Claim Missing Document
Check
Articles

RESIPROKASI KEBIJAKAN NASIONAL PERBUKUAN DAN MINAT BACA MASYARAKAT Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: MAJALAH PUSARA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.486 KB)

Abstract

       Untuk kesekian kalinya para pimpinan sekolah (dan guru)  secara tidak langsung kena "semprot" dari atasannya.  Kali ini bukan tentang pelaksanaan administrasi sekolah maupun praktik belajar mengajar di kelas;  akan tetapi mengenai kebijakan yang menyangkut dunia bisnis, yaitu tentang jual beli buku di sekolah.       Seperti yang kita ketahui bersama  bahwa baru-baru ini pimpinan departemen pendidikan kita melarang berlangsungnya transaksi jual beli buku, termasuk buku pelajaran,  di sekolah.  Rupanya Depdikbud telah mempelajari di lapangan bahwasanya transaksi jual beli buku di sekolah sebagai bentuk kerja sama antara sekolah di satu pihak dengan penerbit di pihak yang lain telah menjurus pada bisnis yang hanya me-nguntungkan oknum-oknum tertentu.  Misalnya, komisi yang disediakan oleh pihak penerbit banyak yang tidak masuk ke kas sekolah akan tetapi masuk ke kantong oknum kepala sekolah atau beberapa guru yang melibatkan diri dalam bisnis tersebut.       Pelarangan  seperti itu  bukan pertama kalinya terjadi.  Beberapa waktu yang lalu pimpinan Depdikbud juga melarang penggantian buku teks di sekolah yang terlalu sering.  Penggantian buku teks baru dapat dilaksanakan dalam jangka waktu minimal tiga tahun.  Hal ini antara lain dimaksudkan guna "melindungi" orang tua dari pengeluaran uang untuk pembelian buku yang terlalu sering. Seandainya setiap tahunnya dilakukan penggantian buku teks dan orang tua diwajibkan membeli bagi anaknya maka akan banyak orang tua yang tidak mampu. Bagi kepala sekolah yang memaksakan penggantian buku teks setiap tahun bahkan akan dikenai sanksi oleh departemen.       Kebijakan pemerintah tentang jual beli buku di lingkungan sekolah tersebut hanyalah merupakan salah satu bagian dari problematika perbukuan nasional kita.
PENDIDIKAN NONFORMAL POLA WIRASWASTA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.255 KB)

Abstract

       Saat ini sekitar 900.000 (sembilanratus ribu) lulusan SMTA tengah bergelut melawan nasib. Mereka sedang menempuh sebuah perjalanan untuk menuju pada sepotong kata akhir, menang atau kalah!       Jalan yang mereka tempuh bukanlah jalan tol tanpa hambatan, melainkan ibarat menuju puncak Eiger yang harus melewati celah-celah bukit yang penuh dengan badai dan salju.  Betapa tidak, 900.000 bukanlah jumlah yang kecil bagi kursi yang disediakan oleh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) --termasuk didalamnya Universitas Terbuka-- dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang jumlahnya diperkirakan tidak akan lebih dari 200.000 (dua ratus ribu) kursi.       Ibarat 18 anak angsa yang memperebutkan 4 ekor ikan di dalam kolam.  Mengandalkan ketangkasan saja nampaknya sangat riskan untuk dapat menangkap satu diantara 4 ekor ikan dalam kolam tersebut. Ketangkasan (=intelektual) tanpa kecepatan (=daya saing) dan juga kemujuran (=rakhmat Tuhan) sama sekali tidak akan memberikan jaminan untuk keluar sebagai pemenang.  Dan jangan dilupakan, hanya 4 anak angsa saja yang akan keluar sebagai pemenang dan 14 lainnya harus menyerah kalah (mati?!).
SENI, BUDAYA DAN PARIWISATA INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.225 KB)

