Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Multikulturalisme dan Ketahanan Sosial: Strategi Integrasi Nasional dalam Konteks Perubahan Sosial di Ambon dan Sanggau Mudalipa, Musdalipa; Meiyani, Eliza; Munirah, Munirah; Hayan Mochammad, Fadhil
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 31, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.110088

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi integrasi nasional dalam memperkuat ketahanan sosial di wilayah multikultural pascakonflik, dengan studi kasus di Kota Ambon (Maluku) dan Kabupaten Sanggau (Kalimantan Barat). Kedua wilayah ini dipilih karena memiliki latar belakang konflik sosial yang berbeda namun sama-sama merepresentasikan tantangan integrasi dalam konteks keberagaman etnis, agama, dan nilai budaya lokal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan data sekunder yang dianalisis menggunakan perangkat lunak NVivo 12 Plus melalui teknik analisis tematik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa integrasi nasional di Ambon berhasil didorong oleh sinergi antara intervensi negara, seperti pendidikan damai dan forum kerukunan umat, dan revitalisasi nilai lokal Pela Gandong sebagai instrumen sosial rekonsiliasi. Sebaliknya, di Sanggau, strategi integrasi cenderung bersifat top-down dan belum mengakomodasi secara penuh nilai-nilai hukum adat Dayak, sehingga ketahanan sosial rentan terganggu oleh konflik agraria dan eksklusi budaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan integrasi nasional sangat bergantung pada pengakuan substantif terhadap nilai lokal serta kolaborasi antara negara dan masyarakat. Rekomendasi mencakup penguatan kebijakan berbasis budaya, desain pendidikan multikultural kontekstual, dan pelibatan aktif lembaga adat dalam proses pembangunan sosial.
PENINGKATAN KAPASITAS PETANI MELALUI KINERJA PENYULUH PERTANIAN DI KABUPATEN BONE: Increasing Farmer Capacity Through Agricultural Extension Worker Performance in Bone Regency Salman, Salman; Ibrahim, Helda; Musdalipa
Jurnal Ilmiah Sosio Agribis Vol. 25 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Sosio Agribis Vol 25 No 2
Publisher : Study Program of Agribusiness, Faculty of Agriculture, University of Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30742/jisa25220255023

Abstract

Sektor pertanian memegang peranan vital dalam perekonomian nasional, namun sering terkendala oleh kondisi sumber daya manusia petani yang memiliki keterbatasan akses dan cenderung bertahan pada pola bertani tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peningkatan kapasitas sumber daya manusia petani melalui kinerja penyuluh pertanian di Desa Corawalie, Kabupaten Bone, yang memiliki potensi besar namun masih rendah dalam adopsi teknologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed-methods) deskriptif-kualitatif yang didukung pendekatan kuantitatif sederhana dengan Skala Likert. Pengambilan sampel dilakukan secara acak (random sampling) terhadap 45 responden dari 15 kelompok tani pada periode Juli hingga September 2025. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya peningkatan kapasitas petani melalui kinerja penyuluh pertanian tergolong dalam kategori tinggi dengan rata-rata capaian 78,74%. Rincian capaian indikator menunjukkan Kapasitas Sosial menjadi aspek paling menonjol (83,21%), diikuti Kemampuan Teknis (78,15%), dan Kemampuan Manajerial (76,85%). Temuan ini mengindikasikan bahwa kehadiran penyuluh melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan intensif efektif dalam membangun jejaring kemitraan serta mengubah wawasan petani menuju kemandirian. Studi ini memberikan kontribusi empiris tentang mekanisme spesifik layanan penyuluhan dalam memengaruhi berbagai dimensi kapasitas petani di tingkat lokal. Kata kunci: Pengembangan Kapasitas, Kinerja, Penyuluh, Petani, Kabupaten Bone. The agricultural sector is vital to the national economy, but its development is often constrained by the limitations of farmers' human resources, characterized by restricted access and a tendency to adhere to traditional farming methods. This study aims to analyze the improvement of farmers' human resource capacity through the performance of agricultural extension workers in Corawalie Village, Bone Regency, an area with significant potential but low technology adoption. Employing a mixed-methods approach (descriptive-qualitative supported by a simple quantitative design using a Likert scale), this research involved 45 respondents from 15 farmer groups selected through random sampling. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The results show that efforts to enhance farmer capacity through extension worker performance are in the high category, with an average achievement of 78.74%. Social Capacity was the most prominent aspect (83.21%), followed by Technical Ability (78.15%) and Managerial Ability (76.85%). These findings indicate that the presence of extension workers through intensive training and mentoring is effective in building partnership networks and transforming farmers' insights toward independence. This study contributes to the literature by providing empirical evidence on the specific mechanisms through which extension services impact different dimensions of farmer capacity in a local context. Keywords: Capacity Building, Performance, Extension Worker, Farmer, Bone Regency.
Kinerja Penyuluh Pertanian dalam Meningkatkan Kapasitas Petani di Kabupaten Bone Kecamatan Barebbo Desa Carowalie Salman Salman; Helda Ibrahim; Musdalipa Musdalipa
Jurnal Riset Rumpun Ilmu Tanaman Vol. 4 No. 2 (2025): Oktober : JURRIT: Jurnal Riset Rumpun Ilmu Tanaman
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrit.v4i2.7827

