Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search
Journal : MATHEdunesa

ABSTRAKSI REFLEKTIF SISWA BERKEMAMPUAN MATEMATIKA TINGKAT TINGGI DALAM PEMECAHAN MASALAH LINGKARAN Fahilan Nur Bachtiar; Susanah Susanah
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.533 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n2.p266-278

Abstract

Abstraksi reflektif dikenal sebagai karakteristik yang paling relevan dalam hal aspek kognitif yakni membantu siswa mengkonstruksi konsep baru dari banyak konsep yang telah ia pelajari. Dengan mengusung tema abstraksi refelektif, artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan abstraksi reflektif siswa berkemampuan matematika tingkat tinggi dalam menyelesaikan permasalahan lingkaran. Subjek pada penelitian ini adalah 2 siswa kelas XI SMAN 1 Manyar tahun pelajaran 2020/2021 yang merepresentasikan kemampuan matematika tingkat tinggi. Instrumen yang digunakan adalah tugas abstraksi reflektif dan pedoman wawancara. Teknik analisis data yang dilakukan untuk menganalisis hasil tes pemecahan masalah adalah dengan menggunakan indikator abstraksi reflektif penelitian sedangkan data hasil wawancara dianalisis secara kualitatif dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan abstraksi reflektif siswa berkemampuan matematika tingkat tinggi dalam menyelesaikan masalah lingkaran telah melalui empat level abstraksi reflektif yaitu Level Recognition, Level Representation, Level Structural Abstraction, dan Level Structural Awareness. Pada level Recognition siswa berkemampuan matematika tingkat tinggi menjabarkan informasi dan konsep yang dia pahami dari permasalahan lingkaran. Pada level Representation siswa berkemampuan matematika tingkat tinggi mengubah permasalahan lingkaran kedalam bentuk simbol atau grafik. Pada level Structural Abstraction, siswa berkemampuan matematika tingkat tinggi menyelesaikan masalah dengan mengunkan informasi dan konsep pada permasalahan lingkaran tersebut. Pada level Structural Awareness, siswa berkemampuan matematika tingkat tinggi dapat menyebutkan alternatif strategi, kesulitan metode yang digunakan, dan menyelesaikan masalah lain yang sejenis tanpa kesusahan pada permasalahan lingkaran tersebut.
Profil Berpikir Divergen Siswa SMP dalam Pemecahan Masalah Open-ended ditinjau dari Gaya Belajar Global-Analitik Intanalisa Hariyono; Susanah Susanah
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.057 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n2.p289-300

Abstract

Berpikir divergen adalah kemampuan berpikir terbuka dalam menemukan berbagai macam ide/solusi atas suatu masalah sehingga menghasilkan jawaban yang benar dan penyelesaian yang logis. Pemecahan masalah yang sesuai dengan prinsip berpikir divergen yaitu pemecahan masalah open-ended. Perbedaan gaya belajar global dan analitik dapat mempengaruhi siswa dalam mencari ide penyelesaian dari suatu masalah. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan profil berpikir divergen siswa dalam pemecahan masalah matematika open-ended ditinjau dari gaya belajar global-analitik. Pengumpulan data penelitian menggunakan Angket Gaya Belajar (AGB), Tugas Pemecahan Masalah Open-ended (TPMO) dan pedoman wawancara. Subjek dalam penelitian yakni satu siswa dengan gaya belajar global dan satu siswa dengan gaya belajar analitik. Dari hasil analisis dan pembahasan siswa bergaya belajar global pada aspek fluency dapat memberikan dua jawaban berbeda dan relevan dengan masalah. Pada aspek flexibility siswa membuat dua cara/metode penyelesaian yang relevan dengan masalah yang tidak jauh berbeda cara penyelesaiannya. Pada aspek originalitiy siswa memberikan cara/metode penyelesaian yang berbeda namun tidak relevan dengan masalah. Pada aspek elaboration siswa kurang memperhatikan hal-hal detail seperti satuan panjang dan cara memperoleh jawaban. Siswa bergaya belajar analitik pada aspek fluency siswa memberikan dua jawaban berbeda yang tertulis dan satu jawaban secara lisan saat wawancara yang relevan dengan masalah. Pada aspek flexibility siswa memberikan dua cara/metode penyelesaian yang relevan dengan masalah. Pada aspek originality siswa memberikan cara/metode penyelesaian yang berbeda dan unik yang relevan dengan masalah. Pada aspek elaboration siswa menuliskan jawaban dengan detail dalam penyelesaian masalah. Kata Kunci: Berpikir Divergen, Pemecahan Masalah Open-Ended, Gaya Belajar Global, Gaya Belajar Analitik
Profil Komunikasi Matematika Siswa dalam Menyelesaikan Soal PISA Ditinjau dari Kemampuan Matematika amelia suryaningsih; Susanah Susanah
MATHEdunesa Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Mathedunesa Volume 10 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1099.501 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v10n2.p301-319

