Claim Missing Document
Check
Articles

SEKOLAH TERBAIK DI INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.293 KB)

Abstract

       Di dalam artikelnya ?America?s Best High Schools?, baru-baru ini Newsweek mengumumkan hasil studinya tentang 1.000 SMA Terbaik di Amerika Serikat (AS), ?1,000 Top U.S. Schools?. Dalam daftar sekolah terbaik ini masyarakat AS pada khususnya dan masyarakat dunia pada umumnya dapat mengetahui kualitas SMA di AS; setidak-tidaknya versi Newsweek.          Berdasar pada publikasi tersebut di atas, SMA Terbaik di AS saat ini adalah SMA ?Jefferson County? yang berlokasi di daerah Irondale, Alabama (ke-1); menyusul kemudian SMA ?International Academy? yang berlokasi di daerah Bloomfield Hills, Michigan (ke-2); serta SMA ?Stanton College Preparation? yang berlokasi di Jacksonville (ke-3); dan seterusnya. Urutan ke-100 SMA Terbaik di AS adalah SMA ?Grapevine? yang berlokasi di daerah Grapevine, Texas.            Dengan mengetahui urutan kualitasnya, di samping bertambah banyak informasi yang diperoleh maka masyarakat lebih terbimbing dengan pertim-bangan yang lebih kaya dalam mengakses sekolah. Untuk memilih sekolah dalam rangka kelanjutan studi misalnya; masyarakat lebih mudah menentu-kan pilihan sesuai keinginannya.
PERAN DOKTER DALAM KB MANDIRI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.923 KB)

Abstract

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) merencanakan untuk bermuktamar di Yogyakarta. Muktamar ke-21 yang tahun ini diselenggarakan di Yogyakarta menurut rencana akan membahas sejumlah masalah pembangunan nasional pada bidang kesehatan dalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara lebih intensif. Sebagaimana dengan yang biasa terjadi pada forum muktamar yang diselenggarakan oleh organisasi yang lain maka muktamar IDI di samping membahas masalah-masalah keorganisasian juga membahas masalah-masalah keprofesian. Bagi IDI masalah-masalah keprofesian yang sedang aktual dewasa ini antara lain menyangkut standar pelayanan medis, intensifikasi kontribusi para dokter dalam program kesehatan masyarakat, upaya peningkatan profesionalitas di kalangan dokter, pemerataan jasa dokter bagi masyarakat luas, temuan-temuan baru dan terapan di bidang ke-dokteran, serta sejumlah persoalan medis yang lainnya. Di samping berbagai permasalahan aktual tersebut di atas masih ada permasalahan lain yang juga sangat ak-tual dan tidak boleh dilupakan; yaitu menyangkut keter-libatan dokter dalam upaya mensukseskan gerakan Keluarga Berencana (KB) dan program KB Mandiri. Meskipun keterli-batan para dokter di bidang KB bukan hal yang baru namun peningkatan peran sertanya sampai saat ini masih sangat diharapkan; baik di dalam hubungannya dengan peningkatan profesionalisme medisnya maupun dalam hubungannya dengan kesuksesan gerakan KB dan KB Mandiri itu sendiri.
EVALUASI KRITIS MATERI UMPTN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.366 KB)

