Claim Missing Document
Check
Articles

PENDAMPINGAN PENINGKATAN MANAJEMEN REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN DI PUSKESMAS KARANGNUNGGAL KABUPATEN TASIKMALAYA Arief tarmansyah iman; Ida Sugiarti; Fadil Ahmad Junaedi
Jurnal Pengabdian Masyarakat (Jupemas) Vol 2, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jupemas.v2i2.858

Abstract

Fasilitas kesehatan termasuk puskesmas dan klinik diwajibkan untuk memberikan pelayanan manajemen informasi kesehatan, pelayanan tersebut  berdasar pada data dan informasi kesehatan bersumber dari Rekam Medis (RM) yang bermutu serta  terintegrasi. Salah satu bagian penting dalam pelayanan di FKTP adalah manajemen informasi kesehatan dan rekam medis, pelayanan ini merupakan pelayanan yang tidak terpisahkan dari pelayanan mulai dari pendaftaran, pencatatan, pengelolaan, bukti hukum hingga bagian penyimpanan. Puskesmas yang bekerja sama dengan BPJS wajib diakreditasi setidaknya  tiga tahun sekali,dan akreditasi tersebut juga salah satu syarat untuk kredensial. Puskesmas Karangnunggal adalah salah satu puskesmas di Kabupaten Tasikmalaya, yang pada tahun 2020 akan dilakukan reakreditasi. Untuk mendapatkan hasil terbaik akreditasi dalam standar Manajemen Informasi dan Rekam Medis,  khususnya Puskemas Karangnunggal perlu mendapatkan pendampingan dalam peningkatan manajemen Rekam Medis dan Informasi Kesehatan.  Pengabdian Kepada masyarakat telah dilaksanakan dengan metoda workshop dan bimbingan penyusunan dokumen kebijakan dan prosedur serta formulir rekam medis. Dan luaran dari kegiatan ini adalah telah tersusunnya dokumen kebijakan dan prosedur, masukkan untuk revisi formulir rekam medis serta penerapan e-family folder.
PELAKSANAAN SURVEILANCA KASUS PTM MELALUI PEMANFAATAN M-HEALTH SILEMHAT-PTM Yanti Cahyati; Tri Kusuma Agung Puruhita; Ida Sugiarti; Arief Tarmansyah Iman; Ida Rosdiana; Iwan Somantri; Ai Cahyati
Jurnal Pengabdian Masyarakat (Jupemas) Vol 2, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jupemas.v2i2.863

Abstract

Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan komorbid Covid-19. PTM memerlukan penanganan yang intens, yang diawali dengan deteksi dini faktor resiko yang menjadi penyebab terjadinya PTM. Kegiatan deteksi dini dapat dikembangan dengan penggunaan teknologi informasi di era pandemi dalam bentuk mobile health (m-Health). Kader Posbindu merupakan sukarelawan bidang kesehatan yang memiliki potensi dalam surveillance PTM. Kota Tasikmalaya memiliki empat wilayah kerja Puskesmas dengan kejadian PTM tertinggi, yaitu Puskesmas Tawang, Tamansari, Cipedes, dan Cibeurerum. Kegiatan surveilance dilakukan oleh kader dengan pemanfaatan M-Health SILEMHAT-PTM. M-Health SILEMHAT-PTM telah  digunakan sebagai alat skrining dan surveillance PTM masyarakat di Kota Tasikmalaya. Database pelaporan survaillance dapat digunakan sebagai database pemetaan, kajian, dan penyusunan rencana pencegahan PTM bagi Puskesmas. Hasil surveillance  terhadap 1258 orang penduduk di empat wilayah puskesmas Kota Tasikmalaya sebagian besar hasil surveillance mengalami obesitas dan hipertensi. Surveillance sebaiknya dilakukan secara berkala untuk mendeteksi resiko kejadian PTM di masyarakat.
PEMBENTUKAN TIM PENGGERAK DESA SEHAT PENYAKIT TIDAK MENULAR SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KEMANDIRIAN MASYARAKAT KOTA TASIKMALAYA Ida Sugiarti; Iwan Somantri; Yanti Cahyati; Ida Rosdiana; Ai Cahyati; Arief Tarmansyah Iman; Tri Kusuma Agung Puruhita
Jurnal Pengabdian Masyarakat (Jupemas) Vol 2, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jupemas.v2i2.864

