Claim Missing Document
Check
Articles

Cara Bertamu pada Naskah Drama Belum Tengah Malam Karya Syaiful Affair Janitsa Lailatul Azizah; Sendy Dien Pratika; Winci Firdaus
Anufa Ikaprobsi Vol 1 No 1 (2023): Juni
Publisher : Ikaprobsi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63629/anufa.v1i1.27

Abstract

This study aims to describe social studies regarding aspects of the etiquette, goals and intentions of visiting from an Islamic religious perspective in Syaiful Affair's drama Belum Tengah Malam through a sociology of literature approach. This study used descriptive qualitative method. Data collection techniques using reading and note techniques. Data analysis techniques using interactive analysis techniques. The results of this study are that in the drama script Belum Tengah Malam by Syaiful Affair contains several social values in the aspect of adab, the aims and intentions of gathering and about moral or ethical values. Therefore, based on this, the drama script Belum Tengah Malam by Syaiful Affair is very thick with social values that are directly related to everyday life in society. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kajian sosial mengenai aspek adab tujuan dan makksud bertamu perspektif agama islam pada naskah drama Belum Tengah Malam karya Syaiful Affair melalui pendekatan sosiologi sastra. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik baca dan catat. Teknik analisis data menggunakan Teknik analisis secara interaktif. Adapun hasil dari penelitian ini adalah bahwa dalam naskah drama Belum Tengah Malam karya Syaiful Affair mengandung beberapa nilai sosial aspek adab tujuan dan maksud beramu. juga mengenai diantaranya nilai moral atau etika. Oleh karena itu berdasarkan hal tersebut naskah drama Belum Tengah Malam karya Syaiful Affair ini sangat kental dengan nilai sosial yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat.
Topik Perkara Pelanggaran Pasal 27 UU ITE di Wilayah Hukum Nusa Tenggara Timur: Analisis Wacana Kritis (Topics of Violations of Article 27 of the ITE Law in the East Nusa Tenggara Legal Territory: Critical Discourse Analysis) Salimulloh Tegar Sanubarianto; Winci Firdaus
Indonesian Language Education and Literature Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v8i1.11286

Abstract

This study aims to describe the topic of cases of violations of Article 27 of the ITE Law in the jurisdiction of East Nusa Tenggara through the corpus with the help of AntConc software. The results of the study show personal pronouns of the second-person singular and greeting words such as kau, kamu, saudara, lu, anjing, lelak, puki, nona, pukimai, babi, pelacur, mai, wanita, lonte, betina, situ, tolo, perempuan, ular, lasu, Yang Mulia, nyong, anak, dan laknat, predominately appear in the corpus. The second-person singular personal pronouns and greeting words that appear are mostly associated with women. The results of the collocation and concordance analysis show that the topic of infidelity is the main and very dominant topic, followed by the topic of inheritance rights and conflict at work. It is necessary to conduct research with a much larger corpus of data so that potential conflicts in the digital world can be mapped and mitigated.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan topik perkara pelanggaran Pasal 27 UU ITE di wilayah hukum Nusa Tenggara Timur melalui korpus dengan bantuan peranti lunak AntConc. Hasil dari penelitian menunjukkan pronomina persona orang kedua tunggal dan kata sapaan seperti kau, kamu, saudara, lu, anjing, lelak, puki, nona, pukimai, babi, pelacur, mai, wanita, lonte, betina, situ, tolo, perempuan, ular, lasu, Yang Mulia, nyong, anak, dan laknat, secara dominan muncul dalam korpus. Pronomina persona orang kedua tunggal dan kata sapaan yang muncul pun kebanyakan berasosiasi dengan perempuan. Hasil analisis kolokasi dan konkordansi menunjukkan bahwa topik perselingkuhan menjadi topik utama dan sangat dominan, disusul topik hak waris, dan konflik dalam pekerjaan. Perlu dilakukan penelitian dengan data korpus yang jauh lebih besar sehingga potensi konflik di dunia digital dapat dipetakan dan diredam.
Artificial Intelligence–Driven Learning Analytics for Enhancing Student Engagement and Academic Performance in Digital Learning Environments Dendi Pratama; Eka Maya S.S. Ciptaningsih; Ramadiani Ramadiani; Achmad Fawaid; Winci Firdaus; Bambang Sudarsono
Daengku: Journal of Humanities and Social Sciences Innovation Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : PT Mattawang Mediatama Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35877/454RI.daengku4835

