Claim Missing Document
Check
Articles

POSISI SEKOLAH SWASTA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.35 KB)

Abstract

       Salah satu pertanyaan yang terlontar dari seorang peserta kuliah umum di University of Malaya (UM), Kuala Lumpur, Malaysia, ketika saya diminta memberi presentasi dalam forum yang diikuti oleh 450-an mahasiswa baru-baru ini adalah berkisar pada posisi sekolah nonpemerintah atau sekolah swasta (private school) di negara-negara berkembang pada umumnya dan di Malaysia pada khususnya.          Permasalahan sekolah swasta di Indonesia kiranya memang bukan merupakan hal yang baru meskipun senantiasa menarik untuk dicermati;  akan tetapi banyak negara ber-kembang (developing country)  yang kini tengah mengalami dilema dalam hal pengembangan sekolah swasta, khususnya di jenjang pendidikan tingginya.  Salah satu negara yang tengah mengalami permasalahan tersebut adalah Malaysia;  meski eksistensi sekolah swasta di negeri ini sebenarnya juga bukan hal yang baru lagi.          Untuk mendasari jawaban atas pertanyaan tersebut saya menyodorkan  sebuah fenomena yang mengiringi proses modernisasi pada berbagai negara akhir-akhir ini; yaitu terdapatnya  hubungan positif  (positively relationship) antara modernisasi dengan swastanisasi. Keadaan ini bisa dilihat pada berbagai negara bahwa kemajuan yang dicapai oleh negara yang bersangkutan hampir selalu dibersamai dengan semakin berperannya sektor swasta di berbagai bi-dang; baik bidang produksi maupun bidang jasa dan bidang layanan masyarakat yang lainnya.
PENDIDIKAN BUDI PEKERTI MASYARAKAT PASIFIK Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.383 KB)

Abstract

       Pada akhir bulan November 1996  yang lalu  saya berkesempatan menghadiri dan sekaligus memberi presentasi pada kongres internasional pendidikan di Kowloon, Hong Kong yang diselenggarakan oleh badan pendidikan internasional,  Pan-Pasific Association of Private Education (PAPE).  PAPE adalah organisasi pendidikan yang anggo-tanya berasal dari negara-negara Pasifik dan sekitarnya.  Setiap tahun PAPE menyelenggarakan kongres bertempat di negara-negara anggota secara bergiliran.  Indonesia sendiri pernah mendapat dua kali giliran; masing-masing di Denpasar (1984) dan di Yogyakarta (1990).       Di samping oleh PAPE saya diminta memberikan presentasi pen-didikan maka oleh Pimpinan Musyawarah Perguruan Swasta (MPS) saya diminta memimpin delegasi Indonesia dalam forum tersebut. Su-dah tiga kali saya memimpin delegasi Indonesia dalam forum seperti itu; masing-masing di Jepang, New Zealand, dan Hong Kong.       Semenjak ada pertemuan di Auckland, New Zealand, tahun 1995 yang lalu,  para anggota PAPE sudah sepakat untuk mengembangkan konsepsi pendidikan keunggulan untuk masyarakat Pan-Pasifik (untuk selanjutnya disebut masyarakat Pasifik). Tanpa pendidikan keunggulan maka kita akan selalu dijajah secara kultural oleh sistem pendidikan Barat melalui kegiatan infiltrasi budayanya.  Atas dasar inilah maka di dalam forum PAPE di Hong Kong saya menawarkan pendidikan budi pekerti untuk mengembangkan konsepsi pendidikan keunggulan yang telah kita rindukan tersebut.       Kebetulan saya mendapat kesempatan pertama berpresentasi; dan ide pendidikan budi pekerti pun segera saya tawarkan.  Idealnya pen-didikan budi pekerti harus dijadikan salah satu kriteria yang harus ter-penuhi dalam membangun manusia unggul."Science and technology, obedience to God's,  and moral education becomes the essence of excellent people".
PROFIL KEPENDUDUKAN DAN KESEHATAN DI JAWA BARAT Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.811 KB)

