Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS DEFORMASI DI WILAYAH JAWA TIMUR DENGAN MENGGUNKAN CORS BIG Renaud Saputra Purba; Moehammad Awaluddin; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.598 KB)

Abstract

ABSTRAK Jawa Timur terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik besar antara lain Eurasia, Hindia-Australia, dan Pasifik. Aktivitas seismik tersebut mengakibatkan terjadinya pergerakan lempeng dan mempengaruhi posisi suatu objek dapat berubah secara dinamis. Perubahan yang terjadi menandakan adanya deformasi. Deformasi merupakan perubahan yang terjadi pada posisi, bentuk dan dimensi dari suatu objek yang berada di bumi. CORS meruapakan stasiun pengamatan GNSS bersifat statik yang beroperasi selama 24 jam. Data pengamatan CORS dapat digunakan untuk memantau arah dan kecepatan pergeseran deformasi  yang terjadi di suatu daerah.Penelitian ini berfokus pada penentuan kecepatan pergeseran dan regangan menggunakan data pengamatan tujuh CORS yang berada di wilayah Jawa Timur yaitu CTUL, CNGA, CMJT, CMLG, CMAG, CPAS dan CLUM pada tahun 2013 sampai dengan 2016. Titik IGS yang digunakan yaitu AIRA, ALIC, BAKO, COCO, DARW, LHAZ dan PIMO. Pengolahan data menggunakan software ilmiah GAMIT.Penelitian ini menghasilkan arah pergeseran menuju ke arah tenggara. Kecepatan pergeseran CORS adalah sebesar -0,00162 m/tahun sampai dengan -0,01463 m/tahun untuk komponen utara, 0,02529 m/tahun sampai dengan 0,03600  m/tahun untuk komponen timur dan -0,00182 m/tahun sampai dengan 0,02810 m/tahun untuk komponen vertikal. Regangan yang terjadi pada titik pengamatan berkisar -5,25926458 x 10-9 strain/year sampai dengan 7,03391481 x 10-8 strain/year.
SURVEY DEFORMASI SESAR KALIGARANG DENGAN METODE PENGAMATAN GPS TAHUN 2016 Bobby Daneswara Indra Kusuma; Moehammad Awaluddin; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.707 KB)

