Claim Missing Document
Check
Articles

TERJEBAK TEORI BARAT Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.845 KB)

Abstract

       Menteri pendidikan nasional Indonesia, Bambang Sudibyo, di berbagai kesempatan berpesan agar civitas perguruan tinggi bekerja untuk mewu-judkan pendidikan tinggi berkelas dunia, world university.          Untuk mendukung pesannya, tidak jarang Pak Bambang mengutip hasil studi Majalah Times dalam ?Times Higher Education Supplement? yang menyatakan ada empat perguruan tinggi Indonesia masuk di dalam jajaran universitas terbaik dunia tahun 2006; yaitu Universitas Diponegoro (Undip) Semarang di ranking ke-459, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ke-270, Institut Teknologi Bandung (ITB) ke-259, dan Universitas Indone-sia (UI) Jakarta di ranking ke-250.          Meskipun berada pada ranking 200-an tetapi hal itu pantas disyukuri; setidak-tidaknya dapat memberi kepercayaan diri bahwa ternyata kita bisa menempatkan perguruan tinggi di jajaran elite dunia. Jadi kalau kita mau bekerja keras bukan tidak mungkin rankingnya semakin membaik.
KASUS "BABY-BOOM" DAN DAMPAKNYA BAGI DUNIA PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.484 KB)

Abstract

"Baby-boom"; itulah istilah klasik yang beberapa tahun lalu sempat populer di Amerika Serikat (AS). Istilah itu sendiri mengandung arti terjadinya peledakan kelahiran (bayi) di dalam kurun waktu tertentu pada suatu tempat tertentu. Istilah klasik tersebut sempat populer di AS oleh karena negara tersebut secara empirik memang pernah mengalaminya. Terjadinya "baby-boom" di AS pada tahun 40-an se-telah usai Perang Dunia ke-2 serta tahun 1960-an setelah selesai Perang Vietnam. Peristiwanya sederhana: sekemba-linya para tentara dari medan perang yang nota bene lama berpisah dengan isteri segera memulai (kembali) kegiatan "reproduksi"-nya. Akibatnya: beberapa bulan kemudian ter jadi kelahiran (bayi) dalam jumlah yang relatif tinggi; hal ini disebabkan karena aktivitas reproduksi tersebut terjadi pada kurun waktu yang sama atau bersamaan. Apakah peristiwa "baby-boom" tersebut ada hubung-annya dengan gejala pendidikan? Atau, apakah "baby-boom" memberikan dampak tertentu bagi dunia pendidikan? Mari-lah kita bersama-sama mencoba menganalisisnya. Secara langsung ataupun tidak langsung peristiwa "baby-boom" tersebut berkaitan dengan dunia pendidikan. Peledakan kelahiran, apalagi di negara maju, pada saat-nya menuntut sarana dan fasilitas pendidikan. Pada waktu bayi-bayi tersebut tumbuh menjadi anak-anak usia sekolah maka mau tak mau pemerintah harus menyediakan sarana dan fasilitas pendidikan baginya; kelas-kelas baru dibuka, guru ditambah, buku dilengkapi, dsb. Hal inipun terjadi ketika bayi-bayi tersebut menginjak usia universitas.
DAMPAK PENDIDIKAN TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.909 KB)

Abstract

       Pendidikan dan kebudayaan sering diibaratkan se-bagai dua sisi dari sekeping mata uang, kalau pendidikan merupakan satu sisi dari keping mata uang tersebut maka kebudayaan merupakan sisi yang lainnya. Begitu pula yang sebaliknya, kalau kebudayaan merupakan satu sisi dari keping mata uang tersebut maka pendidikan merupakan sisi yang lainnya.           Pengibaratan tersebut ingin  melukiskan demikian eratnya hubungan atau kaitan di antara pendidikan dengan kebudayaan.  Implikasi konotatifnya adalah apabila dalam  dunia pendidikan terjadi perubahan-perubahan maka hal ini pun secara langsung maupun tak langsung akan terjadi dalam dunia kebudayaan.          Eratnya hubungan antara pendidikan dan kebudayaan juga sering dilukiskan dalam suatu hubungan timbal balik (reciprocal relationship);  artinya hubungan yang saling mempengaruhi.  Implikasinya apabila terjadi fenomena-fe- nomena tertentu dalam dunia pendidikan maka fenomena ini akan berpengaruh bagi dunia kebudayaan,  demikian pula yang sebaliknya, bila terjadi fenomena-fenomena tertentu dalam  dunia kebudayaan maka fenomena ini akan berpenga-ruh bagi dunia pendidikan.
SEB BAGI PARA GURU Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.651 KB)

