Claim Missing Document
Check
Articles

Peran Generasi Z dalam Membangun Modal Sosial Digital: Upaya Menjembatani Kesenjangan Lansia di Era Digital Nurkhurairokh, Azzahra; Angelina, Tiara; Mirna Nur Alia Abdullah
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.5166

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk kesenjangan digital yang dialami oleh lansia serta mengkaji peran Generasi Z dalam membentuk modal sosial baru dalam relasi antar generasi di era transformasi digital. Ruang lingkup kajian difokuskan pada fenomena digital exclusion pada lansia dan bagaimana interaksi lintas generasi berkontribusi dalam menjembatani kesenjangan tersebut. Kebaruan penelitian ini terletak pada upaya melihat kesenjangan digital tidak hanya sebagai persoalan keterbatasan akses teknologi, tetapi juga sebagai proses sosial yang berpotensi membentuk modal sosial melalui interaksi antar generasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Systematic Literature Review (SLR). Data diperoleh melalui penelusuran literatur ilmiah pada basis data akademik seperti Google Scholar dan portal jurnal nasional menggunakan kata kunci yang relevan dengan topik penelitian. Dari proses seleksi berdasarkan kriteria inklusi, diperoleh 10 artikel ilmiah yang kemudian dianalisis secara kualitatif melalui proses reduksi data, pengelompokan tema, dan sintesis temuan penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa kesenjangan digital pada lansia bersifat multidimensional, meliputi keterbatasan literasi digital, keterampilan teknis, serta hambatan psikologis dan struktural dalam mengakses layanan berbasis teknologi. Kondisi ini mendorong munculnya ketergantungan lansia terhadap Generasi Z sebagai fasilitator dalam penggunaan teknologi digital. Namun, interaksi tersebut tidak hanya bersifat fungsional, tetapi juga berkembang menjadi relasi sosial yang membentuk pertukaran pengetahuan, kepercayaan, dan kerja sama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi digital tidak hanya menghasilkan kesenjangan akses teknologi, tetapi juga membuka peluang terbentuknya modal sosial baru melalui interaksi lintas generasi yang dapat memperkuat solidaritas sosial serta mendorong terciptanya masyarakat digital yang lebih inklusif.
Bagaimana rumah makan padang berperan dalam proses negosiasi identitas budaya perantau minangkabau di kota bandung? Leo Farid Ruhiana; Mughni Nafia Nadhif; Mirna Nur Alia Abdullah
Journal Scientific of Mandalika (JSM) e-ISSN 2745-5955 | p-ISSN 2809-0543 Vol. 7 No. 5 (2026)
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/10.36312/vol7iss5pp778-782

Abstract

The tradition of migration is an integral part of Minangkabau culture, shaping their social and cultural identity across various regions, including Bandung. In this context, Padang restaurants function not only as culinary businesses but also as social spaces and cultural symbols that play a significant role in the negotiation of migrant identity. This study aims to analyze how Padang restaurants serve as a medium for maintaining, adapting, and reconstructing Minangkabau cultural identity in a heterogeneous urban environment. This research employs a qualitative approach using observation, in-depth interviews, and documentation with restaurant owners and workers in Bandung. The findings reveal that Padang restaurants act as spaces of cultural representation, means of reproducing traditional values, and arenas for adaptation to local culture. The negotiation of identity occurs through daily practices such as language use, food presentation, and social interaction with customers. Thus, Padang restaurants become dynamic symbols reflecting a flexible and adaptive Minangkabau cultural identity in the face of modernization
Cohabitation (Living Together) Among College Students: A Review of Shifting Marital Values and Educational Priorities Rahmadiani, Adisti Putri; Hasuna, Asma Nadia; Azizah, Sarah Nur; Abdullah, Mirna Nur Alia
JIHAD : Jurnal Ilmu Hukum dan Administrasi Vol 8, No 2 (2026): JIHAD : Jurnal Ilmu Hukum dan Administrasi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jihad.v8i2.10681

Abstract

This study aims to analyze the phenomenon of declining marriage rates among Generation Z and its impact on population dynamics in Indonesia. In recent years, there has been a growing trend of delayed marriage influenced by various factors, including economic conditions, shifting social values, and the influence of social media. This research employs a qualitative approach with an exploratory design to understand Generation Z’s perspectives on marriage. Data were collected through the analysis of digital content on social media platforms as well as a literature review of scholarly sources and statistical reports. The findings indicate that Generation Z tends to delay marriage due to prioritizing education, career development, and concerns about potential risks in marital relationships. This phenomenon has implications for declining fertility rates, changes in population age structure, and the potential for population aging in the future. From the perspective of the Second Demographic Transition (SDT) theory and the Intermediate Variables of Fertility, these changes reflect a shift from collective- oriented values toward individualization. Therefore, adaptive policies are needed to maintain the balance of population dynamics in Indonesia.
PERAN EDUKATIF CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) DALAM PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO DAN KECIL MENUJU KEBERLANJUTAN (SUSTAINABLE) STUDI KASUS PADA PT POS INDONESIA Fatimah Syawalia Noptiani; Elly Malihah; Mirna Nur Alia Abdullah
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 No. 2, Juni 2026 Publish
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.45623

