Bambang Sulardiono
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan,Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedarto,SH Tembalang, Semarang

Published : 72 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

APLIKASI BIOROCK TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP TRANSPLANTASI KARANG DAN KEANEKARAGAMAN IKAN DI PULAU KARIMUNJAWA Siahaan, Sahala Bonardo; Purnomo, Pujiono Wahyu; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 1 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.969 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i1.22537

Abstract

Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ) merupakan tempat konservasi bagi lingkungan dan biota. Kualitas terumbu karang di Karimunjawa mempunyai keanekaragaman yang tinggi. Ada berbagai teknik yang dapat digunakan untuk merehabilitasi terumbu karang, salah satunya adalah Biorock.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kelangsungan hidup dan pertumbuhan karang yang ditransplantasi pada biorock dan mengetahui keanekaragaman ikan yang berada di sekitar biorock. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen lapangan di mana terdapat 2 stasiun penelitian. Biorock digunakan sebagai tempat untuk dijadikannya proses transplantasi karang jenis Acropora sp. Pengukuran pertumbuhan karang dilakukan di dalam air dengan periode selama 2 bulan dengan tenggang waktu 1 bulan menggunakan jangka sorong. Untuk mengevaluasi perbedaan  perbedaan pertumbuhan dan kelangsunggan hidup setiap spesies yang ditransplantasi mempergunakan uji t independen. Spesies terumbu karang yang memiliki persentase kelangsungan hidup paling tinggi adalah Acrophora nasuta. Berdasarkan uji t tentangperbedaan kelulushidupan karang stasiun 1 dan 2 menunjukkan bahwa tidak adanya perbedaan yang signifikan (α>0,05). Jenis ikan yang ditemukan pada lokasi penelitian adalah Zanclus sp, Selaroides sp, dan Sigauns sp. Ditemukan pula spesies bulu babi yaitu Diadema sp. Parameter Fisika-Kimia kedalaman, kecerahan, temperatur, pH, dan salinitas pada 2 stasiun sudah memenuhi syarat untuk pertumbuhan karang.  Karimunjawa National Park  is a conservation area for the environment and biota.There are various techniques that can be used to rehabilitate coral reefs, one of which is Biorock. The purpose of this research is to know the survival and growth of transplanted corals in biorock and to know the diversity of fish that are around the biorock. The method used in this research is the field experimental method. The location of this research consists of 2 research stations. Biorock is used as a place to make its transplant coral process type Acropora sp. Measurement of coral growth measured in water for a period of 2 months with a period of 1 month using a vernier caliper. To evaluate differences in growth and survival of each transplanted species using independent t test. The coral reef species that have the highest survival rate is Acrophora nasuta. Based on the result of t test about difference of coral reef life at station 1 and 2 shows that there is no significant difference between them (α> 0,05). Fish species found at the study sites were Zanclus sp, Selaroides sp, and Siganus sp. Also found species of sea urchin is Diadema sp. Physical-Chemical parameters of depth, brightness, temperature, pH, and salinity at 2 stations have included requirements for coral growth.
KELIMPAHAN EPIFAUNA PADA EKOSISTEM LAMUN DENGAN KEDALAMAN TERTENTU DI PANTAI BANDENGAN, JEPARA (Epifauna Abundance in Seagrass Ecosystem with Specific Depth at Bandengan Beach, Jepara) Indah Abrianti S, Indah Abrianti S; Supriharyono, Supriharyono; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 4 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (857.903 KB)

