Claim Missing Document
Check
Articles

PERBANDINGAN HUKUM INFORMED CONSENT INDONESIA DAN AMERIKA SERIKAT Sugiarti, Ida
Syiar Hukum Vol 12, No 3 (2010): Syiar Hukum
Publisher : LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perhaps the most important development in patients’ rights has been that in Indonesia and the United States regarding the doctrine of informed consent. Embracing the Continental European legal system, the doctrine of informed consent in Indonesia is articulated in  Law No. 36 of 2009 on Health, Government Regulation No.32 of 1996 on Health Worker, Law No.29 of 2004 on Medical Practice, and Law No. 8 of 1999 on Consumer Protection. It is also specifically regulated by Health Ministerial Decree No. 29 of 2008 regarding Medical Action Approval.  This doctrine requires physicians to share certain information with patients before asking for their consent to treatment. The Court in  the United States of America used the term of informed consent to describe the physicians obligations to provide information. The legal consequences if informed consent is not given, it is considered  as an act of abuse (intentionally) to the patient. According to Rule of law in the United States  that physicians have to open all the information about all the necessary facts, so that patients can determine appropriate treatment options. Tort Law in Anglo-Saxon legal system, similar to "act against the law" in the Continental European legal system. This article examines a comparative study of informed consent in the Indonesian Health Laws and regulations and those of the United States.
PROSEDUR PENERIMAAN PASIEN BPJS DI TEMPAT PENDAFTARAN PASIEN RAWAT JALAN Permata, Widya Cahya; Sugiarti, Ida
Media Informasi Vol 13, No 2 (2017): BULETIN MEDIA INFORMASI
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.71 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk meninjau prosedur pelaksanaan penerimaan pasien baru Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di pendaftaran rawat jalan. Metode penelitian menggunakan deskriptif dengan pendekatan kwalitatif phenomology dan data yang dikumpulkan dengan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 15 pasien baru dari prosedur pendaftaran BPJS ada 3 prosedur tidak konsisten dengan standar prosedur operasional, yaitu prosedur nomor 6, 93% konsisten, nomor 7, konsisten 10% dan nomor 8 konsisten hanya 14%. Pendidikan perekam medis terdiri dari SMA 9, SMP 3, D3 Rekam medis 7, D1 Manajemen Rumah Sakit 1, dan S1 teknik elektro 1. Pasien tidak membawa persyaratan lengkap, dalam satu hari komputer dan aplikasi SIMRS terganggu dengan periode yang tidak pasti waktu. SOP pendaftaran rawat jalan baru telah tersedia untuk BPJS, tetapi belum dilaksanakan sepenuhnya. Sumber daya manusia yang cukup dalam kuantitas tapi tidak tepat jika dilihat dari pendidikan terakhir. Fasilitas infrastruktur di pendaftaran rawat jalan perlu ditingkatkan pada antrian mesin dan komputer pendaftaran, dan penambahan mesin antrian. SIMRS aplikasi terhubung ke setiap unit pelayanan tapi kadang-kadang jaringan error.
UPAYA PENINGKATAN KEMANDIRIAN MASYARAKAT MELALUI PEMBENTUKAN TIM PENGGERAK DESA SEHAT PENYAKIT TIDAK MENULAR DI KOTA TASIKMALAYA Sugiarti, Ida; Soemantri, Iwan; Cahyati, Yanti; Rosdiana, Ida; Cahyati, Ai; Iman, Arief Tarmansyah; Puruhita, Tri Kusuma Agung
Abdimas Galuh Vol 3, No 2 (2021): September 2021
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v3i2.6176

