Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Agrikultura

Studi Kekerabatan Padi Hasil Piramidisasi Berbasis Marka Molekuler dan Fenotipik Reisyi Rinola Tambunan; Santika Sari; Yoana Saragih; Nono Carsono; Noladhi Wicaksana
Agrikultura Vol 30, No 3 (2019): Desember, 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.853 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v30i3.23882

Abstract

Piramidisasi gen adalah upaya untuk menggabungkan beberapa gen yang menguntungkan dari banyak tetua menjadi satu genotipe tunggal. Hasil tinggi, tahan terhadap wereng cokelat, kandungan amilosa sedang, umur genjah dan aromatik adalah beberapa sifat yang diharapkan untuk digabungkan. Melalui teknik piramidsasi, telah diperoleh 28 genotip, namun analisis kekerabatan genetik, sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan pada tahapan pemuliaan selanjutnya, belum dilakukan. Kombinasi gen ini dicapai dengan persilangan banyak genotipe tetua dengan karakter unggul yaitu Sintanur (aromatik), Pandan Wangi (aromatik), IR64 (kandungan amilosa sedang), PTB33 (tahan wereng coklat), Ciapus (hasil tinggi) dan KA (umur genjah). Tujuan percobaan ini adalah untuk memperoleh hubungan genetik genotip dalam sifat-sifat agro-morfologi dan marka molekuler. Analisis hubungan kekerabatan antara tetua dan 28 genotip piramidisasi dilakukan menggunakan software XLSTAT2016 untuk membentuk matrik similarity shared allele distance dengan koefisien Jaccard sebagai pembentuk jarak genetik untuk marka molekuler dan koefisien korelasi pearson untuk marka fenotipik. Kemudian dilakukan pengelompokan atau clustering dengan metode Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Averages (UPGMA). Hasil pengelompokan berdasarkan marka molekuler dengan menggunakan 11 marka yang terkait erat dengan tujuh karakter target, diperoleh koefisien kemiripan sebesar 41,3% dan terbentuk dua kelompok, sedangkan hasil pengelompokan berdasarkan marka fenotipik dengan 14 karakter agro-morfologi terbentuk tiga kelompok dengan tingkat kemiripan 22,2%. Genotipe SPxCAKA1B, SPxPP3B dan PPxIP4B   dapat dimanfaatkan sebagai tetua atau genotipe harapan karena memiliki jarak kekerabatan yang paling jauh diantara genotip lainnya.
Induksi Kalus pada Eksplan Daun Muda Tanaman Durian (Durio zibethinus Murr.) Klon Baru Kamajaya dengan Kombinasi Zat Pengatur Tumbuh 2,4-D dan Kinetin Secara In Vitro Agung Rahmadi; Noladhi Wicaksana; Bambang Nurhadi; Erni Suminar; Siti Rakhmah Tenrisui Pakki; Syariful Mubarok
Agrikultura Vol 31, No 3 (2020): Desember, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i3.29388

Abstract

Perbanyakan durian klon baru Kamajaya secara vegetatif dapat dilakukan dengan teknik kultur jaringan sebagai teknik modern untuk konservasi plasma nutfah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kombinasi 2,4-D dan Kinetin terhadap pembentukan kalus pada daun durian Kamajaya. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Sumedang. Percobaan dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dua faktor yang diamati dan metode analisis deskriptif. Faktor pertama zat pengatur tumbuh 2,4-D terdiri dari konsentrasi yang berbeda yaitu 1, 2, 3, 4 dan 5 ppm. Faktor kedua terdiri dari 3 konsentrasi Kinetin yang berbeda yaitu 0,0, 0,5 dan 1 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 2 ppm 2,4-D,  3 ppm 2,4-D, 4 ppm 2,4-D, 2 ppm 2,4-D + 0,5 ppm kinetin menghasilkan eksplan daun muda durian melengkung dan tulang daun membengkak dan pada perlakuan 5 ppm 2,4-D, 2 ppm 2,4-D + 1 ppm kinetin,  5 ppm 2,4-D 5 ppm + 1  ppm kinetin menghasilkan eksplan daun muda durian menggulung dan membentuk kalus.
Penggunaan Putresin Alami dan Sintetik untuk Induksi Kalus dan Regenerasi Kultur Anter Empat Genotipe Padi Nono Carsono; Desy Lidiasari; Santika Sari; Noladhi Wicaksana
Agrikultura Vol 32, No 3 (2021): Desember, 2021
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v32i3.36784