Abstract

       Untuk menandai terjadinya proses pergantian tahun 1993 menuju tahun 1994 nampaknya Depdikbud berusaha me-narik simpati para guru di lapangan sebagai ujung tombak pengemban misi pendidikannya;  yaitu dengan memberikan berbagai kemudahan dalam pengurusan kenaikan jabatan dan /atau pangkatnya.          Baru-baru ini, tepatnya tanggal 24 Desember 1993, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI bersama Kepala Biro Administrasi Kepegawaian Negara (BAKN) telah mengadakan "penyempurnaan" kerja sama dalam bentuk penandatanganan Surat Edaran Bersama (SEB) tentang Tata Cara Pelaksanaan Angka Kredit Guru.  Surat Edaran Bersama ini merupakan penjabaran dari SK Menpan No.26/1989 tentang Angka Kredit  bagi Jabatan Guru di Lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang telah disempurnakan.          Maksud kerja sama tersebut sangatlah konstruktif; yaitu memberikan berbagai kemudahan agar supaya guru di lapangan lebih gampang dalam mengurus kenaikan jabatan dan/atau pangkatnya.
PENDIDIKAN BERDASAR KEMERDEKAAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.294 KB)

Abstract

       Tanggal 3 Juli adalah  hari ulang tahun berdirinya Tamansiswa (=Taman Siswa),  suatu nama yang pernah menduduki puncak tangga dalam percaturan pendidikan di Indonesia. Nama yang mengantarkan bangsa Indonesia ke arah pola pemikiran yang fleksibel, sistematis dan konstruktif melalui roda-roda pendidikan yang tak jemu-jemunya melewati lembah ngarai dan kerikil tajam.       Bukan nama besar tanpa isi yang telah disuguhkannya akan tetapi berkat perjuangan Ki Hadjar Dewantara dkk maka Tamansiswa telah berhasil meletakkan kerangka dasar sisten pendidikan di Indonesia.       Dalam usianya  yang lebih dari setengah abad  sekarang ini  tentu banyak suka dan duka yang telah dialaminya.  Kemajuan pengetahuan, ilmu dan teknologi tentu memberikan andil yang besar untuk menguji tegaknya prinsip dan kerangka dasar yang telah lama diperjuangkan. Dalam perjalanan historis yang serba romantis ini tidaklah mustahil apabila kerangka dasar yang diperjuangkan dengan tidak terasa justru  banyak yang ditimpangi, disimpangi dan dipecundangi,  walau dengan hakekat baik sekalipun.       Itu semua memang menjadi hukum alam dalam romantika perjuangan suatu eksist.
EKSISTENSI SEKOLAH SWASTA SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.799 KB)

Abstract

Sosialisasi sekolah gratis yang dilakukan pemerintah, dalam hal ini adalah departemen pendidikan, nampaknya benar-benar efektif. Buktinya masyarakat berduyun-duyun ?menyerbu? SMP dan MTs negeri yang nota bene diselenggarakan oleh pemerintah.          Dalam realitasnya banyak anggota masyarakat yang terbantu oleh kebi-jakan sekolah gratis; hal ini lebih dirasakan oleh kelompok masyarakat dari kalangan bawah (grass root) yang berpenghasilan rendah (the have not). Mereka sangat terbantu dengan kebijakan pemerintah ini; bahkan ada yang sedianya tidak akan menyekolahkan anaknya dikarenakan alasan biaya akhirnya bisa menyekolahkan pula.          Kebijakan sekolah gratis memang sangat argumentatif; di samping didukung oleh ketentuan perundangan utamanya UUD 1945 dan UU Sisdiknas juga oleh realitas banyaknya orang miskin di Indonesia. Masalah-nya ialah, kebijakan sekolah gratis tersebut menimbulkan permasalahan baru khususnya di kalangan penyelenggara sekolah swasta.
SETELAH UMPTN BERLANGSUNG Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.889 KB)

Abstract

       Sebuah tradisi akademik yang terjadi pada setiap awal tahun ajaran baru di perguruan tinggi negeri, PTN, baru saja berlangsung. Tradisi akademik ini berupa ujian tulis dalam sistem penerimaan mahasiswa baru, yang sejak tahun 1989 yang lalu dikemas di dalam bentuk Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN).        Dalam dua hari saja, tepatnya pada tanggal 20 dan 21 Juni 1990,  maka penyelenggaraan UMPTN telah selesai; tentu saja belum termasuk hasilnya.       Dengan selesainya penyelenggaraan UMPTN tersebut kewajiban peserta boleh dikatakan telah selesai; peserta telah berhasil mencari informasi tentang PTN,  juga informasi tentang mekanisme penerimaan mahasiswa barunya, mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian tertulis, mendaftar, kembali belajar giat untuk lebih memantabkan persiapannya, dan terakhir mengikuti ujian pada hari "H".       Semua kegiatan tersebut di atas tentu saja memerlukan energy, waktu dan dana; oleh karena itu selesainya penyelenggara-an UMPTN baru-baru tersebut seolah-olah telah membebaskan segala beban yang selama ini disandang oleh para kandidat mahasiswa baru PTN tersebut.
MENGATASI KRISIS PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.438 KB)

