Claim Missing Document
Check
Articles

“Historiografi Pembebasan”: Suatu Alternatif Singgih Tri Sulistiyono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 6, No 01 (2016)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (776.107 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v6i01.877

Abstract

Terdapat banyak sinyalemen yang mengatakan historiografi Indonesia telah tidak mampu menunaikan fungsinya dalam ikut memecahkan persoalan-persoalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat dan bangsa Indonesia. Padahal, pada saat ini masyarakat Indonesia sedang menghadapi berbagai macam persoalan seperti kemiskinan, ketidakadilan, ketergantungan, eksploitasi, dan sebagainya menyusul terjadinya badai krisis ekonomi sejak tahun 1998. Ketidakmampuan historiografi Indonesia untuk ikut ambil bagian dalam memecahkan persoalan bangsa di samping disebabkan oleh keterbelengguan pada formalisme metodologi dan epistemologi, juga disebabkan oleh kekurangberanian sejarawan untuk menggugat realitas kekinian. Dalam hal inilah, “historiografi pembebasan” dapat dijadikan sebagai sebuah alternatif historiografi yang akan mampu membebaskan pikiran masyarakat dari belenggu mitos kelampauan sehingga memiliki kesadaran terhadap penyelesaian persoalan kekinian dan cita-cita di masa depan. Untuk itu, kajian “historiografi pembebasan” lebih menekankan kepada persoalan-persoalan kontemporer yang sedang menghimpit masyarakat Indonesia saat ini seperti kemiskinan, ketidakadilan, ketergantungan, dan sebagainya yang sudah diterima sebagai sebuah keniscayaan. Dengan demikian, kajian “historiografi pembebasan” akan menggunakan point of departure kekinian untuk mengkaji masa lampau sehingga kajian sejarah tidak tercerabut dengan akar kepentingan masa kini. Dalam hubungan itu, “historiografi pembebasan” mengedepankan komitmen kepada nilai-nilai keindonesiaan dengan dasar kemanusiaan, yaitu kembali kepada cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945.
Mengenal Sistem Pengetahuan, Teknologi, Dan Ekonomi Nelayan Pantai Utara Jawa Singgih Tri Sulistiyono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 4, No 02 (2014)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (763.048 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v4i02.825

Abstract

Bahwa budaya masyarakat nelayan merupakan ‘sea-side culture’ yang paling tua dalam khasanah budaya bahari. Meskipun dalam sejarah budaya masyarakat nelayan di pantai utara Jawa mengalami perkembangan yang lamban jika dibandingkan dengan sektor kebaharian yang lain (seperti perkapalan dan perdagangan) namun budaya masyarakat nelayan juga mengalami perkembangan sejalan dengan modernisasi yang merebak di sektor-sektor yang terkait. Faktor ekologis telah memprekondiskan corak budaya nelayan merupakan budaya yang khas jika dibandingkan dengan berbagai komunitas di sekitarnya. Kekhasan budaya nelayan dapat dilihat antara lain dari unsur budaya yang terkait dengan sistem pengetahuan, teknologi, dan ekonomi mereka, seperti sistem bagi hasil, pengetahuan tentang posisi dan arah di tengah laut, iklim dan cuaca, arah arus dan angin, teknologi prahu, berbagai jenis alat tangkat, dan teknologi pengolahan ikan.
Multikulturalisme Dalam Perspektif Budaya Pesisir Singgih Tri Sulistiyono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 01 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (750.631 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v5i01.893

Abstract

Paradigma multikulturalisme yang menekankan sikap dialog, toleransi, dan kesediaan untuk koeksistensi damai dalam keberagaman sesui dengan salah satu pilar kebangsaan Indonesia, yaitu Bhinneka Tungal Ika. Hal itu sesuai dengan relitas bangsa Indonesia yang bersifat plural sehingga membutuhkan paradigma yang mampu membingkai keberagaman. Masyarakat dan peradaban pesisir memiliki perspektif multikulturalisme yang berakar dari latar belakang historisnya. Perspektif multikulturalisme peradaban pesisir dapat dilihat dari sifat kosmopolitanitas dan pluralitas masyarakat dan budayanya. Masyarakat pesisir sejak lama telah memiliki jaringan nteraksi global yang sangat luas memlaui berbagai media seperti pelayaran, perdagangan, migrasi, dan sebagainya. Masyarakat dan budaya pesisir merupakan bagian yang inheren dari budaya dunia. Sifat kosmopolitanitas ini yang menyebabkan peradaban pesisir ini memiliki sifat terbuka, demokratis, toleran, dialog, kemauan unutk berkoeksistensi damai. Sementara itu sifat pluralitas masyarakat dan budaya pesisir juga tidak dapat dilepaskan dari akan historis. Sejak zaman kuno masyarakat pesisir merupakan masyarakat yang plural sebagai akibat dari kegiatan pelayaran, perdagangan, hubungan-hubungan politik dan budaya, diaspora, dan sebagainya. Hal ini mengondisikan masyarakat pesisir sebagai masyarakat plural. Pengalaman hidup bersama dalam perbedaan namun memiliki kepentingan yang sama telah melahirkan mentalitas multikulturalisme yang merupakan ciri inheren peradaban pesisir. Peradaban pesisir merupakan peradaban yang dinamis dan selalu terbuka bagi perubahan. Dalam perjalanan sejarah selalu terjadi proses pembentukan dan pembentukan kembali identitas masyarakat yang bergantung kepada dinamika internal dan pengaruh eksternal.
Pendidikan Karakter Kaffah Melalui Pengembangan Boarding School: Sebuah Alternatif Singgih Tri Sulistiyono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 02 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (746.778 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v5i02.884

