Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

JARINGAN USAHA PENGINAPAN ESEK ESEK AYUN, QURROTA; SUDRAJAT, ARIEF
Paradigma Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola dan jaringan sosial usaha penginapan homestay dan kamaran di Kawasan Wisata Songgoriti. Metode penelitian yang digunakan adalah Kualitatif, dengan menggunakan analisis teori Jaringan Sosial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Usaha penginapan ?esek-esek? teselubung di Kawasan Wisata Songgoriti memiliki pola tersendiri sebagai strategi untuk mendapatkan para pelanggan dan sekaligus memenuhi kebutuhan akan ekonomi sehai-hari. Pola yang terbentuk dari aktifitas usaha penginapan ?esek-esek? di Kawasan Wisata Songgoriti tersebut terdiri atas pola pelaku, pelanggan dan tempat mereka melakukan usaha penginapan tersebut. Jaringan yang terbentuk dalam usaha penginapan ?esek-esek? di Kawasan Wisata Songgoriti, terdiri atas tiga bentuk jaringan sosial, yaitu jaringan sosial paguyuban, jaringan sosial calo, dan jaringan sosial penjaga villa. Ketiganya memiliki cara dan aturan main yang berbeda, sangat rapi, dan memiliki sitem-sistem khusus untuk menjaga rahasia dalam usaha penginapan ?esek-esek? atau memelihara jaringan. Sehingga dalam ketiga jaringan ini, lebih mengacu pada logika ekonomi daripada persoalan moralitas. Kata Kunci : Usaha Penginapan ?esek-esek?, Pola , Jaringan Sosial
JARINGAN SOSIAL MAHASISWA MIGRAN JABODETABEK DI SURABAYA FAROKAH, NIA; SUDRAJAT, ARIEF
Paradigma Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fakta menyebutkan ciri umum negara berkembang adalah adanya pertumbuhan kota di sebuah negara, namun tidak diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang menunjang terpenuhinya kebutuhan lapangan kerja. Masalah ini menyebabkan munculnya migrasi penduduk ke tempat yang lebih baik. Namun tidak hanya masalah ekonomi, ketersediaan fasilitas pendidikan juga mendukung terjadinya migrasi ini. Para pelajar akan melakukan migrasi untuk memenuhi kebutuhan akan dunia pendidikan yang layak. Sebuah kota besar tidak menjamin tersedianya jenis pendidikan yang diinginkan oleh semua orang. Salah satu contohnya adalah adanya migrasi para pelajar dari Jabodetabek menuju Surabaya. Kedua daerah ini merupakan dua daerah yang keadaannya hampir sama, bahkan bisa dibilang Jabodetabek memiliki fasilitas yang lebih lengkap daripada Surabaya. Namun apakah yang mendorong para pelajar tersebut melakukan migrasi dari Jabodetabek ke Surabaya? Penelitian ini akan menggunakan tiga buah teori yang terdiri dari teori migrasi, teori jaringan sosial, dan teori fenomenologi untuk menganalisis permasalahan ini. Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif sehingga peneliti secara langsung mampu menggambarkan dengan tulisan bagaimana jaringan sosial yang dimiliki mahasiswa migran asal Jabodetabek kemudian mahasiswa migran tersebut memutuskan untuk melakukan migrasi ke Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi, yang diharapkan dapat membantu peneliti dalam pengamatan, berpikir secara abstrak, serta dapat merasakan atau menghayati fenomena di lapangan penelitian. Dengan menggunakan pendekatan ini peneliti dapat menggali data secara mendalam dan kompleks. Subjek dalam penelitian berjumlah 10 