Abstract

Kiranya banyak anggota masyarakat kita yang mengetahui bahwa tahun 1998 ini telah dicanangkan pemerintah sebagai  'Tahun Seni dan Budaya'. Meskipun demikian mungkin belum banyak diantara mereka yang mengetahui secara pasti mengenai sejauh mana hubungan antara aktivitas seni dan budaya terhadap perkembangan pariwisata di tanah air kita pada khususnya.       Mengenai hubungan  antara aktivitas seni dan budaya dengan pa-riwisata barangkali bisa dijelaskan dari tujuan dicanangkannya Tahun Seni dan Budaya yang tertandai dengan diperbanyaknya aktivitas seni dan budaya itu sendiri.  Adapun dua tujuan yang ingin dicapai adalah sbb: pertama, dengan diperbanyak aktivitas seni dan budaya oleh masyarakat kita maka jati diri bangsa Indonesia akan lebih mantap dan terkokohkan;  dan kedua,  dengan makin banyaknya aktivitas seni dan budaya oleh masyarakat diharapkan turis asing pun semakin banyak yang tersedot oleh mesin pariwisata Indonesia sehingga hal ini secara otomatis akan meningkatkan devisa negara kita.       Dari tujuan tersebut terdapat  hubungan asimetris (asymmetrical relationship) di antara banyaknya aktivitas seni dan budaya dengan banyaknya turis asing yang diharapkan datang ke negara kita.  Itu ber-arti banyaknya aktivitas seni dan budaya akan berpengaruh terhadap banyaknya turis asing yang datang ke negara kita.  Apabila di antara keduanya diasumsi berhubungan secara positif maka semakin diperba-nyak aktivitas seni dan budaya akan semakin banyak turis asing yang berduyun-duyun beraktivitas rekreatif di Indonesia.      Memang demikianlah adanya. Seni dan budaya suatu bangsa pada era modern sekarang ini bukan lagi hanya sebagai media ritual bangsa yang bersangkutan tetapi juga menjadi komoditas pariwisata. Aktivitas seni dan budaya sudah dapat diperjualbelikan untuk menambah devisa suatu negara.
PENELITIAN PESANAN BOLEH, PELACURAN INTELEKTUAL JANGAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.705 KB)

Abstract

       Sarjana-sarjana kita sudah sewajarnya ikut serta dalam 'penelitian pesanan', lebih dari itu sedapat mungkin bisa berperan aktif dalam kegiatan tersebut. Melalui penelitian pesanan, para sarjana mewujudkan darma bakti-nya pada bangsa dan negara. Demikian kira-kira penegasan Mendikbud, Prof. Dr. Nugroho Notosusanto dalam sambutannya pada acara dies-natalis Universitas Jambi (Kompas 4 April 1984).       Terlepas dengan apa yang ditegaskan oleh Mendik-bud diatas,  kelihatannya Pak Nugroho cukup jeli membaca situasi yang diwarnai oleh adanya semacam kasak-kusuk dikalangan kampus tentang penelitian pesanan. Satu pihak mengatakan pro-100%, sementara dilain pihak ada yang me-respon sinis.       Suara-suara sumbangyang menanggapi tentang terli-batnya para peneliti yang berpredikat sarjana dalam ke-giatan penelitian pesanan dirasa memang cukup santer, khususnya dikalangan perguruan tinggi karena mau tidak mau harus diakui bahwa hampir semua peneliti tersebut 'berasal' dan atau 'bertahta' pada lembaga ini.       Yang menjadi masalah sekarang adalah kenapa pene-litian pesanan ini menimbulkan suara sumbang (suara mi-nir?) ....?  Bukankah penelitian pesanan ini merupakan 'proyek' pemerintah ?
HUBUNGAN ANTARA EBTANAS DENGAN UMPTN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.275 KB)