Abstract

Agricultural extension workers play a strategic role in supporting agricultural development by enhancing farmers’ capacity as the main actors in the agricultural sector. The success of this process is strongly influenced by the performance of extension workers in delivering extension services that are responsive, accountable, and oriented toward service quality. This study aims to analyze the performance of agricultural extension workers in improving farmers’ capacity in Bone Regency, Barebbo District, Corawalie Village. The research employed a descriptive design using a qualitative approach supported by simple quantitative analysis. Data were collected through observation, interviews, documentation, and questionnaires involving 45 farmer respondents, and were analyzed using thematic analysis and a Likert scale percentage index. The results indicate that the overall performance of agricultural extension workers is categorized as high, with an average score of 80.76%. Service quality achieved the highest score, followed by responsiveness and responsibility. These findings demonstrate that extension workers have effectively provided services, assistance, and problem-solving support, which contribute to improving farmers’ capacity in managing their farming activities. The study implies that strengthening the performance of agricultural extension workers is essential to enhance farmers’ independence and professionalism in achieving sustainable agricultural development.
MODEL PEMBERDAYAAN BERBASIS INOVASI PADA USAHA LEBAH MADU (STUDI KASUS KTH MAKKATUO DI KABUPATEN GOWA) MAJID, NUSQAR; Musdalipa, Musdalipa; Ibrahim, Helda; Sumange, La Sumange
Jurnal Eboni Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Program Studi Kehutanan Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46918/eboni.v7i2.2828

Abstract

Usaha lebah madu merupakan salah satu bentuk pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kegiatan inovatif pemberdayaan Kelompok Tani Hutan (KTH) dalam pengembangan usaha lebah madu di wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Jeneberang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini menggali pengalaman, strategi, dan dinamika pemberdayaan KTH Makkatuo sebagai kelompok tani unggulan dalam budidaya lebah madu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan inovatif yang dilakukan mencakup adopsi teknologi tepat guna dalam budidaya lebah, penguatan kelembagaan melalui pembentukan koperasi dan forum multipihak, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan teknis dan pengembangan produk. Selain itu, kemitraan strategis dengan pihak swasta dan pemerintah telah memperkuat akses pasar dan pendanaan. Kegiatan pemberdayaan ini terbukti mampu meningkatkan produktivitas madu hingga 40% dan pendapatan petani sebesar 35%. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya strategi pemberdayaan berbasis inovasi, kolaborasi, dan konteks lokal sebagai pendekatan efektif dalam pengembangan usaha HHBK yang berkelanjutan.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PRODUKSI USAHATANI JAGUNG HIBRIDA DI KABUPATEN JENEPONTO sheti, sulva; Musdalipa, Musdalipa; Rahman, Syamsul; Yunus, Awaluddin
Agricore Vol 11, No 1 (2026): Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v11i1.69532

