Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Indeks Pembangunan Manusia (IPM), penanaman modal asing (PMA), pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, dan ketimpangan pendapatan terhadap tingkat pengangguran di provinsi-provinsi Pulau Sumatera. Penelitian menggunakan data panel dengan pendekatan fixed effect model untuk menangkap perbedaan karakteristik struktural antarprovinsi. Hasil estimasi menunjukkan bahwa IPM, PMA, dan pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat pengangguran, yang mengindikasikan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia, masuknya investasi asing, serta pertumbuhan ekonomi regional mampu mendorong penciptaan lapangan kerja. Sebaliknya, tingkat kemiskinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengangguran, mencerminkan keterbatasan akses pendidikan, keterampilan, dan peluang kerja bagi kelompok miskin. Selain itu, ketimpangan pendapatan juga terbukti berpengaruh signifikan terhadap pengangguran, yang menandakan adanya permasalahan struktural dalam distribusi kesempatan dan kualitas pekerjaan. Perbedaan nilai efek tetap antarprovinsi menunjukkan bahwa faktor struktural daerah turut memengaruhi variasi tingkat pengangguran di Pulau Sumatera. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa penurunan pengangguran memerlukan kebijakan terpadu yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada peningkatan kualitas pembangunan manusia, pengurangan kemiskinan, serta penurunan ketimpangan pendapatan guna menciptakan penyerapan tenaga kerja yang lebih merata dan berkelanjutan.