Abstract

Melalui "Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan",  majalah ilmiah   yang diterbitkan oleh Balitbang Depdiknas,  edisi No.020 Desember 1999 yang lalu, secara transparan Prof. Toemin A. Masoem mencoba menggelar hasil penelitian ilmiahnya  tentang hubungan antara Eva-luasi Belajar Tahap Akhir secara Nasional (Ebtanas)  dengan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN).       Inti kesimpulan penelitian tersebut, sebagaimana yang ditulis oleh Pak Toemin,  adalah hasil Ebtanas  kurang mendukung tujuan diselenggarakannya ujian tersebut;  sedangkan  pada sisi yang lain nilai UMPTN cukup mendukung tujuan penyelenggaraan seleksi ter-sebut. Sayang tidak dijelaskan mengapa Pak Toemin memakai istilah "kurang" (mengapa tidak memakai kata "tidak")  dan "cukup" (me-ngapa tidak memakai kata "sangat"  atau dihilangkan kata "cukup") dalam kesimpulan tersebut.  Dengan tanpa diberi penjelasan, istilah atau kata "kurang" dan "cukup" dalam formulasi kesimpulan penelitian memang terkesan tidak ilmiah.       Mengenai hubungan antara Ebtanas dengan UMPTN disimpulkan sbb: (1) peserta yang nilai UMPTN-nya tinggi dapat dipastikan yang bersangkutan memiliki Nilai Ebtanas Murni (NEM)  yang tinggi pula; (2) seorang tamatan SMU yang NEM-nya rendah dapat diper-kirakan yang bersangkutan nilai UMPTN-nya juga rendah;  dan (3) seorang tamatan SMU yang NEM-nya tinggi  belum tentu mampu me-raih nilai UMPTN yang tinggi.       Meskipun tidak lengkap,  rincian kesimpulan tersebut sangat menarik kita ikuti. Kesimpulan itu akan lebih lengkap kalau peneliti menjelaskan bagaimana kondisi NEM pada peserta UMPTN yang nilai UMPTN-nya rendah; apakah yang bersangkutan NEM-nya senantiasa rendah, apakah NEM-nya selalu tinggi, ataukah NEM-nya bervariasi atau heterogen.  Penjelasan ini sangat penting untuk memberi gam-baran yang lebih jelas  mengenai bentuk atau pola hubungan antara Ebtanas dengan UMPTN itu sendiri.
KEHADIRAN LEMBAGA KREATIF WANDIKTI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.112 KB)

Abstract

       Belum lama ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,  Wardiman Djojonegoro,  mengukuhkan Dewan Pendidikan Tinggi (Wandikti) se-bagai lembaga baru di lingkungan departemen pendidikan. Lembaga nonstruktural ini bertugas memberi masukan dalam rangka merumuskan kebijakan dan pengembangan pendidikan tinggi di tanah air.        Wandikti nantinya diharapkan dapat menjadi forum pertemuan di antara unsur-unsur konsorsium pendidikan tinggi, lembaga-lembaga penelitian, dan kalangan pengusaha.  Seperti yang dinyatakan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi,  Bambang Soehendro,  selama ini antara konsorsium pendidikan tinggi dengan lembaga penelitian cenderung berjalan secara terpisah-pisah. Pada hal kedua lembaga ini seharusnya tidak terpisah-pisah, baik dalam perencanaan maupun pelaksanaannya. Di sisi yang lain pengembangan pendidikan tinggi tidak hanya dapat mengandalkan orang-orang pendidikan tinggi saja,  akan tetapi perlu melibatkan pemakai hasil pendidikan tinggi.       Oleh karena itu,  menurut Pak Bambang lebih lanjut,  Depdikbud merasa perlu membentuk wadah yang dapat mempertemukan ketiga unsur tersebut;  dan akhirnya dibentuklah Wandikti.  Kalau kita perhatikan dengan cermat dari 23 nama yang dikukuhkan sebagai anggota Wandikti (yang pertama) terlihat diantaranya beberapa nama pengusaha, disamping petinggi departemen (birokrasi) serta praktisi perguruan tinggi. Nama-nama dari konsorsium pendidikan tinggi dari berbagai disiplin memang ada,  demikian juga nama-nama yang diambil dari unsur lembaga penelitian.       Wandikti yang baru saja dibentuk serta keanggotaannya baru saja dikukuhkan itu mempunyai wewenang memberikan pendapat, saran, usul, nasihat, dan pemikiran kepada menteri pendidikan dalam rangka perumusan kebijakan yang menyangkut pengembangan pendidikan tinggi kita.
MENYANTUNI ANAK-ANAK GENIUS KITA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.221 KB)