Abstract

Pembangunan karakter bangsa merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar dalam rangka untuk memperbaiki krisis moralitas kebangsaan yang terjadi dewasa ini. Pendidikan karakter di sekolah merupakan salah satu upaya untuk pembangunan karakter bangsa secara keseluruhan. Dengan mengingat bahwa akar persoalah karakter bangsa bersumber pada kepribadian yang terbelah yang bermula dari adanya gap antara dunia pendidikan di sekolah dan dunia nyata dalam masyarakat maka diperlukan suatu sistem pendidikan yang kaffah yang mampu menciptakan manusia dengan kepribadian dan karakter yang utuh. Di samping itu pendidikan yang kaffah juga perlu diiringi dengan upaya pemerintah untuk menciptakan dan menegakkan hukum dalam masyarakat yang merefleksikan nilai-nilai luhur budaya dan karakter bangsa sebagaimana yang telah dirumuskan oleh kemendikbud. Model sekolah bording dengan penerapan pendidikan budaya dan karakter bangsa secara kaffah dapat dijadikan sebagai alternatif untuk mencetak generasi muda yang memiliki karakter yang diidealkan berdasarkan Pancasila dan nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Sumpah Pemuda Arab, 1934: Pergulatan Identitas Orang Arab-Hadrami di Indonesia Rabith Jihan Amaruli; Nazala Noor Maulany; Singgih Tri Sulistiyono
Jurnal Sejarah Citra Lekha Vol 3, No 2 (2018): Konflik dan Etnisitas
Publisher : Department of History, Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.4 KB) | DOI: 10.14710/jscl.v3i2.19748

Abstract

This article discusses the Sumpah Pemuda Arab (Arab Youth Pledge) in 1934 which became the forerunner of the formation of the first Arab-Hadrami nationalist organization, the Arab Association of Indonesia (PAI) which later became the Arab Party of Indonesia (PAI). This article conducted by using the historical method. Sumpah Pemuda Arab 1934 is the answer to the struggle of Arab-Hadrami identity and nationalism to fulfill its right as part of Indonesian citizen (WNI). This historical study is important in view of the fact that the phenomenon of the Arabism movement which is now emerging through the involvement of symbols and the identity of the oneness tends to place Arab-Hadrami as opposed to the direction and commitment of the nation.
Peran Masyarakat Nusantara dalam Konstruksi Kawasan Asia Tenggara Sebagai Poros Maritim Dunia pada Periode Pramodern Singgih Tri Sulistiyono; Yety Rochwulaningsih; Haryono Rinardi
Jurnal Sejarah Citra Lekha Vol 5, No 1 (2020): Etnisitas, Identitas, dan Kebudayaan
Publisher : Department of History, Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jscl.v5i1.28089

Abstract

The main objective of this article is to trace the pioneering role that might be played by the ancestors of the Indonesian people, Malay-Austronesian, in constructing the Southeast Asian region as a world maritime fulcrum in the pre-modern period. It is very important to be studied considering the fact that until now the historiography of both Indonesia and Southeast Asia still pays little attention to the role of Southeast Asia people in establishing the glory of Southeast Asia as one of the world's maritime axis. That is why their role needs to be elaborated more deeply by exploring broader literature and historical sources. Likewise, a new perspective also needs to be developed to build a narrative of the role of local communities in the process of globalization in the region. For this purpose, this article explains how Indonesian ancestors became the decisive pioneers in the reconstruction of the Southeast Asian region as one of the centers of world maritime activity.
Nasionalisme, Negara-Bangsa, dan Integrasi Nasional Indonesia: Masih Perlukah? Singgih Tri Sulistiyono
Jurnal Sejarah Citra Lekha Vol 3, No 1 (2018): Integrasi Nasional
Publisher : Department of History, Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.596 KB) | DOI: 10.14710/jscl.v3i1.17912

