Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Optimalisasi Pembelajaran Berbasis Proyek: Penggunaan Aplikasi Sipebi dalam Mata Kuliah Bahasa Indonesia Mohammad Siddiq; Nuryani Nuryani; Mahmudah Fitriyah; Syihaabul Hudaa; Winci Firdaus; Luo Ying
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.5919

Abstract

The limited time in learning activities and the lack of student understanding in writing make this output-based learning often experience obstacles. One of the most common obstacles is the non-achievement of learner output targets. The purpose of writing this article is to present how the Sipebi application can support outcome-based learning activities in Indonesian language courses. The research method used by researchers is mixed method, which is a combination of qualitative and quantitative. The research stages carried out began with the introduction of the Indonesian language course, providing RPS, teaching, practice, evaluation, and solutions provided by the teacher. The results in this learning activity were found that students were able to use the Sipebi application in learning activities. In addition, students get publications in digital newspapers which are the initial purpose of publication. AbstrakKeterbatasan waktu di dalam kegiatan pembelajaran dan kurangnya pemahaman mahasiswa dalam penulisan membuat pembelajaran berbasis luaran sering mengalami kendala. Salah satu kendala yang paling sering terjadi yaitu tidak tercapainya target luaran pemelajar. Tujuan penulisan artikel ini untuk menyajikan bagaimana aplikasi Sipebi mampu mendukung kegiatan pembelajaran berbasis luaran dalam mata kuliah Bahasa Indonesia. Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti menggunakan mixed method, yaitu gabungan antara kualitatif dengan kuantitatif. Tahapan penelitian yang dilakukan dimulai dengan tahap pengenalan mata kuliah Bahasa Indonesia, pemberian RPS, pengajaran, praktik, evaluasi, dan solusi yang diberikan pengajar. Hasil dalam kegiatan pembelajaran ini didapatkan bahwa mahasiswa mampu menggunakan aplikasi Sipebi dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu, mahasiswa mendapatkan publikasi di koran digital yang menjadi tujuan awal publikasinya.
Cara Bertamu pada Naskah Drama Belum Tengah Malam Karya Syaiful Affair Azizah, Janitsa Lailatul; Pratika, Sendy Dien; Firdaus, Winci
Anufa Ikaprobsi Vol 1 No 1 (2023): Juni
Publisher : Ikaprobsi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63629/anufa.v1i1.27

Abstract

This study aims to describe social studies regarding aspects of the etiquette, goals and intentions of visiting from an Islamic religious perspective in Syaiful Affair's drama Belum Tengah Malam through a sociology of literature approach. This study used descriptive qualitative method. Data collection techniques using reading and note techniques. Data analysis techniques using interactive analysis techniques. The results of this study are that in the drama script Belum Tengah Malam by Syaiful Affair contains several social values in the aspect of adab, the aims and intentions of gathering and about moral or ethical values. Therefore, based on this, the drama script Belum Tengah Malam by Syaiful Affair is very thick with social values that are directly related to everyday life in society. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kajian sosial mengenai aspek adab tujuan dan makksud bertamu perspektif agama islam pada naskah drama Belum Tengah Malam karya Syaiful Affair melalui pendekatan sosiologi sastra. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik baca dan catat. Teknik analisis data menggunakan Teknik analisis secara interaktif. Adapun hasil dari penelitian ini adalah bahwa dalam naskah drama Belum Tengah Malam karya Syaiful Affair mengandung beberapa nilai sosial aspek adab tujuan dan maksud beramu. juga mengenai diantaranya nilai moral atau etika. Oleh karena itu berdasarkan hal tersebut naskah drama Belum Tengah Malam karya Syaiful Affair ini sangat kental dengan nilai sosial yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat.
Expert Judgements of Integrated Cyberpragmatics Learning Model with Socio-Semiotics Multimodality-Based Cybertext Contexts R. Kunjana Rahardi; Winci Firdaus
Aksara Vol 35, No 2 (2023): Aksara, Edisi Desember 2023
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v35i2.4160.211--227