orang dengan latar belakang migran dari Jabodetabek di Surabaya. Teknik yang digunakan dalam pengambilan data adalah dengan wawancara mendalam. Hasil wawancara kepada seluruh narasumber kemudian dianalisis dengan menggunakan tiga buah teori yang digunakan. Berdasarkan hasil analisis diperoleh kesimpulan pertama migrasi dilakukan karena adanya jaringan sosial mahasiswa. Kedua mahasiswa Jabodetabek melakukan ke daerah tujuan Surabaya dilandasi dengan pandangan secara fenomenologis. Ketiga lingkungan merupakan pembentuk dari jaringan sosial namun dari lingkungan pula jaringan sosial dapat terdistorsi oleh bentuk-bentuk alamiah daripada lingkungan sendiri, manusia memiliki kecenderungan berkelompok, berkomunitas, dan berkumpul merupakan kekuatan interaksi sosial. Kata Kunci: jaringan sosial, migran, Jabodetabek, Surabaya.
KONSTRUKSI SOSIAL ANIME JEPANG DI CLUB MOTOR ILHAM SEPTIAN, HANIFAL; SUDRAJAT, ARIEF
Paradigma Vol 7, No 4 (2019)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fokus penelitian ini meneliti tentang internalisasi mengenai anime pada anggota ICOSU di Surabaya, tujuan studi ini adalah untuk melihat bentuk dan mengetahui hasil dari internalisasi dari anggota ICOSU mengenai anime. Teori serta analisis yang digunakan adalah Peter L Berger mengenai Konstruksi Sosial dan dipusatkan pada Internalisasinya. Terdapat 2 hal yaitu Obyektif terdiri dari pelembagaan dari institusi pendidikan dari teman sekolah dan masyarakat, kedua sebagai bentuk lembaga sekaligus pengingat, legitimasi berupa historis semasa kecil dari pelembagaan, dan Subyektif berupa Sosialisasi Primer yang mana keluarga berperan utama didalam pembentukkan tentang anime dan Sosialisasi Sekunder di komunitas yang mempunyai serta memperkuat bentuk pemaknaan pada anime di setiap anggotanya. Internalisasinya berupa karakter dari salah satu anime yang disuka disebut waifu, mengoleksi merchandise dari karakter yang disuka, dan itasha sebagai karakter yang disematkan di kendaraan merupakan representasi kesukaan terhadap salah satu karakter tersebut
KONSTRUKSI SOSIAL MASYARAKAT TENTANG TRADISI RUWATAN SUKERTA AYONA, BERLIAN; SUDRAJAT, ARIEF
Paradigma Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia menjalani kehidupan sehari-hari sebagai mahkluk sosial menginginkan kehidupan yang damai. Namun manusia pada kenyataannya mengalami krisis sosial. Ruwatan dipercaya sebagai pembebasan diri dari berbagai malapetaka. Hal ini menjadikan ruwatan bisa bertahan sampai sekarang. Adapun yang masih mempertahankan budaya ini adalah kelompok masyarakat Dukuh Pakis, Surabaya. Pernyataan ini menjadi menarik karena pada umumnya kelompok masyarakat kota tidak terikat dengan adat/tradisi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konstruksi sosial masyarakat Dukuh Pakis beserta krisis dalam Ruwatan Sukerta. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teori Konstruksi Sosial Berger. Lokasi dalam penelitian ini berada di Kecamatan Dukuh Pakis, Surabaya. Subyek riset meliputi ketua pelaksana, peruwat, peserta ruwatan, dan warga sekitar Sanggar tempat pelaksanaan Ruwatan. Penelitian ini menggunakan dua teknik pengumpulan data, yaitu pengumpulan data primer dan data sekunder. Teknik analisis ini menggunkan teknik interaktif karya Miles dan Huberman. Menurut Miles dan Huberman analisis data dilakukan dengan tahap reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan proses konstruksi sosial pada masyarakat Dukuh Pakis, dimulai dari tahap eksternalisasi (adaptasi). Pelaku budaya mengenalkan tradisi Ruwatan Sukerta kepada masyarakat Dukuh Pakis. Selanjutnya proses obyektivikasi (pelembagaan) yang terlihat dari kontribusi masyarakat Dukuh Pakis pada pelaksanaan tradisi Ruwatan. Terkahir tahap internalisasi dimana masyarakat mulai melestarikan ritual Ruwatan hingga diwariskan kepada generasi sesudahnya. Dapat disimpulkan bahwa masyarakat Dukuh Pakis memaknai Ruwatan sebagai ritual pembuang sial secara efektif. Selain itu Ruwatan sebagai budaya asli masyarakat Jawa harus tetap dilestarikan oleh masyarakat Kota Surabaya. Kata Kunci: Konstruksi Sosial, Ruwatan Sukerta, Krisis Sosial..
KONSTRUKSI SOSIAL MASYARAKAT TENTANG TRADISI RUWATAN SUKERTA AYONA, BERLIAN; SUDRAJAT, ARIEF
Paradigma Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia menjalani kehidupan sehari-hari sebagai mahkluk sosial menginginkan kehidupan yang damai. Namun manusia pada kenyataannya mengalami krisis sosial. Ruwatan dipercaya sebagai pembebasan diri dari berbagai malapetaka. Hal ini menjadikan ruwatan bisa bertahan sampai sekarang. Adapun yang masih mempertahankan budaya ini adalah kelompok masyarakat Dukuh Pakis, Surabaya. Pernyataan ini menjadi menarik karena pada umumnya kelompok masyarakat kota tidak terikat dengan adat/tradisi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konstruksi sosial masyarakat Dukuh Pakis beserta krisis dalam Ruwatan Sukerta. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teori Konstruksi Sosial Berger. Lokasi dalam penelitian ini berada di Kecamatan Dukuh Pakis, Surabaya. Subyek riset meliputi ketua pelaksana, peruwat, peserta ruwatan, dan warga sekitar Sanggar tempat pelaksanaan Ruwatan. Penelitian ini menggunakan dua teknik pengumpulan data, yaitu pengumpulan data primer dan data sekunder. Teknik analisis ini menggunkan teknik interaktif karya Miles dan Huberman. Menurut Miles dan Huberman analisis data dilakukan dengan tahap reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan proses konstruksi sosial pada masyarakat Dukuh Pakis, dimulai dari tahap eksternalisasi (adaptasi). Pelaku budaya mengenalkan tradisi Ruwatan Sukerta kepada masyarakat Dukuh Pakis. Selanjutnya proses obyektivikasi (pelembagaan) yang terlihat dari kontribusi masyarakat Dukuh Pakis pada pelaksanaan tradisi Ruwatan. Terkahir tahap internalisasi dimana masyarakat mulai melestarikan ritual Ruwatan hingga diwariskan kepada generasi sesudahnya. Dapat disimpulkan bahwa masyarakat Dukuh Pakis memaknai Ruwatan sebagai ritual pembuang sial secara efektif. Selain itu Ruwatan sebagai budaya asli masyarakat Jawa harus tetap dilestarikan oleh masyarakat Kota Surabaya. Kata Kunci: Konstruksi Sosial, Ruwatan Sukerta, Krisis Sosial..
Wajah Baru Jalan Tunjungan Surabaya: Evolusi Ruang Publik Menjadi Destinasi Wisata Generasi Z Marpaung, Tacsiya Kristina Rodearna; Sudrajat, Arief
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 13 No 2 (2024): Community Dynamics and Social Transformation
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v13i2.48555