Abstract

This study examines the educational role of Corporate Social Responsibility (CSR) implemented by PT Pos Indonesia in empowering Micro and Small Enterprises (MSEs). The research is motivated by the gap between the conceptual framework of CSR as a sustainable capacity-building instrument and its practical implementation in the field. The objective of this study is to analyze how CSR functions as an educational process in empowering MSEs toward sustainability. This study employs a qualitative approach with a case study design, involving five informants consisting of three MSE partners and two CSR managers. Data were collected through in-depth interviews, observations, and literature studies, supported by bibliometric analysis to map research trends related to CSR and empowerment. The findings reveal that CSR has provided educational support through training and business facilitation; however, its implementation remains limited, as the training is not continuous and not fully aligned with the specific needs of MSEs. In addition, the lack of sustained mentoring results in a fragmented learning process, leading MSEs to rely more on individual experience rather than structured program support. From a theoretical perspective, the CSR program is still positioned at the enabling stage rather than fully achieving empowering, as it has not yet developed into an integrated and sustainable learning system. Therefore, the study highlights the importance of strengthening continuous training and mentoring to enhance the effectiveness of CSR as an educational instrument in empowering MSEs.
Fenomena “Married Is Scary” dalam Perspektif Konstruksi Sosial dan Dampaknya terhadap Sikap Generasi Muda Kontemporer Muhammad Firdhi Al Ghifary; Ulwan Naezi Rabbani M Noer; Zacky Akbar Saputro; Mirna Nur Alia Abdullah
SERUMPUN : Journal of Education, Politic, and Social Humaniora Vol. 4, No. 1 : SERUMPUN (JANUARY-JUNE 2026)
Publisher : Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61590/srp.v4i1.236

Abstract

Fenomena narasi “married is scary” yang berkembang di media sosial menunjukkan peran ruang digital dalam membentuk cara generasi muda memaknai institusi pernikahan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh konstruksi sosial digital terhadap persepsi dan sikap generasi muda terhadap pernikahan melalui perspektif konstruksi sosial Berger dan Luckmann. Hasil kajian menunjukkan bahwa narasi mengenai konflik rumah tangga, perselingkuhan, ketimpangan relasi, dan tekanan ekonomi keluarga yang tersebar di media sosial membentuk pemahaman baru bahwa pernikahan merupakan institusi yang kompleks, penuh tantangan, dan membutuhkan kesiapan multidimensional. Paparan yang berulang terhadap narasi tersebut mendorong generasi muda untuk memandang pernikahan secara lebih kritis, reflektif, dan rasional, sehingga pernikahan tidak lagi diposisikan semata sebagai kewajiban sosial, tetapi sebagai keputusan personal yang memerlukan kesiapan psikologis, emosional, dan finansial. Di sisi lain, konstruksi sosial digital juga mendorong munculnya standar serta ekspektasi yang lebih tinggi terhadap relasi pernikahan. Temuan ini menegaskan bahwa media sosial telah menjadi agen sosialisasi baru yang berpengaruh dalam mentransformasikan cara generasi muda memahami dan menilai pernikahan.
Analisis Pemberdayaan Masyarakat: Studi Komparatif Gerakan Ayo Kita Peduli dan Pusat Kesejahteraan Sosial: Community Empowerment Analysis: A Comparative Study of Gerakan Ayo Kita Peduli and Pusat Kesejahteraan Sosial Wijayanti, Arini; Muhamad Iqbal; Abdullah, Mirna Nur Alia
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v4i2.2878

