Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Prevalence of Anemia and Its Association with Dysmenorrhea Severity Among Female Students: An Epidemiological Study Winarni; Nukhbatul Bidayati Haka; Lenny Irmawaty Sirait; Raudhatul Munawarah; Mega Octamelia
Bulletin of Inspiring Developments and Achievements in Midwifery Vol. 1 No. 2 (2024): December, 2024
Publisher : CV. Get Press Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69855/bidan.v1i1.72

Abstract

Dysmenorrhea refers to menstrual pain frequently encountered by adolescent girls, which can significantly disrupt their daily activities. The severity of dysmenorrhea can be influenced by factors such as anemia and nutritional status. A survey conducted among 46 high school and vocational students revealed that 39 students reported experiencing menstrual pain, while 7 did not. Additionally, students expressed feelings of fatigue, exhaustion, lethargy, and weakness during their menstrual periods.The objective of this study was to investigate the correlation between the occurrence of anemia and the intensity of dysmenorrhea among high school/vocational students. Utilizing an analytical survey method with a cross-sectional design, the study included a population of 306 students, from which a random sample of 73 was selected. Data were gathered using questionnaires. The findings indicated that only a few students suffered from severe dysmenorrhea, yet more than half exhibited signs of anemia. A significant relationship was identified between anemia and the severity of dysmenorrhea among the participants.In conclusion, the study highlights that anemia is associated with increased dysmenorrhea severity. It emphasizes the need for schools to enhance health facilities for female students experiencing dysmenorrhea and to provide education on the importance of reproductive health.
Anemia Incidence in Adolescent Girls Yaumil Fauziah; Nukhbatul Bidayati Haka; Mega Octamelia
Bulletin of Inspiring Developments and Achievements in Midwifery Vol. 1 No. 2 (2024): December, 2024
Publisher : CV. Get Press Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69855/bidan.v1i1.73

Abstract

Anemia in adolescent girls is a major public health problem that can persist into adulthood and contribute to increased maternal mortality, prematurity, low birth weight, and perinatal death. Data from the Padang City Health Office reported that the prevalence of anemia among adolescent girls at vocational high schools (SMKN) reached 37.5%. This study aimed to identify risk factors associated with anemia among adolescent girls at SMKN in 2019. A case–control study was conducted from January to March 2019 involving female students in grades X and XI. The sample consisted of 32 anemia cases and 32 non-anemia controls. Hemoglobin levels were measured using the Easy Touch GCHb device. Dietary intake of protein, vitamin C, and iron was assessed using a Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQFFQ), while infectious diseases were identified through questionnaires. Data were analyzed using univariate analysis and bivariate analysis with Chi-square tests and Odds Ratios. The results showed that protein intake (p = 0.00; OR = 7.667), vitamin C intake (p = 0.00; OR = 5.000), and infectious diseases (p = 0.01; OR = 3.571) were significantly associated with anemia. Iron intake was not identified as a significant risk factor (p = 0.64; OR = 1.552). In conclusion, anemia prevalence among adolescent girls at SMK Negeri 03 Padang remains high. Efforts to improve nutritional intake, particularly protein, vitamin C, and iron, are strongly recommended to reduce anemia risk and improve adolescent health outcomes.
POLA ASUH OPTIMAL MELALUI EDUKASI GIZI DI DAERAH PESISIR Mega Octamelia; Tri Astuti Sugiyatmi; Yeti Maretha; Selvia Febrianti; Teresia Suminta Rotua Situmorang
Borneo Community Health Service Journal VOLUME 5 NOMOR 2 TAHUN 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/neotyce.v5i2.6341

Abstract

Status gizi didefinisikan sebagai keadaan fisiologis seseorang yang dihasilkan dari hubungan antara asupan dan kebutuhan zat gizi serta dari kemampuan tubuh untuk mencerna, menyerap, dan menggunakan zat gizi tersebut. Status gizi pada anak akan mempengaruhi kualitas hidup anak. Keadaan status gizi anak merupakan penentu keberhasilan pembangunan suatu negara atau Human Development Index (HDI).Anak usia satu hingga lima tahun berada pada tahap perkembangan yang rentan dan krusial ketika sel-sel otak mereka tumbuh dan berkembang lebih cepat daripada tahap pertumbuhan sebelumnya. Masalah gizi pada balita dapat mengakibatkan   gangguan   kesehatan   dan kesejahteraan balita.  Asupan makanan pada anak dapat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua secara umum atau oleh pola asuh secara khusus (misalnya praktik pengasuhan makanan). Pentingnya pengetahuan orang tua terhadap asupan makanan sehat dapat meningkatkan praktik pengasuhan anak sehingga berdampak pada pola makan dan perilaku makan anak. Pelaksanaan kegiatan ini terdiri dari Identifikasi Kebutuhan, Perencanaan Kegiatan, Koordinasi dan Komunikasi, Penyusunan Materi dan Media Edukasi serta Pelaksanaan Kegiatan berupa penyuluhan tentang gizi dan pemberian makanan tambahan berupa telur. Kegiatan ini dilaksanakan di RT. 21 Tanjung Pasir, Kelurahan Mamburungan Timur. Peserta yang berpartisipasi sebanyak 25 peserta. Diakhir kegiatan peserta diberi kesempatan untuk bertanya terkait materi gizi yang telah disampaikan. Hasil evaluasi didapatkan bahwa topik yang disampaikan cukup menarik yang dapat dilihat dari antusias masyarakat yang terlibat saat sesi tanya jawab.
KETERLIBATAN AYAH DALAM PENGASUHAN DENGAN SOSIALISASI DAN KEMANDIRIAN ANAK USIA 4-6 TAHUN Ain Syahrani; Mega octamelia; Eka Darmayanti Putri Siregar
Journal of Borneo Holistic Health Vol 8, No 2 (2025): JOURNAL OF BORNEO HOLISTIC HEALTH
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/borticalth.v8i2.7132

Abstract

Masa usia dini adalah periode pertumbuhan dan perkembangan anak yang sangat cepat. Menurut WHO lebih dari 70 juta anak di Asia Tenggara tidak mencapai potensi perkembangan optimal karena salah satu penyebabnya adalah rendahnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan. Indonesia merupakan negara peringkat ketiga dengan keterlibatan ayah yang rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan keterlibatan ayah dalam pengasuhan dengan sosialisasi dan kemandirian anak usia 4-6 tahun di TK ABA II. Penelitian kuantitatif ini menggunakan pendekatan korelasional yang dilaksanakan di TK ABA II pada bulan Juni 2025. Populasi penelitian ini berjumlah 96 responden. Sampel setelah menggunakan perhitungan teknik purposive sampling berjumlah 78 ayah. Pengumpulan data menggunakan kuesioner keterlibatan ayah, sosialisasi dan kemandirian anak yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Hasil penelitian memperlihatkan sebagian besar keterlibatan ayah dalam pengasuhan sangat terlibat yaitu 46 ayah (59,0%) dan sebagian besar anak usia 4-6 tahun memiliki sosialisasi dan kemandirian cukup yaitu 63 anak (80,8%). Analisis data dengan uji gamma menunjukkan p-value 0,007 yang mengindikasikan adanya hubungan signifikan antara keterlibatan ayah dalam pengasuhan dengan sosialisasi dan kemandirian anak usia 4-6 tahun di TK ABA II. Penelitian ini menyarankan agar orang tua, khususnya ayah, lebih aktif terlibat dalam kegiatan anak, serta perlunya program yang mendorong keterlibatan ayah.