Abstract

       Salah satu survei kependudukan, KB, dan kesehatan  yang paling bergengsi di Indonesia dalam beberapa tahun yang terakhir ini adalah Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) atau yang oleh pakar dan praktisi kependudukan dan kesehatan biasa disebut dengan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI).          Di negara kita  survei seperti itu  sudah dilaksanakan  selama tiga kali; masing-masing ialah pada tahun 1987 disebut Survei Prevalensi Kontrasepsi Indonesia (SPI-1987),  tahun 1991 disebut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI-1991),  dan terakhir tahun 1994 disebut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI-1994). Jadi SDKI-1994 adalah survei bergengsi yang paling aktual;  survei ini pe-ngambilan datanya sudah dilakukan antara bulan Juli s/d November 1994 akan tetapi analisis dan laporan akhirnya sampai sekarang masih dalam proses penyelesaian.         Apabila ditilik dari banyaknya sampel maka SDKI-1994 termasuk survei yang 'besar';  survei ini melibatkan puluhan ribu rumah tangga dan wanita (pernah) kawin yang ada dan berdomisili di seluruh wila-yah Nusantara. Konkritnya, sampel survei ini mencapai 33.738 rumah tangga dan 28.168 wanita Indonesia.
KONGRES SISWA SEKOLAH SWASTA DI PASIFIK Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.38 KB)

Abstract

Pada hari Senin  tanggal 21 April 1997  pimpinan PAPE kembali mengadakan pertemuan ekstra atau pertemuan istimewa (extraordina-ry meeting) yang berlangsung di Tokyo, Jepang. Pertemuan diadakan di dua tempat;  untuk acara yang formal di Nihon University Kaikan, sedangkan untuk acara-acara nonformalnya dilaksanakan di Shigaku Kaikan (dua gedung yang saling berseberangan jalan).       Pertemuan ekstra di Tokyo tersebut merupakan tindak lanjut dari keputusan pengurus PAPE dalam pertemuan direktur (MOD/Meeting of Directors) di Hong Kong pada bulan November 1996 yang lalu, bersamaan dengan dilaksanakannya Kongres Ke-18 PAPE.  Ketika itu MOD dihadiri oleh 12 anggota pimpinan PAPE,  yaitu Mr. Katsuaki Horikoshi (Jepang),  Mr. Mikio Kawabata (Jepang), Mr. Ekyo Yama-moto (Jepang), DR. Peter W.Harris (Australia), DR. Man Kwan Tam (Hong Kong),  DR. Ki Supriyoko. M.Pd (Indonesia),  Mr. Kyu-Baek Uhm (Korea Selatan),  Mr. John Sargent (New Zealand),  DR. Ochoa Cesar S. (Philippina),  DR. Anthony Si-An Chen (Taiwan),  DR. Bro. Leo Visith Srivichairatana (Thailand) dan MR. Andre Corcoran (AS).         Oleh karena banyaknya masalah yang belum/tidak selesai dibahas secara tuntas dalam MOD di Hong Kong tersebut di atas maka saya (Indonesia) mengusulkan dilanjutkannya rapat tersebut dalam forum pertemuan ekstra;  tempatnya bisa di Tokyo, Jepang  atau di Bangkok, Thailand. Rupanya semua peserta rapat menyetujui pertemuan ekstra dilaksanakan di Tokyo Jepang, dan Jepang sanggup menyediakan ber-bagai fasilitas.       Keputusan pemilihan Tokyo untuk pertemuan ekstra memang cu-kup tepat;  di samping Tokyo merupakan pusat kegiatan PAPE maka peran sekolah swasta di Jepang memang tidak diragukan lagi.
SILATURRAHMI YANG “MIGUNANI” Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.184 KB)

Abstract

       ?Likulli ummatin ajal(un), idzaa jaa ajaluhum, falaa yasta?khiruuna, saa?atan, walaa yastaqdimuun(a)?; demikianlah firman Allah SWT yang terpajang dalam Al Qur?an, Surat Yunus (10) ayat (49). Adapun terjemahan bebasnya adalah sbb: ?Setiap ummat memiliki kematian (ajal), apabila telah datang kematian mereka, maka mereka tidak akan dapat mengundurkannya, (meskipun) sesaat, dan tidak (pula) dapat mendahulukannya?.          Firman Allah tersebut berlaku bagi siapa saja, tak ada satu pun ummat yang bisa mengecualikannya; termasuk Dr. H. Soemadi M. Wonohito, S.H., pria kelahiran Jakarta 14 September 1936 dengan 1 isteri, 10 anak dan 12 cucu yang bertahun-tahun memimpin koran bersuara hati nurani rakyat ini.          Dua hari sebelumnya ketika menghadiri arisan keluarga masih sehat, sehari sebelumnya sempat menikahkan putranya, bahkan malam hari yang sama berencana menghadiri mujahadah dan taushiyah peringatan 63 tahun koran yang dipimpinnya. Namun, ketika ?gilirannya? tiba maka tidak seo-rang pun sanggup menolak. Pak Madi pun, demikian panggilan akrabnya, harus menghadap Allah SWT Tuhan YME.
RANKING MUTU PERGURUAN TINGGI KITA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.584 KB)

