Claim Missing Document
Check
Articles

JASA RADIO DALAM PENDIDIKAN KITA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.421 KB)

Abstract

       Di hadapan para peserta ?Lokakarya Siaran Radio Pendidikan? yang diselenggarakan sekitar tujuh belas tahun yang silam, tepatnya tanggal 3 Januari 1972, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menganjurkan untuk mempertimbangkan rekomendasi Prof. Wilbur Schramm (cs) di dalam salah satu karyanya yang bertitel  "The New Media : Memo to Educational Planners".       Di dalam karyanya tersebut Schramm,  yang selama ini kita kenal sebagai "bapak media"  karena keahliannya pada bidang permediaan, mengemukakan tentang kemungkinan dilaksanakannya inovasi pendidikan dengan memanfaatkan jasa media, termasuk di antaranya media radio.        Untuk  mendukung anjurannya tersebut menteri kita menegaskan bahwa dengan munculnya berbagai problematika pendidikan di Indonesia yang makin lama semakin kompleks maka inovasi pendidikan tidak mungkin lagi hanya dilaksanakan secara tradisio-nal dan konvensional;  oleh karena itu usaha-usaha nonkonvensio-nal perlu ditangani secara lebih serius.       Akhirnya pada kesempatan tersebut di atas menteri mengharapkan agar segera dirumuskan masalah-masalah yang berhubungan dengan program penerapan broadcasting dalam pendidikan, untuk selanjutnya disusun suatu pola rencana umum untuk mengintegrasikan broadcasting  (yang dimaksud adalah siaran radio)  dalam pendidikan secara pragmatis dan realistis.
SLTP KETERAMPILAN BERWARNA KEJURUAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.534 KB)

Abstract

       Meski baru saja  beberapa minggu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) namun pada kenyataannya sudah banyak pemikiran dan kegiatan Pak War diman Djojonegoro yang terlontar di masyarakat. Adapun salah satu pemikiran dan kegiatan yang dilontarkan ialah mengenai pengembangan SLTP Keterampilan (SLTP-K).          Seperti yang sudah kita dengar dan saksikan ber-sama,baru-baru ini Pak Menteri telah berkenan meresmikan beroperasinya lebih dari 300 SLTP-K di Indonesia sebagai tanda mulai dikembangkannya SLTP-K di negara kita. Mes-ki banyak orang belum jelas mengenai "konsep jelas" atas SLTP-K tersebut akan tetapi rencana jalan terus. Kiranya Mendikbud ingin menjelaskan kepada masyarakat bahwa kon-sep SLTP-K memang konstruktif sehingga pengembangannya tidak main-main, bukan hangat-hangat tahi ayam.          Dikembangkannya SLTP-K konon dimaksudkan untuk memberi bekal keterampilan bagi lulusan yang tidak dapat melanjutkan studi ke sekolah menengah. Bagi lulusan SLTP yang karena sesuatu atau berbagai hal tidak dapat/mau melanjutkan studi ke sekolah menengah mereka tetap dapat terjun langsung di masyarakat berbekal keterampilan yang pernah diperolehnya di sekolah. Para lulusan SLTP ini a-kan sanggup bekerja "apa saja" di masyarakat berbekalkan keterampilan yang dimilikinya.
MAKNA PIDATO SBY DI HARVARD SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.044 KB)

Abstract

Berita di dalam negeri sekarang tengah terfokus pada bencana gempa bumi berkekuatan 7,6 SR yang memporak-porandakan kehidupan manusia di Sumatera Barat. ?Bumi Andalas Tengah Berduka; Indonesia Kembali Bersedih?; demikian barangkali kata-kata yang tepat untuk merangkum aneka berita mengenai musibah sebagai peringatan Tuhan tersebut.          Ketika musibah terjadi, kami dan keluarga sedang tinggal di Singapura; dan begitu banyak pertanyaan dari kawan-kawan dan tetangga yang berta-nya kenapa hal itu bisa terjadi, bahkan ada yang menyatakan duka cita yang mendalam atas musibah itu.          Tanpa mengesampingkan hal yang menyedihkan tersebut; sebenarnya baru saja bangsa Indonesia menerima kehormatan dari bangsa Amerika Serikat (AS), khususnya civitas akademika Harvard University di Cam-bridge, Massachussetts, AS, dengan diberikannya kesempatan kepada Presiden RI Soesilo Bambang Yoedhoyono (SBY) untuk menyampaikan pidato akademik di hadapan ribuan intelektual AS yang nota bene ratusan diantaranya berasal dari berbagai negara di dunia ini.
MENATA ULANG PENDIDIKAN NASIONAL INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.792 KB)

