Articles
ANGKA-ANGKA DALAM PROPOSAL LPTK
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (136.613 KB)
      Dalam waktu yang tak lama lagi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, LPTK, akan segera hadir di tengah-tengah kita. Sebanyak 18 perguruan tinggi yang ditunjuk Depdikbud; masing-masing 10 IKIP Negeri, 2 FKIP Negeri, 3 IKIP Swasta dan 3 FKIP Swasta telah berbenah dan bersiap diri untuk mengemban tugas tersebut.      Seperti yang kita ketahui bersama, untuk merealisasikan kesungguhan pemerintah dalam mengupayakan adanya peningkatan kualitas pendidikan dasar melalui peningkatan mutu gurunya maka Depdikbud berniat membuka program D2 LPTK. Mulai tahun akademik 1990/91 mendatang program ini diharapkan sudah "running well".      Tujuan program D2 LPTK tersebut adalah memberikan peningkatan kemampuan profesional bagi para lulusan SPG/ SGO (dan SMA?) yang belum bekerja sesuai dengan bidangnya. Lulusan SPG/SGO yang belum mendapat pekerjaan diharapkan melanjutkan studi di LPTK dahulu sambil menunggu kesempatan emas memasuki tugas utamanya sebagai guru SD. Konsep idealnya adalah: apabila pendidikan (calon) guru SD meningkat, dari jenjang SMTA sampai Diploma Dua (D2), diharapkan mutu pendidikan dasar akan meningkat pula.
SENIORITAS PGRI TIDAK DIIMBANGI PROFESIONALISASI MANAJEMEN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.314 KB)
     "Pada bulan Februari 1991 oleh pejabat yang berwenang saya diusulkan naik pangkat ke golongan II/d per 1 April 1991 dengan dasar angka kredit yang telah dicapai sampai dengan Desember 1990, serta telah memenuhi syarat (fotocopy surat terlampir); .... apakah kenaikan pangkat saya berdasarkan angka kredit tersebut dapat ditetapkan SK-nya? Kalau dapat, mengapa sampai kini SK-nya belum juga turun?" Demikian kutipan pertanyaan dan keluhan guru yang dimuat oleh sebuah harian ibu kota baru-baru ini.        Kutipan tersebut di atas hanya merupakan sedikit dari banyak keluhan yang senada; keluhan guru yang berka itan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan profesi yang ditekuninya. Bila kita cukup concern terha-dap masalah-masalah yang bergaung di lapangan maka saat ini di kalangan guru yang terhimpun di dalam keanggotaan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tengah muncul fenomena pendidikan yang sangat menyita perhatian dan e-nergi; yaitu menyangkut sistem angka kredit yang berkait langsung dengan pengurusan kenaikan jabatannya.        Sistem angka kredit yang digaungkan sejak bebera-pa waktu yang lalu sekarang ini benar-benar populer bagi kalangan guru. Apakah hal itu dikarenakan para guru sa-ngat familiar terhadap sistem "baru" ini? Tidak! Apabila kita mau bicara jujur justru saat ini masih banyak guru yang belum memahami sistem tersebut, baik dalam kerangka konseptual maupun operasionalnya; padahal, mau tak mau, para guru harus pandai mengadaptasi sistem tersebut.
MASALAH KEPENDUDUKAN DALAM EKOLOGI INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (415.391 KB)
      Indonesia yang terbangun dari lebih 13.000 pulau merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia; letaknya di antara dua benua besar, Asia dan Australia. Dari ribuan pulau yang membangun negara Indonesia terdapat lima pulau yang besar, baik besar dari segi fisik maupun besar dari potensi sumber daya alamnya; masing-masing adalah Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya. Pulau Bali yang sangat terkenal di dunia merupakan bagian dari negara Indonesia; Bali merupakan satu dari banyak pulau di Indonesia, akan tetapi tidak termasuk pulau yang paling besar di Indonesia.        Sebagai negara tropis Indonesia hanya mengenal dua musim; yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Mengenai musim ini sangat erat kaitannya dengan arus angin yang bertiup di Indonesia. Pada bulan April sampai September arus angin yang bertiup berasal dari Australia yang tidak banyak mengandung uap air sehingga me-nyebabkan timbulnya musim kemarau; sebaliknya pada bulan Oktober sampai Maret arus angin yang bertiup berasal dari Asia dan Samudera Pasifik yang banyak mengandung uap air sehingga menyebabkan tim-bulnya musim penghujan.        Beruntung, Indonesia memiliki sumber daya alam yang memadai; dengan kekayaan darat, kekayaan laut,dan kekayaan bumi yang berlebih menjadikan Indonesia telah memiliki keunggulan komparatif yang handal. Keunggulan komparatif Indonesia termasuk paling bagus di dunia sehingga ada yang menganggap Indonesia merupakan potongan tanah surga yang jatuh ke bumi. Sebaliknya Indonesia pun menyadari atas belum dimilikinya keunggulan kompetitif yang optimal untuk mengantisipasi datangnya era industrialisasi yang melanda dunia. Oleh karenanya upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia selalu dilakukan dari waktu ke waktu.