Abstract

Abstrak Jagung adalah komoditas penting yang berperan besar dalam perekonomian daerah, terutama di Kabupaten Jeneponto. Desa Gunung Silanu merupakan salah satu daerah yang menghasilkan jagung hibrida, namun penggunaan faktor-faktor produksi masih kurang optimal, sehingga memengaruhi hasil usaha pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh luas lahan, jenis benih yang digunakan, penggunaan pupuk, pengalaman berusahatani, dan jumlah tenaga kerja terhadap produksi jagung hibrida di Desa Gunung Silanu, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto, dengan menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diambil dari 30 petani jagung hibrida yang dipilih secara purposive sampling, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda menggunakan model fungsi produksi Coob-Dauglas, hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, semua faktor independen memengaruhi produksi jagung menunjukkan pengaruh yang signifikan dengan nilai F-hitung sebesar 22,659 dengan tingkat signifikansi 0,000. Hasil analisis Secara parsial menunjukkan bahwa luas lahan, pengalaman berusahatani, dan jumlah tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap produksi jagung, sedangkan penggunaan benih dan pupuk tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap produksi. Hasil analisis menunjukkan bahwa koefesien determinasi (R²) sebesar 0,825 menunjukkan bahwa 82,5% perubahan produksi jagung dapat dijelaskan terhadap faktor-faktor yang diteliti. Kesimpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa pengelolaan faktor-faktor produksi perlu dioptimalkan, terutama luas lahan, pengalaman para petani, dan tenaga kerja, agar produksi jagung hibrida di Desa Gunung Silanu dapat meningkat.Kata kunci: Jagung Hibrida, Faktor Produksi, Produksi Jagung, Regresi Linear Berganda, Jeneponto.Abstract Corn is an important commodity that plays a major role in the regional economy, especially in Jeneponto Regency. Gunung Silanu Village is one of the areas that produces hybrid corn, but the use of production factors is still less than optimal, thus affecting agricultural business results. This study aims to determine the effect of land area, type of seed used, fertilizer use, farming experience, and number of workers on hybrid corn production in Gunung Silanu Village, Bangkala District, Jeneponto Regency, using a quantitative method with a case study approach. Data were taken from 30 hybrid corn farmers selected by purposive sampling, then analyzed using multiple linear regression using the Coob-Dauglas production function model, the results of the study showed that simultaneously, all independent factors affecting corn production showed a significant influence with an F-count value of 22.659 with a significance level of 0.000. The results of the partial analysis showed that land area, farming experience, and number of workers had a significant effect on corn production, while the use of seeds and fertilizers did not show a significant effect on production. The analysis results showed that the coefficient of determination (R²) of 0.825 indicated that 82.5% of changes in corn production could be explained by the factors studied. The conclusion of this study states that the management of production factors needs to be optimized, especially land area, farmer experience, and labor, so that hybrid corn production in Gunung Silanu Village can increase.Keywords: Hybrid Corn, Production Factors, Corn Production, Multiple Linear Regression, Jeneponto.
Production efficiency as a mediating mechanism linking financial management and agricultural institutions to farm profitability Musdalipa Musdalipa; Norhaedah; Sulfiana; Nurul Awaniah; Widyastuti Setianingsi Siri
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 11 No. 1 (2026): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30036838000

Abstract

This study examines how financial management and agricultural institutions are associated with farm profitability through production efficiency as a mediating mechanism. The unit of analysis is the individual farm business managed by food-crop farmers in Maros Regency, South Sulawesi, Indonesia. A quantitative explanatory design was used, and survey data from 150 farmers were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The results show that financial management and agricultural institutions have positive and significant relationships with production efficiency, with path coefficients of 0.667 and 0.490, respectively. Production efficiency is also positively related to farm profitability (0.618), while the direct relationships of financial management (0.222) and agricultural institutions (0.203) with profitability remain significant but smaller than their mediated pathways. Bootstrapping results indicate significant indirect effects from financial management to profitability through production efficiency (0.412) and from agricultural institutions to profitability through production efficiency (0.303), confirming partial mediation. The model explains 64.3% of the variance in production efficiency and 75.3% of the variance in farm profitability. These findings suggest that managerial and institutional interventions are more likely to improve profitability when they are explicitly directed toward more efficient input use, cost control, and productivity improvement.
Strategi Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani dalam Pemanfaatan Pekarangan untuk Ketahanan Pangan dan Penurunan Prevalensi Stunting: Empowerment Strategy for Women Farmers' Groups in Utilizing Yards for Food Security and Reducing Stunting Prevalence Musdalipa Musdalipa; Sulfiana Sulfiana; Zaenal Zaenal; Andi Aso Sessu; Rini Ariyani; Reski Reski
Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Media Publikasi Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56303/jppmi.v5i1.1067

