Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Nilai Moral dalam Novel Savanna dan Samudra Karya Ken Terate (Kajian Sosiologi Sastra) Kinanti, Dzulhi Rossa; Widyatwati, Ken
Wicara: Jurnal Sastra, Bahasa, dan Budaya Vol 1, No 2: Oktober 2022
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.966 KB) | DOI: 10.14710/wjsbb.2022.15755

Abstract

Novel Savanna dan Samudra mengisahkan tentang seorang mahasiswi bernama Savanna yang hidupnya serba mudah. Namun, setelah papanya meninggal ia mendapat berbagai masalah mulai dari kehilangan pacar, putus kuliah, hingga berurusan dengan penagih hutang. Novel ini memperlihatkan sikap pantang menyerah ketika mendapat masalah bertubi-tubi yang dialami tokoh utama hingga mampu bangkit kembali untuk meraih impiannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan struktur novel dan terungkapnya nilai moral dalam novel Savanna dan Samudra. Metode yang digunakan adalah metode sosiologi sastra untuk mengungkap nilai moral yang terkandung dalam novel. Teori yang digunakan dalam penelitian ini antara lain, teori struktural fiksi, teori sosiologi sastra, dan teori moral. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa berdasarkan analisis struktural terdapat tiga tokoh utama, yakni Savanna, Alun, dan Tika. Alur yang digunakan dalam novel adalah alur campuran dengan lima tahapan alur, yaitu tahap penyituasian, tahap pemunculan konflik, tahap peningkatan konflik, tahap klimaks, dan tahap penyelesaian. Nilai moral yang dianalisis berdasarkan sosiologi sastra menunjukkan nilai moral berupa pantang menyerah, bertanggung jawab, kerja keras, sikap peduli terhadap sesama, kasih sayang, tolong-menolong, kesopanan, kekerasan dalam rumah tangga, merendahkan orang lain, memaksakan kehendak orang lain, dan bersyukur. Kata kunci: Savanna dan Samudra, struktural, fiksi, sosiologi sastra, nilai moral.
Nilai Moral Film Kulari ke Pantai Karya Riri Riza (Tinjauan Sosiologi Sastra) Palupi, Indah; Widyatwati, Ken; Falah, Fajrul
Wicara: Jurnal Sastra, Bahasa, dan Budaya Vol 1, No 2: Oktober 2022
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.971 KB) | DOI: 10.14710/wjsbb.2022.15564

Abstract

Palupi, Indah. 2022. “Nilai Moral Film Kulari ke Pantai Karya Riri Riza (Tinjauan Sosiologi Sastra)”. Skripsi. Program Strata I Sastra Indonesia. Fakultas Ilmu Budaya, Univesitas Diponegoro, Semarang. Pembimbing I Dr. Ken Widyatwati, S.S., M.Hum. Pembimbing II Fajrul Falah, S.Hum., M.Hum.Objek material dalam penelitian ini adalah film Kulari ke Pantai karya Riri Riza. Objek formal dalam penelitian ini adalah nilai moral dalam film Kulari ke Pantai karya Riri Riza. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur naratif dan nilai moral yang terdapat dalam film Kulari ke Pantai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra untuk mengkaji nilai moral yang terdapat dalam film Kulari ke Pantai. Teori yang digunakan adalah struktur naratif film, teori pengkajian fiksi, dan teori moral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam film Kulari ke Pantai terdapat unsur struktur naratif dan struktur fiksi antara lain elemen ruang, latar, elemen waktu, permasalahan dan konflik, pelaku cerita, tujuan, tema, dan alur. Analisis nilai moral menunjukkan bahwa dalam film Kulari ke Pantai terdapat nilai moral hubungan manusia dengan diri sendiri, antara lain yaitu menyenangkan orang lain dan mencintai bangsa Indonesia. Nilai moral hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial dan lingkungan alam, antara lain yaitu membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan, tidak semua hal dapat diselesaikan dengan uang, mengakui perbuatan yang salah, saling memaafkan, dan memiliki sikap peduli. Dalam film tersebut ditemukan ciri-ciri nilai moral yang berkaitan dengan tanggung jawab dan hati nurani.Kata kunci: film, moral, struktur naratif, sosiologi sastra, Kulari ke Pantai 
Konflik Batin Tokoh Lengkara Dalam Novel 00.00 Karya Ameylia Falensia: Kajian Psikologi Sastra Setiyoningsih, Ika Bekti; Widyatwati, Ken; Martini, Laura Andri Retno
Wicara: Jurnal Sastra, Bahasa, dan Budaya Vol 1, No 2: Oktober 2022
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.159 KB) | DOI: 10.14710/wjsbb.2022.15717

