Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Copyright Protection for Artificial Intelligence-Generated Works: An Analysis of Indonesian Positive Law, Islamic Law, and a Comparative Study with China Farhan Ardhi Nugroho; Inge Dwisvimiar; Sariyah
JURNAL ILMU SYARIAH Vol 10 No 1 (2026): Mizan: Journal of Islamic Law
Publisher : Universitas Ibn Khaldun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The rapid advancement of Artificial Intelligence (AI) has fundamentally transformed the process of creating copyrighted works, giving rise to complex legal issues concerning authorship, originality, and copyright ownership. Indonesian copyright law continues to adopt a human-centered authorship approach but has yet to establish clear legal standards for determining copyright protection for AI-generated works. This study aims to analyze the regulation of AI-generated works under the copyright systems of Indonesia and China and to formulate a reconstructed copyright protection model suitable for implementation in Indonesia. Employing normative legal research with statutory, conceptual, and comparative approaches, this study examines Law Number 28 of 2014 concerning Copyright, the Copyright Law of the People's Republic of China (Amendment 2020), and the Beijing Internet Court decision in LI v. LIU (2023). The findings reveal that Indonesia lacks objective legal parameters for assessing human creative contribution in AI-assisted creative processes, whereas China has adopted a more adaptive approach by recognizing copyright protection based on identifiable human intellectual contribution. From the perspective of Islamic law, AI is regarded as a technological instrument (wasīlah) rather than an independent legal subject, while intellectual property rights remain vested in human beings under the concepts of ḥaqq al-ibtikār and huqūq māliyyah, consistent with the objectives of Maqāṣid al-Sharī'ah. Accordingly, this study proposes the Human Creative Contribution (HCC) model as the principal basis for attributing copyright ownership to AI-generated works, thereby strengthening legal certainty while preserving the human-centered philosophy of copyright.
The Application and Prospects of Intellectual Property-Based Credit Guarantees in Banking Practices in Serang City Sulasno Sulasno; Ardita Octavia; Inge Dwisvimiar; Juhary Ali
Fiat Justisia: Jurnal Ilmu Hukum Vol. 20 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25041/fiatjustisia.v20no2.4994

Abstract

The use of intellectual property (IP) as collateral for bank loans, although regulated under Government Regulation No. 24/2022, still faced significant challenges in practice. These included difficulties in determining fair market value due to IP’s intangible nature, the lack of standardized valuation systems, complex execution mechanisms in cases of default, and the limited readiness of specialized appraisal institutions. Banks applied prudential principles because IP was considered a higher-risk asset. This study used a qualitative empirical juridical approach based on primary, secondary, and tertiary data analyzed descriptively. The results showed that IP certificates had strong legal and economic prospects as collateral for creative entrepreneurs and rights holders, as they already met legal criteria. However, their practical use as bank collateral in Serang City remained limited and not yet optimal.
Local Potential Development Model Based on Communal Intellectual Property in Serang District Inge Dwisvimiar; Rully Syahrul Mucharom
Jurnal Cakrawala Hukum Vol. 15 No. 2 (2024): August 2024
Publisher : Faculty of Law, University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/idjch.v15i2.14632

Abstract

This article reviews Minister of Home Affairs Regulation Number 9 of 2014 concerning Guidelines for Development of Regional Featured Products, Law Number 28 of 2014 on Copyright, and Law Number 5 of 2017 on Advancement of Culture. The article aims to ascertain how Serang Regency's local and regional potential is distributed across its products and culture and to outline and identify a development model that Serang Regency's local and regional potential can apply to the region's intellectual property. The article employs a socio-legal research methodology along with a qualitative method—analysis and discussion around the allocation of local and regional. With an emphasis on Golok Seuat, Silat Bandrong, and Rudat, the analysis and discussion of local and regional potential distribution based on communal intellectual property, including products and culture, is highly varied. Golok Seuat is widely distributed and fairly even, but Rudat and Silat Bandrong are not uniformly distributed for various reasons. While Silat Bandrong and Rudat have been inventoried, secured, and published, the development approach employed in Golok Seuat is based on regional superior products with a core competency model with improved attractiveness and promotion.
Pemenuhan Hak Dan Kewajiban Peserta Magang Di Kota Cilegon Berdasarkan Permenaker Nomor 6 Tahun 2020 Ahmad Taufan Taufani; Inge Dwisvimiar; Mochamad Arifinal
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.13071

