Claim Missing Document
Check
Articles

ANTARA IKIP DAN UGM Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.816 KB)

Abstract

       Beberapa tahun yang silam pernah terjadi sebuah kasus di suatu asrama, walaupun bukan asrama murni dalam pengertian suatu rumah kost dengan penghuni yang relatif cukup banyak,  yang sebagian besar penghuninya adalah para mahasiswa pada perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta.       Pada suatu hari ada seorang tamu yang datang di asrama tersebut untuk mencari seorang di antara penghuninya. Nah, oleh karena yang dicari sedang keluar maka beberapa di antara penghuni asrama tersebut menemani sang tamu sambil menunggu orang yang dicarinya. Setelah berbicara "ini-itu" ala kadarnya, kemudian sang tamu bertanya, "Adik-adik ini kuliah di mana?".       Yang pertama  kemudian menjawab,  "Saya kuliah di PTS,  pada Universitas X".  Selanjutnya mahasiswa yang kedua dengan mantap menjawab, "Saya di Hukum Gajah Mada" (maksudnya adalah kuliah di Universitas Gajah Mada pada Fakultas Hukum). Kemudian pada giliran mahasiswa yang ketiga atau yang terakhir dengan malu-malu menjawab pula dia, "Saya hanya di IKIP".       Yang menarik dari kasus tersebut ialah  pada mahasiswa terakhir yang cara menjawabnya dengan nada 'malu-malu' dan dalam kalimat jawabannya disertakan pula kata-kata 'hanya'.
DAYA SAING DAN PERAN PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.635 KB)

Abstract

       Medio tahun 1996 ini muncul publikasi ilmiah dari suatu lembaga internasional yang memfokuskan aktivitas pada pengkajian ekonomi, World Economic Forum (WEF), mengenai perkembangan daya saing berbagai negara di pasar internasional.  Publikasi ilmiah yang bertitel "Global Competitiveness Report 1996" ini melaporkan hasil studi mengenai daya saing internasional pada 49 negara. Adapun daya saing itu sendiri didefinisi sebagai kemampuan suatu negara untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkesinambungan sebagaimana diukur dengan perubahan pertumbuhan PDB per kapita.       Apa yang menarik dari publikasi ilmiah tersebut? Salah satu yang menarik adalah dinyatakannya Indonesia sebagai negara yang semakin meningkat daya saingnya; kalau pada tahun 1995 yang lalu daya saing internasional kita masih menduduki peringkat 33 (dari 48 negara) ma-ka di tahun 1996 ini daya saing kita berhasil melaju ke peringkat 30 (dari 49 negara) dengan indeks kompetisi sebesar -0,38.       Negara-negara yang menempati kelompok sepuluh besar daya sa-ingnya versi WEF tersebut masing-masing adalah Singapura dengan indeks kompetisi 2,10 (ditulis Singapura 2,10), Hong Kong 1,89, New Zealand 1,57,  Amerika Serikat 1,34, Luksemburg 1,29,  Swiss 1,27, Norwegia 1,03,  Kanada 1,01, Taiwan 0,98, dan Malaysia 0,91. Dari nama-nama ini nampak bahwa tinggi-rendahnya daya saing tidak ber-korelasi positif dengan besar-kecilnya negara.Ada negara-negara kecil yang daya saingnya tinggi,  misalnya Singapura, Taiwan, Hong Kong, dan New Zealand;  tetapi negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Kanada pun juga dapat mencapai daya saing yang tinggi.       Meskipun Indonesia berada di luar ring sepuluh besar akan tetapi kecenderungannya cukup positif;  setidak-tidaknya ada kenaikan dari peringkat 33 ke peringkat 30.
WAJIB BELAJAR, MUATAN LOKAL DAN MAGANG Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.053 KB)

Abstract

       Kalau dibandingkan dengan pendidikan tinggi maka pendidikan dasar dan menengah memiliki kekhasan tersendiri dalam romantika dan dinamika akademiknya. Romantika dan dinamika pendidikan tinggi di tahun 1993 cenderung pada hal-hal yang bersifat deviasi-implementatif, sedang kan pendidikan dasar dan menengah cenderung pada hal-hal yang bersifat konsepsual-akademik.          Salah satu isu pendidikan dasar yang sempat me-nyita konsentrasi menyangkut rencana pencanangan program wajib belajar pendidikan dasar. Sebenarnya program wajib belajarnya itu sendiri  baru akan dicanangkan tahun 1994 ini, tepatnya 2 Mei 1994,  tetapi persiapan dan komitmen politisnya sudah dirintis sejak jauh hari sebelumnya.         Sebagaimana yang telah lama direncanakan maka pada2 Mei 1994 nanti, bertepatan dengan peringatan hari pen-didikan nasional, Bapak Soeharto selaku presiden RI akan mencanangkan program wajib belajar pendidikan dasar atau wajib belajar sembilan tahun.
KOMPETISI PENDIDIKAN JEPANG VS AUSTRALIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.699 KB)