Abstract

Penambahan jumlah kasus Covid-19 berlangsung cepat, terutama gejala muncul pada pasien dengan comorbid yang mengakibatkan kematian. Salah satu comorbid yaitu Penyakit Tidak menular (PTM), diantaranya DM dan Hipertensi. Tingginya kasus PTM, membutuhkan perhatian dan identifikasi sedini mungkin serta penanganan segera agar tidak berakibat fatal. Pemerintah memiliki sumber daya yang terbatas dalam pengelolaan pelayanan kesehatan. Situasi pandemi Covid-19 juga membutuhkan perhatian khusus dan sumber daya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, pentingnya melibatkan partisipasi masyarakat untuk terlibat terutama dalam pencegahan dan deteksi dini melalui pembentukan Tim Penggerak PTM. Metode yang digunakan berupa pelatihan dan pembentukan tim penggerak PTM yang didukung dengan aplikasi Lembur Sehat PTM. Hasil pengabdian kepada masyarakat terdapat peningkatan pengetahuan dari kader dan tim penggerak setelah pelatihan. Rata-rata nilai pre test pada tim penggerak wilayah Tawang yaitu 72,67; sedangkan rata-rata nilai post test yaitu 94,67. Rata-rata nilai pre test pada tim penggerak wilayah Cibeureum yaitu 63,64; sedangkan rata-rata nilai post test yaitu 90,36. Hasil monitoring dan observasi menunjukkan kader melakukan pendataan berupa pengukuran gula darah dan tensi serta mengisi data di aplikasi Lembur Sehat PTM. Jumlah kader yang mengikuti pelatihan sebanyak 60 kader dan karang taruna. Hasil observasi pada aplikasi tercatat 600 data masyarakat yang sudah dientry. Hasil pengukuran menjadi data bagi Puskesmas setempat dan akan ditindaklanjuti. Data juga dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya.
Perbandingan Hukum Informed Consent Indonesia dan Amerika Serikat Ida Sugiarti
Syiar Hukum Volume 12, No 3 (2010) : Syiar Hukum : Jurnal Ilmu Hukum
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/sh.v12i3.643

Abstract

Perhaps the most important development in patients’ rights has been that in Indonesia and the United States regarding the doctrine of informed consent. Embracing the Continental European legal system, the doctrine of informed consent in Indonesia is articulated in  Law No. 36 of 2009 on Health, Government Regulation No.32 of 1996 on Health Worker, Law No.29 of 2004 on Medical Practice, and Law No. 8 of 1999 on Consumer Protection. It is also specifically regulated by Health Ministerial Decree No. 29 of 2008 regarding Medical Action Approval.  This doctrine requires physicians to share certain information with patients before asking for their consent to treatment. The Court in  the United States of America used the term of informed consent to describe the physicians obligations to provide information. The legal consequences if informed consent is not given, it is considered  as an act of abuse (intentionally) to the patient. According to Rule of law in the United States  that physicians have to open all the information about all the necessary facts, so that patients can determine appropriate treatment options. Tort Law in Anglo-Saxon legal system, similar to "act against the law" in the Continental European legal system. This article examines a comparative study of informed consent in the Indonesian Health Laws and regulations and those of the United States.
Claim Procedure Analysis Health BPJS In Hospital Ida Sugiarti Sugiarti
Indonesian Journal of Health Information Management Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Husada Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.322 KB) | DOI: 10.54877/ijhim.v1i2.21

Abstract

The membership administration procedure factor, the medical resume factor, the diagnosis codification factor and the action codification factor are still obstacles so that they are returned by the BPJS Health verifier. The purpose of the study was to determine the BPJS Health claim procedure at the hospital. Literature research or literature study and qualitative approach. Based on a review of 15 (fifteen) journals, it was found that there are still obstacles in the BPJS Health claim procedure so that the file is returned to the BPJS verifier. As in the case of membership administration procedures, medical resume factors, diagnosis codification factors, and action codification factors. which causes BPJS health files to be returned, namely the absence of Standard Operating Procedures which regulates the factors regarding the collection of documents for BPJS patient registration requirements. Components of author authentication and audit records are not appropriate because there is no signature of medical personnel and there are still empty parts. And the writing of the diagnosis is not specific so that the codification is not accurate and the coder on memorization does not refer to ICD-10 or only sees ICD-10 volume 3 without looking at Referring to volume 1.
Evaluasi Sistem Surveilans Demam Berdarah Dengue di Kota Tasikmalaya Imas Masturoh; Ida Sugiarti; Muhammad Umar Riandi
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 17 Nomor 1 Juni 2021
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/blb.v17i1.4247

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) has spread across all districts/cities in Indonesia, including in Tasikmalaya City as an endemic area. We conducted a mixed-methods study to evaluate surveillance system for dengue hemorrhagic fever in Tasikmalaya City. Qualitative data collection with in-depth interviews and focus group discussions. This research was conducted in the Tasikmalaya City Health Office’s work area from April to November 2018. Surveillance data through the hospital’s early warning report to the Tasikmalaya City Health Office mostly reported more than 24 hours. Completeness of reporting from RSU Dr. Soekarjo was 65.96% and TMC Hospital was 92%. There was a significant relationship between the presence of larvae and dengue cases (p-value = 0.001). It can be concluded that the accuracy and completeness of the hospital’s early warning report to the Tasikmalaya City Health Office was still relatively low due to the implementation of information system have not been integrated, DHF surveillance officers at both hospitals and puskesmas had double duty, lack of surveillance socialization/training for officers, and the lack of strengthening of accurately reporting at the management level and across sectors.
PROSEDUR PENERIMAAN PASIEN BPJS DI TEMPAT PENDAFTARAN PASIEN RAWAT JALAN Widya Cahya Permata; Ida Sugiarti
Media Informasi Vol 13, No 2 (2017): BULETIN MEDIA INFORMASI
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.71 KB) | DOI: 10.37160/bmi.v13i2.101