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap konflik batin tokoh Lengkara dalam novel 00.00 karya Ameylia Falensia dengan menggunakan kajian psikologi sastra. Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan memanfaatkan cara-cara penafsiran dengan menyajikan data dalam bentuk deskripsi. Hasil dari penelitian ini yaitu mengungkap analisis struktural dan konflik batin tokoh Lengkara dalan novel 00.00 karya Ameylia Falensia. Analisis struktural merupakan pondasi utama yang digunakan dalam mengkaji karya sastra yang terdiri dari tokoh dan penokohan, alur dan pengaluran, serta latar. Sedangkan hasil analisis konflik batin diketahui bahwa konflik batin yang dialami tokoh Lengkara terjadi karena ketidakseimbangan antara id, ego, dan superego yang disebabkan oleh faktor internal seperti perasaan takut, cemas, dan membenci diri sendiri, sedangkan faktor eksternal disebabkan oleh perlakuan kasar dan tidak adil dari orang tua, dan fitnah dari orang lain terhadap tokoh Lengkara. Wujud konflik batin tokoh Lengkara terdiri dari pertentangan antara pilihan yang tidak sesuai dengan keinginan dan harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Bentuk penyelesaian konflik batin tokoh Lengkara dalam novel 00.00 meliputi sublimasi, represi, dan displacement.
Problem Hierarki Kebutuhan pada Tokoh Agung dalam Novel Ingkar Karya Boy Candra: Kajian Psikologi Humanistik Abraham Maslow Prakoso, Rosaria Arum; Widyatwati, Ken; Mukafi, Muhammad Hamdan
Wicara: Jurnal Sastra, Bahasa, dan Budaya Vol 3, No 2: Oktober 2024
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/wjsbb.2024.24525

Abstract

Novel Ingkar karya Boy Candra mengangkat isu perselingkuhan dan pengkhianatan sebagai konflik utama. Agung sebagai salah satu tokoh utama digambarkan terjerumus dalam tindakan amoral. Kondisi ini diasumsikan terjadi karena adanya problem dalam memenuhi sejumlah kebutuhan dasar sehingga tidak mampu mencapai aktualisasi diri dalam hidupnya. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan struktur novel Ingkar dan problem pemenuhan hierarki kebutuhan yang dialami tokoh Agung. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan psikologi sastra. Teori yang digunakan adalah teori struktural dan teori psikologi humanistik Abraham Maslow. Hasil penelitian ini berupa (1) analisis struktur dalam novel Ingkar karya Boy Candra yang terdiri atas tema, tokoh dan penokohan, alur dan latar; dan 2) hierarki kebutuhan pada tokoh Agung menunjukkan bahwa meskipun kebutuhan fisiologis telah terpenuhi dengan baik, ditemukan adanya problem dalam pemenuhan kebutuhan di tingkat atasnya. Problem pemenuhan kebutuhan rasa aman disebabkan oleh perasaan cemas dan terancam akibat perundungan yang pernah dialami tokoh Agung dan pola asuh otoriter sang ibu yang terlalu mendominasi kehidupannya. Kebutuhan rasa cinta dan memiliki juga tidak terpenuhi karena ia dikucilkan oleh teman-temannya dan hubungan asmaranya tidak direstui. Kebutuhan akan penghargaan juga sulit terpenuhi karena adanya pandangan buruk dan kebencian sehingga ia selalu merasa rendah diri. Problem dalam pemenuhan kebutuhan dasar ini membuat tokoh Agung tidak dapat mengaktualisasikan dirinya sehingga kehidupannya mengarah pada pengambilan keputusan negatif dan tindakan amoral yang berujung pada penyesalan.
Ramuan Herbal Untuk Pengobatan Penyakit Perempuan dalam Naskah Tradisional Pulau Penyengat Wahyuni, Indah; Widyatwati, Ken
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol. 15 No. 2 (2024): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/jumantara.v15i2.5108

