Bambang Sulardiono
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan,Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedarto,SH Tembalang, Semarang

Published : 72 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN SALINITAS TERHADAP PERKEMBANGAN TELUR CEPHALOPODA YANG DIDAPAT PADA PERAIRAN PANTAI BONDO KABUPATEN JEPARA Samudra, Noky Rizky; Hartoko, Agus; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.974 KB)

Abstract

Cephalopoda merupakan sumberdaya perikanan yang bernilai ekonomis penting. Sebagian besar produksi Cephalopoda di Indonesia berasal dari tangkapan di alam. Kegiatan penangkapan sudah saatnya disertai dengan upaya pengaturan penangkapan dan kegiatan budidaya yang meliputi upaya pemijahan (hatchery) dan pelepasan benih ke alam (restocking). Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui pengaruh dan hubungan parameter oseanografi salinitas untuk pertumbuhan dan perkembangan, kecepatan penetasan, waktu penetasan kapsul telur dan embrio Cephalopoda serta perkembangannya. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen laboratories dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dengan 3 kali ulangan. Perlakuan pertama (A) dengan salinitas 20 ppt, perlakuan kedua (B) dengan salinitas 25 ppt, perlakuan ketiga (C) dengan salinitas 30 ppt. Penelitian ini juga melakukan 1 pengukuran pada habitat alami untuk dijadikan perbandingannya. Variabel yang di ukur adalah panjang lebar kapsul telur, panjang lebar telur kemudian di hitung nilai laju pertumbuhan spesifik (SGR). Variabel yang diamati dan dicatat adalah lama inkubasi, periode penetasan, dan perkembangan embrio. Data hasil penelitian diuji kenormalan datanya dan diolah  menggunakan analisis sidik ragam, sedangkan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan di uji menggunakan uji-F dengan bantuan SPSS dan untuk mengetahui pola hubungannya dilakukan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukan perlakuan salinitas dan suhu memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap  pertumbuhan panjang dan lebar kapsul serta panjang dan lebar telur Sepioteuthis lessoniana dan Sepia officinalis dibuktikan dengan hasil perhitungan melalui uji anova untuk nilai F-hitung>F-tabel. Lama inkubasi pada Sepioteuthis lessoniana tercepat yaitu 18 hari dengan waktu penetasan selama 3 hari pada salinitas 30 ppt dengan suhu 29-30 oC dan 31 ppt dengan suhu 28-30,5o C, sedangkan untuk Sepia officinalis lama inkubasi tercepat adalah 15 hari dengan waktu penetasan 2 hari pada salinitas 30 ppt dengan suhu 29-30o C dan 31 ppt dengan suhu 28-30,5o C. Semakin tingi salinitas maka semakin cepat perkembangan dan pertumbuhaan, lama inkubasi dan periode penetasan kapsul telur dan telur selama masa inkubasi. The fishery resource is cephalopoda value economically important. Most of the production of cephalopoda in Indonesia originating from catches in nature. Activities catching it time accompanied by the effort of setting arrest of aquaculture activities and covering the efforts of spawning (hatchery) and release the seed to nature (restocking). This research aims to know us salinity that are appropriate for the developmental growth, speed hatching, egg capsules and hatching period of embryonic development and cephalopoda. Research methods used are experimental laboratories.The research methods used are experimental laboratories by using a complete Randomized Design (RAL), which consists of 3 treatment with three replicates. The first treatment (A) with a salinity of 20 ppt, the second (B) treatment with a salinity of 25 ppt, a third treatments (C) with a salinity of 30 ppt. The study also do 1 measurement on the natural habitat for the comparison. The research variable are the length of the egg capsule, the length of egg and calculate the value of the specific growth rate (SGR). The observed variables period of incubation, hatching time, and the period of embryonic development. Data research results was normally of test and analysis using fingerprints, are to know the differences between the treatments tested using test-F using SPSS and to know the pattern of relationship done regression analysis. The research results show the temperature and salinity treatment give very significant influence toward growth capsule length and width as well as length and width egg Sepioteuthis lesoniana and Sepia officinalis, This is proved by the result of the anova calculation for the value of the F-count > F-table. Sepioteuthis lessoniana long incubation on fastest 18 days with a period of hatching for 3 days at a salinity of 30 ppt with a temperature of 29-30° C and 31 ppt with a temperature of 28 -30, 5o C, sepia officinalis medium for long ikubasi the fastest is 15 days with a period of 2 days of hatching on the salinity of 30 ppt with a temperature of 29-30° C and 31 ppt with a temperature of 28 -30,5o C. Higher salinity support faster development and growth, lenght incubation period hatching eggs and egg capsules during the incubation period.
HUBUNGAN JENIS SEDIMEN DENGAN KERAPATAN MANGROVE DI DESA TIMBULSLOKO, DEMAK Mauludi, Fadhil; Sulardiono, Bambang; Haeruddin, Haeruddin
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 4 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (944.934 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i4.22566