Abstract

ABSTRAK Semarang terletak pada bagian utara Pulau Jawa memiliki kemungkinan terjadinya pergerakan lempeng tektonik, yaitu sesar. Salah satu sesar yang berada di Semarang adalah Sesar Kaligarang. Sesar Kaligarang adalah sesar yang telah ada sejak zaman tersier dan aktif kembali di zaman kuarter. Sesar Kaligarang terdapat pada lembah Sungai Kaligarang yang membelah wilayah Semarang pada arah hampir utara – selatan. Penentuan deformasi Sesar kaligarang dapat ditentukan dengan pengamatan secara berkala.Pengamatan deformasi Sesar Kaligarang dapat dilakukan dengan pengamatan GPS Dual Frequency. Perencanaan untuk pemasangan titik kontrol pengamatan dilakukan sesuai dengan bidang sesar. Perencanaan dan pemasangan titik pengamatan berdasarkan analisis mengenai geomorfologi dari Sesar Kaligarang untuk mengetahui segmen sesar yang aktif. Pemasangan titik kontrol pengamatan dipasang sesuai bidang pusat sesar yang aktif. Pengamatan pada titik kontrol dilakukan dengan metode statik, dan berlangsung selama 7-8 jam. Data pengamatan GPS diolah menggunakan software ilmiah yaitu GAMIT 10.6. Hasil pengolahan dari GAMIT 10.6 pada file GLOBK adalah koordinat kartesian 3D dan koordinat toposentrik yang masing – masing memiliki simpangan baku.Hasil pada penelitian ini adalah desain titik kontrol baru pengamatan GPS yang dipasang tegak lurus terhadap bidang pusat Sesar Kaligarang yang aktif. Jarak antara titik kontrol pengamatan sebesar 1-2 kilometer. Pengolahan data yang diikatkan terhadap stasiun IGS BAKO, COCO, DARW, GUAM, IISC dan PIMO menghasilkan rata-rata simpangan baku n = 0,004401 m; e = 0,004641 m; z = 0,004972 m.                                                                                   Kata Kunci : Sesar, Sesar Kaligarang, Jaringan Titik Kontrol, GPS, GAMIT 10.6 ABSTRACT Semarang City located in the northern of Java Island has the possibility of tectonic plate movement, for the example is fault. One of the faults in Semarang is Kaligarang Fault. Kaligarang Fault is a fault that has existed since the time of tertiary and active back in the days of the quarter. Kaligarang Fault located in Kaligarang River’s valley that divides the area of Semarang in the direction nearly north - south. Determining Kaligarang Fault deformation can be determined by periodic observation.Kaligarang Fault deformation can be observed with Dual Frequency GPS observations. Planning for the installation of the control point observations were made in accordance with the fault plane. Planning and installation of observation points based on the geomorphology analysis of Kaligarang Fault to reveal the segments of active faults. Setting-up the control points must be installed in accordance field observations about the center of active faults. Observations on the control point is done with static methods, and lasts for 7-8 hours. GPS observation data is processed using scientific software, which is GAMIT 10.6. The results of the processing from GAMIT 10.6 on GLOBK file is a 3D cartesian coordinates and toposentrik coordinate that each has a standard deviation.The results of this research is design of new control points GPS observations, that are mounted perpendicular to the center active plane of Kaligarang Fault. The distance between control point observation is 1-2 kilometers. Data processing is tied to the IGS station BAKO, COCO, DRAW, GUAM, IISC and PIMO produces an average standard deviation n = 0,004401 m; e = 0,004641 m; z = 0,004972 m. Keywords : Fault, Kaligarang Fault, Network Control Point, GPS, GAMIT 10.6
ANALISIS GEOMETRI JARING PADA PENGUKURAN GPS UNTUK PENGADAAN TITIK KONTROL ORDE-2 Fuad Hari Aditya; Bambang Darmo Yuwono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (986.131 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini mengenai pengaruh geometri jaring dalam pengukuran GPS untuk pengadaan titik kontrol orde-2. Titik-titik lokasi pengamatan tersebar di berbagai lokasi di Kota Semarang.Metode penelitian yang digunakan adalah dengan pengamatan menggunakan GPS dual-frekuansi pada 7 titik kontrol. Pengolahan data menggunakan Software Geogenius dan Adjust serta GAMIT sebagai pembanding koordinat titik pengamatan . Faktor geometri jaringan ditentukan oleh beberapa parameter, yaitu konfigurasi jaringan-jaringan, jumlah baseline dalam satu loop, konektivitas titik (jumlah baseline yang terikat satu titik).Dari hasil uji ketelitian desain 1 dan 4 didapatkan perbandingan ketelitian parameter posisi horizontal sebesar Fx = 0.01142<1.3469<3.49, Fy = 0.11442<2.6037<3.49 dan keduanya masuk selang kepercayaan 95% sehingga tidak memiliki perbedaan ketelitian. Pada uji ketelitian desain 1 dan 7 didapatkan perbandingan ketelitian posisi horizontal sebesar Fx = 0.01157<0.5238<3.01, Fy = 0.11574<1.4599<3.01 dan keduanya masuk selang kepercayaan 95% sehingga tidak memiliki perbedaan ketelitian. Akan tetapi pada uji ketelitian desain 4 dan 7 didapatkan  perbandingan ketelitian posisi horizontal sebesar Fx = 0.39841<0.3889<2.15, Fy = 0.5607>0.139841<2.15 dan keduanya tidak masuk selang kepercayaan  95% sehingga memiliki perbedaan ketelitian. Dan untuk uji statistik parameter  posisi vertikal desain 1, 4 dan 7 didapatkan nilai sebesar 0.01142<1.1540<3.49, 0.01142<1.1540<3.49 dan 0.01142<0.4686<3.49 sehingga ketiganya masuk dalam selang kepercayaan 95% dan tidak memiliki perbedaan ketelitian posisi vertikal.Kata Kunci :  GPS, Desain Konfigurasi Jaringan, Uji Ketelitian  ABSTRACT This research related the influence of geometry of GPS measurements in the networks for theprocurement of control points of orde-2. Location of observation points are