Abstract

Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem laut dangkal yang terdapat hampir di seluruh perairan dangkal Indonesia. Ekosistem lamun memiliki banyak peranan penting, salah satunya adalah tempat asosiasi dari epifauna. Kerapatan dari lamun akan berpengaruh terhadap kelimpahan epifauna di Pantai Bandengan Jepara. Penelitian ini dilaksanakan pada April 2017 di Pantai Bandengan Jepara dan bertujuan untuk dapat mengetahui hubungan antara kelimpahan epifauna dengan kerapatan lamun, kedalaman dan bahan organik. Metode penelitian yang digunakan yakni Purposive Sampling. Pengambilan sampel diambil pada 3 stasiun dengan kedalaman berbeda dan masing-masing stasiun dilakukan 3 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 1 jenis lamun di Pantai Bandengan, yaitu Thalassia sp. Kerapatan lamun pada masing-masing stasiun yaitu 120 (I), 219 (II) dan 50 (III), dengan kata lain terdapat lamun dengan kerapatan rendah, sedang dan tinggi. Epifauna yang ditemukan di Pantai Bandengan Jepara secara keseluruhan yaitu 6 spesies dengan kelimpahan 61 ind/m² pada stasiun kerapatan rendah, 101 ind/m² pada kerapatan sedang dan 119 ind/m² pada kerapatan tinggi. Berdasarkan uji regresi menunjukkan bahwa hubungan antara kelimpahan epifauna dengan kerapatan lamun, kedalaman dan bahan organik adalah positif, sedangkan pengaruh dari kerapatan lamun dan bahan organik terhadap kelimpahan epifauna terjadi secara langsung, dan pengaruh kedalaman terhadap kelimpahan epifauna adalah secara tidak langsung. The seagrass ecosystem is one of shallow marine ecosystem found in almost all shallow waters of Indonesia. The seagrass ecosystem has many important roles, one of which is the association of epifauna. The density of the seagrasses will have an effect on the epifauna abundance in Bandengan Beach Jepara. This research was conducted on April 2017 at Bandengan Beach Jepara and the aimed of this research was to find out the relationship between epifauna abundance with seagrass density, depth and organic material. The research method used is Purposive Sampling. Sampling is taken at 3 different depth stations and each station is done 3 repetitions. The results showed that found 1 type of seagrass in Bandengan Beach, namely Thalassia sp. Seagrass density at each station is 120 (I), 219 (II) and 50 (III), in other words there are seagrasses with low, medium and high density. Epifauna found in Bandengan Beach Jepara is 6 species with an abundance of 61 ind/m² at low density stations, 101 ind/m² at medium density, and 119 ind/m² at high density. Based on the regression test result showed that the relationship between epifauna abundance with seagrass density, organic material and depth is positive however seagrass density and organic material influence to epifauna abundance have direct effect and depth influence to epifauna abundance have indirect effect.
ANALISIS TROPHIC STATE INDEX CARLSON AIR MUARA SUNGAI BANJIR KANAL TIMUR, SEMARANG Khasani, Andro; Afiati, Norma; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 1 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1164.059 KB)

Abstract

ABSTRAKSungai Banjir Kanal Timur merupakan salah satu sungai besar yang dimiliki Kota Semarang. Sungai ini berfungsi dalam sistem drainase dan pengendalian banjir. Beberapa aliran sungai mengalir ke Sungai Banjir Kanal Timur dan berakhir di muara. Muara merupakan segmen yang akan menampung semua beban yang berasal dari sungai. Oleh karena itu, status trofik perairan di muara, khususnya Sungai Banjir Kanal Timur perlu dievaluasi dalam rangka pengelolaan lingkungan dan pemanfaatan sumberdaya alamnya. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Mei 2016 di muara Sungai Banjir Kanal Timur Semarang. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kualitas air melalui status kesuburan perairan di muara Sungai Banjir Kanal Timur, berdasarkan metode Trophic State Index (Carlson, 1977) dan metode STORET dalam Kepmen LH No. 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air dan PP RI No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Variabel utama yang digunakan pada Analisis TSI Carlson adalah kandungan total N, total P, klorofil-a, dan kecerahan air (angka Secchi disk). Metode penelitian menggunakan metode deskriptif dengan penentuan lokasi sampling bersifat purposive sampling. Hasil yang diperoleh dari analisis TSI (Carlson, 1977) berkisar 53 – 57. Kriteria TSI menunjukkan bahwa TSI TP < TSI SD > TSI CHL dan TSI TP > TSI SD > TSI CHL. Pendugaan interpretasi hubungan tersebut menjelaskan bahwa fosfor membatasi biomasa alga (rasio TN/TP lebih besar dari 33:1), dan nilai TSI Chl yang rendah disebabkan beberapa faktor lain selain fosfor seperti, pemangsaan oleh zooplankton, kandungan nitrogen, dan sebagainya yang sifatnya mengurangi biomasa algae. Di sisi lain, analisis (Indeks STORET) menggunakan Kepmen LH No. 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air menghasilkan skor, yaitu -8. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kesuburan perairan muara Sungai Banjir Kanal Timur, Semarang menurut TSI (Carlson 1977) berada pada status eutrofik ringan atau (Indeks STORET, Kepmen LH No. 115 / 2003) termasuk kategori perairan tercemar ringan. Kata Kunci : Status Mutu Perairan, Trophic State Index Carlson (1977),  Kepmen  LH No. 115 Tahun 2003, muara Sungai Banjir Kanal Timur Semarang. ABSTRACTEast Banjir Kanal River is one of the largest river owned by the city of Semarang. The river has a main function as drainage system and flood control of the city. Several streams flowing into the East Banjir Kanal River and end at the estuary. As estuary accommodates all loads from the river, therefore, the trophic status of waters in particular for East Banjir Kanal River needs to be evaluated in the context of environmental management and utilization of natural resources. This work was conducted during May 2016 in the estuary of East Banjir Kanal River. The objective was to determine river water quality using Trophic State Index by Carlson (1977) and the STORET method in the Decree of the Minister of Environment of The Republic of Indonesia (Kepmen LH) No. 115/2003 regarding Guideline for the Determination of Water Quality Status and The Government Regulation of The Republic of Indonesia No 81/2001 regarding Water Quality Management and Water Pollution Control. The main variables used in the analysis of Trophic State Index by Carlson, 1977 are total N, total P, chlorophyll-a and water clarity. Descriptive method is used to determine random sampling points. The average results of all stations analysed by means of Trophic State Index (Carlson, 1977) ranged from 53-57. The interpretation showed that TSI TP < TSI SD > TSI CHL and TSI TP > TSI SD > TSI CHL, these mean that phosphorus limit the biomass of algae (the ratio TN/TP larger than 33:1). Furthermore, lower TSI Chl values in all sampling point were due to several factors other than phosphorus, such as predatory zooplankton, nitrogen which worked to reduce algal biomass. The STORET analysis in the Decree of the Minister of Environment of The Republic of Indonesia (Kepmen LH) No. 115/2003 about Guideline for the Determination of Water Quality Status gives an overall score of  minus 8. It is concluded that by applying both methods, the estuary of the East Banjir Kanal, Semarang during the course of the study were on light eutrophic status and categorized as lightly polluted waters. Keywords:  Water Quality Status, Trophic State Index Carlson (1977), Decree of the Minister of Environment of The Republic Indonesia (Kepmen LH) No. 115/2003, Estuary of East Banjir Kanal River Semarang. 
STUDI KELIMPAHAN TERIPANG (HOLOTHURIIDAE) PADA EKOSISTEM LAMUN DAN EKOSISTEM KARANG PULAU PANJANG JEPARA Ardiannanto, Ryanditama; Sulardiono, Bambang; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.208 KB)

