p-Index From 2021 - 2026
7.176
P-Index
This Author published in this journals
All Journal FORUM Interaksi Online
Nurist Surayya Ulfa
Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP

Published : 90 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 89 Documents
Search
Journal : Interaksi Online

Loyalty Model On Youth Instant Messaging Brand Usage Gustiasa, Muhammad; Surayya Ulfa, S.Sos, M.Si, Nurist
Interaksi Online Vol 4, No 3: Agustus 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.329 KB)

Abstract

Instant messaging is one of communications service form that are often used by youth and even replace the short messages service (SMS). The widespread use of instant messaging led to many brands competing in Indonesia to get consumers, data from each brand instant messaging describes an increase trend of continuous usage through strategic communications strategy by each brand. In fact, brand switching on brand instant messaging compete does not require cost at all (zero cost). Moreover, consumer behavior tend to complement each other brand instant messaging by use two or more brand instant messaging at the same time. So, the research on consumer loyalty on brand instant messaging use by youth is unique to implement. This research aim is to test the model of brand loyalty on brand instant messaging usage by youth. This quantitative research apply 5 brand instant messaging as research object that test 5 hypothesis with 6 variables which has formulated a consumer loyalty model based on literature review and state of the art that has been explained. Total respondents on this research are 106 persons, primary data are calculated by Structural Equation Model (SEM) through AMOS application. Through validity and reliability test, normality data test, conformance model test, and hypothesis test this research result model of instant messaging brand loyalty consumer that have been complied in the beginning of this research do not fit. From 5 hypothesis only 2 hypothesis that have significant effect The accepted hypothesis on model test on this research is hypothesis 1 that contains variable information exposure of marketing communications strategy (MC) brand instant messaging and variable knowledge level of product attribute (AP) brand instant messaging with significant number 0.002 which appropriate with marketing communication effect theory that imply on product information. The other accepted hypothesis on this model test is hypothesis 5 that contains variable consumer satisfaction level (SAT) and social support perception (SOC) with brand instant messaging consumer loyalty (LOY) with significant number 0.000 which appropriate with expectations confirmation model and social support theory.
Effect of Advertising Exposure, Sales Promotion and Packaging towards Purchase Request of Kinder Joy to Childrens Pudyastuti, Lintang Dwi; S,Sos, M.Si, Nurist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.853 KB)

Abstract

Marketing activities are so exist nowaday for company profit of marketers. One of them is for brand of snacks children. The marketers are trying so hard to attract children’s attention. Moreover, children are easy targets to affected because their thought process and the logic still in the developing stages. So, all kind of marketing activities maximized its use by the marketer. Some of them such as advertising impressions on television, the addition of sales promotion or packaging on snacks. The impact arising from the strategy of marketing activities is the level of consumption of children at these snacks are high. Whereas most of that snacks are not good for their health. This study aims to determine the influence of television advertising (X1), sales promotion (X2) and packaging (X3) against the purchase request Kinder Joy to Children (Y). This study uses the theory Overall Model Of Consumer Behavior with supporting concepts from Shimp about ads and sales promotion and also from Peter and Olson about consumer behavior. Subjects were 50 students from SD N 2 Banyumanik Semarang, and non-probability sampling is obtained in the form of purposive sampling. Methods of data collection using questionnaires with data analysis statistical test multiple linear regeresi. The first hypothesis test, demonstrate the significant value of TV advertising exposure to purchase request 0,018 ( 0.05) so it can be interpreted that the variable is not significant. Based on the research results, it can be concluded that TV advertising and sales promotion affect the purchase request of Kinder Joy. These findings support the theory Overall Model Of Consumer Behavior. That is, the higher exposure to TV advertising and sales promotion, make higher demand for the purchase of Kinder Joy to children. But not for packaging because the findings were not significant and this finding is supported by the concept of Peter and Olson regarding consumer behavior.
Correlation between TV's ads, demographic factors and Children Materialism Utama, Wahyu Satria; Ulfa, Nurist Surayya; Herieningsih, Sri Widowati; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.9 KB)

Abstract

This study concerns about children’s materialism. TV’s advertising is acknowledged to be an extensive carrier of materialism. Previous research said demographic factors like gender, age and SES are influencing children’s materialism. Based on survey to 96 children age 12-14 years old in Semarang, Indonesia, the findings indicate TV’s advertising and demographic factors influences materialism on children. This study showed exposure of TV’s advertising and demographic factors are significant to children’s materialism.
Pengaruh Terpaan Iklan HiLo School di Televisi dan Tingkat Konformitas Kelompok Sebaya Terhadap Persepsi Anak Tentang Tubuh Tinggi. ., Luthfiana Dewi; S.Sos, M.Si, Nurist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.057 KB)

Abstract

Tingginya intensitas iklan pada jam tayang anak menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan mengingat anak-anak merupakan khalayak yang rentan terhadap pengaruh iklan televisi karena kemampuan kognitif mereka yang terbatas. Karena keterbatasan inilah maka anak-anak merupakan kelompok yang sangat mudah dipersuasi. Namun, iklan di televisi bukanlah satu-satunya sarana yang membentuk dan mempengaruhi persepsi khalayak, persepsi juga bisa muncul karena tingkat konformitas kelompok sebaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh antara terpaan iklan HiLo School di televisi ( ) dan tingkat konformitas kelompok sebaya ( ) terhadap persepsi anak tentang tubuh tinggi (Y). Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Advertising Exposure Theory dengan teori pendukung Priming Theory dan Social Comparison Theory. Tipe penelitian dalam penelitian ini adalah ekplanatori. Teknik sampel yang digunakan untuk menentukan sampel adalah non probability sampling, dengan total sampel 50 responden. Alat yang digunakan untuk analisi data adalah uji satistik regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan variabel terpaan iklan memiliki pengaruh sebesar 4,1% terhadap persepsi anak tentang tubuh tinggi. Namun pengaruh antara terpaan iklan hilo school dan persepsi anak tentang tubuh tinggi tidaklah signifikan. Hal ini ditunjukkan pada angka signifikansi sebesar 0,160 dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,526. Hasil penelitian ini menolak Advertising Exposure Theory dan teori pendukung Priming Theory. Selanjutnya hasil penelitian menunjukkan variabel tingkat konformitas kelompok sebaya memiliki pengaruh sebesar 24,7 % terhadap persepsi anak tentang tubuh tinggi. Pengaruh antara tingkat konformitas kelompok sebaya terhadap persepsi anak tentang tubuh tinggi merupakan pengaruh yang signifikan. Hal ini ditunjukkan pada angka signifikansi sebesar 0,000 dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,295. Dengan demikian semakin tinggi tingkat konformitas kelompok sebaya, semakin baik/positif persepsi anak tentang tubuh tinggi. Hasil penelitian ini mendukung Social Comparison Theory.
Hubungan Terpaan Berita Kekerasan Seksual Pada Anak di Televisi dan Tingkat Kecemasan Orang Tua dengan Intensitas Komunikasi Orang Tua dan Anak Cinantya, Adinda Sekar; Ulfa, Nurist Surayya; Herieningsih, Sri Widowati; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.695 KB)