Abstract

       Bahwa sebahagian masyarakat kita masih dihinggapi "state minded syndrome" dalam pemilihan lembaga pendidik an tinggi rasanya memang tidak dapat disangkal.  Sebagai manifestasinya mereka selalu berorientasi pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN)  dalam meminta pelayanan pendidikan tinggi meski di luar PTN terdapat perguruan tinggi yang mutunya jauh lebih baik;  sedangkan sebagai implikasinya setiap PTN menyelenggarakan ujian masuk, kali ini dengan sistem UMPTN, selalu dijejali dengan kandidat.          Apabila kita melihat sejarah maka ujian masuk PTN untuk menjaring mahasiswa baru,  sejak diaplikasi sistem Proyek Perintis (PP), Sipenmaru sampai UMPTN, senantiasa diminati masyarakat. Kompetisi perebutan kursi kuliah di PTN menjadi ketat dan untuk dapat meraihnya maka seorang kandidat harus mampu "mengalahkan" beberapa kandidat la-innya sekaligus.  Sepuluh tahun lalu, tahun 1983, ketika seleksi masuk PTN digelar maka perbandingan kandidat ter hadap daya tampung lembaga mencapai puncak,  yaitu 13:1. Ini berarti setiap 13 kandidat maka yang diterima hanya seorang saja; dengan bahasa lain untuk menjadi mahasiswa baru PTN harus mampu "mengalahkan" 12 kandidat lainnya.          Bagaimana dengan UMPTN di tahun 1993 ini? Hampir sama saja!  Persaingan untuk memperebutkan kursi belajar pada PTN masih tetap ketat. Perbandingan kandidat dengan daya tampung lembaga sekitar 6:1,  artinya tiap ada enam kandidat maka yang diterima hanya satu orang saja. Untuk menjadi mahasiswa baru PTN  maka seorang kandidat harus sanggup "mengalahkan" lima kandidat yang lainnya.
DOSEN : ANTARA PENGAJAR DAN PENELITI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.466 KB)

Abstract

       Apabila perguruan tinggi bisa diibaratkan sebagai panglima  maka dosen merupakan  ujung tombak penelitian; hal itu berarti bahwa maju atau tidaknya penelitian akan sangat tergantung pada perguruan tinggi,  dan akan lebih tergantung lagi pada dosennya. Dengan ungkapan lain para dosen  di perguruan tinggi sangat menentukan produktivi-tas dan kualitas penelitian.          Apakah penelitian kita sudah maju? Ternyata belum maju; dan hal ini tidak bisa dilepaskan dari "dosa" para dosen kita. Mengapa? Produktivitas penelitian dosen pada umumnya masih rendah, hasil penelitiannya kurang bermutu dan budaya meneliti belum tumbuh pada seluruh dosen kita. Pada hal, penelitian itu sendiri memiliki posisi yang a-mat strategis untuk mengembangkan perguruan tinggi serta untuk  memacu berputarnya roda-roda pembangunan nasional yang tengah kita galakkan.          Barangkali karena kenyataan itulah kalau kemudian Pak Marsetio Donoseputra, mantan Rektor Unair dan mantan konsultan UNESCO yang kini banyak bergelut pada lembaga legislatif, mengemukakan opini dan usulannya yang sangat kontroversial;  yaitu dosen yang lebih berbakat mengajar hendaknya diminta mengajar saja tanpa meneliti dan dosen yang lebih berbakat meneliti diminta meneliti saja tanpa mengajar. Hasil penelitian dosen yang meneliti (peneliti/researcher) dapat digunakan sebagai bahan mengajar bagi dosen-dosen yang mengajar (pengajar/educator).
MENCEGAH KONFLIK DALAM PERGURUAN TINGGI SWASTA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.408 KB)

Abstract

PTS, Perguruan Tinggi Swasta, dalam humor sering kali dikepanjangkan menjadi Pejuang Tanpa Santai. Meski kalimat ini hanya didapat dalam humor tetapi nampaknya cukup memiliki alasan yang cukup realistis, sebab pada kenyataannya bagi pengelola lembaga tersebut akan selalu dihadapkan pada berbagai persoalan dari berbagai arah sehingga tidak mungkin bekerja dengan 'santai-santai saja' bila ingin PTS-nya meraih sukses secara gemilang.Dapat diyakinkan bahwa kualitas permasalahan yang dihadapi oleh PTS tentu tidak kalah semaraknya apabila dibanding dengan permasalahan yang dihadapi oleh PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Sedang kualitas permasalahan yang dihadapi oleh masing-masing lembaga, baik PTS maupun PTN, memang sifatnya kondisional, ter-gantung.Berbagai unsur yang ada pada PTS, ialah mahasiswa, staf pengajar/tenaga edukatif, tenaga administratif, pimpinan PTS dan pengurus yayasan pembina PTS yang bersangkutan seringkali masing-masing mempunyai keinginan yang belum tentu dapat diterima oleh semua pihak.Kalau pimpinan ingin berjalan keselatan maka staf edukatif ingin ketenggara, sedangkan mahasiswa justru ingin keuatara. Itulah yang kemudian menimbulkan polemik dalam tubuh PTS tersebut, bahkan kemudian dapat membesar menjadi konflik yang tidak berkesudahan. Konflik antara mahasiswa dengan pimpinan PTS, antar tenaga edukatif, antar tenaga administratif, bahkan yang lebih parah lagi antara yayasan dengan pimpinan PTS yang bersangkutan.
MENGEMBALIKAN PENDIDIKAN INDONESIA SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN JAWA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.872 KB)