Abstract

This article based on small and trivial statements but actually has a very basic content that is often raised by some of the younger generations about the lack of importance of nationalism, nation-state and national integration of Indonesia. Perhaps such a statement is a reflection of the mood of thinking and taste of the young generation who are the mile-generation immersed in the euphoria of globalization and the advances in technology and communications and information that make the world like a village, often referred to as a 'global village'. Depart from that reality, this article aims to reflect the understanding of nationalism, nation-state, and national integration, utilizing previous studies conducted by the experts.
Teknologi Garam Palung sebagai Warisan Sejarah Masyarakat Pesisir di Bali Yety Rochwulaningsih, M.Si.; Mahendra Pudji Utama; Singgih Tri Sulistiyono
Jurnal Sejarah Citra Lekha Vol 4, No 1 (2019): Politik Ingatan, Identitas Kota, dan Warisan Budaya
Publisher : Department of History, Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.805 KB) | DOI: 10.14710/jscl.v4i1.22111

Abstract

This article aims to discuss the existence of palung salt technology as a variant of traditional solar evaporation-based salt production technology. This technology is very typical and has been used for generations by salt farmers in Bali, especially at Amed in Karangasem, Tejakula in Buleleng, and Kusamba in Klungkung. Historical and sociological method is used in this research. Palung salt technology is a historical inheritance that still functions as a cultural memory and therefore becomes a pattern for the actions of salt farmers in the three petasikan until recent time. However, since the beginning of the 21st century the preservation of palung salt technology have been faced a serious threat as a result of the inclusion of new technologies in the salt production process and especially by the growing tourism industry in palung salt production area. But, there is the awareness of stakeholders who need to preserve the technology by conducting various activities. Although carried out in a fragmentary method, efforts to preserve palung salt technology have become a shared awareness among stakeholders in the salt economy in Bali.
The Compliance-Based Coffee Growers of Bondowoso on Regent Amin Said Husni in the Culture of Madurese Society Latifatul Izzah; Singgih Tri Sulistiyono; Yety Rochwulaningsih; Dewi Salindri; Sri Ana Handayani; Jani Januar; Neneng Afiah
Karsa: Journal of Social and Islamic Culture Vol. 27 No. 2 (2019)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v27i2.2152

Abstract

This study discussed the compliance of the coffee farmers particularly in Sumberwringin Bondowoso against the figure Amin Said Husni. The Regent concerns for the fate of the coffee farmers and public welfare in Bondowoso cannot be inseparable from the religious life of the Regent; implementing policies based on the principles of the Islamic religion. This study aimed to answer the question regarding the causes of the emergence of people’s compliance with coffee farmers to switch the Arabica coffee plant according to the instructions given by the Regent. This study applied the habitus concept developed by Pierre Bourdieu and sharpened using the historical method. The studied population was coffee farmers at district of Sumberwringin (Sukorejo, Rejoagung and Sumberwringin village). This study found that the compliance of the coffee farmers could attract people who originally planted Robusta switched to Arabica coffee as their Regent’s instruction. The compliance of coffee farming communities (majority of Madurese) was hierarchical obedience that became a necessity to be actualized in daily praxis as “normative” binding. The compliance of produce luck to economic conditions as well as improving the welfare of coffee farmers, because the selling price of Arabika is higher than the Robusta coffee.
MODEL PENGEMBANGAN DESA EKOWISATA KAWASAN PERKEBUNAN KOPI DESA SUKOREJO KABUPATEN BONDOWOSO Latifatul Izzah; Singgih Tri Sulistiyono; Yety Rochwulaningsih
UNEJ e-Proceeding 2020: E-PROSIDING SEMINAR NASIONAL PEKAN CHAIRIL ANWAR
Publisher : UPT Penerbitan Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Riset ini bertujuan mendeskripsikan sebuah model pengembangan Desa Ekowisata pada kawasan perkebunan kopi di Desa Sukorejo Kabupaten Bondowoso tanpa merusak lingkungan. Desa Sukorejo merupakan desa penghasil kopi Arabika, karena letak wilayahnya berada pada ketinggian 800-1200 dpl. Penelitian ini menggunakan metode sejarah guna mendapatkan data di lapangan mengenai kesiapan Desa Sukorejo untuk menjadi Desa Ekowisata yang dapat mensejahterakan masyarakat petani baik yang ada di Desa Sukorejo maupun pada desa-desa yang ada di sekitarnya. Hasil riset menunjukkan bahwa Desa Sukorejo layak serta memenuhi kriteria baik dari sumber daya alamnya maupun masyarakatnya untuk dijadikan Desa Ekowisata yang mendatangkan revenue generating bagi masyarakat petani kopi, Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Desa. Kata Kunci: ekowisata, perkebunan kopi, Desa Sukorejo, Kabupaten Bondowoso