Abstract

Angka tindakan pelecehan seksual pada anak semakin meningkat dari tahun ke tahun. Dalam tiap program berita di televisi hampir selalu memberitakan tentang kasus pelecehan seksual yang menimpa anak-anak. Berbagai berita tersebut dapat memberi pengetahuan bagi ora ng tua untuk mengetahui modus kejahatan yang sedang bayak terjadi, namun juga dapat menjadikan orang tua cemas pada keselamatan diri anak-anak mereka. Rasa cemas tersebut dapat mendorong orang tua untuk berbagi informasi kepada anak mengenai kejahatan yangbanyak terjadi, khususnya kekerasan seksual.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara terpaan berita kekerasan seksual pada anak di televisi dan tingkat kecemasan orang tua dengan intensitas komunikasi orang tua dan anak. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Dependensi Efek Media Massa dan Game Theory. Penelitian ini mewawancarai sebanyak 60 orang tua yang memiliki anak usia 8-11 tahun dan pernah mendapat terpaan berita kekerasan seksual dari televisi dalam 4 bulan terakhir. Analisa kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah Koefisien Korelasi Kendall. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara terpaan berita kekerasan seksual pada anak di televisi dengan tingkat kecemasan orang tua, dimana nilai signifikannya sebesar 0,000 dan nilai koefisien korelasi Kendall sebesar 0,569. Selanjutnya, terdapat hubungan pula antara tingkat kecemasan orang tua dengan intensitas komunikasi orang tua dan anak, dimana nilai signifikannya 0,001 dan nilai koefisien korelasi Kendall sebesar 0,337.Kata kunci: terpaan berita, kecemasan, komunikasi
PENGARUH DURASI BERMAIN ADVERGAME TERHADAP LEVELS OF COMPREHENSION (TINGKAT PEMAHAMAN) DARI BRAND MESSAGE (PESAN MEREK) Ghany, Drasthya Estha; Ulfa, Nurist Surayya; Setiabudi, Djoko; Purbaningrum, Dwi
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.478 KB)

Abstract

Cool Cubes, sebuah advergame yang dirancang khusus untukmenyampaikan brand message (pesan merek) dari Lipton Ice Tea. Brand message(pesan merek) di dalam advergame ini disampaikan melalui konten-konten yangada di dalam advergame. Advergame sendiri merupakan salah satu alatkomunikasi pemasaran yang sudah lama digunakan di luar negeri, tetapi masihjarang digunakan di Indonesia.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh durasi bermainadvergame terhadap levels of comprehension (tingkat pemahaman) dari brandmessage (pesan merek). Dengan pendekatan positivism, penelitian ini digunakanuntuk menjelaskan relasi sebab-akibat antar 2 variabel, dengan total 24 indikator.Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah eksperimental dengan tekniknon-probability sampling dengan jumlah total populasi sampling sebanyak 30sample. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan empat proseduryaitu uji normalitas Kolomogrov Smirnov dengan uji beda dua kali pengukuranWilcoxon dan uji normalitas Saphiro Wilk dengan analisis komparatif duakelompok beda Independent Sample T-Test sehingga ditemukan pemgaruh durasibermain advergame terhadap levels of comprehension (tingkat pemahaman) daribrand message (pesan merek).Hasil penelitian menemukan bahwa ada pengaruh antara durasi bermainadvergame terhadap levels of comprehension (tingkat pemahaman) dari brandmessage (pesan merek). Pengaruh ini ditunjukan melalui perbedaan nilai rata-ratadari levels of comprehension (tingkat pemahaman) pada dua kelompok yang diuji.Kelompok yang memainkan advergame dengan durasi yang tinggi memiliki levelsof comprehension (tingkat pemahaman) yang lebih tinggi dibandingkan dengankelompok yang memainkan advergame dengan durasi rendah.
Pengaruh Terpaan Iklan Frisian Flag Versi Superhero di Televisi, Usia Anak, dan Persepsi Realitas terhadap Permintaan Pembelian Produk Susu Frisian Flag Yogiyanti, Tiagita Reva; Ulfa, S.Sos, M.Si, Nurist Surayya
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.211 KB)