spread out in various locations in Semarang. The research method was used  with observations using dual-frequency GPS at 7 control points. Data processing using Software Geogenius and Adjust and as a comparison coordinates of the observation point it using GAMIT. Network geometry faktor was determined by several parametersnamely the configuration of networks, number of baseline within one loop, connectivity point (total amount of baseline that tied one point). The analysis was carried out based on a test of accuracy based on the design of the network. From the results of the test of precision design 1 and 4 was obtained by a comparison parameters of the horizontal position accuracy around Fx = 0.01142 < 1.3469 < 3.49, Fy = 0.11442 < 2.6037 < 3.49 and both enter 95% confidence interval so that it didn’t have the difference in accuracy. On the design of precision test 1 and 7 was obtained by comparison parameters of the horizontal position accuracy Fx = 0.5238 < 0.01157 < 3.01, Fy = 1.4599 < 0.11574 < 3.01 and both are accepted 95% confidence interval so that it didn’t have the difference in accuracy. But in a test of precision design 3 and 7 was obtained by a comparison parameters of the horizontal position accuracy Fx = 0.39841 < 0.3889 < 2.15, FY = 0.139841 > 0.5607 < 2.15 and both didn’t accepted to 95% confidence interval so that differences in accuracy. For the statistical test parameters of design vertical position 1, 4 and 7 obtained the value of 0.01142 < 0.01142 3.49, 1.1540 << 1.1540 < 0.01142 < 0.4686 and 3.49 < 3.49 therefore all of geometry designs were accepted in the 95% confidence interval and didn’t have the difference in accuracy of position vertical.Keyword: GPS, Network Configuration Designs, Test Accuracy  *) Penulis, Panaggung Jawab
ANALISIS AKURASI PENAPISAN DSM KE DTM MENGGUNAKAN METODE SIMPLE MORPHOLOGICAL FILTER DAN SLOPE BASED FILTERING Lanjar Cahyo Pambudi; Yudo Prasetyo; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Foto udara yang didapat dari pemotretan dengan pesawat akan diolah melalui serangkaian proses komputasi sehingga nantinya dihasilkan model permukaan digital (DEM). Proses pembuatan DEM dapat dilakukan secara otomatis dengan metode image matching. Namun DEM yang dihasilkan menggunakan metode ini masih merepresentasikan permukaan bumi beserta objek diatasnya atau dalam bentuk Digital Surface Model (DSM). Penggunaan DSM belum bisa efektif digunakan dalam bidang praktis. Oleh karena itu perlu dilakukan penapisan supaya menjadi Digital Terrain Model (DTM) yang menggambarkan bidang tanah tanpa ada objek lainnya yang bukan tanah.Pada penelitian ini penapisan DSM menjadi DTM menggunakan dua metode yaitu Slope Based Filtering (SBF) dan Simple Morphological Filtering (SMRF). Kemampuan proses penapisan dalam menghilangkan fitur bukan tanah dinilai dengan bantuan kontur. Akurasi proses penapisan dinilai dengan membandingkan kedua DTM hasil penapisan dengan  DTM yang dibuat dengan metode spotheighting sebagai referensi. Akurasi ini akan dijadikan acuan untuk menentukan peta skala berapa akurasi DTM penapisan memenuhi toleransi.Hasil proses penapisan terhadap DSM adalah turunnya rata-rata kelerengan dari 47,3% menjadi 4,77% dan 8,15%. Rata-rata ketinggian juga turun dari 15,814 m menjadi 12,121 m dan 12,889 m pada DTM SBF dan DTM SMRF secara berurutan. Akurasi DTM SBF dan DTM SMRF yang ditunjukan dengan nilai RMSEz adalah 1,601 m dan 2,055 m. Nilai ketelitian skala peta direpresentasikan dengan LE90%, untuk DTM SBF adalah 2,641 m dan masuk skala 1:10000 kelas 2 serta untuk DTM SMRF adalah 3,390 m dan masuk skala 1:10000 kelas 3. Kata kunci : DEM , penapisan, slope based, morphological, spotheighting ABSTRACT Aerial photographs that is obtained by the plane will be processed through a series of computing processes in order to generate digital surface model (DEM). DEM creation process can be done automatically with the method of image matching. However a DEM generated using this method still represent objects above the earth's surface or Digital Surface Model (DSM). The use of DSM is ineffective when  used in the practical field. Therefore, filtering procees have to be done in order to generate a Digital Terrain Model (DTM) which represent bare earth.In this study, filtering of a DSM into a DTM using two methods: Slope Based Filtering (SBF) and Simple Morphological Filtering (SMRF). The ability of the filtering process in removing features that non-bare earth was assessed with the visualitation of the contour. The accuracy of the DTMs was assessed by comparing the both of DTMs with another DTM that was made with spotheighting method as a reference. This accuracy will be used as a reference to determine on what scale the map that the filtering process meets tolerances.The results of the filtering process on DSM is the decline of the average slope from 47.3% become 4.77% and 8.15% so are the average elevation  also dropped from 15.814 m become 12.121 m and 12.889 m in the DTM SBF and the DTM SMRF  respectively. The Accuracy of DTM SBF and the DTM SMRF  that indicated by RMSEz value is 1,601 m and 2,055 m. The map scale accuracy represented by the LE90% value, for DTM SBF is 2,641 m and meet requirement on scale of 1: 10000 grade 2 as well as for DTM SMRF is 3.390 m and meet requirement on scale of 1: 10000 grade 3. Keywords : DEM , filtering, slope based, morphological, spotheighting *) Penulis, PenanggungJawab
PEMBUATAN APLIKASI WEBGIS INFORMASI PARIWISATA DAN FASILITAS PENDUKUNGNYA DI KABUPATEN KUDUS Andre Hermawan; Moehammad Awaluddin; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.846 KB)

