Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Hubungan Antara Acanthosis Nigricans dengan Riwayat Keluarga Diabetes Melitus Tipe 2 pada Anak-Anak Overweight dan Obes Vivekenanda Pateda; Adrian Umboh; Kristellina Tirtamulia; Frecillia Regina
Sari Pediatri Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.1.2010.63-66

Abstract

Latar belakang. Angka kejadian diabetes mellitus tipe-2 (DMT2) pada anak di beberapa tahun terakhir inisemakin meningkat seiring dengan meningkatnya angka kejadian obesitas pada anak. Acanthosis nigricans(AN) diyakini merupakan prediktor yang baik untuk mengetahui adanya hiperinsulinemia, yang merupakanprekursor dari DMT2. Penelitian terdahulu menunjukkan prevalensi AN lebih tinggi pada anak-anak yangoverweight, obes, dan mereka yang memiliki riwayat keluarga DMT2.Tujuan. Menilai hubungan AN dengan riwayat keluarga dengan DMT2 pada anak overweight dan obes.Metode. Penelitian cross sectional pada anak sekolah menengah pertama di kecamatan Wenang. Dilakukanpemeriksaan fisik terhadap AN dan pengisian kuesioner berisi riwayat keluarga dengan DM tipe 2 pada102 pelajar yang overweight dan obes. Data kemudian dianalisis menggunakan uji X2.Hasil. Didapatkan AN lebih banyak dijumpai pada anak obes (69,2%) dibandingkan overweight (44%).Riwayat keluarga dengan DM tipe 2 ditemukan pada 30,6% anak obes dengan AN dan 31,8% pada anakdengan overweight. Secara statistik perbedaan kedua prevalens tersebut di atas tidak bermakna.Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara acanthosis nigricans dengan riwayat keluargadiabetes melitus tipe 2 pada anak-anak overweight dan obes.
Hubungan Status Gizi dan Anemia dengan Penyakit Jantung Bawaan pada Anak Adrian Umboh; Ronald Rompies; Valentine Umboh
Sari Pediatri Vol 23, No 6 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.6.2022.395-401

Abstract

Latar belakang. Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah kelainan kongenital pada struktur dan fungsi sirkulasi. Morbiditas dan mortalitas PJB dipengaruhi berbagai faktor, seperti status gizi dan anemia. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dan anemia pada anak dengan PJB asianotik dan sianotik di RSUP Prof. DR. R.D. Kandou Manado. Metode. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan metode potong-lintang pada anak 1-18 tahun dengan PJB di RSUP Prof. R.D. Kandou, Manado pada Maret-Oktober 2021. Analisis hubungan berat badan, tinggi badan, status gizi dan anemia dengan PJB dilakukan dengan uji Mann-Whitney atau Chi square. Hasil. Sampel terdiri dari 62 anak (51,6% laki-laki dan 48,4% perempuan). PJB asianotik ditemukan pada 77,42% dan PJB sianotik 22,58%. Berat badan dan status gizi ditemukan berkaitan dengan PJB; anak PJB asianotik memiliki berat badan (rerata 16 kg vs 11 kg, p=0,000) dan status gizi yang lebih baik (rG=0,947 dan p=0,000). Tinggi badan tidak berkaitan dengan PJB. PJB dan anemia memiliki hubungan erat (p = 0,017), dengan OR = 4,6 (CI 95%: 1,2-16,8).Kesimpulan. Berat badan, status gizi, dan anemia berkaitan dengan PJB. Anak dengan PJB asianotik memiliki berat badan dan status gizi yang lebih baik, serta lebih mungkin mengalami anemia.
Hubungan Kadar Serum Metabolit Nitrit Oksida dan Gangguan Fungsi Ginjal pada Sepsis Jose M. Mandei; Ronald Chandra; Rocky Wilar; Ari L. Runtunuwu; Jeanette I. Ch. Manoppo,; Adrian Umboh
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.259-63

