Claim Missing Document
Check
Articles

Literatur Riview : Pengaruh Terapi Musik Klasik terhadap Kecemasan, Heart Rate, Respiratory Rate dan Saturasi Oksigen pada Pasien Penyakit Jantung Koroner Pre Angiografi Hidayatul Dwi Septia; Yosi Oktarina; Andika Sulistiawan; Andi Subandi; Riska Amalya Nasution
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2026): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v2i1.124

Abstract

Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyebab kematian tertinggi di dunia dan sering menimbulkan kecemasan pada pasien yang akan menjalani prosedur kardiovaskular seperti angiografi dan PCI. Kecemasan pra-tindakan dapat memicu aktivasi sistem saraf simpatis sehingga memengaruhi stabilitas hemodinamik, termasuk peningkatan heart rate, respiratory rate, serta perubahan saturasi oksigen. Terapi musik klasik menjadi salah satu intervensi nonfarmakologis yang banyak dikaji untuk membantu menurunkan kecemasan dan menjaga stabilitas fisiologis pasien. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau bukti ilmiah mengenai pengaruh terapi musik klasik terhadap kecemasan dan parameter fisiologis pada pasien PJK pra-angiografi. Metode yang digunakan adalah literature review dengan penelusuran artikel pada PubMed, Google Scholar, Garuda, ResearchGate, dan Scopus, rentang publikasi 2020–2025, menggunakan kriteria inklusi desain RCT, quasi-eksperimen, dan cohort. Sebanyak tujuh studi memenuhi kriteria dan dianalisis secara deskriptif naratif. Hasil review menunjukkan bahwa terapi musik klasik maupun musik natural secara konsisten menurunkan kecemasan, dengan penurunan signifikan pada sebagian besar penelitian. Beberapa studi juga melaporkan perbaikan pada heart rate, respiratory rate, dan tekanan darah, meskipun perubahan saturasi oksigen tidak selalu konsisten. Kesimpulannya, terapi musik merupakan intervensi nonfarmakologis yang efektif, aman, dan mudah diterapkan untuk mengurangi kecemasan serta membantu menstabilkan beberapa parameter fisiologis pada pasien PJK sebelum menjalani tindakan kardiovaskular.
Hubungan Fatigue dengan Kualitas Hidup pada Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisa: Literature Review Alief Nisha Syafria; Yosi Oktarina; Andika Sulistiawan; Nurhusna; Andi Subandi
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2026): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v2i1.131

Abstract

Gagal ginjal kronis (GGK) merupakan masalah kesehatan global yang pada stadium akhir sering memerlukan terapi hemodialisa jangka panjang. Selain menimbulkan dampak fisik, hemodialisa juga berpengaruh signifikan terhadap kondisi psikologis dan sosial pasien, sehingga kualitas hidup menjadi indikator penting keberhasilan terapi. Salah satu keluhan yang paling sering dialami pasien GGK yang menjalani hemodialisa adalah fatigue, yang bersifat persisten dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Literature review ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara fatigue dan kualitas hidup pada pasien GGK yang menjalani hemodialisa. Metode yang digunakan adalah penelusuran artikel ilmiah melalui beberapa basis data dengan kata kunci terkait GGK, hemodialisa, fatigue, dan kualitas hidup, disertai seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil kajian menunjukkan bahwa fatigue memiliki prevalensi tinggi pada pasien hemodialisa dan secara konsisten berhubungan negatif dengan kualitas hidup. Tingkat fatigue yang lebih tinggi berkorelasi dengan penurunan kualitas hidup, terutama pada aspek fisik, psikologis, dan persepsi terhadap beban penyakit ginjal. Faktor anemia, kondisi psikologis, serta lamanya menjalani hemodialisa turut memengaruhi tingkat fatigue. Kesimpulannya, fatigue merupakan determinan penting kualitas hidup pasien GGK, sehingga perlu dinilai dan ditangani secara rutin dalam pelayanan hemodialisa guna meningkatkan kualitas hidup pasien secara menyeluruh.
Gambaran Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi Berdasarkan Lama Waktu Menderita pada Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi M Fadhlan Wahyu Erlangga; Nurhusna; Putri Irwanti Sari; Andika Sulistiawan; Andi Subandi
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2026): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v2i1.149

Abstract

Kepatuhan minum obat merupakan penentu utama keberhasilan pengobatan. Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan paling berbahaya didunia, karena tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko utama yang menyebabkan penyakit seperti stroke, gagal jantung, stroke dan nefrosis.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi Berdasarkan Lama Waktu Menderita pada Pasien Hipertensi di Wilayah Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dekriptif dengan menggunakan metode survei. Populasi penelitian ini adalah 31.615 orang yang berkunjung ke puskesmas Putri Ayu dan mengkonsumsi obat Antihipertensi pada tahun 2023, tekni pengambilan sempel ini dengan teknik purposive sampling dengan 106 responden. Hasil penelitian Mayoritas responden berusia anatara 46-65 Tahun sebanyak 68 Responden (64,2%), mayoritas berjenis kelamin Perempuan 58 responden (54,7%), mayoritas berpendidikan terakhir SMA 41 responden (38,7%), mayoritas responden berkerja sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) 41 responden (38,7%), Gambaran tingkat kepatuhan minum obat antihipertensi pada penderita hipertensi baru (< 1 tahun) mayoritas adalah Sedang sebanyak 10,4%. Gambaran Tingkat kepatuhan minum obat antihipertensi pada penderita hipertensi jangka menengah (1-5 tahun) mayoritas adalah Rendah sebanyak 48,1%. Gambaran tingkat kepatuhan minum obat antihipertensi pada penderita hipertensi jangka panjang (> 5 tahun) mayoritas Adalah Rendah 18,9%. Dapat disimpulkan Tingkat kepatuhan responden berdasarkan lama pengobatan mayoritas responden memiliki Tingkat kepatuhan rendah.