Abstract

Timbulsloko adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Sayung, Demak. Daerah ini menjadi salah satu kawasan yang mengalami erosi secara terus menerus yang mengakibatkan luas daerahnya menjadi semakin berkurang. Dominasi mangrove yang ditemukan di desa ini adalah Rhizophora sp. dan Avicennia sp.. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis sedimen, kerapatan mangrove serta hubungan jenis sedimen dengan kerapatan mangrove di Desa Timbulsloko, Demak. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2018. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif yang bersifat deskriptif dengan pemilihan lokasi penelitian menggunakan teknik purposive sampling. Lokasi sampling dibagi menjadi 3 stasiun, tiap stasiun dibagi menjadi 6 titik sampling. Hasil yang diperoleh dari jenis sedimen ketiga stasiun didominasi tekstur pasir dengan persentase pasir stasiun 1 68,78%, pasir stasiun 2 68,42%, dan pasir stasiun 3 65,91%. Bahan organik sedimen pada stasiun 1 berkisar 1,08-1,48%, stasiun 2 berkisar 0,28-1,6%, dan stasiun 3 berkisar 0,88-2,32%. Salinitas sedimen pada ketiga stasiun berkisar antara 29-30‰. Kerapatan mangrove di lokasi penelitian Desa Timbulsloko didominasi oleh jenis mangrove Avicennia sp.. Nilai kerapatan mangrove stasiun 1 berkisar 2066 - 4550 pohon/ha, stasiun 2 berkisar 2519 - 10000 pohon/ha, dan stasiun 3 berkisar 5986 - 18511 pohon/ha. Hubungan jenis sedimen dengan kerapatan mangrove jika dilihat dari analisa PCA, berdasarkan nilai loading factor kedua faktor yang terbentuk pada ketiga stasiun menunjukkan tingginya korelasi antar variabel. Sedangkan, jika dilihat dari hasil analisa regresi linear berganda menunjukkan bahwa hubungan jenis sedimen dengan kerapatan mangrove di ketiga stasiun mempunyai hubungan yang sangat kuat.  Timbulsloko is one of the villages located in Sayung District, Demak. This area became one of the areas that experienced continuous erotion which resulted the area became decreasing. The dominance of mangroves found in this area is Rhizophora sp. and Avicennia sp. The purpose of this research is to know the type of sediment texture, mangrove density and the relation of sediment texture with mangrove density in Timbulsloko village, Demak. This study was conducted in April 2018. The method of this research is descriptive quantitative method and using purposive sampling technique. Sampling area is divided into 3 stations, each station divided into 6 sampling points. The results showed that sediment types from three stations were dominated by sand texture with the percentage of station 1 sand 68.78%, station sand 2 68.42%, and station sand 3 65.91%. Sediment organic material at station 1 ranged from 1.08 to 1.48%, station 2 ranged from 0.28 to 1.6%, and station 3 ranged from 0.88 to 2.32%. Sediment salinity in three stations ranged from 29-30 ‰. Mangrove density in Timbulsloko Village is dominated by Avicennia sp.. The mangrove density values at station 1 ranged from 2066 to 4550 trees / hectare, station 2 ranged from 2519 to 10000 trees / hectare, and station 3 ranged from 5986 to 18511 trees / hectare. The relationship between the type of sediment and the density of mangroves when viewed from the PCA analysis, based on the value of loading factors from two factors formed on three stations showed the high correlation between variables. Meanwhile, when viewed from the results of multiple linear regression analysis shows that the relationship between the type of sediment and the density of mangroves in three stations has a very strong relationship. 
STRATEGI PENGEMBANGAN OBYEK WISATA ALAM PANTAI SUWUK KABUPATEN KEBUMEN JAWA TENGAH Mongi, Elrin Meivian; Purwanti, Frida; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.43 KB)

