Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Hiperglikemia dan Vitamin E pada Kadar Malonaldehida dan Enzim Antioksidan Intrasel Jaringan Pankreas Tikus Suarsana, I Nyoman; Utama, Iwan H.; Agung, I Gusti; Suartini, Ayu
Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 2
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pencegahan kerusakan jaringan pankreas akibat radikal bebas pada kondisi hiperglikemia kronik sangat penting dan vitamin E dapat bertindak sebagai pemusnah radikal bebas dalam mencegah perkembangan diabetes melitus. Tujuan penelitian ini untuk mengamati pengaruh vitamin E pada kondisi hiperglikemia pada aktivititas enzim superoxide dismutase (SOD), glutathione peroxidase (GPx), dan kadar malondialdehyde (MDA) pada jaringan pankreas tikus. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, tahun 2010. Sebanyak 15 ekor tikus putih jantan strain Spraque Dawley umur 3 bulan digunakan dalam penelitian ini. Tikus percobaan dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan. Kelompok kontrol negatif (K0), kelompok tikus hiperglikemia (K1), serta kelompok tikus hiperglikemia dan diberi vitamin E dosis 7 mg/200 g bb/hari (K2). Kelompok hiperglikemia diberi larutan 50% glukosa, dosis 1,5 cc/ekor per oral dua kali sehari. Perlakuan diberikan selama 1 bulan. Kadar glukosa darah diperiksa menggunakan metode biosensor glukosa oksidase. Enzim SOD, GPx, dan MDA dianalisis menggunakan metode spektrofotometri. Kadar glukosa darah perlakuan K2 sebesar 153,5±8,2 mg/dL tidak berbeda (p>0,05) bila dibandingkan dengan perlakuan K1 sebesar 154,1±5,7 mg/dL. Aktivitas SOD perlakuan K2 sebesar 43,21±3,32 U/g lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan K1 sebesar 31,99±3,55 U/g (p<0,05). Aktivitas GPx perlakuan K2 sebesar 10,44±0,54 U/g tidak berbeda bermakna (p>0,05) bila dibandingkan dengan perlakuan K1 sebesar 9,39±0,59 U/g. Kadar MDA perlakuan K2 sebesar 20,27±0,87 pmol/g lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan K1 sebesar 25,24±0,82 pmol/g (p<0,05). Simpulan, kadar SOD dan GPx rendah, sedangkan kadar MDA tinggi pada pankreas tikus dalam kondisi hiperglikemia. Pada tikus hiperglikemia yang diberi vitamin E, aktivitas SOD dan GPx tinggi, sedangkan kadar MDA rendah. [MKB. 2011;43(2):72–6].Kata kunci: Enzim antioksidan, hiperglikemia, pankreas tikus, vitamin EHiperglycemic and Vitamin E Effect on Malondialdehyde and Antioxidant Intracellular Enzyme in Rat Pancreatic TissuePrevention of pancreatic tissue damage by free radicals under conditions of hyperglycemia chronic would be important and vitamin E can act as scavengers of these oxygen radicals in preventing the development of diabetes mellitus. This study aims was to evaluate the effect of vitamin E on the hyperglycemia conditions on the blood glucose, enzyme superoxide dismutase (SOD), glutathione peroxidase (GPx), and malondialdehyde (MDA) levels in rat pancreatic tissue. Research conducted at the Laboratory of Biochemistry Faculty of Veterinary Medicine Udayana University, in 2010. A total of 15 male rats white of strains Spraque Dawley old 3 months used in this study. All of rats were divided into three groups. Negative control group (K0), group of rats hyperglycemia (K1), and group of hyperglycemia and given vitamin E dose of 7 mg/200 g bw/day (K2). Hyperglycemia group was given 50% glucose solution doses of 1.5 cc/head orally twice daily. Treatment was conducted for 1 month. Blood glucose level was measured by using glucose oxidase biosensor method. Pancreatic SOD, GPx activities, and MDA levels were measured by using spectrophotometric methods. Blood glucose levels in the K2 treatment of 153.5±8.2 mg/dL was not significantly different (p>0.05) when compared with the K1 treatment of 154.1±5.7 mg/dL. Activities of SOD enzymes in the K2 treatment of 43.21±3.32 U/g higher than the K1 treatment of 31.99±3.55 U/g (p<0.05). Activities of GPx enzymes in the K2 treatment of 10.44±0.54 U/g was not significantly different (p>0.05) when compared with K1 treatment of 9.39±0.59 U/g. MDA level in the K2 treatment of 20.27±0.87 pmol/g lower than the K1 treatment of 25.24±0.82 pmol/g (p <0.05). In conclusion, SOD and GPx enzymes levels are low whereas MDA level is high in the rat pancreatic under conditions of hyperglycemia. The hyperglycemic rat by treatment with vitamin E shows high SOD and GPx levels and low MDA levels. [MKB. 2011;43(2):72–6].Key words: Enzyme antioxidant, hyperglycemia, pancreatic rat, vitamin E DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v43n2.46
Kadar Globulin Serum Sapi Bali (Bos sondaicus) Pascatransportasi ke Rumah Potong Hewan, Pesanggaran, Denpasar, Bali Permana, Rizky; Utama, Iwan Harjono; Sulabda, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (6) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.6.887