Abstract

The quick development of digital learning ecosystems after educational reform in the post-pandemic era requires an increase in intelligent monitoring systems that assess student engagement and predict academic performance. Traditional learning assessment techniques frequently have flaws when detecting early disengagement signals and initiating corrective actions for at-risk students. This research proposes an Artificial Intelligence (AI)-Driven Learning Analytics method that aims to improve student engagement monitoring and academic performance prediction in digital learning environments. A fabricated LMS-based educational dataset was used, which includes behavior analysis, engagement factors, academic factors, interaction factors, and temporal learning behavior obtained from LMSs like Moodle, Google Classroom, and Canvas. Several machine learning models, including Random Forest, XGBoost, Support Vector Machine, Artificial Neural Network, and Long Short-Term Memory (LSTM), were tested. The results revealed that the LSTM model had the best performance with an accuracy rate of 95% and a ROC-AUC value of 0.98, highlighting the importance of temporal learning behavior in educational prediction systems. Some of the essential engagement factors found to be most effective were assignment submission, quiz score, inactivity period, session length, and login number. The findings make a theoretical contribution to Artificial Intelligence in Education and Learning Analytics by combining multidimensional engagement analysis, temporal behavior modeling, and explainable AI into a unified framework. In practice, the suggested framework can aid adaptive learning, early warning, individualized intervention, and evidence-based education decisions in intelligent digital learning ecosystems.
Makanan Tradisional Sentani dalam Perspektif Linguistik Kuliner Siswanto Siswanto; Basori Basori; Wigati Yektiningtyas; Winci Firdaus
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 1 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i1.7883

Abstract

This research aims to explore the ingredients and methods of food processing in the Sentani community. The Sentani community who live around Lake Sentani, Jayapura Regency, Papua have unique ingredients and methods, which are certainly different from other cultures. The qualitative method was chosen because this research intends to explain the complex concept of food and tradition in the Sentani culture. This research combines the perspectives of anthropological linguistics and culinary linguistics. The concept of anthropological linguistics will help in understanding the language and meaning of the terminology used in naming food and eating traditions. While culinary linguistics will help holistically understand the names of food in the context of the culture and beliefs of the Sentani community. The naming of ethnic Sentani food is divided into several categories, namely: new naming based on the absorption of other languages, naming based on the mention of the main ingredients, naming based on processing, naming based on the mention of similarity in shape, naming based on cooking tools/places, and naming based on customary methods/rules. The meaning of Sentani ethnic food based on the language used by the tribe is the Sentani regional language. The meaning of the naming of Sentani ethnic food is based on the ingredients used, taste, form of processing and presentation. Abstrak Riset ini bertujuan untuk mengeksplorasi bahan dan cara pengolahan makanan dalam masyarakat Sentani. Masyarakat Sentani yang hidup di sekitar Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua memiliki bahan dan cara yang khas, yang tentunya berbeda dengan kebudayaan yang lain. Metode kualitatif dipilih karena riset ini bermaksud menjelaskan konsep yang kompleks makanan dan tradisi dalam kebudayaan Sentani. Riset ini menggabungkan sudut pandang linguistik antropologi dan linguistik kuliner. Konsep linguistik antropologi akan membantu dalam memahami bahasa dan makna terminologi yang digunakan dalam penamaan makanan dan tradisi makan. Sedangkan linguistik kuliner akan membantu secara holistik memahami nama-nama makanan dalam konteks budaya dan keyakinan masyarakat Sentani. Penamaan makanan etnis Sentani terbagi atas beberapa kategori, yaitu: penamaan baru berdasarkan serapan bahasa lain, penamaan berdasarkan penyebutan bahan utama, penamaan berdasarkan pengolahan, penamaan berdasarkan penyebutan keserupaan bentuk, penamaan berdasarkan alat/tempat masak, dan penamaan berdasarkan cara/aturan adat. Makna makanan etnis Sentani berdasarkan bahasa yang digunakan suku tersebut adalah bahasa daerah Sentani. Makna penamaan makanan etnis Sentani didasarkan atas bahan yang digunakan, rasa, bentuk pengolahan dan penyajian.
Lullabying in Javanese Caregiver-Infant Interaction: A Discursive-Integrative Pragmatic Approach R. Kunjana Rahardi; Winci Firdaus
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8384

