Claim Missing Document
Check
Articles

PENDIDIKAN DAN KEMISKINAN (I) Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN PRIORITAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.251 KB)

Abstract

       Kemiskinan yang terjadi dan ada dewasa ini sudah bukan akibat produk alami, seperti bencana alam, malas bekerja, dsb; akan tetapi merupakan suatu hasil yang kurang baik dari proses sosial yang sudah berjalan. Sedangkan tingkat kemiskinan yang ada sekarang ini sudah menjadi masalah struktural.       Sinyalemen tersebut di atas dikemukakan oleh Prof. Satjipto Rahardjo, S.H. dari Undip Semarang didepan peserta pekan informasi Hari Pers Nasional baru-baru ini, dan dikomunikasikan secara luas oleh berbagai media massa. Untuk memulai mencoba menganalisis masalah kemiskinan kiranya sebuah ilustrasi yang cukup sensasional pantas dipresentasikan. Ethiopia!       Ada apa dengan Ethiopia? Negara ini oleh John Vai zey, seorang profesor ekonomi pada sebuah universitas di Inggris dan menjadi konsultan pada OECD, UNESCO dan PBB, pernah dilukiskan sebagai negara yang penduduknya jarang tetapi "cukup makan". Sangat berbeda dengan India yang berkebudayaan tua, berpenduduk padat dan "sangat miskin" (John Vaizey, "Educational in the Modern World", New York: 1967).       Hal ini terjadi pada beberapa puluh tahun yang lampau, dan apa yang dikemukakan oleh profesor yang pernah menjadi dosen tamu pada sebuah universitas di California ini tentunya bukan sekedar "lukisan abstrak", te tapi lebih merupakan kesimpulan dari berbagai data yang mendukungnya.
KONSEP SINGLE TRACK SCHOOL SYSTEM Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.248 KB)

Abstract

Seorang pengamat, praktisi, serta sekaligus pakar pendidikan kita, St. Vembriarto, baru saja pergi menghadap Tuhannya. Di kalangan masyarakat pendidikan Pak Vem, nama akrabnya, dikenal sebagai pakar yang sangat vokal; berani menyampaikan pendapat apabila hal itu diyakininya sebagai benar. Pak Vem juga dikenal cukup konsisten mempertahankan konsep-konsepnya, meskipun konsep-konsepnya itu seringkali banyak yang menentangnya. Pada waktu Pak Vem wafat sesungguhnya saya sedang berada di luar kota untuk mengikuti acara sosio-akademik yang bertaraf nasional; namun demikian saya menyempatkan diri untuk "kembali" ke Yogya guna memberi penghormatan yang terakhir baginya, dan bagi konsep-konsep serta pemi kiran-pemikiran pendidikannya yang sebagian belum dapat direalisasikan, bahkan tidak dapat direalisasikan sama sekali. Realitasnya memang relatif banyak konsep-konsep pendidikan Pak Vem yang sampai akhir hayatnya belum da-pat direalisasikan, atau bahkan tidak mungkin direalisa-sikan, namun demikian tetap saja sangat bermanfaat untuk memberikan alternatif atau "choices" guna memajukan sis-tem pendidikan nasional kita. Setahu saya paling tidak terdapat dua konsep pen-didikan yang dibela sampai akhir hayatnya; yaitu konsep mengenai sistem persekolahan jalur tunggal (single track school system) serta mengubah bentuk IKIP menjadi univer sitas. Dua konsep pendidikan inilah yang dipertahankan-nya sampai Pak Vem harus meninggalkan kita semua.
KEMUNDURAN PARIWISATA DI INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.456 KB)

