Claim Missing Document
Check
Articles

DALAM BIDANG PENDIDIKAN JEPANG MAKIN TERBUKA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.71 KB)

Abstract

       Ada fenomena politis menarik yang tengah terjadi di Jepang pada akhir-akhir ini; yaitu semakin terbukanya pintu pendidikan. Fenomena ini sangat menarik karena selama ini Jepang dikenal sebagai negara yang kurang terbuka,untuk tidak menyatakan tertutup, dalam soal-soal pendidikannya. Selama ini Jepang terkesan lebih banyak "meminta" atau bahkan "mengambil" sistem dan materi pendidikan dari luar dari- pada memberikannya kepada negara lain.          Kalau kita ingat sejarah maka pada awal abad ke-20 kondisi fisik dan sosial-ekonomis Jepang tidak jauh berbeda dengan negara-negara lain di Asia.  Secara fisik dan sosial ekonomi waktu itu kondisi negara ini hampir tidak berbeda dengan Cina, Philippina, Thailand, Malaysia dan juga Indonesia.  Masyarakat Jepang saat itu,  sebagaimana dengan masyarakat di negara-negara sekitarnya,  masih hidup secara agraris konvensional.  Budaya masyarakat Jepang juga masih tradisional, bah-kan ada yang menyebut sebagai kolot.          Ketika Jepang kalah melawan sekutu dalam Perang Dunia ke-2 maka sadarlah mereka akan segala kekurangannya.  Kekalahan perang benar-benar telah memotivasi bangsa Jepang untuk meningkatkan diri;  maka diambillah keputusan politis untuk menempuhnya melalui jalur pendidikan. Jepang bertekad mengejar ketinggalan mereka dari bangsa dan negara-negara lain yang lebih maju,  khususnya Amerika Serikat (AS) dan Eropa, melalui jalur pendidikan. Di sinilah hebatnya Jepang; kelebihan bangsa ini adalah cepat mengetahui kekurangannya.
LOLOS UNIVERSITAS, TAK LULUS SMA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.191 KB)

Abstract

       Biasanya setelah momentum kelulusan SMA diumumkan, masyarakat lalu memburu PTN, setelah itu baru PTS. Namun dalam dua tiga tahun yang terakhir kebiasaan tersebut menjadi luntur; pasalnya sebelum hasil ujian SMA diumumkan beberapa perguruan tinggi telah menyelenggarakan ujian masuk. Di samping itu penomersatuan PTN juga kian luntur mengingat dari kasus per kasus banyak PTS tertentu yang bonafiditasnya tidak kalah dari PTN pada umumnya.          Seperti kita ketahui momentum kelulusan SMA tahun ini baru terjadi tanggal 19 Juni 2006 yang lalu; namun jauh hari sebelum tanggal tersebut beberapa perguruan tinggi sudah menyelenggarakan ujian masuk. Tentunya sasaran ujian masuk tersebut ialah lulusan SMA, termasuk anak yang belum lulus SMA karena hasil ujiannya belum diumumkan ketika ujian masuk perguruan tinggi dilakukan.          Alhasil ada kejadian yang lucu di lapangan, bahkan ada yang menyata-kan aneh; ada siswa yang sudah dinyatakan lolos universitas, maksudnya diterima sebagai mahasiswa baru perguruan tinggi, akan tetapi ternyata tidak lulus SMA.
KELUHAN ANGKA KREDIT GURU Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.393 KB)

