Claim Missing Document
Check
Articles

MENGANALIS HASIL AKREDITASI BAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.234 KB)

Abstract

       Pola pemilihan perguruan tinggi (lanjutan)  oleh  masyarakat kita bukan tidak mungkin akan segera berubah dengan gugurnya anggapan bahwa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) senantiasa lebih baik dan lebih bermutu dibandingkan Perguruan Tinggi Swasta (PTS).  Hasil penilai-an yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN) yang telah diumumkan oleh Depdikbud membuktikan bahwa tidak seluruh program studi (progstu) di PTN sukses diakreditasi;  dan sebaliknya tidak seluruh progstu di PTS gagal diakreditasi.       Seperti telah diumumkan kepada masyarakat bahwa dalam sistem akreditasi yang baru sekarang ini hanya ada dua macam status akreditasi; masing-masing adalah Terakreditasi bagi progstu yang berhasil memenuhi kriteria mutu dan efisiensi serta Tidak Terakreditasi bagi progstu yang gagal memenuhi kriteria mutu dan efisiensi.       Dalam tahap awal, tahun akademik 1996/1997, BAN diberi tugas melakukan penilaian terhadap 1.300-an progstu dari 120 perguruan tinggi, baik PTS maupun PTN. Dari jumlah ini ternyata sebagian besar dinyatakan berhasil dengan mengantongi status Terakreditasi. Keberhasilan mayoritas progstu ini kiranya wajar dikarenakan untuk tahap awal ini program studi yang diakreditasi adalah progstu yang sebelumnya dianggap bermutu;  yaitu program-program studi di PTN dan program-program studi "Disamakan" di PTS.       Meskipun demikian dari akreditasi angkatan pertama tersebut ter-nyata ada pula yang mengalami kegagalan;  yaitu sejumlah 37 progstu yang selanjutnya diberi status Tidak Terakreditasi. Dari ke-37 progstu yang gagal ini ternyata tidak hanya berasal dari PTS saja akan tetapi separo diantaranya justru berasal dari PTN;  bahkan sebagiannya dari PTN yang selama ini dianggap "bonafide" oleh masyarakat kita. Kini masyarakat pun mulai sadar bahwa ternyata lembaga PTN tidak selalu lebih unggul daripada PTS.
EBTANAS, TINGKAT KESUKARAN SOAL DAN PENDEKATAN METODOLOGIS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.397 KB)

Abstract

       Menjelang diselenggarakannya Ebtanas yang segera dimulai awal Bulan Mei 1992 ini kembali muncul pemikiran mengenai perlu dan tidaknya untuk mempertahankan sistem Ebtanas itu sendiri. Pemikiran ini sempat menghangat, khususnya pada kalangan masyarakat pendidikan, karena di samping kompleksitas problematikanya bersifat aktual dan kontekstual, juga dikarenakan masing-masing pihak mempunyai argumentasi akademis yang cukup kuat dan rasional.          Pihak yang memandang masih perlu mempertahankan berpendapat bahwa Ebtanas merupakan sistem terbaik untuk meningkatkan dan menyetarakan kualitas lulusan di antara lembaga pendidikan yang setingkat dan sejenis; setidak-tidaknya untuk saat ini.          Pada sisi yang lain pihak yang menginginkan sege-ra diakhirinya era Ebtanas berpendapat bahwa sistem ini telah menciptakan kesenjangan ("gap") yang semakin tajam antara sekolah-sekolah yang bermutu tinggi dengan yang bermutu rendah. Akibatnya sistem Ebtanas ini menciptakan kecenderungan klasik bahwa pelayanan pendidikan pada ne-gara yang sangat kita cinta ini lebih dapat dimanfaatkan oleh mereka yang berintelektual tinggi saja;  dan secara empiris sebagian besar dari mereka ternyata berasal dari "hanya" sekolah-sekolah kota di Pulau Jawa.
KOMERSIALISASI SERAGAM SEKOLAH Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.263 KB)