Abstract

This research is driven by an increasingly urgent requirement to fuse cyberpragmatics instruction with research findings on cyber texts within a multimodal environment, particularly in the ongoing postCovid-19 pandemic era. The challenge presented by this research problem is addressed through a combination of qualitative and quantitative methodologies. The research framework adopted is the Research & Development model proposed by Borg & Gall. The results indicate that 7.69% of participants found it appropriate for use without any changes, 92.30% found it suitable for use with revisions based on notes, and 0% of participants deemed it unsuitable for use. Thus, it can be inferred that all participants unanimously agreed that the book product of the cyberpragmatics learning model, combined with research on cybertext context, is suitable for use with revisions based on notes. This research has yielded foundational insights into the viability of employing cyberpragmatics learning models as a result of applied research. AbstrakPenelitian ini didorong oleh kebutuhan yang semakin mendesak untuk memadukan pengajaran cyberpragmatics dengan temuan penelitian mengenai teks siber dalam lingkungan multimoda, khususnya di era pandemi pasca-Covid-19 yang sedang berlangsung. Tantangan yang dihadirkan oleh masalah penelitian ini di atasi melalui kombinasi metodologi kualitatif dan kuantitatif. Kerangka penelitian yang diadopsi adalah model Research & Development yang dikemukakan oleh Borg & Gall. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa 7,69% peserta merasa layak digunakan tanpa ada perubahan, 92,30% merasa layak digunakan dengan revisi berdasarkan catatan, dan 0% peserta menilai tidak layak pakai. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seluruh peserta sepakat bahwa produk buku model pembelajaran cyberpragmatics yang dipadukan dengan penelitian konteks cybertext layak digunakan dengan revisi berdasarkan catatan. Penelitian ini telah menghasilkan wawasan mendasar mengenai kelayakan penggunaan model pembelajaran cyberpragmatics sebagai hasil penelitian terapan.
ANALISIS UNSUR SEMIOTIKA PUPUJIAN “GUSTI URANG SARAREA” SEBAGAI USULAN BAHAN AJAR DI SMP Firmansyah, Arif; Malik, Miftahul; Indriani, Putri; Firdaus, Winci
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 19, No 2 (2024): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/loa.v19i2.8407

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna dan pesan yang terkandung dalam pupujian Gusti Urang Sararea, yang sarat makna tentang perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW dan penanaman nilai-nilai keislaman. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan analisis semiotik Roland Barthes, mencakup lima kode yaitu hermeneutik, semik, simbolik, proaretik, dan kultural. Data penelitian berupa pupujian Gusti Urang Sararea yang terdiri dari 100 bait. Pengumpulan data dilakukan dengan menelaah penelitian-penelitian terdahulu yang relevan, membaca, menerjemahkan, dan menelaah pupujian Gusti Urang Sararea, serta mencatat setiap larik dan bait yang sesuai dengan unsur-unsur pembangun puisi dan lima kode semiotika Roland Barthes. Temuan menunjukkan kode kultural dan semik paling dominan, memperkuat narasi budaya Islam, Arab, dan Sunda, serta menyampaikan nilai luhur, ajaran agama, dan pesan keimanan secara konotatif melalui diksi dan simbol-simbol budaya. Amanat syair memberikan pembelajaran moral dan spiritual bagi pembaca, menjadikannya relevan sebagai sumber pembentukan karakter dan penanaman nilai keagamaan. Dengan demikian, syair ini bernilai sastra sekaligus edukatif. Kata-kata Kunci: bahan ajar, puisi, pupujian, semiotika Abstract This study aims to examine the meaning and message contained in the praise of Gusti Urang Sararea, which is full of meaning about the life journey of the Prophet Muhammad SAW and the instilling of Islamic values. The study uses a qualitative descriptive method with Roland Barthes' semiotic analysis, covering five codes, namely hermeneutic, semic, symbolic, proaretic, and cultural. The research data is in the form of praise of Gusti Urang Sararea which consists of 100 stanzas. Data collection was carried out by reviewing relevant previous studies, reading, translating, and analyzing the praise of Gusti Urang Sararea, and noting each line and stanza that corresponds to the elements of poetry construction and Roland Barthes' five semiotic codes. The findings show that cultural and semic codes are the most dominant, strengthening the narrative of Islamic, Arabic, and Sundanese cultures, and conveying noble values, religious teachings, and messages of faith connotatively through diction and cultural symbols. The message of the poem provides moral and spiritual learning for readers, making it relevant as a source of character building and instilling religious values. Thus, this poem has both literary and educational value.
TATA KRAMA BAHASA SUNDA DALAM KANAL YOUTUBE RIFIRDUS Zuhdi, Hafidz Ali; Nurjanah, Nunuy; Sudaryat, Yayat; Firdaus, Winci
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 20, No 1 (2025): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/loa.v20i1.8409