Abstract

Program pemagangan merupakan salah satu instrumen pengembangan kompetensi tenaga kerja yang diatur dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Pemagangan di Dalam Negeri. Di Kota Cilegon sebagai kawasan industri strategis nasional, penyelenggaraan program pemagangan masih menghadapi kendala berupa rendahnya kepatuhan perusahaan terhadap persyaratan penyelenggaraan, yang berdampak pada pemenuhan hak dan kewajiban peserta magang. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemenuhan hak dan kewajiban peserta magang ditinjau dari aspek perlindungan hukum, serta mengidentifikasi implikasi hukum dari ketiadaan Unit Pelatihan Kerja (UPK)/Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) dan perjanjian pemagangan tertulis. Penelitian menggunakan metode hukum normatif-empiris dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, dianalisis melalui Teori Perlindungan Hukum dan Teori Keadilan John Rawls. Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan dan wawancara dengan Dinas Tenaga Kerja Kota Cilegon, dua perusahaan penyelenggara magang (PT Indorama Petrochemicals dan PT Standard Toyo Polymer), serta peserta magang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 147 perusahaan penyelenggara magang di Kota Cilegon, hanya 46 perusahaan yang memiliki UPK/LPK, 14 perusahaan yang UPK-nya terdaftar, dan 25 perusahaan yang melaporkan perjanjian pemagangan tertulis. Pemenuhan hak dasar peserta magang secara umum telah dilaksanakan, tetapi belum optimal karena minimnya kepatuhan administratif. Ketidakpatuhan tersebut tidak membatalkan program pemagangan, tetapi mengurangi kepastian hukum, melemahkan perlindungan hukum, dan meningkatkan potensi wanprestasi. Penelitian ini menyarankan penguatan pembinaan dan pengawasan oleh Dinas Tenaga Kerja serta kepatuhan penuh perusahaan terhadap Permenaker Nomor 6 Tahun 2020.
Pertanggungjawaban Perdata Perusahaan dalam Pengelolaan Limbah Non-B3 terhadap Kerugian Lingkungan dan Masyarakat Muhammad Afrizal; Inge Dwisvimiar; Mohamad Noor Fajar
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.13145

Abstract

Limbah non-bahan berbahaya dan beracun (non-B3) kerap dianggap berisiko rendah sehingga pengawasannya lebih longgar dibandingkan limbah B3, padahal dalam jumlah besar dan pengelolaan yang tidak tepat limbah tersebut tetap dapat menimbulkan pencemaran serius. Penelitian ini bertujuan menganalisis pertanggungjawaban perdata perusahaan atas kerugian lingkungan dan masyarakat akibat pengelolaan limbah non-B3, serta bentuk perlindungan hukum yang dapat diberikan kepada masyarakat terdampak, dengan menggunakan studi kasus Putusan Pengadilan Negeri Serang Nomor 847/Pid.Sus-LH/2025/PN Srg terhadap PT Cipta Paperia. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, didukung data primer berupa wawancara terhadap masyarakat terdampak di Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat unsur perbuatan melawan hukum dalam Pasal 1365 KUHPerdata terpenuhi, meliputi perbuatan melawan hukum berupa pembuangan limbah tanpa izin, unsur kesalahan yang dikualifikasi sebagai dolus eventualis, kerugian nyata baik materiil maupun immateriil, serta hubungan kausal yang didukung korelasi waktu dan lokasi. Penelitian ini juga menemukan celah hukum yang signifikan, yaitu denda pidana yang dijatuhkan tidak memberikan kompensasi langsung kepada masyarakat terdampak karena seluruhnya menjadi penerimaan negara. Gugatan perwakilan kelompok (class action) diidentifikasi sebagai jalur yang paling sesuai untuk menuntut pertanggungjawaban perdata tersebut. Penelitian merekomendasikan penguatan perlindungan hukum preventif dan restoratif, termasuk penerapan mekanisme tindak lanjut perdata otomatis (automatic civil follow-up mechanism) pasca putusan pidana lingkungan hidup yang telah berkekuatan hukum tetap.