Claim Missing Document
Check
Articles

KONSEP PERATAAN PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.243 KB)

Abstract

       Dengan tanpa bermaksud  menciptakan kultur kultus individu kiranya tidaklah salah kalau dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tanggal 2 Mei kita senantiasa  mengenang kembali kejuangan tokoh pendidikan nasional kita, Ki Hadjar Dewantara.Sejak menjadi seorang  Soewardi Soerjaningrat (sebelum berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara saat usianya genap lima windu berdasar perhitungan tahun Caka), Ki Hadjar sangat meyakini bahwa  pendidikan merupakan senjata yang sangat ampuh untuk me-lawan segala penyakit sosial masyarakat;  ketidakadilan, kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, dsb. Berangkat dari keyakinannya inilah Ki Hadjar sepenuhnya mengabdikan diri dalam dunia pendidikan.              Pengalaman pahitnya waktu "diinternir" ke Belanda (tahun 1913 bersama Tjipto Mangoenkoesoemo serta  Douwes Dekker)  justru diambil hikmahnya untuk memperdalam ilmu dan pengetahuannya guna mengembangkan konsep-konsep pen-didikan yang berguna bagi bangsanya.              Meski pendidikan (dan kebudayaan) bukan merupakan satu-satunya  bidang  yang menjadi media  perjuangannya, akan tetapi ternyata bidang inilah yang kemudian oleh Ki Hadjar dijadikan "pilihan terakhir" sebagai media  untuk mendewasakan  bangsa.  Melalui bidang ini  pula akhirnya lahir berbagai konsep yang mendorong bangsa kita menaruh perhatian lebih tajam di dalam upaya pencerdasan bangsa. Adapun salah satu konsep yang sangat kritis serta hampir     selalu menimbulkan polemik kalau sudah sampai pada fase operasional adalah konsep perataan pendidikan; yaitu pe-rataan pelayanan pendidikan bagi golongan besar (mayori-tas) rakyat harus senantiasa mendapatkan prioritas.
WAJAH PENDIDIKAN TINGGI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2005: HARIAN JAWA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.944 KB)

Abstract

       Ini masalah pengakuan dunia internasional tentang kualitas pendidikan tinggi kita. Baru-baru ini suatu penerbitan berskala internasional yang ber-markas di Inggris, The Times, telah menobatkan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta sebagai perguruan tinggi unggulan dunia.          Jelasnya; The Times baru saja mengumumkan hasil studinya bahwa UGM Yogyakarta (Indonesia) dinobatkan menjadi salah satu dari 100 perguruan tinggi unggulan dunia untuk bidang ilmu budaya dan humaniora. Atas prestasinya ini UGM Yogyakarta boleh berdiri sejajar dengan berbagai universitas terkemuka di luar negeri seperti RMIT University (Australia), Wina University (Austria), Frankfurt University (Jerman), Hiroshima University (Jepang), Amsterdam University (Belanda), National University of Singapore (Singapura), University of Lomonozov Moscow (Rusia), New York University (USA), dan masih banyak lagi perguruan tinggi kelas dunia yang lainnya.          Sebagai warga negara Indonesia yang baik tentu kita ikut bangga demi mengetahui prestasi UGM Yogyakarta tersebut. Pada realitasnya rasanya memang belum pernah ada perguruan tinggi kita, baik PTN maupun PTS, yang bisa mencapai prestasi seperti itu. Prestasi UGM Yogyakarta tersebut tentunya dapat menjadi pemanis wajah pendidikan tinggi kita yang selama ini memang masih buram, bahkan sangat buram.
REKONSTRUKSI LANDASAN PENDIDIKAN NASIONAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.091 KB)