Abstract

The objective of this research was to depict pragmatic functions of lullabying within the Javanese cultural context, examining how linguistic practices in early infant caregiving facilitate emotional bonding, cultural transmission, and behavioral socialization. Utilizing a qualitative, discursive-integrative pragmatic framework, the research employs multimodal discourse analysis on verbal lullabies collected from digital social media platforms, notably TikTok. Data were collected using the observation method combined with the note-taking technique. Subsequently, the data were analyzed through the application of a contextual analysis method. The results of the analysis reveal five pragmatic functions of lullabying in Javanese caregiving practices. These five functions are as follows: (1) shooting songs using metaphorical language to convey protection and comfort; (2) onomatopoeic refrains that leverage rhythmic repetition to capture attention and induce calm; (3) ludic and culturally embedded references connecting infants to Javanese heritage; (4) vernacular intimacy that subtly guides behavior through affectionate, colloquial speech; and (5) playful nonsense lullabies infused with domestic referentiality to create soothing yet engaging interactions. These findings reveal lullabying as a complex pragmatic performance deeply rooted in Javanese values such as humility, social harmony, and compassion, serving not only as a means of soothing but also as a culturally specific mechanism for early moral and social education. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan fungsi-fungsi pragmatik dari aktivitas meninabobokan dalam konteks budaya Jawa, dengan menelaah bagaimana praktik kebahasaan dalam pengasuhan bayi pada tahap awal berperan dalam membangun ikatan emosional, mentransmisikan nilai budaya, serta melakukan sosialisasi perilaku. Dengan menggunakan kerangka pragmatik kualitatif berorientasi diskursif-integratif, penelitian ini menerapkan analisis wacana multimodal terhadap lagu-lagu nina bobo yang dikumpulkan dari media sosial digital, khususnya TikTok. Data dikumpulkan melalui metode observasi yang dipadukan dengan teknik pencatatan. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan metode analisis kontekstual. Hasil analisis mengungkap lima fungsi pragmatik dari aktivitas meninabobokan dalam praktik pengasuhan Jawa. Kelima fungsi tersebut adalah: (1) lagu penenang yang menggunakan bahasa metaforis untuk menyampaikan perlindungan dan kenyamanan; (2) refrein onomatope yang memanfaatkan pengulangan ritmis untuk menarik perhatian dan menimbulkan ketenangan; (3) unsur ludik dan rujukan budaya yang menghubungkan bayi dengan warisan Jawa; (4) keintiman vernakular yang secara halus membimbing perilaku melalui tuturan penuh kasih dan bersifat kolokial; dan (5) lagu nina bobo bernuansa “nonsense” yang dipadukan dengan referensialitas domestik untuk menciptakan interaksi yang menenangkan sekaligus menarik. Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas meninabobokan merupakan sebuah performa pragmatik yang kompleks dan berakar kuat pada nilai-nilai Jawa seperti kerendahan hati, harmoni sosial, dan kasih sayang, yang tidak hanya berfungsi untuk menenangkan, tetapi juga sebagai mekanisme khas budaya dalam pendidikan moral dan sosial pada tahap awal kehidupan.
Mengungkap Xenoglosofilia pada Daftar Menu Kafe sebagai Ancaman terhadap Pergeseran Bahasa Indonesia Leonita Leonita; Itaristanti Itaristanti; Veni Nurpadillah; Winci Firdaus
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.7352