Abstract

Rendahnya ranking mutu perguruan tinggi kita yang dipublikasi Asiaweek dua minggu lalu barangkali tidak mengejutkan kita. Banyak di antara kita yang tahu diri bahwa daya saing perguruan tinggi kita umumnya masih rendah kalau dihadapkan dengan perguruan tinggi di manca negara. Tetapi,  kalau dari tahun ke tahun ranking kualitas kita yang sudah rendah tersebut tidak mengalami peningkatan namun jus-tru penurunan itulah yang sedikit agak sulit diterima.       Berdasarkan hasil studinya,  Asiaweek edisi 23 April 1999  yang lalu mengumumkan 69 perguruan tinggi umum (multi disciplinary university) dan 35 perguruan tinggi iptek (science and technology university) di Asia dan Australia secara berurutan menurut kualitas-nya.  Majalah yang beredar luas di seantero dunia ini,  utamanya Asia dan Australia,  mencoba memberi informasi secara fair dengan menu-liskan secara lengkap kriteria yang dipakai untuk menentukan mutu.       Sepuluh perguruan tinggi umum  dan lima perguruan tinggi iptek yang dianggap paling bermutu masing-masing diberi predikat World Class University.  Kesepuluh perguruan tinggi umum yang dimaksud ialah: (1) Tohoku University (Jepang), (2) Kyoto University (Jepang), (3) Seoul National University (Republik Korea), (4) University of Hong Kong (Hong Kong Cina),  (5) Taiwan University (Taiwan), (6) National University of Singapore (Singapura),  (7) Chinese University of Hong Kong (Hong Kong Cina), (8) University of New South Wales (Australia), (9) Yonsei University (Republik Korea), dan (10) Univer-sity of Melbourne (Australia).       Sementara itu perguruan tinggi ipteknya sbb: (1) Korea Advanced Institute of Science and Technology (Republik Korea), (2) Pohang University of Science and Tachnology (Republik Korea), (3) Tokyo Institute of Technology (Jepang),  (4) Indian Institute of Technology Delhi (India), dan (5) Indian Institute of Technology Madras (India).
MENURUNNYA KUALITAS PERGURUAN TINGGI DAN POSISI FAKULTAS PASCA SARJANA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN JAWA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.342 KB)

Abstract

       Akhir-akhir ini kualitas perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan formal yang paling tinggi tengah mendapat sorotan yang cukup tajam. Beberap pihak, baik yang berkecimpung langsung dalam lembaga tersebut maupun yang sekedar menaruh minat, banyak yang mensinyalir bahwa kualitas perguruan tinggi kita dewasa ini sebagai telah menurun.       Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Fuad Hassan bahkan baru-baru ini mengemukakan bahwa kualitas perguruan tinggi perlu untuk segera ditingkatkan. Tentu saja semua pihak diharapkan memberikan bantuan dalam u-paya peningkatan kualitas perguruan tinggi ini.       Memang sampai saat ini belum ada kriteria yang jelas dan tegas atau semacam standarisasi kualifikasi akademis yang telah dibakukan untuk mengacu kualitas se-buah perguruan tinggi.  Dengan demikian sebenarnya cukup sulit untuk mengadakan evaluasi yang hasilnya dapat dite rima oleh semua pihak tentang sejauh mana kualitas suatu perguruan tinggi.       Meskipun demikian,  setidak-tidaknya ada beberapa indikator yang dapat diacu. Diantara indikator-indikator tersebut adalah kuantitas dan kualitas dosen, frekuensi dan intensitas kegiatan ilmiah,  serta kesiapan lulusan untuk terjun di masyarakat.
MEMBEDAH KURIKULUM 1994 SMA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.963 KB)