Abstract

       Debat opini mengenai SDM pariwisata  yang digelar di harian ini dari tanggal 6 s/d 10 Maret lalu penting diperhatikan. Berbagai pemikiran yang muncul dari para praktisi pariwisata dan pendidikan pariwisata perlu dicermati; pasalnya kalau bangsa kita ingin keluar dari keterpurukan ekonomi untuk melakukan recovery maka mau tak mau sektor pariwisata perlu mendapat tempat yang memadai.       Statistik kita menunjukkan, selama tahun 1997 yang lalu kita berhasil menarik sekitar 5 juta wisatawan manca,  padahal sepuluh tahun sebelumnya  kita hanya sanggup  mendatangkan 1 juta orang dari berbagai negara manca. Tidak bisa dipungkiri kedatangan para tamu dari manca itu telah memasok devisa bukan saja kepada peme-rintah di dalam bentuk pajak, retribusi, dan jasa; tetapi juga telah menebar dolar bagi masyarakat, baik dalam kapasitas personal, ke-luarga, maupun industri.  Wajarlah kalau sektor wisata di Indonesia pada masa itu sempat masuk dalam kelompok The Big Five dalam hal tingginya  pengumpul devisa negara  bersama dengan minyak bumi, gas alam, industri tekstil dan industri kayu. Barangkali karena itu pula maka pemerintah waktu itu  berani menargetkan kedatangan di atas 10 juta turis asing per tahun pasca tahun 2005.       Ternyata prestasi tersebut sukar dipertahankan;  pariwisata Indonesia di dalam dua atau tiga tahun ini justru banyak mengalami kemunduran.  Jumlah wisatawan manca negara yang datang ke bumi pertiwi justru menurun.  Berita menyebarnya penyakit AIDS dan penyakit menular yang lain serta lepasnya ratusan penghuni rumah tahanan di Bali membuat banyak orang Jepang membatalkan niatnya berkunjung ke Bali.  Instabilitas politik dan terjadinya banyak ke-kerasan di negara kita  menyebabkan orang-orang Eropa, AS, dan Asia ketakutan datang di Indonesia. Turis manca pun makin sedikit dan devisa kita pun semakin menipis.
MENINGKATKAN KUALITAS SIVITAS AKADEMIKA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.909 KB)

Abstract

       Pada beberapa waktu yang lalu pengertian sivitas akademika sempat menimbulkan diskusi, bahkan tak jarang menimbulkan silang pendapat mengenai komponen apa saja yang tergabung di dalamnya. Ada yang menyatakan sivitas akademika adalah dosen, karyawan dan mahasiswa perguruan tinggi; bahkan ada yang menambahkan para aktivis yayasan (bagi PTS) ke dalamnya.          Setelah Peraturan Pemerintah (PP) No:30/1990 dikomunikasikan maka pengertian sivitas akademika menjadi gamblang. PP ini secara eksplisit menyebutkan bahwa yang dimaksudkan sivitas akademika adalah satuan yang terdiri atas dosen dan mahasiswa pada perguruan tinggi.  Apabila dikaji  secara cermat maka sivitas akademika inilah yang sangat menentukan dinamika dan kualitas perguruan tinggi; meskipun harus diakui bahwa faktor "luar", khususnya yayasan bagi PTS serta pemerintah bagi PTN, juga mempunyai peranan yang tidak kalah menentukannya.          Sekarang ini di Indonesia terdapat sekitar 1.000 perguruan tinggi; PTN dan PTS. Data tahun 1990/1991 menunjukkan jumlah PTN sebanyak 49 lembaga terdiri dari 31 universitas, 14 institut, 2 sekolah tinggi dan 2 akademi. Sementara itu PTS di negara kita berjumlah  914 lembaga; terdiri dari 221 universitas, 51 institut, 350 sekolah tinggi, 290 akademi serta 2 politeknik. Jumlah perguruan tinggi yang relatif besar ini merupakan aset pembangunan;  tentunya kalau kita mampu mengembangkannya. Dan, pengembangan perguruan tinggi itu sendiri sangatlah tergantung pada kualitas sivitas akademikanya.
PENGALAMAN PAHIT EBTANAS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.602 KB)

Abstract

       Pelaksanaan Ebtanas di sekolah-sekolah kita kini tengah berlangsung;  setelah di sekolah menengah selesai terus dilanjutkan di tingkat SLTP untuk nantinya segera dituntaskan di tingkat sekolah dasar. Jutaan siswa-siswi pendidikan dasar (SD dan SLTP) serta sekolah menengah di negara kita tengah berjuang untuk "menundukkan" ranjau evaluasi yang gampang-gampang susah ini.          Di tengah-tengah pelaksanaan Ebtanas kali ini mun cul kembali pemikiran klasik mengenai perlu dan tidaknya untuk mempertahankan sistem Ebtanas itu sendiri. Pemi-kiran klasik ini sempat menghangat, terutama di kalangan masyarakat pendidikan,  karena di samping kompleksitas problematikanya bersifat aktual dan kontekstual, juga di karenakan masing-masing pihak mempunyai argumentasi aka-demis yang cukup kuat dan rasional.          Pihak yang memandang masih perlu mempertahankan berpendapat bahwa Ebtanas merupakan sistem terbaik untuk meningkatkan dan menyetarakan kualitas lulusan di antara lembaga pendidikan yang setingkat dan sejenis; setidak-tidaknya untuk saat ini.
KI HADJAR DENGAN PENA EMASNYA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.827 KB)