Abstract

Perjalanan pendidikan nasional Indonesia selama ini dirasa penuh dengan dinamika dan romantika.  Kedinamikaan ini sangat dirasakan dengan munculnya berbagai kebijakan yang sering menimbulkan pole-mik, khususnya antara pengambil kebijakan di tingkat pusat dengan praktisi di tingkat bawah;  sedangkan keromantikaan dirasakan dengan munculnya berbagai kendala dalam melaksanakan kebijakan tersebut. Hasil pendidikan kita memang cukup memadai,  walaupun masih jauh dari memuaskan.       Kemajuan jaman yang terlalu pesat akhir-akhir ini ternyata mem-bawa berbagai fenomena baru yang bisa mereduksi nilai-nilai konsepsi filosofis pendidikan nasional; akibatnya konstruksi pendidikan nasional kita menjadi tidak kokoh apabila tidak segera dilakukan reformulasi konsep.  Sekarang sudah saatnya dilaksanakan reformulasi konsep dan rekonstruksi fondasi pendidikan nasional;  utamanya menyangkut hak-hak pendidikan masyarakat serta nilai-nilai dasar pendidikan nasional itu sendiri.       Pada dasarnya pendidikan itu merupakan usaha untuk memajukan bertumbuhnya kecerdasan, kepribadian, dan tubuh anak didik. Dengan demikian keberhasilan suatu proses pendidikan sangat tergantung pada sejauh mana bertumbuhnya kecerdasan,kepribadian dan tubuh tersebut dapat dicapai secara bersama-sama. Tinggi dan rendahnya pertumbuh-an ketiga matra tersebut sangatlah menentukan tingkat keberhasilan proses pendidikan bagi anak didik;  di sisi yang lainnya, kebersamaan bertumbuhnya ketiga matra juga menjadi faktor penentu.       Dalam konteks kebudayaan  maka pendidikan  merupakan proses pembudayaan anak. Kalau budaya itu sendiri merupakan buah keadab-an manusia maka melalui proses pendidikan anak didik dituntun men-jadi manusia yang makin beradab.  Adalah keliru bila anak didik yang diberi pendidikan justru menjadi manusia yang makin tidak beradab.
KI HADJAR SANG PENULIS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: MAJALAH PENDOPO
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.471 KB)

Abstract

       "Mengarang itu gampang", itulah kalimat motivatif yang disuguhkan oleh Arswendo Atmowiloto. Sesungguhnyalah memang demikian; setidak-tidaknya untuk orang-orang tertentu yang memang berprofesi sebagai pengarang. Meski demikian anda "harus" percaya, bahwa menjadi penulis itu sungguh tak gampang.       Mengapa demikian ...? Penulis yang baik haruslah memegang teguh disiplin;  menyangkut materi, gaya, serta kualitas tulisan. Belum lagi unsur-unsur lain yang perlu dipertimbangkan pula, seperti aktualitas, produktivitas, dan sebagainya. Apakah hanya itu persyaratannya? Tidak! Penulis yang baik harus teguh dalam memegang argumentasi kebenarannya, kalau perlu harus berani "berperang".       Apakah seorang penulis harus "berperang"? Kadang- kadang ya!        Seorang penulis muda,  kebetulan seorang dosen, pernah datang pada kami untuk berkeluh:  ketika beberapa tulisannya berhasil menembus massmedia maka dia justru tidak disukai oleh pimpinannya. Konon, sang pimpinan itu menjadi cemas dan takut kalau akibat buruk atas tulisan sang penulis akan mengimbas pada diri dan lembaganya.  Memang demikian adanya, sebuah tulisan dapat menimbulkan berbagai akibat: baik atau buruk.
EVALUASI EBTANAS SMA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.327 KB)

Abstract

       Sebagaimana yang direncanakan semula maka Ebtanas SMA untuk tahun akademik 1993/1994 ini baru saja selesai dilaksanakan di sekolah-sekolah.  Ebtanas SMA yang dimu-lai tanggal 3 Mei 1994 telah berakhir tanggal 6 Mei 1994 sebagaimana yang terencanakan dalam jadual; dan bila tak ada aral melintang maka hasilnya akan diumumkan serentak pada tanggal 26 Mei 1994 yang akan datang.          Setelah Ebtanas SMA (dan SMK) selesai maka agenda akademik ini dilanjutkan ke SLTP untuk kemudian berakhir di SD.  Dalam sepuluh tahun terakhir ini sistem Ebtanas memang diberlakukan secara simultan di sekolah menengah, baik sekolah umum (SMA)  maupun  sekolah kejuruan (SMK), di SLTP dan di SD. Kesamaan sistem Ebtanas di antara se-kolah-sekolah ini menyangkut banyak hal,  dari mekanisme pembuatan materi soal,  pelaksanaan, mekanisme evaluasi, sampai prosedur mengkomunikasikan hasilnya.          Meskipun sistem Ebtanas berlaku di SMA, SMK, SLTP dan SD akan tetapi pelaksanaan Ebtanas SMA cukup menarik dicermati secara khusus. Banyak praktisi pendidikan ber-pendapat hasil Ebtanas SMA mencerminkan kualitas kandi-dat mahasiswa baru perguruan tinggi, baik PTN maupun PTS di negara kita;  selanjutnya kualitas kandidat mahasiswa baru  perguruan tinggi dapat mencerminkan mutu calon pe-mimpin bangsa ini di masa depan.
PEMBATALAN PENELITIAN SDSB, MENURUNKAN KREDIBILITAS PENELITI? Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.134 KB)