Abstract

Latar belakang. Sepsis adalah respons sistemik terhadap infeksi dengan salah satu komplikasinya berupa gagal organ ginjal. Peran nitrit oksida (NO) sebagai mediator yang terlibat dalam mekanisme gagal organ ginjal kasus sepsis masih bersifat kontroversi.Tujuan. Mengevaluasi hubungan antara kadar serum NO dan gangguan fungsi ginjal pada sepsis anak.Metode. Desain penelitian potong lintang secara konsekutif dilaksanakan sejak bulan Juni sampai November 2012 dengan sampel anak usia satu bulan sampai lima tahun yang didiagnosis sepsis. Pemeriksaan kadar serum kreatinin mencerminkan fungsi ginjal dan kadar serum metabolit NO (nitrat dan nitrit) mencerminkan kadar NO endogen. Uji korelasi menggunakan uji korelasi Spearman, dinyatakan bermakna apabila p<0,05. Data diolah menggunakan piranti lunak SPSS 19.00Hasil. Diperoleh 40 subjek dengan median usia 8,5 bulan (2 sampai 70 bulan) dan 22 di antaranya anak laki-laki. Kadar metabolit NO ditemukan berhubungan dengan kadar serum kreatinin (rs=0,33; p=0,041).Kesimpulan. Terdapat hubungan antara peningkatan kadar serum NO dan terjadinya gangguan fungsi ginjal pada anak dengan sepsis.
Hubungan Antara Resistensi Insulin dan Tekanan Darah pada Anak Obese Adrian Umboh; Jully Kasie; Johannes Edwin
Sari Pediatri Vol 8, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.466 KB) | DOI: 10.14238/sp8.4.2007.289-93

Abstract

Latar belakang. Obesitas merupakan masalah yang penting dengan prevalensi yangcenderung meningkat serta berhubungan dengan penyakit metabolik antara lainhipertensi dan resistensi insulin. Mekanisme terjadinya hipertensi pada obesitas sangatkompleks, salah faktor yang berperan adalah adanya resistensi insulin.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara resistensi insulin dan tekanan darah padaanak obese.Metoda. Penelitian bersifat analitik observasional dengan desain cross sectional yangdilakukan pada anak SMP kelas 1 hingga kelas 3 berusia antara 11 hingga 15 tahunyang memiliki IMT > persentil ke-95 di Wenang Kota, Kotamadya Manado pada bulanJuli hingga Agustus 2004. Pemeriksaan basal insulin darah puasa dengan menggunakanmetode radioimmuno assay (RIA). Tekanan darah diukur 2 kali selama 2 hari berturutdan hasil merupakan rerata ke-2 nilai tersebut. Definisi pre-hipertensi bila tekanan darahsistolik =120 mmHg dan tekanan darah diastolik =80 mmHg serta resistensi insulinbila insulin darah puasa = 18 μU/mL.Hasil. Diantara 72 anak diteliti, didapatkan hasil 24 anak (33,33%) menderita resistensiinsulin terdiri dari 13 anak laki-laki (54,17%) dan 11 anak perempuan (45,83%). Anakobese yang disertai resistensi insulin memiliki nilai median tekanan darah sistolik lebihtinggi secara bermakna dibandingkan tanpa resistensi insulin (p=0,006). Dijumpai86,11% anak obese memiliki tekanan darah sistolik =120 mmHg dan 93,06% tekanandarah diastolik =80 mmHg. Terdapat hubungan antara insulin darah dan tekanan darahsistolik (rs=0,297, p=0,018) dan ada hubungan antara insulin darah dan tekanan darahdiastolik (rs=0,298, p=0,011).Kesimpulan. Sebagian besar anak obese menderita pre-hipertensi, namun hanyaditemukan korelasi linier yang sangat lemah antara resistensi insulin dan tekanan darah.
Hubungan High Sensitivity C-Reactive Protein dan Tekanan Darah pada Anak dengan Riwayat Berat Lahir Rendah Kecil Masa Kehamilan Adi Suryadinata Krisetya; Adrian Umboh; Jose M. Mandei
Sari Pediatri Vol 21, No 5 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.5.2020.289-94