Abstract

Sekarang ini pemerintah sedang gencar menyosialisasikan pendidikan gratis; sampai-sampai Pak Bambang Sudibjo selaku menteri pendidikan harus terjun langsung. Program ini banyak membantu masyarakat utamanya kelompok miskin; namun ternyata ada ?hantu besar? di balik itu, program ini berpotensi menurunkan kualitas pendidikan. Padahal kualitas pendidikan kita sampai sekarang masih belum mapan          Pada 27 Januari 2009 ketika Centro de Información y Documentación mengumumkan 1.000 perguruan tinggi terbaik dunia, ?Top 1.000 World Universities Ranking on the Web 2009?, masyarakat kita ?geger?. Kenapa? Karena dari 1.000 perguruan tinggi tersebut hanya tiga yang berasal dari Indonesia, itu pun di ranking bawah: UGM Yogyakarta di ranking ke-623, ITB Bandung ke-676 dan UI Jakarta ke-906. Masyarakat tidak percaya; dari 2.700-an PTN dan PTS yang bertebaran di wilayah Nusantara ternyata hanya ada tiga ?gelintir? yang mampu menembus persaingan dunia.          Tiga bulan sebelumnya masyarakat kita juga ?geger?. Ketika Times mengumumkan 400 perguruan tinggi dunia dalam ?Top 400 Universities : World University Rankings 2008? (17 Oktober 2008), hanya ada tiga PT Indonesia yang berada didalamnya; yaitu UI Jakarta di ranking ke-287, ITB Bandung ke-315 dan UGM Yogyakarta di ranking ke-316
MEMBENTUK JARINGAN PENELITIAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.151 KB)

Abstract

       Ketika sebuah kelas, di salah satu Fakultas Pasca Sarjana, mengadakan diskusi tentang perbedaan aktivitas di antara perguru-an tinggi di negara-negara maju dengan perguruan tinggi di negara-negara berkembang akhirnya berkesimpulan bahwa perbedaan yang menyolok adalah terletak pada aktivitas penelitiannya. Secara umum aktivitas penelitian pada perguruan tinggi di negara-negara maju sangat mobil dan dinamis, sementara itu di negara-negara berkembang kurang dinamis; bahkan ada yang "mandeg".       Kedinamisan aktivitas penelitian tersebut di atas dapat diukur dari banyaknya seminar, diskusi, dialog dan temu ilmiah lain yang bertemakan penelitian. Penerbitan jurnal penelitian,  laporan penelitian,  serta buku-buku ilmiah yang bernafaskan penelitian juga merupakan indikator yang cukup valid. Itu semua terjadi pada perguruan tinggi di negara-negara maju.       Ingin ilustrasi yang lebih konkrit? Coba pergilah ke perpustakaan di sekitar kita;  dari sekian jurnal penelitian yang "punya nama" yang kita jumpai hampir dapat dipastikan bahwa itu semua produk negara-negara maju.
LIMA KENDALA LIMA "WARNING" UNTUK TELEVISI PENDIDIKAN INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.408 KB)