Abstract

Abstrak Tata krama bahasa Sunda saat ini sudah mulai ditinggalkan, banyak masyarakat yang mengetahui tata krama bahasa Sunda, namun tidak menggunakannya secara langsung. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan tahapan tata krama bahasa Sunda yang terdapat dalam channel youtube Rifirdus pada bulan Februari 2025. Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini untuk memaparkan dan menjelaskan secara objektif mengenai fenomena yang diteliti. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumentasi dan simak catat, guna memudahkan dalam mengumpulkan data. Penelitian ini menjelaskan penggunaan tahapan tata krama bahasa dan fungsi tata krama bahasa dalam channel youtube Rifirdus pada bulan Februari 2025. Selanjutnya, data yang ditemukan dideskripsikan secara rinci dalam penelitian ini. Penelitian ini dipilih karena tata krama bahasa merupakan hal yang penting dalam proses komunikasi berbahasa Sunda. Hasil yang didapatkan adalah terdapat tahapan tata krama bahasa Sunda halus, wajar, kasar, dan campuran antara halus dan kasar, juga campuran antara halus dan wajar. Fungsi tata krama yang didapatkan adalah fungsi edukasional, instrumental, integratif, dan kultural. Tahapan tata krama bahasa digunakan untuk menyampaikan maksud dalam proses komunikasi dan fungsi tata krama digunakan sebagai alat untuk menunjukkan dan upaya agar tujuan dalam suatu peristiwa komunikasi bisa terwujud. Kata-kata Kunci: bahasa Sunda; tata krama; YouTube Abstract Many people know Sundanese language etiquette, but do not use it directly. This study aims to describe the stages of Sundanese language manners contained in Rifirdus' YouTube channel in February 2025. The descriptive qualitative approach is used in this study to describe and explain objectively about the phenomenon under study. The data collection techniques used are documentation study and simak catat, to facilitate in collection of data. This research explains the use of language manners stages and language manners functions in Rifirdus' YouTube channel in February 2025. Furthermore, the data found will be described in detail in this study. This research was chosen because language manners are important in the Sundanese language communication process. The results obtained are that there are stages of Sundanese subtle, natural, coarse, and a mixture of subtle and coarse, as well as a mixture of subtle and natural. The functions obtained are educational, instrumental, integrative, and cultural. The stages of language manners are used to convey intent in the communication process, and the function of manners is used as a tool to show effort so that the objectives in a communication event can be realized.
BATIK CIAMISAN: A SOCIOHISTORICAL STUDY WITH A COGNITIVE ONOMASTIC APPROACH Herlinawati, Lina; Firdaus, Winci
Jurnal Tradisi Lisan Nusantara Vol 5, No 2 (2025): Volume 5, Nomor 2, September 2025
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/jtln.v5i2.1585

Abstract

Abstract: Ciamisan Batik is one of the unique cultural heritage in Sundanese Tatars, especially in the Ciamis Regency area, West Java. This article examines Ciamisan Batik through a contemporary socio-historical approach with an emphasis on historical dynamics, cultural identity, and the challenges of globalization. The study was conducted to explore how batik not only functions as a textile artwork, but also as a symbolic representation of the Ciamis community in responding to the changing times. The analysis was carried out by combining qualitative-ethnographic, multimodal, and cognitive onomastics approaches. This approach allows the decipherment of the meaning of names, motifs, and symbols attached to Ciamisan Batik while placing it in the context of today's Indonesian creative economy and cultural politics. The results of the study show that Ciamisan Batik represents a long historical trace of agrarian, colonial, and modern cultural interactions. At a contemporary level, this batik faces the challenges of commodification, industrialization, and changing global market tastes. However, on the other hand, Ciamisan Batik is also a means of cultural diplomacy, a medium for local economic empowerment, and the strengthening of regional identity in the midst of global homogenization. This research makes a theoretical contribution to the development of batik studies based on socio-historical cultural studies and offers a new analytical model that places batik as a living, dynamic, and open cultural text to reinterpretation.
Masalah Sosial dalam Cerpen “Guru” Karya Putu Wijaya Rochmansyah, Bagaskara Nur; Firdaus, Winci; Leonita, Leonita
Salingka Vol 21, No 1 (2024): SALINGKA, Edisi Juli 2024
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/salingka.v21i1.1092