Abstract

       Jepang dan Australia adalah dua negara  yang memiliki fenomena pendidikan menarik pada beberapa tahun terakhir ini. Kedua negara yang mulanya terkesan menutup diri tersebut akhir-akhir ini membuka pintu pendidikan lebar-lebar terhadap dunia luar; bahkan lebih daripada itu kedua negara ini terlihat makin gencar dalam mempromosikan sistem dan pelayanan pendidikannya terhadap negara lain.          Keaktifan Jepang dan Australia sama-sama membuahkan hasil yang memuaskan dengan banyaknya siswa dan mahasiswa asing yang mau memanfaatkan lembaga-lembaga pendidikannya.  Sekarang ini di-perkirakan terdapat sekitar 100.000 siswa dan mahasiswa asing yang mengambil studi di Jepang; jumlah yang hampir sama juga terdapat di Australia. Siswa dan mahasiswa asing di kedua negara tersebut ada yang belajar pada sekolah formal di sekolah menengah dan perguruan tinggi; dan banyak pula yang mengambil kursus-kursus serta program-program jangka pendek lainnya.          Kedua negara maju di kawasan Asia Pasifik tersebut sama-sama berambisi untuk "menarik" lebih banyak lagi siswa dan mahasiswa asing untuk belajar pada lembaga-lembaga pendidikan di negaranya. Mengapa demikian?  Karena kedua negara tersebut menyadari benar bahwa dalam era globalisasi dewasa ini pendidikan pun telah menjadi investasi yang menggairahkan.  Secara ekonomik makin banyak orang asing yang datang untuk belajar maka makin tinggi pendapatan negara karena kedatangan orang asing tersebut pasti membawa "bekal ekono-mik" yang akan dibelanjakan di negara tujuan.
DILEMATIK PENGIRIMAN NAKERWAN INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.309 KB)

Abstract

       Sekitar tujuh tahun silam  permasalahan pengiriman  tenaga kerja wanita (nakerwan) ke luar negeri, khususnya ke Arab Saudi, menjadi gunjingan masyarakat.  Pengiriman nakerwan ini telah menimbulkan berbagai kekhawatiran dan keprihatinan; utamanya menyangkut harkat dan martabat wanita Indonesia pada umumnya dan nakerwan itu sen-diri pada khususnya.  Banyak anggota masyarakat kita yang khawatir jangan-jangan para nakerwan tersebut menjadi korban tindak asusila dan/atau terjun ke lembah hitam karena berbagai alasan; dan kalau hal ini terjadi tentu sangat menodai harkat dan martabat wanita Indonesia pada umumnya, serta harkat dan martabat mereka sendiri.      Kekhawatiran dan keprihatinan itu nampaknya memicu organisasi wanita di Yogyakarta,  Wanita Tamansiswa,  mengadakan dialog yang dikemas dalam sebuah diskusi panel dengan mengambil topik "Harkat Wanita Indonesia sebagai Tenaga Kerja Wanita di Luar Negeri". Fo-rum ini telah berlangsung tujuh tahun yang lalu,  atau tepatnya tanggal 21 Juli 1990 bertempat di Balai Persatuan Tamansiswa Yogyakarta.       Dari makalah saya dengan judul 'Tenaga Kerja Wanita Indonesia Latar Belakang dan Catatannya' setelah melalui pembahasan oleh para peserta diskusi di dalam forum tersebut akhirnya dihasilkan beberapa kesimpulan; antara lain dapat dijelaskan dalam tiga butir berikut ini.      Pertama, kepergian nakerwan Indonesia ke luar negeri hendaknya benar-benar didasarkan kesungguhan mengangkat harkat dan martabat diri, keluarga dan bangsanya;  janganlah menjadi aktivitas kompentatif atas rutinitas kegalauannya sehari-hari.  Kedua, bila kepergian nakerwan bisa mengacaukan fungsi keluarga sebagai pusat pendidikan bagi sang anak maka kepergiannya itu perlu dikaji ulang.  Dan ketiga, be-kerja di luar negeri dengan meninggalkan keluarga dalam waktu lama memiliki risiko kultural yang tinggi;  selama risiko ini belum tersolusi maka pengiriman nakerwan kita perlu dikaji ulang.
MENGGALAKKAN PENDIDIKAN KELUARGA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.613 KB)