Abstract

Jumlah kasus Covid-19 meningkat dengan cepat, terutama gejala muncul pada pasien dengan comorbid yang mengakibatkan kematian. Salah satu comorbid yaitu Penyakit Tidak menular (PTM), diantaranya DM dan Hipertensi. Identifikasi sedini mungkin diperlukan agar penanganan kasus PTM dapat dilakukan lebih awal agar tidak berakibat fatal. Pemerintah memiliki sumber daya yang terbatas dalam penatalaksanaan kesehatan. Situasi pandemik Covid-19 juga membutuhkan perhatian khusus dan sumber daya yang tidak sedikit. Oleh karena itu pentingnya melibatkan partisipasi masyarakat untuk terlibat terutama dalam pencegahan dan deteksi dini melalui pembentukan Tim Penggerak PTM. Metode yang digunakan berupa pelatihan dan pembentukan tim penggerak PTM yang didukung dengan aplikasi lembur sehat PTM. Hasil pengabdian kepada masyarakat terdapat peningkatan pengetahuan dari kader dan tim penggerak, setelah pelatihan. Rata-rata nilai pre test pada tim penggerak wilayah Tamansari  yaitu sedangkan rata-rata nilai post test yaitu. Rata-rata nilai pre test pada tim penggerak wilayah Cipedes yaitu sedangkan rata-rata nilai post test yaitu. Hasil monitoring dan observasi menunjukkan kader melakukan pendataan berupa pengukuran gula darah dan tensi serta mengisi data di aplikasi Lembur Sehat PTM. Jumlah kader yang mengikuti pelatihan sebanyak 60 kader dan karang taruna. Hasil observasi pada aplikasi tercatat 600 data masyarakat yang sudah dientri Hasil pengukuran menjadi data bagi Puskesmas setempat dan akan ditindaklanjuti. Data juga dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya
PENDAMPINGAN PEMBUATAN CLINICAL PATHWAY DALAM PENINGKATAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN DI RSUD DR. SOEKARDJO KOTA TASIKMALAYA Ida Sugiarti; Fadil Ahmad Junaedi
Jurnal Pengabdian Masyarakat (Jupemas) Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jupemas.v3i2.1009

Abstract

Clinical pathways are used for quality and cost control in health services in hospitals. A clinical pathway is the main requirement for quality control and cost control, especially in cases that have the potential to spend large resources. Research shows that the application of clinical pathways can reduce the length of stay and hospital costs. The existence of clinical pathways in hospitals is sought to refer to the National Guidelines for Medical Services (PNPK). The existence of clinical pathways at dr. Soekardjo does not all meet these criteria. Community service activities are carried out referring to the lecturer roadmap that has been made. The purpose of the activity is to the availability of clinical pathway forms that can be used in hospitals as needed and the preparation of clinical pathways according to PNPK criteria. The method of activity is in the form of FGD and Assistance in making clinical pathways. The activity was carried out well and agreed on a form that refers to the standards of the Hospital Accreditation Committee. Mentoring activities involve all health workers as users, both doctors, nurses, pharmacists, nutritionists, and PMIK so that the results are expected to be by the needs of the hospital. The results of the activity are in the form of an agreement on the form used and the arrangement of 10 clinical pathways according to the needs of the hospital.
Implementasi Clinical Pathway Kasus Tuberkulosis Paru Berdasarkan Rekam Medis Pasien di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalya Namira Fatimah Azahra; sugiarti, Ida
Jurnal Ilmiah Perekam dan Informasi Kesehatan Imelda (JIPIKI) Vol. 8 No. 2 (2023): Jurnal Ilmiah Perekam dan Informasi Kesehatan Imelda Edisi Agustus
Publisher : Akademi Perekam dan Informasi Kesehatan Imelda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52943/jipiki.v8i2.1313

Abstract

Hospitals should have tools to control the quality of services provided to patients so that health services provided by health workers can be integrated and can reduce risks in the process of clinical services. One tool to control the quality of service is a clinical pathway. Preparation of clinical pathways at Dr. Soekardjo, Tasikmalaya City, based on five criteria in filling out the clinical pathways for pulmonary tuberculosis cases in this study included initial examination, follow-up examination, management, evaluation, and validation. Implementation of a clinical pathway for pulmonary tuberculosis cases based on patient medical records in the third quarter of 2022 at Dr.Soekardjo Hospital Tasikmalaya City. This type of research is a quantitative method, the implementation of clinical pathways at Dr. Soekardjo Hospital has been carried out well with the results obtained for the initial review examination carried out as many as 63 files (76%), the average follow-up review examination was carried out as many as 77 files (93 %), the average management review is 74 files (89%), the average evaluation review is 79 files (95%), the average authentication review is 83 files (100%).
Gambaran Pengetahuan dan Sikap Pasien Post Bedah Elektif tentang Informed Consent di RS X Tahun 2024 Nurfadhilatussifah, Dela; Sugiarti, Ida
Jurnal Ilmiah Perekam dan Informasi Kesehatan Imelda (JIPIKI) Vol. 9 No. 2 (2024): Jurnal Ilmiah Perekam dan Informasi Kesehatan Imelda Edisi Agustus
Publisher : Akademi Perekam dan Informasi Kesehatan Imelda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52943/jipiki.v9i2.1675