Abstract

       Ibarat kapal besar,  sepertinya Indonesia nyaris tenggelam. Sementara kapal-kapal lain melaju dengan kencang, kapal Indonesia berjalan sangat lamban,  bahkan nyaris berhenti.  Para awak kapal kita belum dapat berkonsentrasi penuh untuk melajukan kapal sece-pat kapal-kapal lain,  tetapi sedang bekerja keras untuk menambal dinding yang bocor.  Itulah sebabnya kapal kita berjalan pelan dan paling belakang dibanding kapal-kapal lainnya.      Senyatanya memang demikianlah adanya. Dalam konteks dunia global,  sejak badai krisis ekonomi menerpa maka Indonesia memang kurang dapat berprestasi secara optimal. Fondasi ekonomi kita nya-ris runtuh, skema politik kita kacau, kesehatan dan kependudukan kita remuk, pendidikan kita tertinggal, dan hampir semua indikator kemajuan kita bernilai merah.       Dalam hal daya saing ekonomi,  WEF dalam laporan aktualnya "Global Competitiveness Report 2000" hanya menempatkan Indonesia di urutan 44 dari 53 negara; padahal tiga tahun sebelumnya, tahun 1997, kita pernah menempati ranking 15. Di dalam hal pembangunan manusia yang indikatornya meliputi pendidikan, kependudukan, dan kesehatan,  UNDP dalam laporan mutakhirnya  "Human Development Report 2000" hanya menempatkan Indonesia di ranking 109 dari 174 negara.  Negara-negara tetangga kita seperti Australia, Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand,  dan Filipina masing-masing sudah ada di urutan 4, 24, 32, 61, 76 dan 77. Lima tahun lalu kita masih berada di ranking 90-an.       Sepertinya kapal kita benar-benar sedang berhenti di tempat sementara kapal-kapal lain melaju makin kencang.
DENGAN PR 4 UGM MELAKUKAN TEROBOSAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.099 KB)

Abstract

       Beberapa hari yang lalu, atau tepatnya tanggal 21 Agustus 1990, Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta menyelenggarakan acara pelantikan Pembantu Rektor (PR). Acara ini barangkali tidak begitu menarik perhatian para pengamat kalau di dalamnya tidak terdapat "sesuatu" yang baru. Tetapi pada kenyataannya acara tersebut sangatlah menarik perhatian para pengamat pendidikan dan juga kaum akademisi karena di dalamnya terdapat "sesuatu" yang tidak biasa terjadi; yaitu dilantiknya lebih dari tiga PR.       Seperti diketahui selama ini perguruan tinggi di Indonesia, yang berbentuk universitas atau institut, hanya memiliki tiga PR saja; masing-masing ialah PR-1 yang membidangi masalah akademik, PR-2 yang membidangi masalah administrasi umum,  dan PR-3 yang membidangi masalah kemahasiswaan.       Ketentuan seperti tersebut di atas lebih "afdhal" setelah dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) No:30 Tahun 1990 tentang pendidikan tinggi. Pada Pasal 29 ayat (3) dan ayat (4) secara eksplisit diatur tentang jumlah PR serta masalah-masalah yang harus dibidanginya.  Dalam ayat (3) disebutkan bahwa pada pimpinan perguruan tinggi berbentuk universitas/institut terdiri dari Rektor dan 3 PR. Sedangkan ayat (4) menunjukkan pembidangannya.
BERBICARALAH TENTANG PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: HARIAN JAWA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bapak Wiranto dan Gus Solah, Ibu Mega dan Kyai Hasyim, Kangmas Amien dan Bapak Siswono, Bapak Susilo dan Bapak Kalla, serta Bapak Hamzah dan Bapak Agum yang baik; suka tidak suka, Anda adalah putra-putra terbaik bangsa Indonesia. Di hadapan Anda menghadang sejumlah tugas berat untuk menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran yang lebih total. Secercah harapan terdapat pada diri Anda untuk memperbaiki nasib bangsa ini.          Bahwa bangsa ini sedang terpuruk tentu sangat kita pahami. Sejumlah studi yang dilakukan oleh lembaga internasional memberikan ilustrasi yang agak komprehensif mengenai keterpurukan bangsa kita.          Ketika berbicara prestasi, selalu saja kita berada di peringkat rendah. Tentang ekonomi, pendidikan, kesehatan dan kependudukan misalnya; studi yang dilakukan UNDP, United Nations Development Programme (2004), hanya mendudukkan kita pada peringkat ke-112 dari 174 negara. Negara-negara jiran seperti Singapura, Australia, Malaysia, Brunei, Filipina dan Thailand berada di atas kita. Itu berarti bahwa kinerja ekonomi, pendi-dikan, kesehatan dan kependudukan kita lebih buruk dari negara-negara tetangga kita.
NETRALITAS DALAM MENGAKREDITASI PTN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

