Claim Missing Document
Check
Articles

PENDIDIKAN YANG DIPERDAGANGKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.744 KB)

Abstract

Pendidikan yang diperdagangkan? Benarkah pendidikan yang memiliki tujuan mulia, yaitu mendidik manusia agar menjadi cerdas, terampil serta berakhlak mulia itu diperdagangkan? Apakah pendidikan itu sudah berubah menjadi komoditas atau “dagangan” yang dapat diperjualbelikan?          Benar! Saat ini pendidikan memang sudah diperdagangkan. Berbagai komponen yang membangun pendidikan itu sendiri seperti tenaga pendidik, guru, dosen, kepala sekolah, bahan ajar, modul, dsb, dapat dijual kepada konsumen dan dapat pula dibeli dari produsen dalam maupun luar negeri. Bukan itu saja, bahkan manajemen persekolahan atau manajemen penge-lolaan kampus pun dapat diwaralabakan.          Mau membeli kepala sekolah (principal) untuk membenahi sekolah supaya lebih maju? Ada! Mau membeli dosen yang bonafide untuk lebih memutukan proses balajar mengajar di kampus? Ada! Mau membeli bahan ajar dalam bentuk hard-copy atau soft-copy untuk memberi pelayanan yang lebih bermutu kepada mahasiswa? Ada juga! Bahkan mau membeli soft-ware persekolahan seperti bagaimana cara memotivasi guru untuk lebih produktif dalam menjalankan tugasnya pun tinggal memilih.          Rasanya, sekarang ini pendidikan beserta komponen-komponennya telah menjadi sebuah komoditas atau jasa yang dapat diperjualbelikan oleh siapa pun dan dimana pun.
MENGHITUNG WAKTU EKSTRA SEORANG DOSEN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.118 KB)

Abstract

       Saat ini para civitas akademik perguruan tinggi, baik perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS) banyak yang dengan berharap-harap cemas menunggu turunnya peraturan tentang pola operasional kerja sama antara PTN dengan PTS,  terutama dalam hal pembatasan jam mengajar dengan PTN pada PTS.       Keadaan tersebut di atas berawal sejak munculnya informasi yang dikomunikasikan oleh Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Depdikbud, Prof. DR. Soekadji Ranoewihardja tentang akan "ditertibkannya" para dosen PTN yang membantu mengajar pada PTS.       Dosen PTN yang membantu mengajar di PTS nantinya hanya akan diperbolehkan memegang mata kuliah tertentu dengan jumlah jam maksimal sebanyak 4 sks (satuan kredit semester); itupun sebelumnya harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan.       Persyaratan yang dimaksud antara lain ialah telah memenuhi kewajibannya mengajar pada PTN sebagai "rumah" atau "kandang"-nya sebanyak 12 sks untuk setiap semesternya, serta telah mendapat rekomendasi secara resmi untuk mengajar pada PTS dari pim-pinan atau rektor PTN tempat mereka mengabdikan diri.
PRESTASI INTERNASIONAL UI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.524 KB)

Abstract

         The Times Higher Education (THES) bersama Quacquarelli Symonds (QS) baru saja menerbitkan publikasi tahunan yang banyak ditunggu oleh kaum terpelajar di seluruh dunia, “World University Rankings 2008”. Di dalam publikasi ini disajikan ratusan bahkan ribuan perguruan tinggi berke-las dunia (world class university) berdasarkan urutan alias rankingnya.          Ada tiga perguruan tinggi Indonesia yang masuk di dalam daftar 400 besar; masing-masing adalah UI Jakarta di ranking ke-287, ITB Bandung ke-315, dan UGM Yogyakarta ke-316. Dua tahun yang lalu, tahun 2006, sesungguhnya Undip Semarang masuk di ranking ke-495; tetapi tahun ini tidak masuk di dalam daftar 500 besar, apalagi 400 besar. Tahun ini Undip terlempar jauh entah ke mana; barangkali saja hal ini ada kaitan tak lang-sung dengan banyaknya mahasiswa yang memanipulasi ijazah.          ITB Bandung memang mengalami kenaikan peringkat, dari ranking ke-369 (2007) menjadi ke-315 (2008); demikian juga UGM Yogyakarta dari ke-360 (2007) menjadi ke-316 (2008). Meski demikian yang menarik kita cermati adalah UI Jakarta dikarenakan kenaikan peringkatnya yang sangat tajam dari ranking ke-395 (2007) menjadi ke-287 (2008); atau mengalami kenaikan peringkat sebanyak 108 tataran. Sungguh fantastis!
PERGESERAN PERSEPSI TERHADAP PROFESI GURU Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.032 KB)