Abstract

Poverty alleviation has become one of Indonesia's Sustainable Development Goals (SDGs) targets to be achieved by 2030, with poverty placed as a primary focus in national development. This study aims to compare the empowerment processes undertaken by “Gerakan Ayo Kita Peduli “ and “Pusat Kesejahteraan Sosial “ (Social Welfare Center, Puskesos) in Husein Sasatranegara, Bandung. The research employs a qualitative approach with a comparative model. The findings indicate that “Gerakan Ayo Kita Peduli “ is more effective in providing empowerment due to its targeting of priority groups such as the elderly, orphans, and micro, small, and medium-sized enterprise (UMKM) practitioners. The program also enhances community capacity through the establishment of “Tokopeduli. “ On the other hand, “Puskesos “ carries out planned activities through neighborhood deliberations (musyawarah kelurahan), but it has not effectively improved living standards due to limited human resources. Both initiatives can conduct evaluations and implement improvements to achieve more effective empowerment. “Gerakan Ayo Kita Peduli “ should strengthen the educational aspect, while “Puskesos “ should enhance collaboration and community involvement. Abstrak Pengentasan kemiskinan telah menjadi salah satu target Sustainable Development Goals (SDGs) yang diupayakan Indonesia untuk dicapai pada tahun 2030 dengan menempatkan kemiskinan sebagai perhatian utama dalam pembangunan nasional. Kajian ini bertujuan untuk membandingkan proses pemberdayaan yang dilakukan oleh Gerakan Ayo Kita Peduli dan Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) di Kelurahan Husein Sasatranegara, Bandung. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan model komparatif. Kajian ini menunjukkan bahwa Gerakan Ayo Kita Peduli lebih optimal dalam memberikan pemberdayaan karena menyasar kelompok prioritas seperti lansia, yatim dhuafa, dan penggiat UMKM. Program ini juga meningkatkan kapasitas masyarakat dengan pembentukan Tokopeduli. Puskesos juga memiliki kegiatan terencana melalui musyawarah kelurahan, namun belum efektif meningkatkan taraf hidup karena keterbatasan sumber daya manusia. Keduanya dapat melakukan evaluasi dan perbaikan untuk mencapai pemberdayaan yang lebih efektif. Gerakan Ayo Kita Peduli perkuat aspek pendidikan, sementara Puskesos tingkatkan kolaborasi dan keterlibatan masyarakat.
Peran Media Sosial dalam Praktik Cancel Culture: Analisis Respons Pengguna Tiktok Kepada Kasus DJ Panda Attarin, Maudy Alika; Dahliyana, Asep; Abdullah, Mirna Nur Alia
HORIZON: Indonesian Journal of Multidisciplinary Vol. 4 No. 4 (2026): HORIZON: Indonesian Journal of Multidisciplinary
Publisher : Lembaga Intelektual Muda (LIM) Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54373/hijm.v4i4.6546

Abstract

Advances in digital technology have shifted the function of social media into a new public space where collective opinion formation occurs rapidly and massively. One emerging phenomenon is cancel culture, a form of social judgment based on digital interactions. This study aims to analyze TikTok users' responses to the DJ Panda influencer case and understand how these interactions reflect social media's dual role as a space for public criticism and judgment. This research uses a qualitative approach with a case study method. Data collection was conducted through virtual observation of content, comments, stitch features, and reposts on related videos, as well as in-depth interviews with TikTok users who actively interacted with the case. Data were analyzed using thematic analysis techniques through the stages of data reduction, coding, categorization, and meaning extraction. The analytical framework is based on George Herbert Mead's Symbolic Interactionism Theory and Howard S. Becker's Labeling Theory. The results show that netizen responses are dominated by emotional and rapid judgments without factual verification, which are reinforced by symbolic interactions between users. This phenomenon forms a mob mentality and social labeling practices that lead to stigmatization and cyberbullying. These findings emphasize the paradox of the digital public space as a means of social control and a potentially toxic space
Merajut Harmoni Sosial Melalui Karawitan: Upaya Membentuk Karakter Berbudaya dan Cinta Tanah Air pada Siswa di SMA Yayasan Atikan Sunda Bandung Inten, Restuna Nur; Waluya, Bagja; Abdullah, Mirna Nur Alia
HORIZON: Indonesian Journal of Multidisciplinary Vol. 4 No. 4 (2026): HORIZON: Indonesian Journal of Multidisciplinary
Publisher : Lembaga Intelektual Muda (LIM) Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54373/hijm.v4i4.6584