Abstract

Komunikasi matematika ialah sesuatu wujud keahlian yang begitu berarti dalam matematika. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mempelajari profil komunikasi matematika siswa dalam menuntaskan soal PISA ditinjau dari kemampuan matematika. Penelitian ini ialah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain uji kemampuan matematika, tugas komunikasi matematika tulis siswa dalam menuntaskan soal PISA, serta pedoman wawancara. Subjek dalam penelitian ini ialah 3 siswa kelas IX dengan tiap-tiap jenis ialah, satu siswa dengan keahlian matematika tinggi, satu siswa dengan keahlian matematika sedang, serta satu siswa dengan keahlian matematika rendah. Hasil dari penelitian ialah siswa dengan keahlian matematika tinggi a) menuliskan perihal yang dikenal serta ditanyakan b) menuliskan statment dalam soal ke dalam model matematika c) menuliskan ide untuk menuntaskan soal d) menuliskan langkah-langkah penyelesaian serta pemecahan dengan akurat, lengkap serta mudah/lancar. Sebaliknya siswa dengan keahlian matematika rendah dalam a) menuliskan/ melaporkan apa saja yang dikenal serta ditanyakan secara akurat, lengkap, serta mudah/lancar. Berikutnya tidak akurat, tidak lengkap serta tidak lancar dalam b) menuliskan statment dari soal ke dalam model matematika c) menuliskan ide untuk menuntaskan soal d) menuliskan langkah- langkah penyelesaian serta pemecahan. Penelitian ini mencerminkan bahwa keahlian/kemampuan matematika pengaruhi siswa untuk memproses data, salah satunya pada saat mengomunikasikan ide atau gagasan dalam menuntaskan soal PISA. Kata Kunci: Komunikasi Matematika, Soal PISA, Kemampuan Matematika.
Analisis Argumen Matematika Siswa SMA Ditinjau dari Gaya Kognitif Visualizer-Verbalizer Nabilah Syadza Mahdiyyah; Susanah Susanah
MATHEdunesa Vol 11 No 1 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.813 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n1.p80-96

Abstract

Kemampuan berargumen merupakan salah satu hal penting untuk dimiliki siswa karena dapat mengukur pemahaman siswa. Dalam hal pembelajaran matematika, siswa yang menyampaikan argumen matematika dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan matematika dan memahami konsep matematika siswa. Salah satu studi untuk mengidentifikasi serta menilai kualitas argumen matematika siswa ialah Toulmin Argumentation Pattern. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis argumen matematika siswa SMA ditinjau dari gaya kognitif visualizer-verbalizer dengan menggunakan teori argumen Toulmin. Jenis penelitian ini yaitu deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian terdiri dari 4 orang siswa kelas XI SMA dengan komposisi 2 siswa bergaya kognitif visualizer dan 2 siswa lainnya bergaya kognitif verbalizer. Instrumen yang digunakan ialah tes gaya kognitif, tes argumen matematika dan pedoman wawancara. Data yang diperoleh dari tes argumen matematika akan di analisis berdasarkan teori argumen Toulmin dimana terdiri atas 6 komponen yaitu data, claim, warrant, backing, qualifier, dan rebuttal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa bergaya kognitif visualizer dan verbalizer mampu menunjukkan semua komponen argumen pada soal tes argumen matematika nomor 1 dan tidak berhasil menunjukkan rebuttal pada soal tes argumen matematika nomor 2. Siswa bergaya kognitif visualizer menunjukkan warrant bertipe induktif. Sedangkan siswa bergaya kognitif verbalizer mampu menunjukkan warrant bertipe induktif, structural-intuitif dan deduktif. Dalam menyusun argumennya, siswa bergaya kognitif visualizer menunjukkan lebih sering menggunakan simbol-simbol dengan bahasa yang singkat tapi langsung ke tujuan. Berbeda dengan siswa bergaya kognitif verbalizer yang lebih bermain dengan kata-kata dan mampu memberikan kesimpulan akhir dengan jelas dan rinci dengan bahasa yang mudah dipahami.
High School Students’ Generalization Viewed from Logical-Mathematical Intelligence Jihan Nurilla; Susanah Susanah
MATHEdunesa Vol 11 No 1 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.86 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n1.p111-127