Abstract

?Sesungguhnya alam keluarga itu bukannya pusat pendidikan individual semata, tetapi juga suatu pusat untuk melakukan pendidikan sosial. Untuk jaman sekarang haruslah ibu-bapa melakukan pendidikan itu tidak dengan sendirian atau berpisahan dengan pusat-pusat pendidikan lain, akan tetapi haruslah selalu berhubungan diri dengan kaum guru dan pengajar? (Ki Hadjar Dewantara) Pemerintah boleh saja membangun gedung sekolah yang megah, boleh mengisi dengan peralatan yang sophisticated, juga boleh membuat sistem pendidikan yang hebat; namun ada satu hal yang tak boleh dilupakan bahwa pusat pendidikan yang paling utama bagi sang anak adalah keluarga.  Konsep keluarga sebagai pusat pendidikan yang dinyatakan Ki Hadjar Dewantara, yang hari lahirnya 2 Mei dijadikan Hari Pendidikan Nasional, telah diakui para pakar pendidikan di dunia. Interaksi antarpersonal di keluarga memang spesifik: bersifat emosional (dalam konotasi positif), akrab, tidak formal, tidak birokratis, namun penuh harapan. Situasi seperti ini memikat sekaligus mengikat sang anak untuk mengembangkan potensi dan kepribadiannya secara konstruktif. Dari karakter seperti itulah maka muncul konsep pendidikan keluarga, yang dalam UU Sisdiknas diistilahkan sebagai pendidikan informal.
TINJAUAN AKADEMIS EBTANAS DI SEKOLAH Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.049 KB)

Abstract

       Setelah mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan, utamanya aspek keamanan hari-hari di sekitar kampanye pemilu, maka akhirnya departemen pendidikan menetapkan rescheduling terhadap kalender pendidikan. Salah satu kegiatan yang dijadwal ulang adalah pelaksanaan Ebtanas di SD, SLTP, SMU dan SMK yang kesemuaanya akan diadakan pada awal bulan Mei 1999.  Keputusan pelaksanaan Ebtanas ini cukup menarik mengingat Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) baru saja melontar usulan untuk dihentikannya Ebtanas.       Seperti kita ketahui,  BMPS membuat usulan  kepada pemerintah supaya pelaksanaan  Ebtanas dihentikan terhitung tahun ajaran 1999/ 2000 atau tahun depan.  Sebagai dasar untuk membuat usulan antara lain jawaban Ebtanas tidak pernah dikembalikan kepada siswa, terjadi- nya manipulasi nilai di lapangan,  memberatkan siswa dan orang tua karena beayanya besar, dan sebagainya.       Secara materiil usulan tersebut cukup argumentatif, tetapi sayang  tidak didukung dengan argumentasi akademis yang memadai. BMPS terlalu menonjolkan alasan-alasan praktis seperti terjadinya manipulasi nilai, beaya yang memberatkan, dsb.  Nampaknya BMPS tidak sempat mengoptimalkan pakar-pakar pendidikan yang ada didalamnya sehingga lontaran "manuver" yang sesungguhnya sangat strategis ini kurang terdukung oleh argumentasi akademis yang memadai.       Oleh karena argumentasi yang diajukan untuk mendukung usulan tersebut lebih menonjolkan sisi praktisnya maka kesan emosionalitas pada usulan tersebut menjadi tidak terelakkan.  Dengan demikian Pak Juwono Sudarsono selaku menteri pendidikan menjadi terlalu mudah untuk menanggapinya, Ebtanas tetap saja akan dilaksanakan;  kalau di lapangan ada kekurangan di sana-sini hendaknya dapat dibenahi ber-sama-sama sehingga pelaksanaannya pada masa-masa mendatang akan lebih baik dan lebih sempurna. Nah, selesai bukan?
MENYELAMATKAN SEKOLAH KEJURUAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.551 KB)