Abstract

Informed consent is giving consent after obtaining complete information. The patient has the right to accept or reject some or all of the assistance measures that will be provided. This decision depends on the patient's knowledge and attitude regarding consent to medical treatment. Several cases of medical malpractice in Indonesia actually started with the failure to implement informed consent properly. The aim of this research is to analyze the knowledge and attitudes of post-elective surgery patients regarding informed consent at Hospital X. This type of research is descriptive quantitative. The sampling technique uses accidental sampling. The population in this study was 42 patients after elective surgery in December 2023. The research instrument used a questionnaire sheet. The results of the study showed that of the 42 post-elective surgical patients regarding informed consent at Hospital Efforts are needed to simplify explanations in language that is easy for patients to understand and use certain media to improve patient understanding.
Tinjauan Pengisian Formulir Informed Consent Pasien Dengan Tindakan Hecting di Puskesmas X Kabupaten Tasikmalaya Gunawan, Reza Maulana; Sugiarti, Ida
Jurnal Ilmiah Perekam dan Informasi Kesehatan Imelda (JIPIKI) Vol. 9 No. 2 (2024): Jurnal Ilmiah Perekam dan Informasi Kesehatan Imelda Edisi Agustus
Publisher : Akademi Perekam dan Informasi Kesehatan Imelda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52943/jipiki.v9i2.1681

Abstract

Approval for medical action or Informed Consent is required to ensure that the patient has understood all the information provided to make a decision and the patient gives consent or refusal. Informed consent is useful as legal evidence to reduce the risk of problems or claims against doctors or health care facilities for actions taken on patients. So the completeness of filling out the informed consent form is very important in community health centers. The X Health Center, Tasikmalaya Regency, has not fully complied with the completeness of filling out the informed consent form.Knowing the completeness of filling out the Informed Consent Form for Patients with Hectating Actions at the X Community Health Center, Tasikmalaya Regency. The research method used was a quantitative descriptive design with a sample of 44 Informed Consent patients with Hecting procedures based on the total sampling of patient visits in the 2023 treatment room. The results of the research on the completeness of filling out informed consent in the Patient Identification review were 78% complete, the Important Report review was 67% complete, the Authentication review was 63% complete, the Good Documentation review was 81.2% complete and from the four components of the recording review the results were 69% complete and 31% incomplete. The completeness of filling out informed consent has an important role in supporting the quality of service aspects as well as the legal aspects of the form as legal evidence for patients and health service facilities.
PELAKSANAAN PENCATATAN DAN PELAPORAN PIS-PK DI PUSKESMAS Amalia, Dewi; Sugiarti, Ida
Jurnal Informasi Kesehatan Indonesia (JIKI) Vol 9 No 1 (2023): Jurnal Informasi Kesehatan Indonesia
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31290/jiki.v9i1.3930

Abstract

Background: With the support of the Indonesian Healthy Program with a Family Approach (PIS-PK), the Ministry of Health of the Republic of Indonesia supports the Healthy Living Society Movement (GERMAS). In terms of changing the pain paradigm into a healthy paradigm for improving standards of health, the PIS-PK program is relevant to the purposes of Indonesia's Healthy Mission. Subjects and Method: Phenomenological methods are used in qualitative research. Puskesmas Ciawi created the study's location. Five important, important, and important informants participated in the research, that was done in February 2023. One PIS-PK coordinator of Puskesmas, a head for Puskesmas, a data input officer of Puskesmas, and a responsible PUS-PK of the Ministry of Health consisted of the informants. The aim of this research is to find out how the implementation of recording and reporting PIS-PK in Puskesmas Ciawi with a phenomenological approach. Results: In Puskesmas Ciawi in 2018 and 2019, the Regulation of the Minister of Health No. 39 of 2016 on Guidelines for the Maintenance of the Indonesian Healthy Program with Family Approach (PIS-PK) came as a result. In Puskesmas is Ciawi, PIS-PK has been recorded manually and electronically. Reports are made once a month, and statements are submitted on the Family Health Profile (Prokesga) form. However, additional factors make its implementation less effective. The incapacity to quickly connect to the internet is one, as is a lack of facilities. Conclusion: In Puskesmas Ciawi, the PIS-PK reporting and reporting is quite good. However, the central government still must give more attention to the region for the Indonesian Healthy Program with a Family Approach if it is a success.
Penerapan Alur Prosedur Pelayanan Rekam Medis dan Desain Formulir Kesehatan Tahanan di Rumah Sakit X Himatul Zakiyah; Sugiarti, Ida
Media Informasi Vol. 20 No. 1 (2024): Mei
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37160/mijournal.v20i1.45

