Claim Missing Document
Check
Articles

Multikulturalisme Dalam Perspektif Budaya Pesisir Singgih Tri Sulistiyono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 01 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (750.631 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v5i01.893

Abstract

Paradigma multikulturalisme yang menekankan sikap dialog, toleransi, dan kesediaan untuk koeksistensi damai dalam keberagaman sesui dengan salah satu pilar kebangsaan Indonesia, yaitu Bhinneka Tungal Ika. Hal itu sesuai dengan relitas bangsa Indonesia yang bersifat plural sehingga membutuhkan paradigma yang mampu membingkai keberagaman. Masyarakat dan peradaban pesisir memiliki perspektif multikulturalisme yang berakar dari latar belakang historisnya. Perspektif multikulturalisme peradaban pesisir dapat dilihat dari sifat kosmopolitanitas dan pluralitas masyarakat dan budayanya. Masyarakat pesisir sejak lama telah memiliki jaringan nteraksi global yang sangat luas memlaui berbagai media seperti pelayaran, perdagangan, migrasi, dan sebagainya. Masyarakat dan budaya pesisir merupakan bagian yang inheren dari budaya dunia. Sifat kosmopolitanitas ini yang menyebabkan peradaban pesisir ini memiliki sifat terbuka, demokratis, toleran, dialog, kemauan unutk berkoeksistensi damai. Sementara itu sifat pluralitas masyarakat dan budaya pesisir juga tidak dapat dilepaskan dari akan historis. Sejak zaman kuno masyarakat pesisir merupakan masyarakat yang plural sebagai akibat dari kegiatan pelayaran, perdagangan, hubungan-hubungan politik dan budaya, diaspora, dan sebagainya. Hal ini mengondisikan masyarakat pesisir sebagai masyarakat plural. Pengalaman hidup bersama dalam perbedaan namun memiliki kepentingan yang sama telah melahirkan mentalitas multikulturalisme yang merupakan ciri inheren peradaban pesisir. Peradaban pesisir merupakan peradaban yang dinamis dan selalu terbuka bagi perubahan. Dalam perjalanan sejarah selalu terjadi proses pembentukan dan pembentukan kembali identitas masyarakat yang bergantung kepada dinamika internal dan pengaruh eksternal.
Pendidikan Karakter Kaffah Melalui Pengembangan Boarding School: Sebuah Alternatif Singgih Tri Sulistiyono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 02 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (746.778 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v5i02.884

Abstract

Pembangunan karakter bangsa merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar dalam rangka untuk memperbaiki krisis moralitas kebangsaan yang terjadi dewasa ini. Pendidikan karakter di sekolah merupakan salah satu upaya untuk pembangunan karakter bangsa secara keseluruhan. Dengan mengingat bahwa akar persoalah karakter bangsa bersumber pada kepribadian yang terbelah yang bermula dari adanya gap antara dunia pendidikan di sekolah dan dunia nyata dalam masyarakat maka diperlukan suatu sistem pendidikan yang kaffah yang mampu menciptakan manusia dengan kepribadian dan karakter yang utuh. Di samping itu pendidikan yang kaffah juga perlu diiringi dengan upaya pemerintah untuk menciptakan dan menegakkan hukum dalam masyarakat yang merefleksikan nilai-nilai luhur budaya dan karakter bangsa sebagaimana yang telah dirumuskan oleh kemendikbud. Model sekolah bording dengan penerapan pendidikan budaya dan karakter bangsa secara kaffah dapat dijadikan sebagai alternatif untuk mencetak generasi muda yang memiliki karakter yang diidealkan berdasarkan Pancasila dan nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Sumpah Pemuda Arab, 1934: Pergulatan Identitas Orang Arab-Hadrami di Indonesia Rabith Jihan Amaruli; Nazala Noor Maulany; Singgih Tri Sulistiyono
Jurnal Sejarah Citra Lekha Vol 3, No 2 (2018): Konflik dan Etnisitas
Publisher : Department of History, Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.4 KB) | DOI: 10.14710/jscl.v3i2.19748

Abstract

This article discusses the Sumpah Pemuda Arab (Arab Youth Pledge) in 1934 which became the forerunner of the formation of the first Arab-Hadrami nationalist organization, the Arab Association of Indonesia (PAI) which later became the Arab Party of Indonesia (PAI). This article conducted by using the historical method. Sumpah Pemuda Arab 1934 is the answer to the struggle of Arab-Hadrami identity and nationalism to fulfill its right as part of Indonesian citizen (WNI). This historical study is important in view of the fact that the phenomenon of the Arabism movement which is now emerging through the involvement of symbols and the identity of the oneness tends to place Arab-Hadrami as opposed to the direction and commitment of the nation.
Peran Masyarakat Nusantara dalam Konstruksi Kawasan Asia Tenggara Sebagai Poros Maritim Dunia pada Periode Pramodern Singgih Tri Sulistiyono; Yety Rochwulaningsih; Haryono Rinardi
Jurnal Sejarah Citra Lekha Vol 5, No 1 (2020): Etnisitas, Identitas, dan Kebudayaan
Publisher : Department of History, Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jscl.v5i1.28089

