Claim Missing Document
Check
Articles

MENGHILANGKAN KESAN MAHASISWA SAMPINGAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.615 KB)

Abstract

Sekitar satu tahun yang lampau, tepatnya pada tgl 4 September 1984 dalam acara pembukaan Universitas Terbuka secara resmi,  Presiden Soeharto menegaskan bahwa Universitas Terbuka adalah merupakan jawaban yang tepat untuk meratakan kesempatan memperoleh pendidikan tinggi dalam kondisi dan situasi kehidupan masyarakat dewasa ini, terutama karena wilayah kepulauan negeri ini yang sangat luas.         Apa yang ditegaskan oleh bapak presiden kiranya sangat tepat dan relevan, mengingat tujuan utama pembukaan UT adalah meningkatkan daya tampung pendidikan tinggi sehingga kebutuhan lulusan pendidikan tinggi untuk pembangunan bangsa dan negara dapat dipenuhi.       Latar belakang didirikannya UT adalah ditemuinya kenyataan bahwa setiap tahun jumlah permintaan untuk menjadi mahasiswa selalu lebih besar dari peningkatan daya tampung perguruan tinggi, sekalipun pemerintah bersama-sama dengan lembaga pendidikan swasta telah berusaha keras untuk meningkatkan daya tampung.       Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar didunia memiliki sekitar 13.677 pulau  dengan jumlah penduduk 150 juta (kala itu). Dari jumlah tersebut 18 juta diantaranya berusia 18 - 24 tahun,  yaitu kelompok umur yang dapat mengikuti pendidikan tinggi. Sedangkan tingkat partisipasi pendidikan tinggi hingga pada akhir Pelita III adalah 5%. Disisi lain untuk Pelita IV penye- rapan sumber daya manusia memerlukan sekitar 8,2% dari kelompok umur tersebut yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi pada bidang-bidang tertentu.
MENUMBUHKEMBANGKAN KEMANDIRIAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: MAJALAH FASILITATOR
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.21 KB)

Abstract

       Jika ada satu hadiah yang bisa anda berikan kepada diri anda sendiri, yang mampu meningkatkan kualitas hidup anda secara umum, maka hadiah itu adalah kemandirian. Dengan kemampuan mengandalkan diri sendiri anda telah mempunyai segala yang anda perlukan untuk berhasil. Anda bisa bekerja dengan jadwal sendiri untuk mencapai tujuan anda tanpa merasa ditekan oleh orang lain. Demikianlah kira-kira pesan yang disampaikan oleh lembaga nonprofit, The American Success Institute, apabila kita membuka situs internet (http://www.success.org) yang dapat diakses oleh siapa saja.          Kemandirian itu memang penting, baik dalam kapasitas kolektif seba-gai bangsa misalnya maupun dalam kapasitas pribadi. Dalam hal teknologi informasi misalnya, bangsa Indonesia belum memiliki kemandirian yang memadai sehingga masih banyak tergantung dari negara maju. “Ekspor suatu teknologi dari bangsa-bangsa maju hanyalah sekedar dalam bentuk produk barang (technoware) saja. Sementara pengetahuan atau informasi (infoware) tidaklah diikutsertakan, apalagi kemajuan manusia dalam hal alih teknologi tidaklah menjadi perhatian”, demikianlah pernyataan Light the World dalam “Kemandirian Indonesia dalam Teknologi Informasi” yang dapat diakses di internet (http:/hensyam.wordpress.com).        Bagaimana dalam kapasitas pribadi? Sama saja! Pesan yang disampai-kan oleh The American Success Institute tersebut di atas jelas sekali arti dan kegunaan kemandirian bagi seseorang. Dengan kemandirian, seseorang dapat menentukan apa yang dianggap terbaik untuk kemajuan dirinya tanpa harus ditekan oleh orang lain.
KEISTIMEWAAN DALAM SIPENMARU 1987 Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.708 KB)