Abstract

Teripang (Sea Cucumber) merupakan salah satu spesies yang banyak terdapat pada ekosistem lamun dan karang. Menurunnya populasi teripang diduga akan menyebabkan perubahan lingkungan perairan, oleh sebab itu penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan komposisi jenis, kerapatan relatif teripang, kelimpahan teripang (Holothuriidae) dan komposisi jenis makanan dalam usus teripang pada perairan karang dan lamun di pantai Pulau Panjang Jepara. Penelitian ini dilaksanakan di perairan Pulau Panjang, Jepara pada bulan November tahun 2013. metode pengambilan sampel untuk data penutupan karang menggunakan line transek dan untuk data kerapatan lamun menggunakan kuadran transek. Hasil dari penelitian ini nilai persentase kerapatan lamun di ekosistem lamun terdiri dari Thalassia hemprichii 42.47%, Enhalus acoroides 38.79%, Halodule uninervis 7.00%, dan  Syringodium isoetifolium 11.74%. Sedangkan penutupan terumbu karang untuk  Karang hidup 0.52%, Karang mati 42.27%, Pecahan karang 30.73% dan Pasir 26.49%. Sedangkan nilai persentase  Komposisi jenis teripang (Holothuriidae) di perairan lamun dan karang didapatkan 2 jenis yaitu H. atra dan H. nobilis, dengan kerapatan relatif pada ekosistem lamun H. atra adalah 93.06 % sedangkan untuk H. nobilis di terumbu karang adalah 91.67 %. Kelimpahan teripang pada ekosistem lamun terdiri dari H. atra sebesar 161 individu/150m2 dan H. nobilis sebesar 12 individu/150m2 sedangkan pada ekosistem terumbu karang terdiri dari H. atra 8 individu/150m2 dan H.nobilis sebesar 88 individu/150m2. Komposisi makanan teripang dari jenis H. atra yang didapatkan adalah jenis Nitzchia sp 21.635%, Spirulina sp 11.0578%, Parafavella sp 5.769%. dan butiran pasir sebesar 14.904%, sedangkan H. nobilis adalah Nitzchia sp sebesar 26.415%, Spirulina sp sebesar 10.063%, dan Parafavella sp sebesar 5.031%, dan butiran pasir sebesar 17.610%. Sea cucumbers are mostly found in the seagrass and reefs ecosystems. The research aims to know the composition, relative density, abundance and food composition in the gut of sea cucumber found on the reef and seagrass ecosystems of the Coastal Water of Panjang Island, Jepara. The reseach was carried out at Coastal Water of Panjang Island, Jepara on November 2013. The sampling metode used to collect data on reef cover percentage is line transect and for seagrass density is quadrant transect. Persentage of seagrass density : Thalassia hemprichii 42.47%, Enhalus acoroides 38.79%, Halodule uninervis 7.00%, and Syringodium isoetifolium 11.74%. Coral cover on the reef ecosystem composed of living coral 0,52%, dead reef 42,27%, coral fragments 30,73% and sand 26,49%.  There are two kind of sea cucumber from seagrass and reef ecosystem i.e Holothuria atra  and Holothuria nobilis. The relative abundance of H.atra was 93.06 % on seagrass ecosystem and H.nobilis on coral reef ecosystem was 91.67 %. Sea cucumber abundance at seagrass ecosystem are H. atra 161 individuals/150m2 and H. nobilis 12 individuals/150m2 while on reef ecosystem abundance of sea cucumber are H. atra 8 individuals/150m2 and H. nobilis 88 individuals/150m2. Food composition in the gut of H. atra are Nitzchia sp 21.635%, Spirulina sp 11.0578%, Parafavella sp 5.769%. and sand 14.904%, while in the gut of H. nobilis are Nitzchia sp 26.415%, Spirulina sp 10.063%, are Parafavella sp 5.031%, and sand 17.610%.
EVALUASI PERKEMBANGAN WISATA BAHARI DI PULAU TIDUNG BESAR KEPULAUAN SERIBU Sihotang, Silvyani Putri; Sulardiono, Bambang; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 3 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (846.069 KB)