Abstract

Latar Belakang: Kriteria yang memuat penilaian tentang sistem penyimpanan rekam medis dalam Standard Procedure Operational (SPO) adalah adanya sistem yang memandu penyimpanan dan pemrosesan rekam medis. Penyelenggaraan pelayanan sangat berhubungan dengan formulir. Formulir Kesehatan Tahanan adalah formulir pemeriksaan secara menyeluruh. Tujuan: Mengetahui Gambaran Penerapan Alur Prosedur Pelayanan Rekam Medis dan Merancang Formulir Kesehatan Tahanan sesuai dengan teori desain formulir rekam medis. Metode Penelitian: Penelitian yang dilaksanakan menggunakan triangulasi tematik, dengan  subjek 5 (lima) informan, menggunakan metode kualitatif dengan wawancara mendalam didukung pedoman observasi. Hasil Penelitian: Sistem alur pelayanan kesehatan dari TPPRJ, TPPGD, dan TPPRI. Sistem pengelolaan data rekam medis di Rumah Sakit X yang meliputi assembling, coding and indexing, analizing and reporting, filling. Sistem rekam medis di Rumah Sakit X  meliputi: Sistem Penamaannya menggunakan nama pasien sendiri sesuai dengan tanda pengenal yang sah seperti KTP, KK, SIM, dll. Sistem penomoranya menggunakan Unit Numbering System (UNS). Desain formulir rekam medis kesehatan tahanan ditinjau dari aspek anatomi, aspek fisik, dan aspek isi. Komponen heading, pendahuluan, intruksi, isi, dan penutup. Kesimpulan: Perlu adanya SPO pelayanan bagi pasien tahanan dan perlu adanya desain ulang tentang formulir kesehatan tahanan.
Tinjauan Kelengkapan Discharge Planning Bayi Baru Lahir Sebagai Bukti Legal Di RS X Priangan Timur Jawa Barat Cindi Cita Ulihikma; Sugiarti, Ida
Media Informasi Vol. 20 No. 2 (2024): November
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37160/mijournal.v20i2.490

Abstract

Latar Belakang: Pendokumentasian adalah pencatatan kegiatan atau layanan yang dianggap bernilai dan penting, serta bisa digunakan sebagai alat bukti dalam permasalahan hukum. Kelengkapan pengisian discharge planning menurut standar pelayanan minimal rekam medis yaitu kelengkapan pengisian rekam medis 24 jam setelah selesai pelayanan harus 100%. Hasil studi pendahuluan menunjukkan 10 formulir discharge planning bayi baru lahir pada triwulan terakhir 2023 di RS X Priangan Timur Jawa Barat tidak terisi secara lengkap. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah meninjau kelengkapan discharge planning bayi baru lahir sebagai bukti legal di RS X Priangan Timur Jawa Barat. Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengambilan sampel menggunakan proportionate stratified random sampling. Populasi dalam penelitian ini yaitu formulir discharge planning bayi baru lahir tahun 2023 yang berjumlah 2.705 dengan sampel 96 formulir discharge planning pada rekam medis bayi baru lahir. Metode pengumpulan data menggunakan lembar observasi berupa checklist. Analisis data menggunakan analisis univariat. Pengolahan data dengan cara collecting, editing, coding, dan penyajian data. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kelengkapan discharge planning bayi baru lahir di RS X Priangan Timur Jawa Barat pada komponen identifikasi pasien sebesar 100%, laporan yang penting sebesar 18,35%, autentifikasi sebesar 68,35%, serta pencatatan dan pendokumentasian yang benar sebesar 50%. Kesimpulan: Kelengkapan discharge planning bayi baru lahir di di RS X Priangan Timur Jawa Barat belum 100% maksimal.