Abstract

       Suatu saat saya berkunjung ke sekolah yang sangat dikenal masyarakat atas produktivitasnya, Groningen Middlebare Technische School (MTS), yang ada di Negeri Kincir Angin Belanda. Sekolah ini adalah sekolah me-nengah teknologi yang di Indonesia namanya Sekolah Teknologi Menengah (STM), atau sekarang disebut Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kelom-pok Teknologi.          Sebelum sampai di sekolah, saya sempat membayangkan siswa MTS Groningen adalah cowok-cowok ?macho? seperti kebanyakan siswa STM di Indonesia. Di bayangan saya pula, pakaian seragam sekolah jauh dari keseharian siswa; dengan kata lain siswa sekolah tersebut tidak memakai seragam sekolah. Sebagai orang yang mempunyai latar belakang vocational education, saya mengira para siswa MTS Groningen lebih mengutamakan pakaian kerja (werk pack) daripada seragam sekolah.          Ternyata bayangan dan perkiraan saya salah. Ketika sampai di tempat, saya menyaksikan pemuda Belanda yang nota bene menjadi siswa MTS Groningen memakai seragam sekolah yang mampu menambah kegagahan-nya. Bukan saja ?enjoy?, mereka bahkan terkesan amat bangga memakai seragam sekolahnya. Hal ini tentu tidak terlepas dari anggapan masyarakat Belanda yang memberi kedudukan tinggi kepada siswa sekolah kejuruan; tidak sebagaimana yang terjadi di Indonesia.
EVALUASI KUIS DI TELEVISI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.99 KB)

Abstract

       Menteri Penerangan Harmoko baru-baru ini membuat pernyataan bahwa penyelenggara undian termasuk kuis di televisi yang tidak meminta ijin ke Departemen Sosial (Depsos) dapat dikenai ancaman kurungan atau denda.  Pernyataan ini segera mengundang respon dari banyak pihak. Pasalnya, sekarang ini acara kuis memang sedang "naik daun" sehingga setiap stasiun televisi menayangkan acara ini. Bahkan pada umumnya setiap stasiun televisi menayangkan acara kuis lebih dari satu jenis sekaligus.          Untuk sekedar menyebut nama-namanya; TVRI menayangkan kuis andalan 'Berpacu Dalam Melodi',  sedangkan RCTI menayang-kan 'Tak Tik Boom'. Sementara itu TPI, SCTV, dan Indosiar masing-masing menayangkan kuis andalan 'Benyamin Show', 'Bulan Madu' dan 'Rezeki Ramadhan'.  AN-Teve pun tak mau kalah dengan mena-yangkan kuis andalannya sendiri.          Oleh karena memang sedang "naik daun" maka setiap stasiun televisi sampai menayangkan bermacam-macam kuis sekaligus; seke-dar untuk ilustrasi di samping sudah menayangkan 'Berpacu Dalam Melodi' maka TVRI juga menayangkan kuis 'Aksara Bermakna', 'Kuis Siapa Dia', 'Lacak Dunia', dan sebagainya. Stasiun televisi yang lain pun demikian pula halnya.
MENYAMBUT UJIAN MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.434 KB)

Abstract

       Hanya tinggal sehari lagi, tepatnya tanggal 6 dan 7 Juni 1989 besok,  ujian masuk  perguruan tinggi negeri (UMPTN) yang banyak diperbincangkan orang itu akan segera tiba. Para kandidat mahasiswa baru PTN akan berusaha menggapai nasibnya di masa depan; karena peristiwa sosio akademik 6 dan 7 Juni 1989  besuk akan menentukan nasib puluhan bahkan ratusan ribu manusia.       Kiranya pomeo klasik masih tetap berlaku: keberhasilan seseorang di masyarakat tidak semata-mata ditentukan pernah atau tidaknya belajar pada PTN, atau dengan kata lain tidak semua lulusan PTN akan berhasil di masya rakat.        Pomeo klasik tersebut di atas 100% benar; tetapi harus diakui bahwa di Indonesia yang tercinta ini status seseorang sebagai lulusan PTN masih sangat sering mempunyai kontribusi yang cukup dominan terhadap keberhasilan dirinya.       Masyarakat kita umumnya masih menganggap kualitas PTN setingkat lebih tinggi dibanding PTS, perguruan ting gi swasta;  meski pada kenyataannya banyak pula PTN yang mutunya jauh dibawah PTS tertentu.  Atas anggapan inilah maka lulusan PTN pun dianggap selalu lebih baik dibandingkan lulusan PTS.  Implikasinya: lulusan PTN "diberi" tempat yang lebih "terhormat" di masyarakat.
PRESTASI PELAJAR INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.696 KB)