Abstract

ABSTRAK Pulau Tidung Besar merupakan salah satu pulau di Kepulauan Seribu Provinsi DKI Jakarta yang menjadi destinasi wisata bahari. Perkembangan wisata bahari dapat memberikan dampak ekonomi, sosial-budaya dan lingkungan, sehingga perlu dilakukan evaluasi perkembangan wisata bahari. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perkembangan wisata bahari, dampak perkembangan wisata bahari dari aspek ekonomi, sosial-budaya dan lingkungan, dan mengevaluasi perkembangan wisata bahari menggunakan siklus wisata. Metode penelitian ini adalah metode deskriptif dengan analisis secara kualitatif. Data diperoleh dengan menyebar kuisioner kepada 98 masyarakat, 50 pengunjung dan 10 pengelola. Sejak tahun 2014 hingga 2016 terdapat penurunan pengunjung Pulau Tidung Besar yang disebabkan oleh tidak adanya penambahan daya tarik wisata dan belum maksimalnya perbaikan ataupun penambahan fasilitas pendukung. Dampak kegiatan wisata bahari di Pulau Tidung Besar untuk dampak ekonomi adalah penambahan lapangan kerja dan pendapatan penduduk, untuk dampak sosial-budaya terlihat dari kegiatan gotong royong penduduk dan dampak lingkungan adalah semakin meningkatnya kesadaran pemerintah maupun masyarakat terhadap keadaan terumbu karang, kebersihan lingkungan dan ketersediaan air bersih yang lebih baik.. Evaluasi perkembangan Pulau Tidung Besar masuk dalam tahap stagnasi menuju tahap penurunan/ peremajaan.                                                                                                                       Kata Kunci: Evaluasi, Perkembangan, Dampak, Wisata Bahari, Pulau Tidung ABSTRACTTidung Besar island as part of  the Seribu Islands is located at the Jakarta Province which become a marine tourism destination. Development of marine tourism could affect condition of economic, social-culture, and ecology, therefore need to be evaluate marine tourism development. The aims of the research are to know development of marine tourism, impact of marine tourism development based on economic, sosial-culture, ecology aspects and to evaluate development of marine tourism using tourist life cycle . The methods used in this research was descriptive method with qualitative analysis. Data obtained by distributed quistionnaires to 98 residents, 50 tourists and 10 staffs. Since the year 2014 to 2016, the visitors of Tidung Besar Island was decline due to lack of improvement or addition for supporting facilities. The marine tourism activities impact on economic aspect are increasing employment, the sosio-culture impact is lowering the “Gotong Royong” activities, and the ecological impact are good concern of the government and resident for coral reefs and better sanitation and availability of clean water. Evaluation of marine tourism development at the Tidung Besar Island is in the stagnation level toward decline/ rejuvenation.Keywords : Evaluation, Development, Impact, Marine Tourism, Tidung Island
HUBUNGAN PANJANG BERAT DAN FAKTOR KONDISI TERIPANG HITAM (Holothuria atra) DI KAWASAN TAMAN NASIONAL LAUT KARIMUNJAWA Length-Weight Relationship and Condition Factor of Black Sea Cucumber (Holothuria atra) in Karimunjawa National Marine Park Area Panuluh, Citraningrum Mawa; Sulardiono, Bambang; Latifah, Nurul
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 4 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.527 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i4.26552