Abstract

Latar belakang. Anak dengan riwayat berat lahir rendah (BLR) kecil masa kehamilan (KMK) memiliki peningkatan risiko menderita hipertensi dan gangguan kardiovaskular di kemudian hari. High sensitivity C-reactive protein (hs-CRP) memengaruhi kerusakan pembuluh darah yang mengakibatkan peningkatan tekanan darah. Tujuan. Menganalisis hubungan hs-CRP dengan berat lahir dan tekanan darah pada anak dengan riwayat BLR KMK.Metode. Penelitian dengan desain potong lintang dilakukan dari bulan Oktober - Desember 2018 di Manado. Kriteria inklusi adalah anak dengan riwayat BLR KMK, lahir pada tahun 2004-2009 di Rumah Sakit Umum Pusat Kandou, berdomisili di Manado, memiliki catatan medis lengkap, status gizi baik, dan mendapat persetujuan dari orang tua. Kriteria eksklusi adalah anak yang memiliki riwayat penyakit ginjal, sakit dan mengonsumsi obat-obatan dalam 2 minggu terakhir. Pengukuran Hs-CRP digunakan metode imunonephelometric dengan Dade Behring kit. Data dianalisis menggunakan korelasi Pearson dan uji regresi linier sederhana.Hasil. Total 40 anak dengan riwayat BLR KMK terdiri dari 16 anak laki-laki dan 24 anak perempuan. Rerata berat lahir adalah 2338,75 gram dan rerata kadar hs-CRP adalah 1,3158 mg/L. Terdapat hubungan negatif antara hs-CRP dan berat lahir (r=-0,275; p=0,043), hubungan positif antara hs-CRP dan tekanan darah sistolik (TDS) (r=0,559; p<0,0001), dan juga antara hs-CRP dengan tekanan darah diastolik (TDD) (r=0,451; p=0,002).Kesimpulan. Terdapat korelasi negatif antara hs-CRP dan berat lahir. Nilai hs-CRP yang tinggi berhubungan dengan TDS dan TDD yang lebih tinggi pada anak berusia 9 – 14 tahun dengan riwayat BLR KMK.
Hubungan Asfiksia Neonatorum dengan Gangguan Fungsi Ginjal pada Bayi Baru Lahir Adrian Umboh
Sari Pediatri Vol 4, No 2 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.793 KB) | DOI: 10.14238/sp4.2.2002.50-3

Abstract

Asfiksia neonatorum merupakan problem kesehatan pada bayi baru lahir yang dapatmenyebabkan gagal ginjal akut jika tidak ditangani dengan baik.Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara derajat asfiksia neonatorum dengan derajatgangguan fungsi ginjalMetoda: penelitian analitik observasional pada bayi baru lahir di bangsal NeonatologiBagian IKA/RSUP Manado antara bulan Agustus 1997-Februari 1998 yang memenuhikriteria dilakukan pengukuran kadar ureum dan kreatinin serum serta penentuan lajufiltrasi glomerulus (LFG). Data dianalisis dengan uji Anova dan Chi-Square.Hasil: di antara 129 bayi baru lahir yang memenuhi kriteria terdiri dari 49 bayi sehat,50 asfiksia ringan-sedang, dan 30 asfiksia berat. Terdapat perbedaan bermakna kadarserum ureum dan kreatinin serta LFG antara kelompok bayi sehat dengan asfiksia beratdan antara kelompok asfiksia ringan-sedang dengan asfiksia berat (p<0,01). Lima dari30 kasus asfiksia berat mengalami gagal ginjal akut dan terdapat hubungan bermaknaantara derajat asfiksia dengan derajat gangguan fungsi ginjal (p<0,01).Kesimpulan: terdapat perbedaan antara kadar ureum dan kreatinin serum serta LFGantara bayi asfiksia berat dengan bayi sehat dan asfiksia ringan-sedang. Terdapat pulahubungan antara derajat asfiksia dengan derajat gangguan fungsi ginjal.
Hubungan Aspek Klinis dan Laboratorium pada Sindrom Nefrotik Sensitif Steroid dan Sindrom Nefrotik Resisten Steroid Adrian Umboh
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.525 KB) | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.133-6

