scholar related to empowering posyandu cadres and preventing stunting in Indonesia. Result : Based on the search, 13 articles were selected that met the requirements and will be discussed in this research, with a community service research design as an effort to empower posyandu cadres. Conclusion : Empowerment of posyandu cadres is carried out using various models starting from counseling, direct practice of measuring weighing equipment and the height of toddlers, making MPASI from local ingredients which has an effect on increasing the ability and skills of posyandu cadres to carry out early detection of stunting and provide early treatment for stunting. There is a need for a more systematic and orderly empowerment program for posyandu cadres to control the incidence of stunting among toddlers in Indonesia.
THE EFFECT OF THE HEALTH CARE INFECTION CONTROL COMMITTEE IN PATIENTS WITH URINARY CATHETERS ON COST CONTAINMENT Amirah, Asriwati; Fitriani, Arifah Devi; Suarayasa, Ketut; Suharto, Teguh; Asepty, M.Rizky Priyanka
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 11 No. 1 (2024)
Publisher : BRIN - Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jbbi.2024.3086

Abstract

The high prevalence of healthcare-associated infections threatens hospital services. Urinary tract infections associated with the use of catheters could reach 0.2–4.8 per 1000 catheters/day. In response to this, the Centers for Disease Control and Prevention recommends using the Healthcare Infection Control Practices Advisory Committee (HICPAC) to reduce the incidence of infection in hospitals. To determine the effect of implementing HICPAC on reducing hospital costs for patients with urinary catheters at Delia Hospital, Langkat Regency, in 2019. At the Delia General Hospital in Langkat Regency, Malaysia, quantitative research using a quasi-experimental technique was carried out, in which all patients with urinary catheters were included as respondents. The paired t-test was used to evaluate the data using SPSS software. The results revealed a significant effect of the HICPAC application on the incidence of Catheter-Associated Urinary Tract Infection (CAUTI) in patients during treatment (p = 0.08). The HICPAC method can also reduce the risk of CAUTI by 3.902 times. This study did not evaluate the morbidity and mortality attributable to CAUTI. An assessment of the length of stay, cost analysis, and antibiotic resistance is needed to assess the benefits of the HICPAC guidelines. The use of HICPAC in patients with urinary catheters can reduce the cost of treatment at Delia Hospital, Langkat Regency.
THE EFFECT OF THE HEALTH CARE INFECTION CONTROL COMMITTEE IN PATIENTS WITH URINARY CATHETERS ON COST CONTAINMENT Amirah, Asriwati; Fitriani, Arifah Devi; Suarayasa, Ketut; Suharto, Teguh; Asepty, M.Rizky Priyanka
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 11 No. 1 (2024)
Publisher : BRIN - Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jbbi.2024.3086

Abstract

The high prevalence of healthcare-associated infections threatens hospital services. Urinary tract infections associated with the use of catheters could reach 0.2–4.8 per 1000 catheters/day. In response to this, the Centers for Disease Control and Prevention recommends using the Healthcare Infection Control Practices Advisory Committee (HICPAC) to reduce the incidence of infection in hospitals. To determine the effect of implementing HICPAC on reducing hospital costs for patients with urinary catheters at Delia Hospital, Langkat Regency, in 2019. At the Delia General Hospital in Langkat Regency, Malaysia, quantitative research using a quasi-experimental technique was carried out, in which all patients with urinary catheters were included as respondents. The paired t-test was used to evaluate the data using SPSS software. The results revealed a significant effect of the HICPAC application on the incidence of Catheter-Associated Urinary Tract Infection (CAUTI) in patients during treatment (p = 0.08). The HICPAC method can also reduce the risk of CAUTI by 3.902 times. This study did not evaluate the morbidity and mortality attributable to CAUTI. An assessment of the length of stay, cost analysis, and antibiotic resistance is needed to assess the benefits of the HICPAC guidelines. The use of HICPAC in patients with urinary catheters can reduce the cost of treatment at Delia Hospital, Langkat Regency.
Effectiveness of Employee Performance Output Through the Implementation of The Performance Architecture Method at Palu City Hospital Pratiwi, Nanda; Suarayasa, Ketut; Rahman, Abd
Jurnal KESANS : Kesehatan dan Sains Vol 5 No 2 (2025): KESANS: International Journal of Health and Science
Publisher : Rifa'Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/kesans.v5i2.492