Abstract

       Kiranya baru kali inilah,  setidak-tidaknya dalam sepuluh tahun terakhir,  dalam satu tahun ajaran berlaku dua kurikulum sekaligus. Tahun ini sekolah-sekolah kita, yaitu SD, SLTP, dan sekolah menengah sedang mengaplikasi dua jenis kurikulum sekaligus;  masing-masing adalah ku-rikulum lama dan kurikulum baru (Kurikulum 1994).          Pemberlakuan kurikulum baru tersebut memang tidak dilakukan secara total tetapi dilakukan secara bertahap; maksudnya untuk SD dimulai dari kelas satu dan kelas em-pat, sedangkan untuk SLTP dan sekolah menengah dimulai dari kelas satu. Tegasnya,tahun ini kelas satu dan kelas empat SD menggunakan kurikulum baru sedangkan kelas dua, tiga, lima dan enam masih menggunakan kurikulum lama. Di sisi yang lain kelas satu SLTP dan sekolah menengah (SMA dan SMK) menggunakan kurikulum baru, sedangkan kelas dua dan tiga masih menggunakan kurikulum lama.          Dengan berlakunya dua jenis kurikulum tersebut bisa kita bayangkan betapa kompleksnya permasalahan teknis dan operasional yang dihadapi para kepala sekolah. Kom-pleksitas ini makin bertambah lagi dengan adanya realita mengenai perbedaan sistem liburan panjang; apabila dalam kurikulum lama sistemnya adalah semesteran maka di dalam kurikulum baru sistemnya adalah catur wulan.
SERTIFIKASI DAN “HOLOCAUST” SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.966 KB)

Abstract

Holocaust yang artinya prahara atau bencana besar saat ini  merupakan terminologi yang sangat populer di Arab, khususnya di Palestina. Serangan ?membabi-buta? yang dilakukan Israel di Gaza dan menewaskan ribuan manusia itulah yang disebut holocaust. Terminologi ini semakin populer ketika dikumandangkan secara berulang kali oleh televisi Al-Jazeera dan Al-Arabiya.          Di Indonesia, holocaust ada hubungannya dengan sertifikasi pendidik. Apakah hubungannya? Sejak tahun kemarin s/d sekarang proses sertifikasi yang melibatkan ratusan ribu guru dan dosen telah dan masih berlangsung. Puluhan ribu guru dan dosen bahkan telah menikmati kenaikan kesejahte-raan secara signifikan setelah mendapatkan sertifikat pendidik.          Permasalahannya, kalau kenaikan kesejahteraan puluhan ribu guru dan dosen yang telah menyita triliunan rupiah uang negara tersebut tidak diser-tai dengan semakin matapnya kinerja pendidikan maka terjadilah bencana besar di negeri ini. Holocaust!
SENTRALISASI DAN DESENTRALISASI EBTANAS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.411 KB)

Abstract

       Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita, Prof. Dr. Fuad Hassan baru-baru ini mengemukakan bahwa kemungkinan diselenggarakannya  desentralisasi Ebtanas untu tahun-tahun yang akan datang akan segera dikaji dan diteliti. Bahkan Bapak Presiden Soeharto sendiri sudah  memberikan lampu  hijau terhadap rencana pengkajian dan  penelitian tentang  kemungkinan penyelenggaraan ebtanas yang tidak terpusat ini.       Mendikbud selanjutnya memberikan penjelasan bahwa     peng-kajian  dan penelitian tentang penyelenggaraan Ebtanas  secara desentralisasi akan segera dilakukan  karena banyaknya keluhan masyarakat tentang pelaksanaan Ebtanas seperti yang selama ini diselenggarakan oleh pemerintah, dalam hal ini Depdikbud.       Ebtanas yang diselenggarakan sejak beberapa tahun     yang lalu antara lain dimaksudkan untuk meningkatkan dan     menyamakan kualitas pendidikan. Dengan Ebtanas diketahui     seberapa besar kemampuan masing-masing siswa dan sekolah di seluruh wilayah Nusantara ini dalam proses pendidikan yang kurikulumnya telah ditetapkan dan disamakan sebelumnya dari pusat.       Permasalahan kemudian muncul setiap hasil Ebtanas akan di-umumkan, dimana pada umumnya hasil Ebtanas adalah "jelek"  (baca: kurang memuaskan).  Baik secara langsung maupun tidak langsung hal ini telah menunjukkan demikian terbatasnya kemampuan siswa serta kualitas sekolah  pada umumnya.