Abstract

 This research aims to describe the social problems in the short story "Guru" by Putu Wijaya. This research uses a literary sociology approach according to Wellek and Warren with a focus on the sociology of literary works. The data collection technique used is the first reading technique (heuristics) and the second reading technique (hermeneutics) as a data analysis technique. The results of this research show four classifications of social problems. The poverty depicted is the condition of teachers who are closely related to poverty, lacking everything, and living a miserable life. Family conflict includes conflicting ideals about being a teacher. The problem of the idealism of the young generation in contemporary society is shown in the form of the firmness of their idealism in their dreams of becoming teachers even though they are constantly being persuaded, rewarded, scolded, and even threatened with death by their parents. The problem with contemporary society's mindset that is shown is the parents' view of the teaching profession which is not desired by society and is closely linked to poverty, adversity and death. Teaching is seen as an unpromising profession and people who become teachers are pessimistic.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan masalah sosial yang terdapat di dalam cerpen “Guru” karya Putu Wijaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra menurut Wellek dan Warren dengan fokus sosiologi karya sastra. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik pembacaan pertama (heuristik) dan teknik pembacaan kedua (hermeneutik) sebagai teknik analisis data. Hasil penelitian ini menunjukkan empat klasifikasi masalah sosial. Kemiskinan yang tergambar adalah kondisi guru yang erat dengan kemiskinan, serba kekurangan, dan hidup sengsara. Konflik keluarga meliputi pertentangan idealisme menjadi guru. Masalah idealisme generasi muda dalam masyarakat kontemporer yang ditampakkan berupa teguhnya idealisme cita-cita menjadi guru walau terus dibujuk, akan dihadiahi, dimarahi, bahkan diancam akan dibunuh oleh orang tuanya. Masalah pola pikir masyarakat kontemporer yang ditampakkan adalah pandangan orang tua terhadap profesi guru yang tidak didambakan oleh masyarakat dan erat dengan kemiskinan, keterpurukan, serta kesengsaraan. Guru dipandang menjadi profesi yang tidak menjanjikan dan orang yang menjadi guru adalah orang yang pesimis.
TERSELUBUNG DALAM KATA: ANALISIS UNSUR SEIKSIS DALAM TEKA-TEKI PERMAINAN BAHASA Basori, Basori; Firdaus, Winci
Jurnal Tradisi Lisan Nusantara Vol 5, No 1 (2025): Volume 5, Nomor 1, Maret 2025
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/jtln.v5i1.1512

Abstract

Teka-teki permainan kata sering dianggap sebagai bentuk hiburan ringan yang tidak berbahaya. Namun, di balik kelucuannya, tak jarang terselip wacana yang sarat dengan stereotip gender dan bias seksis. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap unsur-unsur seksisme yang tersembunyi dalam teka-teki permainan bahasa populer di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan analisis wacana kritis dan teori representasi gender, penelitian ini menelaah contoh-contoh teka-teki yang beredar di media sosial, buku humor, dan platform digital lainnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa banyak teka-teki mengandung narasi yang merendahkan perempuan, memperkuat peran gender tradisional, atau menjadikan identitas gender sebagai bahan lelucon. Fenomena ini menunjukkan bagaimana bahasa tidak hanya mencerminkan realitas sosial, tetapi juga mereproduksi ideologi patriarkis secara halus. Studi ini menekankan pentingnya kesadaran kritis terhadap bentuk-bentuk seksisme dalam media bahasa sehari-hari, termasuk yang dikemas dalam format permainan dan humor. Word game puzzles are often considered a harmless form of light entertainment. However, behind their humor, there is often a discourse laden with gender stereotypes and sexist bias. This article aims to uncover the elements of sexism hidden in popular language game puzzles in Indonesia. Using a critical discourse analysis approach and gender representation theory, this study examines examples of puzzles circulating on social media, humor books, and other digital platforms. The results of the analysis show that many puzzles contain narratives that demean women, reinforce traditional gender roles, or make gender identity the subject of jokes. This phenomenon shows how language not only reflects social reality but also reproduces patriarchal ideology in a subtle way. This study emphasizes the importance of critical awareness of forms of sexism in everyday language media, including those packaged in game and humor formats. 
SOCIAL CONFLICT IN LAZUARDI'S LABYRINE NOVEL RED LANGIT SAGA BY GOLA GONG Putra, Ari; Septia, Emil; Tatalita, Ricci Germani; Firdaus, Winci
Magistra Andalusia: Jurnal Ilmu Sastra Vol. 4 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/majis.4.2.80.2022