Abstract

Dewasa ini kalangan guru SD dan SLTP mengeluhkan sistem "kredit point" yang mereka nilai teramat menyita waktu hanya untuk urusan administrasi. Mereka menengarai sistem itu mengakibatkan porsi mengajar untuk anak didik menjadi terkurangi hanya karena para guru harus mengejar point yang sudah dipaketkan (Surabaya Post: 9/9/91). Realisasinya: dalam menjalankan tugas sehari-hari para guru yang sudah cukup berat dengan pekerjaannya mempersiapkan setiap materi pelajaran yang diampunya, misalnya dengan mempuat satuan pelajaran, maka padanya masih dituntut untuk membuat karya ilmiah, mengadakan bimbing-an kepada siswa, melakukan pengabdian kepada masyarakat, dan sebagainya. Ini semua merupakan bagian dari proses yang harus dilalui agar supaya kenaikan jabatan dan/atau pangkatnya menjadi tidak terhambat. Menurut para guru SD dan SLTP tersebut semua itu merupakan pekerjaan administratif yang sungguh menyita waktu dan konsentrasi; sehingga apabila tidak hati-hati melaksanakannya maka pekerjaan administratif ini dapat mengalahkan tugas utamanya mengajar anak didik di kelas.
KEPERCAYAAN PEMERINTAH TERHADAP SWASTA DI BIDANG PENDIDIKAN TINGGI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.519 KB)

Abstract

       Sekurang-kurangnya terdapat dua masalah utama yang selalu dihadapi oleh perguruan tinggi di negara kita sampai saat ini, baik oleh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS).       Masalah tersebut adalah masalah kuantitatif, ialah bagaimana meningkatkan daya tampung perguruan tinggi untuk mewujudkan pemerataan pelayanan pendidikan; serta masalah kualitatif,  ialah bagaimana meningkatkan kuali-tas lulusan agar mereka kelak dapat berpartisipasi lebih intensif lagi dalam menggerakkan roda-roda pembangunan yang digalakkan oleh pemerintah.       Kedua masalah tersebut sebenarnya saling menyatu dan tidak terpisahkan. Ibarat sekeping mata uang; kalau masalah daya tampung merupakan sisi sebelah dari keping-an mata uang,  maka masalah peningkatan kualitas merupakan sisi belahan lainnya dari kepingan mata uang tsb.       Disamping itu memang ada kesan bahwa kedua masa-lah tersebut bersifat dikotomis;  apabila yang satu "ya" maka yang lain "tidak", dan sebaliknya. Artinya; pening-katan daya tampung hampir selalu disertai dengan pengor-banan kualitas pendidikan,  dan sebaliknya peningkatan kualitas pendidikan hampir selalu disertai oleh "mandeg" nya daya tampung.
PERAN SEKOLAH KEJURUAN MEMECAHKAN PROBLEMATIKA KETENAGAKERJAAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: MAJALAH PUSARA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.761 KB)

Abstract

       Salah satu tradisi kependidikan di Indonesia yang sampai sekarang ini masih setia dipertahankan adalah diterapkannya sistem dikotomi sekolah, yaitu dengan membentangkan seutas "benang merah" di antara sekolah umum (academic school)  dengan sekolah kejuruan (vocational school). Hal ini secara eksplisit juga telah ditegaskan di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomer:2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.       Sistem dikotomi sekolah tersebut manifestasi dari "double track schools system"  atau sistem sekolah alur ganda;  yaitu setelah siswa selesai mengikuti pendidikan dasar maka dihadapannya telah disediakan dua pilihan untuk menempuh pendidikan lanjut-annya, adalah sekolah umum dan sekolah kejuruan.        Secara konsepsual sekolah umum bertugas menyiapkan para lulusannya untuk melanjutkan studinya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sementara itu sekolah kejuruan bertugas menyiapkan para lulusannya untuk mampu terjun langsung ke lapangan atau dunia kerja. Salah satu keuntungan atas diterapkannya sistem dikotomi sekolah ini adalah disiplin dan kualifikasi tenaga kerja sebagai produk  lembaga pendidikan (formal) dapat diidentifikasi secara lebih jelas.
AGENDA PENELITIAN DALAM KTT-GNB Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.653 KB)