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak transportasi terhadap perubahan kadar globulin serum darah sapi bali pascatransportasi dari Pasar Hewan Beringkit menuju Rumah Potong Hewan Pesanggaran, Denpasar dengan jarak tempuh 21 km. Transportasi dapat mengakibatkan terjadinya stres dan dehidrasi. Untuk mendiagnosis terjadinya stres dapat dilakukan dengan uji biokimia. Uji biokimia yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan mengukur kadar globulin serum dalam darah. Objek yang digunakan adalah sapi bali jantan yang belum diistirahatkan setelah transportasi sebanyak 20 ekor di Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran Denpasar. Darah di ambil melalui vena auricularis dan dimasukan ke tabung vacutainer yang berisi gel separator. Sampel darah dibawa ke Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Bali untuk segera dilakukan pemeriksaan kadar globulin serum menggunakan mesin Photometer 5010V5+. Kadar globulin serum dari sampel yang telah diperiksa memiliki kadar terendah 1,6 g/dL dan tertinggi 5,1 g/dL dengan rata-rata 2,8 g/dL. Dari hasil penelitian kadar globulin serum sapi bali pascatransportasi terhitung lebih rendah dari kadar normal sapi ras lain.
Gambaran Total Leukosit Darah Kelinci Pasca-implantasi Bahan Cangkok Demineralisasi Asal Tulang Sapi Bali Putra, Komang Darma Yudha; Utama, Iwan Harjono; Wirata, I Wayan; Sudimartini, Luh Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (1) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.1.58

Abstract

Cangkok tulang xenograft, salah satunya dengan menggunakan tulang sapi, sering digunakan pada perlakuan ortopedik untuk melakukan implantasi. Implantasi bisa dilakukan dari bahan cangkok demineralisasi asal tulang sapi bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan bahan cangkok demineralisasi asal korteks tulang femur sapi bali terhadap kondisi fisiologis hewan model dilihat dari aspek jumlah total leukosit. Jumlah leukosit dapat menjadi acuan untuk mengetahui kondisi responsif tubuh terhadap adanya material asing. Sepuluh ekor kelinci digunakan dalam penelitian ini dan dibagi atas dua kelompok. Setiap kelinci pada setiap kelompok dibuat sebuah lubang dengan diameter 5 mm pada diafisis tulang femur kelinci. Pada Kelompok Kontrol lubang tidak diimplantasi bahan cangkok, sedangkan pada Kelompok Perlakuan, lubang dimplantasi bahan cangkok demineralisasi. Dilakukan pemeriksaan hematologi selama enam minggu dengan interval waktu dua minggu, yaitu hari ke-0 (24 jam), minggu ke-2, 4 dan 6 pasca operasi untuk pemeriksaan jumlah total leukosit yang kemudian diuji secara statistik dan disajikan secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa implantasi bahan cangkok demineralisasi asal tulang sapi bali pada hewan uji selama enam minggu tidak menyebabkan perubahan jumlah total leukosit dari nilai rujukan normal. Bedasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahan cangkok demineralisasi asal korteks tulang femur sapi bali tidak mengalami penolakan pada tubuh hewan uji.
Suplementasi Madu Trigona Tidak Meningkatkan Kadar Gula Darah Anjing Penderita Dermatitis Heparandita, Ananda Agung Dextra; Dharmayudha, Anak Agung Gde Oka; Utama, Iwan Harjono; Suartha, I Nyoman; Sudimartini, Luh Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (6) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.6.842

