Claim Missing Document
Check
Articles

SISTEM KREDIT SEMESTER, SUDAH SIAPKAH SMA KITA? Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1984: HARIAN BERITA NASIONAL
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.734 KB)

Abstract

Sebuah gagasan baru telah muncul serta membawa Angin baru dalam kancah pendidikan kita dewasa ini. Penerapan Sistem Kredit Semester (SKS) di SMA akan segera direalisir dalam waktu yang relatif cepat, 'tahun ajaran 84/85'.Ini tentu merupakan berita yang menggembirakan (walau masih dalam pengharapan) sekaligus mengejutkan (meragukan ......?!). Betapa tidak, Sistem Kredit memang sudah dikenal sebagai suatu sistem yang memiliki fleksibilitas tinggi dan sistematisasinya pun tidak diragukan lagi. Akan tetapi satu hal yang perlu dicatat bahwa pe-nerapan sistem ini memerlukan 'kesiapan mental akademis' bagi semua individu-individu yang terlibat, baik siswa/ mahasiswa, guru/dosen maupun karyawan/tenaga administratifnya.Dengan demikian adanya gagasan tentang penerapan sistem ini di SMA tentu menggembirakan orang yang terlibat didalam dunia pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung, khususnya bagi mereka yang tahu betul manfaat yang dapat dipetik dari sistem tersebut (ini ba-ru berita!).Akan tetapi di lain pihak, adanya rencana bahwa sistem ini akan dilaksanakan mulai tahun ajaran 84/85 juga menimbulkan tanda tanya yang besar. Persiapan pelaksanaan sistem ini memang bukan pekerjaan sederhana,siswa harus diberi pengertian sedalam-dalamnya berkaitan de-ngan kemandiriannya, guru harus lebih bersifat terbuka, dan tenaga administratifpun harus jeli dsb.
PRAKTEK EKONOMI KERAKYATAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.709 KB)

Abstract

       Sekitar tiga tahun yang lalu (1993) Bank Dunia berhasil membuat laporan studi yang menarik untuk dipelajari mengenai pembangunan negara-negara di dunia di bawah judulnya "The East Asian Miracle : Economic Growth and Public Policy".  Ada yang sangat menarik dari laporan ini karena Indonesia meski di urutan "bontot" akan tetapi berhasil masuk dalam jajaran delapan negara yang dianggap cukup cepat pertumbuhan ekonominya.        Menurut versi Bank Dunia maka ada dua kategori negara dalam pertumbuhan ekonominya. Kategori pertama disebut dengan "High Performing Asian Economies" (HPAEs);  dan, sebagaimana sudah diprediksi oleh para pakar ekonomi,  urutan teratas dalam kelompok ini adalah Jepang.        Kiranya kita semua akan sependapat dengan kesepantasan Jepang untuk menduduki ranking pertama dalam urutan trsebut di atas karena negara ini memang berhasil "mendongkrak" kinerja ekonomi rakyat-nya menjadi sedemikian pesat dan sedemikian mengagumkan; oleh karenanya Jepang juga sering pula mendapat sebutan "the best eco-nomy performer" di seantero dunia.  Di bawah Jepang, dan masih dalam kelompok HPAEs,  barulah muncul nama-nama negara yang tergabung di dalam kelompok "The Four Tigers" Singapura, Korea Selatan, Hongkong, dan Taiwan.        Kategori yang kedua disebut dengan "The Newly Industrializing Economies" (NIE) atau yang dalam terminologi politis sering disebut dengan "New Industrial Countries" (NIC).  Negara-negara yang ada dalam kategori ini termasuk negara yang sangat "berpengharapan"; dan dalam kategori inilah nama Indonesia dicantumkan bersama-sama dengan negara Malaysia dan Thailand.
REKARAKTERISASI BANGSA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.327 KB)