Abstract

Teknik kultur antera sering digunakan untuk memperoleh galur-galur murni double haploid (DH) yang homozigot dalam waktu singkat, yang umumnya dicapai melalui proses induksi kalus. Putresin sebagai salah satu zat pengatur tumbuh dari poliamin diketahui sangat penting bagi perkembangan embriogenesis kalus. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh plantlet dari penggunaan putresin sintetik dan alami pada media induksi dan regenerasi kalus kultur antera secara in vitro terhadap empat genotip-genotip F3 padi hasil persilangan (Oryza sativa L.). Eksplan yang digunakan adalah antera padi generasi F3 terseleksi hasil persilangan Caka, SP, Sair dan IRPW. Hasil penelitian menunjukan bahwa induksi kalus berhasil terbentuk hanya dari genotip Caka pada media N6 dengan penambahan putresin sintetik 10-3 M, persentase pembentukan kalus sebesar 16,1%. Kalus yang terbentuk dari genotip Caka memiliki struktur remah, kompak dan berwarna putih krem. Regenerasi menggunakan media dasar MS dengan penambahan putresin sintetik konsentrasi 10-3 M belum berhasil. Penambahan putresin sintetik lebih efektif dalam pembentukan kalus dibandingkan putresin ekstrak alami.
Analisis molekuler dan Clustering Piramidisasi Gen Tahan Virus Ty-1, Ty-5 dan Ty-6 Pada Populasi BC4F1 Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum L) Janwar Eka Saputra; Anas Anas; Noladhi Wicaksana
Agrikultura Vol 31, No 3 (2020): Desember, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i3.29287

Abstract

Pendekatan pemuliaan ketahanan menggunakan piramidisasi gen tahan virus merupakan upaya dalam menggabungkan gen ketahanan dari tanaman inang atau kerabatnya yang bertanggung jawab dalam adaptasi dan ketahanan terhadap serangan patogen virus. Hal tersebut dapat menjadi peluang yang baik dalam pengembangan ketahanan yang tahan lama terhadap berbagai jenis virus. Persilangan antara tetua tomat yang tidak memiliki gen tahan dan tetua dengan tiga gen ketahanan dilakukan untuk mengembangkan populasi tomat BC4F1. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi keberadaan gen Ty-1, Ty-5 dan Ty-6 pada populasi tomat BC4F1 dan untuk menganalisis kesamaan genetik antara individu tanaman tomat pada populasi BC4F1. Analisis kekerabatan melalui analisis pengelompokan dilakukan berdasarkan analisis penanda molekuler. Analisis molekuler menunjukkan bahwa 117 genotipe mengandung gen tahan Ty-1, tujuh genotipe dengan gen tahan Ty-5, dan 45 genotipe mengandung gen tahan Ty-6. Analisis klaster menghasilkan tujuh kluster dengan mengukur kesamaan berdasarkan jarak Euclidean. Tujuh puluh satu genotipe dikelompokkan dalam kelompok 1 yang mengandung gen Ty-1, Tiga genotipe yang dikelompokkan dalam klaster 2 yang hanya berisi gen Ty-5, 43 genotipe yang dikelompokkan dalam kelompok 3 yang mengandung gen Ty-1 + Ty-6, dua genotipe yang dikelompokkan dalam kelompok 4 yang terdiri dari gen Ty-1 + Ty-5 , satu genotipe berada di kelompok 7 dari kelompok gen Ty-5 dan Ty-6, satu genotipe berada di klaster 6 yang membawa tiga gen tahan Ty-1 + Ty-5 + Ty-6, dan tiga genotipe tidak memiliki gen tahan di dalam kluster 7. Tujuh kelompok kombinasi gen Ty tersebut dapat menjadi materi tetua atau genotipe harapan bagi pengembangan kegiatan pemuliaan lanjutan selanjutnya.
Analisis Kesesuaian Marka SSR ( Simple Sequence Repeats ) untuk Identifikasi Keragaman Genetik pada Kacang Bambara Asal Jawa Barat Safarinda Nurdianawati; Noladhi Wicaksana; Anas Anas
Agrikultura Vol 27, No 2 (2016): Agustus, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.312 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i2.10528