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi madu trigona cair dan kapsul terhadap kadar gula darah anjing penderita dermatitis. Menggunakan 14 ekor anjing lokal bali jantan dan betina berumur 2-6 bulan yang dibagi menjadi tiga perlakuan, yakni kontrol, madu trigona cair 5 mL/ekor/hari dan madu trigona kapsul 110 mg/ekor/hari. Variabel yang diamati adalah kadar gula darah. Kadar gula darah diukur menggunakan glukometer yang kemudian dianalisis pada minggu ke-0, 1, 2, 3, 4, 5. Rancangan yang digunakan berupa rancangan acak lengkap (RAL) pola berjenjang. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan uji sidik ragam model split plot in time. Berdasarkan hasil penelitian, rerata kadar gula darah anjing penderita dermatitis dengan perlakuan kontrol yaitu 71,36±9,00 mg/dL. Rerata kadar gula darah anjing penderita dermatitis setelah perlakuan madu trigona cair yaitu 72,83±17,12 mg/dL dan rerata kadar gula darah anjing penderita dermatitis setelah perlakuan madu trigona kapsul yaitu 82,85±4,31 mg/dL. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara kadar gula darah dari perlakuan kontrol, perlakuan yang diberi madu trigona cair 5 mL/ekor/hari dan perlakuan yang diberi madu trigona kapsul 0,1 mg/ekor/hari.
Kadar Aspartat Aminotransferase dan Alanin Aminotransferase Ayam Pedaging yang Diberi Penambahan Asam Organik dalam Pakan Candrayani, Putu Prema; Utama, Iwan Harjono; Suharsono, Hamong
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (2) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.2.178

Abstract

Asam organik sebagai acidifier akan meningkatkan degradasi pakan tak terkecuali protein menjadi asam amino dan perubahan posisi gugus amino melalui proses transaminasi. Aspartat aminotransferase (AST) dan alanin aminotransferase (ALT) merupakan enzim yang berperan dalam metabolisme asam amino. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan asam organik dalam pakan terhadap kadar AST dan ALT pada ayam pedaging. Sebanyak 24 ekor ayam pedaging digunakan sebagai hewan coba dengan empat perlakuan yaitu P0 (kontrol tanpa asam organik), P1 (asam organik 0,1%), P2 (asam organik 0,2%), dan P3 (asam organik 0,3%). Masing-masing perlakuan terdiri dari enam ulangan dan lama pemberian perlakuan adalah 35 hari. Metode penentuan kadar AST dan ALT dengan sistem kolorimetri menggunakan mesin analyzer semi-otomatis di laboratorium serta data dianalisis dengan Uji Sidik Ragam. Rerata kadar AST ayam pedaging P0, P1, P2, dan P3 berturut-turut adalah 287,67 ± 35,42 U/L, 267,33 ± 17,71 U/L, 265,33 ± 8,12 U/L, dan 252,50 ± 20,19 U/L. Rerata kadar ALT ayam pedaging P0, P1, P2, dan P3 berturut-berturut adalah 40,50 ± 12,896 U/L, 40,67 ± 7,474 U/L, 50,67 ± 22,809 U/L, dan 37,33 ± 11,255 U/L. Uji statistika menunjukkan penambahan asam organik dalam pakan tidak berpengaruh nyata terhadap kadar AST dan ALT pada ayam pedaging. Disimpulkan asam organik aman digunakan sebagai acidifier pada ayam pedaging.
Profil Eritrosit, Hemoglobin dan Hematokrit Sapi Bali Pascatransportasi ke Rumah Potong Hewan Pesanggaran Kota Denpasar Perayadhista, Komang Tri Mywisti; Utama, Iwan Harjono; Dharmawan, Nyoman Sadra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (2) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.2.246

