Claim Missing Document
Check
Articles

MENGUJI KREDIBILITAS BPS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.812 KB)

Abstract

       Penelitian SDSB; inilah topik aktual dan menarik yang tengah berkembang di tengah-tengah masyarakat kita saat ini. Kemenarikan topik ini mampu menyita perhatian berbagai kalangan masyarakat kita, baik kalangan masyarakat awam maupun masyarakat akademis. Bagi masyarakat awam letak kemenarikannya adalah pada nasib SDSB di masa mendatang; sedangkan bagi kalangan akademis kemenarikannya lebih terletak pada objektivitas dan kualitas hasil penelitiannya itu sendiri.          Seperti telah kita ketahui bersama bahwa sekarang ini Biro Pusat Statistik (BPS) tengah mendapatkan tugas untuk meneliti SDSB. Presiden Soeharto pun konon telah memberikan ketersetujuannya atas kebijakan ini.          Dalam bahasa politis barangkali penelitian SDSB tersebut termasuk kegiatan yang bukan main-main. Kenapa? Oleh karena rekomendasi yang dibangun atas hasil penelitian ini akan dijadikan dasar pengambilan keputusan pemerintah mengenai peredaran SDSB; jalan terus atau stop.
MENGHITUNG POTENSI DOSEN KITA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.492 KB)

Abstract

       Sebuah studi empirik mengenai potensi dan kendala Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang dilakukan oleh Busi-ness Information Service (BIS)  telah mendapatkan temuan deskriptif yang mengundang pertanyaan, yaitu tentang ter dapatnya keunggulan kuantitatif pada dosen PTS.  Menurut penelitian  yang mengambil sampel sebanyak 962 perguruan tinggi di Indonesia,  terdiri 48 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 914 PTS, diperoleh kesimpulan bahwa PTS mempu-nyai dosen lebih banyak daripada PTN.          Di samping kesimpulan tersebut di atas sebenarnya masih ada kesimpulan lain yang cukup menarik; yaitu bah-wa tingkat produktivitas PTS jauh lebih rendah daripada PTN,  tingkat produktivitas PTS hanya 7,8% sementara itu angka serupa untuk PTN mencapai hampir dua kali lipatnya yaitu 14,8%.  Diilustrasikan dari total jumlah mahasiswa PTS sampel yang hingga kini mencapai 1.068.112 terdapat 83.452 lulusan; sementara itu dari total jumlah mahasis-wa PTN sampel yang hingga kini mencapai 435.150 terdapat 64.251 lulusan.  Perbandingan antara jumlah lulusan ter-hadap  jumlah keseluruhan mahasiswa inilah yang oleh BIS diangkat sebagai indikator produktivitas.          Temuan lain dari studi BIS  tersebut pada umumnya tidak menarik lagi;  misalnya mengenai daya tampung PTS yang lebih besar daripada PTN. Temuan dan/atau kesimpul-an seperti ini tentu saja sungguh tidak menarik karena siapapun sudah lama mengerti bahwa daya tampung PTS jauh lebih tinggi daripada PTN; meskipun demikian temuan dan/ atau kesimpulan semacam ini tetap bermanfaat untuk meng-akualisasi data.
PENDIDIKAN KEJURUAN LUAR SEKOLAH SEBAGAI PENDIDIKAN ALTERNATIF Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: MAJALAH PUSARA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.408 KB)

Abstract

       Kemajuan suatu bangsa berdiri di atas keterdidikan rakyatnya. Itulah pomeo yang sampai saat ini diakui kebenarannya oleh bangsa mana pun di dunia ini. Buktinya, orang dapat mengukur dan mengantisipasi kemajuan suatu bangsa dan negara dari sejauh mana bangsa tersebut telah mampu memutar roda-roda pendidikannya.        Ada ilustrasi yang cukup menarik untuk pernyataan tersebut di atas. Pada tahun 40-an ketika Jepang membuka diri terhadap kebudayaan luar, maka sistem pendidikan di Jepang mulai "mengkiblat" ke negara-negara Barat, terutama ke Amerika Serikat (AS). Kiranya tidak ada yang tak sependapat bahwa kemajuan bangsa AS,  waktu itu, berada di atas bangsa Jepang;  akan tetapi pada tahun 80-an ini terjadi sesuatu hal yang agak "kontroversial" karena AS justru "melirik" sistem pendidikan di Jepang. Akhirnya, dewasa ini banyak orang sependapat bahwa kemajuan bangsa Jepang sudah mulai "melanggar" AS.  Karena keterdidikan rakyatnya maka Jepang mampu "melanggar" AS.       Ilustrasi tersebut di atas mungkin cukup ekstrim, dan agak sulit mencari ilustrasi lain yang serupa; namun esensinya, bahwa kemajuan suatu bangsa bisa dilihat dari sejauh mana  kemajuan pendidikan bangsa tersebut kiranya tidak dapat terbantahkan lagi.
KEUNGGULAN UNIVERSITAS CINA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.097 KB)