Abstract

ABSTRAK Pariwisata mempunyai peranan penting bagi pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Terlebih bagi negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki potensi wilayah yang luas dengan daya Tarik wisata yang cukup besar. Di Kabupaten Kudus sendiri mempunyai daya tarik yang tak dimiliki kota lain seperti adanya seni arsitektur rumah adat Kudus, produk bordir, gebyok Kudus dan terdapat 2 wisata religi yang berada di Menara Kudus dan Gunung Muria Kudus.       Penelitian ini berupa aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) tentang pariwisata berbasis web dengan wilayah penelitian di Kabupaten Kudus. WebGIS digunakan karena dalam penyampaian dan tampilan sistem informasi geografis lebih menarik serta mempresentasikan kondisi sebenarnya. Aplikasi ini dibuat menggunkan struktur website HTML, bahasa pemrograman (javascript dan PHP), MySQL sebagai pembuat database, serta menggunakan peta dasar dari Google Map.Hasil penelitian ini berupa aplikasi WebGIS pariwisata di Kabupaten Kudus yang menggunakan Google Map API sebagai penyedia peta gratis yang diintegrasikan ke dalam web. Selain itu WebGIS pariwisata juga menyajikan persebaran dan informasi mengenai objek wisata  yang dilengkapi dengan restoran dan hotel sehingga memudahkan pengguna dalam pencarian.
ANALISIS PENGUKURAN GNSS METODE STATIK DENGAN VARIASI SAMPLING RATE Bambang Darmo Yuwono; Ory Andrian Apsandi
Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika Vol 1, No 02 (2018): Volume 01 Issue 02 Year 2018
Publisher : Department of Geodesy Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University,Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.948 KB) | DOI: 10.14710/elipsoida.2018.3697