Abstract

Latar belakang. Sindrom nefrotik (SN) merupakan kelainan ginjal tersering pada anak. Berdasarkan respon terhadap terapi, SN dibagi menjadi sindrom nefrotik sensitif steroid (SNSS) dan sindrom nefrotik resisten steroid (SNRS). Gambaran histopatologik merupakan baku emas untuk menentukan diagnosis, tetapi tidak selalu dapat dilakukan karena bersifat invasif.Tujuan. Mengetahui hubungan antara berbagai aspek klinis dan laboratorium, yaitu jenis kelamin, umur, berat badan lahir (BBL), hipertensi, kadar kolesterol serum dan albumin antara SNSS dan SNRS yang mendapat terapi steroid.Metode. Penelitian retrospektif analitik dilakukan pada pasien SNSS dan SNRS yang dirawat, dari Januari 2007 sampai dengan Desember 2011 di Divisi Nefrologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi/BLU RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou, Manado. Data dikumpulkan dari data rekam medik, meliputi identitas, tekanan darah, kadar kolesterol serum, dan albumin. Analisis univariat dengan uji X2, pengujian hubungan berbagai variabel secara bersama-sama digunakan analisis regresi logistik.Hasil. Terdapat 45 anak dengan sindrom nefrotik yang diikutsertakan dan dibagi ke dalam dua kelompok, terdiri dari 30 anak dengan SNSS dan 15 anak dengan SNRS. Tidak didapatkan perbedaan pada jenis kelamin (p=1,000), umur onset (p=0,247), berat badan lahir (p=0,259), tekanan darah sistole (p=0,671), tekanan darah diastole (p=0,380), kadar kolesterol (p=0,529), kadar albumin (p=0,350) antara dua kelompok.Kesimpulan. Tidak ada perbedaan antara jenis kelamin, umur, BBL, hipertensi, kolesterol dan albumin pada pasien SSNS dan SRNS yang mendapat steroid.
Hubungan antara Kadar Serum Kortisol Pagi Hari dan 25-OH Vitamin D pada Anak dengan Sindrom Nefrotik Adrian Umboh; Valentine Umboh; Ronald Rompies
Sari Pediatri Vol 24, No 4 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp24.4.2022.217-21

Abstract

Latar belakang. Sindrom nefrotik (SN) adalah penyakit ginjal kronis yang paling sering terjadi pada anak yang diobati dengan kortikosteroid dosis tinggi dan dapat menyebabkan insufisiensi adrenal sekunder, mengakibatkan penurunan kadar kortisol. Proteinuria pada SN secara tidak langsung dapat menyebabkan defisiensi vitamin D yang merupakan faktor risiko terjadinya berbagai penyakit, seperti riketsia, kanker, dan infeksi.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan kadar serum kortisol pagi hari dengan kadar 25-OH vitamin D pada anak sindrom nefrotik.Metode. Metode penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan potong-lintang pada 30 anak berusia 1-18 tahun dengan sindrom nefrotik yang berobat di Poliklinik Anak RSUD Prof. Dr. R.D. Kandou, Manado.Hasil. Kadar kortisol serum pagi hari pada anak dengan SN ditemukan terendah pada SN resisten steroid, dan tertinggi pada SN sensitif steroid. Subjek dengan insufisiensi vitamin D paling banyak ditemui pada kategori SN resisten steroid. Ditemukan hubungan bermakna yang kuat antara kadar kortisol pagi hari dengan kadar vitamin D, dimana kadar kortisol <3 mg/l memiliki risiko 3,5 kali lebih besar mengalami insufisiensi atau defisiensi vitamin D dibandingkan kadar kortisol yang lebih tinggi.Kesimpulan. Penelitian ini menemukan hubungan bermakna yang kuat antara kadar kortisol pagi hari dengan kadar vitamin D pada anak dengan sindrom nefrotik.
Kadar Neutrophil Gelatinase-Associated Lipocalin dan Urinary Albumin Creatinine Ratio sebagai Indikator Awal Disfungsi Ginjal pada Remaja Obesitas Umboh, Adrian; Rampengan, Novie Homenta; Umboh, Valentine; Liow, Jackli Eugene; Phan, Sardito; Corona, Fidel
Sari Pediatri Vol 27, No 3 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.3.2025.173-9