Abstract

       Pada akhir tahun lalu, atau tepatnya 11 Oktober 2006, Web Popularity mengeluarkan daftar perguruan tinggi terbaik Asia berdasarkan familiaritas terhadap internet, ?Top 100 Universities and Colleges in Asia?. Salah satu hal yang menarik dari publikasi ini adalah, ternyata nama-nama di dalam daftar tersebut didominasi oleh universitas Cina; dalam hal ini Hong Kong, Taiwan, dan Cina Daratan.          Ranking ke-1 s/d ke-7 adalah sbb: University of Hong Kong (HK), City University of Hong Kong (HK), Chinese University of Hong Kong (HK), National Taiwan University (Taiwan), Hong Kong Polytechnic University (HK), National Chiao Tung University (Cina), dan Peking University (Cina). Selanjutnya kalau kita cermati 20 besar perguruan tinggi di Asia; ternyata 80 persen universitas Cina; lengkapnya 6 berasal dari Hong Kong, 4 Taiwan, dan 6 dari Cina Daratan. Hanya 4 yang berasal dari ?luar?, yaitu Singapura, Saudi Arabia, India dan Jepang masing-masing 1 universitas.          Pertanyaannya ialah, kenapa universitas Cina dapat berprestasi sebegitu unggulnya sehingga mampu ?mengalahkan? perguruan tinggi negara-negara lain pada umumnya? Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah keunggulan universitas Cina dapat ditiru dan dikembangkan oleh para pengelola pergu-ruan tinggi di Indonesia?
ANALISA KURIKULUM SMA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.642 KB)

Abstract

       Memang benar,  sampai sekarang ini perjalanan Kurikulum 1994 pada berbagai sekolah di negara kita masih dalam tahapan awal; suatu tahapan yang secara akademis belum cukup waktu untuk mengadakan evaluasi secara komprehensif.  Meskipun demikian bukan berarti kita tak akan mendapat "pintu masuk" untuk mengadakan analisa terhadap Kurikulum 1994, baik untuk satuan pendidikan di SD, SLTP, maupun sekolah menengah. Analisa kritis terhadap Kurikulum 1994 kita itu kiranya tetap perlu dan strategis berkaitan dengan optimalisasi upaya mensukseskan implementasinya.          Pada sisi yang lain Kurikulum 1994 kita memang sangat menarik untuk dianalisa berkaitan dengan kelebihan (plus) yang dikandung dan sekaligus kekurangan (minus) yang belum dapat dihilangkan. Sebagai mana dengan kurikulum-kurikulum yang terdahulu maka Kurikulum 1994 kita secara bersamaan memang mengandung nilai plus dan nilai minus sekaligus  (Supriyoko, "Plus Minus Kurikulum 1994", Bali Post: 18/8/1994).          Di antara kurikulum baru yang ada dan mulai diberlakukan pada tahun ajaran 1994/1995 sekarang ini kiranya Kurikulum 1994 SMA termasuk kurikulum baru yang paling banyak mendapat sorotan; ada yang menyatakan kurikulum SMA kita sekarang ini sebenarnya klasik dan hanya merupakan "make-up" dari kurikulum lama, ada pula yang menyatakan kurikulum SMA kita justru mengalami kemunduran kalau dibandingkan dengan kurikulum SMA yang lalu, dan ada pula yang menyatakan kurikulum SMA sekarang kurang antisipatif, dan masih banyak respon dan kritik yang lainnya.
MEMILIH ATAU TIDAK MEMILIH:SEKOLAH BERPREDIKAT "FAVOURITE" ? Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.342 KB)