Abstract

Teripang Hitam (H. atra) merupakan jenis biota laut yang memiliki nilai ekologis dan ekonomis di perairan Taman Nasional Laut Karimunjawa. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan panjang berat, faktor kondisi dan analisis perbedaan antara Holothuria atra(teripang hitam) yang hidup di zona perairan budidaya dan wisata dengan yang hidup di zona rehabilitasi. Pengambilan sampel teripang dilakukan pada siang hari di 3 stasiun zona budidaya dan wisata yaitu Menjangan Kecil, Menjangan Besar dan perairan sekitar Wisma Apung serta 1 stasiun zona rehabilitasi yaitu di Perairan Alang-alang. Pengamatan sampel teripang dilakukan secara sensus. Total sampel yang diperoleh di Alang-alang sebanyak 30 individu dengan kisaran panjang 13-43 cm, berat 49-514 g, Sampel di Menjangan kecil sebanyak 17 individu dengan kisaran panjang 9-26 cm, berat 20-260 g, sampel Menjangan Besar sebanyak 5 individu kisaran panjang 16-23 cm berat 66-193 g dan sampel di perairan sekitar Wisma Apung sebanyak 17 sampel kisaran panjang 14-28 cm berat 23-260 g. Pertumbuhan teripang di masing-masing perairan menunjukkan pola pertumbuhan allometrik negatif yang artinya penambahan panjang lebih cepat daripada penambahan bobot. Nilai faktor kondisi Fulton teripang hitam di Alang-alang 1,34, Menjangan Kecil 1,91, Menjangan Besar 1,89, serta perairan sekitar Wisma Apung 1,37, menunjukkan teripang hitam di perairan yang banyak pengunjung lebih gemuk daripada teripang hitam di Alang-alang yang sepi pengunjung, serta faktor kondisi berat relatif alang-alang 104,27, Menjangan Kecil 104,25, Menjangan Besar 105,59 dan Wisma Apung 108,22 masing-masing perairan semua diatas 100 menunjukkan perairan tersebut menyediakan surplus makanan yang cukup.  Black Sea Cucumber (H. atra) is a type of marine biota that has ecological and economic value in the waters of the Karimunjawa Marine National Park. The purpose of this study was to analyze the relationship length-weight, condition factor and analysis of differences between Holothuria atra (black sea cucumbers) that live in cultivation and tourism zones and those that live in rehabilitation zones. Sea cucumber sampling is conducted at noon in 3 stations of the cultivation and tourism zones, namely Menjangan Kecil, Menjangan Besar and the waters around Wisma Apung and 1 rehabilitation zone station in Alang-alang. Observation of sea cucumber samples is done by census. Total samples obtained in Alang-alang were 30 individuals with a range of length 13-43 cm, weight 49-514 g, sampel in Menjangan Kecil were 17 individuals with a range of length 9-26 cm, weight 20-260 g, sampel in Menjangan Besar were 5 individuals with a range of length 16-23 cm, weight 66-193 g, and last sampel in waters around Wisma Apung were 17 individuals with a range of length 14-28 cm weight 23-260 g. The growth of sea cucumbers in each waters shows a negative allometric growth pattern which means that the addition of the length is faster than the addition of the weight. Fulton’s condition factor values of black sea cucumber in Alang-alang 1.34, Menjangan Kecil 1.91, Menjangan Besar 1.89, and waters around Wisma Apung 1.37, shows that black sea cucumbers in the waters that many visitors are fatter than black sea cucumbers in the Alang-alang which deserted visitors, and the relative weight condition factors of Alang-alang 104.27, Menjangan Kecil 104.25, Menjangan Besar 105.59 and Wisma Apung 108.22 each of the waters above 100 indicates that these waters provide sufficient food surplus.
ASPEK REPRODUKSI BULU BABI (Sea Urchin) DI PERAIRAN PULAU MENJANGAN KECIL, KEPULAUAN KARIMUNJAWA, JEPARA (Aspects Reproduction of Sea Urchin in the Waters of Menjangan Kecil Island, Karimunjawa Islands, Jepara) Puspitaningtyas, Indrie Hapsari; Rudiyanti, Siti; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 4 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.78 KB)