Abstract

Xenomania arose because of people's desire to use foreign languages instead of Indonesian because foreign languages seemed more attractive. This study aims to describe the form and meaning as well as the factors of using xenomania on the list of café menus in Cirebon City. This research is a descriptive qualitative research with a research method using a translational matching method, and a data collection technique using listening, proficiency and documentation techniques. The source of data for this study is a list of café menus on Jalan Perjuangan, Cirebon City, with data in the form of menu names. The results of this study show that the existence of xenomania is as many as 162 out of 224 menu names or around 72.32% use foreign terms. Only 62 of them use Indonesian. This study highlights the threat to the shift in Indonesian language in food terms on menu lists caused by xenomania. The occurrence of xenomania in the menu list emphasizes the importance of awareness of the Indonesian language as stated in Permendikdasmen No. 2 of 2025 Abstrak Xenomania muncul karena keinginan masyarakat dalam menggunakan bahasa asing dibandingkan bahasa Indonesia disebabkan bahasa asing terkesan lebih menarik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk serta faktor pengunaan xenomania pada daftar menu kafe di Kota Cirebon. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan metode penelitian menggunakan metode padan translasional. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik simak bebas libat cakap, cakap semuka dan dokumentasi. Sumber data penelitian ini adalah daftar menu kafe di Jalan Perjuangan Kota Cirebon, dengan data berupa nama-nama menunya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya xenomania yakni sebanyak 162 dari 224 nama menu atau sekitar 72.32% menggunakan istilah asing. Hanya 62 diantaranya yang menggunakan Bahasa Indonesia. Penelitian ini menyoroti ancaman terhadap pergeseran bahasa Indonesia dalam istilah makanan pada daftar menu yang ditimbulkan oleh xenomania. Terjadinya xenomania dalam daftar menu, menekankan pentingnya kesadaran berbahasa Indonesia sesuai yang tercantum dalam Permendikdasmen No. 2 Tahun 2025
Konsep Performance Bahasa Minangkabau dalam Novel Wahyudi Rahmat; Yolanda Z Putri; Winci Firdaus
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 1 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i1.2120

Abstract

The problem in this study examines the form of performance or reflection of the language system that is on the mind of the speaker in Pinto Anugrah's novel Jemput Terbawa. Performance in a novel deserves to be researched with the aim of knowing the form of the use of speaker language or Pinto Anugrah as an author to convey the intent into a work. Therefore, the purpose of this analysis is to see how the form of performance of pinto anugrah minangkabau language that is influenced by psychology and culture that affects it.  The theory used in this study is Simanjuntak (2015). The research method used is the method of listening to or listening to the text and marking the content of the text with a note technique. The data analysis uses the padan method and agih method. All of these forms are based on the opinion of Sudaryanto (1993). The results of this study found that the form of performance in the novel Jemput Terbawa can be seen in several forms, namely the form of dendang, rabab, lusuah, cigak baruak, and rabab jua. AbstrakMasalah dalam penelitian ini mengkaji tentang bentuk performance atau cerminan dari sistem bahasa yang ada pada pikiran penutur dalam novel Jemput Terbawa karya Pinto Anugrah. Performance dalam sebuah novel layak untuk diteliti dengan tujuan untuk mengetahui bentuk pemakaian bahasa penutur atau Pinto Anugrah sebagai pengarang untuk menyampaikan maksud ke dalam sebuah karyanya. Oleh karena itu, tujuan analisis ini adalah untuk melihat bagaimana bentuk performance bahasa minangkabau Pinto Anugrah yang dipengaruhi oleh psikologi dan kebudayaan yang memengaruhinya.  Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Simanjuntak (2015). Metode penelitian yang digunakan menggunakan adalah metode simak atau menyimak teks dan menandai isi dari teks dengan teknik catat. Analisis datanya menggunakan metode padan dan metode agih. Semua bentuk ini didasarkan pada pendapat Sudaryanto (1993). Hasil penelitian ini menemukan bahwa bentuk performance dalam novel Jemput Terbawa dapat dilihat dalam beberapa bentuk yakni bentuk dendang, rabab, lusuah, cigak baruak, dan rabab jua.
Kekuasaan Semantik dalam Analisis Wacana Kritis Debat Capres-Cawapres Wati Kurniawati; Ririen Ekoyanantiasih; Santy Yulianti; Menuk Hardaniawati; S. S.T. Wisnu Sasangka; Winci Firdaus
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.4966