Abstract

Penelitian ini mengkaji pergeseran ruang publik di Jalan Tunjungan, Surabaya, dan dampaknya terhadap perilaku berwisata Generasi Z. Transformasi Jalan Tunjungan dari pusat perdagangan tradisional menjadi area multifungsi dengan fasilitas modern mencerminkan kemampuan kota beradaptasi dengan perubahan zaman. Generasi Z tertarik pada Jalan Tunjungan karena perpaduan budaya, kreativitas, dan gaya hidup modern yang ditawarkan, termasuk kafe, galeri seni, dan spot Instagramable. Mereka memanfaatkan ruang ini untuk mengekspresikan diri, berinteraksi, dan berbagi pengalaman, yang menunjukkan perubahan dalam persepsi dan penggunaan ruang tersebut. Perubahan ini mempengaruhi perilaku perjalanan Generasi Z, yang kini lebih memilih destinasi dengan pengalaman beragam dan dukungan untuk aktivitas digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam, serta menerapkan teori Mobilitas dari John Urry (2007) untuk menganalisis dinamika interaksi sosial dan mobilitas di ruang publik. Hasilnya menunjukkan bahwa transformasi Jalan Tunjungan menciptakan lingkungan inklusif dan berkelanjutan, memenuhi kebutuhan generasi muda tanpa menghilangkan warisan budaya kota. Modernisasi ruang publik di Surabaya, seperti taman kota dan kawasan pejalan kaki, terbukti tidak hanya menarik minat Generasi Z, tetapi juga mengubah cara mereka berinteraksi dengan dan menikmati lingkungan sekitar.Kata Kunci: Jalan Tunjungan, Transformasi Ruang Publik, Perilaku Berwisata, Generasi Z, Surabaya AbstractThis study examines the transformation of public space on Jalan Tunjungan in Surabaya and its impact on the tourism behavior of Generation Z. The shift of Jalan Tunjungan from a traditional commercial center to a multifunctional area with modern amenities reflects the city’s ability to adapt to changing times. For Generation Z, Jalan Tunjungan is appealing due to its blend of culture, creativity, and modern lifestyle as evidenced in its cafes, art galleries, and Instagrammable spots. They use these spaces to express themselves, interact, and share This. Illustrates a shift in how these spaces are perceived and utilized. This transformation significantly influences Generation Z’s travel behavior as they chose destinations offering diverse experiences and supporting their digital activities. The study employs a descriptive qualitative method supported by in-depth interviews and applies John Urry’s theory of Mobilities (2007) to analyze social interaction dynamics and mobility in public spaces. The findings reveal that the transformation of Jalan Tunjungan creates an inclusive and sustainable environment that meets the needs of the younger generation while preserving the city’s cultural heritage. The modernization of public spaces in Surabaya, such as parks and pedestrian areas, does not only attract Generation Z but also change how they interact with and enjoy their surroundings.Keywords: Jalan Tunjungan, Public Space Transformation, Tourist behavior, Generation Z, Surabaya
Konstruksi Masyarakat Desa Pajeng Menyesuaikan Tradisi Takziah di Masa Pandemi Covid-19 Ardita, Febri Wulan; Sudrajat, Arief
JURNAL SAINS SOSIAL DAN HUMANIORA (JSSH) Vol 3 No 1 (2023): JSSH : Jurnal Sains, Sosial dan Humaniora
Publisher : Lembaga Penellitian, Pengabdian dan Publikasi (LP3M), UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALUKU UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52046/jssh.v3i1.1347

Abstract

merupakan suatu kewajiban bagi seseorang yang beragama muslim terhadap orang yang meninggal. Ketika ada orang yang meninggal dunia, jenazah prang tersebut masih memiliki hak untuk mendapatkan hormat dari orang lain yang masih hidup. Metode penelitian yang dilakukan ini, menggunakan metode penelitian kuantitatif yang berlandaskan pada bukti yang positif untuk menunjang penelitian. pada desa pajeng bojonegoro, apabila ada orang meninggal kegiatan takziah tetap dilakukan. Tetapi hal tersebut masih menunggu dari pihak medis dan keluarga. Apakah orang yang meninggal terjangkit virus corona atau tidak. Dan apabila tidak terjangkit takziah tetap dilaksanakan. Dengan mematuhi rangkaian protocol kesehaan yang telah diberikan oleh pemerintah, dna telah disediakan oleh keluarga yang meninggal.
Pengaruh Keluarga Broken Home terhadap Perilaku Delinkuen Anak: Analisis Fenomenologi Alfianah, Sinta Rahma; Sudrajat, Arief
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 8 No. 5 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/obsesi.v8i5.6084

