Claim Missing Document
Check
Articles

MENYONGSONG ERA INDUSTRI INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.867 KB)

Abstract

       DANIEL BELL, seorang ahli ekonomi yang cukup punya nama dewasa ini mengatakan bahwa secara kronologis setiap negara akan mengalami tiga era.  Masing-masing era yang dimaksud adalah era pra-industri, era industri dan era post-industri (industri lanjut), dengan karakteristik yang berbeda-beda antara era yang satu dengan yang lainnya. Indonesia tentu saja tidak terkecuali.       Memang benar adanya! Kehidupan masyarakat secara ekonomis tradisional akan menjadi tanda bahwa negara tersebut adalah masih berada dalam era pra industri. Disini tanah merupakan simbol elite sosial, maka para "tuan tanah" menjadi figure yang sangat dominan di mata masyarakat. Kepentingan-kepentingan individu pun masih terasa sangat menonjol, dan apabila terjadi konflik sosial maka penyelesaiannya terasa sepihak dengan "tuan tanah" yang akan mendapatkan kemenangan.       Dipihak yang lain sistem kehidupan ekonominya dapat disebut sebagai "a zero-sume game" dimana kekayaan seseorang diperoleh dengan cara eksploatasi (penaklukan, penjajahan, dsb) ataupun men-dapat biaya dari yang kalah.       Pada era industri banyak ukuran-ukuran yang mulai bergeser. Kepentingan-kepentingan sosial mulai mendapat perhatian yang lebih serius.  Sistem kehidupan ekonomi mengarah pada "a non-zero-sume game".  Di dalam era ini pendidikan seseorang mulai diperhitungkan secara teliti dalam struktur pekerjaan yang ada. Seseorang yang lebih tinggi pendidikannya akan mendapatkan pekerjaan yang lebih "dihargai".  Dominan figur masyarakat mulai bergeser pada tangan "kaum bisnis".
TANTANGAN SEJARAH BAGI TAMANSISWA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.653 KB)

Abstract

       Gagasan Pak Benny membangun sekolah menengah umum tingkat atas yang dinamakan Perguruan Taman Madya Taruna Nusantara, PTMTN, dan memilih Perguruan Tamansiswa untuk diajak bekerja sama guna merealisasikan gagasannya itu tentu bukan tanpa latar belakang sama sekali.       Dalam sejarah pendidikan di Indonesia nama Tamansiswa memang tidak asing lagi. Tanpa dengan maksud untuk mengecilkan peran lembaga lainnya maka peran Tamansiswa didalam membangun sistem pendidikan nasional yang kokoh dan bernafaskan Indonesia memang tidak dapat dipungkiri lagi adanya.       Seperti telah tertulis dalam sejaraah, pada tahun 1922 bendera Tamansiswa mulai berkibar dan sejak itulah perguruan ini mulai mendarmabhaktikan "loyalitas kultur-akademik"-nya kepada nusa bangsa.       Satu lagi yang tak boleh dilupakan:  kharisma Ki Hadjar Dewantara sebagai pendiri dan pemimpin Tamansiswa kala itu memang tak pernah hilang sampai sekarang ini. Semangat perjuang-an dan semangat mendidik yang pernah berkobar di dada Ki Hadjar barangkali telah mengilhami "Pak Benny" untuk memilih Tamansiswa sebagai "partner" guna merealisasikan gagasannya tersebut.
PERSIAPAN HONG KONG KEMBALI KE CINA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.995 KB)

