Claim Missing Document
Check
Articles

WASPADAI CASSANO PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.129 KB)

Abstract

       Pertemuan G-20 yang melibatkan negara-negara ?adidaya? di bidang ekonomi yang berlangsung pertengahan November 2008 di Washington DC Amerika Serikat (AS) baru saja berakhir. Beberapa kepala negara disertai pembantu utamanya di bidang ekonomi menyempatkan hadir; termasuk Presiden Indonesia SBY yang disertai oleh menteri keuangan dan beberapa pejabat yang lainnya.          Kelompok G-20, atau yang nama aslinya The Group of Twenty (G-20) Finance Ministers and Central Bank Governors atau Kelompok Duapuluh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral, adalah sekumpulan negara yang meskipun kenerja ekonominya tidak pasti harus bagus akan tetapi menentukan kinerja ekonomi dunia.          Indonesia misalnya; meskipun kinerja ekonomi Indonesia tidak terlalu bagus namun mengingat jumlah penduduknya yang relatif besar, lebih dari 200 juta jiwa, maka apa yang terjadi di Indonesia sedikit banyak akan mem-pengaruhi kinerja ekonomi dunia.
PROSPEK UNIVERSITAS TERBUKA DI INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN JAWA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.844 KB)

Abstract

       Problematika  pendidikan tinggi di negara kita yang dewasa ini sangat menonjol dan cukup menyita konsentrasi adalah tentang kompleksitas daya tampung. Meluapnya anggota masyarakat yang ingin mendapatkan pelayanan pendidikan tinggi di satu pihak ternyata belum terimbangi oleh meningkatnya angka daya tampung lembaga pendidikan tinggi di pihak yang lain.       Masalah kompleksitas daya tampung ini kemudian secara berturut-turut diikuti oleh masalah yang lain, ialah kualitas lulusan; ratio dosen dengan mahasiswa; relevansi bidang studi; dsb.       Demikian kompleksnya permasalahan pendidikan tinggi di negara kita dewasa ini, maka pada akhirnya banyak alternatif inovatif yang dieksperimentasikan untuk men-dapatkan sesuatu yang berguna bagi peningkatan efektifi-tas pelayanan pendidikan tinggi.       Salah satu bentuk alternatif inovatif yang telah dan sedang dilaksanakan adalah "Sistem pendidikan terbuka".
HUBUNGAN ASIMETRIS PTN-PTS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BERNAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.005 KB)

Abstract

Kalau kita sempat membuka karya indah dan bermutu dari seorang peneliti termasyhur, Morris Rosenberg, yang diberi titel "The Logic of Survey Analysis" (1968) maka kita akan mendapatkan pengetahuan yang sangat bermanfaat mengenai jenis-jenis hubungan antar variabel. Secara terinci dan sistematis buku ini memang berbicara banyak mengenai masalah tersebut. Pada dasarnya terdapat tiga jenis hubungan yang dideskripsikan dalam karya tulis tersebut; masing-masing adalah hubungan simetris (symmetrical relationship), hu-bungan asimetris (asymmetrical relationship), dan hubung an timbal-balik (resiprocal relationship). Hubungan yang pertama melukiskan tidak adanya pengaruh antar variabel, jenis hubungan yang kedua melukiskan pengaruh sepihak da ri dua variabel yang saling berhubungan, dan jenis yang ketiga melukiskan adanya pengaruh timbal-balik antar va-riabel yang saling berhubungan. Dalam kaitannya dengan hubungan antara PTN dengan PTS maka rektor UGM, Mochamad Adnan, melukiskannya seba-gai hubungan asimetris; maksudnya bahwa arah pengaruhnya lebih bersifat sepihak. Secara kontekstual apa yang dilukiskan oleh Pak Adnan tersebut khususnya berkaitan dengan pemanfaatan do sen PTN yang membantu mengajar (baca: "nyambi") pada PTS di DIY. Pada kenyataannya saat ini memang banyak tenaga edukatif UGM yang membantu mengajar pada PTS, baik yang prosedurnya dilakukan secara resmi maupun yang dilakukan lewat pintu belakang; baik yang membantu pada PTS besar maupun pada PTS kecil.
BURUKNYA SISTEM PENDIDIKAN KITA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.407 KB)