Abstract

ABSTRACT Suitability Analysis of SSR Marker ( Simple Sequence Repeats ) for Genetic Diversity Identification in Bambara Groundnut West Java Origin Bambara groundnut ( Vigna subterranea ) is one of legume crops that has not been widely cultivated. It becomes food alternative sources in Indonesia as it has high of protein and carbohydrate content and low fat. Furthermore, bambara groundnut should be good production in marginal land. Molecular marker has been used for any crop development such as genetic diversity, matting system, clones identification, etc. This research used neutral genetic markers (SSR) to study genetic diversity in Bambara groundut population from West Java. Fifteen primers has used and the results showed that primer 1 and primer 19 were polymorphic and informative because the locus has high HE (heterozygosity) and PIC (Polymorphic Information Content) value compare to others. The higher HE and PIC value the more informative to distinguish each individual between genotype in one population. Keywords: Bambara groundnut ( Vigna subterranea ), Genetic diversity, Simple sequence repeats (SSR)  ABSTRAK Kacang bambara ( Vigna subterranea ) merupakan salah satu tanaman legume yang belum terlalu banyak dibudidayakan dan dapat menjadi sumber pangan alternative di Indonesia karena kandungan protein dan karbohidratnya  cukup tinggi dan rendah lemak. Selain itu, tanaman ini juga dilaporkan dapat berproduksi dengan baik pada lahan-lahan marginal. Penggunaan marka molekuler telah banyak digunakan pada tanaman untuk berbagai tujuan antara lain untuk mengevaluasi keragaman genetik suatu populasi, menduga system perkawinan, identifikasi klon dan lain-lain. Dalam penelitian ini digunakan marka netral (SSR) untuk mempelajari keragaman genetik populasi Kacang bambara ( Vigna subterranea ) asal Jawa Barat. Dari lima belas primer, primer 1 dan primer 19 merupakan primer yang bersifat polimorfik dan informative karena lokus tersebut memiliki nilai HE (heterozigositas) dan PIC ( P o l y m o r p h i c I n f o r m a t i o n Con tent ) yang tinggi dibandingkan dengan primer-primer lainnya. Semakin tinggi nilai HE dan PIC yang dihasilkan maka primer tersebut semakin informatif dalam membedakan individu antar genotip dalam populasi. Kata Kunci : Kacang bambara ( Vigna subterranea ), Keragaman genetik, Simple Sequence Repeats (SSR)
Penampilan 15 Genotipe Kedelai Hitam (Glycine soja (L.) Merr) pada Pertanaman Tumpangsari 2:1 dengan Jagung M. Khais Prayoga; Meddy Rachmadi; Noladhi Wicaksana
Agrikultura Vol 27, No 2 (2016): Agustus, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.403 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i2.9988

Abstract

ABSTRAKPeningkatan minat petani untuk menanam kedelai dapat dilakukan melalui sistem tanam tumpangsari kedelai dengan jagung untuk mengurangi kemungkinan kerugian akibat gagal panen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagimana penampilan karakter daya hasil 15 genotipe kedelai hitam pada pertanaman tumpangsari pola 2:1 dengan jagung. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen berdasarkan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 15 genotip kedelai hitam sebagai perlakuan yang diulang sebanyak dua kali. Percobaan disusun dalam pertanaman 2:1 (dua baris kedelai dan satu baris jagung). Pengamatan dilakukan terhadap karakter daya hasil yaitu jumlah polong per tanaman, jumlah biji per tanaman, bobot 100 biji, bobot biji per tanaman, dan bobot biji per baris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe-genotipe yang lebih unggul dibandingkan dengan kultivar Cikuray dan Malika adalah BTN 1, BTN 2, BTN 5, dan CK 5 pada karakter jumlah biji per tanaman, genotipe CK 15 pada karakter jumlah polong per tanaman, genotipe SM 2 pada karakter jumlah polong per tanaman dan jumlah biji per tanaman, serta genotipe CK 0, KA 6, dan KA 7 pada karakter jumlah polong per tanaman, jumlah biji per tanaman dan bobot biji per baris.Kata Kunci: Kedelai hitam, Tumpangsari, Daya hasil
Karakteristik Pertumbuhan Tanaman dan Gugur Buah Keprok ‘JOP’ pada Umur Tanaman Berbeda Farida, Farida; Mubarok, Syariful; Kusumiyati, Kusumiyati; Wicaksana, Noladhi
Agrikultura Vol 34, No 2 (2023): Agustus, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i2.45657