Abstract

       Isu yang sekarang paling aktual pada masyarakat Hong Kong dan juga pada masyarakat internasional mengenai masa depan Hong Kong adalah soal rencana kembalinya Hong Kong ke Cina. Seperti telah kita ketahui bersama bahwa direncanakan pada tanggal 1 Juli 1997 yang akan datang Hong Kong akan dikembalikan kepada Cina; masyarakat dan rakyat Hong Kong nantinya akan menjadi bagian (kembali) dari masyarakat dan rakyat Cina.      Isu pengembalian Hong Kong tersebut sekarang ini memang amat aktual dan populer,  meski demikian tidak sesensitif sebagaimana yang banyak diperkirakan banyak orang.  Masyarakat Hong Kong sendiri, dari sopir taksi sampai pejabat, membicarakan rencananya kembali ke Cina sepertinya sebagai hal yang biasa-biasa saja dan bukan merupakan masalah politis yang berat.  Bahwa rencana pengembalian Hong Kong ke Cina dianggap penting memang iya, tetapi bukan menjadi masalah yang berat dan sensitif.        Sensitivitas muncul justru menyangkut terminologinya. Ada yang suka menyatakan istilah 'pengembalian' yang berkonotasi pemerintah Inggris secara aktif mengembalikan Hong Kong ke pangkuan "ibunya" dan ada pula yang senang dengan istilah 'pengambilan kembali' yang berkonotasi Pemerintah Cina Daratan secara aktif mengambil kembali hak milik yang selama ini "dipinjamkan" kepada orang lain.       Lepas dari istilah mana yang tepat, yang jelas keinginan Cina un-tuk mengambil kembali Hong Kong memang sudah lama; bahkan pada tahun 1840-an atau satu setengah abad lalu ketika pertama kali secara legal Hong Kong diserahkan kepada Inggris sebenarnya hal itu dilaku-kan Cina dengan sangat terpaksa.  Penyerahan Hong Kong merupakan konsekuensi politis atas kekalahannya di Perang Candu.  Dan sejak itu pula sebenarnya Cina sudah ingin Hong Kong "diambil kembali".
MEREKONSTRUKSI PENDIDIKAN NASIONAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: HARIAN JAWA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.126 KB)

Abstract

Kiranya benar apa yang dinyatakan oleh Menteri Pendidikan Nasional, Abdul Malik Fadjar, baru-baru ini bahwa perkembangan pendidikan kita sangat lamban. Perubahan yang terjadi di luar jauh lebih cepat dibanding yang terjadi di dalam dunia pendidikan nasional kita.          Ibarat kapal yang besar, sepertinya Indonesia nyaris tenggelam. Ketika kapal-kapal lain melaju dengan kencang, kapal Indonesia berjalan lamban. Awak kapal kita tidak dapat berkonsentrasi penuh untuk melajukan kapal secepat kapal-kapal lain karena harus bekerja keras menambal dinding yang bocor. Perumpamaan ini rasanya tepat. Di dalam konteks global, sejak krisis ekonomi menghantam maka Indonesia tidak dapat berprestasi secara optimal. Fondasi ekonomi kita runtuh dan memerlukan waktu lama untuk memulihkannya; dan ini berpengaruh pada sektor kehidupan masyarakat lainnya, seperti politik, hukum, pendidikan, kesehatan, kebudayaan, kea-manan, dan sebagainya.          Dalam hal daya saing ekonomi, penelitian International Institute for Management Development (IIMD) tahun 2001 hanya menempatkan kita di ranking 49 dari 49 negara. Dalam hal kinerja pendidikan, studi Political and Economical Risk Consultancy (PERC) hanya menempatkan Indone-sia di ranking 12 dari 12 negara di Asia. Sementara itu dalam hal ekonomi, pendidikan, kesehatan dan kependudukan, penelitian United Nations Deve-lopment Programme (UNDP) hanya menempatkan Indonesia di ranking 112 dari 174 negara anggota PBB. Ranking kita selalu di bawah Malaysia, Thailand, Brunei, Singapura, dan negara-negara tetangga lainnya.
MENGATASI KETERBATASAN DAYA TAMPUNG PERGURUAN TINGGI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.983 KB)

Abstract

Sebenarnya pendidikan itu mempunyai konsep yang sangat sederhana, pendidikan adalah upaya untuk merubah sikap dan perilaku manusia agar senantiasa siap untuk menghadapi hari esok. Dengan demikian pelayanan pendidik an tidaklah harus selalu didapat melalui lembaga-lembaga pendidikan (resmi/formal) saja melainkan dapat didapat disetiap penjuru dalam situasi yang tidak terikat. Kemarin, hari ini dan esok mempunyai karakteristik yang spesifik, atau dengan kata lain setiap terjadi pergeseran waktu senantiasa akan diiringi dengan adanya perubahan-perubahan baik perubahan fisik (forma) ataupun perubahan tata nilai (system). Untuk itu maka kontinuitas proses (pendidikan) ini sangat diperlukan.Kemudian timbullah suatu konsep 'belajar seumur hidup' (long education) sesuai dengan sifat pendidikan itu sendiri merupakan aktivitas yang tidak pernah berakhir (never ending process).Sedangkan adanya pembagian jenjang pendidikan pada lem-baga pendidikan formal tentunya bertautan dengan kriteria kesiapan anak didik dalam menyongsong hari esok, dalam artian 'hasil didik' dari lembaga pendidikan dengan jenjang yang lebih tinggi diharapkan dapat lebih pintar untuk memecahkan misteri-misteri dan problematika dimasa mendatang.
AKREDITASI PTS TAHUN INI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.955 KB)