Abstract

       Salah satu tradisi pendidikan yang dipertahankan di negara kita sejak jaman kolonial dulu adalah diterapkannya sistem dikotomi sekolah; ialah dengan membentangkan seutas "benang merah" diantara sekolah umum (academic school) dan sekolah kejuruan (vocational school).       Secara konsepsional sekolah umum bertugas menyi-apkan para lulusan untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sedangkan sekolah kejuruan bertugas menyiapkan para lulusannya untuk dapat langsung memasuki dunia kerja.       Dengan diterapkannya sistem dikotomi sekolah ini maka disiplin dan kualifikasi tenaga kerja sebagai pro-duk lembaga pendidikan akan dapat lebih diperjelas. Sekolah kejuruan akan memproduksi "tenaga kerja trampil menengah" (middle skilled worker), sedangkan sekolah u-mum akan memproduksi lulusan yang dipersiapkan menjadi "tenaga kerja trampil tinggi" (upper skilled worker) dan"tenaga kerja ahli" (professional) melalui pendidikan lanjutan. Sedangkan melalui pendekatan kuantitatif dapat ditentukan proporsi tenaga kerja dengan berbagai disi-plin dan kualifikasinya yang dapat dan harus diproduksi oleh lembaga pendidikan.       Negara kita yang tengah memasuki era pembangunan ini memang sangat membutuhkan tenaga kerja dari berbagai disiplin dan kualifikasi, sehingga memang sangat beralasan untuk mempertahankan sistem dikotomi sekolah ini. Meskipun dalam pelaksanaannya sistem ini banyak menga-lami romantika akademis yang penuh dengan "ganjalan".
KONTRASEPSI DAN DELINQUENSI REMAJA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.136 KB)

Abstract

       Seorang Bapak Kost suatu hari diprotes oleh para anak asuhnya mengenai fasilitas kamar mandi yang sangat kotor dan tidak sehat;  saluran air buangan pada kamar mandi tersebut macet menyebabkan air limbah tidak dapat terbuang sebagaimana mestinya. Sebagai Bapak Kost yang bijak maka dengan cepat dipanggillah tukang untuk membe-tulkan ketidakberesan pada saluran air tersebut.        Apa yang terjadi setelah saluran air tersebut di-bongkar oleh Pak Tukang? Semua yang menyaksikan pada ge-leng-geleng kepala karena ternyata saluran air tersebut tersumbat oleh alat-alat kontrasepsi habis pakai! Bagai-mana mungkin dapat terjadi;  semua yang kost di tempat itu masih remaja dan belum menikah,  tetapi bukti menun-jukkan adanya penyumbatan saluran air oleh alat-alat kon trasepsi habis pakai.        Akhir-akhir ini masalah delinquensi atau kenakal-an remaja (juvenile delinquency) terasa lebih "semarak" lagi; ibarat penyakit lama yang kambuh kembali. Dan ..., delinquensi remaja tersebut seringkali dihubung-hubung-kan  dengan sistem distribusi kontrasepsi sebagai bagian dari pemasyarakatan gerakan Keluarga Berencana (KB).
TANTANGAN KULTURAL TAMANSISWA TAHUN 2020 Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.671 KB)

Abstract

       Tujuh puluh empat tahun yang lalu, tepatnya tanggal 3 Juli 1922, di persada Indonesia terjadi peristiwa yang sangat bersejarah dengan lahirnya lembaga kejuangan yang berkiprah dalam dunia pendidikan di dalam arti yang luas;  lembaga itu bernama Nationaal Instituut On-derwijs Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa), atau yang sekarang dikenal dengan Tamansiswa.       Hadirnya  Tamansiswa senantiasa mengiringi  perjalanan kultural bangsa Indonesia di era pra maupun pasca kemerdekaan. Di era pasca kemerdekaan ini perjalanan kultural bangsa Indonesia telah memasuki era baru yang dikenal dengan era industrialisasi yang ditandai dengan terjadinya transformasi konsentrasi sumber investasi. Kalau selama ini sebagian besar masyarakat kita masih meletakkan konsentrasi sumber investasi pada tanah-tanah pertanian dan perkebunan (preindustrial society),  maka kita sedang dituntut untuk mengubahnya ke permesin-an dan jasa (industrial society). Itupun ternyata belum cukup; karena di depan kita ada suatu "mesin budaya" yang menarik masyarakat kita untuk meletakkan konsentrasi sumber investasi pada ilmu pengetahuan dan teknologi (post industrial society).       Sekarang ini kita sedang menghadapi gelombang perubahan yang maha dahsyat;  dari kultur yang konvensional menuju kultur yang tek-nologis. Semua ini menjadi tantangan baru bagi bangsa yang sedang menuju ke arah kedewasaan dan kemajuan.