Abstract

Di lingkungan Asia, negara manakah yang sekarang memiliki sistem pendidikan terbaik? Apakah Jepang yang oleh masyarakat di dunia sering disebut dengan negara pasca industri? Apakah Singa-pura "negara kota"  yang sekarang menjadi pusat bisnis di seluruh dunia?  Apakah Cina Daratan yang memiliki penduduk paling tinggi jumlahnya dan paling heterogen karakteristiknya? Ataukah mungkin saja Indonesia  yang sampai detik ini masih terengah-engah untuk keluar dari krisis multidimensi?          Tidak,  semua itu tidak ada yang benar!  Sistem pendidikan yang terbaik di antara negara-negara Asia ternyata dimiliki oleh Korea Selatan; demikian setidak-tidaknya hasil studi yang diadakan oleh Political and Economic Risk Consultancy (PERC),  lembaga in-ternasional yang bermarkas di Hong Kong.          Kalau Korea Selatan  memiliki sistem pendidikan yang paling baik, lalu negara mana yang memiliki sistem pendidikan yang paling buruk? Negara itu adalah Indonesia; dengan kata lain sistem pendi-dikan di Indonesia ternyata paling buruk di antara negara-negara di Asia.          Seperti diketahui bersama PERC baru saja mempublikasi hasil studi yang dilakukan di 12 negara.  Setelah menganalisis data yang masuk maka disimpulkan peringkat ke-12 negara tersebut menurut validitas sistem pendidikannya. Peringkat satu sampai enam masing-masing ialah Korea Selatan, Singapura, Jepang, Taiwan, India, dan Cina; sementara peringkat tujuh  sampai dua belas masing-masing ialah Malaysia, Hong Kong, Filipina, Thailand, Vietnam dan Indonesia. Ternyata Indonesia di posisi paling bawah.
AKREDITASI PERLU BAGI PTN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.076 KB)

Abstract

       Selaku seorang pengamat pendidikan saya menemukan sebuah kasus yang cukup menarik untuk dipresentasikan. Kasus ini menyangkut proses akreditasi akademik pada PTS (Perguruan Tinggi Swasta).       Sebuah jurusan (departemen) pada sebuah PTS ingin menyusun silabus untuk keperluan akreditasi akademik (melalui proses 'evaluasi aktif' yang dilakukan oleh tim dari Kopertis Wilayahnya). Sebagai salah satu komponen yang dievaluasi dalam proses akreditasi tersebut adalah kurikulum dan silabus.       Kurikulum jurusan pada PTS tersebut materinya sebagian besar sama dengan materi kurikulum PTN (Perguruan Tinggi Negeri) yang diafiliasinya.       Secara Praktis PTS tersebut sesungguhnya dapat "menyesuaikan" silabusnya dengan silabus PTN yang diafiliasinya; hingga tinggal menyusun silabus beberapa mata kuliah yang tidak diajarkan pada PTN tersebut (terutama mata kuliah yang bersifat ke-PTS-an). Akan tetapi sebuah kesulitan kemudian muncul: ternyata silabus dari kurikulum PTN itu sendiri juga belum tersusun secara mantap.       Kasus ini tentunya menarik:  disatu pihak sebagai salah satu persyaratan akreditasi maka PTS sudah harus mempunyai silabus yang mantap  (dan "disyahkan" oleh PTN yang  diafiliasi-nya),  sementara itu PTN-nya belum mempunyai silabus yang mantap.
MEMPROMOSI PERGURUAN TINGGI INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.288 KB)

Abstract

       Belum lama ini saya diminta berkunjung  pada beberapa lembaga pendidikan di Australia, khususnya di Victoria, untuk berbagai kepentingan sekaligus;  salah satunya ke RMIT University di Melbourne ibu kota Victoria.  Secara pribadi saya memang punya hubungan dengan beberapa dosen dan pimpinan lembaga ini, termasuk Prof. David Wilmoth  salah satu pimpinan di RMIT.  Secara organisatorial saya telah menjembatani hubungan antara RMIT dengan beberapa institusi pen-didikan di Indonesia, termasuk Perguruan Tamansiswa sendiri.       Dari banyak perguruan tinggi di manca negara  yang pernah saya kunjungi, termasuk di negara-negara maju seperti Taiwan, Jepang, Belanda, dsb,  ada satu hal yang menarik dari RMIT University terse-but; yaitu relatif banyaknya mahasiswa asing.  Universitas yang lahir tahun 1887, lebih dari satu abad,  ini memang termasuk bermutu. De-ngan kampus seluas 60 hektar lebih dan tersebar di tiga lokasi, di kota (Melbourne), Coburg dan Bundoora,  universitas ini mampu menggaet lebih dari 4.200 (10 persen) mahasiswa asing  dari total mahasiswanya yang berjumlah 42.000-an orang.       Setelah diamati lebih lanjut ternyata kebanyakan perguruan tinggi bermutu di Australia memang memiliki mahasiswa asing yang banyak jumlahnya. Perguruan tinggi lainnya yang berlokasi sama di Victoria seperti The University of Melbourne mempunyai 2.500-an mahasiswa asing,Deakin University memiliki 5.500-an mahasiswa asing, Monash  University memiliki 4.000-an mahasiswa asing, dan La Trobe Univer-sity memiliki 1.500-an mahasiswa asing       Sementara itu di luar Victoria,  seperti  Queensland University of Technology memiliki 2.000-an mahasiswa asing,  Murdoch University memiliki 1.200-an mahasiswa asing,  The University of Sydney punya 3.000-an mahasiswa asing,  The University of Western Australia me-miliki 1.500-an mahasiswa asing, dan sebagainya.
KURIKULUM INTI DAN KELINCI SWASTA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1983: HARIAN BERITA NASIONAL
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.448 KB)