Abstract

Wisata alam merupakan pemanfaatan sumberdaya alam atau daya tarik panorama alam untuk kegiatan wisata. Salah satu obyek wisata alam di Kabupaten Kebumen adalah Pantai Suwuk. Tujuan penelitian untuk  mengetahui potensi daya tarik wisata alam di Pantai Suwuk; mengetahui profil dan persepsi pengunjung, tingkat kepuasan wisata, kepedulian lingkungan, dan menyusun strategi pengembangan wisata alam Pantai Suwuk Kebumen. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dimana potensi daya tarik wisata disajikan dengan piktogram. Pengambilan sampel responden dilakukan dengan menggunakan teknik accidental sampling sedangkan penyusunan strategi pengembangan wisata dilakukan menggunakan teknik FGD (Forum Group Disscussion) dan analisis SWOT. Pantai Suwuk memiliki luas 5,5 ha dengan 3 formasi tumbuhan pantai yaitu mangrove, pes-caprae, dan barringtonia. Potensi daya tarik wisata pantai Suwuk meliputi wisata alam dan buatan dengan 9 atraksi yaitu pemandangan alam (skor 1839); museum pesawat terbang (skor 1797); penyewaan perahu (skor 1671); kuliner (skor 1671); kebun binatang (skor 1653); penyewaan ATV (skor 1548); rekreasi berenang (skor 1473); berkuda (skor 1244) dan memancing (skor 1053). Pengunjung sebagian besar mendapat informasi OWA Pantai Suwuk secara lisan (88.89 %); dengan tujuan rekreasi 73.33%; frekuensi kunjungan 3-5 kali (35.56%) dan datang bersama teman 42.22 %, dengan lama kunjungan 1-2 jam (22.22%) serta 62.22 % menyatakan biaya wisata termasuk cukup murah. Tingkat kepuasan pengunjung termasuk dalam kategori puas dan kepedulian terhadap lingkungan termasuk dalam kategori sangat peduli. Strategi prioritas dan alternatif pengembangan wisata meliputi pengembangan kompentensi, pengembangan fasilitas, keterlibatan masyarakat, peningkatan kerjasama, peningkatan pemahaman lingkungan, peningkatan peran lembaga, peningkatan konsep pariwisata alam, pengembangan wisata edukasi, dan pengelolaan sampah serta kebersihan. Nature tourism is usage of natural resources or nature panorama for tourism activities. One of nature tourist attraction in the Kebumen district is the Suwuk beach. The research aims to identify tourism potential of natural attractions on the Suwuk beach; to know profile and perceptions of the visitors, tourist satisfaction levels, environmental awareness, and to set nature tourism development strategy of Suwuk Beach Kebumen. The research used a qualitative descriptive approached in which potency of tourism attraction presented in pictogram. Sampling respondents were conducted using accidental sampling while tourism development strategies was set up using FGD technique and SWOT analysis. The Suwuk beach has an area of 5.5 ha with 3 coast vegetation formations ie mangrove, pes-caprae, and Barringtonia. Potency of touriwm attraction on the Suwuk coast include tourism on natural and artificial consist of 9 attractions ie panoramic view (score 1839); aircraft museum (score 1797); boat rentals (score 1671); culinary (score 1671); the zoo (score 1653); ATV rentals (score 1548); recreational swimming (score 1473); horse riding (score 1244) and fishing (score 1053). Most visitors got verbal information (88.89 %); with the purpose for recreation (73.33%); frequency of the visit 3-4 times (35.56%); and come with friends (42.22%) with stay duration 1-2 hours (22.22%); and stated that the destination is in cheap cost The visitor satisfaction level are in satisfied category, environmental awareness in the level of very concern. Priorities and alternative of tourism development strategies include develop competency, facilities, community involvement, collaboration, increase environmental awareness, the role of institutions, improve the nature tourism concept, develop educational tourism and waste management as well as hygiene.
ANALISA SEBARAN MPT, KLOROFIL-a DAN PLANKTON TERHADAP TANGKAPAN TERI (Stolephorus spp.) DI PERAIRAN JEPARA Hikmawati, Nurwinda; Hartoko, Agus; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.008 KB)

Abstract

Aktivitas manusia dapat menimbulkan pengaruh terhadap ekosistem. Pengaruh ini salah satunya menimbulkan penurunan kualitas perairan Jepara. Penurunan kualitas perairan dikhawatirkan dapat berdampak pada hasil tangkapan. Sedikitnya hasil tangkapan ikan teri (Stolephorus spp.) bagan tancap sebagai hasil tangkapan dominan disebabkan antara lain karena turunnya kualitas perairan dan lokasi penancapan bagan tancap kurang sesuai. Oleh karena itu, perkembangan informasi dan geografis diharapkan dapat membantu pengelolaan sumberdaya perikanan, misalnya melalui peta sebaran MPT, klorofil-a, fitoplankton dan zooplankton yang diduga dapat berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan teri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran spasial konsentrasi MPT, klorofil-a, fitoplankton, zooplankton dan hasil tangkapan teri; kemudian untuk mengetahui komposisi plankton yang terdapat dalam saluran pencernaan ikan teri serta mengetahui hubungan MPT, klorofil-a, fitoplankton dan zooplankton terhadap hasil tangkapan ikan teri bagan tancap. Metode penelitian secara eksploratif dan metode sampling secara purposive random sampling. Pengambilan sampel air dilakukan di permukaan bersamaan pengambilan sampel plankton secara horizontal dan aktif ditarik menggunakan kapal. Hasil yang diperoleh digunakan sebagai peta sebaran spasial yang menggambarkan kualitas perairan dengan metode Kriging. Uji statistik regresi polinomial dan regresi berganda digunakan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap hasil tangkapan. Hasil yang diperoleh bahwa konsentrasi MPT tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan, dengan konsentrasi 50 – 100 mg/l sehingga cukup bagus bagi perikanan dan dapat menurunkan kualitas bagi perikanan bila konsentrasinya > 81 mg/l. Konsentrasi klorofil-a 0,056 – 0,117 mg/m3 sehingga masih normal dan bagus bagi perikanan, namun tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan. Fitoplankton dan zooplankton berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan teri, didukung dengan pencacahan komposisi perut ikan teri bahwa zooplankton persentasenya 93,48 % dan fitoplankton hanya 6,52 %. Human activities influence the ecosystem. For example is water quality degradation in Jepara.The water quality degradation which likely to influence the catch. Less Anchovy (Stolephorus spp.) is dominant catch of bamboo platform liftnet is caused by water quality degradation and location while placing bamboo platform liftnet not appropriate. Therefore, the development of Geographic Information System is expected to help fishery resource management, for instance by providing MPT, chlorophyll-a, phytoplankton and zooplankton distribution maps that could affect anchovy cathes. This study aims to determine the spatial distribution of MPT,chlorophyll-a, phytoplankton, zooplankton and anchovy catches; to determine the composition of plankton found in the alimentary tract of anchovy and to determine the relationship betwen MPT, chlorophyll-a, phytoplankton, zooplankton and anchovy catch from bamboo platform liftnet. Explorative research method and purposive sampling were utilized in this research. Water and plankton sampling were conducted in the same surface horizontally and actively by using boat. The results were used to make spatial  distribution map describing water quality. Polynomial and multiple regression analyses were conducted to discover its effect on the catch. The results indicated that the concentration of MPT was not affect the anchovy catch, the consentration of   50 – 100 mg/l was adequate for fishery and quality of fishery is likely to degrade if the concentration > 81 mg/l. The concentration of chlorophyll-a 0,056 – 0,117 mg/m3 was considered normal and suitable for fishery and it was not negatively impact the catch. Phytoplankton and zooplankton affected the anchovy catch as the enumeration of anchovy stomach composition showed that zooplankton and phytoplankton percentages were 93.48 % and 6.52 % repectively.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN OBYEK WISATA ALAM PANTAI SUWUK KABUPATEN KEBUMEN JAWA TENGAH Wardhani, Dyah Pertiwi Jaya; Sulardiono, Bambang; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.39 KB)