Abstract

       SIPENMARU, Seleksi Penerimaan Mahasiwa Baru versi perguruan tinggi negeri bagi lulusan sekolah menengah (SMTA) pada khususnya dan bagi masyarakat pada umumnya sampai saat ini masih dipercayai sebagai peristiwa yang sangat penting dan monumental.        Sementara orang bahkan percaya bahwa dalam peristiwa rutin tahunan inilah nasib dan masa depan seseorang akan ditentukan. Seorang peserta yang dinyatakan "lulus" testing berarti mempunyai hak untuk menggapai sebuah kursi emas di perguruan tinggi, ini sama artinya dia mempu-nyai kesempatan yang lebar untuk menyelesaikan studinya di perguruan tinggi yang kelak akan menghantarkan diri-nya untuk menjadi "orang".  Sebaliknya bagi yang ditolak sama artinya telah mendapat isarat agar lebih keras berjuang untuk mengarungi hidup yang "sulit" ini.       Memang agak berlebihan pendapat tersebut diatas, akan tetapi harus diakui pula bahwa dalam skala tertentu tesis tersebut memang dapat dibuktikan kebenarannya. Un-tuk itulah maka bagi yang berkepentingan langsung terhadap Sipenmaru segala sesuatunya telah dipersiapkan jauh hari sebelumnya.       Pelaksanaan ujian tulis Sipenmaru untuk  thn 1987 ini oleh Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Depdikbud direncanakan akan diselenggarakan pada tanggal 23 dan 24 Juni 1987 secara serentak di seluruh wilayah tanah air.
SENTRA KEUNGGULAN DI KAWASAN ASIA PASIFIK Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.303 KB)

Abstract

       Relevan dengan tema yang diambil dalam  Kongres Ke-18 PAPE kali ini, yaitu Private School Education : A Commitment to Excellence, maka hampir semua pembawa country paper dari tiap negara menekankan perlunya untuk membangun sentral keunggulan (centre of excellence) di Kawasan Asia Pasifik pada umumnya dan di negara-nya masing-masing pada khususnya.  Hanya dengan mengembangkan praktek keunggulan disegala bidang maka kita akan tetap bertahan dan berprestasi; dan tanpa keunggulan maka jangan harap kita dapat ber-prestasi, bahkan untuk bertahan pun rasanya agak sulit.      Di luar Indonesia, Canada dan USA maka anggota-anggota PAPE umumnya merupakan negara-negara "kecil" dengan sumber daya alam yang tidak terlalu luar biasa.  Mereka umumnya kurang memiliki ke-unggulan komparatif yang hebat;  oleh karenanya untuk memenangkan persaingan global yang semakin tajam mereka harus memacu kualitas sumber daya manusianya hingga akan mendapatkan keunggulan kom-petitif yang memadai.       Bagaimana New Zealand, Singapura, Thailand, Hong Kong, Tai-wan, dsb,  akan mampu bertahan kalau masing-masing tidak memiliki keunggulan kompetitif yang memadai. Indonesia pun yang oleh negara lain dikenal memiliki keunggulan komparatif yang handal tak mungkin dapat berprestasi di tingkat internasional tanpa mempunyai keunggulan kompetitif yang memadai.       Itulah sebabnya  maka masalah keunggulan menjadi pembicaraan yang teramat sentral dalam Kongres Ke-18 PAPE di Hong Kong. Dan beruntung masing-masing anggota delegasi memang menyadari posisi Kawasan Asia Pasifik yang amat strategis untuk dikembangkan secara bersama-sama; setidak-tidaknya melalui praktek pendidikannya.
MERATAKAN MUTU PT INDONESIA SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.623 KB)

Abstract

Publikasi Consejo Superior de Investigaciones Cientificas edisi 30 Juli 2009 tentang perguruan tinggi berkelas dunia dalam “Ranking Web of World Universities” sungguh menarik dicermati. Publikasi ini menunjuk-kan kualitas perguruan tinggi yang didasarkan pada keakrabannya dengan dunia internet dalam proses pembelajaran.          Tegasnya, sejauh mana sivitas akademika sering mengunduh atau men-down load bahan ajar dan informasi lain dari internet serta mempublikasi atau meng-up load bahan ajar dan informasi lain ke internet akan sangat menentukan ranking perguruan tinggi yang bersangkutan.          Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang berkiprah di dae-rah Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat (AS) ditetapkan sebagai perguruan tinggi di ranking pertama dikarenakan mahasiswa dan dosennya sangat akrab dengan internet. Di kampus tersebut dipasang banyak hot spot yang memungkinkan mahasiswa dan dosen dapat mengakses internet secara gratis. Sistem perkuliahannya mengaplikasi Internet Based Lecture (IBL) yang dikembangkan pada berbagai perguruan tinggi terkemuka di dunia.
DAMPAK UNIVERSITAS TERBUKA PERGESERAN PROFESI PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1984: HARIAN BERITA NASIONAL
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.155 KB)