Abstract

       Barangkali tidak ada yang tidak sependapat untuk menyatakan  bahwa sekarang tengah terjadi semacam pergeseran persepsi terhadap profesi guru secara evolutif;  perlahan-lahan tetapi pasti. Terjadinya pergeseran persepsi ini dikarenakan adanya hubungan yang timbal balik (resiprocal) di antara persepsi itu sendiri di satu pihak dengan perilaku guru di masyarakat pada pihak yang lain.          Profesi guru, yang tempo dulu pernah didudukkan pada strata singgasana oleh masyarakat, sekarang ini nampaknya sudah tidak lagi. Tempo dulu para guru sepertinya bukan menjadi kelompok biasa di dalam masyarakat, dalam konotasi yang positif,  sebab memiliki status sosial yang benar-benar terhormat.  Di berbagai tempat guru dianggap sebagai "sesepuh" (nonformal leader),  tempat mana masyarakat kita mempercayakan sebagai tumpahan berbagai persoalan sosial untuk mencari solusinya.  Kalau masyarakat akan memutuskan kapan jalan desa dan bendungan akan dibangun maka guru lah yang pertama kali diminta sarannya, kalau masyarakat ingin bergotong royong maka guru pula yang menjadi "komandan"nya, bila ada anggota masyarakat ingin punya hajat maka guru pula tempat bertanya segala sesuatunya, bahkan kalau ada orang tua ingin memilih calon menantu pun tidak jarang guru diminta petunjuknya.          Itulah gambaran guru tempo dulu,  yang barangkali sekarang ini tinggal menjadi kenangan manis.  Apakah sekarang ini gambaran guru tersebut telah mengalami transformasi?  Barangkali memang begitulah adanya! Meski guru tetap saja menjadi "pahlawan tanpa tanda jasa", sebuah penghargaan yang tak ternilai harganya secara material,  tetapi persepsi masyarakat terhadapnya tidak lagi sekonstruktif dulu; meskipun juga jangan diinterpretasi sebagai persepsi destruktif.
DESIMINASI KURIKULUM 2006 Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.604 KB)

Abstract

Ada sesuatu yang menarik disampaikan oleh Pak Bambang Sudibyo selaku menteri pendidikan nasional kita dalam forum internasional, The Sixrh E-9 Ministerial Review Meeting, yang berlangsung di Meksiko barubaru ini; atau tepatnya dari tanggal 13 s/d 15 Februari 2006.  Dalam forum yang diikuti oleh sembilan negara yang lebih setengah penduduknya berusia sekolah, yaitu Bangladesh, Brasil, Cina, Mesir, India, Indonesia, Meksiko, Nigeria, dan Pakistan tersebut Pak Bambang sempat menyatakan bahwa dalam 25 tahun ke depan sistem pendidikan nasional akan menghasilkan manusia Indonesia yang memiliki kecerdasan menyeluruh meliputi rohani, intelektual, sosial, emosional, estetika, dan kecerdasan kinestetik.  Apa yang dikatakan menteri pendidikan kita tersebut sebenarnya cukup relevan, bahkan ada yang mengatakan “didasarkan” pada ketentuan tentang kurikulum pendidikan yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.19 Tahun 2005. Dalam PP yang relatif baru ini dinyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: a. kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; b. kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; c. kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; d. kelompok mata pelajaran estetika; dan e. kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan.
PENDEKATAN KUA-RELEVANSITAS POLITEKNIK Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.15 KB)