       Siapa serta badan mana yang berani mengakreditasi perguruan tinggi negeri alias PTN? Pertanyaan ini memang sekedar "joke", akan tetapi dibalik pertanyaan tersebut terkandung adanya semacam protes dari pihak non-PTN ter-hadap kebijakan pemerintah, yang dalam hal ini Depdikbud, mengenai tidak segera diakreditasinya PTN.          Setelah dikeluarkannya  Peraturan Pemerintah (PP) No:30/1990 tentang pendidikan tinggi maka pembicaraan mengenai akreditasi PTN makin aktual saja; hal ini dika-renakan kedudukan PTS dan PTN  -berdasarkan PP tersebut- adalah sama dan sepadan, termasuk di dalamnya menyangkut soal akreditasi. Itu berati, kalau PTS selama ini diakreditasi oleh badan tertentu maka PTN pun (mestinya) tidak akan dapat menghindarkan diri dari sistem tersebut.          Apakah PTN memang sudah siap untuk diakreditasi? Siapa atau badan mana yang akan mengakreditasi PTN? Apa-kah tim akreditasi yang selama ini diberlakukan bagi PTS juga akan diberlakukan bagi PTN? Mengapa sistem akredi-tasi tidak segera dikenakan pada PTN?  Bagaimana apabila hasil akreditasi pada PTN tertentu nantinya tidak sebaik PTS? Apakah tim atau badan akreditasi benar-benar dapat bekerja secara netral dan objektif? Pertanyaan-pertanya-an semacam inilah yang akhir-akhir ini berkembang di masyarakat, terutama di kalangan akademisi.
MEMACU PERAN SOSIAL POLITIK WARTAWAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.166 KB)