EVALUASI EBTANAS SD DIY
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (412.656 KB)
      Pelaksanaan Ebtanas Sekolah Dasar (SD) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tepat waktu sebagaimana yang direncanakan sebelumnya. Itulah kesan pertama yang dapat ditangkap pada saat mengamati serta mengumpulkan laporan mengenai pelaksanaan Ebtanas di lapangan atau pada bebe-rapa sekolah dasar di DIY.        Sebagaimana yang tertuang di dalam jadual Ebtanas dari kantor wilayah (kanwil) Depdikbud maka Ebtanas SD telah berlangsung dengan lancar dari tanggal 16 s/d 18 Mei 1994. Sesuai dengan jadual, Ebtanas SD ini dilaksa-nakan setelah Ebtanas SLTP berakhir (9 s/d 11 Mei) serta Ebtanas SMA selesai (3 s/d 6 Mei).        Bagi murid-murid SD yang karena sesuatu hal, atau karena alasan yang "sangat istimewa", tidak dapat mengi-kuti Ebtanas masih diberikan kesempatan untuk mengikuti Ebtanas susulannya,yaitu dari 23 s/d 25 Mei 1994. Secara empirik jumlah peserta Ebtanas susulan ini relatif amat sedikit,tidak lebih 1% dari peserta Ebtanas keseluruhan. Saya membuat angka prediksi jumlah peserta Ebtanas susul an di DIY tahun ini "hanya" sekitar 50 siswa saja; angka yang relatif sangat sedikit dibandingkan peserta Ebtanas SD di DIY yang jumlahnya lebih dari 62 ribu siswa, atau tepatnya 62.522 siswa.
BERBAGAI KENDALA PENELITIAN PENDIDIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (106.993 KB)
      Memang ada benarnya: wajah pendidikan di negara kita dewasa ini sedang "pucat", bahkan beberapa "coreng-moreng" masih nampak disana-sini. Kurikulum, efektivitas pembelajaran, evaluasi pengajaran, birokrasi sekolah, pemantaban silabi untuk mengantisipasi perkembangan ilmu dan teknologi, kualitas dan kuantitas guru, optimalisasi media, dsb adalah merupakan problematika "rumah tangga" klasik yang hampir tidak pernah mendapatkan penyelesaian secara tuntas.      Problematika "rumah tangga" ini terasa kian pelik manakala masing-masing para yang berkepentingan mencoba menawarkan ide atau alternatif dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Sulitnya membuat keterpaduan antara ide atau alternatif yang satu dengan yang lainnya telah berakibat pada semakin kompleksnya persoalan-persoalan intern lembaga pendidikan di negara kita. Sementara itu masalahnya itu sendiri seringkali justru tidak sempat mendapatkan "jalan keluar" atau penyelesaian yang "apik" dan tuntas.      Keadaan tersebut diatas tentunya tidak mengurangi "hormat" kita terhadap para ahli, pengamat dan birokrat akademik yang senantiasa berusaha keras untuk memajukan dunia pendidikan di tanah air.      Tidak pernah terselesaikannya secara tuntas masalah-masalah pendidikan ini sebenarnya juga sesuai dengan sifat pendidikan itu sendiri yang merupakan suatu proses yang tidak pernah selesai (never ending process).