Abstract

       Untuk menghormati berdirinya Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) dua tahun yang lalu,  atau tepatnya pada tanggal 23 Januari 1991, maka di harian ini saya pernah menulis tentang perlunya pengembangan media audio-visual (yang di dalam konteks tulisan tersebut ialah TPI) untuk memperluas jangkauan pelayanan pendidikan di negara kita (Supriyoko, "Selamat Datang Televisi Pendidikan", Suara Karya: 23/01/91).          Saat ini TPI genap berusia dua tahun. Dalam usianya yang baru "seumur jagung" ini berbagai kritik, saran dan bahkan sinisme masyarakat yang ditujukan kepada TPI seperti tidak henti-hentinya mengalir. Hal ini mengingat kan kita pada hari-hari pertama ketika TPI dilahirkan, yang mana saat itu kritik tajam, saran, dan sinisme juga banyak bermunculan. Kalau waktu itu TPI sering dikepanjangkan sebagai "Televisi Prematur Indonesia" karena program-programnya yang dianggap tidak berbobot, "Televisi Periklanan Indonesia" karena siarannya banyak diselingi dengan iklan, atau "Televisi Pembantu Indonesia" karena siarannya kebanyakan diikuti oleh para pembantu RT, dsb, hal itu merupakan ekspresi dari berbagai sinisme.          Dalam usianya yang sudah dua tahun sekarang ini pun ternyata berbagai kritik, saran, serta sinisme masih tetap saja bermunculan. Tidaklah mengapa; karena kritik, saran dan sinisme itu justru menunjukkan adanya rasa ke-cintaan  serta besarnya harapan masyarakat kita terhadap TPI dengan program-programnya.
'LINK AND MATCH' DALAM KONSEP SDM Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.623 KB)

Abstract

       Seorang peserta seminar bertanya kepada pemakalah mengenai negara mana yang akan menjadi macan kelima di Asia,  "Apakah Indonesia akan sanggup menjadi macan yang kelima?".  Seperti kita ketahui bahwa sekarang ini telah muncul empat negara industri yang baru, Newly Industrial Countries (NIC),  di benua Asia.  Adapun keempat negara ini, Singapore, Hongkong, Taiwan, serta Korea (Selatan), dalam terminologi ekonomik dikenal dengan sebutan empat macan (the four tigers)  atau ada yang menyebutnya empat naga kecil (the four little dragons) di Asia.          Mengenai kemungkinan Indonesia menjadi macan ke-lima maka secara diplomatis pemakalah menjawab bahwa itu semua  sangat tergantung pada efektivitas pendidikan da-lam meningkatkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia.          Memang demikianlah adanya! Di dalam era industri-alisasi sekarang ini keunggulan komparatif (comparative advantage) yang dimiliki bangsa Indonesia tak lagi dapat diandalkan untuk mengantisipasi perubahan alam dan jaman tanpa dibersamai dengan peningkatan kualitas SDM untuk meningkatkan keunggulan kompetitif (competitive advanta-ge) secara memadai.
EFEKTIVITAS DALAM PENDIDIKAN BERMEDIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: MAJALAH PUSARA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.624 KB)

Abstract

       Perjalanan pada abad ke-20 ini ditandai dengan beberapa catatan kemajuan dan pengembangan di bidang pengetahuan, ilmu dan teknologi. Bahkan dalam beberapa dasawarsa terakhir ini kemajuan dan pengembangannya menunjukkan grafik yang berjalan menanjak dan menanjak terus dalam skala waktu yang relatif singkat.       Abad ke-20 dibuka oleh Albert Einstein yang pada tahun 1905 berhasil membuka rahasia sumber tenaga baru yang sangat potensial, ialah tenaga atom, yang sampai hari ini masih sangat aktual dibicarakan para ahli untuk memanfaatkan tenaga yang potensial tersebut bagi kesejahteraan umat manusia dimuka bumi ini.       Penemuan ini kemudian diikuti oleh penemuan-penemuan baru disektor yang beraneka ragam pula. Di sektor transportasi, lukisan pesawat angkasa yang dibuat oleh Leonardo Da Vinci yang dulu hanya merupakan khayalan maka pada lebih kurang th 1910 khayalan tersebut divisualkan oleh Igor Sikorsky dengan membuat 2 helikopter, sekalipun belum sempurna benar. Karya ini akhirnya disempurnakan oleh Heinrich Focke pada beberapa tahun berikutnya, dan pada tahun 1940 Sikorsky benar-benar telah mampu mencipta helikopter secara mandiri.       Disektor kesehatan, tahun 1922 Frederick Banting seorang dokter dari Kanada berhasil menemukan insulin, sejenis hormon yang dihasilkan oleh pankreas untuk menyembuhkan penyakit diabetik (kencing manis) yang sangat sering membawa kematian. Enam tahun berikutnya, th 1928, Alexander Flemming (Skotlandia) berhasil menemukan penisilin yang gunanya masih dapat kita rasakan hingga hari ini.