Abstract

Dalam sebuah brain storming semakin banyak peserta yang mau menyumbangkan pemikirannya tentu membuat suasana menjadi lebih 'hidup', sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang relatif lebih sempurna. Ibarat pasar, makin banyak yang membuat pasar itu semakin ramai dan hidup.Apakah ini juga berlaku dalam dunia pendidikan kita, amat-lah sulit untuk mengatakan. Yang jelas akhir-akhir ini banyak gagasan-gagasan yang muncul, yang kadang-kadang menyita waktu luang kita untuk meresponnya sebagai warga yang aktif dan dinamis.Barangkali masih segar dalam ingatan kita bahwa gagasan-gagasan yang muncul di beberapa waktu yang relatif belum lama. Dari konsep tentang The Best Ten atau Top Ten, Penggantian Sistem Ujian Proyek Perintis sampai pada Sistem Praseleksi, dan kini muncul gagasan baru tentang penggantian kurikulum.Gagasan ini adalah merupakan penggabungan IPA dan IPS dan menggantian kurikulum tujuh lima (1975) dengan 'kurikulum inti' yang tentu saja dipandang mengandung banyak segi-segi positifnya bila dibanding dengan segi negatifnya. Walaupun disadari pula bahwa dalam penerapannya tentunya akan dijumpai hambatan-hambatan yang tidak ringan.
ARCHAMETRIC PENDIDIKAN INDONESIA SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.491 KB)

Abstract

       Baru-baru ini Atase Kebudayaan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Indonesia, Anne D. Grimes, menginformasikan bahwa Presiden Obama berkeinginan untuk meningkatkan jumlah pelajar dan mahasiswa Indonesia yang belajar di AS menjadi dua kali lipat. Hal ini menjadi kebijakan pendi-dikan AS terhadap Indonesia.          Apakah kebijakan pendidikan tersebut ditentukan secara emosional mengingat pada masa kecilnya Obama pernah bersekolah di SD Negeri 01 Menteng Jakarta? Unsur emosional seperti itu mungkin saja ada akan tetapi tentu tidak sepenuhnya.          Kalau kita lihat sejarah; Obama adalah seorang intelektual dan akade-misi sekaligus. Obama adalah alumni Columbia University dan Harvard University yang sebelum menjadi presiden AS sempat berpraktek sebagai pengacara dan dosen ilmu hukum di University of Chicago. Dengan latar belakang seperti ini diperkirakan kebijakan pendidikan AS terhadap Indo-nesia tersebut ada pertimbangan mutualistik didalamnya.
TENTANG ROYALTY DAN KEMITRAAN PTN-PTS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.097 KB)

Abstract

       Universitas-universitas negeri pada saatnya nanti mungkin saja memungut semacam royalty kepada perguruan tinggi swasta ataupun lembaga nonpemerintah lainnya atas pengkaryaan tenaga edukatif dari universitas negeri pada lembaga tersebut. Inilah inti masalah yang dikemukakan oleh salah seorang dari unsur birokrasi Universitas Gadjah Mada (UGM) baru-baru ini (Yogya Post, 1/5/90).       Wajarkah lembaga pendidikan tinggi pemerintah di negara kita, PTN,  menarik royalty kepada lembaga pendidikan tinggi nonpemerintah, PTS, yang pernah dipublikasikan sebagai mitranya itu?       Menurut Prof. DR. Bambang Riyanto, sang "pencetus" gagasan tersebut di atas maka pemungutan royalty semacam itu sesungguhnya sangat wajar, karena PTN-lah yang telah bersusah-payah menyekolahkan dosen-dosen tersebut, baik di dalam maupun di luar negeri. Dengan demikian, menurutnya, kurang adil bila PTS begitu saja menikmati hasilnya.
EKONOMISASI UNIVERSITAS TERBUKA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.547 KB)

Abstract

       Universitas Terbuka (UT), yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 4 September 1984 baru saja menyelesaikan 'semester perdana'nya. Suatu gerak awal dari sebuah perjalanan panjang untuk meningkatkan kualitas bangsa Indonesia melalui sektor pendidikan.       Menjelang diselenggarakannya semester berikutnya (semester dua) ini tentu merupakan saat yang tepat untuk mengadakan evaluasi yang merupakan rangkaian dari sebuah proses evaluasi secara keseluruhan, untuk melihat kekurangan-kekurangan yang terjadi pada semester perdana dulu demi peningkatan pelayanan serta penyempurnaan pada semester-semester berikutnya.       Kekurangan-kekurangan tersebut harus dilihat di segala bidang, baik bidang akademis, bidang administrasi dan keuangan maupun bidang kemahasiswaan.       Apabila kekurangan-kekurangan tersebut dapat saya misalkan sebagai bocoran dari sebuah bendungan (dam), maka sekecil apapun bocoran yang ada haruslah segera ditambal kalau tidak ingin konstruksi bendungan tersebut 'tidak banyak berfungsi' karena banyaknya air yang tumpah tak berguna disebabkan oleh bocoran-bocoran yang semakin membesar.       Demikian pula halnya dengan UT, apabila dijumpai kekurangan-kekurangan sekecil apapun harus segera diatasi agar tidak mengganggu proses belajar mengajar pada waktu-waktu yang akan datang.