Abstract

Anak-anak merupakan pasar yang unik dan potensial. Peran anak-anak dalam pemasaran adalah sebagai influencer, mereka memiliki lebih banyak otonomi dan kekuatan dalam pengambilan keputusan di dalam keluarga. Oleh karena itu, para pemasar saling bersaing untuk membuat strategi yang tepat dan menarik dengan target sasaran anak-anak. PT Frisian Flag Indonesia ini memanfaatkan iklan di televisi sebagai sarana promosi produk susu. Salah satu iklan Frisian Flag berisi pesan fantasi yang memanfaatkan karakter superhero. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menguji faktor usia anak, dan persepsi realitas yang mengintervensi terpaan iklan televisi dengan usia anak terhadap permintaan pembelian produk susu Frisian Flag. Penelitian ini menggunakan teori Advertising Eksposure Process dan teori Children Information Processing of Advertising. Jenis penelitian ini adalah penelitian Eksplanatori. Sampel dalam penelitian ini adalah anak-anak usia SD yakni 7-12 tahun dengan ketentuan telah menonton tayangan iklan Frisian Flag versi superhero. Jumlah responden yaitu 50 orang yang diambil berdasarkan teknik purposive sampling. Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda dengan bantuan SPSS. Hasil uji hipotesis pertama, terpaan iklan Frisian Flag versi superhero di televisi tidak berpengaruh signifikan terhadap persepsi realitas dengan nilai 0,213. Uji hipotesis kedua menunjukkan variabel usia anak berpengaruh signifikan terhadap persepsi realitas dengan nilai 0,028. Uji hipotesis ketiga, variabel persepsi realitas tidak berpengaruh signifikan terhadap permintaan pembelian dengan nilai 0,906. Uji hipotesis keempat menunjukkan variabel terpaan iklan Frisian Flag versi superhero di televisi tidak berpengaruh signifikan terhadap permintaan pembelian produk susu Frisian Flag dengan nilai 0,597. Dan uji hipotesis kelima menunjukkan variabel usia anak tidak berpengaruh signifikan terhadap permintaan pembelian produk susu Frisian Flag dengan nilai 0,754.
STRATEGI KOMUNIKASI KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA DALAM KAMPANYE NASIONAL PENURUNAN PREVALENSI STUTNING Mulyadi, Ahmad; Naryoso, Agus; Yuliyanto, Muchamad; Surayya Ulfa, Nurist
Interaksi Online Vol 10, No 2: April 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting is a condition of growth failure in children due to chronic malnutrition and repeated infections in the First 1000 Days of Life (HPK). One of the causes of the high prevalence of stunting in Indonesia is due to public awareness and ignorance about stunting. The government through the Ministry of Communications and Informatics has developed a campaign communication strategy to achieve the target of reducing stunting prevalence to reach 14% in 2024. This study aims to describe and analyze the communication strategy of the national campaign to reduce stunting prevalence carried out by the Ministry of Communications and Informatics. This research uses a qualitative descriptive approach with a case study method. Data collection techniques were carried out through in-depth interviews, documentation, and observation. The concepts used are the concept of PR Campaign Planning, Public Information Model, and Multi Step Flow Communication Model. The results showed that the communication strategy of the Ministry of Communications and Informatics in the stunting campaign has gone through stages that are in accordance with the concept of PR campaign planning, starting from situation analysis, setting goals, public, messages, strategies and tactics, time scale and resources, as well as evaluation and review. The purpose of the stunting campaign is to increase public awareness and understanding of stunting. For this reason, the Ministry of Communications and Informatics disseminates information that is informative, educative, and persuasive through multi-channel communication (mass media, outdoor media, online media, social media, and direct media) with a focus on targeting young women and mothers of productive age. The implementation of the campaign is carried out under the coordinator of the Sub-directorate of Health Information and Communication by involving a third party to execute the program. The evaluation was carried out to see the campaign's achievements related to the reach and understanding of the community. As well as a review carried out to identify strategic changes that need to be made for the following year's campaign
PEMBUATAN WEBSITE MAGAZINE “IKILHO” BEKERJASAMA DENGAN EKSPRESI SUARA REMAJA ( Divisi Reporter, Videografer dan Video Editor) Renis Susani Karamina; Nurist Surayya Ulfa; M Bayu Widagdo; Adi Nugroho
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.885 KB)

Abstract

Internet saat ini menjadi media baru di dalam dunia jurnalistik. Masyarakat modern khususnya kalangan remaja sering kali menggunakan internet dalam mencari informasi, begitu pula dengan anak remaja di kota Semarang yang membutuhkan informasi seputar gaya hidup atau informasi-informasi apapun tentang kota Semarang. Dengan melihat peluang tersebut website magazine Ikilho hadir untuk memberikan informasi-informasi seputar kota Semarang dengan gaya remaja.Pada website magazine Ikilho, Seorang reporter bertugas sebagai pencari berita-berita menarik yang akan diangkat ke website sebelum di edit oleh sang editor. Selain itu dalam Website Magazine Ikilho juga terdapat videografer dan juga video editor. Videografer bertugas mengambil video untuk beberapa rubrik Ikilho, sedangkan video editor bertugas untuk mengedit hasil pengambilan video dari sang videografer untuk dikemas agar lebih bagus untuk dilihat para pengunjung website. Pada saat pelaksanaan berlangsung, ada beberapa hambatan yang dihadapi oleh Reporter, Videografer dan juga Video editor mulai dari perubahan perencanaan isi berita untuk reporter, cahaya dalam pengambilan gambar untuk videografer dan juga teknis pengeditan untuk sang video editor. Dari hasil pasca riset yang dilakukan, banyak nya pengunjung yang puas dengan isu berita dan juga dengan video-video yang disertakan di beberapa rubrik Website Magazine Ikilho. Namun ada beberapa pula yang kurang puas dengan isu berita yang diliput oleh sang reporter, namun hal tersebut adalah sebuah masukan untuk website magazine Ikilho agar lebih baik kedepannya.Kata kunci : Website Magazine, Lifestyle, Internet, Semarang, Reporter, Videografer, Video Editor, Karya Bidang.
REPRESENTASI MASKULINITAS LAKI-LAKI DALAM IKLAN PRODUK BUMBU MASAK, DETERJEN PAKAIAN, DAN SABUN PENCUCI PERALATAN MAKAN DAN MASAK Ima Putri Siti Sekarini; Triyono Lukmantoro; Nurist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.268 KB)