Abstract

The use of language in relation to the ideology brought by the party in its political speech is important to study in relation to the life of the nation and state. The formulation of the problem in this research is how to use the language of politicians based on semantic power. The purpose of this study is to identify the language of politicians in terms of semantic power. This research uses descriptive and qualitative research methods. The data is taken from transcripts of Jokowi-Amin and Probowo-Sandiaga political speeches. The results showed that speech texts produced by political party figures had utilized linguistic features, such as text structure, vocabulary, language style or figure of speech, sentences, cohesion, coherence, transitivity, and pronouns. Textually, discourse and social show semantic features that are used to launch a social process: the formation of a positive image of a party in fighting for the interests of the people. The social processes and practices channeled by the political party figures are closely related to their social background, politics, and cultural values in particular and Indonesia in general. Verbal discourse in Jokowi-Amin, Prabowo-Sandiaga speeches was expressed in the form of a series of transitive active sentences and intransitive active sentences. Sentences that are expressed are sentences in the form of invitation sentences, exclamatory sentences, sentences of hope, sentences of promises, and sentences of statements. The speech discourses expressed by the orators also contain the use of language styles, namely hyperbole, metaphor, personification, and repetition. AbstrakPenggunaan bahasa yang berkaitan dengan ideologi yang dibawa oleh partai dalam pidato politiknya sangat penting untuk dikaji, terutama dalam kaitannya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Rumusan masalah dalam penelitian ini ialah bagaimana penggunaan bahasa para politikus berdasarkan kekuasaan semantik. Tujuan penelitian ini ialah mengidentifikasi bahasa para politikus yang ditinjau dari kekuasaan semantik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dan kualitatif. Data diambil dari transkrip pidato politik Jokowi-Amin dan Probowo-Sandiaga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks pidato yang diproduksi oleh tokoh-tokoh partai politik telah memanfaatkan fitur-fitur linguistik, seperti struktur teks, kosakata, gaya bahasa atau majas, kalimat, kohesi, koherensi, ketransitifan, dan kata ganti. Secara tekstual, wacana dalam pidato politik tersebut menunjukkan fitur-fitur semantik yang digunakan untuk melancarkan suatu proses sosial: pembentukan citra positif suatu partai dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Proses dan praktis sosial yang disalurkan oleh tokoh-tokoh partai politik tersebut berkaitan erat dengan latar belakang sosial, politik, dan budaya mereka. Wacana verbal dalam pidato Jokowi--Amin, Prabowo--Sandiaga diekspresikan dalam bentuk rangkaian kalimat aktif transitif dan kalimat aktif intransitif. Kalimat-kalimat yang diungkapan adalah kalimat yang berbentuk kalimat ajakan, kalimat seruan, kalimat harapan, kalimat janji, dan kalimat pernyataan. Wacana pidato yang diungkapkan oleh para orator tersebut juga mengandung pemakaian gaya bahasa, yaitu gaya bahasa hiperbola, metafora, personifikasi, dan repetisi.
Realisasi Pronomina dalam Bahasa Mooi: Analisis Tipologi Morfologi Winci Firdaus
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 7, No 2 (2018): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v7i2.496