Abstract

Bukan main; di luar ramalan banyak orang ternyata pelajar Indonesia yang selama ini tidak pernah diunggulkan, bahkan terkesan diremehkan, mampu unjuk prestasi di dalam The 2nd International Junior Science Olympiad (IJSO) yang dilaksanakan di Yogyakarta, Indonesia baru-baru ini. Delegasi Indonesia ternyata mampu menjadi juara umum dengan me-nyisihkan delegasi dari 33 negara lainnya setelah berhasil mengumpulkan 6 medali emas, 4 medali perak dan 2 medali perunggu.          Lebih daripada itu, salah satu anggota delegasi Indonesia yang ber-nama Yoshua Michael Maranatha berhasil meraih tropi Absolute Winner (pemenang sejati) setelah mendapat nilai tertinggi dan keluar sebagai The Best Theory.          Prestasi tersebut memang di luar ramalan banyak orang. Bahwa tim kita akan berprestasi memang ada yang meramalkan, tetapi kalau presta-sinya dapat maksimal memang sangat sedikit yang memprediksi. Pejabat Depdiknas sendiri yang menangani masalah ini memperkirakan paling banyak delegasi kita hanya menyabet 4 medali emas; sementara orang bahkan meramal delegasi Indonesia tidak akan berprestasi maksimal mengingat kinerja pendidikan nasional kita yang memprihatinkan.
VISI PENDIDIKAN TINGGI YOGYAKARTA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.022 KB)

Abstract

 Dahulu, Yogyakarta pernah menyandang berbagai predikat sekaligus antara lain seperti Kota Sepeda, Kota Budaya, Kota Pelajar dan Kota Pendidikan. Dipredikati sebagai Kota Sepeda oleh karena di kota ini memang banyak sepeda, baik yang dipakai oleh para pelajar, guru, maupun kelompok masyarakat yang lainnya. Dipredikati sebagai Kota Budaya oleh  karena di kota ini memang terdapat banyak objek peninggalan budaya, baik budaya yang dapat disentuh (tangible) maupun budaya yang tidak dapat disentuh (intangible).           Yogyakarta dipredikati  sebagai Kota Pelajar oleh karena jumlah kaum terpelajar, siswa dan mahasiswa, di kota ini memang relatif banyak jumlahnya bila disbandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia pada umumnya.  Demikian juga kota ini dipredikati sebagai Kota Pendidikan  oleh karena banyaknya lembaga pendidikan, formal maupun nonformal, yang berkiprah di Yogyakarta.         Sekarang, Yogyakarta memang masih mempunyai banyak lembaga pendidikan dan dengan jumlah kaum terpelajar yang banyak pula.  Apabila dijumlah, banyaknya lembaga pendidikan dari TK, SD, SLTP, SMU, SMK, s/d PT negeri dan swasta lebih dari 4.000 lembaga dengan jumlah siswa dan mahasiswa lebih dari 800.000 orang. Untuk ukuran kota yang tidak terlalu besar dan wilayah yang tidak terlalu luas, jumlah ini relatif cukup tinggi tentunya.          Apakah angka-angka yang cukup ?fantastis? tersebut  dapat menjamin kelangsungan predikatif Yogyakarta  sebagai  Kota Pendidikan?  Sebagian orang menyatakan  bahwa Yogyakarta masih layak dipredikati sebagai Kota Pendidikan; akan tetapi sebagian yang lain menyatakan Yogyakarta sudah tidak layak mendapatkan predikat itu disebabkan banyaknya kasus  yang tidak konstruktif dan kondusif serta antagonistik dengan sifat pendidikan itu sendiri seperti kumpul kebo, ngeseks pranikah, peredaran obat terlarang, VCD porno, kejahatan fisik, dan sebagainya.
49 TAHUN PGRI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.015 KB)