Abstract

Obyek wisata alam Pantai Suwuk merupakan salah satu obyek wisata yang ada di Kabupaten Kebumen. Terletak pada jalur lintas selatan Pulau Jawa, yakni di desa Tambakmulyo. Keindahan pantai dan alam yang masih alami menjadi daya tarik bagi wisatawan, sehingga obyek wisata tersebut sangat berpotensi untuk dikembangkan. Akan tetapi terdapat permasalahan yaitu minimnya partisipasi masyarakat setempat dalam ikut serta mengelola obyek wisata alam Pantai Suwuk tersebut. Oleh karena itu, rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana partisipasi masyarakat setempat dalam mengelola obyek wisata alam Pantai Suwuk saat ini. Metode yang digunakan dalam penelitan ini bersifat deskriptif. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara terstruktur terhadap 93 responden dengan teknik purposive sampling. Selain itu, dilakukan  observasi  Data hasil penelitian,  selanjutnya dilakukan analisis statistika deskriptif dengan teknik menggunakan skala likert dengan lima kategori yaitu (1) sangat tidak terlibat; (2) tidak terlibat; (3) ragu; (4) terlibat; (5) sangat terlibat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden sangat terlibat 1%, terlibat 12,4%, Ragu 21,8%, Tidak terlibat 50,62%, dan sangat tidak terlibat 14,1%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa partisipan masyarakat dalam pengelolaan obyek wisata alam masih sangat minim, meskipun wilayah ini memiliki sumberdaya alam yang menunjang  . Semestinya masyarakat ikut diberdayakan dalam sistem pariwisata melalui pendekatan partisipatif melalui perantara pemerintah desa.Natural attractions suwuk Beach is one of the attractions that exist in Kebumen. Located on the path across the southern island of Java, namely in the village Tambakmulyo. Beautiful beaches and unspoiled nature becomes an attraction for tourists, so tourism is very potential to be developed. But there are problems, namely the lack of participation of local communities to participate in managing the natural attractions of the suwuk Beach. Therefore, the formulation of the problem in this research is how the participation of local communities in managing natural attractions suwuk Beach today. The method used in this research is descriptive. Data were collected through a structured interview of the 93 respondents with a purposive sampling technique. In addition, the results of research carried out observation data, then performed a descriptive statistical analysis technique using a Likert scale with five categories: (1) is not involved; (2) not engaged; (3) doubt; (4) involved; (5) is very involved. The results showed that 1% of the respondents are very involved, involved 12.4%, 21.8% doubt, not involved 50.62%, and very involved 14.1%. The study concluded that participants communities in the management of natural attractions still very low, even though the region has natural resources that support. Empowered society should participate in the system of tourism through a participatory approach through the intermediary of the village government. 
PERANAN TATA GUNA LAHAN BAGIAN HULU TERHADAP KESUBURAN PERAIRAN PADA WADUK JATIBARANG, SEMARANG Silitonga, Yohana T. E.; Sulardiono, Bambang; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 1 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1452.912 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i1.22523