Abstract

The manuscript of Pengobatan Tradisional pada Masyarakat Pulau Penyengat (PTpMPP) contains various types of illnesses along with their herbal ingredients, one of which is illness related to women. This study aims to present the transliteration and editing of the text of the treatment of female diseases in the PTpMPP manuscript and explain the ethnomedicine studies contained therein. The methods used are data collection through field studies and literature studies, data processing through manuscript description, transliteration, and text editing, and data analysis using ethnomedicine theory. The main data source used is the PTpMPP manuscript in Jawi script and Malay language, kept at Yayasan Inderasakti, Penyengat Island as an authentic representation of local traditional medicine. The results of this study present an edited text with five causes of female illness, namely meroyan (ordinary), meroyan throughout the body, meroyan bleeding, meroyan oil to the liver, and women who do not menstruate. Each illness has its own herbs and medical practices used, belonging to the naturalistic medical system.
Navigating psychosocial challenges: An analysis of Ariel's self-development in Sayonara no asa ni yakusoku no hana wo kazarou by Mari Okada Isnayani, Ulfa Mutiara; Widyatwati, Ken; Suryadi, Muhammad
Japanese Research on Linguistics, Literature, and Culture Vol. 7 No. 1 (2024): November
Publisher : Universitas Dian Nuswantoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/jr.v7i1.11585

Abstract

This research aimed to explain the narrative structures and stages of self-development of Ariel from the anime Sayonara no Asa ni Yakusoku no Hana wo Kazarou. The researcher used a psychological approach to analyze the problems that arise. Narrative theory was used to analyze the narrative aspects of the anime, while psychosocial theory was employed to examine the self-development stages of the character Ariel. This research is a literature study. The analysis explained that there are narrative elements, such as story and plot, narrative connections with space, narrative connections with time, and limitations of story information. The researcher discovered that Ariel successfully navigated the eight stages of self-development based on Erikson’s theory. The analysis concluded that Ariel reached the integrity stage of self-development because he successfully went through all stages with positive results and reached the integration stage of psychosocial and overcame all his obstacles.
Peran multikulturalisme dalam mempertahankan identitas budaya pada film Ngeri-Ngeri Sedap karya Bene Dion Anggraeni, Rezki Amelia; Suryaningsih, Sukarni; Widyatwati, Ken; Suryadi, M.
Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 8 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/diglosia.v8i1.1187

Abstract

This study explores the role of openness to Batak culture as the majority culture in the film Ngeri-Ngeri Sedap to maintain its cultural identity amid diversity. The openness referred to here is the recognition and acceptance of the existence of minority cultures, in line with the concept of multiculturalism, to minimize the potential for horizontal conflicts that could threaten the survival of cultures. The research method employs a sociology of literature approach, with Ngeri-Ngeri Sedap as the material object of the study. The data analysis technique uses interpretive analysis with the aid of film narrative structure theory from Himawan Pratista and the concept of multiculturalism proposed by Charles Taylor. As this research is qualitative and descriptive, the findings are narrative. The results of the study indicate that multiculturalism, as a bridge for interaction between minority and majority groups, plays a role in maintaining the existence of each cultural identity within a multicultural society, marked by the creation of a dynamic and harmonious social environment.
Unggah-Ungguh sebagai Etika Jawa: Analisis Sosiologi Sastra dalam Film Kartini Karya Hanung Bramantyo Ni'mah, Nur Khasanatun; Widyatwati, Ken; Suryadi, Muhammad
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8341