PERGURUAN TINGGI KELAS DUNIA DARI JATIM
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN JAWA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (102.411 KB)
     Publikasi tentang hasil pemeringkatan perguruan tinggi (PT) berkelas dunia yang dilakukan lembaga Centro de Información y Documentación (CINDOC) yang bermarkas di Spanyol dalam âWebometrics Ranking of World Universitiesâ baru saja dilakukan. Pada akhir Januari lalu hasil pemeringkatan tersebut sudah dapat dilihat di internet serta media massa lainnya. Ratusan juta masyarakat dunia, khususnya dunia pendidikan tinggi, merasa âplongâ atas publikasi tersebut; meskipun tidak menafikan sebagian anggota masyarakat yang justru menjadi penasaran.        Publikasi rutin CINDOC memang banyak dinantikan orang; pasalnya publikasi ini dianggap sangat kredibel dan spesifik oleh masyarakat pendi-dikan tinggi di samping dua publikasi lainnya yang dilakukan oleh Times di Inggris dan Shanghai Jiao Tong University (SJTU) di China.        Kespesifikasian publikasi CINDOC yang tidak dimiliki Times dan SJTU ialah tingginya skor atas familiaritas warga kampus terhadap peman-faatan internet untuk melaksanakan pembelajaran. Seperti kita ketahui, untuk menentukan peringkat sebuah PT maka CINDOC mendasarkan pada aksesabilitas dan visibilitas pendidikan melalui internet pada PT yang bersangkutan dalam berkomunikasi akademis melalui web (website). Itulah sebabnya publikasi CINDOC ini memiliki âtrade markâ Webometrics.
TRANSFORMASI KONSEPSIONAL UNIVERSITAS TERBUKA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (415.039 KB)
      Apabila kita sempat membuka lembaran sejarah pendidikan maka akan kita temukan tanggal yang sangat memorial di bulan September sepuluh tahun yang silam; yaitu tanggal 4 September 1984 yang telah menandai kelahiran satu-satunya perguruan tinggi nonkonvensional (nonconventional university) di negara kita yang kemudian dinamakan dengan Universitas Terbuka (UT).        Kerinduan akan lahirnya UT sebagai salah satu manifestasi dari lembaga pendidikan terbuka memang sudah tersimpan semenjak lama; setidak-tidaknya sejak empat belas tahun sebelumnya ketika UNESCO memberikan rekomendasi akademik tentang kemungkinan dikembang-kannya sistem pendidikan "jarak jauh" (distance learning) atau sistem pendidikan terbuka (open learning) di Indonesia untuk memperluas kesempatan belajar bagi masyarakat. Rekomendasi akademik ini oleh Depdikbud segera direalisasi dalam berbagai bentuk; antara lain SPG Udara, Siaran Radio Pendidikan, SMP Terbuka, dan sebagainya. UT adalah bentuk lain dari realisasi sistem pendidikan terbuka.        Memang, sebagaimana dengan lahirnya suatu inovasi yang selalu direspon maka lahirnya UT pun saat itu juga tak luput dari tanggapan masyarakat; dari yang bulat-bulat pro sampai yang mentah-mentah kontra. Tentunya kita masih ingat juga ketika UT akan diresmikan terdengar adanya kesangsian tentang kecocokan sistem belajar nonkonvensional itu sendiri di tangah-tengah masyarakat kita yang masih agraris; baik dari segi fisik maupun mental dan budayanya.