Abstract

Banyak  warga masyarakat Jawa Tengah yang  merasa lega dan bersyukur setelah Suara Merdeka selama dua hari --tanggal 10 dan 12 Juni 1987-- menurunkan tulisan tentang kesempatan masuk ke sekolah lanjutan, SMTP dan SMTA di kota Semarang pada khususnya dan di Jawa Tengah pada umumnya.           Tulisan tersebut terasa lebih besar urgensi serta manfaatnya setelah dilengkapi dengan informasi tentang NEM Minimum (Terendah) yang diberlakukan di seluruh sekolah menengah di kota Semarang; baik untuk tingkat SMTP maupun untuk tingkat SMTA, baik yang berupa sekolah umum (SMP dan SMA) maupun yang berupa sekolah kejuruan (SMEA, STM, SMKK, dsb).           Informasi tentang NEM Minimum (Terendah) tersebut memang sangat diperlukan untuk memperhitungkan sekolah mana yang pantas untuk dimasuki oleh masing-masing calon sesuai dengan kekuatannya; ialah besarnya NEM yang dimiliki masing-masing calon. Pada umumnya mereka berharap agar pemuatan informasi tentang NEM Minimum (Terendah) ini tidak terbatas pada sekolah di kota Semarang  saja, akan tetapi seluruh sekolah menengah di Jawa Tengah (Ini     input  menarik atau bahkan merupakan "tantangan" untuk teman-teman Redaktur maupun Reporter).
AKTUALISASI WAWASAN KEBANGSAAN SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN SINAR HARAPAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.671 KB)

Abstract

Ketika tinggal di Singapura suatu saat kami jalan-jalan di daerah River Valley yang punya beberapa sekolah bermutu seperti River Valley Primary School (SD), River Valley Secondary School (SMP), dan River Valley High School (SMA). Pada saat anak-anak SD sedang melakukan upacara dan menyanyikan lagu ?Majulah Singapura? maka terjadi pemandangan yang menarik. Beberapa orang yang sedang melintas jalan dekat sekolah, dan mendengar lagu kebangsaan tersebut dinyanyikan, secara spontan berdiri tegak serta ikut bernyanyi meski dengan suara yang sangat pelan.          Lagu kebangsaan pun selesai dinyanyikan dan mereka segera melan-jutkan aktivitasnya. Ketika saya tanyakan kenapa hal itu dilakukan, mereka menjawab bahwa sudah menjadi kewajiban di Singapura kalau mendengar lagu kebangsaan dinyanyikan maka siapa pun harus menghentikan aktivi-tasnya untuk ikut ?bergabung? menyanyikan lagu tersebut.          Apa gunanya? Katanya menyanyikan lagu kebangsaan itu mengandung banyak makna; salah satunya menyatakan rasa syukur kepada Tuhan karena telah memberikan kerukunan kepada bangsa multietnis ini yang telah me-nyatakan kemerdekaannya sejak tanggal 9 Agustus 1965.          Kita tentu paham, negara yang bersemboyankan ?Knowing where you are going to is more important than where you came from? itu terbangun dari banyak etnis; antara lain etnis Melayu, Cina, Eropa, India dan Pakistan. Banyaknya etnis kalau tidak dikelola baik berpotensi terjadinya perpecahan. Tetapi hal itu tidak terjadi di Singapura. Bahkan kemulti-etnisan negara tersebut dapat dikelola baik sehingga menjadi kekuatan yang dahsyat untuk menghantarkan bangsa kepada kemajuan secara signifikan. Hal inilah yang mereka syukuri dengan ?bergabung? menyanyikan lagu kebangsaannya. 
MEMAKNAI FILOSOFI "TUT WURI HANDAYANI" Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.307 KB)