Abstract

Gugusan terumbu karang yang terdapat di Kepulauan Karimunjawa termasuk ke dalam gugusan terumbu karang tepi dengan kisaran penutupan karang keras antara 6,7% - 68,9% dan indeks keragaman berkisar antara 0,43 - 0,91. Salah satu biota yang berasosiasi di ekosistem terumbu karang adalah bulu babi, yang merupakan biota filum echinodermata yang tersebar dari daerah intertidal dangkal hingga ke laut dalam. Gonad bulu babi di pasaran dikenal sebagai uni atau roe merupakan makanan populer dan salah satu komoditi utama di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Chili, Rusia, Prancis, Barbados dan Jepang. Penangkapan hingga overfishing menjadi masalah utama di berbagai negara, yang  akan mengakibatkan penurunan jumlah populasi bulu babi di perairan. Penelitian ini dilakukan di Pulau Menjangan Kecil, Karimunjawa pada bulan Mei 2017. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui aspek reproduksi bulu babi melalui nilai IKG, nilai TKG, dan Fekunditas Bulu Babi di Pulau Menjangan Kecil. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap yaitu, tahap sampling lapangan yang terdiri dari pengambilan sampel bulu babi, dengan metode acak menggunakan kuadran transek, dan pengukuran kualitas perairan. Tahap analisis laboratorium yang terdiri dari analisis Indeks Kematangan Gonad, Tingkat Kematangan Gonad, dan Fekunditas. Penelitian ini ada dua spesies yang ditemukan di lokasi sampling yaitu Diadema setosum dan Echinothrix calamaris. Hasil yang diperoleh untuk bulu babi jenis Diadema setosum nilai IKG berkisar antara 1,66% - 4,26% dan fekunditas berkisar antara 641 butir – 1.087 butir dan bulu babi jenis Echinothrix calamaris nilai IKG berkisar antara 5,32% - 7,54% dan fekunditas berkisar antara 1.159 butir – 2.192 butir, sedangkan nilai TKG kedua jenis bulu babi berada pada fase 5 (lima) yaitu tahap memijah.  The coral reefs found in the Karimunjawa Islands are included in the cluster of coral reefs with hard coral cover ranges between 6.7% - 68.9% and the diversity index ranges from 0.43 to 0.91. One of the associated biota in the coral reef ecosystem is the sea urchin, which is an echinodermata physiological biota scattered from the shallow intertidal region to the deep sea. The sea urchin gonad on the market is known as uni or roe is a popular food and one of the main commodities in some countries such as USA, Canada, Chile, Russia, France, Barbados and Japan. Overfishing is a major problem in many countries, which will lead to a decrease in the number of sea urchin populations. This research was conducted in Menjangan Kecil Island, Karimunjawa in May 2017. The purpose of this research is to know the reproductive aspect of the sea urchin through IKG value, TKG value, and Fecundity of sea urchin on Menjangan Kecil Island. This research was conducted in two stages, field sampling stage consisting of sampling of sea urchins, by random method using transect quadrant, and measurement of water quality. Phase of laboratory analysis consisting of Gonad Maturity Index analysis, Gonad Maturity Level, and Fecundity. The study used only two species found at the sampling site is Diadema setosum and Echinothrix calamaris. The results obtained for Diadema setosum type IKG ranged from 1.66% - 4.26% and fecundity ranged from 641 grains - 1.087 grains and Echinothrix calamaris type IKG in the range of 5.32% - 7.54% and fecundity ranges from 1,159 grains - 2,192 grains, while the TKG value of both types of sea urchins is in phase 5 (five) or spawning phase.
HUBUNGAN KELIMPAHAN EPIFAUNA YANG BERASOSIASI DENGAN LAMUN PADA TINGKAT KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PANTAI PULAU PANJANG, JEPARA Herfina, -; Ruswahyuni, -; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.314 KB)