Abstract

Introduction: Performance gaps remain in Indonesian health services, as seen between Undata Regional General Hospital and Anutapura Regional General Hospital. Although Undata Regional General Hospital applies a Performance Architecture system, its effectiveness is uncertain. This study compares employee performance between the two hospitals. Objective: This study aims to compare employee performance between the two hospitals to evaluate whether the Performance Architecture system contributes to measurable improvements. Method: A quantitative comparative study was conducted with 95 purposively selected employees. Independent sample t-tests assessed differences in performance variables between both hospitals. Result and Discussion: Significant differences were found in Work Productivity (p = 0.018) and Service Quality (p = 0.024), with higher scores at Anutapura Regional General Hospital, indicating that Performance Architecture has not yet improved outcomes at Undata Regional General Hospital. No significant differences were observed in Procedural Compliance, Collaborative Ability, or Initiative and Adaptability. Conclusion: Performance Architecture at Undata Regional General Hospital has not produced optimal results. Stronger implementation and organizational support are needed to enhance performance
Comparison of Medical Device Calibration Compliance Between Paripurna and Utama Accredited Community Health Centers in Palu City Alhabsyi, Manal; Suarayasa, Ketut; Rahman, Abd
Jurnal KESANS : Kesehatan dan Sains Vol 5 No 4 (2026): KESANS: International Journal of Health and Science
Publisher : Rifa'Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/kesans.v5i4.530

Abstract

Introduction: Compliance with medical equipment calibration is essential to ensure service quality and patient safety. However, not all medical devices in community health centers (Puskesmas) in Palu City have been calibrated according to standards. Objective: This study aimed to analyze differences in calibration compliance between Paripurna-accredited and Utama-accredited Puskesmas. Methods: A comparative quasi-experimental study with a posttest-only design was conducted at Kamonji and Lere Health Centers from August to September 2025. Total sampling was applied to all employees, yielding 127 respondents. Data were analyzed using the Independent Sample t-test. Results and Discussion: Kamonji Health Center showed higher instrumental compliance, while Lere Health Center demonstrated slightly higher normative compliance. Statistical analysis indicated a significant difference in calibration compliance between the two health centers (t = 2.726; p = 0.007). Conclusion: Calibration compliance was significantly higher at the Paripurna-accredited health center, suggesting that higher accreditation status is associated with better calibration practices. Strengthening supervision and documentation is recommended, particularly for Utama-accredited health centers.
Hubungan Sarana Sanitasi Dasar dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 6-59 Bulan di Kota Palu Sulawesi Tengah: Relationship between Basic Sanitation Facilities and Stunting Incidence in Toddlers Aged 6-59 Months in Palu City, Central Sulawesi Ketut Suarayasa; Bertin Ayu Wandira; Ahmad Yani
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 5 No. 12 (2022): December 2022
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v5i12.3547

Abstract

Latar Belakang: Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Balita pendek (stunted) dan sangat pendek (severely stunted) adalah balita dengan panjang badan (PB/U) atau tinggi badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan dengan standar baku WHO- 2010. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan antara sarana sanitasi dasar dengan kejadian stunting pada balita usia 6-59 bulan di Kota Palu Tahun 2022. Metode: Penelitian menggunakan desain kasus kontrol dengan populasi adalah seluruh anak usia 6 sampai 59 bulan di 2 (dua) Puskesmas Kota Palu. Kasus 100 balita stunting diambil dari 2 Puskesmas, kontrol adalah 100 balita status normal yang berada satu lokasi posyandu dengan kasus. Pengumpulan data dengan wawancara, pengukuran dan observasi. Analisis data univariat, bivariat (uji kai kuadrat), dan multivariat (uji regresi logistik ganda). Hasil: Dari analisis bivariat menemukan delapan variabel yang berhubungn dengan kejadian stunting. Hasil analisis multivatiat didapatkan dua variabel yang berhubungan dengan kejadian stunting yaitu akses ke jamban sehat OR=5,99 (95% CI: 2,98-9,23), akses ke sumber air bersih OR=5,99 (95% CI: 3,31-10,83), setelah dikontrol dengan variabel riwayat penyakit infeksi, riwayat pemberian MPASI dan riwayat pemantauan pertumbuhan. Akses ke jamban sehat dan akses ke sumber air bersih yang memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor risiko stunting. Kesimpulan: Terdapat dua faktor lingkungan yang secara bersama-sama berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia enam sampai 59 bulan, yaitu akses ke jamban sehat dan akses ke sarana air bersih.