Abstract

       Kiranya sudah menjadi semacam tradisi nasional kita, bahwa setiap tanggal 2 Mei bangsa Indonesia dengan segala kekhidmatannya memperingati hari pendidikan nasional, "hardiknas"; suatu moment yang mengingatkan bangsa Indonesia terhadap perjuangan pendidikan yang dilakukan oleh para pendahulunya.       Setiap kita memperingati hari pendidikan nasional maka nama Ki Hadjar Dewantara selalu melekat didalamnya. Memang demikianlah keadaannya!  Kiranya memang tidak ada yang  tak sependapat bahwa pengukuhan tanggal 2 Mei oleh pemerintah RI sebagai 'hari pendidikan nasional' memang dimaksudkan supaya kita senantiasa dapat "menghormati" jasa-jasa Ki Hadjar yang telah berhasil menanamkan konsep-konsep pendidikan bagi kemajuan bangsa.       Pemerintah kita melalui  Surat Keputusan Presiden RI Nomer:316/1959 tertanggal 16 Desember 1959 menetapkan bahwa tanggal lahir Ki Hadjar Dewantara, 2 Mei, sebagai hari pendidikan nasional sebagaimana yang selalu kita peringati pada setiap tahunnya itu.
STOP UNIVERSITAS ISLAM Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.325 KB)

Abstract

Lama tidak berbicara soal pendidikan tinggi, baru-baru ini Pak Maftuh Basyuni selaku menteri agama membuat pernyataan yang ?menggelitik? kita, terutama yang terlibat dalam pendidikan Islam baik sebagai ?provider? seperti dosen dan administrator maupun ?consumer? seperti mahasiswa dan orang tuanya.          Baru-baru ini Pak Maftuh menyatakan Departemen Agama menghenti-kan keinginan semua manajemen IAIN di Indonesia untuk berubah menjadi universitas. Lebih lanjut ditegaskan bahwa selama dirinya masih menjadi menteri agama maka keinginan mengubah bentuk IAIN menjadi universitas Islam akan distop dulu. Menurut beliau dalam beberapa tahun terakhir ini ada enam IAIN yang sudah berubah menjadi universitas Islam, dan ada delapan IAIN yang mengajukan perubahan menjadi universitas Islam.          Mengapa Pak Maftuh mempunyai kebijakan seperti itu? Menurutnya, kalau IAIN berubah menjadi universitas, maka fakultas agama tetap saja tertinggal. Semua mahasiswa ingin menjadi dokter, insinyur, dsb; dan tidak ada yang ingin menjadi kiai. 
KORPRI, MARI BERPRESTASI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.686 KB)

Abstract

............................................. Kami anggota KORPRI sebagai Abdi Negara dan Abdi Masyarakat menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan.                                                   Kami anggota KORPRI mengutamakan persatuan dan Kesatuan Bangsa, memupuk keutuhan dan kesetiakawanan KORPRI,  serta meningkatkan mutu pengetahuan dan kemampuan untuk  kelancaran pelaksanaan tugas.                                                                                                                                                                                                              (Butir Sapta Prasetya KORPRI)        Pada tanggal 17 pagi setiap bulan apabila anda meluangkan waktu untuk berhandai-handai dengan sepeda mini anda menyusur dijalan raya, maka disetiap instansi atau kantor anda akan melihat kerumunan orang yang dengan khidmat tengah melangsungkan upacara bendera, merekalah anggota KORPRI.       Apabila kemudian anda pergi kesebuah kantor/instansi departemen dsb dan mendapat pelayanan yang serba simpatik dari petugas,  senyum yang mengulum pada waktu menerima saudara, lincah dan gesit dalam membantu menyelesaikan urusan anda, merekalah anggota KORPRI.       Apabila di lain hari anda pergi kekantor/instansi/ departemen lain untuk menyelesaikan urusan yang belum beres kemudian mendapat pelayanan yang sangat tidak simpatik, tunjuk sana tunjuk sini, bentak sana bentak sini, lempar sana lempar sini, merekalah anggota KORPRI.
ANGGARAN PENDIDIKAN NAIK, TAHUN 1992 "DEMAM MBA" Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.485 KB)