Abstract

       Pada tggl 11 s/d 13 Januari 1996  Forum Komunikasi Pembinaan dan Pengembangan Anak Indonesia (FK-PPAI) akan menyelenggarakan musyawarah nasional ke-2 bertempat di Jakarta dan diteruskan di Bogor.  Adapun tema musyawarah nasional yang diambil kali ini ialah "pemantapan peran masyarakat di dalam pelaksanaan pembinaan dan pengembangan anak dan remaja Indonesia".       Kiranya musyawarah nasional FK-PPAI memang perlu mendapat perhatian kita bersama. Ada dua aspek yang mendukung atas perlunya perhatian terhadap musyawarah nasional yang menghadirkan beberapa menteri tersebut;  pertama,  di negara kita ini tidak banyak organisasi kemasyarakatan dan/atau organisasi sosial-pendidikan yang mau me-naruh perhatian langsung pada perkembangan potensi anak Indonesia, dan kedua,  dalam era globalisasi yang telah menimbulkan kompetisi global yang makin tajam dewasa ini perhatian terhadap pengembangan potensi anak untuk dapat berkompetisi di masa depan menjadi tuntutan mutlak yang tidak dapat dikesampingkan.       Kalau kita runut sekarang ini memang banyak problematika yang tengah dihadapi oleh anak-anak Indonesia (beserta keluarganya) pada umumnya; antara lain banyak anak-anak yang lebih asyik menonton televisi daripada membaca buku pelajaran sekolahnya, anak-anak yang belum memiliki kebiasaan membaca secara memadai,  anak-anak yang kurang kritis terhadap perkembangan lingkungan, dan sebagainya.       Salah satu problematika pada anak-anak Indonesia yang solusinya perlu segera diformulasi menyangkut pendidikan anak-anak itu sendiri, dalam hal ini adalah belum adanya santunan profesional terhadap anak-anak genius (gifted children) kita.
MEMBANGUN DENGAN PANCA TEKAD PENERANGAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.822 KB)

Abstract

       Ketika penjajah Belanda mencengkeramkan kuku-kukunya di negara kita, dan ternyata mereka juga sangat jeli untuk memanfaatkan sarana yang sangat potensial untuk menyebar luaskan informasi, siaran radio! Tentu saja saat itu orientasinya pada aspek-aspek politis.       Sebagai misal penguasa Belanda pada tahun 1925 mendirikan stasiun pemancar Bataviasche Radio Vereniging (B.R.V) di Jakarta,  atau pada tahun 1934 mendirikan Nederlands Indishe Radio Omroep Maatchappij (NIROM) yang merupakan perkumpulan radio Belanda.  Tentu saja materi siarannya tidak pernah lepas dari kepentingan politis pihak penjajah.       Disamping materi siarannya dapat dijadikan sebagai sarana komunikasi antar orang-orang Belanda (Nederlander), juga dimaksudkan untuk memberikan pengaruh pada bangsa Indonesia agar supaya timbul konflik ideologis pada masyarakat Indonesia. Tidak diragukan,  sarana yang  potensial dan efektif ini memberikan keuntungan politis yang tidak sedikit bagi pemerintah Belanda waktu itu.       Keadaan ini ternyata telah mampu membangkitkan semangat putra-putri bangsa untuk merintis pemanfaatan broadcasting (siaran) bagi kepentingan bangsa sendiri.
MEMBENAHI PERATURAN PENDIDIKAN KITA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1998: MAJALAH PUSARA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.161 KB)