Abstract

This study on relation of pronouns and affixation discusses about pronouns structure and affixes usage in Mooi language. Pronouns structures in Mooi language include personal pronouns, possessive pronouns, interrogative pronouns and demonstrative pronouns. The pronouns forms in Mooi language recognize gender forms and will experience sound changes if they are side by side with the first, second and third personal pronouns. On the other hand, affixations in Mooi language include preffixes, confixes, time marker confixes and personal confixes. The method used in this research is synchronic descriptif method, and the data collecting technique is spoken and listening technique. The data analysis technique is generalisation analysis technique that include several stages of forms and units determination in the corpus to morphology generalisation examination. ABSTRAKKajian tentang relasi pronomina dan afiksasi ini membahas tentang struktur kata ganti dan penggunaan afiks pada bahasa Mooi. Struktur kata ganti pada bahasa Mooi meliputi pronomina persona, pronomina milik, pronomina penanya dan pronomina penujuk. Bentuk pronomina dalam bahasa Mooi mengenal bentuk gender dan akan mengalami perubahan bunyi apabila berdampingan dengan kata ganti orang ke I, II, dan III. Sedangkan afikasasi pada bahasa Mooi meliputi prefiks, konfiks, konfiks penanda waktu dan konfiks persona. Metode yang digunakan dalam peneltian ini adalah metode deskriptif sinkronis, dengan teknik pengumpulan data adalah teknik cakap dan simak. Teknik analisis data yaitu teknik analisis generalisasi yang meliputi beberapa tahapan dari penentuan bentuk dan satuan dalam korpus sampai pada pemeriksaan generalisasi morfologi.
Penggunaan Bahasa Nonverbal dalam Upacara Adat Pernikahan Gaya Yogyakarta: Kajian Simbolik Etnopragmatik NFN Pranowo; Winci Firdaus
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 9, No 1 (2020): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v9i1.2321

Abstract

This research is an interpretive reflective research with ethnopragmatic symbolic study theory. The source of the research data was taken from the documents of two makeup artists from Yogyakata, namely the makeup dresser Lisandra and the makeup dresser Hj. Rochayati. The research data are in the form of Javanese traditional wedding document of Yogyakarta style. The data collection technique is in the form of observation of photo documentation to obtain data in the form of a marriage ceremony sequence that uses verbal and nonverbal language from preparation to the end. The data analysis technique is interpretive reflective. The concrete steps of data analysis are (a) identifying documents, (b) classifying the sequences of marriages, and (c) interpreting each stage of the ceremony. The objectives of the research are (1) to describe the form of nonverbal language in traditional marriage ceremonies, and (2) to describe the non-verbal symbolic meaning of non-verbal language in marriage ceremonies. The findings of the research are that (a) the form of Yogyakarta-style traditional wedding events there are 15 stages, ranging from paningsetan to reception, and (b) ethnopragmatic symbolic meaning in general in the form of prayer requests so that what is desired can be realized.AbstrakPenelitian ini merupakan penelitian reflektif interpretatif dengan teori kajian simbolik etnopragmatik. Sumber data penelitian diambil dari dokumen dua orang juru rias dari Yogyakata, yaitu rias pengantin Lisandra dan rias penantin Hj. Rochayati (nama disamarkan). Data penelitian berupa dokumen foto perkawinan adat Jawa gaya Yogyakarta. Teknik pengumpulan data berupa observasi dokumentasi foto untuk mendapatkan data berupa urutan upacara perkawinan yang menggunakan bahasa verbal dan bahasa nonverbal dari persiapan sampai dengan akhir. Teknik analisis data dilakukan secara reflektif interpretatif. Langkah konkret analisis data adalah (a) mengidentifikasi dokumen, (b) mengklasifikasi urut-urutan acara perkawinan, dan (c) menginterpretasi tiap tahapan upacara. Tujuan penelitiannya adalah (1) mendeskripsikan wujud bahasa nonverbal dalam upacara adat perkawinan, dan (2) mendeskripsikan makna simbolik etnopragmatik bahasa nonverbal dalam upacara adat perkawinan. Temuan hasil penelitian adalah bahwa (a) wujud acara adat perkawinan gaya Yogyakarta terdapat 15 tahapan, mulai dari paningsetan sampai dengan resepsi, dan (b) makna simbolik etnopragmatik pada umumnya berupa doa permohonan agar apa yang diinginkan dapat terwujud.