Abstract

This research is motivated by the novel of many social conflicts that occur in the community contained in the Blue Labyrinth, Langit Merah Saga is one of the novels that describe. This study aims to describe the social conflict in the novel Labirin Lazuardi Langit Merah Saga by Gola Gong. This type of research is qualitative research because the research data is in the form of text or words using descriptive analysis methods. The data of this research are in the form of words, sentence quotes and discourses about social conflict contained in the novel Labirin Lazuardi Langit Merah. Data was collected through the following steps: reading, marking and recording data, taking an inventory of all data related to social conflict. After that the data were analyzed and concluded the research results. The results of this study indicate that the social conflicts found are, First, personal conflicts or conflicts that occur between two individuals, such as conflicts between Blue and Cak Leman, Blue with Buto, Blue with Leo, Paijo with Butu, and Leo with Latief. Second, between the social classes, namely the conflict between the ruling class and the small people, the government class or state apparatus and the small people, the difference between the rich and the poor. Third, political conflict shows the interests of the apparatus in displacing the small people, the interests of the rulers and the interests of the government that do not side with the small people.
Lullabying in Javanese Caregiver-Infant Interaction: A Discursive-Integrative Pragmatic Approach Rahardi, R. Kunjana; Firdaus, Winci
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8384

Abstract

The objective of this research was to depict pragmatic functions of lullabying within the Javanese cultural context, examining how linguistic practices in early infant caregiving facilitate emotional bonding, cultural transmission, and behavioral socialization. Utilizing a qualitative, discursive-integrative pragmatic framework, the research employs multimodal discourse analysis on verbal lullabies collected from digital social media platforms, notably TikTok. Data were collected using the observation method combined with the note-taking technique. Subsequently, the data were analyzed through the application of a contextual analysis method. The results of the analysis reveal five pragmatic functions of lullabying in Javanese caregiving practices. These five functions are as follows: (1) shooting songs using metaphorical language to convey protection and comfort; (2) onomatopoeic refrains that leverage rhythmic repetition to capture attention and induce calm; (3) ludic and culturally embedded references connecting infants to Javanese heritage; (4) vernacular intimacy that subtly guides behavior through affectionate, colloquial speech; and (5) playful nonsense lullabies infused with domestic referentiality to create soothing yet engaging interactions. These findings reveal lullabying as a complex pragmatic performance deeply rooted in Javanese values such as humility, social harmony, and compassion, serving not only as a means of soothing but also as a culturally specific mechanism for early moral and social education. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan fungsi-fungsi pragmatik dari aktivitas meninabobokan dalam konteks budaya Jawa, dengan menelaah bagaimana praktik kebahasaan dalam pengasuhan bayi pada tahap awal berperan dalam membangun ikatan emosional, mentransmisikan nilai budaya, serta melakukan sosialisasi perilaku. Dengan menggunakan kerangka pragmatik kualitatif berorientasi diskursif-integratif, penelitian ini menerapkan analisis wacana multimodal terhadap lagu-lagu nina bobo yang dikumpulkan dari media sosial digital, khususnya TikTok. Data dikumpulkan melalui metode observasi yang dipadukan dengan teknik pencatatan. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan metode analisis kontekstual. Hasil analisis mengungkap lima fungsi pragmatik dari aktivitas meninabobokan dalam praktik pengasuhan Jawa. Kelima fungsi tersebut adalah: (1) lagu penenang yang menggunakan bahasa metaforis untuk menyampaikan perlindungan dan kenyamanan; (2) refrein onomatope yang memanfaatkan pengulangan ritmis untuk menarik perhatian dan menimbulkan ketenangan; (3) unsur ludik dan rujukan budaya yang menghubungkan bayi dengan warisan Jawa; (4) keintiman vernakular yang secara halus membimbing perilaku melalui tuturan penuh kasih dan bersifat kolokial; dan (5) lagu nina bobo bernuansa “nonsense” yang dipadukan dengan referensialitas domestik untuk menciptakan interaksi yang menenangkan sekaligus menarik. Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas meninabobokan merupakan sebuah performa pragmatik yang kompleks dan berakar kuat pada nilai-nilai Jawa seperti kerendahan hati, harmoni sosial, dan kasih sayang, yang tidak hanya berfungsi untuk menenangkan, tetapi juga sebagai mekanisme khas budaya dalam pendidikan moral dan sosial pada tahap awal kehidupan.