Abstract

Generalization is an important element in understanding, recognizing, and examining mathematical situations. Students' generalization processes can be analyzed according to Mason's four stages of the generalization process, including the perception, expression, symbolic expression, and manipulation of generality. One of the things that may cause differences in students' generalization processes is logical-mathematical intelligence. This research aims to describe high school students' generalization processes in terms of logical-mathematical intelligence. This research is using a descriptive qualitative method. The subjects of this study consisted of 3 high school students in Surabaya with high, moderate, and low logical-mathematical intelligence. The data is obtained from the Logical-Mathematical Intelligence Questionnaire and Generalization Task. The material used in the Generalization Task is curved-face solid. The results of this study indicate that the student with low logical-mathematical intelligence has reached the stage of identifying patterns or regularity in the given information, but the student doesn't use those patterns to determine the next term. In other words, the student with low logical-mathematical intelligence has only reached the stage of perception of generality. The student with moderate logical-mathematical intelligence has reached the stage of identifying patterns or regularity in the given information and using those patterns to determine the next term but the student doesn’t reach the stage of formulating the general formula of the pattern that has been found. In other words, the student with moderate logical-mathematical intelligence has only reached the stage of perception and expression of generality. The student with high logical-mathematical intelligence has reached the stage of identifying patterns or regularity and used those patterns to determine the next term. In addition, the student with high logical-mathematical intelligence also reaches the stage of formulating general formulas of patterns that have been found and using the general formula to solve the given problem In other words, the student with high logical-mathematical intelligence has reached all the stages which is perception, expression, symbolic expression, and manipulation of generality.
PROFILE OF STUDENTS’ MATHEMATICAL CONNECTION ABILITY IN SOLVING MATHEMATICS PROBLEMS BASED ON VISUALIZER AND VERBALIZER COGNITIVE STYLE Nikmatus Savira Aprilianda; Susanah Susanah
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.169 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p328-340

Abstract

Mathematical connection ability is the ability of students to connect mathematical ideas and concepts in a structured way to solve various problems both inside and outside mathematics. Mathematical connection ability plays an important role in the process of solving mathematical problems. Cognitive style is one of the factors that effect mathematical connection abilities. This research is a qualitative descriptive study that aims to describe the students' mathematical connection skills with visualizer and verbalizer cognitive styles in solving mathematics problems. The research subjects consisted of two grade IX students who each had visualizer and verbalizer cognitive styles. The instrument used was the researcher herself, VVQ (visualizer verbalizer questionnaire), a mathematical connection ability test, and interview guidelines. In this study, the material of plane area and Pythagorean theorem are used for test mathematical connection skills. The results obtained are students with visualizer cognitive style get a good category for their mathematical connection ability in solving mathematics problems because they meet seven good indicators and one sufficient indicator from the mathematical connection ability in solving problems indicator, while students with verbalizer cognitive style get sufficient categories because they meet three good indicators, four sufficient indicators, and one less indicator from mathematical connection ability in solving problems indicator. Therefore, teachers are expected to be able to train students with questions in the context of everyday life that have a higher level of mathematical connection so that they can improve their connection skills and also train with variety exercices presentation so student with each cognitive style can be trained to understand a given problem.
PROFIL KEMAMPUAN ABSTRAKSI REFLEKTIF SISWA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH GEOMETRI DITINJAU DARI GAYA BELAJAR nahdliyah fajriyah; Susanah Susanah
MATHEdunesa Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (823.098 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p458-473