Abstract

The main objective of this article is to trace the pioneering role that might be played by the ancestors of the Indonesian people, Malay-Austronesian, in constructing the Southeast Asian region as a world maritime fulcrum in the pre-modern period. It is very important to be studied considering the fact that until now the historiography of both Indonesia and Southeast Asia still pays little attention to the role of Southeast Asia people in establishing the glory of Southeast Asia as one of the world's maritime axis. That is why their role needs to be elaborated more deeply by exploring broader literature and historical sources. Likewise, a new perspective also needs to be developed to build a narrative of the role of local communities in the process of globalization in the region. For this purpose, this article explains how Indonesian ancestors became the decisive pioneers in the reconstruction of the Southeast Asian region as one of the centers of world maritime activity.
Nasionalisme, Negara-Bangsa, dan Integrasi Nasional Indonesia: Masih Perlukah? Singgih Tri Sulistiyono
Jurnal Sejarah Citra Lekha Vol 3, No 1 (2018): Integrasi Nasional
Publisher : Department of History, Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.596 KB) | DOI: 10.14710/jscl.v3i1.17912

Abstract

This article based on small and trivial statements but actually has a very basic content that is often raised by some of the younger generations about the lack of importance of nationalism, nation-state and national integration of Indonesia. Perhaps such a statement is a reflection of the mood of thinking and taste of the young generation who are the mile-generation immersed in the euphoria of globalization and the advances in technology and communications and information that make the world like a village, often referred to as a 'global village'. Depart from that reality, this article aims to reflect the understanding of nationalism, nation-state, and national integration, utilizing previous studies conducted by the experts.
Teknologi Garam Palung sebagai Warisan Sejarah Masyarakat Pesisir di Bali Yety Rochwulaningsih, M.Si.; Mahendra Pudji Utama; Singgih Tri Sulistiyono
Jurnal Sejarah Citra Lekha Vol 4, No 1 (2019): Politik Ingatan, Identitas Kota, dan Warisan Budaya
Publisher : Department of History, Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.805 KB) | DOI: 10.14710/jscl.v4i1.22111

Abstract

This article aims to discuss the existence of palung salt technology as a variant of traditional solar evaporation-based salt production technology. This technology is very typical and has been used for generations by salt farmers in Bali, especially at Amed in Karangasem, Tejakula in Buleleng, and Kusamba in Klungkung. Historical and sociological method is used in this research. Palung salt technology is a historical inheritance that still functions as a cultural memory and therefore becomes a pattern for the actions of salt farmers in the three petasikan until recent time. However, since the beginning of the 21st century the preservation of palung salt technology have been faced a serious threat as a result of the inclusion of new technologies in the salt production process and especially by the growing tourism industry in palung salt production area. But, there is the awareness of stakeholders who need to preserve the technology by conducting various activities. Although carried out in a fragmentary method, efforts to preserve palung salt technology have become a shared awareness among stakeholders in the salt economy in Bali.
The Compliance-Based Coffee Growers of Bondowoso on Regent Amin Said Husni in the Culture of Madurese Society Latifatul Izzah; Singgih Tri Sulistiyono; Yety Rochwulaningsih; Dewi Salindri; Sri Ana Handayani; Jani Januar; Neneng Afiah
Karsa: Journal of Social and Islamic Culture Vol. 27 No. 2 (2019)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v27i2.2152