Abstract

REPRESENTASI MASKULINITAS LAKI-LAKI DALAM IKLAN PRODUK BUMBU MASAK, DETERJEN PAKAIAN, DAN SABUN PENCUCI PERALATAN MAKAN DAN MASAKAbstrakSetiap iklan mengandung gagasan mengenai femininitas perempuan dan maskulinitas laki-laki yang direpresentasikan dalam teks iklan tersebut. Namun, aspek maskulinitas laki-laki dalam iklan masih jarang digali. Itulah yang melatarbelakangi penelitian ini. Bagaimana iklan produk ‘untuk perempuan’, seperti produk kebutuhan rumah tangga, merepresentaikan maskulinitas laki-laki tersebut?Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika tradisi Roland Barthes untuk mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Dengan pendekatan semiotika ini, penelitian ini berusaha membongkar tanda-tanda dalam iklan bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak untuk menemukan makna berupa gagasan di balik tanda-tanda tersebut. Dibantu oleh konsep codes of television milik John Fiske, teks diurai menjadi kode-kode, yaitu suatu unit yang lebih sempit, untuk kemudian dideskripsikan dan dianalisa.Hasil penelitian menunjukkan adanya kesamaan pola pada representasi maskulinitas laki-laki yang ditemukan dari analisa terhadap iklan bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak. Maskulinitas laki-laki, dalam iklan untuk tiga jenis produk tersebut, direpresentasikan melalui sosok ayah, suami, serta pencari nafkah di mana ketiganya merupakan aspek dari sosok kepala keluarga dalam masyarakat yang hidup dengan ideologi patriarki.Key words : iklan, jender, maskulinitas, patriarkiREPRESENTATION OF MALE’S MASCULINITY IN TV COMMERCIALS FOR HOUSEHOLD PRODUCTSAbstarctIn every advertisements, including television commercials, there are always two aspects: female’s femininity and male’s masculinity. But, unfortunately, when compared to female’s femininity, male’s masculinity is still such a rare topic to be discussed and examined in gender studies field. That argument began this particular gender study. How, then, do television commercials for ‘female only’ products such as household products represent their male’s masculinity?This study make use of Roland Barthes’s semiotic approach to try to answer that question. By this means, this gender study struggles to break down the signs found in TV commercials for household products in order to discover the idea(s) behind those signs. By the help of John Fiske’s codes of television concept, text(s) were analyzed into codes, an unit(s) more restricted and specific.The result shows that there is a similarity in pattern of representation of male’s masculinity found by analyzing television commercials for household products. In television commercials for such products, male’s masculinity is represented through the use of father figure, husband figure, and responsible breadwinner figure, which the three being a huge aspect shaping the head of household figure in a society(ies) where patriarchal ideology lives.Key words: advertising, TV commercials, gender, masculinityPendahuluanPada hakikatnya, iklan merupakan salah satu bentuk komunikasi (Noviani, 2002: 22). Namun, iklan juga unik karena memiliki kemampuan mempengaruhi yang cukup kuat. Dari aspek pengaruh ekonomi, iklan terbukti telah banyak memberikan keuntungan ekonomi yang sangat besar pada perorangan atau agen yang terlibat di baliknya (Widyatama, 2007: 156). Namun, iklan tidak hanya memiliki pengaruh ekonomi saja. Dia juga memiliki pengaruh psikologis dan pengaruh sosial budaya.Dalam kaitannya dengan penelitian ini, pengaruh iklan secara sosial budayalah yang lebih disorot, di mana pesan-pesan yang ditampilkan melalui iklan akan mengkristal secara kolektif dan menjadi perilaku masyarakat secara umum. Perilaku masyarakat yang umum ini pada akhirnya akan membentuk sistem nilai, gaya hidup, maupun standar budaya tertentu.Iklan, sebagai alat (komunikasi) pemasaran yang berfungsi sebagai media untuk mengkomunikasikan produk dari produsen (pengiklan) kepada calon konsumen (audience), memerlukan perencanaan yang matang agar selain pesan yang diinginkan (oleh pengiklan) sampai ke calon konsumen dengan utuh, calon konsumen juga menjadi percaya pada isi pesan dan karenanya berminat untuk mencoba maupun membeli produk yang diiklankan. Untuk mencapai tujuan ini, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah pemilihan endorser yang mampu membantu membawakan pesan iklan dengan meyakinkan dan sekaligus membantu membentuk citra yang diharapkan untuk produk yang diiklankan.Selain pemilihan endorser, pengiklan juga harus merancang bagaimana endorser ini harus ditampilkan mulai dari segi penampilan fisik hingga perkataan dan perbuatan. Secara fisik, endorser perempuan yang sering muncul dalam iklan biasanya berwajah cantik, berkulit putih mulus, tubuh langsing, dan rata-rata berusia muda. Sedangkan laki-laki yang menjadi endorser biasanya berwajah tampan, berkulit putih, bertubuh tinggi atletis, dan juga berusia muda.Sedangkan dari segi karakterisasi, perempuan ditampilkan dengan kepribadian yang dikategorikan sebagai karakteristik feminin: anggun, lemahlembut, pasif, dan emosional. Sedangkan laki-laki ditampilkan dengan sifat-sifat yang dikelompokkan dalam kategori maskulin, misalnya kuat (secara fisik dan mental), rasional, tegas, dan agresif. Dari aspek setting, iklan juga stereotipikal dalam menampilkan perempuan dan laki-laki, di mana karakter perempuan hampir selalu ditampilkan berada di rumah atau di lingkungan rumah sedangkan tokoh laki-laki sering kali ditampilkan sedang sibuk beraktivitas di luar rumah, misalnya kantor.Umumnya, dalam iklan, perempuan dan laki-laki sering kali ditampilkan dalam kerangka jender yang sama dari waktu ke waktu. Pada bagian awal subbab ini telah disebutkan bahwa iklan memiliki pengaruh sosial budaya. Pengaruh ini bisa timbul salah satunya dikarenakan adanya stereotipisasi dalam penampilan sosok laki-laki dan perempuan dalam iklan, gaya penampilan yang mengikuti suatu pola dan peran jender tertentu.Iklan bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak termasuk dalam kelompok iklan yang sering menampilkan sosok laki-laki dan perempuan yang stereotipikal sesuai dengan peran jender konvensional. Iklan untuk produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak tidak pernah absen menghadirkan gambaran perempuan dalam kerangka femininitas tertentu, yaitu sebagai ibu rumah tangga