Abstract

       Apabila kita cermati secara teliti dalam beberapa tahun terakhir ini terdapat kecenderungan yang positif, yaitu  lebih dipertimbangkannya temuan-temuan penelitian (research findings)  dalam proses pengambilan keputusan politik (political decision making process) oleh pemerin tah kita. Ambil contoh: ketika pemerintah akan mengambil keputusan mengenai "Musibah Dili" sekitar dua tahun lalu maka pemerintah sengaja membentuk  Komisi Penyelidik Na-sional (KPN) untuk melakukan penelitian dan hasilnya di-jadikan referensi utama pengambilan keputusan tersebut.          Dalam skala yang lebih kecil dipakainya temuan-temuan penelitian  sebagai  referensi utama dalam proses pengambilan keputusan juga telah dilakukan oleh berbagai departemen dan lembaga pemerintah;  misalnya oleh Depar-temen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), Departemen Transmigrasi (Deptrans), Badan Koordinasi Keluarga Beren cana Nasional (BKKBN), dan sebagainya.          Kecenderungan tersebut tentu saja bernilai "maju" dan positif; di dalam negara-negara yang sudah maju maka temuan-temuan penelitian  senantiasa dijadikan referensi hampir dalam setiap pengambilan keputusan.
MEMUTUS PEREDARAN VCD PORNO Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.304 KB)

Abstract

       Sekitar dua puluh dua tahun yang silam, atau tepatnya pada awal tahun 1979  saya berjalan-jalan di pusat kota Amsterdam, Be-landa. Keramaian kota Amsterdam, meski tidak berkesan "crowded", tidaklah menarik bagi saya karena hal semacam ini dapat ditemukan di Jakarta atau kota besar lain di Indonesia.  Yang justru menarik bagi saya adalah,  suatu toko yang menjual segala peralatan untuk memuaskan  hasrat seksual seseorang,  dari peralatan kontrasepsi, alat kelamin sintetis, alat pemuas nafsu,  novel dan majalah porno, kaset dan film biru, sampai dengan boneka hidup.          Toko yang menjual peralatan seks,  oleh masyarakat Belanda disebut dengan sex shop,  seperti itu ternyata di Amsterdam ada beberapa jumlahnya.  Bahkan belakangan saya tahu bahwa di kota-kota besar yang lainnya seperti Den-Haag dan Rotterdam, juga ada yang membukanya. Pada umumnya di samping dijual peralatan seks,  di sex shop seperti ini  juga diputar film-film biru  di bioskop mini dengan masa putar empat menit,  lima menit,  sepuluh menit sampai dengan satu setengah jam.          Pengunjung sex shop tersebut umumnya bersikap biasa-biasa saja;  tidak ada perasaan malu atau "risih".  Mereka datang ke sex shop sebagaimana datang ke toko swalayan di tengah kota atau ke toko kelontong di pinggir kampung.  Ada yang muda, ada yang tua bahkan yang sudah gaek pun banyak yang berpartisipasi.          Belakangan lagi saya tahu bahwa keberadaan sex shop yang mengedarkan kaset porno dan memutar film biru di bioskop mininya juga ada di hampir semua kota-kota besar di berbagai negara yang pernah saya kunjungi.          Keberadaan sex shop ternyata tidak hanya di negara-negara Barat tetapi di negara-negara Timur pun juga demikian adanya. Di Jepang, Taiwan, Hong Kong, Cina, Malaysia, dan Singapura juga terdapat fasilitas seperti itu  meski terkadang  dengan bentuk dan cara yang berbeda. Di Shinjuku Jepang atau di Kowloon Hong Kong misalnya;  dengan cara yang gampang dan terkadang dengan harga yang ringan akan mendapatkan berbagai fasilitas pornografi apabila kita memang memerlukannya.          Semenjak dua puluh dua tahun yang lalu saya sudah "meng-hitung" kalau apa yang saya lihat di Belanda itu  cepat atau lambat akan terjadi juga di Indonesia.
KONTROL AKADEMIK KONTROL SOSIAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.414 KB)