Abstract

This study discussed the compliance of the coffee farmers particularly in Sumberwringin Bondowoso against the figure Amin Said Husni. The Regent concerns for the fate of the coffee farmers and public welfare in Bondowoso cannot be inseparable from the religious life of the Regent; implementing policies based on the principles of the Islamic religion. This study aimed to answer the question regarding the causes of the emergence of people’s compliance with coffee farmers to switch the Arabica coffee plant according to the instructions given by the Regent. This study applied the habitus concept developed by Pierre Bourdieu and sharpened using the historical method. The studied population was coffee farmers at district of Sumberwringin (Sukorejo, Rejoagung and Sumberwringin village). This study found that the compliance of the coffee farmers could attract people who originally planted Robusta switched to Arabica coffee as their Regent’s instruction. The compliance of coffee farming communities (majority of Madurese) was hierarchical obedience that became a necessity to be actualized in daily praxis as “normative” binding. The compliance of produce luck to economic conditions as well as improving the welfare of coffee farmers, because the selling price of Arabika is higher than the Robusta coffee.
MODEL PENGEMBANGAN DESA EKOWISATA KAWASAN PERKEBUNAN KOPI DESA SUKOREJO KABUPATEN BONDOWOSO Latifatul Izzah; Singgih Tri Sulistiyono; Yety Rochwulaningsih
UNEJ e-Proceeding 2020: E-PROSIDING SEMINAR NASIONAL PEKAN CHAIRIL ANWAR
Publisher : UPT Penerbitan Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Riset ini bertujuan mendeskripsikan sebuah model pengembangan Desa Ekowisata pada kawasan perkebunan kopi di Desa Sukorejo Kabupaten Bondowoso tanpa merusak lingkungan. Desa Sukorejo merupakan desa penghasil kopi Arabika, karena letak wilayahnya berada pada ketinggian 800-1200 dpl. Penelitian ini menggunakan metode sejarah guna mendapatkan data di lapangan mengenai kesiapan Desa Sukorejo untuk menjadi Desa Ekowisata yang dapat mensejahterakan masyarakat petani baik yang ada di Desa Sukorejo maupun pada desa-desa yang ada di sekitarnya. Hasil riset menunjukkan bahwa Desa Sukorejo layak serta memenuhi kriteria baik dari sumber daya alamnya maupun masyarakatnya untuk dijadikan Desa Ekowisata yang mendatangkan revenue generating bagi masyarakat petani kopi, Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Desa. Kata Kunci: ekowisata, perkebunan kopi, Desa Sukorejo, Kabupaten Bondowoso
MENGGAGAS ULANG KEBIJAKAN PERLINDUNGAN DAN PENGUATAN KOPI RAKYAT BONDOWOSO Latifatul Izzah; Singgih Tri Sulistiyono; Yety Rochwulaningsih
UNEJ e-Proceeding 2020: E-PROSIDING SEMINAR NASIONAL PEKAN CHAIRIL ANWAR
Publisher : UPT Penerbitan Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Riset ini bertujuan mendeskripsikan gagasan ulang mengenai kebijakan perlindungan dan penguatan kopi rakyat Bondowoso. Bangunan icon Kabupaten Bondowoso sebagai “Bondowoso Republik Kopi” yang diwujudkan oleh Bupati Amin Said Husni (Periode 2008-2013 dan 2013-2018) perlu ditindaklanjuti oleh Bupati Salwa Arifin (Periode 2018- 2023). Mengingat Cluster Kopi Arabika yang dijadikan produk unggulan Kabupaten Bondowoso mempunyai cita rasa yang khas berbeda dengan Kopi Arabika dari wilayah lain, serta mampu mendongkrak perekonomian petani kopi rakyat pada era Bupati Amin Said Husni. Untuk itu perlu adanya program berkelanjutan dari Pemerintah Kabupaten Bondowoso demi kemakmuran para petani kopi rakyat. Penelitian ini menggunakan metode sejarah guna mendapatkan data di lapangan secara detail dan kronologis mengenai kondisi produksi Kopi Arabika rakyat dan market Kopi Arabika rakyat pada masa Bupati Salwa Arifin. Hasil riset membuktikan bahwa perlu adanya gagasan ulang mengenai kebijakan perlindungan dan penguatan kopi rakyat Bondowoso. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa para petani terjebak pada sulitnya mendapat modal usaha dan juga market Kopi Arabika rakyat. Para buyer mempermainkan harga jual Kopi Arabika rakyat karena mereka mengetahui bahwa para petani membutuhkan fresh money baik untuk keberlangsungan hidupnya maupun untuk proses produksi Kopi Arabika. Kata kunci: Gagasan ulang, Kopi Arabika rakyat, perlindungan, penguatan
Roles of KH. Abdul Wahab Sya'roni and Syaikh Ali bin Ahmad Basalamah in the Development of Thariqoh Tijaniyah in Jatibarang, Brebes, Central Java Mustain Yusuf; Yety Rochwulaningsih; Singgih Tri Sulistiyono
Indonesian Historical Studies Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ihis.v1i2.1972

Abstract

The main purpose of this article is to examine the roles of K.H. Abdul Wahab Sya'roni and Shaykh Ali bin Ahmad Basalamah in the development of Thariqoh At-Tijaniyah in Jatibarang Brebes, Central Java Province. This discussion is very interesting given that this thoriqoh is developing in the spreading area of other thariqoh that is Thariqoh Qoodiriyah Naqsyabandiyah. Therefore, its spreading faces some challenges. The spread of Thariqoh At-Tijaniyah in Jatibarang Brebes cannot be separated from the critical roles of Kyai Sya'roni and Shaykh Ali bin Ahmad Basalamah. In the beginning, these two ulamas pioneered the establishment and development of thariqoh which is not only bounded to Jatibarang Brebes but also widen to the neighboring areas, especially in the Northern Coast of Java (Pantura). Nevertheless, the next development of this thariqoh is centered in Jatibarang, Brebes. Regarding to this matter, the development of Thariqoh At-Tijaniyah especially in Brebes and the roles of these kyai will be discussed.