Abstract

Perkembangan satelit GNSS semakin pesat ditandai dengan semakin banyaknya satelit dan ketelitian yang semakin baik. Penentuan posisi dengan satelit GNSS dapat dilakukan dengan metode statik dan kinematik. Beberapa strategi untuk meningkatkan ketelitian diantaranya penggunaan sampling rate. Nilai sampling rate ini akan memberikan kontribusi terhadap hasil ketelitian yang diperoleh. Penelitian ini akan mengkaji seberapa besar pengaruh sampling rate terhadap ketelitian yang dihasilkan.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode statik dengan beberapa sampling rate. Data diperoleh dari pengukuran GNSS di 20 titik di Kota Semarang. Titik kontrol yang digunakan dalam penelitian ini adalah GRAV11, stasiun CORS CSEM ( CORS BIG di Kota Semarang ) dan stasiun CORS Universitas Diponegoro. Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan hasil pengukuran static dengan lama pengamatan satu jam pada sampling rate satu detik, lima detik, 15 detik, dan 30 detik. Pengolahan dilakukan secara post –processing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi sampling rate menghasilkan nilai simpangan baku paling kecil yaitu pada sampling rate 1 detik yaitu <0,010 m. Sampling rate 30 detik memiliki nilai simpangan baku yang paling besar diantara sampling rate yang lain. Nilai simpangan baku pada sampling rate 15 detik dan 30 detik memiliki nilai korelasi yang paling tinggi.
ANALISIS KEBERADAAN KEPULAUAN SERIBU TERHADAP BATAS PENGELOLAAN LAUT PROVINSI DKI JAKARTA Fauzi Janu Amarrohman; Moehammad Awaluddin; Bambang Darmo Yuwono; Aisyah Arifin
Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika Vol 3, No 01 (2020): Volume 03 Issue 01 Year 2020
Publisher : Department of Geodesy Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University,Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.16 KB) | DOI: 10.14710/elipsoida.2020.7754

Abstract

Province of Special Capital Region (DKI) Jakarta is one of the provinces in Indonesia which has a sea area larger than its land area. Based on this, according to Law of the Republic of Indonesia Number 23 of 2014 concerning Regional Government, the Province of DKI Jakarta can be called a province with an archipelago characteristic. The province of the archipelago has the authority to manage natural resources at sea and is assigned to carry out the authority of the central government in the marine sector based on the principle of co-administration. Determination of the management of the sea area in an island region characterized by the provisions of UNCLOS 1982. In this case the affirmation of an island territory using three reference references, namely with the coastline as a normal base line, with a straight base line, and with reference to the group of islands as baselines of the islands. The data used in this study uses the Peta Rupa Bumi Indonesia and Landsat 8 Image data acquisition in 2019. From the two data, the boundaries of the management area of the sea area are carried out digitally. In order to obtain the area of marine management of the DKI Jakarta region which is characterized by islands with the Thousand Islands and the area of sea management if the Province of DKI Jakarta is a province that is not characterized by islands. The total area of sea management in the Province of DKI Jakarta is not characterized by an archipelago is 587,453,346 Ha, whereas if the determination of the sea area management area of DKI Jakarta Province is characterized by an archipelago, the area is 587,457,404 Ha.
ANALISIS SETTING OUT ARAH KIBLAT DENGAN MENGGUNAKAN METODE GPS REAL TIME KINEMATIC Moehammad Awaluddin; Fauzi Janu Amarrohman; Bambang Darmo Yuwono
Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika Vol 1, No 01 (2018): Volume 01 Issue 01 Year 2018
Publisher : Department of Geodesy Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University,Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.895 KB) | DOI: 10.14710/elipsoida.2018.2808