Abstract

Kota Semarang dikenal sebagai kota yang sering mengalami banjir. Pembangunan Waduk Jatibarang merupakan salah satu cara untuk mengatasi permasalahan banjir di kota Semarang. Tata guna lahan adalah sebuah pemanfaatan lahan dan penataan lahan yang dilakukan sesuai dengan kondisi eksisting alam. Kegiatan manusia dan penggunaan kawasan yang tidak terkendali memberikan pengaruh negatif yang berpotensi menyumbang limbah rumah tangga dan mempengaruhi tingkat kesuburan perairan Waduk Jatibarang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tata guna lahan bagian hulu di sekitar Waduk Jatibarang dan mengetahui tingkat kesuburan perairan Waduk Jatibarang. Metode yang digunakan adalah metode survey. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 15 - 27 September 2017. Penelitian ini dilakukan pada 6 titik sampling di Waduk Jatibarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan bagian hulu Waduk Jatibarang terdiri dari 50 % vegetasi, 20% pemukiman, 25% persawahan,dan 5% tegalan. Karakter fisika dan kimia perairan Waduk Jatibarang tergolong baik. Kandungan DO antara 4,80 – 6,96 mg/l, kandungan nitrat antara 0,64 – 1,10 ppm, total fosfat antara 0,13 – 0,26 ppm, dan klorofil-a antara 2,72 – 4,29 ppm. Indeks TSI Carlson berkisar antara 52,57 – 55,36 menunjukkan status kesuburan perairan eutrofik ringan.  Semarang City is known as flooded city. Construction of Jatibarang Reservoir is a solution to solve the flood problem in Semarang city. Land use is a utilization land and land arrangement in accordance of the nature existantion condition. Human activities nearby the waters can lead to the entry of various substances into the aquatic system. Uncontrolled use of the area has a negative effect that potentially contributes to household waste and affect the water thropic level. The purpose of this study is to identify the upstream of land use in Jatibarang Reservoir and to know Water Thropic State at Jatibarang Reservoir. Research reference is using survey method. The research was conducted on 15 – 27  September 2017. This research was conducted on six sampling points, the scope of land studied by upstream area in Jatibarang Reservoir with percentage of 50% vegetation, 20% settlement, 25% rice field, and 5% moor. Physical and chemical character of Waters of Jatibarang Reservoir are good. DO content between 4,80 - 6,96 mg / l, nitrate content between 0,64 - 1,10 ppm, total phosphate between 0,1305 - 0,2695 ppm , and chlorophyll-a between 2,72 – 4,29 ppm. The Carlson TSI index ranged from 52,57 to 55,93 indicates the mild eutrophic water thropic state.
KAJIAN KESUBURAN PERAIRAN BERDASARKAN UNSUR HARA (N,P) DAN FITOPLANKTON DI SUNGAI TULUNG DEMAK Sihombing, Ika Novalia; Hutabarat, Sahala; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (926.232 KB)

Abstract

Perairan Sungai Tulung merupakan sungai yang terletak di desa Tambakbulusan, Demak Jawa Tengah. Sungai Tulung berperan penting dalam sumberdaya air bagi masyarakat Desa Tulung. Aliran Sungai Tulung mengangkut dan membawa berbagai bahan organik dan anorganik hasil limbah domestik dan aktivitas manusia yang dapat mencemari sungai. Sungai yang tercemar dapat menimbulkan gangguan akibat perubahan interaksi antara komponen biotik dan abiotik di dalam ekosistem perairan sungai. Salah satu komponen biotik yang berperan penting dalam ekosistem air adalah fitoplankton yang dapat dijadikan indikator biologi menentukan kesuburan perairan (fase trofik) dan pencemaran di dalam perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas fitoplankton; kesuburan perairan dan perhitungan nilai Saprobitas Perairan; dan keterkaitan unsur hara (N, P) dan klorofil dengan kelimpahan fitoplankton. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel air Sungai Tulung Demak dengan pengukuran parameter fisika, kimia dan biologi. Kelimpahan rata-rata fitoplankton pada pagi dan siang hari berkisar antara 6.161 - 15.289 dan 4.367 - 9.955 ind/L dengan 43 genera. Kandungan hara pada nitrat berkisar 0,41 - 1,02 mg/L dan fosfat sebesar 0,05 - 0,19 mg/L. Nilai ini cukup optimum bagi kehidupan fitoplankton Nilai saprobik indeks (SI) berkisar antara 0,3 - 1  dan tropik saprobik indeks (TSI) berkisar antara -1,9 - 0,5. Kualitas perairan sungai Tulung termasuk dalam tingkat β - Mesosaprobik/ pencemaran ringan.Tulung River Demak located in the village of Tambakbulusan, Demak, Central Java that important for water resources to Tulung villagers. The flow water caries a variety of organic and inorganic materials and domestic waste products of human activity that could contaminate the river. River pollution can inflict disorder due to changes in the interaction between components abiotic and biotic in the river ecosystem.One of the biotic components that are important in aquatic ecosystem is phytoplankton that can be used as biological indicators to determine productivity and pollution in the waters. The purpose of the research were to determine the structure of the phytoplankton community; Saprobic value waters and linkage of nutrients ( N and P ). The method has been used in this research was descriptive and sample collection conducted twice on three stations which consists of three points and two times with a span of one week. Based on the average value of phytoplankton in the morning and during the day ranged from 6.161-15.289 and 4.367-9.955 ind / L with 43 genera. Nutrient content in nitrate ranged from 0,41 to 1,02 mg / L and phosphate of 0,05 to 0,19 mg / L . This value is quite optimum for the life of phytoplankton. The value saprobic index ( SI ) ranging from 0,3 to 1 and tropic saprobic index ( TSI ) ranged from -1,9 – 0,5. The quality of the Tulung River waters during the research was categorized in lightly polluted conditions.
STRUKTUR KOMUNITAS LARVA IKAN PADA SAAT PASANG SURUT DI MUARA SUNGAI MOROSARI SAYUNG, DEMAK Pahingguan, Prayogi; Sulardiono, Bambang; Taufani, Wiwiet Teguh
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 4 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.039 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i4.22571