Abstract

       Judul artikel ini menimbulkan pertanyaan mengenai apakah masalah penelitian memang akan dibahas secara khusus di dalam forum Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non Blok (KTT-GNB) yang cukup bergengsi tersebut? Pertanyaan ini  menjadi lebih "mendesak" karena adanya harapan para utusan atau delegasi dari negara-negara GNB yang sangat menginginkan adanya program pertukaran informasi, teknologi, dan penelitian.          Saya sendiri tidak yakin kalau masalah penelitian akan dibahas secara khusus dalam forum KTT yang sekarang ini tengah berlangsung;  meskipun demikian bukan berarti bahwa masalah penelitian tidak penting untuk diagenda.          Kenapa artikel ini memilih judul seperti itu? Ya, hal ini berkaitan erat dengan pernyataan  Mendikbud Fuad Hassan yang akan memanfaatkan kesempatan KTT-GNB terse-but untuk membuat dan/atau mengefektifkan kerja sama di antara anggota GNB dalam bidang pendidikan, khususnya di bidang pendidikan tinggi,dan lebih khusus lagi di bidang penelitian (research).
KENDALA PROGRAM PGSD "PENYETARAAN" Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.135 KB)

Abstract

       Meski usia program Pendidikan Guru Sekolah Dasar, PGSD, belum genap dua tahun, ternyata kritik tajam yang berasal dari berbagai kelompok masyarakat telah datang bertubi-tubi, baik kritik yang konstruktif dan membangun maupun kritik yang destruktif dan tidak membangun.          Secara empirik kritik yang demikian memang sangat wajar adanya; setiap ada program pendidikan baru yang di kembangkan di negara kita selalu saja tidak pernah lepas dari kritik.  Lepas dari itu semua dewasa ini memang ada fenomena akademik yang layak dicermati; yaitu menurunnya peminat PGSD itu sendiri. Hal ini berlaku bagi PGSD Pra-jabatan yang menjaring mahasiswanya melalui media UMPTN (diumumkan 3 Agt. 1991 lalu) serta PGSD Penyetaraan yang menjaring mahasiswa lewat pengembangan minat guru SD.          Indikatornya jelas: untuk program PGSD Prajabatan maka jumlah peminat tahun 1991 ini menurun 43% dibanding tahun lalu; yaitu sebanyak 34.000-an peminat untuk tahun ini dan 60.000-an peminat untuk tahun lalu. Secara lokal ada wilayah yang mengalami penurunan angka peminat lebih drastis; misalnya PUML Surabaya yang mengalami penurunan lebih dari 66% peminat PGSD dibandingkan jumlah peminat tahun lalu. Sementara untuk program PGSD Penyetaraan tak jauh berbeda;  banyak guru SD yang ogah-ogahan mengikuti program yang masih tergolong baru ini.
GELAR AKADEMIK YANG DIJADIKAN KOMODITI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.929 KB)

Abstract

       Baru-baru ini mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan menyatakan bahwa dalam masyarakat modern yang mengutamakan prestasi daripada gengsi ternyata masih banyak orang yang mementingkan gelar kesarjanaan sebagai penunjang gengsi. Akibatnya selain bisa menimbulkan kekecewaan bagi si penyandang gelar maka gelar dapat dimanfaatkan sebagai komoditi yang dijual-belikan. Hal ini disampaikannya dalam satu seminar nasional tentang pendidikan di IKIP Bandung baru-baru ini.          Lebih lanjut Pak Fuad menyatakan bahwa kiranya tidak terlalu keliru menduga bahwa dewasa ini masih banyak diantara mereka yang memasuki perguruan tinggi lebih didorong hasrat menyandang gelar kesarjanaan ketimbang semangat mengembangkan diri sebagai ilmuwan atau cendekiawan.  Padahal,  perguruan tinggi merupakan ladang garapan yang disemai bagi berseminya nilai-nilai keilmuan dan kecendekiaan, bukan sekedar industri yang tujuan utamanya menghasilkan penyandang gelar kesarjanaan.          Gelar itu ibarat kosmetika yang dapat menjadikan seseorang tam-pil lebih cantik dan bergaya sehingga terkadang orang mau membeli mahal "alat" pecantik diri tersebut.  Ternyata gelar pun juga dapat membuat seseorang tampil lebih "cantik" dan bergaya sehingga pada akhirnya banyak orang mau "membelinya" dengan harga yang mahal. Maka tidak anehlah kalau kemudian gelar pun menjadi komoditi yang dapat diperjual-belikan.
MEMPERLUAS BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.631 KB)