Abstract

Penentuan arah kiblat terdiri dari dua macam kegiatan, yaitu bagaimana cara menghitung arah kiblat dari suatu titik/lokasi dan bagaimana membawa arah kiblat (setting out) yang sudah didapat tersebut ke lapangan. Penelitan ini menganalisis akurasi setting out arah kiblat dengan menggunakan metode GPS Real Time Kinematic. Akurasi metode ini akan dibandingkan dengan arah kiblat hasil rashdul kiblat serta pengukuran GPS Statik. Arah kiblat yang dihasilkan dari metode GPS RTK memiliki perbedaan dengan arah kiblat hasil hitungan metode vincenty sebesar 17’43.6516” pada titik yang berjarak 25 meter dari titik pengamatan kiblat. Sedangkan pada titik yang berjarak 40 meter memiliki perbedaan sebesar 6’28.2974”. Arah kiblat yang dihasilkan dari metode GPS RTK memiliki perbedaan dengan arah kiblat metode rashdul kiblat sebesar 2’18” pada titik yang berjarak 25 meter dari titik pengamatan kiblat. Sedangkan pada titik yang berjarak 40 meter memiliki perbedaan sebesar 6’34”.
KAJIAN PENENTUAN POSISI MENGGUNAKAN DGPS DAN RTK NTRIP Bambang Darmo Yuwono; Arief Laila Nugraha; Fauzi Janu Amarrohman; Moehammad Awaluddin
Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika Vol 2, No 01 (2019): Volume 02 Issue 01 Year 2019
Publisher : Department of Geodesy Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University,Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.655 KB) | DOI: 10.14710/elipsoida.2019.5014