Abstract

       Mengapa  pendidikan nasional Indonesia  berjalan  sangat lamban dan terkesan kurang energi?  Ya, karena banyak peraturan pendidikan yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan alam dan jaman!  Itulah salah satu manifestasi dari "Teori Legalistik" yang dapat kita kembangkan untuk membuat klarifikasi atas berbagai permasalahan menyangkut lambannya perjalanan pendidikan nasional kita.       Seperti sudah kita ketahui dan kita sadari bersama bahwa sesung-guhnya perjalanan pendidikan nasional kita relatif lamban,  baik kalau dibandingkan dengan perjalanan pendidikan di negara-negara manca pada umumnya maupun kalau dibandingkan dengan tuntutan kemajuan masyarakat.      Secara konkret kita bisa membandingkannya dengan tetangga kita yang paling dekat;  Malaysia misalnya.  Sekarang penduduk Indonesia sekitar 200 juta jiwa, sedangkan penduduk Malaysia hanya sepersepuluhnya saja. Meskipun demikian ternyata jumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Amerika Serikat (AS) setara dengan jumlah mahasiswa Malaysia.  Padahal, seharusnya jumlah mahasiswa Indonesia mencapai sepuluh kali lipat daripada mahasiswa Malaysia. Sepuluh s/d dua puluh tahun lalu banyak mahasiswa Malaysia yang bersekolah dan menempuh studi lanjut di Indonesia;  misalnya UGM Yogyakarta, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ITB Bandung, IPB Bandung dan UI Jakarta. Sekarang justru banyak mahasiswa Indonesia yang menempuh studi lanjut di Malaysia;  misalnya di Universiti Malaya (UM) Kuala Lumpur, Universiti Pertanian Malaysia (UPM) Selangor, dsb.       Dari ilustrasi konkret tersebut  tergambar jelas betapa lambannya perjalanan pendidikan nasional kita;  dan hal itu tidak dapat dilepaskan dari materi peraturan pendidikan yang oleh banyak kalangan dinilai tidak antisipatif dan tidak lagi produktif.
RAHASIA UMUR PANJANG KORAN KR:OBYEKTIVITAS DAN NASIONALISME Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.645 KB)

Abstract

       KA-ER, demikian nama "beken" harian 'Kedaulatan Rakyat' kita yang dengan setia senantiasa siap mengunjungi rumah ke rumah. Dia tidak pernah marah walau dipajang diterik panas sinar mentari, atau dilempar di atas pagar, atau pula diselipkan lewat bawah daun pintu,  atau diletakkan begitu saja di atas lantai hanya sekedar untuk menemui pembaca setianya.       Tanpa terasa kemarin itu,  27 September 1984  usia KR genap 39 tahun. Hanya terpaut selama 41 hari dengan usia kemerdekaan negara kita, dan hanya terpaut selama 16 hari dengan usia RRI sebagai kawan bergumul untuk mengkomunikasikan berita, pesan sekaligus nilai-nilai kepada khalayak.  Walaupun  (barangkali) belum bisa  disebut sebagai  media tulis tertua,  tetapi di negara kita usia yang hampir lima windu ini bisa mengantarkan KR kepada barisan 'koran tua' dan atau 'koran tertua' dengan segala kesenioritasannya.       Banyak koran atau majalah  yang lahirnya hampir bersamaan  de-ngan KR, tetapi banyak pula di antaranya yang gagal mempertahankan diri sehingga tidak dikaruniai umur panjang. Ada yang pindah haluan, memoles misi, mati secara perlahan atau tiba-tiba saja menstop edisi-nya sebagai edisi terbaru sekaligus edisi terakhir tanpa dikompromikan sebelumnya.       Kenapa hal ini dapat terjadi?  Salah satu sebabnya adalah  karena negara kita dikepung lautan sehingga bermacam-macam angin bertiup dari segala penjuru yang menyebabkan sangat sering terjadinya "per-gantian musim".