Abstract

       Genderang "penertiban" bagi lembaga penyelenggara program MBA, Master of Business Administration, ditabuh sudah. Para penyelenggara program MBA pun nampaknya juga sudah mengantisipasinya, sudah pasang "kuda-kuda". Dalam beberapa bulan terakhir ini banyak penyelenggara program MBA yang diundang (bukan: dipanggil!) oleh Koordinator Kopertis di wilayah kerjanya masing-masing untuk diajak bermusyawarah tentang masa depan program tersebut.          Tidak bisa dipungkiri lagi; tumbuhnya lembaga MBA pada akhir-akhir ini memang bak cendawan di musim hujan, hampir di setiap kota besar bermunculan lembaga-lembaga dengan "format" yang menggiurkan. Dengan lama studi yang relatif singkat, 14 bulanan,  dengan jumlah kehadiran di kelas yang sangat dapat diatur, serta dengan kampus yang sering berpindah-pindah maka ijazah atau sertifikat pas-ti ada di tangan asalkan memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan, baik persyaratan akademis maupun persyaratan nonakademis.          Di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Yo-gyakarta, Surabaya, Denpasar, dsb, munculnya lembaga MBA benar-benar merupakan fenomena yang menarik dicermati; betapa tidak, di dalam satu kota secara hampir bersamaan muncul beberapa lembaga sekaligus.  Umumnya lembaga-lem-baga ini menawarkan aktivitas yang bervariasi, meskipun program utamanya sama,  yaitu MBA.  Barangkali berangkat dari kenyataan ini maka muncul pemikiran untuk menertib-kan lembaga-lembaga MBA tersebut.
KAPAN "MUATAN LOKAL" DIFORMULASIKAN? Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.092 KB)

Abstract

       Pada akhir tahun 1986 yang silam Mendikbud, Prof. Dr. Fuad Hassan pernah mengemukakan bahwa mulai awal tahun Pelita kelima nanti potensi daerah akan dikembangkan melalui 'muatan lokal' (ML) yang akan diintegrasikan dalam kurikulum sekolah dasar dan menengah.  Yang dimaksud dengan ML adalah merupakan mata kelompok pelajaran dalam strktur kurikulum yang oleh suatu daerah dianggap sesuai dengan kehidupan masyarakat setempat.  Jadi ML merupakan karakteristik atau kekhasan yang dimiliki oleh masing- masing daerah. ML bukan saja terdiri dari berbagai keterampilan dan kerajinan tradisional, tetapi juga berbagai manifestasi kebudayaan daerah yang bersanglutan;misalnya saja bahasa, tulisan daerah, legenda dan istiadat, dsb..lh8       Latar belakang munculnya gagasan ML adalah adanya semacam kekhawatiran tentang cukup banyaknya putra-putra daerah yang sesungguhnya memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi daerah akan tetapi enggan melakukannya. Keengganan ini disebabkan tidak dimilikinya pengetahuan yang menyeluruh tentang potensi yang dimiliki daerahnya itu sendiri, apalagi skill untuk mengembangkannya.       Kalau keadaan itu dibiarkan terus berlanjut maka dikhawatirkan potensi yang sekaligus merupakan kekhasan daerah tidak berkembang, bahkan akan meluruh.       Berdasarkan adanya semacam kekhawatiran tersebut diatas, juga ada beberapa faktor lain yang ikut melatarbelakanginya, maka dari itu ML perlu diintegrasikan dalam kurikulum.  Sedang alokasi yang disediakan untuk ML direncanakan boleh mencapai angka 20% dari keseluruhan beban kurikulum.
UJIAN NASIONAL BAGI BSNP Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.994 KB)

Abstract

Ketika ujian nasional, saat itu namanya Ujian Akhir Nasional, banyak dipersoalkan masyarakat, penulis diminta secara formal maupun tak formal memberi masukan kepada pemerintah tentang bagaimana sebaiknya ujian nasional ke depan; pendek kata distop atau dilanjutkan. Pada saat itu banyak pakar yang mengatakan ujian nasional tidak fair, tidak transparan, banyak  kecurangan dalam pelaksanaan, dsb; sehingga mereka berpendapat dan ada yang meminta Depdiknas untuk menghentikan ujian nasional dan diganti dengan ujian sekolah.          Terhadap berbagai pendapat seperti itu penulis sempat ketawa kecil di hadapan para pengambil keputusan. Bahwa di lapangan banyak kecurangan, penulis tidak mengabaikan; sampai sekarang pun kecurangan itu masih ada, bahkan ada yang semakin menjadi-jadi. Masalahnya, kalau ujian nasional yang dipantau dari pusat saja banyak terjadi kecurangan, apalagi kalau ujian sekolah yang dilaksanakan. Apakah justru kita tidak akan bunuh diri dengan kecurangan seperti itu.          Penulis pun kemudian memberikan saran kepada pemerintah agar ujian nasional tetap dilaksanakan, akan tetapi dengan berbagai catatan. Salah satu catatan saya waktu itu adalah pembuat soal ujian nasional jangan Depdiknas tetapi lembaga yang mandiri, profesional, dan independen.