Abstract

       Tanggal 4 September 1984 lalu Universitas Terbuka (UT) telah resmi dibuka oleh presiden. Ini merupakan peristiwa penting dalam sejarah pendidikan di Indonesia, bukan saja karena dengan resmi telah berdiri lagi perguruan tinggi negeri baru, tetapi sistem pendidikan terbuka benar-benar akan diterapkan dalam dunia pendidikan tinggi kita.       Ditegaskan presiden  bahwa UT merupakan jawaban tepat  untuk meratakan kesempatan memperoleh pendidikan tinggi dalam kondisi dan situasi kehidupan masyarakat dewasa ini, terutama karena wilayah kepulauan negeri ini yang sangat luas.  Hal ini memang benar, kemajuan teknologi komunikasi yang telah dirintis berpuluh-puluh tahun lalu sudah dapat dipetik hasilnya,  dan jasanya bisa dimanfaatkan guna kepentingan dunia pendidikan. Sistem pendidikan terbuka, seperti hal-nya Universitas Terbuka kita adalah termasuk salah satu sistem yang paling banyak menggunakan jasa teknologi komunikasi tersebut.       Begitu pesatnya  kemajuan teknologi komunikasi  yang kemudian diaplikasikan dalam dunia pendidikan memungkinkan seorang dosen yang berbicara di Jakarta dapat diterima di seluruh penjuru tanah air dalam waktu yang hampir bersamaan. Atau action yang pernah dipre-sentasi oleh seorang tutor bisa diketengahkan kembali secara berulang sesuai dengan kebutuhan secara persis sama,  hal mana memungkinkan pendalaman materi bisa dilakukan lebih efektif lagi.      Itulah beberapa point keunggulan sistem pendidikan terbuka yang memanfaatkan teknologi komunikasi sebagai pusat pernafasannya. Ini mengangkat sistem tersebut dapat diterapkan untuk kepentingan pela-yanan pendidikan secara horizontal,  apalagi apabila dikaitkan dengan permasalah kuantitas pendidikan (tinggi) di Indonesia dewasa ini.
BADAN PERTIMBANGAN PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.108 KB)

Abstract

       Satu hari setelah dilantik  oleh Presiden Habibie  sebagai anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN) di Istana Negara beberapa hari yang lalu,  saya menerima telpon dari seorang teman untuk mengucapkan selamat.  Tentu saya pun menyambutnya dengan rasa gembira atas ucapan tersebut.  Namun, yang sedikit mengejutkan adalah adanya pertanyaan dari teman tadi semenjak kapan saya pindah haluan dari dunia pendidikan ke dunia bisnis perbankan sehingga mendapatkan kepercayaan dari Presiden RI  untuk duduk dalam BPPN yang sangat strategis itu.       Pada tanggal 18 Desember  yang lalu Presiden Habibie  berkenan melantik anggota BPPN masa bakti 1998-2003.  Ada 20 nama anggota dari berbagai latar belakang yang dilantik;  antara lain Pak Ali Yafie, Sayidiman Suryohadiprojo,  Mien Uno, Clementino dos Reis Amaral, Awaloedin Djamin, Ahmad Amiruddin, dsb, termasuk nama saya.       Dari pertanyaan teman saya tersebut  bisa dikonklusi bahwasanya pengertian tentang BPPN sangatlah minim di masyarakat luas; padahal kalau dilihat eksistensi dan fungsinya sangat strategis dalam memajukan pelaksanaan pendidikan nasional kita. Banyak anggota masyarakat lebih mengenal BPPN  sebagai Badan Penyehatan Perbankan Nasional daripada Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional.       Kita memang harus jujur mengakui  bahwa BPPN  belum dikenal secara luas oleh masyarakat meskipun posisi badan ini sangat strategis dalam upaya memajukan pendidikan nasional Indonesia. Meski anggota masyarakat yang peduli terhadap pelaksanaan pendidikan nasional dapat menyalurkan aspirasinya melalui BPPN akan tetapi masyarakat sendiri belum banyak yang memanfaatkannya. Meski badan ini secara formal dapat ikut menentukan kebijakan-kebijakan pendidikan yang diambil oleh pemerintah akan tetapi popularitasnya selama ini masih berada dalam garis batas.
MERANGKUM TIGA PROBLEMATIKA PERSOALAN KEGENIUSAN KITA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.419 KB)