Abstract

Muara Sungai merupakan perairan semi tertutup yang terletak di bagian hilir sungai dan masih berhubungan dengan laut sehingga memungkinkan untuk terjadinya pencampuran dua massa air, yakni air tawar dan air laut. Tujuan penelitian untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan larva ikan, mengetahui perbedaan struktur komunitas pada saat pasang dan surut. Metode yang di gunakan adalah metode survei yang dilaksanakan pada bulan Mei 2018 di Muara sungai Morosari Sayung, Demak. Sampling dilakukan pada 3 stasiun dengan kondisi pasang dan surut. Variabel yang diukur antara lain Komposisi, Kelimpahan Larva ikan dan Struktur komunitas pada saat pasang dan surut. Hasil penelitian didapatkan Larva ikan pada saat pasang di stasiun I sebanyak 43 ind, stasiun II diperoleh larva  ikan sebanyak 22 ind dan stasiun III sebanyak 34 ind. Hasil penelitian didapatkan pada saat surut di stasiun I sebanyak 24 ind, stasiun II 22 ind dan stasiun III sebanyak 34 ind. Keseluruhan larva ikan yang tertangkap terdiri dari 10 famili yaitu Nemipteridae, Mugilidae, Gobiidae, Ambassidae, Acrididae, Chanidae, Engraulidae, Labridae, Scatophagidae dan Lactaridae. Indeks keanekaragaman pada saat pasang termasuk dalam kategori rendah dan sedang dengan nilai berkisar 0,99-1,6. Indeks keseragaman berkisar antara 0,78-0,91 maka tergolong kedalam kategori tinggi atau stabil. Nilai indeks Dominasi termasuk kedalam dominasi rendah dan sedang dengan nilai berkisar antara 0,22-0,40. Nilai indeks keanekaeragaman pada saat surut masuk dalam kategori rendah dan sedang dengan nilai berkisar 0,91-1,41. Indeks keseragaman berkisar 0,66-0,91 masuk dalam kategori stabil. Dominasi berkisar antara 0,32-0,45, dengan nilai tersebut maka dapat dikategorikan Dominasi sedang.  Estuary is a semi-closed waters located in the downstream part of the river and still in contact with the sea, allowing for mixing of two water masses, namely fresh water and sea water. The purpose of this research is to find out the composition and abundance of fish larvae, to know the differences in community structure during high and low tide levels. The method used in this research is a survey method conducted in May 2018 in the river estuary of Morosari Sayung, Demak. Sampling was carried out at 3 tidal and low tide stations. Variables measured include Composition and Abundance of fish larvae and community structures during highs and low tide level. The research result showed that 43 ind larvae at high tide at station I, were 22 ind at stations II, were obtained and 34 ind stations III. The results of the research were obtained at low tide at station I as many as 24 ind, station II 22 ind and station III as many as 34 ind. All captured fish larvae consist of 10 families namely Nemipteridae, Mugilidae, Gobiidae, Ambassidae, Acrididae, Chanidae, Engraulidae, Labridae, Scatophagidae and Lactaridae. The diversity index value at the high tide entered in the low and medium category ranged from 0.99 to 1.6. Uniformity lindex ranges from 0.78 to 0.91 in the medium category. Domination ranges from 0.22 to 0.40, with this value the entire research station into the category there is no dominance. The diversity index value at the low tide entered in the low and medium category ranged from 0.91 to 1.41. The uniformity index ranges from 0.66 to 0.91 included in the stable category. Domination ranges from 0.32-0.45 with this value can be categorized medium. 
KELIMPAHAN BULU BABI (SEA URCHIN) PADA EKOSISTEM TERUMBU KARANG DAN EKOSISTEM PADANG LAMUN DI PULAU PANJANG, JEPARA Setyawan, Bani; Sulardiono, Bambang; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.63 KB)