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk meninjau prosedur pelaksanaan penerimaan pasien baru Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di pendaftaran rawat jalan. Metode penelitian menggunakan deskriptif dengan pendekatan kwalitatif phenomology dan data yang dikumpulkan dengan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 15 pasien baru dari prosedur pendaftaran BPJS ada 3 prosedur tidak konsisten dengan standar prosedur operasional, yaitu prosedur nomor 6, 93% konsisten, nomor 7, konsisten 10% dan nomor 8 konsisten hanya 14%. Pendidikan perekam medis terdiri dari SMA 9, SMP 3, D3 Rekam medis 7, D1 Manajemen Rumah Sakit 1, dan S1 teknik elektro 1. Pasien tidak membawa persyaratan lengkap, dalam satu hari komputer dan aplikasi SIMRS terganggu dengan periode yang tidak pasti waktu. SOP pendaftaran rawat jalan baru telah tersedia untuk BPJS, tetapi belum dilaksanakan sepenuhnya. Sumber daya manusia yang cukup dalam kuantitas tapi tidak tepat jika dilihat dari pendidikan terakhir. Fasilitas infrastruktur di pendaftaran rawat jalan perlu ditingkatkan pada antrian mesin dan komputer pendaftaran, dan penambahan mesin antrian. SIMRS aplikasi terhubung ke setiap unit pelayanan tapi kadang-kadang jaringan error.
Pengetahuan Perawat dalam Melaksanakan Pemberian Terapi Obat di Ruang Penyakit Dalam RSUD Kabupaten Sumedang Tahun 2012 Ida Sugiarti; Nunung S Sukaesih; Popi Sopiah
Jurnal Persada Husada Indonesia Vol 2 No 5 (2015): Jurnal Persada Husada Indonesia
Publisher : STIKes Persada Husada Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.84 KB) | DOI: 10.56014/jphi.v2i5.67

Abstract

Peran perawat yang sering dilakukan dalam fungsi dependent adalah pemberian obat. Pemberian terapiobat beresiko dan perawat perlu tahu mengenai resiko dan cara pemberiannya untuk menghindari efek sampingobat. Hasil studi pendahuluan berdasarkan hasil observasi selama 2 minggu pada bulan Maret 2012, perawatsudah memberikan obat sesuai jadwal. Dalam memberikan obat, perawat tampak sudah terampil tetapi perawattidak memberikan Health Education berupa dampak, interaksi obat dengan makanan/minuman, faktor-faktoryang mempengaruhi kerja obat. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran pengetahuan perawat(Conseptual Knowledge) tentang pemberian terapi obat yang sering diberikan di ruang penyakit dalam RSUDKabupaten Sumedang tahun 2012 berupa Antimikroba (Cephalosphorine/Cepotaxime, Ciproploxacin dan AntiTB), Histamine Antagonis (Ranitidine, Lansoprazole) dan Non Narkotik Analgesic Antipiretik (Paracetamol).Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah perawat diruang penyakit dalam RSU BLUD Sumedang berjumlah 56 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakantotal sampel. Alat ukur pengumpulan data berupa kuesioner. Variabel yang dibuat berasal dari soal-soalNCLEX-RN REVIEW 2000 dan NCLEX-RN 2003-2004 EDITION. Uji validitas dan reliabilitas menggunakanAna-Test. Hasil penelitian menunjukkan 3, 58 % memiliki pengetahuan cukup, dan 96, 42 % memilikipengetahuan kurang. Saran penelitian ini agar diadakannya nursing conference yang sistematis dan terjadwalmengenai obat-obatan dan peran perawat dalam pelaksanaan pemberian obat, dan memberikan kesempatankepada perawat untuk mengikuti pelatihan/seminar yang berhubungan dengan pemberian obat.Kata Kunci: pengetahuan perawat, terapi pemberian obat, antimikroba, histamine antagonis, nonnarkotic analgesic antipiretik
Menelusuri Potensi Fraud dalam Jaminan Kesehatan Nasional melalui Rekam Medis di Rumah Sakit Ida Sugiarti; Imas Masturoh; Fery Fadly
Jurnal Kesehatan Vokasional Vol 7, No 1 (2022): Februari
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkesvo.69056