yang sedang melakukan aktivitas seperti memasak, merawat anak, serta membersihkan rumah, dan perempuan tersebut mayoritas dimunculkan dalam setting rumah.Yang kadang luput dari perhatian adalah arti keberadaan sosok laki-laki dalam iklan yang sama. Banyak iklan untuk produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak yang menghadirkan sosok endorser laki-laki. Laki-laki dalam iklan tersebut, seperti halnya perempuan, juga ditampilkan dalam kerangka jender tertentu, yaitu kerangka jender maskulin. Tentu saja representasi maskulinitas laki-laki dalam iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak berbeda dengan representasi maskulinitas laki-laki yang umum ditemui dalam iklan rokok. Laki-laki dalam iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak seringkali dimunculkan menyandang peranayah/suami/kepala rumah tangga, atau sebagai voice over yang memberikan penjelasan mengenai produk yang sedang diiklankan. Posisi laki-laki dalam iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak sekilas memang tidak mengandung maksud tertentu. Namun, bila ditelaah lebih jauh, sesungguhya peran-peran yang disandang laki-laki dalam iklan-iklan tersebut memiliki posisi superior terhadap sosok perempuan. Sebaliknya, iklan rokok merk Marlboro misalnya, merepresentasikan maskulinitas melalui sosok koboi. Di balik representasi maskulinitas laki-laki melalui sosok koboi ini, kita bisa saja menarik kesimpulan mengenai bagaimana seharusnya laki-laki ideal itu. Iklan rokok merk Marlboro mungkin bermaksud menyampaikan pada khalayak bahwa laki-laki yang ideal itu adalah laki-laki yang pemberani, tangguh, kasar, serta individualistis.Karena iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak menampilkan representasi maskulinitas laki-laki dengan cara berbeda dari iklan rokok merk Marlboro, maka bisa kita tarik asumsi bahwa iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak memiliki gagasan tersendiri mengenai maskulinitas laki-laki dan sosok laki-laki ideal untuk disampaikan pada khalayak. Pembahasan dalam makalah ini akan membongkar ideologi apa yang tersembunyi di balik pesan iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak sebagai cara mendeskripsikan representasi maskulinitas laki-laki dalam iklan-iklan tersebut.PembahasanTerdapat empat ideolog yang bekerja dalam pesan iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak. Tiga ideologi pertama bisa dikatakan sebagai ideolog yang bersifat minor, sedangkan ideologi keempat merupakan bersifat lebih luas di mana tiga ideology pertama merupakan bagian dari ideology keempat ini. Tiga ideologi minor tersebut, yaitu kode ideologis son preference, fatherhood, dan kecerdasan laki-laki ideologi. Ketiganyamerupakan bagian dan pendukung ideologi yang bersifat mayor, yaitu ideologi patriarki.Dalam The Gender Knot: Unraveling Our Patriarchal Legacy (2005) diutarakan bahwa patriarki bukan semata sinonim dari ‘laki-laki’, melainkan suatu jenis masyarakat (society) di mana baik laki-laki maupun perempuan sama-sama terlibat dan berpartisipasi di dalamnya. Menurut Johnson, masyarakat yang patriarkis adalah masyarakat yang hingga taraf tertentu mendukung adanya hak-hak istimewa laki-laki (male privilege) melalui aksi serta gagasan yang berbau dominasi laki-laki (male dominated), diidentifikasikan dengan laki-laki (male identified), dan terpusat pada laki-laki (male centered). Masyarakat patriarkis juga menunjukkan adanya obsesi terhadap kendali atau keinginan kuat untuk mengendalikan segalanya (Johnson, 2005: 5). Male dominated, male identified, male centered, dan obsesi terhadap kendali, menurut Johnson, merupakan empat karakteristik patriarki.Dominasi laki-laki sebagai suatu karakteristik patriarki mengandung pemahaman bahwa posisi-posisi dengan kewenangan tinggi, misalnya dalam bidang politik, hukum, dan militer, sebagian besar diduduki oleh laki-laki dan seolah diperuntukkan bagi laki-laki. Kondisi ini akhirnya menciptakan perbedaan kekuasaan yang cukup mencolok antara laki-laki dan perempuan. Dominasi laki-laki seperti yang banyak terdapat dalam masyarakat patriarkis juga mengakibatkan timbulnya gagasan bahwa laki-laki lebih superior (dibandingkan perempuan). Anggapan semacam ini muncul karena masyarakat cenderung tidak membedakan antara superioritas yang dikandung oleh posisi atau kedudukan dalam suatu hierarki dengan orang-orang yang biasanya menempati posisi tersebut. Johnson menambahkan, penting untuk dipahami bahwa dominasi laki-laki dalam masyarakat patriarkis tidak berarti setiap laki-laki itu berkuasa. Dominasi laki-laki berarti di mana ada pusat atau konsentrasi kekuasaan, hampir bisa dipastikan (kaum) laki-laki yang akan menguasainya karena laki-laki dalam hal ini bisa dipandang sebagai rancangan dasar kaum atau orang yang memegang kekuasaan (Johnson, 2005: 5-6).Karakteristik berikutnya yang dimiliki oleh masyarakat patriarkis yaitumale identified yang diartikan bahwa dasar gagasan kultural mengenai apa yang dianggap baik, yang dikehendaki, dan yang dianggap normal adalah hal-hal yang biasa diasosiasikan dengan laki-laki dan maskulinitas ideal. Dengan kata lain, male identified dalam patriarki memposisikan laki-laki dan kehidupannya sebagai standar dalam menentukan apakah sesuatu itu normal atau tidak. Anggapan ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Sigmund Freud yang menganggap bahwa manusia normal adalah laki-laki (Sultana, 2010: 4).Aspek lain dari male identified adalah deskripsi kultural mengenai maskulinitas dan sosok laki-laki ideal yang kemudian seolah menjelma menjadi nilai-nilai inti dalam masyarakat. Kualitas-kualitas seperti kontrol, kekuatan (fisik), senang berkompetisi, keteguhan, ketenangan di bawah tekanan, logika, kemampuan mengambil keputusan, rasionalitas, dan otonomi dikenal sebagai karakteristik-karakteristik maskulin dan standar ideal bagi laki-laki. Dengan kata lain, kualitas-kualitas tersebut diidentifikasikan sebagai ‘laki-laki’. Dalam masyarakat patriarkis, sifat-sifat tersebut pun lebih dihargai (Johnson, 2005: 6-10).Selain bersifat male dominated dan male identified, masyarakat patriarkis juga bersifat male centered atau terpusat pada laki-laki yang berarti bahwa laki-laki dan apa pun yang mereka lakukan lah yang menjadi fokus perhatian. Hal ini dikarenakan menurut kultur patriarki, pengalaman dan kehidupan laki-laki merepresentasikan