Abstract

       Badan Akreditasi Nasional (BAN) tahun ini akan segera memulai kegiatannya dengan mengakreditasi PTS,  Perguruan Tinggi Swasta. Dijelaskan oleh Ketua BAN Soekadji Ranoewihardjo bahwa tahun ini akan dimulai kegiatan akreditasi untuk PTS dengan jurusan kedokteran, dan tahun berikutnya akan dilanjutkan dengan jurusan-jurusan atau bidang-bidang lain pada umumnya.  Tentu saja ini khabar baik. Good news; kata orang Barat.       Berbeda dengan kondisi di negara-negara maju, seperti di Jepang dan Amerika Serikat (AS) misalnya,  secara umum sampai sekarang ini mutu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia masih berada di bawah mutu Perguruan Tinggi Negeri (PTN).  Bahwa secara khusus ada PTS yang mutunya jauh di atas mutu PTN pada umumnya  hal itu memang benar adanya; namun demikian hal itu lebih bersifat kasus.       Keadaan yang demikian itu menciptakan tradisi akademik yang acapkali kurang proporsional; misalnya kebanyakan lulusan SMA (dan SMK) baru mau mendaftarkan diri pada PTS setelah yakin bahwa dirinya tidak kebagian kursi kuliah pada PTN.  Ketika hasil UMPTN baru saja diumumkan maka kandidat mahasiswa baru yang gagal baru ramai-ramai "menyerbu" PTS.Tradisi akademik semacam ini memang kurang proporsional karena sebenarnya pendaftaran pada PTS dapat dilakukan bersamaan dengan pendaftaran pada PTN.  Dengan demiki-an kegiatan akademik pada PTS bisa dilakukan bersama-sama dengan PTN; tidak selalu PTS tertinggal "start".        Hal tersebut di atas bisa terjadi karena mutu PTS  pada umumnya memang belum dapat dibanggakan,  bahkan ada sebagian yang masih sangat memprihatinkan. Menghadapi kenyataan ini kiranya tidak salah kalau Presiden Soeharto segera menganjurkan dilakukan pembatasan dan seleksi terhadap munculnya PTS baru.
SKEMA SEKOLAH KEJURUAN DI JATENG Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.914 KB)

Abstract

       Hasil Ebtanas SMTP baru saja diumumkan pada siswa dan orang tua siswa; dan secara umum untuk tahun ini hasilnya cukup "baik", meskipun banyak guru dan orang tua yang belum puas. Seperti tahun yang lalu maka pencapaian Nilai Ebtanas Murni (NEM) kali ini berkisar antara 40,00 sampai 45,00, meski ada pula beberapa siswa yang NEM-nya di bawah 30,00 dan di atas 50,00.          Khusus bagi birokrasi Depdikbud Jawa Tengah (Jateng) yang sedikit melegakan ialah tidak adanya indikasi kebocoran dalam pelaksanaan Ebtanas SMTP di wilayahnya; sedangkan tingkat kelulusannya pun cukup tinggi, di atas 90%, meski masih dalam batas wajar (Supriyoko, "Ebtanas dan Ide Penghapusannya", Suara Merdeka: 20/4/92).          Apakah persoalannya menjadi selesai apabila hasil Ebtanas sudah diumumkan? Tidak! Saat ini sekitar 240.000 lulusan SMTP di Jateng dan ratusan ribu lainnya di luar Jateng tengah berjuang keras untuk dapat menggapai kursi belajar pada jenjang pendidikan di atasnya, yaitu SMTA.
PTN SEGERA DIAKREDITASI, BENARKAH? Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.073 KB)