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan sebagai strategi ganda dalam peningkatan ekonomi keluarga dan pencegahan stunting di Desa Pallantikang, Kabupaten Jeneponto. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui tahapan sosialisasi, pelatihan, pendampingan, serta monitoring dan evaluasi. Pelatihan difokuskan pada budidaya tanaman menggunakan metode tanaman dengan metode hybrid yaitu kombinasi metode tanam sederhana dan sistem hidroponik serta edukasi gizi keluarga terintegrasi dengan kegiatan posyandu. Penerapan teknologi tepat guna berupa sistem irigasi otomatis 360° mendukung efisiensi penggunaan air dan keberlanjutan budidaya. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang gizi seimbang dari 50% menjadi 90%, frekuensi konsumsi sayur meningkat dari 1–2 kali menjadi 5–6 kali per minggu, serta peningkatan keterampilan budidaya sebesar 25%. Selain itu, proporsi anak dengan status gizi baik meningkat dari 10% menjadi 60% pada sepuluh balita yang dipantau selama program berlangsung. Program ini berkontribusi dalam peningkatan ketahanan pangan rumah tangga, kemandirian ekonomi keluarga, serta mendukung pencapaian SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera).
Strategi Inovatif Pemberdayaan Kelompok Tani Hutan (KTH) Makkatuo dalam Usaha Lebah Madu di Kabupaten Gowa Nusqar Majid; Musdalipa Musdalipa; Helda Ibrahim; La Sumange
AGROVITAL : Jurnal Ilmu Pertanian Vol 10, No 2 (2025): AGROVITAL VOLUME 10, NOMOR 2, NOVEMBER 2025
Publisher : LPPM Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/agrovital.v10i2.6720

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor internal dan eksternal yang memengaruhi pengembangan usaha lebah madu serta merumuskan strategi inovatif pemberdayaan Kelompok Tani Hutan (KTH) Makkatuo di Kabupaten Gowa. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan analisis kuantitatif melalui Matriks IFE, EFE, SWOT, dan IE. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan kuesioner kepada 25 responden anggota kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kekuatan utama KTH Makkatuo meliputi organisasi kelompok yang terstruktur, pengetahuan dasar budidaya lebah, lokasi yang kaya pakan, dan modal sosial yang kuat, sedangkan kelemahannya adalah keterbatasan modal, keterampilan teknis, teknologi pengolahan, dan strategi bisnis. Dari sisi eksternal, peluang utama adalah meningkatnya permintaan pasar madu, dukungan pemerintah, ketersediaan pelatihan, serta tren produk organik, sedangkan ancamannya adalah perubahan iklim, deforestasi, hama penyakit, dan rendahnya partisipasi generasi muda.Nilai IFE (3,03) dan EFE (3,78) menempatkan KTH Makkatuo pada kuadran Grow and Build, sehingga strategi inovatif yang direkomendasikan adalah penguatan kelembagaan melalui pembentukan unit usaha bersama, diversifikasi produk lebah madu, pengembangan pemasaran digital dan branding produk organik, serta penerapan budidaya adaptif berbasis agroforestri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi inovatif berbasis kelembagaan, teknis, pemasaran, dan lingkungan mampu mendorong kemandirian dan keberlanjutan usaha madu hutan. Kata Kunci: Strategi Inovatif; Pemberdayaan; Lebah Madu; SWOT.
Multikulturalisme dan Ketahanan Sosial: Strategi Integrasi Nasional dalam Konteks Perubahan Sosial di Ambon dan Sanggau Musdalipa Mudalipa; Eliza Meiyani; Munirah Munirah; Fadhil Hayan Mochammad
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 31, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.110088

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi integrasi nasional dalam memperkuat ketahanan sosial di wilayah multikultural pascakonflik, dengan studi kasus di Kota Ambon (Maluku) dan Kabupaten Sanggau (Kalimantan Barat). Kedua wilayah ini dipilih karena memiliki latar belakang konflik sosial yang berbeda namun sama-sama merepresentasikan tantangan integrasi dalam konteks keberagaman etnis, agama, dan nilai budaya lokal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan data sekunder yang dianalisis menggunakan perangkat lunak NVivo 12 Plus melalui teknik analisis tematik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa integrasi nasional di Ambon berhasil didorong oleh sinergi antara intervensi negara, seperti pendidikan damai dan forum kerukunan umat, dan revitalisasi nilai lokal Pela Gandong sebagai instrumen sosial rekonsiliasi. Sebaliknya, di Sanggau, strategi integrasi cenderung bersifat top-down dan belum mengakomodasi secara penuh nilai-nilai hukum adat Dayak, sehingga ketahanan sosial rentan terganggu oleh konflik agraria dan eksklusi budaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan integrasi nasional sangat bergantung pada pengakuan substantif terhadap nilai lokal serta kolaborasi antara negara dan masyarakat. Rekomendasi mencakup penguatan kebijakan berbasis budaya, desain pendidikan multikultural kontekstual, dan pelibatan aktif lembaga adat dalam proses pembangunan sosial.