pengalaman seorang manusia yang utuh. Dalam kehidupan sehari-hari pun, fokus perhatian terhadap laki-laki dapat ditemui, misalnya bagaimana laki-laki mendominasi percakapan dengan cara bicara lebih banyak (daripada perempuan), lebih sering menginterupsi pembicaraan, hingga mengendalikan topik dan arah pembicaraan (Johnson, 2005: 10-12).Obsesi untuk memegang kendali (the obsession with control) merupakan karakteristik selanjutnya dari paham patriarki. Kontrol atau kendali merupakan elemen penting dalam patriarki dikarenakan paham patriarki adalah sistem di mana di dalamnya terdapat hak-hak istimewa yang diberikan pada salah satu kelompok. Dalam praktiknya, hak-hak istimewa tersebut menempatkan salah satu kepompok dalam kedudukan yang tinggi dan mengopresi kelompok lain yangtidak memperoleh hak istimewa tersebut. Dengan kata lain, kelompok superior mempertahankan posisi dan hak istimewanya dengan cara mengontrol kelompok lainnya, misalnya kaum laki-laki melindungi dan mempertahankan kedudukan dan hak istimewa yang diberikan padanya dengan cara mengendalikan para perempuan di sekitarnya. Kemampuan mengendalikan ini telah menjadi standar kultural bagi manusia sebagai makhluk superior, yang pada akhirnya dipandang sebagai piranti bagi laki-laki untuk mengukuhkan dan membenarkan posisi dan hak istimewanya.Perlu juga diketahui bahwa sesungguhnya kendali atau kontrol tidaklah bersifat buruk dan tidak dengan sengaja bertujuan untuk mengopresi. Dengan melakukan pengendalian, manusia mampu menciptakan keteraturan dari situasi chaos dan melindungi diri dari ancaman-ancaman terhadap eksistensinya. Namun, di bawah kekuasaan paham patriarki, kemampuan mengendalikan tersebut bukan lagi dianggap sebagai lambang dari esensi manusia sebagai makhluk hidup, melainkan berubah menjadi begitu dihargai dan didambakan hingga menimbulkan obsesi dalam tingkat ekstrim yang membuat kehidupan sosial menjadi sangat menekan (Johnson, 2005: 14-15).Empat karakteristik patriarki di atas dapat ditemukan pada banyak praktik-praktik sosial. Ideologi son preference, fatherhood, dan kecerdasan laki-laki termasuk dalam praktik sosial bersifat patriarkis karena ketiganya memiliki karakter yang sama dengan karakteristik patriarkis yang digagas oleh Johnson.Son preference memiliki karakteristik patriarki, yaitu male centeredness. Dia dijalankan dengan memusatkan pada apa yang diasumsikan dapat dilakukan oleh laki-laki. Male centeredness yang memusatkan perhatian pada apa yang diasumsikan dapat dilakukan oleh laki-laki sebagai karakteristik son preference dapat terlihat pada faktor ekonomi son preference, yaitu anggapan bahwa anak laki-laki mampu menyokong orangtua dan keluarga secara finansial serta anak laki-laki yang juga dinilai lebih potensial dan menguntungkan sebagai tenaga kerja.Selain son preference, praktik patriarkis di masyarakat juga tampak dalam pandangan yang menempatkan sosok ayah (laki-laki) sebagai figur pemegangotoritas. Konsep fatherhood memiliki karakteristik yang sama dengan karakteristik patriarki, yaitu male dominated dan obsesi terhadap kendali (obsession with control).Ideologi fatherhood atau kebapakan memiliki karakter male dominated, yang artinya sebagian besar posisi-posisi dengan otoritas tinggi biasanya dipegang atau diduduki oleh, bahkan seolah diperuntukkan bagi, laki-laki. Mulai dari lingkup keluarga inti yang sempit hingga cakupan negara, laki-laki hampir bisa dipastikan menjabat sebagai pemegang kedudukan tertinggi. Karakteristik lain ideologi fatherhood yang masih cukup berkaitan dengan karakter male dominated ini adalah obsesi terhadap kendali. Sebagai kelompok yang beruntung dikarenakan hak-hak istimewa yang dialamatkan kepadanya, menyebabkan kaum laki-laki menempati posisi yang menjadikan mereka superior terhadap kelompok lainnya, terutama perempuan. Dengan status yang lebih superior tersebut, maka kaum laki-laki pada akhirnya memiliki keleluasaan untuk mengendalikan kelompok inferior lainnya. Pengendalian tersebut dilakukan terutama sebagai upaya untuk mempertahankan dan melindungi hak-hak istimewa mereka dari siapapun atau apapun yang mungkin mengancamnya. Kemampuan untuk mengendalikan telah menjadi standar kultural bagi makhluk hidup superior, yang kemudian digunakan sebagai piranti oleh laki-laki untuk mengukuhkan dan membenarkan hak dan posisi istimewa mereka (Johnson, 2005: 14).Kode ideologis kecerdasan laki-laki juga bagian dari praktik yang bersifat patriarkis. Dia memiliki karaktersitik patriarki, sama seperti dua kode ideologis yang telah diuraikan sebelumnya. Karakteristik patriarki yang melekat pada konsep kecerdasan laki-laki sendiri adalah male identified.Kecerdasan, atau intelligence dalam bahasa Inggris, merupakan hasil kombinasi dari rasionalitas maskulin (masculine rationality) dengan keberhasilan sosial (social success) (Raty dan Snellman, 1995: 2). Pada kenyataannya, rasionalitas bukanlah konsep yang bersifat netral-jender, walau banyak orang masih mengira demikian. Justru sesungguhnya yang selama ini dikenal sebagai rasionalitas a la Barat adalah rasionalitas maskulin (Ross-smith dan Kornberger, 2004: 282). Ross-Smith dan Kornberger juga mencantumkan dalam tulisanmereka tentang penggunaan akal pikiran (sebagai ciri dari sifat rasional) yang telah diasosiasikan dengan laki-laki dan maskulinitas sejak zaman Yunani Kuno. Asosiasi di antara keduanya masih terus berlangsung di masa kini, sehingga dalam kehidupan sehari-hari di zaman sekarang, konsep mengenai akal pikiran dan rasionalitas sesungguhnya memiliki konotasi maskulin. Mengasosiasikan rasionalitas dengan laki-laki dan/atau maskulinitas merupakan salah satu aspek dari male identified, di mana gagasan kultural mengenai laki-laki ideal telah menjelma menjadi nilai-nilai inti masyarakat secara keseluruhan (Johnson, 2005: 7). Salah satu kualitas yang telah diidentifikasi sebagai kualitas laki-laki ideal tersebut adalah penggunaan logika dan rasionalitas.KesimpulanBerdasarkan hasil temuan penelitian dan analisis yang telah dilakukan, kesimpulan yang bisa ditarik dari penelitian ini, yaitu:1. Iklan bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak menampilkan maskulinitas laki-laki dengan cara melekatkan peran, sifat, maupun karakteristik, seperti:1.1. Memosisikan laki-laki dewasa dalam peran ayah dan/atau suami yang memiliki kemampuan dalam menyelesaikan masalah atau