Abstract

Keluarga merupakan lembaga utama dalam memberikan segala aspek kehidupan pada anak. Oleh karena itu, permasalahan di dalam suatu keluarga akan berdampak pada pembentukan karakter anak. Dari kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh keluarga broken home terhadap terbentuknya perilaku delinkuen pada anak. Metode yang digunakan oleh peneliti adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Adapun metode pengumpulan data melalui wawancara dan observasi, serta dianalisis secara induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga broken home mendorong pembentukan perilaku delinkuen pada anak akibat kurangnya pengawasan dan keteladanan dari orang tua. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu keretakan keluarga memegang peran penting dalam pembentukan karakter negatif pada anak.
Motif Budaya Resiprositas Masyarakat Pedesaan dalam Kehidupan Sosial Setiawan, Muhammad Rijal; Sudrajat, Arief
Jurnal Dinamika Sosial Budaya Vol. 26 No. 1 (2024): Juni (2024)
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jdsb.v26i1.9321

Abstract

Resiprositas merupakan tindakan balas budi yang tidak disadari oleh individu. Tindakan yang dilakukan lekat dengan masyarakat pedesaan. Tidak heran fenomena resiprositas masih dijumpai di masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teori yang digunakan yakni motif sosial A Schutz dan ditunjang dengan teori pertukaran sosial. Hasil penelitian yang dilakukan memperlihatkan resiprositas merupakan tindakan turun temurun. Motif resiprositas dibagi menjadi dua yakni motif sebab dan motif tujuan. Motif sebab dapat dilihat dari keadaan turun temurun, menjalin hubungan sosial, dan rasa syukur. Sedangkan pada motif tujuan yakni membalas pemberian dan menjaga hubungan sosial.
Kuasa Mitologi Punden Desa : Kontestasi Identitas dan Kekuasaan di Ruang Publik di Desa Badas, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri Arief Sudrajat; Eko Wahyuni Rahayu; Pambudi Handoyo; Nadhirul Wismiyati
Nusantara Journal of Multidisciplinary Science Vol. 2 No. 4 (2024): NJMS - November 2024
Publisher : PT. Inovasi Teknologi Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mitologi yang membungkus punden desa seringkali dikontruksi dalam bentuk legenda yang mengandung nilai budaya dan sejarah lokal, senantiasa menjadi rujukan identitas bagi masyarakat pendukungnya. Kompleksitas makna yang terkandung dalam mitologi punden desa, menjadikan keberadaan punden sebagai ruang publik yang rentan konflik. (Rahma et al., 2023) Bagi masyarakat Dusun Pohblembem, Desa Badas, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri. Punden desa merupakan ruang yang memediasi antar identitas kelompok. Masing-masing berusaha saling mempengaruhi dan memperkuat legitimasi historis mereka melalui narasi mitologi punden yang mereka kembangkan. Di satu pihak, mereka mencoba untuk mengklaim dengan menggunakan catatan Belanda yang otentik, di sisi yang lain, mereka bersandar pada tradisi lisan atau “tembung jarene” dalam rangka memperebutkan pengaruh di masyarakat. Semua demi posisi, prestise dan keuntungan non material lainnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pemikiran Habermas digunakan untuk menganalisis secara mendalam dinamika kontestasi yang terjadi di seputar mitologi punden desa. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan berbagai pihak terkait. Analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan interpretatif, yaitu dengan memaknai secara mendalam narasi-narasi yang berkembang di masyarakat terkait mitologi punden desa, serta menghubungkannya dengan konteks sosial, politik, dan budaya yang melingkupinya