Abstract

Perairan pulau Panjang  memiliki beberapa biota echinodermata salah satunya bulu babi. Bulu babi tersebar di ekosistem padang lamun dan terumbu karang. Keberadaan bulu babi berpengaruh pada terumbu karang, karena dapat mejadi kontrol bagi perkembangan mikroalga dan meningkatnya bulu babi akan berdampak negatif bagi ekosistem lamun. Tujuan penelitian ini dalah untuk mengetahui kelimpahan bulu babi dan hubungan karakteristik bulu babi dengan ekosistem terumbu karang dan padang lamun. Metode yang digunakan dalam pengambilan data penutupan karang adalah line transek dengan skala sepanjang 50 meter sejajar garis pantai dengan jarak antar line transek yaitu 10 meter. Pengambilan data kerapatan lamun menggunakan kuadran transek dengan ukuran 1 x 1 meter. Kelimpahan bulu babi pada ekosistem terumbu karang dan padang lamun menggunakan kuadran transek dengan ukuran 5 x 5 meter. Penutupan substrat dasar pada lingkungan ekosistem terumbu karang di Pulau Panjang didominasi oleh pecahan karang dengan persentase sebesar  36,19%, karang mati 30,53%, pasir 30,14% dan karang hidup 3,15%. Sedangakan kerapatan lamun di Pulau Panjang sebesar 67 ind/ m². Kelimpahan bulu babi di Pulau Panjang menyebar baik di lingkungan terumbu karang dan lingkungan padang lamun dengan jenis Diadema setosum dan Echinothrix calamaris kelimpahan total di lingkungan terumbu karang sebesar 86 individu dan  lingkungan padang lamun sebesar 26 individu. Lingkungan dengan tingkat bahan organik tinggi lebih disukai oleh bulu babi. Analisis isi lambung bulu babi Diadema setosum yaitu algae 65,72% dan bahan anorganik 34.28%, sedangakan jenis bulu babi Echinothrix calamaris yaitu bahan anorganik 60.24% dan algae 39.76%. Panjang island waters has some echinoderms one of the sea urchins. Sea urchins are scattered in the seagrass ecosystems and coral reefs. The existence of sea urchins affect on coral reefs, because it can control for the development of our main mikroalga and the increasing of sea urchins will negatively affect seagrass ecosystems. The purpose of this research was to determine the abundance of sea urchins and the relation of sea urchins abundance  with the characteristics of habitat. The sampling method used in the coral cover data retrieval was line transec to the scale along the 50 metere parallel to the shoreline with transek line spacing 10 meters. Seagrass density data collection use 1 x 1 m quadrant transect. The abundance of sea urchins on coral reef ecosystems and the seagrass used the quadrant transek with the size of 5 x 5 meters. The cover of the base substrate on coral reef ecosystem environment in panjang island is dominated by a rublbe with the percentage of 36,19%, dead coral 30,53%, sand 30, 14%, living coral and 3,15%. The seagrass density of 67 ind/m². The abundance of sea urchins in Panjang Island spread environmental either on coral reefs and seagrass pasture environment with this type of Diadema setosum and Echinothrix calamaris total abundance in coral reef environments of 86 individuals and the environment the seagrass of 26 individuals. Environment with high levels of organic materials preferred by sea urchins. Stomach contents analysis of sea urchins Diadema setosum is algae 65,72% and inorganic materiall 34.28%, while the type of sea urchins Echinothrix calamaris is inorganic materials 60.24% and algae 39.76%.
KELIMPAHAN TERIPANG (HOLOTHUROIDEA) BERDASARKAN KERAPATAN LAMUN DI PANTAI PRAWEAN DESA BANDENGAN, JEPARA Sea Cucumber(Holothuroidea) Abundance Based on Seagrass Density in Prawean Beach Bandengan Village, Jepara Laksana, Mahalani Jati; Sulardiono, Bambang; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 4 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.95 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i4.26553