Abstract

Pulau panjang merupakan salah satu wilayah di perairan Kabupaten Jepara yang memiliki keanekaragamanan ekosistem perairan, antara lain adalah ekosistem lamun yang merupakan tempat hidup bagi biota-biota perairan yang salah satunya adalah epifauna. Secara ekologi, padang lamun mempunyai beberapa fungsi penting di daerah pesisir yang salah satunya yaitu berfungsi menstabilkan dasar-dasar lunak di mana kebanyakan spesies tumbuh, terutama dengan sistem akar yang padat dan saling menyilang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan epifauna yang berasosiasi pada kerapatan lamun yang berbeda dan mengetahui hubungan kelimpahan epifauna yang berasosiasi pada kerapatan lamun yang berbeda diperairan pantai pulau panjang jepara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2012, di perairan pantai Pulau Panjang, Kabupaten Jepara.  Metoda sampling yang digunakan adalah metoda pemetaan sebaran lamun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey yang bersifat deskriptif. Tingkat kerapatan lamun dibagi menjadi 3 stasiun dengan kerapatan yang berbeda yaitu kerapatan jarang, kerapatan sedang dan kerapatan padat, dengan luasan yang sama (5 m x 5 m). Pengambilan sampel epifauna dilakukan pada 9 titik sampling dengan cara pengambilan permukaan substrat yang berbeda didalam kuadran transek dengan menggunakan cetok dan disaring dengan menggunakan saringan ukuran 1 mm dan diberi formalin 4 %. Sampel disortir di laboratorium dan diidentifikasi. Dari hasil pengamatan diketahui terdapat 5 spesies lamun pada ketiga stasiun dengan jumlah yang berbeda. Jenis lamun yang ditemukan adalah jenis Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp, Halodule sp dan Syringodium sp. Kerapatan lamun yang jarang dengan jumlah individu 15.923 individu, kerapatan lamun sedang berjumlah 36.546 individu dan kerapatan lamun padat dengan berjumlah 53.182 individu. Kelimpahan epifauna yang ditemukan di daerah kerapatan lamun jarang yaitu 118 individu/m2 dari 17 spesies, sedangkan pada daerah kerapatan lamun sedang didapatkan 149 individu/m2 dari 15 spesies dan untuk kerapatan padat didapatkan 170 individu/m2 dari 19 spesies. uji korelasi  pearson didapatkan (nilai Sig (2-tailed pada output SPSS) sebesar 0, 698 ( ≥ 0,05), dengan kesimpulan H0 diterima dan H1 ditolak  yaitu tidak ada perbedaan yang signifikan antara struktur hewan epifauna pada kerapatan lamun yang berbeda di pulau Panjang Jepara. Selain itu, didapatkan nilai korelasi antara hewan epifauna dengan kerapatan lamun sebesar -0, 457. menunjukkan tidak adanya hubungan yang erat antara hewan epifauna dengan kerapatan lamun di Pulau Panjang.
STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON UNTUK MENGEVALUASI TINGKAT PENCEMARAN DALAM RANGKA PENGELOLAAN SUNGAI KALIGARANG SEMARANG Utami, Dian Ayu Sapta Nur; Afiati, Norma; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sungai Kaligarang merupakan salah satu sungai terbesar di Kota Semarang yang berperan penting bagi masyarakat sekitarnya, karena menyediakan bahan baku air bersih dan di sisi lain juga dianggap sebagai tempat pembuangan sampah bagi masyarakat di sekitarnya, yang berdampak pada pencemaran perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan status mutu air berdasarkan tiga pendekatan, yaitu menggunakan struktur komunitas fitoplankton untuk menghitung kelimpahan fitoplankton, jumlah genera, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, indeks dominansi; melalui perhitungan SI dan TSI; dan menggunakan Kepmen LH No. 115 Tahun 2003 berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001.Penelitian yang dilaksanakan bulan Desember 2013 ini menggunakan metode studi kasus yang bersifat deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan pada tiga stasiun dimana setiap stasiun terdiri dari tiga titik. Pengambilan sampel fitoplankton menggunakan plankton net, kemudian diawetkan menggunakan Lugol iodine dan diidentifikasi di laboratorium. Analisis data yang dilakukan yaitu membandingkan data yang diperoleh dengan baku mutu perairan yang disyaratkan oleh pemerintah, kemudian data yang diperoleh diolah dengan metode Storet serta menentukan tingkat pencemaran air melalui perhitungan SI dan TSI.Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas fitoplankton yang diperoleh adalah kelas Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae, Florideophyceae, Euglenophyceae, Charophyceae dan Synurophyceae. Komunitas fitoplankton yang mempunyai kelimpahan tinggi adalah Nitzschia. Kelimpahan fitoplankton yang didapatkan tergolong sedang (mesotroph). Parameter kualitas air sesuai dengan baku mutu yang disyaratkan oleh pemerintah, kecuali kandungan fosfat yang melebihi persyaratan yang telah ditentukan. Berdasarkan perhitungan SI, TSI dan metode Storet menunjukkan skor -8 yang mempunyai arti Sungai Kaligarang termasuk kelas B dengan mutu air baik tetapi tercemar ringan.  Kaligarang is one of the largest river in Semarang City. The river has an important role for the surrounding community, as it provides raw materials for clean water and also regarded as a waste basket for communities around the river. The purpose of this study was to determine pollution level in the river by means of three approaches i.e. phytoplankton community, Saprobic Index (SI) and Tropical Saprobic Index (TSI), as well as water quality standard of the Minister of Environment Decree No. 115, 2003 pursuant to rule the Government of the Republic of Indonesia No. 82, 2001. This study was conducted in December 2013 by using a descriptive method. Sampling was conducted at three stations, where each station consists of three points. Phytoplankton sampled passively by sieving 100 liter waters into the net bucket, preserved in Lugol iodine and identified in the laboratory. Phytoplankton data were analysed  for their indices of community structure and Saprobic indices, whereas the routine physical and chemical data were analysed by means of Storet methods according to the Minister of Environment Decree No. 115, 2003.The results showed that phytoplankton community consist of 7 classes, i. e. Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae, Florideophyceae, Euglenophyceae, Charophyceae and Synurophyceae. As a summary of the findings, Kaligarang river is lightly polluted. This has been withdrawn from the result of the study, i. e. planktonic diversity and dominance indices ranging from --- to --- and --- to --- consecutively, Saprobic and Tropic Saprobic Indices ranging from --- to --- and --- to ---, whereas Storet calculations gave a scor -8, means this B category river is still in good water quality but lightly polluted.
STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA MANGROVE WONOREJO, KECAMATAN RUNGKUT SURABAYA Wahyuni, Sri; Sulardiono, Bambang; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.082 KB)