Abstract

       ?The meaning of wisdom! Watch your thoughts, they become words; watch your words, they become actions; watch your actions, they become habits; watch your habits, they become character; watch your character, they become your destiny (Madinah, 5 Agustus 2007)?; demikianlah pesan pendek yang penulis terima dari seorang teman. Pesan tentang pentingnya sebuah karakter tersebut memang sangat faktual dan aktual dalam konteks wawasan kebangsaan bangsa Indonesia saat ini.          Dari pesan pendek tersebut jelas tergambarkan bahwa sebuah karakter terbangun dari kebiasan; kebiasaan terbangun dari tindakan; tindakan terbangun dari perkataan, perkataan terbangun dari pemikiran. Implikasi-nya, kalau pemikiran kita baik maka karakter kita cenderung baik; seba-liknya kalau pemikiran kita ngeres maka karakter kita cenderung buruk.          Pentingnya karakter tidak diragukan oleh karena karakter itu sendiri akan menentukan arah kehidupan kita. Kalau karakter kita baik maka arah kehidupan kita cenderung baik; demikian pula sebaliknya. Dalam bahasa riset hal seperti itu disebut positive correlation alias korelasi positif; artinya kalau fenomena yang satu naik maka fenomena yang lain juga naik, dan kalau fenomena yang satu turun maka fenomena yang lain juga turun.
PENDIDIKAN INDONESIA DI MATA BANK DUNIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.811 KB)

Abstract

       Sebagai lembaga donor,  Bank Dunia secara rutin mempresentasi laporan pendidikan di negara-negara yang mendapat bantuannya, tidak terkecuali Indonesia.  Dalam laporannya itu dapat diikuti sejauh mana pandangan Bank Dunia terhadap banyak hal menyangkut pelaksanaan pendidikan di negara-negara yang didonori,  baik hal-hal yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif.       Tentang pelaksanaan pendidikan di Indonesia, baru-baru ini Bank Dunia membuat laporan preliminari yang titelnya dibuat terkesan agak bombastis,  yaitu 'Education in Indonesia : From Crisis to Recove-ry' (1998). Menurut Brigitte Duce dari Bank Dunia, laporan yang hampir mencapai 200 halaman ini konon pembuatannya dimulai sejak sebelum krisis ekonomi di Indonesia berlangsung.  Lebih daripada itu bahkan draf awal laporan tersebut sudah siap sejak Agustus 1997 yang lalu bertepatan dengan krisis ekonomi di negara kita mulai nampak nyata di permukaan.       Di Jakarta saya dan beberapa teman sempat menanyakan; dengan judul seperti itu apakah berarti bangsa Indonesia sudah terlepas dari krisis. Sekarang ini pun kita kan masih berada di tengah-tengah krisis, baik krisis ekonomi, sosial, politik, hukum, kemasyarakatan, dan ter-masuk juga pendidikan.  Bahkan saya berpendapat bahwa sekarang ini bukan saja kita berada dalam situasi dan kondisi yang krisis (crisis), akan tetapi sudah berada pada tahap kritis (critical).       Memang itulah Bank Dunia.  Kadang-kadang mereka sangat suka membuat judul-judul laporan dengan kalimat yang tidak sekedar publi-katif,  tetapi sudah bombastis.  Barangkali kita masih ingat tahun 1993 lalu ketika Bank Dunia juga membuat judul laporan yang tidak kalah bombastisnya, 'The East Asian Miracle : Economic Growth and Public Policy' (1993).  Kata-kata "miracle" (ajaib) itu kan bombastis untuk membahas masalah pertumbuhan ekonomi negara.
PERTUMBUHAN DAN PERATAAN EKONOMI KITA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.45 KB)

Abstract

       Pada pidato pengukuhan guru besarnya di  Universitas Brawijaya Malang pada akhir Mei 1995 yang lalu Prof. Ginandjar Kartasasmita menyatakan bahwa strategi pembangunan harus ditujukan ke dua arah;  pertama,  memberi peluang pada sektor dan masyarakat modern untuk lebih maju, dan kedua, memberdayakan sektor ekonomi dan lapisan rakyat yang masih tertinggal dan hidup di luar kehidupan modern.          Lebih lanjut Pak Ginandajr memberikan argumentasi bahwasanya kedua strategi pembangunan tersebut harus ditempuh secara simultan dikarenakan adanya fakta dan pengamatan empiris yang menunjukkan bahwa teori perembesan ke bawah (trickle down) di negara-negara berkembang pada umumnya tidak dapat berjalan sebagaimana yang diinginkan.  Dalam hal ini kiranya yang dimaksud oleh Pak Ginandjar adalah bahwa kemajuan pembangunan itu lebih dinikmati oleh kelompok lapisan atas saja;  sementara itu kelompok lapisan menengah dan bawah belum menikmati kemajuan pembangunan secara optimal.          Kita bangsa Indonesia ini rasanya memang memiliki kekayaan pengalaman dalam menjalankan roda-roda pembangunan.  Bahwa kita harus mengejar ketertinggalan dari bangsa lain yang lebih dulu maju memang benar,  itulah sebabnya maka upaya melajukan pertumbuhan ekonomi mendapatkan prioritas.  Pada sisi yang lain, bahwa kita harus membagi adil roti pembangunan memang tidak keliru, itulah sebabnya maka upaya merealisasi perataan ekonomi juga mendapatkan prioritas. Memang demikianlah hakekat strategi pembangunan kita kini.
KITA KEMBALI KE FITRAH Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.889 KB)