Abstract

Teripang (Holothuroidea) hidup sebagai hewan bentik pada ekosistem terumbu karang dan asosiasinya, di antaranya adalah ekosistem padang lamun. Padang lamun menyediakan nutrient bagi pertumbuhan mikro yang berfungsi sebagai makanannya, sehingga ekosistem padang lamun menyediakan habitat yang baik bagi teripang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2019 di Pantai Prawean Desa Bandengan, Jepara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan teripang dengan tingkat kerapatan lamun yang berbeda, mengetahui jenis sedimen beserta bahan organik yang terkandung pada sedimen, dan mengetahui hubungan kelimpahan teripang dengan kerapatan lamun. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel teripang dan perhitungan kerapatan lamun yaitu purposive sampling dengan teknik garis dan transek. Pengambilan sedimen menggunakan sediment core. Hasil dari penelitian menunjukan pada Stasiun 1 (kerapatan padat) yaitu 33 individu meliputi 25 individu H. atra dan 8 individu H. scabra. Stasiun 2 (kerapatan sedang) yaitu 13 individu meliputi 10 individu H. atra dan 3 individu H. scabra. Stasiun 3 (kerapatan jarang) yaitu 5 individu meliputi 4 individu H. atra dan 1 individu H. scabra. Kandungan bahan organik pada lokasi penelitian berkisar 7,25-13,15% dengan fraksi sedimen berupa pasir halus. Hasil analisis regresi linear sederhana dari hubungan kelimpahan teripang dengan kerapatan lamun didapatkan persamaan y = 0,0091x – 2,2275. Nilai korelasi (r) yang didapatkan yaitu 0,80 menunjukan hubungan yang kuat dan nilai determinasi (R2) yaitu 0,641 yang berarti bahwa 64,1% kelimpahan teripang dipengaruhi oleh kerapatan lamun. Sea cucumbers (Holothuroidea) live as benthic animals in coral reef ecosystems and their associations, among them are seagrass ecosystems. Seagrass beds provide nutrients for micro-growth that function as food, so seagrass ecosystems provide good habitat for sea cucumbers. This research was conducted in May 2019 at Prawean Beach Bandengan Village, Jepara. The purpose of this study was to determine the abundance of sea cucumbers with different seagrass density levels, determine the type of sediment and organic material contained in the sediment, and determine the relationship of sea cucumber abundance with seagrass density. The method used in cucumber sea taking and seagrass density calculation is purposive sampling with line and transect techniques. Intake of sediment using sediment core. The results of the study showed at Station 1 (solid density) that is 33 individuals including 25 individuals of H. atra and 8 individuals of H. scabra. Station 2 (medium density) is 13 individuals including 10 individuals of H. atra and 3 individuals of H. scabra. Station 3 (rare density) is 5 individuals including 4 H. atra individuals and 1 H. scabra individual. The content of organic matter in the study area ranged from 7.25 to 13.15% with a sedimentary fraction in the form of fine sand. The results of simple linear regression analysis of the relationship of sea cucumber abundance with seagrass density obtained the equation y = 0.0091x - 2.2275. Correlation value (r) obtained is 0.80 showing  a strong relationship and the value of determination (R2) is 0.641 which mean that 64,1% sea cucumber abundance is influenced by seagrass density.  
Co-Authors - Herfina - Ruswahyuni Abhibawa, Ario Adi, Micael Tri Anggoro Agus Hartoko Ali Djunaedi Anhar Solichin Anjani, Putri Dewi Arif Darmawan Arif Rahman Asriningpuri, Degrita Herdianti Azzam, Faudzi Ath Tho Bani Setyawan Boedi Hendrarto Chrysalina Indrastuti Churun Ain Dewinta, Raisa Diah Ayuningrum, Diah Dian Ayu Sapta Nur Utami Djoko Suprapto Dyah Pertiwi Jaya Wardhani, Dyah Pertiwi Jaya Egar Dwi Prayudha Elrin Meivian Mongi, Elrin Meivian Erna Agustin Nurcahyani, Erna Agustin Fatima, Shintia Nurul Fauzi, Reyhan Fathullah Firdaus, Nur Salsabila Frida Purwanti Guliano Gema Adi Satria Haeruddin . Haeruddin Haeruddin Harahap, Malasari Hayu Asmawati Helmi Ardi, Helmi Herda Mustika Sari, Herda Mustika Hidayaturrohmah, Fitriana Huda, Hasdin Nur Hutami, Ganjar Hesti Ika Novalia Sihombing, Ika Novalia Indah Abrianti S, Indah Abrianti S Khasani, Andro Laksana, Mahalani Jati Liana, Tri Budi Maulina Septia Prahastuti Mauludi, Fadhil Max Rudolf Muskananfola Muhammad Sulaiman Muhammad Yusuf Muhar Azhari Mustofa Nitisupardjo Mutmainah, Ana Niniek Widyorini Nisa, Amida Urfah Khoirun Noky Rizky Samudra, Noky Rizky Norma Afiati Nugroho, Adhi Nurfaiza, Salma nurul latifah Nurwinda Hikmawati Nyayu Sandra Aprianti, Nyayu Sandra Oktavianto Eko Jati Pahingguan, Prayogi Panuluh, Citraningrum Mawa Prasasti, Lingga Dewi Prijadi Soedarsono Pujiono W. Purnomo Pujiono Wahyu Purnomo Puspitaningtyas, Indrie Hapsari Raden Ario Rahmatuloh, Irzani Hamzah Setya Raidie Bakhtiar Ramadhan, Mochammad Rizqy Ramanda, Okky Aditya Renni Yuniati Rina Susanti Ristina, Mafi Rizky, Fadhila Novita Rizqina, Cahya Ryanditama Ardiannanto Sahala Hutabarat Sari, Desy Melinda Setiawan, Bagus Putro Siahaan, Sahala Bonardo Sihotang, Silvyani Putri Silitonga, Yohana T. E. Siti Rudiyanti Sofiyani, Risna Gina Sonia Wulan, Sonia Sri Wahyuni Supriharyono - Supriharyono Supriharyono Suradi Wijaya Saputra Suryanti Sutrisno Anggoro Taufani, Wiwiet Teguh Ucik Ramita Sofiana, Ucik Ramita Yaya Fitriyah, Yaya