Abstract

Ekowisata di hutan mangrove di wilayah Surabaya mulai berkembang. Agar perkembangan ini tidak merusak lingkungan dan sumberdaya di hutan mangrove diperlukan strategi pengembangan yang tepat. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian ini dengan tujuan mengetahui potensi wisata yang ada dan merumuskan strategi untuk pengembangan ekowisata mangrove Wonorejo, Kecamatan Rungkut Surabaya. Untuk itu dilakukan pengumpulan informasi terhadap ide, kepercayaan dan persepsi masyarakat. Data dikumpulkan dengan kuisioner yang ditujukan kepada pengunjung, masyarakat lokal dan pengelola ekowisata. Pertanyaan yang diberikan adalah tentang persepsi, partisipasi, daya tarik wisata dan pengembangan wisata. Data selanjutnya dianalisis dengan SWOT. Potensi wisata yang ada pada ekowisata mangrove Wonorejo adalah keanekaragaman mangrove dan burung yang berasosiasi di dalamnya serta keindahan alam di kawasan ekowisata mangrove Wonorejo. Konsep strategi pengembangan ekowisata mangrove adalah mengembangkan konservasi dan rehabilitasi mangrove sebagai salah satu program wisata, meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat wisata, mempertegas penegakan hukum dan aturan untuk menjaga fungsi ekosistem mangrove dan penguatan konsep ecotourism di kawsan ekowisata mangrove Wonorejo, Kecamatan Rungkut Surabaya. Ecotourism in mangrove forests in the Surabaya began to grow. So this development does not damage the environment and resources in the mangrove forest needed the right development strategy. Based on this, The aims of this research were to knew the existing tourism potential and found the right strategy for the development of mangroves ecotourism Wonorejo, Kecamatan Rungkut Surabaya. So collecting information on the ideas, beliefs and perceptions. Data were collected by questionnaire addressed to visitors, local communities and organizer of mangroves ecotourism Wonorejo. The questions are about perception, participation, tourist attraction and tourism development. Then data were analyzed by SWOT. Tourism potentials in mangrove ecotourism Wonorejo were the diversity of mangrove and bird and the natural beauty of the mangrove ecotourism. The concept of eco-tourism development strategy are develop conservation and rehabilitation of mangroves as one of the tourism programes, increase the participation and empowerment tourism communities, reinforce the rule of law and the rules to keep the preservation of mangrove ecosystem and building of ecotourism perseptions.
Co-Authors - Herfina - Ruswahyuni Abhibawa, Ario Adi, Micael Tri Anggoro Agus Hartoko Ali Djunaedi Anhar Solichin Anjani, Putri Dewi Arif Darmawan Arif Rahman Asriningpuri, Degrita Herdianti Azzam, Faudzi Ath Tho Bani Setyawan Boedi Hendrarto Chrysalina Indrastuti Churun Ain Dewinta, Raisa Diah Ayuningrum, Diah Dian Ayu Sapta Nur Utami Djoko Suprapto Dyah Pertiwi Jaya Wardhani, Dyah Pertiwi Jaya Egar Dwi Prayudha Elrin Meivian Mongi, Elrin Meivian Erna Agustin Nurcahyani, Erna Agustin Fatima, Shintia Nurul Fauzi, Reyhan Fathullah Firdaus, Nur Salsabila Frida Purwanti Guliano Gema Adi Satria Haeruddin . Haeruddin Haeruddin Harahap, Malasari Hayu Asmawati Helmi Ardi, Helmi Herda Mustika Sari, Herda Mustika Hidayaturrohmah, Fitriana Huda, Hasdin Nur Hutami, Ganjar Hesti Ika Novalia Sihombing, Ika Novalia Indah Abrianti S, Indah Abrianti S Khasani, Andro Laksana, Mahalani Jati Liana, Tri Budi Maulina Septia Prahastuti Mauludi, Fadhil Max Rudolf Muskananfola Muhammad Sulaiman Muhammad Yusuf Muhar Azhari Mustofa Nitisupardjo Mutmainah, Ana Niniek Widyorini Nisa, Amida Urfah Khoirun Noky Rizky Samudra, Noky Rizky Norma Afiati Nugroho, Adhi Nurfaiza, Salma nurul latifah Nurwinda Hikmawati Nyayu Sandra Aprianti, Nyayu Sandra Oktavianto Eko Jati Pahingguan, Prayogi Panuluh, Citraningrum Mawa Prasasti, Lingga Dewi Prijadi Soedarsono Pujiono W. Purnomo Pujiono Wahyu Purnomo Puspitaningtyas, Indrie Hapsari Raden Ario Rahmatuloh, Irzani Hamzah Setya Raidie Bakhtiar Ramadhan, Mochammad Rizqy Ramanda, Okky Aditya Renni Yuniati Rina Susanti Ristina, Mafi Rizky, Fadhila Novita Rizqina, Cahya Ryanditama Ardiannanto Sahala Hutabarat Sari, Desy Melinda Setiawan, Bagus Putro Siahaan, Sahala Bonardo Sihotang, Silvyani Putri Silitonga, Yohana T. E. Siti Rudiyanti Sofiyani, Risna Gina Sonia Wulan, Sonia Sri Wahyuni Supriharyono - Supriharyono Supriharyono Suradi Wijaya Saputra Suryanti Sutrisno Anggoro Taufani, Wiwiet Teguh Ucik Ramita Sofiana, Ucik Ramita Yaya Fitriyah, Yaya