Abstract

             Kunjungan kerja dari Menteri Pendidikan dan Riset Kerajaan Denmark, Mr. Bertel Haarder selama enam hari di negara kita beberapa waktu yang lalu ternyata bisa membawa "keajuan" yang cukup berarti, khusus dalam dunia pendidikan kita.       Beberapa kesepakatan telah dihasilkan. Diantaranya adalah pemerintah Denmark sepakat untuk memberikan bantuan studi kelayaan terhadap delapan politeknik baru yang menurut rencana akan dibangun di Indoneseia bagian Timur. Kedelapan politeknik itu meliputi lima untuk bidang engeneering serta tiga untuk bidang pertanian.       Kiranya perlu untuk dicatat bahwa pembangunan fisik lembaga politeknik memerlukan dana atau beaya  yang cukup aduhai jumlahnya. Untuk satu unit politeknik saja, berikut dengan mesin-mesin dan peralatan lainnya diperkiran akan menyerap dana sekitar 7,5 milyard rupiah. Belum lagi dana yang harus dikeluarkan untuk "maintenanc" dan managemennya.        Disamping itu untuk kalangan perguruan tinggi pemerintah  Denmark telah menyetujui  diadakannya kerja sama pada bidang bioteknologi dengan beberapa universitas dan institut. Sedangkan untuk pendidikan menengah juga telah diadakan kerja sama dibidang pendidikan kejuruan.
FAVOURITAS PTN DAN KUALITAS PTS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: MAJALAH PUSARA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.527 KB)

Abstract

       Pada Sabtu 27 Juli  yang lalu  hasil seleksi tertulis UMPTN 1996 diumumkan secara serentak kepada masyarakat,utamanya kepada para peserta UMPTN itu sendiri.  Dari 350.000-an peserta ternyata hanya 63.753 peserta yang dinyatakan berhasil;  selebihnya dinyatakan tidak berhasil alias gagal.       Bila kita perhatikan sambutan masyarakat  terhadap pengumuman hasil seleksi tertulis UMPTN tersebut memang tidak "semeriah" dulu, katakanlah lima tahun atau sekitar sepuluh tahun lalu sewaktu untuk pertama kalinya model UMPTN dikenalkan kepada masyarakat. Kita ketahui model UMPTN merupakan pengembangan dari model Proyek Perintis (PP) maupun model Sipenmaru. Ketika itu sambutan masyara-kat terhadap hasil UMPTN memang sangat "meriah"; beberapa hari menjelang diumumkannya hasil seleksi tertulis maka suasananya be-nar-benar "hidup". Banyak orang rela tidak tidur semalaman hanya untuk mengetahui hasil UMPTN secara dini.  Pada saat hasil UMPTN diumumkan maka ekspresi kesyukurannya sungguh "luar biasa"; tentu saja bagi mereka yang diterima.       Sekarang ini tidak lagi demikian; pengumuman hasil UMPTN di-sambut secara biasa-biasa saja,  bahkan pada beberapa tempat terasa adem ayem saja. Mereka yang berhasil menembus dinding UMPTN pun banyak yang tidak merasa berprestasi secara luar biasa; meskipun rasa senang dan syukur itu tetap ada.  Bagaimanapun mereka berhasil keluar dari suatu kompetisi akademik yang ketat;  wajarlah kalau ke-mudian bersenang dan bersyukur.       Itu semua  merupakan  fenomena sosial-akademik  yang  menarik untuk dicermati. Bahwa tingkat popularitas PTN masih tinggi memang ya,  tetapi tidak lagi untuk tingkat favouritasnya.  Kini tingkat favouritas PTN tidak lagi tinggi;  setidaknya tidak setinggi lima atau sepuluh tahun yang lalu. Favouritas PTN makin lama makin menurun.
UGM: UNIVERSITAS NDESO YANG MENDUNIA SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.245 KB)

Abstract

Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta kembali mencatat sejarah pendidikan di forum global. Dalam daftar perguruan tinggi teknologi infor-masi kelas dunia, “The World Universities’ Ranking on the Web 2009”, UGM kembali menorehkan prestasi dalam deretan 1.000 perguruan tinggi terbaik kelas dunia.          Dalam daftar tersebut UGM berada di ranking ke-623, beberapa tingkat di bawah University of Tokyo, Jepang (ke-52) dan National University of Singapore, Singapura (ke-135); serta beberapa tingkat di atas Tammasat University, Thailand (ke-675) dan Renmin University of China, Cina (ke-807). Saya pernah berkunjung ke University of Tokyo di Jepang dan setelah masuk terhiruplah aroma akademik yang kental. Keseriusan mengajar para guru besar dan keseriusan belajar para mahasiswa menjadikan perguruan tinggi tersebut pantas berada pada peringkat yang jauh di atas UGM.          Saya pun pernah berkunjung ke Renmin University of China yang me-miliki SD, SMP dan SMA “percobaan” di dalam kampusnya. Perguruan tinggi ini mutunya jauh di atas mutu rata-rata perguruan tinggi di Indonesia; namun tidak menyangka kalau peringkatnya jauh di bawah UGM. Kiranya bukan Renmin-nya yang jelek; akan tetapi UGM-nya yang lebih baik.  
"DWI FUNGSI" ANAK, ANTARA HAMBATAN DAN HIKMAH Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.656 KB)