Abstract

This study aims to describe the manners of Javanese nobility in the Kartini film. Using qualitative methods, with a sociology of literature approach based on Ian Watt's theory and semiotics according to Charles Sanders Peirce. Data collection techniques include observing and taking notes. Primary data was obtained from the film in the form of dialogue, visual expressions, and interactions between characters, while secondary data came from various supporting literature. Data analysis was carried out through the stages of data reduction, data presentation, interpretation of visual-verbal signs, and drawing conclusions. The results of the study show that the character Kartini represents a Javanese noble figure who still holds fast to the values of manners despite having a critical view of customs that limit the role of women. The character Kartini does not fight tradition head-on, but chooses a dialogical path by continuing to carry out aristocratic ethics such as sembah, ndodhok, and timpuh. This attitude reflects that manners are a cultural awareness that plays a role in maintaining social harmony, not just a formality. Thus, the Kartini film emphasizes that tradition does not have to be a barrier to change, but can be a dialectical space between respect for cultural heritage and the courage to think progressively. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unggah-ungguh bangsawan Jawa dalam film Kartini. Menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan sosiologi sastra berdasarkan teori Ian Watt dan semiotika menurut Charles Sanders Peirce. Teknik pengumpulan data berupa simak dan catat. Data primer diperoleh dari film dalam bentuk dialog, ekspresi visual, dan interaksi antartokoh, sedangkan data sekunder bersumber dari berbagai literatur pendukung. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, interpretasi tanda visual-verbal, serta penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Kartini merepresentasikan sosok bangsawan Jawa yang tetap memegang teguh nilai unggah-ungguh meskipun memiliki pandangan kritis terhadap adat yang membatasi peran perempuan. Tokoh Kartini tidak melawan tradisi secara frontal, tetapi memilih jalan dialogis dengan tetap menjalankan etika aristokratik seperti sembah, ndodhok, dan timpuh. Sikap ini mencerminkan bahwa unggah-ungguh merupakan kesadaran budaya yang berperan menjaga harmoni sosial, bukan sekadar formalitas. Dengan demikian, film Kartini menegaskan bahwa tradisi tidak harus menjadi penghalang perubahan, melainkan dapat menjadi ruang dialektika antara penghormatan terhadap warisan budaya dan keberanian untuk berpikir progresif.
Social Discrimination: Violence and Resistance of Female 19th Century in Jane Austen’s Persuasion Anggraeni, Rezki Amelia; Widyatwati, Ken; Suryadi, M
Journal of Language and Literature Vol 25, No 1 (2025): April
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/joll.v25i1.10350

Abstract

he 19th century in England, particularly during the Victorian era was defined by rigid social norms and power structures that placed women in subordinated roles. Within this context, women were expected to perform traditional duties as wives and mothers with limited access to education or employment. Persuasion by Jane Austen illustrates this reality through female characters, who experience cultural violence from social inequality. This study examined the form of cultural violence endured by the female characters in Persuasion, which reflects the social discrimination that pervaded 19th-century society. The study aims to explore in depth how the social norms and power structures of that era contributed to injustices faced by women. The researcher used a sociological literature approach to answer these questions and applied Johan Galtung’s theories of cultural violence. The data was collected by analysis of expressions and dialogues in Persuasion, which reveal various forms of injustice, prejudice, and sarcasm toward female characters. The findings indicated that the novel’s female characters represent 19th-century women who encountered cultural violence, a concept illuminated through Galtung’s perspective. Notably, some characters resisted the cultural violence they faced, while others adopted a more passive stance, reflecting diverse responses to oppression within a broader social context.
Dekonstruksi elemen horor dalam kumpulan cerpen Sihir Perempuan karya Intan Paramaditha Nugroho, Ponco Adi; Widyatwati, Ken; Suryadi, M.; Anggraeni, Rezki Amelia; Baihaqy, Muhammad Rayhan
Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 8 No 3 (2025)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/diglosia.v8i3.1371

Abstract

This study reveals the deconstruction of horror elements in the short story collection Sihir Perempuan by Intan Paramaditha. The elements are the monster and art-horror elements formulated in Noël Carroll's theory of horror. This research uses a deconstruction approach. The material objects are the short stories "Pemintal Kegelapan," "Vampir," and "Jeritan dalam Botol" from the Sihir Perempuan collection. The analysis technique used is interpretive interpretation. This study draws upon Noël Carroll's horror genret heory and Jacques Derrida's deconstruction. As a qualitative descriptive study, findings are presented in narrative form. The results show that the author deconstructs both monster and art-horror elements. The monster, typically used in conventional horror as a symbol of external threat, becomes a representation of women's suffering caused by social systems. Art-horror, usually employed to evoke fear and disgust, undergoes a shift in meaning, becoming a complex emotional experience of empathy and acceptance of suffering. These forms of deconstruction emphasize that horror in Sihir Perempuan not only frightens readers but represents women's suffering and critiques patriarchal structures.