konflik, memberi solusi, serta tampil sebagai pemimpin yang dipatuhi1.2. Menampilkan beberapa laki-laki dewasa yang sedang aktif berkarya di lingkungan kerja sebagai pekerja di sebuah pabrik (area publik), dengan posisi mulai dari staf di gudang hingga peneliti produk di laboratorium1.3. Menjadikan laki-laki dewasa sebagai sumber informasi, baik dengan menjadi duta produk maupun voice-over dalam iklan, yang tugas utamanya adalah mendeskripsikan keunggulan, karakteristik, dan cara penggunaan produk kepada khalayak produk tersebut, yang umumnya adalah perempuan dewasa2. Pemberian setiap peran dan karakteristik tersebut kepada laki-laki dewasa dalam iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuciperalatan makan dan masak mengandung makna yang lebih mendalam daripada sekadar peran yang dimainkan dalam suatu karya fiktif (iklan). Dengan menyandangkan peran sebagai suami/ayah, pekerja yang giat mencari nafkah, serta informan yang menguasai informasi pada aktor laki-laki, membuat mereka tampak berada pada posisi dominan dan lebih superior dibandingkan lawan mainnya, yaitu perempuan dan anak-anak3. Kedudukan lebih dominan dan superior yang dimiliki oleh laki-laki seperti ditampilkan dalam iklan tersebut dikarenakan adanya ideologi patriarki yang berpihak dan memberi hak-hak istimewa pada laki-laki. Ideologi patriarki ini hidup lestari di masyarakat melalui berbagai praktiknya, yaitu son preference, fatherhood, dan gagasan tentang kecerdasan dan rasionalitas sebagai kualitas alami laki-laki.DAFTAR PUSTAKABarker, Chris. (2005). Cultural Sudies: Teori dan Praktik. Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka.Berger, Arthur Asa. (2010). The Object of Affection: Semiotics and Consumer Culture. New York: Palgrave Macmillan.Budiman, Kris. (2011). Semiotika Visual: Konsep, Isu, dan Problem Ikonisitas. Yogyakarta: Jalasutra.Bungin, Burhan. (2001). Imaji Media Massa: Konstruksi dan Makna Realitas Sosial Iklan Televisi dalam Masyarakat Kapitalistik. Yogyakarta: Penerbit Jendela.Bungin, Burhan. (2005). Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.Burton, Graeme. (2008). Yang Tersembunyi di Balik Media: Pengantar Kepada Kajian Media. Yogyakarta: Jalasutra.Chandler, Daniel. (2007). Semiotics: The Basics (2nd ed.). New York: Routledge.Cornwall, Andrea dan Nancy Lindisfarne (Eds.). (1994). Dislocating Masculinity: Comparative Ethnographies. New York: Routledge.Danesi, Marcel. (2010). Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.Denzin, Norman K. dan Yvonna S. Lincoln (Eds.). (2005). The Sage Handbook of Qualitative Research (3rd ed.). Thousand Oaks, California: Sage Publications.Donovan, Josephine. (2006). Feminist Theory: The Intellectual Traditions (3rd ed.). The Continuum International Publishing.Fiske, John. (1987). Television Culture: Popular Pleasures and Politics. New York: Routledge.Fiske, John. (2007). Cultural and Communication Studies: Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.Fletcher, Winston. (2010). Advertising: A Very Short Introduction. New York: Oxford University Press.Guba, Egon G. dan Yvonna s. Lincoln. (1994). Competing Paradigms in Qualitative Research. Dalam N. Denzin dan Y. Lincoln (Eds.), Handbook of Qualitative Research (1st ed.) (105-117). California: Sage Publications.Goddard, Angela. (1998). The Language of Advertising. New York: Routledge.Hall, Stuart (Ed.). (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. Sage Publications.Iriantara, Yosal. (2009). Literasi Media: Apa, Mengapa, Bagaimana. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.Johnson, Allan G. (2005). The Gender Knot: Unraveling Our Patriarchal Legacy (Revised and Updated Edition). Philadelphia: Temple University Press.Kasiyan. (2008). Manipulasi dan Dehumanisasi Perempuan dalam Iklan. Yogyakarta: Penerbit Ombak.Malti-Douglas, Fedwa (Ed.). (2007a). Encyclopedia of Sex and Gender Volume I. Macmillan Reference USA.Malti-Douglas, Fedwa (Ed.). (2007b). Encyclopedia of Sex and Gender Volume II. Macmillan Reference USA.Murray, Mary. (1995). The Law of the Father? Patriarchy in the Transition from Feudalism to Capitalism. New York: Routledge.Neuman, W. Lawrence. (2007). Basics of Sosial Research: Qualitative and Quantitative Approaches (2nd ed.). New York: Pearson.Noviani, Ratna. (2002). Jalan Tengah Memahami Iklan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Pease, Allan dan Barbara Pease. (2004). The Definitive Book of Body Language. Pease International.Pilcher, Jane dan Imelda Whelehan. (2004). Fifty Key Concepts in Gender Studies. Thousand Oaks, California: Sage Publications.Richmond-Abbott, Marie. (1992). Masculine and Feminine: Gender Roles Over The Life Cycle (2nd ed.). McGraw-Hill, Inc.Rustan, Surianto. (2009). Mendesain Logo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.Saptari, Ratna dan Brigitte Holzner. (1997). Perempuan, Kerja, dan Perubahan Sosial: Sebuah Pengantar Studi Perempuan. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti.Schement, Jorge Reina (Ed.). (2002). Encyclopedia of Communication and Information Volume I. Macmillan Reference USA.Talbot, Mary. (2007). Media Discourse: Representation and Interaction. Edinburgh University Press.Thompson, Roy dan Christoper J. Bowen. (2009). Grammar of the Shot (2nd ed.). Focal Press.Webb, Jen. (2009). Understanding Representation. Thousand Oaks, California: Sage Publications.Widyatama, Rendra. (2007). Pengantar Periklanan. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher (Kelompok Penerbit Pinus).Wood, Julia T. (19940. Gendered Media: The Influence of Media on Views of Gender. Dalam Julia T. Wood, Gendered Lives: Communication, Gender, and Culture (231-244). Wadsworth Publishing.JurnalConnell, R.W. (1996). Teaching The Boys: New Research on Masculinity, and Gender Strategies for Schools. Teachers College Record, 98(2): 206-235.Koller, Veronika. (2008). ‘Not Just a Colour’: Pink as a Gender and Sexuality Marker in Visual Communication. Visual Communiaction, 7(4): 395-423.Nafajian, Maryam dan Saeed Ketabi. (2011). Advertising Social Semiotic Representation: A Critical Approach. International Journal of Industrial Marketing, 1(1): 63-78. Dalam http://faculty.washington.edu/thurlow/com210b/readings/koller(2008).pdf. Diunduh pada 29 Januari 2013 pukul 11.15.Prentice, Deborah A. and Erica Carranza. (2002). What Women and Men Should Be, Shouldn’t Be, Are Allowed to Be, And Don’t Have to Be: The Contents of Prescriptive Gender Streotypes. Psychology of Women Quarterly, 26: 269-281. Dalam http://psych.princeton.edu/psychology/research/prentice/pubs/Prentice%20Carranza.pdf. Diunduh pada 3 Maret 2012 pukul 13.50 WIB.Ross-Smith, Anne dan Martin Kornberger. (2004). Gendered Rationality? A Genealogical Exploration of the Philosophical and Sociological Conceptions of Rationality, Massculinity, and Organization. Gender, Work, and Organization, 11(3): 280-305. Dalam http://www.martinkornberger.com/includes/04gender.pdf. Diunduh pada 8 Mei 2013 pukul 15.37.Sacristan, Marisol Velasco. (2009). Overt-Covertness in Advertising GenderMetaphors. Journal of English Studies, 7: 111-148.Sultana, Abede. (2010). Patriarchy and Women’s Subordination: A Theoretical Analysis. The Arts Faculty Journal Volume 4 July 2010- June 2011: 1-18. Dalam http://bdresearch.org/home/attachments/article/nArt/A5_12929-47213-1-Pb.pdf. Diunduh pada 21 Mei 2013 pukul 12.06.Tsai, Wan-Hsiu Sunny dan Moses Shumow. (2011). Representing Fatherhood and Male Domesticity in American Advertising. Interdisciplinary Journal of Research in Business, 1(8): 38-48. Dalam http://idrjb.com/articlepdf/idrjb8n5.pdf. Diunduh pada 18 Maret 2012 pukul 15.10.Tesis, Disertasi, Laporan PenelitianCochran, Susan Sims. (2009). Exploring Mascilinities in the United States and Japan. Tesis. Kennesaw State University. Dalam http://digitalcommons.kennesaw.edu/etd/53. Diunduh pada 30 April 2012 pukul 11.38.Das Gupta, Monica, dan kawan-kawan. (2002). Why is Son Preference so Persistent in East and South Asia? A Cross-country Study of China, India, and the Republic of Korea. Laporan Penelitian. The World Bank. Diunduh pada 9 April 2013 pukul 14.52.De Camargo, Camilla. (2012). The Police Uniform: Power, Authority, and Culture. Disertasi. University of Salford. Dalam http://www.internetjournalofcriminology.com/DeCamargo_The_Police_Uniform_IJC_Oct_2012.pdf. Diunduh 23 Januari 2013 pukul 10.27.Eklund, Lisa. (2011). Rethinking Son Preference: Gender, Population Dynamics, and Social Change in the People’s Republic of China. Disertasi. Lund University. Dalam http://lup.lub.se/luur/download?func=downloadFile&recordOld=1950819&fileOld=1951084. Diunduh pada 9 April 2013 pukul 14.52.Nilsson, Marie. (2004). The Paradox of Modernity: A Study of GirlDiscrimination in Urban Punjab, India. Tesis. Lund University. Dalam http://www.ekh.lu.se/publ/mfs/9.pdf. Diunduh pada 13 November 2012 pukul 11.57.Nixon, Elizabeth, Padraic Whyte, Joe Buggy, Sheila Greene. (2010). Sexual Responsibilty, Fatherhood, and Discourses of Masculinity among Socially and Economically Disadvantaged Young Men in Ireland. Laporan Penelitian. Crisis Pregnancy Agency. Diunduh pada 19 April 2013 pukul 18.00.Tadpikultong, Supavee. (2008). The Representation of Different Genders in Product Advertising: Comparison of TV Advertisements in Thailand and the United Kingdom. Disertasi. Dalam http://edissertations.nottingham.ac.uk/2038/1/08MSceexst1.pdf. Diunduh pada 14 April 2012 pukul 15.24.Seminar/WorkshopRaty, Hanu dan Leila Snellman. (1995). On the Social Fabric of Intelligence. Makalah. Dipresentasikan pada The Symposium of Social Representations in the Northern Context di Mustio, Finlandia (22-26 Agustus): 1-9.Sumber-sumber lainJally, Sut. Advertising, Gender, and Sex: What’s Wrong with a Little Objectification?. Dalam https://mediasrv.oit.umass.edu/~sutj/Objectification.pdf. Diunduh pada 20 September 2012.http://en.wikipedia.org/wiki/Polo_shirt.http://id.wikipedia.org/wiki/Edwin_Lau.http://teukuwisnu.com/bio.Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Dalam http://sdm.ugm.ac.id/main/sites/sdm.ugm.ac.id/arsip/peraturan/UU_1_1974.pdf. Diunduh pada 14 April 2012.
Co-Authors Adam Gilang Ditsani Adelya Putri Ayu Felita Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Adinda Sekar Cinantya Aditya Ihatra, Dzikri Agus Naryoso Ahmad Mulyadi Aldha Wulan Nugraheni Aldi Atwinda Jauhar Alya Khoirunnisa, Mayfida Amaria Niken Ranindyasa Amida Yusriana Ananda Erfan Musthafa Andika Al Hakiem, Muhammad Andre Ghozali Putra Riyadi Andrea Oktavia, Helga Anggi Pramesthi Kusumarasri Anisa Dyah Permata, Cindy Aprillia N S Arnita Devi Wellynda Yanti Aulia Ecallypta, Saffa Aulia Rahma Fadilla Aulia Triwardhana Noor Fathan Ramadhan, Bayu Widagdo, Muhammad Brigitta Dwi Liusditari Dafa H.D, Krisna Daffa Satriowibowo Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Donik Agus Setiyanto Drasthya Estha Ghany, Drasthya Estha Dwi Purbaningrum, Dwi Dwiki Ryan Pramana Eririan Kloer, Latissya Erlita Ardiana . Fahrida Amalia Husna Fatikah Rosutami Febriana Handayani Ghaliyah Julya Almira Ginanjar Saputra Gita Reza Nadhani Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Helmi Bayuputra, Rafli Iffah Shofiyah Ariefah Ilham Bayu Prasetyo Ima Putri Siti Sekarini Jan Khairuzzaman, Alief Jessica Inez Indriani, Febronia Jimmy Fachrurrozy Kurniandy, Yody Lintang Dwi Pudyastuti, Lintang Dwi Lintang Ratri Rahmiaji Luhung Nalar Wangi Luthfiana Dewi . Lutvia Anjani, Erlin M Bayu Widagdo Marsha Fildzaishma Martia Mutiara Tasuki Maulana Ocky Adhicondro Monalisa Sima Sebayang Muchamad Yuliyanto Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Gustiasa, Muhammad Nada Nurkhalisha, Aisya Nadhif Zufar Faizal, Sulthan Nadia Gita Aresti Nadya Putri Kristiyanto Nanda Deristia Maharani Ni Made Dinna Caniswara Nicho Putera Gustantyo Nisa Safitri, Aiko Nur Suryanto Gono, Joyo Nuriyatul Lailiyah Nurul Hasfi Nurul Izzah, Saniyyah Octavia Meiza Putri, Karina Pehulisa, Karin Permata Ayuning Mulia, Catharina Primada Qurrota Ayun Putra Baroto, Medio Qurrota Ayyun, Primada Rahma Kurniasari Raihan Wiguna, Ilham Reni Yunita Muyaningsih Renis Susani Karamina Rezky Utami, Nofiyanti Rifni Lestari Rosanna Fadiya Sekar Dewi Pramana, Antonia Rachel Sholihudin, Nabiila Siadari, Roulina Siti Zahara Alawiyah Yulissa Sofari Fuqoha, M Ilham Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Surya Prabhaswara, Fauzan Suryanto Gono, Joyo Nur Tandiyo Pradekso Tazki Valeda, Delicia Thalenta Salsabila Tiagita Reva Yogiyanti, Tiagita Reva Tri Hastuti Caisari Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Wahyu Hidayat Wahyu Kuncoro Aji, Danar Wahyu Satria Utama, Wahyu Satria Widya Andhika Aji Wiwid Noor Rakhmad Yanuar Luqman Yunisa Wirastanti, Tiara Yusriana, Amida YUSUF AKBAR, MUHAMMAD