Abstract

Permintaan daging sapi di wilayah perkotaan lebih tinggi karena jumlah penduduk yang lebih padat dan tingkat pendapatan yang tinggi, sementara dalam produksi sapi potong khususnya sapi bali secara umum berada di pedesaan karena sumberdaya lahan serta pakan yang memadai. Oleh sebab itu, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di perkotaan diperlukan proses transportasi dalam perdagangan sapi antar daerah. Kegiatan transportasi ternak sapi potong dari sentra produksi ke rumah potong hewan dapat menyebabkan stres dan mengakibatkan perubahan profil darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak dari transportasi terhadap eritrosit, hemoglobin dan hematokrit pada sapi bali. Penelitian ini menggunakan sampel darah dari 20 ekor sapi bali jantan yang diambil ketika sapi-sapi tersebut sampai di Rumah Potong Hewan Pesanggaran Kota Denpasar. Pemeriksaan hematologi menggunakan alat hematology analyzer Sysmex XS-800i. Rancangan yang digunakan adalah rancangan observasional-eksploratif dengan studi cross sectional menggunakan metode purposive sampling. Data dianalisis secara deskriptif dan hasilnya disajikan dalam bentuk rataan dengan tabel dan simpangan baku. Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan jumlah eritrosit dengan nilai rataan sebesar 5,2 x106/µL, kadar hemoglobin dengan rataan sebesar 10,7 g/dL, dan persentase hematokrit dengan rataan sebesar 30,8%. Disimpulkan bahwa sapi bali jantan yang ditransportasi dari Pasar Beringkit ke Rumah Potong Hewan Pesanggaran Denpasar memiliki jumlah eritrosit yang rendah, kadar hemoglobin tinggi dan persentase hematokrit yang rendah.
Sixteen isolates of group C streptococci taken during outbreak in pigs and monkeys in Bali were examined for their haemaglutination activities using 2% erythrocyte suspension from pigs. Five isolates (31,25%) showed very strong (++) result with geometric titer mean of 22.8, other isolates (31,25%) gave strong (+) results with geometric titer mean of 22 and the remain six isolates (37,5%) showed weak or negative haemagglutination activities. Nonencapsulated bacteria yielded haemagglutination acti Iwan Harjono Utama; I Ketut Berata; I Gusti Ketut Suarjana; I Nengah Kerta Besung; Agnes Endang Tri H
Media Veteriner Vol. 6 No. 1 (1999): Media Veteriner
Publisher : Media Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sixteen isolates of group C streptococci taken during outbreak in pigs and monkeys in Bali were examined for their haemaglutination activities using 2% erythrocyte suspension from pigs. Five isolates (31,25%) showed very strong (++) result with geometric titer mean of 22.8, other isolates (31,25%) gave strong (+) results with geometric titer mean of 22 and the remain six isolates (37,5%) showed weak or negative haemagglutination activities. Nonencapsulated bacteria yielded haemagglutination activities stronger than encapsulated. Treatments with heating up to 90 °C, HCl extraction and opsonization reduced haemagglutination titers.
Hemagglutination activities and phenotypic expressions of fifty-five S. agalactiae isolates consisted of 19 standard and 36 field isolates from subclinical mastitis cattle were observed. Five (eighteen); 3 (4); 2 (7); 1 (2); and 5 (11) isolates (numbers in brackets indicated field isolates) were able to hemagglutinate cattle, horse, sheep, chicken, and human erythrocytes, respectively. The distribution of hemagglutination pattern was discissed in this paper. Iwan Harjono Utama; Anak Agung Sagung Kendran; I Wayan Teguh Wibawan; Fachriyan Hasmi Pasaribu
Media Veteriner Vol. 7 No. 2 (2000): Media Veteriner
Publisher : Media Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hemagglutination activities and phenotypic expressions of fifty-five S. agalactiae isolates consisted of 19 standard and 36 field isolates from subclinical mastitis cattle were observed. Five (eighteen); 3 (4); 2 (7); 1 (2); and 5 (11) isolates (numbers in brackets indicated field isolates) were able to hemagglutinate cattle, horse, sheep, chicken, and human erythrocytes, respectively. The distribution of hemagglutination pattern was discissed in this paper.
Karakteristik Fisikokimia Dan Uji Aktivitas Antimikroba Bakteriosin Isolat Bakteri Asam Laktat 17B Hasil Isolasi Kolon Sapi Bali Nuria Fitrianti Putri; I Wayan Suardana; Iwan Harjono Utama
Buletin Veteriner Udayana Vol. 10 No. 2 Agustus 2018
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.751 KB) | DOI: 10.24843/bulvet.2018.v10.i02.p01

Abstract

Lactic acid bacteria (LAB) is a microorganism that is not toxic and able to produce antimicrobial compounds, namely bacteriocins. This study aims to determine the physicochemical characterization of bacteriocins origin originated from lactic acid bacteria isolates 17B isolated from colon Bali cattle. The research was started by re-cultivation of isolates 17B and continued with production and precipitation of bacteriocins. Further tests were chemical and physical test that, followed by antimicrobial activity test of bacteriocin isolates 17B against Bacillus cereus FTCC 005. Data From this study are presented in tables or figure and analyzed descriptively. Results of study showed that LAB isolates 17B is a Gram-positive bacteria and catalase negative. The test also showed the bacteriocins produced isolates 17B as a protein compound indicated by the ninhydrin test positive, Molisch test negative and Lowry test positive with protein concentration was 0,11 µg/ml. Physical characterization tested using SDS PAGE showed that the test is negative. Antimicrobial activity test of bacteriocin isolates 17B showed that bacteriocin 17B has effectiveness against Bacillus cereus FTCC 005 as 18,92%.
Kelaianan Kulit Anjing Jalanan pada Beberapa Lokasi di Bali Sri Karyati Widyastuti; N iMade Sutari Dewi; Iwan Harjono Utama
Buletin Veteriner Udayana Vol. 4 No.2 Agustus 2012
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.586 KB)