Abstract

       Sekitar tiga belas tahun yang lalu atau tepatnya pada Bulan Desember 1983,  di Yogyakarta terjadi polemik mengenai pendidikan yang berfilosofikan  'tut wuri handayani' (TWH).  Polemik tersebut dipicu oleh pernyataan seorang dosen pada perguruan tinggi bahwa penyebab kurang berhasilnya pelaksanaan pendidikan nasional kita dikarenakan praktik pendidikan yang terlalu TWH.       Pernyataan yang kontroversial tersebut  segera mendapatkan tanggapan dari banyak pihak,  khususnya para praktisi pendidikan di lapangan.  Setelah melalui proses diskusi yang menarik akhirnya disimpulkan bahwa telah terjadi keliru pemaknaan terhadap filosofi TWH itu sendiri.  Dalam konteks pendidikan dan pengajaran bukan TWH-nya yang keliru  akan tetapi praktik pengajaran yang dilakukan di sekolah dan di kelas-kelas yang justru kurang mengaplikasi prinsip-prinsip TWH. Dengan kata lain kurang berhasilnya pelaksa-naan pendidikan nasional  justru dikarenakan para pengajar banyak yang meninggalkan prinsip-prinsip TWH.       Terus terang mulanya saya tidak tertarik membaca pendapat Prof.Dr. H. Ahmad Tafsir yang menyatakan bahwa filosofi TWH me-rupakan salah satu manifestasi dari budaya feodal yang menyebabkan "mandegnya" pendidikan nasional.  Adapun indikasinya antara lain murid tidak bisa melebihi gurunya, tidak mampu berkreasi dan berbeda pendapat yang pada akhirnya tidak bisa mandiri dan tidak dapat menjadi pesaing yang tangguh  (Pikiran Rakyat, 25/8/1999). Saya berpikiran positif; barangkali rekan wartawan salah kutip.       Ketika membaca tulisan Prof. Dr. Hj. Koesbandijah  di dalam artikelnya "Apakah Filosofi 'Tut Wuri Handayani' Itu Fedoal" (Pi-kiran Rakyat, 28/9/99) hati saya menjadi tergelitik. Jangan-jangan keliru pemaknaan terhadap filosofi TWH yang pernah terjadi tiga belas tahun yang lalu kini terulang lagi.
REKTOR PTN DIGUGAT Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.508 KB)

Abstract

       Eksistensi jabatan rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN) baru saja digugat! Kedengarannya memang agak aneh; suatu jabatan strategis yang paling tinggi di lingkungan perguruan tinggi yang dikelola langsung oleh pemerintah harus menerima gugatan masyarakat. Barangkali baru kali inilah peristiwa ini terjadi di negara kita.          Tegasnya: baru-baru ini dalam forum dengar pendapat antara beberapa pejabat teras  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) dengan para anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) muncul pendapat yang benar-benar surprisse; yaitu pendapat mengenai perlu ditiadakannya jabatan rektor PTN.          Sekarang ini sudah saatnya keberadaan rektor PTN di Indonesia ditiadakan  karena dalam banyak hal langkah dan operasinya lebih banyak diatur oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) maupun Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti). Pendapat yang sedikit berbau kontroversial dan sempat ditangkap serta dimedia-massakan oleh para kuli tinta tersebut dikemukaan oleh Koordinator Kopertis Wilayah III  (DKI Jakarta dan sekitarnya), Sambas Wirakusumah.
"MUSIBAH" SANG PROFESOR Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.369 KB)

Abstract

       Sang guru besar alias profesor pun ternyata dapat pula kena "musibah";  demikian pula dengan sebagian dari para dosen senior di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Hal ini terjadi pada para profesor dan dosen senior yang sa-at ini masih menjadi pejabat struktural  dan yang mantan atau pernah menjabat.  Bahkan juga terjadi pada profesor yang sudah memasuki masa pensiun.          Barangkali "musibah" tersebut baru pertama kali terjadi di dalam sejarah kepegawaian kita, terutama yang menyangkut para guru besar serta dosen senior yang nota bene telah lama mengabdikan dirinya pada dunia keilmuan di perguruan tinggi. Jelasnya,sekarang ini sebagian dari profesor dan dosen senior pada PTN sedang kena "musibah" karena dikenai aturan yang mengharuskan dirinya berurus-an dengan persoalan jabatan struktural dan tunjangannya. Bagi mereka yang sekarang usianya melebihi 60 tahun tak akan mendapat tunjangan struktural, meskipun masih aktif memangku jabatan.  Ternyata bukan itu saja, mereka masih juga diminta mengembalikan tunjangan struktural yang per nah diterimanya setelah usia 60 tahun.          Keadaan tersebut bukan saja berlaku bagi yang ma-sih aktif bekerja,  tetapi juga berlaku bagi mereka yang sudah menikmati hari tua dimasa pensiun. Dalam kasus ini seorang profesor ataupun dosen senior tersebut ada yang terkena kewajiban ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Se-orang profesor  di UGM Yogyakarta konon ada yang terkena kewajiban  hampir sepuluh juta rupiah,  di UNS Surakarta konon ada yang mencapai hampir 21 juta rupiah, demikian pula dengan PTN-PTN yang lainnya.