Abstract

Latar belakang. Obesitas remaja meningkat secara global dan dapat menyebabkan komplikasi berupa disfungsi ginjal. Deteksi dini disfungsi ginjal diperlukan untuk mencegah perkembangan menuju penyakit ginjal kronis (PGK). Biomarker seperti Neutrophil Gelatinase-Associated Lipocalin (NGAL) urin dan Urinary Albumin-Creatinine Ratio (UACR) digunakan untuk menilai fungsi ginjal, tetapi data komparatif pada remaja obesitas masih terbatas. Tujuan. Penelitian ini bertujuan menilai korelasi kadar NGAL urin dan UACR dengan tingkat keparahan obesitas pada remaja.Metode. Penelitian potong lintang ini melibatkan 38 remaja obesitas usia 10-18 tahun, dipilih secara konsekutif. Kadar NGAL diukur dengan metode ELISA, sedangkan UACR dianalisis menggunakan penganalisis kimia otomatis. Uji korelasi Pearson dan regresi linier digunakan untuk mengevaluasi hubungan antara keparahan obesitas, NGAL, dan UACR.Hasil. Remaja dengan obesitas berat memiliki kadar NGAL dan UACR lebih tinggi dibandingkan obesitas ringan. Terdapat korelasi positif kuat antara persentil IMT-usia dengan NGAL (r=0,843) dan UACR (r=0,828), keduanya bermakna (p<0,001). Regresi linier menunjukkan NGAL dan UACR secara signifikan memprediksi keparahan obesitas (R²=0,778).Kesimpulan. Kadar NGAL dan UACR urin meningkat seiring keparahan obesitas, sehingga berpotensi sebagai indikator awal disfungsi ginjal pada remaja obesitas.
Co-Authors Aaltje E. Manampiring Aaltje Ellen Manapiring Aaltje Manampiring Abram Babakal Adi Suryadinata Krisetya Alan J. Jufri Algi Reafanny Batara Amatus Yudi Ismanto Andi Dwi Bahagia Febriani Andrian Aldo Rantung Angelya Lumoindong Angie G. Roring, Angie G. Ango, Putri C. Ari L. Runtunuwu Ari Runtunuwu Astrid A. Malonda Baksh, Aida K. Bernadus, Janno Berty Bradly Chensilya Kusumanarwasti Christien Gloria Tutu Corona, Fidel Damaris, Damaris David E Kaunang David Kaunang Drova Grano Manorek Eka Patandianan Elia A. P. Hutapea Erling D. Kaunang Fatimawali . Frecillia Regina Herwanto Herwanto Hesti Lestari Hesti Lestari Hidayani, Agung R.E Hosang, Kevin H. Irawan Yusuf Iwan P. Wawointana, Iwan P. Jane A. Kalangi Jeanette I. Ch. Manoppo Jeanette I. Ch. Manoppo, Jeanette I.Ch. Manoppo Jenifer Andalangi Johannes Edwin Johnny Rompis Jose M. Mandei Jose M. Mandei Jully Kasie Kartini W. Adam Kristellina Tirtamulia Kromo, Lucky Kurniawan Tan Lasidi, Oktifani Devi Liow, Jackli Eugene Lonto, Jesica S. Lumingkewas, Pitter Handry Lydia Tendean Maki, Frindi Manopo, Berry R. Manoppo, Jeanette Irene Christiene Mantali, Rizqa Mantik, Keren E.K. Maria Fitricilia Marianne C. Jacobus, Marianne C. Matthew, Febriano Max F. J. Mantik Max F.J Mantik, Max F.J Natharina Yolanda, Natharina Nilawati, . Novie H. Rampengan Novie Homenta Rampengan, Novie Homenta Nurhayati Masloman Oko, Moh. Abdiel Artabony Oktavin Yollah Umboh Paulina N. Gunawan Phan, Sardito Pinaria, Anthoneta S. Polii, Evan G. Praevilia M. Salendu Queen Mandang Reifanli M. Pai, Reifanli M. Robin Samuel Mamesah, Robin Samuel Rocky Wilar Rompies, Ronald Rompis, Johnny L. Ronald Chandra Sabriani, Jehan Sanusi, Holly Sarah M. Warouw Sarah Warouw smanto, Yudi Stefanus Gunawan Stefanus Gunawan Stevanus Gunawan, Stevanus Suryadi N. N. Tatura, Suryadi N. N. Suryani As’ad Suwontopo, Marvin Leonardo T. A. Sudjono Taliwongso, Fernando Ch. Tandiawan, Ledy Tatipang, Pirania Ch. Tumbal, Anastasya G. Umboh, Indria M. Umboh, Valetine Valentine Umboh Valentine Umboh, Valentine Vicky M. Kalangie, Vicky M. Vini Maleke, Vini Vivekenanda Pateda Vivekenanda Pateda Waworuntu, David S. Welong Seftian Surya Yanni, Iloh Devi Yolanda B. Bataha