Abstract

Seiring perkembangan teknologi pengukuran dalam penentuan posisi, kegiatan pendaftaran tanah dilakukan tidak hanya menggunakan teknologi tersetrial, namun juga sekarang sudah memanfaatkan teknologi ekstraterestrial. Kegiatan pendaftaran tanah ini bertujuan untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan terhadap pemegang hak atas bidang tanah yang dikuasainya. Oleh karena itu faktor posisi dalam data fisik hak atas tanah haruslah teliti dan akurat. Pada penelitian ini menggunakan data pengukuran bidang tanah dengan memanfaatkan teknologi penentuan posisi secara ekstraterestrial atau memanfaatkan teknologi satelit dengan metode real time kinematic NTRIP dengan menggunakan receiver GPS geodetik dan metode DGPS Post Processing dengan menggunakan receiver GPS Mapping. Data yang digunakan pada penelitian ini yaitu data pengukuran bidang tanah yang dilakukan dengan alat ukur Total Station GTS 235, receiver GPS tipe geodetic Topcon Hiper II Dual Frekuensi dan receiver GPS tipe mapping Trimble GeoXT 3000 series. Hasil dari pengukuran luas bidang tanah dengan data yang dianggap benar adalah data hasil pengukuran menggunakan total station dibandingkan dengan metode GPS RKT-NTRIP dan dengan metode DGPS. Dari perbandingan yang dilakukan diperoleh selisih rata-rata luas bidang tanah antara pengukuran total station dan receiver GPS geodetic yaitu 0,01909 m2 dengan standar deviasi 0,113659. Sedangkan selisih rata-rata luas bidang tanah hasil pengukuran total station dan receiver GPS mapping yaitu 0,7152 m2 dengan standar deviasi 1,226289.
Pemetaan Dan Pengukuran Untuk Konstruksi Teknik Sipil Fauzi Janu Amarrohman; Bambang Darmo Yuwono; Moehammad Awaluddin; Yudo Prasetyo; Hana Sugiastu Firdaus; Nurhadi Bashit
Jurnal Pasopati : Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Pengembangan Teknologi Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan penentuan posisi pada dekade terakhir ini telah mengarah kepada pemetaan digital. Perkembangan penentuan posisi tersebut tidak hanya pada bidang infrastruktur saja melainkan sudah merambah ke bidang lain seperti telekomunikasi, transportasi, industri perdagangan , pemukiman , perencanaan kota dan masih banyak lagi. Ketelitian posisi yang diperoleh akan tergantung pada beberapa faktor yaitu metode penentuan posisi, geometri satelit, tingkat ketelitian data, dan metode pengolahan datanya. Seiring kebutuhan penentuan posisi tersebut maka perlu pemahaman mengenai pengenalan pemetaan digital, instrumentasi, pengolahan, dan pemanfaatan teknologi pemetaan digital. Departemen Teknik Geodesi yang salah satunya mempelajari pemetaan dan pengembangan aplikasi bidang pengukuran dan penetaan bermaksud mengadakan program pengabdian kepada mayarakat untuk pemanfatan pemetaan dan pengukuran untuk konstriksi teknik sipil dan pekerjaan tanah. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk keaktifan dan pengabdian bagi Departemen Teknik Geodesi untuk memperkenalkan keilmuan kepada masyarakat. Hal ini yang mendasari Departemen Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro untuk mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk kegiatan. Pemetaan dan Pengukuran untuk Konstriksi Teknik Sipil dan Pekerjaan Tanah Untuk Siswa SMK Negeri 7 Semarang.
Co-Authors Abdi Sukmono, Abdi Adzindani Reza Wirawan Ahadea Kautzarea Yuwono Aisyah Arifin Alfian Budi Prasetya Alfin Nandaru Alfred Boni Son Simbolon Ali Amirrudin Ahmad Alvian Danu Wicaksono Amirul Hajri Amri Perdana Ginting Andre Hermawan Andri Suprayogi Anggoro Pratomo Adi Arief Laila Nugraha Arintia Eka Ningsih Arwan Putra Wijaya Azeriansyah, Reyhan Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bobby Daneswara Indra Kusuma Desvandri Gunawan Dian Rizqi Ari Wibowo Diqja Yudho Nugroho Dzaki Adzhan Elceria Susanti EVAN BRILLIANTO Extiana, Kiky Fadli Rahman Fadli Rahman, Fadli Fathan Aulia Fauzi Iskandar Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Fina Faizana Fuad Hari Aditya Galih Rakapuri Hana Sugiastu Firdaus Handaru Aryo Suni Hani’ah Hani’ah Haris Yusron Hasanuddin Z. Abidin Henndry . Heri Gusfarienza Indira Nori Kurniawan Indra Laksana Inessia Umi Putri Iqbal Yukha Nur Afani Khairuddin Khairuddin Kusmaryudi, Alan L. M. Sabri Lanjar Cahyo Pambudi Laode M Sabri Lasmi - Rahayu Leur P. Maranatha Sitorus Lorenzia Anggi Ramayanti Lutfi Eka Rahmawan Lutgar Sudiyanto Sitohang M. Awaluddin, M. Maylani Daraputri Merpati Dewo Kusumaningrat Moehammad Awaluddin Moh Kun Fariqul Haqqi Mohamad Rizki Ramadhan Mualif Marbawi Much. Jibriel Sajagat, Much. Jibriel Muhamad Nurman Cholid Muhamad Salahuddin Muhammad Adnan Yusuf, Muhammad Adnan Muhammad Chairul Ikbal, Muhammad Chairul Muhammad Hilmi Muhammad Ilman Fanani Nugrahanto, Prasetyo Odi Nurhadi Bashit ORY ANDRIAN APSANDI Ory Andrian Apsandi R. Sapto Hendri Boedi Soesatyo Raka Angga Prawira Ramdhan Thoriq Setyabudi Ramlansius Tumanggor, Ramlansius Reisnu Iman Arjiansah Renaud Saputra Purba Rian Yudhi Prasetyo Risa Ayu Miftahul Rizky Riska Pratiwi Risty Khoirunisa Risty Khoirunisa, Risty Rizki Fadillah Rizki Putra Agrarian Rizqie Anarullah, Rizqie Roy Kasfari Sanches Budhi Waluyo Satrio Wicaksono Saul Ambarita Sawitri Subiyanto Susilo Susilo Tatag Abiyoso Utomo Theodorus Satriyo Singgih Vauzul Rahmat Wahyu Gangga Widi Hapsari Wijaya, A. P. Wikan Isthika Murti WIWIT PURWANTI Yolanda Adya Puspita Yudo Prasetyo YULIA SAVIRA RACHMA Zainab Ramadhanis