Abstract

       Berita pendidikan di media massa akhir-akhir ini telah mendudukkan pemerintah dengan DPR dalam posisi saling berhadapan. Hal ini terutama menyangkut ujian nasional dan kurikulum pendidikan. Kalau pemerintah berjalan ke utara maka DPR berjalan ke selatan, dan kalau pemerintah lari ke Barat maka DPR lari ke timur. Semakin kencang larinya pemerintah, semakin kencang pula larinya DPR.          Dalam konteks demokrasi, keadaan tersebut sangat konstruktif karena ?perseteruan? antarpengambil kebijakan di negeri ini secara langsung dapat difungsikan sebagai media pembelajaran demokrasi. Bagaimana rakyat bisa menonton, berpendapat, mengambil hikmah, dan berpartisipasi mengenai hal yang saling diwacanakan dan dilakukan pemimpin merupakan wahana pembelajaran demokrasi yang sangat bermakna.          Meskipun demikian, dalam konteks pendidikan yang dikaitkan dengan kultur masyarakat kita yang paternalistik, keadaan tersebut lebih banyak madzarat daripada manfaatnya. Dalam hal kurikulum misalnya, sampai kini banyak guru dan kepala sekolah yang kebingungan harus menerapkan kuri-kulum apa. Bahkan kebingungan tersebut juga melanda petugas dan pejabat di lingkungan dinas pendidikan.          Apakah saling berhadapannya pemerintah dengan DPR tersebut juga (akan) berlangsung dalam masalah pendistribusian dan perluasan Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Mari kita runut bersama.
DAMPAK KEGAGALAN PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2001: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.986 KB)

Abstract

       Kredibilitas bangsa Indonesia di mata masyarakat dunia tidak semakin memuncak akan tetapi justru makin merosot dalam beberapa tahun yang terakhir ini.  Berbagai publikasi yang dikeluarkan oleh organisasi internasional memberikan gambaran yang lebih konkret mengenai hal ini.          Salah satu publikasi aktual  dikeluarkan April lalu oleh IMD,  International Institute for Management Development,  suatu organisasi internasional  yang bermarkas di Lausanne,  Swiss, mengenai peringkat daya saing sejumlah negara.  Dari sebanyak 49 negara yang disusun dalam sistem keperingkatan ternyata Indonesia berada pada posisi paling rendah.  Negara-negara tetangga seperti Australia, Selandia Baru, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan Republik Korea  memiliki peringkat di atas kita.  Itu berarti bahwa daya saing kita memang paling lemah di antara negara-negara dunia pada umumnya, termasuk negara-negara tetangga.         Dalam "Global Competitiveness Report 2000" versi WEF, World Economic Forum, Indonesia juga berada pada peringkat bawah dalam hal daya saing ekonomi. Mengacu laporan versi WEF, suatu organisasi internasional yang kredibilitasnya setara dengan IMD, ternyata Indonesia hanya menempati peringkat ke-44 dari 53 negara. Australia,  Malaysia,  Singapura, Filipina, Thailand,  dan Republik Korea  lagi-lagi di atas kita peringkatnya.          Kalau dicermati publikasi  World Bank (WB), UNDP, Unesco, AsiaWeek, dan badan-badan internasional lainnya; hampir tidak ada yang dapat menjelaskan prestasi terbaik bangsa kita di bidang eko-nomi, politik, sosial dan bidang-bidang lainnya.