Abstract

       Pada hari ini, 25 November 1994,  usia Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) genap 49 tahun;  satu usia yang dapat menunjukkan "kedewasaan" sebuah organisasi profesi, setidak-tidaknya dari rentang atau lamanya pengabdian.  Di Indonesia ini sangat jarang ditemui satu organisasi profesi yang usianya setua PGRI; organisasi profesi lainnya seperti Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI), Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), dsb, pada umumnya bermasa-pengabdian lebih pendek.          Hari ulang tahun PGRI kali ini rencananya dirayakan di istana negara bersama Presiden Soeharto dan para pejabat tinggi pemerintah; konon perayaan kali ini dapat diibaratkan sebagai mendayung dua pulau, yaitu memperingati "Hari Guru Nasional" yang jatuh tepat pada tanggal 25 November dan 'Hari Guru Internasional' yang jatuh pada tanggal 5 Oktober yang lalu.          Barangkali kita masih ingat dengan suatu tradisi anyar yang baru saja ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang dalam hal ini adalah UNESCO; yaitu mulai tahun ini tanggal 5 Oktober telah ditetapkan menjadi 'Hari Guru Internasional',  dan setiap bangsa yang utamanya para guru dianjurkan untuk dapat memperingatinya. Oleh karena bangsa Indonesia sudah mempunyai "hari guru" tersendiri, yaitu tanggal 25 November,  demi pertimbangan efisiensi dan efektivitas maka peringatannya dibersamakan saja.
MENYEIMBANGKAN PENDIDIKAN KITA SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.783 KB)

Abstract

Sebagai salah seorang wakil presiden dari suatu organisasi pendidikan tingkat internasional Pan-Pacific Association of Private Education (PAPE) yang bermarkas di Tokyo, kiranya wajar saja kalau saya memiliki banyak teman yang mengelola sekolah dan perguruan tinggi di Jepang, khususnya di Tokyo. Bukan itu saja, beberapa sekolah dan perguruan tinggi di Jepang pun pernah saya kunjungi ?dapur?-nya.          Dari beberapa kali berinteraksi dengan masyarakat Jepang, khususnya masyarakat pendidikan, ada satu hal yang membedakan karakter kaum inte-lektual Jepang dengan kaum intelektual di negara-negara lainnya termasuk Indonesia, yaitu tentang sikap kesantunannya.          Jangankan siswa dan mahasiswa, dosen yang berpredikat doktor dan profesor pun senantiasa bersikap santun terhadap orang lain. Profesor Hideo Moriyama dari Kyushu University dan Mr. Horikoshi dari Ichigaya-co ada-lah contoh konkretnya. Meskipun mereka adalah orang terkenal, memiliki kedudukan terhormat dan disegani banyak orang, tetapi sikapnya senantiasa santun terhadap orang lain termasuk kepada mahasiswanya. 
PERAN ULAMA SANGAT MENENTUKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.332 KB)

Abstract

       Indonesia termasuk kelompok "negara Islam", dalam pengertian negara dengan mayoritas penduduknya yang beragama Islam, yang sangat unik serta sangat menarik untuk dicermati lebih jauh.       Keunikan Indonesia terutama sekali terdapat pada struktur penduduknya. Di dalam kelompok lima negara yang paling banyak jumlah penduduknya maka Indonesia termasuk di dalamnya; sementara itu dalam kelompok tujuh negara yang paling banyak menampung penduduk beragama Islam maka Indonesia pun berada di dalamnya.  Kiranya perlu kita catat  bahwa kelompok tujuh negara ini menampung sekitar 50% dari seluruh masyarakat Islam di dunia ini.       Bukan itu saja, dari kelompok tujuh negara yang paling banyak menampung penduduk beragama Islam tersebut ternyata Indonesia berada pada urutan paling atas; ini berarti bahwa negara kita termasuk negara yang paling atas dalam hal jumlah penduduk yang beragama Islam.