Abstract

Latar Belakang: Akibat fraud, BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan) harus membayar klaim lebih besar, sehingga terjadi kerugian negara. Salah satu bentuk fraud yang ditemukan di kelompok provider adalah upcoding. Data koding dan rekaman pelayanan kesehatan dalam rekam medis dapat digunakan sebagai deteksi fraud.Tujuan: Menelusuri potensi fraud dalam rekam medis melalui telusur keakuratan kode diagnosis dan clinical pathway.Metode: Pendekatan kuantitatif kualitatif. Jenis penelitian case study, kasus thypoid. Subjek penelitian ditentukan dengan purposive sampling. Sampel penelitian kuantitatif menggunakan berkas rekam medis. Metode pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan indept interview. Analisis data kuantitatif dengan analisis deskriptif dan Analisa data kualitatif dengan analisis konten.Hasil: Dari 87 dokumen, ketidaktepatan kode diagnosis 31,03%, dengan presentase ketidaksesuaian tarif klaim 26,44%. Terdapat berbagai penyebab upcoding diantaranya karena aturan pengkodean yang berbeda antara kode diagnosis berdasarkan ICD 10 dan kode untuk kepentingan klaim yang mengacu pada peraturan dari BPJS yang dituangkan dalam Berita Acara. 91,30% ketidaksesuaian merupakan tarif klaim naik. Ketidaksesuaian clinical pathway paling banyak pada item tes widal dengan presentase 21.84%.Kesimpulan: Upcoding tidak selalu disebut fraud, harus ada unsur kesengajaan untuk mendatangkan keuntungan finansial. Upcoding dapat merubah klaim menjadi lebih tinggi. Keberadaan clinical pathway penting sebagai acuan tindakan pelayanan kesehatan.
TINJAUAN PENYEDIAAN DOKUMEN REKAM MEDIS DI RSUD Dr. SOEKARDJO KOTA TASIKMALAYA Firzah Dika Andria; Ida Sugiarti
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v3i2.85

Abstract

AbstractFast and precise services are the desire of consumers. The speed of document provision of medical records to the clinic can be an indicator in measuring satisfaction. Based on preliminary studies in dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya found that the provision of medical record documents less than the maximum and delayed. The aim of this research is to determine the implementation of the provision of documents in the old patient medical records outpatient services. This research type is a descriptive study. Data collection used observation sheets, stopwatch, and interview guidelines. Sample size is 99 medical record documents with accidental sampling technique. The amount of sample is 99 document medical records with accidental sampling technique. Data were analyzed using univariate analysis. The results shows 63.64% late provision of medical record documents with an average time of 12.36 minutes, it exceeds the minimum standard service that is d”10 minutes. The groove of the provision of documents in the old patient medical records outpatient is 100% not appropriate. This is due to the amount of time a patient visits increased, less officer, less storage rack capacity, system alignment sequence and the absence of tracer. The conclusion is the provision of document medical record of old patients is late and the groove of the provision of documents in the old patient medical records outpatient is not appropriate. To solve those problems, it would be better if the service quality is improved, especially in the speed of medical records document provision.Keyword: speed of services, average speed, groove.AbstrakPelayanan yang cepat dan tepat merupakan keinginan konsumen. Kecepatan penyediaan dokumen rekam medis ke poliklinik dapat menjadi indikator dalam mengukur kepuasan. Berdasarkan studi pendahuluan di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya ditemukan bahwa dalam penyediaan dokumen rekam medis kurang maksimal dan mengalami keterlambatan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pelaksanaan penyediaan dokumen rekam medis pasien lama di pelayanan rawat jalan. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi, stopwatch, dan pedoman wawancara. Besar sampel adalah 99 dokumen rekam medis dengan teknik accidental sampling. Analisis data dengan analisis univariat. Hasil penelitian menunjukan 63,64% dokumen rekam medis terlambat penyediaannya dengan rata-rata waktu 12,36 menit, melebihi standar pelayanan minimal yakni d”10 menit. Alur penyediaan dokumen rekam medis pasien lama di rawat jalan 100% tidak sesuai. Hal ini disebabkan karena jumlah kunjungan pasien lama meningkat, petugas yang kurang, kapasitas rak penyimpanan kurang, sistem penjajaran tidak berurutan dan tidak adanya tracer. Kesimpulannya penyediaan dokumen rekam medis pasien lama terlambat dan alur penyediaan dokumen rekam medis pasien lama di rawat jalan tidak sesuai. Untuk memecahkan masalah tersebut ada baiknya jika kualitas pelayanan lebih ditingkatkan khususnya dalam hal kecepatan penyediaan dokumen rekam medis.Kata Kunci: Kecepatan penyediaan, rata-rata kecepatan, alur.