Abstract

       Suatu saat seorang wartawan di Amerika Serikat (AS) mengeluh, setiap hari wartawan melalui surat kabar harian nasional dan setiap minggu melalui majalah mingguan senantiasa melaporkan dan menilai kinerja presiden sebagai pemimpin utama negara; namun karyanya itu tidak mendapat perhatian yang memadai dari ilmuwan.  Para ilmuwan politik (political scientists) tidak pernah menaruh perhatian yang cu-kup tentang  bagaimana para wartawan politik  (political journalists) mendefinisi, menganalisis dan menaksir kepemimpinan presiden.       Keluhan tersebut di atas dapat dibaca dalam disertasi karya Mark J. Rozell, "The Press and The Carter Presidency" (1989),  yang te-lah dibukukan oleh Westview Press, Boulder, Colorado. Adapun yang dimaksud presiden dalam karya tersebut ialah Presiden Jimmy Carter (1977 s/d 1980);  sementara itu yang dimaksud surat kabar harian dan majalah mingguan nasional adalah New York Times, The Washington Post, The Wall Street Journal, Time, Newsweek serta U.S. News and World Report.       Lebih lanjut dilukiskan  dalam karya itu  bahwa kehadiran Jimmy Carter sebagai presiden berada dalam waktu yang secara sosial politik tidak kondusif,  yang diistilahkan Rozell sebagai perikehidupan politik yang unik. Ketika itu rakyat AS sedang dilanda ketidakpercayaan yang hebat (distrust) terhadap pimpinan dan lembaga politik nasional me-nyusul terjadinya Trauma Vietnam dan Kasus Watergate.  Carter sen-diri dilukiskan sering bersikap acuh dan tidak ada upaya keras untuk meluruskan persepsi yang salah yang sering muncul di kalangan pers.       Meskipun sering tidak "direken" oleh ilmuwan politik tetapi war-tawan tetap saja melakukan tugasnya dengan baik sehingga rakyat AS memberikan respon yang positif terhadap jerih payah wartawan.
PENDIDIKAN INDONESIA DI MATA AUSTRALIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.996 KB)

Abstract

       Di sisi hubungan politik yang makin hari semakin "mesra" antara Indonesia dengan Australia,  di luar isu "sadap-menyadap" informasi di kantor kedutaan kita,  ternyata hubungan pendidikan antara Indone-sia dengan Australia pun makin hari terasa semakin "mesra" pula; hal ini setidak-tidaknya kalau dilihat dari banyaknya putra-putra kita yang menuntut ilmu di "Negara Kangguru".          Sekarang ini diperkirakan ada sekitar 100.000 siswa dan mahasiswa asing di Australia dan 12.000 di antaranya berasal dari negara kita. Mereka ini mengambil studi baik yang bersifat formal, yaitu di sekolah-sekolah dasar dan menengah sampai dengan perguruan tinggi, maupun yang bersifat nonformal,  yaitu kursus-kursus serta program-program pendidikan dan latihan dalam jangka pendek. Mereka belajar di Australia ada yang mendapatkan beasiswa dari berbagai yayasan pendidikan tetapi kebanyakan harus membayar sendiri.          Diakui atau tidak,  sekarang ini Australia memang telah menjadi NTP, "Negara Tujuan Pendidikan" (country for education), sebagai-mana dengan Amerika Serikat (AS), Inggris, Jerman dan Jepang. Tidak semua negara dapat meraih predikat NTP karena hanya negara yang kredibilitas pendidikannya telah diakui oleh dunia internasional yang berhak meraih NTP.  Itu artinya,  apabila sekarang ini Australia telah meraih predikat NTP maka kredibilitas pendidikannya memang sudah diakui oleh dunia internasional.
DANA PENELITIAN HARUS DIKEJAR Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.762 KB)

Abstract

       Kiranya sangat tepat apa yang pernah dikemukakan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdikbud Prof. DR. Soekadji Ranoewihardjo bahwa produktivitas dan kualitas penelitian merupakan salah satu tolok ukur kualitas perguruan tinggi;  makin tinggi produktivitas dan kualitas penelitian pada sebuah perguruan tinggi maka semakin bermutu perguruan tinggi yang bersangkutan.       Berbagai perguruan tinggi pada negara-negara maju umum-nya sangat menyadari benar akan hal tersebut di atas, oleh karena itu aktivitas meneliti pada kalangan civitas akademikanya menjadi sangat dinamis; akhirnya produktivitas dan kualitas penelitian pun menjadi sangat tinggi.       Bagaimana dengan perguruan tinggi di negara kita? Kesadaran tentang pentingnya penelitian memang sudah tumbuh pada berbagai perguruan tinggi,  akan tetapi karena adanya berbagai hambatan dan keterbatasan maka aktivitas penelitian pun banyak yang menjadi tersendat-sendat. Adapun  salah satu hambatan yang menyebabkan tersendatnya aktivitas penelitian adalah masalah dana; yaitu berkisar pada minimnya dana lembaga yang dapat dialokasikan untuk menunjang aktivitas penelitian.