Abstract

‘JOP’ (jeruk Orange Parahyangan) merupakan salah satu varietas jeruk keprok (Citrus reticulata Blanco) dengan ciri utama adalah berwarna jingga pada kulit dan daging buahnya, sementara jeruk lokal umumnya berwarna kuning. Ciri lain dari keprok 'JOP’ yaitu menghasilkan banyak buah walaupun tanaman masih muda. Hal tersebut mengakibatkan tanaman akan menjadi lemah dan dapat mati pada siklus pertumbuhan berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik pertumbuhan keprok ’JOP’ dan persentase gugur buah pada umur tanaman berbeda. Penelitian dilakukan di sentra produksi keprok ‘JOP’, Cisarua-Lembang, yang terletak pada ketinggian tempat 1.150 m dpl. Bahan penelitian yang digunakan adalah keprok ‘JOP’ umur satu setengah tahun dan tiga tahun setelah tanam (1,5 TST dan 3 TST), masing-masing terdiri dari 10 tanaman. Setiap tanaman terdiri atas tiga sampel, sehingga total terdapat  30 sampel per umur tanaman. Analisis data menggunakan statistika deskriptif taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jeruk keprok 'JOP' 1,5 TST (8,1 daun) menghasilkan jumlah daun per tunas yang lebih sedikit dibandingkan dengan 3 TST (11,5 daun). Persentase gugur buah pada jeruk keprok 'JOP' 1,5 TST (74,6%) lebih tinggi dibandingkan dengan 3 TST (14,4%). Adapun untuk pertumbuhan reproduktif, jumlah bunga mencapai 13,6 (1,5 TST) dan 10,1 (3 TST), sedangkan fruit set pada tanaman 1,5 TST dan 3 TST adalah 19,6% dan 13,5%.
Co-Authors Achmad Baihaki Ade Ismail Ade Ismail Ade Ismail Agung Karuniawan Agung Rahmadi Agung Rahmadi Ahmad Shohibboniawan Ajang Maruapey Anas Anas Anas Anas Anas Anas Anas Anas, Anas Anggita Dewi Anne Nuraeni Anne Nuraeni ANNE NURAINI Ayu Fitriani Bachtiar, Nedya Putri Bambang Nurhadi Bayu Pradana Nur Rahmat D.W Utami Dedi Ruswandi Dedi Widayat Denny Sobardini Desy Lidiasari Dian Hidayat Edi Suryadi Elfan Waisimon Enceng Sobari, Enceng Erni Suminar Eryk Barlianto Farida Farida Feliatra Gungun Wiguna Hafsah Ashri Noor Azizah Heri Syahrian Heri Syahrian Heri Syahrian, Heri Hiroshi Ezura Ineu Sulastrini Iteu M. Hidayat Iteu M. Hidayat Jajang Supriatna Janwar Eka Saputra Joko Pinilih Kusumiyati Liberty Chaidir M. Khais Prayoga Maura Zhafira Putri Meddy Rachmadi Mita Indriani Moh Ali Abdullah Muhamad Joddy Ramadhan Muhamad Kadapi Muhamad kadapi, Muhamad Muhammad Kadapi Muhammad Syafii Muhammad Syafii Neni Rostini Nono Carsono Nono Carsono Nono Carsono Nono Carsono Noor Istifadah Nurdiana, Dadi Nurmalita Waluyo Nurmalita Waluyo Nursuhud Nursuhud Nyimas Poppi Indriani Priyanto, Slamet Bambang Putri Ardhya Anindita Qurrota Aini Reisyi Rinola Tambunan Riski Gusri Utami Riski Gusri Utami Riski Gusri Utami Rodiah, S S Rodiah Saadah, Imas Rita Safarinda Nurdianawati Salsabila, Haifanisa Santika Sari Santika Sari Santika Sari Shohibboniawan, Ahmad Siti Rakhmah Tenrisui Pakki Siti Rakhmah Tenrisui Pakki Siti Rodiah Slamet Bambang Priyanto Sulistyaningsih Sulistyaningsih Sumadi Sumadi Sumadi Sumadi SUMADI SUMADI Suseno Amien SYARIFUL MUBAROK Tarkus Suganda Tresna Kusuma Putri Vergel Concibido Wahyu Ferdiyansyah Wawan Sutari Yoana Saragih Yudithia Maxiselly Yudithia Maxiselly, Yudithia Yuyun Yuwariah Z. Daulati Z. Daulati, Z. Zulfatunnisa Zulfatunnisa