Abstract

Sewaktu mendapatkan waktu luang pada saat memperoleh tugas luar (di kota lain) penulis menyempatkan diri berjalan-jalan sekedar untuk menikmati indahnya kota tersebut. Setelah agak capai berjalan dan perut mulai minta diperhatikan, kemudian mampirlah disebuah Resaurant atau tepatnya rumah makan yang tidak terlalu mewah.Belum lagi pesanan makanan dan minuman sampai diatas meja, masuklah seorang bocah kecil yang menawarkan jasa untuk membersihkan dan menyemir sepatu. Walau sepatu kami masih kelihatan bersih dan mengkilat (minimal untuk ukuran penulis) namun hati kecil ini tidak tega menolak tawaran jasa dari si anak tadi. Dengan cekatan sepatu dibawa keluar untuk kemudian dibersihkan dan dimengkilatkan, sepintas nampak keprofesionalan kerja si anak tersebut.Begitu urusan dengan rumah makan selesai dan waktu penulis akan meninggalkan maka secara naluriah terlontarlah beberapa pertanyaan pada si anak tadi. Apa masih punya orang tua? Kenapa harus bekerja berat? Apa masih sekolah? Kelas berapa? Dimana? Dan sebagainya.Jawaban yang diberikanpun hampir sama dengan dugaan penulis. Masih sekolah, kelas IV Sekolah Dasar, pagi sekolah dan sore bahkan sering sampai malam bekerja (sebagai tukang semir rumah makan), masih punya orang tua, harus bekerja karena penghasilan orang tua serba terbatas, dsb.
INDONESIA 2000 LAWAN AMERICA 2000 Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.62 KB)

Abstract

       Sepuluh tahun lalu, tepatnya tahun 1990,  meluncurlah buku yang menarik kita baca  dan mampu menumbuhkan optimisme kepada bangsa Indonesia dalam menyongsong masa depan; adapun judulnya ialah  Indonesia 2000 : The Industrial and Technological Challenge yang selanjutnya dalam tulisan ini disebut I-2000. Setahun kemudi-an, tepatnya tahun 1991, meluncur lagi buku yang tak kalah mena-riknya untuk kita baca  dan mampu menumbuhkan optimisme kepada bangsa Amerika Serikat (AS) dalam menyongsong masa depan; ada-pun judulnya adalah America 2000 : An Educational Strategy yang selanjutnya di dalam tulisan ini disebut dengan A-2000.       Di antara I-2000 dengan A-2000  ada beberapa kesamaan dan sekaligus perbedaannya. Orientasi futuristik karya tulis yang lebih difokuskan pada kehidupan sosial masyarakat pada tahun 2000 (saat ini) merupakan satu dari sekian kesamaan yang terdapat dalam dua buku tersebut.  Relatif banyaknya pakar dan praktisi pendidikan serta kaum intelektual lainnya yang mau meluangkan waktu untuk membaca buku merupakan sisi kesamaan yang lainnya.       Perbedaan yang utama  antara I-2000 dengan A-2000 terletak pada pendekatannya.  Pendekatan I-2000  adalah menampilkan hasil evaluasi terhadap kinerja pembangunan (di Indonesia)  dalam bebe-rapa tahun terakhir menjelang diluncurkannya buku tersebut untuk memprediksi apa yang bakal terjadi pada masyarakat di tahun 2000. Sementara itu pendekatan A-2000 adalah menggambarkan dahsyatnya persaingan yang akan dihadapi oleh bangsa-bangsa di dunia, ter-masuk AS, untuk kemudian meletakkan dasar-dasar pendidikan bagi bangsa AS mulai saat itu (awal tahun 90-an).       Perbedaan lain terdapat pada penulisnya. I-2000 ditulis oleh "outsider" yang dalam hal ini ialah Francois Raillon berkebangsaan Perancis; sedangkan A-2000 ditulis oleh "insider" yang dalam hal ini adalah George Bush bersama timnya berkebangsaan AS.