Abstract

The preservation of local culture faces serious challenges amidst the current of globalization that has the potential to weaken the cultural identity and national values ​​of the younger generation. Schools have a strategic role in instilling cultural character and love of the homeland through contextual educational activities, one of which is traditional arts extracurricular activities. This study aims to describe the forms of social interaction in gamelan extracurricular activities, the process of forming social harmony, and the formation of cultural character and love of the homeland in high school students of Yayasan Atikan Sunda Bandung. The study used a qualitative approach with descriptive methods. Data were collected through observation, interviews, and documentation of instructors, trainers, and student members of the gamelan extracurricular, then analyzed through data reduction, data presentation, and drawing conclusions based on George Herbert Mead's Symbolic Interactionism theory. The results of the study indicate that social interaction is built through communication, cooperation, and mutual assistance between students, which forms social harmony in the form of togetherness, tolerance, and solidarity. Gamelan activities also contribute to forming cultural character and fostering a sense of love of the homeland through pride and concern for the preservation of national culture.
Konstruksi Sosial Quarter Life Crisis pada Usia Produktif di Indonesia: Analisis Kritis dalam Perspektif Interaksionisme Simbolik shecha Rahmania; Sri Devi Nurmala; Siti Nuraisah; Mirna Nur Alia Abdullah
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 8.C (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi sosial quarter life crisis dalam perspektif interaksionisme simbolik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner daring pada individu usia 20–30 tahun yang terdiri dari mahasiswa, fresh graduate, dan pekerja. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif melalui pengelompokan tema terkait pemahaman, pengalaman, dan strategi menghadapi quarter life crisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan quarter life crisis berbeda pada setiap individu dan dipengaruhi oleh pengalaman serta interaksi sosial. Sebagian besar responden mengalami kebingungan, kecemasan, dan ketidakpastian terkait masa depan yang berkaitan dengan tuntutan sosial mengenai karier, kemandirian ekonomi, dan hubungan pribadi. Dalam perspektif interaksionisme simbolik, quarter life crisis merupakan fenomena yang dikonstruksi secara sosial melalui interaksi dan pemaknaan terhadap simbol-simbol kesuksesan.
Co-Authors Afra Aldilawulandari Annika Bharata Agustin, Alifa Sahara Aini, Mutiara Hurul Aini, Naila Noerita Alifa Izzatun NIsa Amalia Amalia Angelina, Tiara Anggiraksa, Nailah Anggrayani, Sista Arini Wijayanti Asep Dahliyana Asti Lestari Asyila Lukman Thalib Attarin, Maudy Alika Aulia, Nevia Aulya Arzuliany Avvyat Anantya Azizah, Sarah Nur Azka Safarah Ludisti Mauliani bagja waluya, bagja Baity, Salsabila Nur Carmelia Puteri Hendarsyah Detia Adzra Athifah Dewi, Nikita Shinta Difa, Taj Cyrila Aprila Syahda Dinda Arviana Puspitasari Elly Malihah Fadhilah, Nabila Lana Faiza Conita Chairiya Harahap Faiza, Naila Fatimah Syawalia Noptiani Frida Nurmarliana Handi, Ginar Zsalsabila Haryadi, Rahma Nur Isnaini Hasan, Tholhah Hasuna, Asma Nadia Hasya, Vila Hermawati, Lulu Hurul Aini, Mutiara Ida Ayu Putu Sri Widnyani Indra Abdul Majid Inka Mariana Inten, Restuna Nur Irvan, Mohammad Isnaini Nurdiah Istiqomah Dzikrullah Joane Louis Lahasen Malau Junaheni Afifah Kenny Syalwatyarsa Khairunnisa, Firda Salsabila Khofifah, Winda Leo Farid Ruhiana Lestari, Asti Majid, Indra Abdul Masyudi, Ayudia Rostiara Meiziya Asira Deliyanti Morimoto, Elisabeth Mughni Nafia Nadhif Muhamad Iqbal Muhammad Firdhi Al Ghifary Muhammad Rafi Fauzi Muyajapura, Muhammad Retsa Rizaldi Nabila, Fadia Marsya Nadila Putri Budi Sugiarti Naisya Insani Ramadani Nazwa Naisniatunnisa Sholihah Nazwa Wafiq Nur Azizah Nurjamillah Nurjamillah Nurkhurairokh, Azzahra Nurmala, Sri Devi Poernama, Sandra Aulia Rahmadiani, Adisti Putri Rahmania, Shecha Raihan, Marsya Ramadani, Naisya Insani Rasnadipoetra, Ilman Diansyah Raya Elvaretta Maulana Ririn Maesaroh Rizal Ahmad Rasyad Rizaldi, Muhammad Retsa Rizqiyah, Kivi Anni Saeful R, Dadan Salsa, Salsa Bila Az Zahra Salsabila Afida Putri Salwa Laila Ayu Budiman Sekar Kirana Wulandari Shaffa, Salsa Zahira shecha Rahmania Shinthia, Devi Siallagan, Deasy Gita Amelia Siswahyudianto Siti Komariah Siti Komariah Siti Nuraisah Siti Nurbayani Sri Devi Nurmala Sukma, Nony Nuryani Sumayya, Siti Azzahra Tri Utami Febriyani Ulwan Naezi Rabbani M Noer Wilodati Wulan Asmi Nurapipah Yani Achdiani Yupi Anesti Zacky Akbar Saputro