Abstract

       Minal aidien, wal faidzin       Mohon maaf, lahir dan batin       Meskipun kumandang takbir dan sholat idul fitri telah beberapa hari berlalu namun suasana hari raya idul fitri, atau hari lebaran masih sangat terasa.       Acara 'buka pintu' masih tetap berlangsung, orang-orang muda 'sowan' kepada orang-orang tua (pepundhen), sebagian saudara-saudara yang bertempat tinggal di kota yang 'mudik' masih enggan meninggalkan desa, keluarga yang mengadakan rekreasi ketempat pelancongan, pesta-pesta kecil di dalam keluarga, dan acara-acara serupa lainnya masih saja 'berkumandang'.       Itulah peringatan hari raya idul fitri di Indonesia, hari-hari yang kemudian tidak saja menjadi monopoli umat Islam, namun hampir semua orang di Indonesia ikut merayakannya.       Sudah menjadi semacam tradisi kita selama ini, sebuah acara yang merupakan rangkaian peringatan hari raya idul fitri masih menghadang. Lihatlah, sebentar lagi beberapa instansi, kantor, lembaga, organisasi dan sebaginya tentu akan menyeleggarakan acara  routine tahunan, 'halal bil halal',  sekalipun acara  tersebut secara tradisional telah kita jalani di rumah, dijalan, dilapangan, di masjid dan dimana saja setiap kita bertemu dengan teman dan kerabat untuk saling berjabat tangan dan bermaaf-maafan.
MEMASUKI ERA STAGNASI PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.044 KB)

Abstract

Di luar dugaan banyak orang, dalam sidangnya 20 Februari 2008 yang lalu akhirnya Mahkamah Konstitusi (MK) mengambil keputusan untuk memasukkan alias memperhitungkan gaji pendidik ke dalam anggaran pen-didikan. Artinya, gaji pendidik bukan lagi menjadi komponen tersendiri di luar anggaran pendidikan seperti yang diperhitungkan selama ini melainkan menjadi salah satu komponen anggaran pendidikan itu sendiri.          Keputusan MK tersebut bertolak belakang dengan wasiat UU Sisdiknas yang tertulis dalam ayat (1) Pasal 49, ?Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan mini-mal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)?.          Sudah barang tentu keputusan tersebut membuat banyak orang kecewa seperti halnya Winarno Surachmad (UNJ), Hamid Hasan (UPI), Utomo Dananjaya (Paramadina), Aziz Husein dan Rusli Yunus (PGRI), Soedijarto (ISPI), Iwan Hermawan (FGII), dsb. Keputusan MK tersebut dianggap telah mengandaskan perjuangan guru, menggagalkan usaha merealisasi pendi-dikan murah berkualitas, dan sebagainya.
SDSB DAN KREDIBILITAS LEMBAGA PENELITIAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.348 KB)