Abstract

Kelainan kulit merupakan masalah utama pada anjing anjing lokal di Bali dan inimemerlukan perhatian khusus. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan beberapainformasi mengenai kelainan kulit pada anjing anjing tersebut. Pengamatan pada 116 anjinglokal di Denpasar, Tabanan, Badung, Gianyar dan Klungkung menunjukan adanya kelainankulit. Enam puluh enam, enam dan 44 kasus diklasifikasikan sebagai kasus kelainan kulitsekunder, primer dan campuran. Kelainan primer berupa eritema/ purpura (40 anjing),makula (9 anjing), papula (15 anjing), nodul (7 anjing) dan pustula (5 anjing). Tidakdijumpai adanya abses dan vesicula. Kelainan kulit tersebut bukan bersifat tunggal, tetapicampuran dengan tipe sekundernya. Anjing anjng yang menderita kelainan kulit sekunderseperti alopecia, kulit bersisik, hiperkeratosis, krusta, lichenifikasi, ulkus, pengelupasan danmasalah warna berturut turut sebanyak 66, 30, 29, 23, 6, 16, dan 29 anjing.
Co-Authors Achoiro Wati Rasid Agnes Endang Tri H Ahmad Rohmadhon Holifatullah Aida Lousie Tenden Rompis Aisjah Girindra Anak Agung Gde Oka Dharmayudha Anak Agung Sagung Kendran Anggi Windo Marta, Anggi Windo Azmil Umur, Azmil Baiq Yunita Arisandi Bambang Pontjo Priosoeryanto Brigitta Cynthia Sida Pello, Brigitta Cynthia Candrayani, Putu Prema Chanda Preanger, Chanda Dewa Ayu Dwita Karmi Drevani Angelika Sachio DWI SURYANTO Ekklesia Prasetya El vira Elfani Sarah Faradina Endhie D. Setiawan ERMITA TINTING BUNTU Eva Candra Ardia, Eva Candra Evi Marieti Hutagalung Fachriyan Hasmi Pasaribu Fransiska Septanila Pratiwi, Fransiska Septanila Gatut Ashadi Gusti Agung Rama Wiratama Putra Heparandita, Ananda Agung Dextra I Gusti Agung I Gusti Agung Ayu Suartini I Gusti Ketut Suarjana I Gusti Made Krisna Erawan I Gusti Ngurah Badiwangsa I Ketut Berata I Made Kardena I Made Merdana I Nyoman Suarsana I Nyoman Suartha I Nyoman Sulabda I Wayan Puspa Ari Laxmi I Wayan Suardana I wayan Teguh Wibawan I Wayan Wirata Ida Bagus Komang Ardana Ida Bagus Oka Winaya Iga Prassetyo Adji, Iga Prassetyo Juli Yanti, Juli Karami, Citra Kartikasari, Citra Dewi Ketut Berata Ketut Suartini Luh Made Sudimartini MARIA BINTANG Michael Haryadi Wibowo N iMade Sutari Dewi Ni Luh Eka Setiasih Ni Luh Watiniasih Nindya Kusumawati Nuria Fitrianti Putri Perayadhista, Komang Tri Mywisti Permana, Rizky Pratama, Dimas Andi PRATIWI DEVI GM Pratiwi, Zulva Hanif Putra, Komang Darma Yudha Putri Virgania Putu Ayu Sisyawati Putriningsih Reggy Raisa Tangalayuk Reni, Ida Yuni Erdia Ridwan, Isabella Anjari S Siswanto Samsuri Samsuri Setiyowati, Asri Sherliyanti Maria Sene Sri Kayati Widyastuti Suharsono, Hamong Tjokorda Sari Nindhia Tyas Pandieka Yoga Widarta Dwi Kusuma Yanne Yanse Rumlaklak Zaidany Alfanandyah, Zaidany