SLTP, PRIORITAS ANGGARAN PENDIDIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (114.524 KB)
      Bidang pendidikan senantiasa mendapatkan perhatian yang maha serius dari berbagai kalangan, baik kalangan pemerintah maupun ma-syarakat. Hal ini disebabkan karena disadari pendidikan merupakan media dan sarana yang paling potensial untuk mengembangkan mutu sumber daya manusia. Asumsinya sederhana: kalau pendidikan dapat ditangani secara proporsional maka pengembangan mutu sumber daya manusia akan lebih dekat realisasinya, sebaliknya kalau penanganan pendidikan dilakukan kurang proporsional maka pengembangan mutu sumber daya manusia tentu banyak mengalami hambatan.      Itulah sebabnya maka setiap RAPBN diumumkan oleh pemerintah, dalam hal ini oleh Presiden RI, maka anggaran pendidikan selalu mendapat perhatian untuk dicermati nilainya; apakah anggaran sektor pendidikan mengalami kenaikan nilai atau bahkan justru mengalami penurunan angka.      Sebagaimana dengan dinamika yang terjadi pada RAPBN itu sen-diri maka anggaran sektor pendidikan pun mengalami dinamika dalam angka-angkanya. Didalam sejarahnya anggaran sektor pendidikan dari tahun ke tahun senantiasa mengalami pasang surut; terkadang naik dan terkadang turun apabila dibandingkan dengan anggaran dalam APBN yang sedang berjalan.       Tahun ini RAPBN 1997/1998 baru saja diumumkan pemerintah melalui Sidang Paripurna DPR yang di samping dihadiri wakil rakyat juga dihadiri oleh para pejabat tinggi negara,termasuk Wakil Presiden Try Soetrisno. Penyampaian nota keuangan dan RAPBN oleh Presi-den Soeharto yang disampaikan pada tanggal 6 Januari 1997 yang lalu tidak saja mendapatkan perhatian para wakil rakyat yang menghadiri sidang, akan tetapi juga mendapatkan perhatian rakyat Indonesia pada umumnya; lebih daripada itu pidato presiden juga mendapat perhatian dari para analis di luar negeri.
PENELITIAN SARJANA PENDIDIKAN MASIH DI SEKITAR "RUMAH TANGGA"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (118.621 KB)
      Salah seorang tokoh ilmu masa depan ("futurologi"), Daniel Bell, dalam bukunya yang berjudul "The Coming of Post Industrial Society" telah memprediksi bahwa di dalam era post-industri (industri lanjut) maka penelitian (research) akan memegang peran yang cukup dominan. Lebih dari itu para ilmuwan (scientists) dan para peneliti (researchmen) akan menjadi "dominant figures" di mata masyarakat.      Ilustrasi tersebut menunjukkan kepada kita bahwa penelitian bersifat prospektif fungsional untuk mengantisipasi perubahan jaman untuk menuju era post-industri.      Dan di perguruan tinggi bahkan penelitian terakui sbg salah satu aktivitas akademik yang harus dikembangkan (=dibiasakan). Hal ini secara eksplisit termanifestasikan pada salah satu dharma dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, pendidikan-penelitian pengabdian masyarakat.      Bagi seorang "mathisme" (seseorang yang selalu ingin "mematematikkan" segala sesuatu) maka penelitian mempunyai porsi sebesar 33,33% dari seluruh aktivitas akademik di perguruan tinggi, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta. Ini berarti pula bahwa sepertiga aktivitas akademik di perguruan tinggi terkonsentrasikan pada kegiatan penelitian atau research.
PROBLEMATIK TELEVISI PENDIDIKAN INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (409.82 KB)
      Orang Cina memiliki pepatah yang khas, "jamu yang manjur pahit rasanya". Pepatah ini bisa diaplikasi untuk melukiskan betapa sulitnya membuat kemasan audio-visual bagi program-program pengajaran yang berisi dan mendidik (manjur) sekaligus tak menjemukan (pahit). Mengaudiovi-sualkan program yang berisi tidak mudah, membuat program yang tidak menjemukan juga tidak gampang; tetapi lebih tidak gampang lagi mengaudiovisualkan program pengajaran yang berisi sekaligus tidak menjemukan.        Kenyataannya problematika itulah yang sampai kini dihadapi oleh Televisi Pendidikan Indonesia (TPI); yaitu membuat program-program pengajaran yang secara material berisi dan secara medional menarik pirsawan untuk mengi-kutinya. Ini tidak gampang! Sudah berulang kali TPI (via Pustekkom Depdikbud) memproduksi paket "Pendidikan Mate-matika" (misalnya), tetapi berulang kali pula hasilnya tidak optimal. Yang terjadi: "ilmu" Matematikanya cukup padat tetapi penyajiannya terkesan hambar sehingga pir-sawan menjadi enggan mengikutinya. Artinya, benar bahwa paket Matematika ini sarat ilmu (manjur) akan tetapi ti-dak menarik ditonton atau diikuti (pahit).        Dalam kapasitasnya sebagai lembaga pertelevisian yang mengemban misi utama pendidikan, termasuk di dalam-nya pengajaran, maka TPI mau tidak mau harus dapat menya jikan program-program pendidikan, khususnya pengajaran, yang materinya memang padat berisi serta dari sisi media memang menarik minat pemirsanya (interestable).