Abstract

       Sebuah proses penelitian nasional yang memperoleh "backing up"  dari pemerintah ternyata dapat takluk dari rasa takut. Ini bukan berita bohong, akan tetapi sungguh terjadi. Biro Pusat Statistik (BPS) terpaksa membatalkan penelitiannya yang sudah berjalan dua bulan dengan alas-an petugas pencari data di lapangan mendapat hambatan; konon petugas lapangan BPS tersebut banyak mendapatkan ancaman fisik, bukan itu saja bahkan konon ada yang akan dipukuli dan disakiti apabila tidak menghentikan aktivi-tasnya untuk mengumpulkan data.          Kasus tersebut di atas baru-baru ini terungkap jelas di permukaan ketika berlangsung acara dengar penda pat antara Komisi X DPR RI dengan Pimpinan BPS di Jakar-ta.  Pada saat salah seorang anggota Komisi X menanyakan bagaimana nasib penelitian BPS mengenai dampak Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB) bagi perikehidupan sosi al ekonomi masyarakat  yang dulu pernah "diributkan" itu diperoleh jawaban dari Kepala BPS, Azwar Rasjid,  bahwa penelitian tersebut terpaksa dihentikan karena terdapat-nya hambatan di lapangan.  Menurut keterangan  Pak Azwar petugas lapangannya pada menyerah dengan membawa laporan,  "kami sudah mencoba, kami tak sanggup, takut dipukuli".          Apa yang terjadi dengan BPS tersebut tentu sangat memprihatinkan,bahkan sekaligus juga sangat mengecewakan masyarakat; bagaimana mungkin bisa terjadi suatu lembaga penelitian yang mendapat dukungan penuh dari pemerintah sampai harus melepaskan misi nasionalnya hanya gara-gara takut pada tukang pukul.  Memangnya bodyguard itu sangat menakutkan dan aparat keamanan tak dapat mengatasinya?
BENGKEL TERPADU SEKOLAH VOKASIONAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN PRIORITAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.822 KB)

Abstract

       Salah satu unsur dari "teori keharmonisan" yang dikemukakan oleh John L. Holland mengatakan bahwa untuk menciptakan keharmonisan antara manusia dengan lingkungan sosialnya maka tingkat pendidikan (level of educational) hendaknya mendapat perhatian dalam struktur kerja atau jabatan setiap orang (John L. Holland, "Making Vocational Choices"; 1985).       Teori ini relevan dengan apa yang dikemukakan o-leh Marshall bahwa untuk memasuki era industri dituntut setiap orang hendaknya bersifat "gentlemen; ialah meng-hargai atau menghormati tingkat pendidikan dalam struk-tur kerja atau jabatan.       Seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan ting-gi tetapi mendapatkan tingkat pekerjaan atau pun jabatan rendah, sebaliknya seseorang yang mempunyai tingkat pen- didikan rendah tetapi mendapatkan tingkat pekerjaan atau jabatan tinggi sangat mungkin akan membawa efek ketidakharmonisan atau ketidakselarasan dalam interaksi manusia dengan lingkungan sosialnya.       Apabila kita sempat mengikuti lebih jauh apa yang dimaksud dengan "tingkat pendidikan" oleh kedua tokoh tersebut diatas adalah kesiapan seseorang dalam mengha-dapi dunia kerja.
KB MANDIRI VIA KGR, KUD DAN PUSKESMAS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.948 KB)

Abstract

       Kelompok Gotong Royong (KGR) merupakan organisasi yang menghimpun anggota masyarakat dan mempunyai potensi untuk mengembangkan gerakan KB/KB Mandiri. Adapun sifat organisasinya dapat struktural, misalnya PKK, maupun non struktural,misalnya kelompok pengajian. Bentuk-bentuk KGR yang ada di DIY antara lain adalah PKK, Apsari, Dasawisma, Kelompok Tani Wanita (KTW),  Kelompok Pengajian, UPPKA, Priyo Sembodo, dan sebagainya.       Menurut hasil midsurvey yang dilakukan pada tahun 1990 maka PUS yang mengaku menjadi anggota dasawisma mencapai 64,9%  dari keseluruhan responden;  sedangkan yang  mengaku menjadi anggota PKK dan kelompok pengajian berturut-turut 55,8% dan 41,6%.  PUS yang mengaku menjadi anggota jenis KGR lain jumlahnya lebih sedikit lagi.         Dari angka tersebut dapat disimpulkan dasawisma merupakan KGR paling potensial mengembangkan KB Mandiri.  Perlu dicatat bahwa seorang ibu umumnya menjadi anggota lebih dari satu jenis KGR; misalnya menjadi anggota/peng urus PKK, dasawisma, UPPKA, apsari, dsb, sekaligus.