Abstract

       Perjalanan pendidikan tahun 1992 sebenarnya telah dibuka dengan peristiwa yang cukup bagus, yaitu naiknya anggaran untuk sektor pendidikan. Hal ini dapat diikuti dari pidato Presiden RI Soeharto pada waktu menyampaikan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 1992/1993 di depan sidang Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada tanggal 6 Januari 1992.          Dalam bagian pidatonya yang memperoleh perhatian dari banyak pengamat itu Presiden RI Soeharto mengemuka-kan bahwa sektor pendidikan masih mendapatkan prioritas. Hal ini memang benar,dan sejak beberapa tahun sebelumnya sektor pendidikan juga selalu mendapatkna prioritas. Se-jak tahun 1989/1990 s/d 1991/1992 RAPBN kita senantiasa menempatkan sektor pendidikan pada kelompok  "the best three"  dalam hal jumlah dana. Pada RAPBN 1992/1993 maka sektor pendidikan  dengan alokasi dana lebih dari Rp 3,0 trilyun kembali masuk dalam kelompok tersebut.          Apabila dibandingkan dengan besarnya alokasi dana untuk sektor pendidikan pada RAPBN 1991/1992, atau RAPBN satu tahun sebelumnya yang jumlahnya "hanya" sekitar Rp 2,50 trilyun saja, maka RAPBN tahun ini memang tergolong naik dalam nilai yang sangat berarti.  Kenaikan rencana anggaran untuk sektor pendidikan ini bukan saja mening-katkan nilai rupiah untuk melaksanakan pembangunan pendidikan, tetapi lebih dari itu kenaikan ini membuktikan betapa besarnya perhatian pemerintah terhadap pembangun-an di bidang pendidikan.
SIKLUS PENERIMAAN MAHASISWA BARU PTN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.694 KB)

Abstract

       Sistem penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri, PTN, dalam beberapa tahun yang terakhir ini menggunakan dua jalur; masing-masing adalah jalur Sipenmaru (seleksi penerimaan mahasiswa baru) dan jalur PMDK (penelusuran minat dan kemampuan).       Pada jalur yang pertama --Sipenmaru-- maka setiap calon diwajibkan untuk menempuh ujian tertulis yang kriteria evaluasinya telah ditentukan secara seragam  untuk seluruh PTN di negara kita. Bagi yang hasil ujiannya berhasil melampaui kriteria evaluasi yang telah  ditentukan maka dipersilakan untuk menempati sebuah "kursi emas" di PTN sesuai dengan pilihannya semula. Sementara itu bagi yang  hasil ujiannya tidak berhasil  melampaui kriteria evaluasi maka cita-cita untuk dapat melanjutkan  belajar di PTN terpaksa harus disandarkan.       Sementara itu jalur PMDK menggunakan prestasi akademik yang dicapai oleh siswa ketika di SMTA sebagai kriterianya. Bagi para siswa yang prestasinya menonjol bisa diterima sebagai mahasiswa baru PTN tanpa harus  dikenai ujian tertulis,  sementara yang prestasinya "biasa-biasa saja" tentu tak akan berhasil melewati jalur ini.       Dari  rapat kerja nasional  (rakernas)  Depdikbud yang berlangsung di Jakarta beberapa waktu yang lalu  di dapat khabar bahwa sistem penerimaan mahasiswa baru yang selama ini menggunakan sistem seleksi,  baik yang berupa ujian  tulis (Sipenmaru) maupun non-tulis (PMDK)  secara bertahap akan digantikan dengan sistem ujian masuk secara bertahap akan digantikan dengan sistem ujian masuk  yang kreterianya ditentukan oleh masing-masing lembaga pendidikan penerima calon yang bersangkutan.