Abstract

       Ada dua lembaga internasional masing-masing World Bank (WB) dan Asian Development Bank (ADB)  bersama-sama dengan  dua lem-baga nasional kita  masing-masing  Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)  serta  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) menyelenggarakan 'Konferensi Pendidikan Indonesia' di Jakarta pada tanggal 23 dan 24 Februari 1999 yang lalu.       Alan Ruby, Manager for Human Development Sector Unit untuk wilayah Asia Pasifik Timur,  pada acara tersebut telah menyampaikan pandangan (resmi) lembaga Bank Dunia di bawah titel  'Overview of The World Bank Strategy in Indonesia'. Dari presentasinya tergambar pandangan Bank Dunia  terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia kini.  Kata-kata 'kini' perlu ditekankan karena kondisi pen-didikan kita benar-benar sedang terpuruk akibat terjadinya krisis  eko-nomi yang tidak kunjung selesai.  Di sisi lainnya dari pihak Indonesia telah dipresentasi lima isu pendidikan yang cukup fundamental.      Mengingat demikian pentingnya permasalahan dan isu pendidikan yang dipresentasi pada forum tersebut maka ada lima  "orang penting" secara suka rela telah menyampaikan tanggapannya; masing-masing adalah Country Director Bank Dunia Dennis de Tray,  Chief of Resident Mission of ADB in Indonesia Robert May, Menteri Bappenas  Boediono, Menteri Agama Malik Fadjar, serta tidak ketinggalan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Joewono Soedarsono. Pak Joewono bahkan dua hari berturut-turut "menyatroni" konferensi tersebut.       Forum konferensi tersebut kiranya memang cukup strategis, seti-dak-tidaknya bisa dijadikan ajang penyamaan persepsi  di antara pihak lembaga internasional dengan pihak kita dalam upaya mengatasi krisis menuju terealisasikannya pembaruan pendidikan di Indonesia.
SD BELUM PERLU DIBERI "MUATAN LOKAL" Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.457 KB)

Abstract

       Mulai awal tahun Pelita kelima nanti potensi daerah akan dikembangkan melalui "muatan lokal" yang terintegrasi kan dalam kurikulum sekolah dasar dan menengah. Demikian dikemukakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Fuad Hassan, seusai melantik Rektor Institut Teknologi Surabaya (ITS) beberapa hari yang lalu.       Yang dimaksud dengan "muatan lokal" ialah merupakan kelompok mata pelajaran dalam struktur kerikulum yang oleh suatu daerah dianggap sesuai dengan kehidupan masyarakat setempat. Dengan demikian para pelajar dari masing-masing daerah akan mempunyai kesempatan yang terstruktur serta terorganisir dalam mempelajari potensi daerahnya.       Berangkat dari konsep Mendikbud tersebut maka sekolah-sekolah yang berlokasi di daerah pertanian akan diberi kelompok pelajaran "kepertanian"; sekolah yang berlokasi di daerah pantai diberi kelompok pelajaran "kepariwisataan"; dsb. Ini semua merupakan manifestasi po-tensi daerah yang dikembangkan melalui "muatan lokal" yang terintegrasikan dalam kurikulum.       Lebih lanjut direncanakan porsi dari "muatan lokal" ini nantinya sekitar 25% dari beban kurikulum secara keseluruhan.
PENDIDIKAN TINGGI PUSAT KEUNGGULAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.209 KB)

Abstract

       Setiap Selasa Wage, menurut perhitungan hari dan pasaran Jawa, Sri Sultan Hamengku Buwono X menguraikan gagasan dan pemikiran beliau melalui  SKH Kedaulatan Rakyat dalam rubrik tetapnya ?Sabda Sri Sultan Hamengku Buwono X?. Beliau menulis gagasan dan pemikirannya tidak dalam satu bidang saja akan tetapi dalam banyak bidang sekaligus; sosial, politik, seni, budaya, pendidikan, kemasyarakatan, pariwisata, sains dan teknologi, dan sebagainya.          Saya cukup bangga mendapatkan kesempatan memberikan tanggapan atas tulisan-tulisan Sri Sultan bukan karena hari Selasa Wage bertepatan dengan hari dan pasaran lahir (weton) saya (saja); tetapi tulisan-tulisan Sri Sultan memang pantas mendapat respon dari masyarakat luas.          Dalam konotasi Jawa, sabda artinya pernyataan, uraian, pesan, atau terkadang diartikan sebagai perintah dari orang yang memiliki kedudukan sosial tinggi kepada orang lain yang kedudukan sosialnya lebih rendah. Medhar sabda artinya memberi pernyataan, uraian, pesan dan/atau perintah yang sifatnya monologis; sedangkan wawan sabda artinya saling memberi pernyataan, pesan dan/atau perintah atau yang bahasa sekarangnya adalah berkomunikasi secara dialogis.