Abstract

       Bahwa perguruan tinggi negeri, PTN, akan dikenai sistem akreditasi sebagaimana yang selama ini dikenakan pada perguruan tinggi swasta, PTS, kiranya tidak banyak yang memperdebatkannya. Hal ini secara eksplisit maupun implisit memang telah dijamin oleh PP No:30/1990 tentang Pendidikan Tinggi. Namun demikian apakah pelaksanaan akreditasi terhadap PTN benar-benar akan dilakukan dengan segera, dalam arti tidak dalam waktu yang lama, kiranya memang masih menjadi tanda tanya yang besar.          Tanda tanya  tersebut berkaitan dengan akumulasi berbagai problematika, antara lain menyangkut siapa atau badan mana  yang akan diberi tugas untuk mengakreditasi  perguruan tinggi "anak pemerintah" tersebut.  Siapa yang berani mengakreditasi PTN?           Pertanyaan tersebut memang sekedar "joke", tetapi dibalik pertanyaan tersebut terkandung adanya semacam protes dari pihak non-PTN terhadap kebijakan pemerintah, yang dalam hal ini Depdikbud, mengenai tidak segera dia-kreditasinya PTN.
KONDISI OBJEKTIF PERGURUAN TINGGI SWASTA KITA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.256 KB)

Abstract

       Pada akhir Maret 1995 yang lalu saya diminta untuk memberikan  presentasi pada suatu konferensi internasional tentang "International Education and Australian Schools".  Kegiatan yang berlangsung di Melbourne, Australia dan "dibaking" oleh Departement of Employment, Education and Training tersebut dihadiri oleh 200-an peserta dari 140-an sekolah negeri dan swasta (independen) di Australia. Pada umumnya mereka adalah pimpinan sekolah atau pengambil keputusan pada manajemen sekolah.          Salah satu bagian presentasi yang dianggap "aneh" oleh kalangan pendidikan Australia menyangkut banyaknya PTS di Indonesia. Secara kuantitatif saya jelaskan dari 1.200-an perguruan tinggi di Indonesia maka 1.150-an (>95%) di antaranya adalah PTS. Angka ini dianggap "aneh" dibandingkan dengan kondisi pendidikan tinggi di Australia.          Pada umumnya mereka surprise dengan angka tersebut. Sebagai komparasi di Australia sendiri memang terdapat puluhan perguruan tinggi, termasuk beberapa perguruan tinggi yang benar-benar kompetitif seperti University of Melbourne, Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), University of New South Wales, dsb; tetapi dari puluhan perguruan tinggi tersebut hanya ada satu PTS.
MENGGAIRAHKAN PENELITIAN ILMIAH REMAJA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.843 KB)

Abstract

       Adalah LPIR, Lomba Penelitian Ilmiah Remaja, yang merupakan tradisi ilmiah konstruktif untuk mengembangkan potensi penalaran remaja Indonesia. Untuk tahun 1989 ini Panitya LPIR menerima 1.927 naskah karya penelitian ilmiah dari para remaja di seluruh Indonesia.       Barangkali  jumlah tersebut masih terlalu sedikit kalau dibandingkan dengan puluhan juta remaja Indonesia yang kita miliki,  atau bila dibandingkan dengan keseluruhan siswa SMTP dan SMTA di negara kita yang jumlahnya hampir mencapai 13 juta orang itu. Tetapi, barangkali saja jumlah tersebut justru sudah cukup menggembirakan; karena  toh tidak setiap orang atau remaja mempunyai potensi untuk meneliti.       Apakah anda ingat dengan konsep "Hexagonal Model" yang dikembangkan oleh John L. Holland?  Profesor emeritus dari Johns Hopkins University ini pernah memberikan isyarat kepada kita bahwa tidak semua orang mampu mengadakan penelitian.       Di dalam konsep "hexagonal model"-nya yang sangat terke-nal itu Holland mengatakan bahwa pada dasarnya tipe manusia dapat diklasifikasikan menjadi enam golongan; masing-masing adalah tipe investigative, artistic, social, enterprising, conventional, dan realistic. Seseorang akan mempunyai potensi meneliti yang memadai apabila dia bertipe investigative.