Abstract

Abstraksi reflektif ialah kegiatan penataan kembali secara vertikal konsep matematika yang baru dari konsep matematika yang telah tuntas dipelajari sebelumnya saat kegiatan pembelajaran. Kemampuan abstraksi sangat diperlukan dalam proses pemecahan masalah. Cara siswa untuk menerima informasi yang baru dan proses yang digunakan untuk belajar disebut dengan gaya belajar. Gaya belajar seorang siswa memiliki keterkaitan terhadap kemampuan abstraksinya sementara terdapat tiga tingkatan abstraksi yang salah satunya merupakan abstraksi reflektif, maka dari itu gaya belajar juga mempengaruhi asbtraksi reflektif siswa. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan tentang kemampuan abstraksi reflektif siswa dengan gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik dalam menyelesaikan suatu masalah geometri. Subjek dari penelitian ini merupakan tiga siswa kelas IX yang masing-masing memenuhi gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti, dan instruman pendukung dalam penelitian ini adalah angket gaya belajar, tes kemampuan abstraksi reflektif dalam menyelesaikan masalah geometri, dan pedoman wawancara. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah materi luas tembereng dan juring lingkaran. Hasil yang didapatkan adalah siswa dengan gaya belajar visual dan kinestetik mampu memenuhi semua level kemampuan abstraksi reflektif. Siswa dengan gaya belajar auditori memenuhi semua level kemampuan abstraksi reflektif, namun terdapat kekurangan pada salah satu indikator yaitu menemukan alternatif strategi yang lain untuk menyelesaikan permasalahan. Oleh karena itu, guru diharapkan dapat melatih siswa dengan soal-soal pemecahan masalah yang memiliki tingkat abstraksi reflektif lebih tinggi sehingga dapat meningkatkan kemampuan abstraksi reflektif siswa, serta guru diharapkan dapat membiasakan mengajar dengan model pembelajaran yang beragam karena siswa memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Kata Kunci: Abstraksi Reflektif, Pemecahan Masalah, Gaya Belajar.
Berpikir Reflektif Siswa SMP dalam Menyelesaikan Soal AKM Numerasi Ditinjau dari Gaya Kognitif Sistematis-Intuitif 'Aini, 'Adiilah Qurratul; Susanah, Susanah
MATHEdunesa Vol. 13 No. 1 (2024): Jurnal Mathedunesa Volume 13 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/mathedunesa.v13n1.p283-299

Abstract

Berpikir Kritis Matematis Siswa dalam Menyelesaikan Soal AKM Numerasi Konten Geometri dan Pengukuran Ditinjau dari Gaya Kognitif Suwito, Gita Ramdani; Susanah, Susanah
MATHEdunesa Vol. 13 No. 1 (2024): Jurnal Mathedunesa Volume 13 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/mathedunesa.v13n1.p166-183

Abstract

This study aims to describe students' critical thinking in solving AKM Numeracy Geometry Content and Measurement problems based on Field Independent and field dependent cognitive styles. The subjects of this study were one field-independent cognitive-style student and one field-dependent cognitive-style student who had the same sex and an equivalent level of mathematical ability. The instruments used are cognitive style tests, AKM question assignments and interview guidelines. The results of this study show that field independent cognitive style students meet all critical thinking indicators in solving AKM numeracy geometry content and measurement problems which are divided into six aspects of skills, namely interpretation, analysis, evaluation, inference, explanation and self-regulation, while field dependent cognitive style students only meet some critical thinking indicators contained in the evaluation aspect, inference and explanation.
Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMP dalam Menyelesaikan Masalah Kesebangunan Berdasarkan Kemampuan Matematika Intan, Nuril; Ismail, Ismail; Susanah, Susanah
MATHEdunesa Vol. 13 No. 2 (2024): Jurnal Mathedunesa Volume 13 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/mathedunesa.v13n2.p350-366

Abstract

The aim of this research is to describe junior high school students' critical thinking skills in solving congruence problems based on mathematical abilities. Critical thinking skills are a person's cognitive process in interpreting, analyzing, evaluating, inferring, explaining and self-regulating in the process of making reflective and focused judgments. This research is a qualitative descriptive study. The research took place at As - Syafiah Loceret Islamic Middle School, Nganjuk. Subjects were selected based on their level of mathematical ability, namely one student each with high, medium and low mathematical ability. Researchers act as the main instrument and data collector. Data collection techniques using mathematics ability tests, mathematics assignments, and semi-structured interviews. The research results showed that junior high school students in solving congruence problems demonstrated interpretation skills: categorization and decoding; analytical skills: examination of ideas, identification of arguments and analysis of arguments; evaluation skills : claim assessment and argument assessment; inference skills: questioning claims, alternative thinking and drawing conclusions, explanation skills: presentation of problems, justification of procedures and articulation of arguments, self-regulation skills: self-research. Students' critical thinking skills appear optimally in students with high mathematical abilities as evidenced by the emergence of all sub-indicators of critical thinking skills, less so in students with moderate mathematical abilities as evidenced by less than optimal identification of arguments for certain questions and the absence of alternative thinking for the mathematical tasks presented. Meanwhile, students with low mathematical abilities find it difficult so that their analysis, evaluation, inference, explanation and self-regulation skills are not perfect.