Abstract

Debat opini persoalan potensi anak genius yang telah digelar oleh KR edisi 25 s/d 31 Januari 1996 ternyata mendapat tanggapan serius dari masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan.  Di samping telah dimuat tanggapan "formal" dari teman-teman ilmuwan sejawat di KR secara berturut-turut,  saya sendiri sempat menerima beberapa respon per telpon dari berbagai pihak yang berkepentingan; dari teman-teman praktisi pendidikan di sekolah, pemerhati dan pakar pendidikan, sam-pai dengan pejabat Depdikbud dan wakil rakyat.       Tentu saja saya perlu menyampaikan terima kasih kepada teman-teman ilmuwan sejawat yang telah meluangkan waktu untuk memberi tanggapan "formal" atas tulisan saya; mereka itu adalah Suyanto (FPS IKIP Yogyakarta), Djamaludin Ancok (Fak. Psikologi UGM), Sartini Nuryoto (Fak. Psikologi UGM), Noeng Muhadjir (Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta), beserta Sri Hastuti PH (FPBS IKIP Yogyakarta). Meskipun sebagian besar tanggapan yang diberikan itu lebih bersifat text book approach,  bukan experience approach,  akan tetapi tetap menarik serta melengkapi dan memperdalam tulisan saya yang tentu saja dapat memperluas wawasan pembaca. Berbagai teori yang dikutip dari para pakar  (Renzulli, Silvernail, Sisk, Terman, Merritt, Barbara Clark, Terrassier, Joan Freeman, Wechsler, Binet,Thorndike, Simon, Spearman, Thurstone, Witty, Paul, dsb)  dan disajikan dalam tulisan-nya dapat memperluas wawasan pembaca.        Dari tanggapan  teman-teman ilmuwan sejawat  tersebut  setidak-tidaknya ada tiga problematika yang masih harus diklarifikasi; adapun ketiga problematika yang dimaksud ialah menyangkut  (1) terminologi anak genius itu sendiri,(2) penentuan atau metode seleksi anak genius, serta (3) Model pendidikan anak genius.
MADRASAH YANG TERMARGINALISASI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.116 KB)

Abstract

         Berbagai keluhan menyangkut nasib madrasah di negara kita baru-baru ini bermunculan dalam suatu pergelaran seminar nasional tentang revitalisasi sumber daya masyarakat  dalam upaya pengembangan madrasah.  Seminar di Jakarta  yang diselenggarakan oleh Indonesia Institute for Society Empowerment (Insep) itu dihadiri oleh peserta dari berbagai kalangan;  baik dari birokrasi, praktisi, pakar, maupun pengamat pendidikan.  Adapun salah satu keluhan menyangkut rendahnya mutu madrasah itu sendiri. Salah satu pem-bicara di dalam seminar menyatakan bahwa rendahnya kualitas guru telah mengakibatkan rendahnya mutu lulusan madrasah.         Apakah semua madrasah di Indonesia sekarang ini lulusannya bermutu rendah?  Tentu saja tidak!  Banyak madrasah kita, dalam hal ini Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA) yang kualitas lulusannya cukup memadai.          Sekarang ini ada lulusan MI yang lebih "canggih" dibanding lulusan SD pada umumnya;  ada pula lulusan MTs yang amat dipuji oleh masyarakat; bahkan ada pula beberapa lulusan MA yang kualitas lulusannya diakui oleh berbagai perguruan tinggi di dalam dan di luar negeri.  Meski demikian harus diakui pula  bahwa hal yang demikian ini sifatnya kasuistik;  artinya tidak dapat diberlakukan pada madrasah-madrasah pada umumnya.          Sebaliknya, di masyarakat kita bahkan tidak jarang berkem-bang berita kurang sedap tentang banyak (kebanyakan?) madrasah di negara kita;  dari kondisi fisiknya yang kurang bersih, kualitas gurunya yang dipertanyakan, sampai dengan mutu pendidikan yang melekat pada lembaga madrasah itu sendiri.
MENUNGGU PERAN NYATA BPPN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.558 KB)

Abstract

       Ketika Presiden RI Soeharto melantik para anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional, BPPN, pada bulan Desember 1989 yang lalu maka masyarakat menaruh harapan terhadap para anggota BPPN tersebut untuk dapat menjalankan fungsinya memberikan saran, nasihat serta pemikiran-pemikiran lain sebagai bahan pertimbangan bagi penentuan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.       Sesuai amanat Undang-Undang RI Nomer 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) yang tertuang pada Pasal 48 maka BPPN memang berhak memberikan  saran, nasehat, dan pemikiran-pemikiran lain kepada Mendikbud.        Pada penjelasan Pasal 48 bahkan secara tegas disebutkan bahwa BPPN diharapkan mampu menyalurkan aspirasi masyarakat umum serta kepentingan bangsa dan negara berkenaan dengan masalah-masalah pendidikan kepada pengelola sistem pendidikan nasional.  Oleh karenanya anggota BPPN bersifat heterogen:  wakil-wakil golongan, pakar-pakar pendidikan, serta pejabat yang mewakili pemerintah.